Kamis, 07 Januari 2021

Catatan Semester Pertama Kuliah Online

Yak selamat malam sobat blogger! 

Selamat awal tahun untuk kita semua. Semoga kesehatan selalu menyertai kita semua di tahun baru 2021. 

Nah hari ini saya mau cerita sedikit sekaligus mengeluarkan uneg-uneg tentang kesibukan baru saya yang sekarang yaitu kuliah. Beberapa hari yang lalu saya baru saja menuntaskan ujian akhir semester alias UAS perdana saya di dunia perkuliahan. Jika dilihat dari tanggalan, memang ini sangat berbeda dengan kebiasaan saat sekolah dulu. Jadwal kuliah bisa saja berlangsung hingga musim liburan seperti saat ini, dan libur kuliah bisa saja terjadi saat hari biasa. Dan ini yang harus dibiasakan sejak awal. Sejauh ini saya masih bisa mengikutinya dan belum banyak materi kuliah yang menguras otak. Saya berusaha jawab semaksimal mungkin walau gak benar-benar yakin soalnya kebanyakan pertanyaan analisis yang menuntut pendapat saya sebagai mahasiswa baru (maba). Setelah saya berhasil melewati semester satu ini, saya amati jurusan Agribisnis itu kebanyakan mata kuliah yang membahas bisnis. Sedangkan unsur pertanian atau yang berhubungan dengan penelitian sains itu bisa dibilang sedikit. Ya walaupun memang masih baru dasar-dasarnya, saya melihat nanti kedepannya jurusan ini akan diarahkan untuk fokus ke pemahaman teori sosial dan ekonomi. 

Tapi jangan kira segampang yang dibayangkan ya. Walaupun kebanyakan membahas teori tapi tetap membutuhkan daya pikir yang mendalam. Salah satu tantangan saya adalah melaksanakan semuanya serba online. Sangat banyak batasan yang menghambat diri saya untuk menjelajahi ilmu ini dengan lancar dan teratur karena hanya bisa dilakukan dalam jaringan. Hal utama jika berhubungan dengan jaringan udah pasti masalah sinyal. Kadang walaupun sinyal penuh tapi untuk online meeting suka tersendat gitu, suara gak ada, video buram, bahkan benar-benar gak ada respon. Ini cukup menggangu saya sebenarnya. Saya merasa menjalani keseharian sebagai maba secara online ini benar-benar tidak ada bedanya dengan masa Gap Year saya dulu. Saya masih duduk di kursi yang sama, menulis di meja yang sama, di dalam kamar yang sama. Dulu saya duduk di kamar hanya untuk mengejar materi UTBK sendirian tanpa interaksi nyata, dan sekarang saya duduk di sini untuk kuliah yang juga terasa hampa. Suasana kuliahnya benar-benar tidak terasa sama sekali. Saya sering bertanya pada diri sendiri, apakah saya merasa lebih pintar dalam memahami materi, atau saya hanya berubah bentuk jadi semacam mesin yang diprogram untuk mengerjakan tugas?

Terus terang setelah menjalani satu semester kuliah ini, saya lebih banyak memenuhi ekspektasi dosen saja ketimbang benar-benar mengulik apa saja yang ada di dalamnya. Di setiap mata kuliahnya sebenarnya selalu ada sesuatu yang menarik untuk diselami. Tapi entah kenapa, dosen menganggap semua mahasiswa baru ini sudah bisa menguasai dasarnya dan langsung memberikan pemahaman yang sulit dimengerti. Jadi saya hanya bisa terus mengulang isi buku tanpa benar-benar menguasai suatu materi dengan baik dan benar dan mendalam dan mendetail. Sejujurnya saya ingin sekali menguasai setiap mata kuliah dengan pemahaman yang sama minimal dengan teman-teman kelas, tapi lagi-lagi saya selalu merasa tertinggal. Saya kadang kebingungan untuk mulai dari mana memperkuat penalaran. 



Saya sempat mikir, apa karena ini dampak dari saya Gap Year dua tahun ya? Jadi ingatan tentang materi sekolah itu sudah mulai kabur sedangkan teman sekelas saya ini semuanya itu lulusan baru angkatan 2020 yang langsung masuk kuliah tahun itu juga jadi masih segar ingatan akan fondasi materi pelajaran? Belum lagi perasaan rendah diri saya jadi orang yang paling tua di kelas—sampai saat ini teman sekelas tidak ada yang tahu. Saya merasa sejauh ini kurang nyambung atau kurang klik dengan bahasa pergaulan yang mereka lakukan setiap harinya di grup kelas. Saya merasa ada tembok besar dalam hal pergaulan. Walaupun hanya berjarak dua tahun tapi ada jurang pemisah yang cukup renggang yang membatasi diri saya untuk bisa terkoneksi dengan mereka. Akhirnya saya jadi lebih banyak diam dan menyimak setiap obrolan di grup. Hanya sesekali saja saya bersuara jika diminta pendapat atau voting sesuatu. Sungguh ini bukan hal yang saya bayangkan sebelumnya.

Apakah ini efek samping juga dari mengurung diri selama dua tahun tanpa interaksi dengan orang lain yang sebaya yang membuat saya jadi orang yang semakin canggung? Jujur aja ternyata saya baru menyadari akhir-akhir ini bahwa saya tipe orang yang lebih gampang dekat jika berinteraksi langsung, saya termasuk manusia offline yang gak biasa dengan segala interaksi online yang ada. Saya selalu lambat dalam hal beradaptasi dengan suasana baru, dibutuhkan minimal dua puluh satu hari untuk membiasakannya. Nah kalau online gini gimana coba? Susah banget untuk bisa dekat dan menjalin hubungan dengan teman-teman baru. Terlalu banyak ketakutan yang saya bayangkan jika sok kenal sok dekat di media online karena itu semua terekam dan tercatat real-time, beda dengan interaksi offline yang bisa dengan mudahnya melupakan keanehan yang ada dan fokus ke hubungan pertemanan yang nyata.

Ternyata komunikasi dalam jaringan itu sangatlah sulit. Interaksi online yang serba digital ini membuat saya merasa asing di tengah keramaian kelas virtual perkuliahan. Belum lagi dengan banyaknya suara negatif dalam pikiran yang selalu ingin menjatuhkan diri sendiri dengan berkata, "kamu tidak pantas berada di sini", "kamu masuk kuliah hanya beruntung bukan benar-benar pintar", "kamu sudah kalah sejak awal karena tidak memahami fondasi materi kuliah dengan baik". Wahhh benar-benar memperberat isi kepala dan hati untuk bisa menjalani ini semua. Setiap hari hanya berkutat dengan pengumpulan tugas di portal, mengejar deadline, dan menatap layar laptop terus menerus hingga mata perih. Manajemen waktu saya pun masih sangat berantakan. 

Kondisi ini semakin diperparah dengan situasi di rumah yang tidak selalu memungkinkan saya untuk fokus sepenuhnya menjadi mahasiswa. Sebagai anak yang tinggal bersama orang tua, ada tanggung jawab domestik yang tetap harus saya jalankan. Membantu orang tua adalah kewajiban yang tidak bisa saya abaikan, namun di saat yang sama, tugas kuliah terus mengalir tanpa henti. Saya sering kali merasa kehabisan napas karena mencoba menyeimbangkan kedua sisi tersebut. Saya ingin menjadi mahasiswa dengan nilai sempurna, tapi saya juga ingin menjadi anak yang tetap bisa diandalkan di rumah. Ambisi untuk menjadi sempurna dalam segala hal inilah yang akhirnya membawa saya pada titik lelah yang cukup menyiksa.

Setelah melewati satu semester ini, saya akhirnya sampai pada satu kesimpulan yang cukup berat. Ternyata, perjuangan untuk lolos UTBK dan masuk ke perguruan tinggi negeri belum ada apa-apanya dibandingkan perjuangan untuk bertahan hidup di dunia perkuliahan yang penuh dengan ketegangan. Di sini, musuh terbesar bukan lagi latihan soal yang sulit atau melawan rasa malas, melainkan kemampuan diri untuk mengelola ekspektasi, mengatur waktu, dan menjaga kesehatan mental di tengah isolasi pandemi yang belum juga berakhir.

​Semester satu ini telah mengajarkan saya bahwa menjadi mahasiswa bukan hanya soal mendapatkan nilai bagus di akhir portal akademik. Ini adalah tentang bagaimana usaha saya untuk tetap bisa memanusiakan diri sendiri di tengah sistem yang sering kali memperlakukan saya seperti mesin. Meski saya selalu merasa lelah dan sempat kehilangan arah, setidaknya saya masih bertahan. Dan untuk saat ini, bertahan hidup adalah pencapaian terbesar yang patut saya syukuri. Saya akan membiarkan tubuh dan pikiran ini beristirahat sejenak, menikmati libur semester—yang sebenarnya tidak sepenuhnya libur karena saya harus kembali membantu orang tua—sebelum nanti kembali bertarung di semester dua dengan tantangan yang pastinya akan lebih berat lagi.
Read More

Kamis, 31 Desember 2020

Coretan Akhir Tahun 2020

Selamat siang sobat blogger! 

Gimana kabar kalian semua di akhir tahun yang berat ini? Saya harap kondisi kalian dalam keadaan aman dan sehat selalu ya. 

Huuft akhirnya sampai juga di penghujung akhir tahun 2020. Lama banget ya kalo dirasain bener-bener ini tahun, kebanyakan beraktivitas di rumah aja tanpa banyak keluar bikin dunia terasa sempit dan terkesan tidak banyak perubahan atau pencapaian yang diraih. Saya sebenarnya sudah menyempatkan diri untuk mencicil postingan tahunan ini dari seminggu yang lalu—dengan pikiran yang masih dipenuhi banyak hal yang belum benar-benar selesai, termasuk UAS yang bahkan masih berlangsung. Tapi baru sekarang postingan spesial rangkuman akhir tahun ini saya paksakan untuk selesai dan tetap merilisnya hari ini karena sangat sayang jika dilewatkan tanpa catatan arsip sejarah dunia pada umumnya dan saya pribadi khususnya. 

2020 adalah tahun yang entah harus saya definisikan seperti apa ya... Berat? banget. Melelahkan? udah pasti. Membingungkan? Jujur iya. Tahun yang penuh dengan kejadian tak terduga, penuh tantangan, dan mungkin bagi sebagian orang termasuk saya, menjadi tahun yang cukup menguras perasaan. Saya tergolong orang yang sangat lambat dalam hal menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi ekstrem seperti tahun ini yang membuat jiwa raga saya cukup syok berat menghadapi segala ujian yang ada. 

Tapi di sisi lain tahun ini juga penuh pelajaran yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Bisa dibilang tulisan ini bukan sesuatu yang terlalu berbobot sebenarnya, hanya rangkuman kejadian yang menurut saya penting, tapi setidaknya bisa menjadi pengingat kecil tentang apa saja yang telah saya lalui. Karena saya sadar, ingatan manusia itu terbatas. Dan mungkin, suatu hari nanti saya akan kembali membaca ini dan mencoba memahami kembali versi diri saya di tahun ini.

Karena tahun ini punya banyak momen yang menegangkan sekaligus mengharukan, maka dari itu saya mencoba mengumpulkan beberapa momen yang sangat melekat di ingatan saya dalam sebuah post rutin tahunan yang biasa saya sebut dengan "Coretan Akhir Tahun" edisi 2020. Oke. Yaudah langsung saja sob. Berikut beberapa momen yang cukup melekat dalam ingatan saya. 

► 2 Maret 2020
Tahun 2020 dimulai dengan sesuatu yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Baru berjalan dua bulan, sebuah virus yang awalnya terdengar jauh, perlahan menjadi sangat dekat. Pada awal Maret, pemerintah mengumumkan kasus pertama di Indonesia, tepatnya di Depok dengan dua orang yang positif. Tanggal ini menjadi salah satu titik awal guncangan besar di Indonesia. Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus positif pertama infeksi COVID-19. Virus ini disebabkan oleh virus korona jenis baru yang diberi nama SARS-CoV-2. Wabah COVID-19 pertama kali dideteksi di Kota Wuhan, Hubei, Tiongkok pada Desember 2019. Awalnya saya tidak terlalu memahami seberapa besar dampaknya. Rasanya seperti berita biasa yang lewat begitu saja, seperti banyak berita lain yang sebelumnya saya dengar dari luar negeri. Tapi perlahan, semuanya mulai terasa berbeda. Ada kekhawatiran yang mulai muncul, meskipun saat itu saya belum benar-benar menyadari dampak sepenuhnya.


► 11 Maret 2020
Pada 11 Maret, Organisasi Kesehatan Dunia WHO akhirnya resmi menyatakan COVID-19 sebagai keadaan darurat kesehatan global atau biasa disebut pandemi. Saya termasuk orang yang cukup lambat dalam beradaptasi. Perubahan mendadak seperti ini tidak mudah untuk diterima begitu saja. Banyak kebiasaan yang harus diubah, banyak rencana yang harus ditunda, bahkan dibatalkan. Suasana mencekam mulai berubah lebih nyata. Informasi datang dari berbagai arah. Sejak saat itu, semuanya berubah. Aktivitas yang biasa dilakukan di luar rumah mulai dibatasi. Sekolah, kampus, bahkan pekerjaan, perlahan berpindah ke dalam ruang-ruang virtual. Saya mulai menyadari bahwa ini bukan situasi sementara. Ada sesuatu yang besar sedang terjadi, dan semua orang harus cepat beradaptasi, termasuk saya yang jujur saja cukup lama dalam menerima perubahan. Ada kekhawatiran yang muncul tapi seiring berjalannya waktu, saya mulai memahami bahwa tidak semua hal bisa berjalan sesuai dengan keinginan.


► 24 April 2020 
Bulan Ramadan pertama di tengah pandemi. Suasana yang biasanya ramai, kini terasa jauh lebih sepi. Tidak ada berburu takjil di sore hari, tidak ada tarawih di masjid atau musola, tidak ada kebiasaan berkumpul buka bersama keluarga besar seperti tahun-tahun sebelumnya. Saya menjalani semuanya dari rumah. Ada rasa aneh yang tidak bisa dijelaskan. Biasanya bulan Ramadan selalu identik dengan kebersamaan, masjid yang ramai, dan suasana kekeluargaan yang hangat. Tapi tahun ini terasa jauh lebih sepi. Saya menjalani ibadah dari rumah, tanpa suasana yang biasanya saya rasakan. Awalnya terasa ganjil, Seolah-olah ada bagian dari tradisi yang hilang, semuanya terasa lebih hampa. Tapi ya mau gimana lagi, saya hanya bisa menerima keadaan pahit ini, perlahan-lahan saya mencoba menyesuaikan diri.


► 24 Mei 2020
Begitu juga dengan Lebaran Idul Fitri di bulan Mei. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup, saya merasakan Lebaran tanpa salat ied di masjid tapi hanya di rumah saja. Tidak ada silaturahmi juga seperti biasanya. Semua terasa serba terbatas, hanya bisa dilakukan secara online melalui video call karena di daerah saya termasuk zona merah. Lebaran yang terasa sangat berbeda 360 derajat. Di hari yang sama, saya juga berulang tahun yang ke-20. Sebuah usia yang seharusnya menjadi momen spesial sekaligus langka karena bertepatan dengan lebaran, tapi justru saya lewati dengan sederhana dan perasaan yang lagi-lagi sulit dijelaskan. Tidak ada perayaan, tidak ada kejutan, tidak ada rasa untuk bisa menikmati hari sepenuhnya dengan kesenangan yang bisa jadi memori indah. Hari itu hanya hari yang berjalan seperti biasa, namun dengan perasaan yang lebih sedih dari biasanya. Hari yang cukup berat untuk saya lalui pribadi. 


► 3 Juni 2020
Di tengah semua itu, saya tetap menjalani proses yang sudah dimulai sejak lama yaitu proses seleksi masuk kuliah. UTBK menjadi salah satu hal yang cukup menguras pikiran saya juga. Bahkan sebelum ujian dimulai, aturan sudah berubah dan membuat saya harus merelakan pilihan jurusan yang sebelumnya saya inginkan. Saya tidak tahu harus merasa kecewa atau pasrah. Mungkin keduanya. Saya mendaftar UTBK dengan perasaan yang campur aduk hingga saya tumpahkan dalam bentuk tulisan di sini. Perubahan aturan membuat saya tidak bisa memilih jurusan yang benar-benar saya inginkan. Di titik ini, saya mulai belajar tentang menerima. Tidak semua hal bisa berjalan sesuai rencana. Dan jujur saja, ini tidak mudah.


► 5 Juli 2020
Tanggal 5 Juli menjadi salah satu hari yang cukup saya ingat. Hari di mana saya akhirnya mengikuti UTBK untuk terakhir kalinya sebagai warga negara Indonesia. Ini adalah salah satu momen paling pasrah yang saya rasakan sepanjang tahun ini. Saya datang tanpa ekspektasi. Tidak ada ambisi besar, tidak ada target tinggi. Hanya ingin menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Dan mungkin, di situlah letak kepasrahannya. Ketika saya tidak lagi memaksakan hasil. Hanya datang, kerjakan, dan lupakan. Tentunya dengen prosedur dan protokol kesehatan yang sangat ketat. Saya tulis juga perjalanan UTBK terakhir ini di sini. 


► 14 Agustus 2020
Di tahun yang penuh kedukaan dan kabar buruk ini, ada satu keajaiban yang terjadi di perjalanan hidup saya tahun ini yaitu akhirnya saya lolos UTBK SBMPTN hingga saya kesulitan untuk mengungkapkannya dengan kata-kata. Dengan level kepasrahan yang sudah mencapai titik tertingginya, eh ternyata di luar dugaan, saya dinyatakan lolos. Pilihan pertama. Rasanya sulit dijelaskan. Antara senang, tidak percaya, dan sedikit bingung karena bukan jurusan yang benar-benar saya inginkan sejak awal. Tapi tetap saja, ini adalah pencapaian yang tidak bisa saya anggap kecil. Ada rasa haru yang muncul begitu saja melihat orang tuaku senang melihat anaknya lolos. Momen yang masuk ke inti memori ini saya abadikan juga dalam bentuk tulisan di sini. 


► 5 September 2020
Hari yang mungkin terlihat sepele bagi sebagian orang, tapi cukup berarti bagi saya. Layanan streaming Disney Plus resmi hadir di Indonesia. Di tengah pembatasan aktivitas sosial di masa pandemi, hal ini seperti menjadi salah satu penerang hidup untuk bisa jadi tempat pelarian sejenak menghibur diri dengan tayangan yang beragam. Saya bisa menikmati banyak film dan serial dari rumah. Di tahun yang penuh tekanan ini, hal-hal kecil seperti ini terasa cukup membantu. Saya sangat senang dan berbahagia menyambut perilisan aplikasi ini, dengan lebih banyak waktu di rumah, saya jadi lebih sering menonton film dan serial. Ini menjadi salah satu cara saya mengisi waktu sekaligus menghibur diri di tengah situasi yang tidak pasti. jadi tidak ada lagi jarak yang terasa soal hiburan yang asyik ini dengan orang barat. Begitu ada konten baru di sini juga ikut update dan sama-sama merasakan kehebohan yang sama. Luar biasa. 

► 9 & 10 September 2020
Memasuki bulan september, kehidupan baru dimulai. Saya melaksanakan Ospek universitas dan fakultas tapi dilakukan secara online. Ospek yang biasanya identik dengan interaksi langsung, kini hanya bisa dilakukan melalui layar. Saya mengikuti rangkaian kegiatan itu dengan perasaan yang jujur saja, kurang menikmati. Tidak ada interaksi langsung, tidak ada suasana panik, gerah, atau capek yang benar-benar terasa. Saya mengikuti semuanya dari layar, duduk berjam-jam, dan mencoba tetap fokus. Ada sedikit rasa kecewa, karena pengalaman yang seharusnya berkesan, malah terasa cukup hambar. Sabar banget. 


► 26-27 September 2020
Hal yang sama juga terjadi saat ospek jurusan dan berbagai kegiatan lainnya. Semua berjalan online dan terasa jauh. Ada jarak yang tidak bisa dijelaskan. Mungkin ini adalah konsekuensi dari keadaan. Polanya hampir sama. Duduk, menatap layar, mendengarkan materi yang tidak nampak nyata dan terkadang sulit untuk benar-benar dicerna. Ada kelelahan yang berbeda. Bukan fisik, tapi lebih ke arah mental. Seolah-olah saya hadir, tapi tidak benar-benar berada di sana. Dua hari ini terasa cukup panjang. Informasi yang diberikan banyak, tapi sulit untuk benar-benar terserap. Saya mulai merasakan bagaimana rasanya menjalani aktivitas sepenuhnya secara online. Sangat menyiksa badan dan pikiran untuk orang yang sudah lama tidak punya jadwal tetap sekaligus tidak berinteraksi dengan sesama manusia lainnya. 



► 26 Oktober - 6 November 2020
Memasuki kuartal keempat tahun ini, alur kehidupan mulai berubah. Saya makin sibuk dengan tugas-tugas kuliah yang mulai berdatangan tanpa henti. Lalu tibalah UTS pertama saya sebagai mahasiswa. Ini menjadi pengalaman yang cukup mengejutkan. Sistem yang berbeda, tekanan yang terasa lebih nyata walau hanya online. Saya sempat merasa tidak siap. Cara belajar harus diubah, cara berpikir juga harus menyesuaikan. Ada momen di mana saya merasa tertinggal, tapi saya mencoba untuk tetap mengikuti ritme yang ada. Saya cukup syok dengan beragam aturan yang sangat berbeda ketika ujian waktu sekolah dulu. 


► 18 Desember 2020
Di sela-sela semua itu, saya banyak menghabiskan waktu luang dengan menonton film dan serial. Mungkin ini adalah cara saya untuk tetap waras. Salah satu yang cukup membekas adalah penutup musim kedua The Mandalorian di bulan Desember ini. Sebuah tontonan yang memanjakan penggemar setia dan mampu memberikan rasa senang yang tak terkira. Episode final mandalorian sangatlah apik. Banyak kejutan yang dihadirkan dan membuat saya merasa euforia yang tak terbendung sebagai fans Star Wars. Ada kebahagiaan sederhana yang muncul, sesuatu yang membuat saya sejenak lupa dengan dunia nyata.


► 21 Desember 2020 - 1 Januari 
Sekarang, saya sedang berada di penghujung UAS pertama saya sebagai mahasiswa baru. Masih ada satu ujian lagi sebenarnya. Tapi saya tetap meluangkan waktu untuk menuntaskan tulisan ini malam ini. Mungkin karena saya tidak ingin melewatkan tahun ini begitu saja. Saya ingin menutup tahun ini seperti biasa saya lalui yaitu mengikatnya dalam bentuk tulisan, dari yang penting sampai yang receh, pokoknya apa pun yang menurut saya cukup membekas. Untuk UAS pertama ini saya sudah mulai terbiasa dengan sistem dan tekanan yang dihadapi. Tapi untuk cara belajar masih belum menemukan cara yang ideal karena banyak teori yang cukup sulit dibayangkan tapi harus bisa dikuasai dengan baik. Saya masih terus beradaptasi dan berusaha memahami segala pelajaran yang ada. Doakan ya sob semoga saya kuat. 


Yak mungkin itu saja yang bisa saya ceritakan tentang apa saja daftar momen yang paling berdampak pada hidup saya tahun ini. Mohon maaf jika kepanjangan karena memang cukup banyak yang terjadi di tahun 2020. 

Jika dipikirkan kembali, tahun ini ada beberapa rencana yang tidak berjalan seperti yang saya bayangkan. Banyak liku-likunya. Lebih banyak hal yang tidak berjalan sesuai resolusi. Lebih banyak waktu yang dihabiskan di rumah. Lebih banyak perasaan yang datang tanpa bisa dijelaskan dengan jelas. Lebih banyak ketidakpastian, lebih banyak rasa khawatir, dan mungkin juga lebih banyak waktu yang dihabiskan untuk berpikir terlalu jauh. Saya merasa tahun ini lagi-lagi lebih banyak dirasakan oleh emosi daripada dijalani dengan tindakan. Ada banyak perasaan yang datang silih berganti. Takut, ragu, kecewa, tapi juga sesekali ada rasa syukur yang muncul diam-diam. Saya tidak benar-benar mengerti apa yang terjadi di dalam diri saya selama satu tahun ini. Tapi satu hal yang pasti, saya merasakan perubahan. Entah menjadi lebih baik atau tidak, saya juga belum tahu.

2020 yang seharusnya menjadi tahun terbaik malah berkata sebaliknya. Banyak kesulitan yang terjadi. Tapi saya yakin, tahun ini akan selalu saya ingat sebagai salah satu fase penting dalam hidup saya. Fase di mana saya mulai benar-benar merasakan apa artinya menjadi manusia, dengan segala keraguan, ketakutan, dan harapan yang bercampur menjadi satu. Tahun di mana saya belajar menerima hal-hal yang tidak bisa saya kendalikan. Dan tahun di mana saya mulai memahami bahwa menjadi manusia itu tidak selalu tentang pencapaian, tapi juga tentang bertahan hidup. 

Saya tidak punya harapan yang muluk-muluk untuk tahun depan. Saya hanya berharap keadaan dunia bisa perlahan membaik. Semoga apa yang terasa berat di tahun ini, tidak perlu terulang dengan cara yang sama di tahun berikutnya. Semoga saya bisa cepat beradaptasi mengikuti arus kuliah dan bisa menjalaninya dengan lebih tenang. Akhir kata, terima kasih untuk diri saya sendiri yang masih bisa bertahan sampai sejauh ini. Terima kasih juga untuk para pengunjung yang telah membacanya hingga tuntas. Kalian luar biasa. Kurang lebihnya mohon dimaafkan ya. 





Oh iya satu lagi, jangan lupa, tetap jaga kesehatan serta patuhi protokol kesehatan 3M (Memakai masker; mencuci tangan; menjaga jarak) ya! Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiin... 



Selamat akhir tahun 2020 sob! 
Read More

Kamis, 24 Desember 2020

SEVENTH ANNIVERSARY

Selamat malam sobat blogger!

Saya tidak menyangka kita semua masih diberikan kesehatan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Ucapan syukur tak henti-hentinya saya panjatkan kepada Allah SWT, karena dengan kuasa-Nya saya bisa bertahan menghadapi berbagai tantangan besar tahun ini, beriringan dengan virus corona yang belum tahu kapan akan berakhir.

Selain itu, saya juga bersyukur masih bisa merasakan hari jadi blog ini yang ketujuh. Tepat hari ini, 24 Desember. Tak terasa, saya bisa sejauh ini melangkah bersama catatan daring yang sangat saya sayangi. Hehe, mungkin terdengar lebay. Tapi memang seperti itu adanya. Blog ini telah menjadi saksi bisu dari perjalanan hidup saya, terutama di masa-masa krusial peralihan usia menuju kepala dua. Kalau ada sesuatu yang ingin saya keluarkan dari pikiran, biasanya saya langsung membuka blog dan melampiaskannya. Ini merupakan kegiatan yang mengasah diri saya agar bisa terus termotivasi, sekaligus membuat pikiran menjadi lebih tenang.



Hampir setiap hari, saya memiliki banyak ide untuk ditulis. Mungkin karena saya memang suka memikirkan banyak hal. Apa pun bisa saya pikirkan, sampai kadang kepala terasa penuh sendiri. Dari hal yang sepele seperti kenapa kedutan bisa muncul sampai hal-hal yang agak di luar kebiasaan seperti apakah alam semesta punya ujung? 

Makanya daripada terlalu sumpek di kepala, saya biasanya tulis pemikiran-pemikiran saya di aplikasi buku catatan terlebih dahulu untuk ditampung. Kalau dirasa menarik untuk digali lebih dalam, baru saya pindahkan ke daftar prioritas untuk diposting di blog. Setelah itu, saya kembangkan sedikit demi sedikit sampai menjadi tulisan yang layak dibaca dan disebarkan di blog saya.

Tapi tentu saja tidak semua pemikiran saya harus dipublikasikan. Terkadang ada juga beberapa tulisan yang sebaiknya tetap disimpan sebagai catatan luring. Mungkin karena terlalu sensitif, atau memang belum saatnya dibagikan. Jadi, bisa dibilang semua tulisan yang sudah saya posting di sini sebenarnya sudah melalui proses pertimbangan yang cukup panjang dan sangat ketat untuk bisa lolos publikasi hingga bisa dinikmati oleh kalian semua pembaca setia blog saya. Walaupun, yaa... kadang tetap saja terasa seperti tidak ada yang membaca karena minimnya interaksi. Hehe.. 

Susah dan senang sudah saya lalui bersama blog ini. Apa yang seharusnya saya tulis, saya usahakan untuk ditulis dengan sebaik mungkin, setidaknya agar bisa menenangkan hati dan pikiran saya sendiri. Ini semacam ‘me time’ sederhana yang cukup berarti. Sudah sekitar tujuh tahun saya melakukan kebiasaan ini. Dan saya sadar, saya masih terus berproses. Harapannya, saya bisa tetap menulis secara rutin, bahkan kalau bisa sampai akhir hayat menjelang. Kalau pun ternyata suatu saat tidak bisa atau terhenti lagi, paling tidak dalam beberapa tahun terakhir saya punya rekam jejak catatan yang bisa dilihat kembali. Siapa tahu, itu bisa menjadi inspirasi untuk memulai lagi.

Sebagai orang yang cukup takut menjadi pelupa di masa tua, saya merasa sangat terbantu dengan adanya catatan-catatan ini. Setidaknya, ada sesuatu yang bisa mengingatkan saya tentang apa saja yang pernah saya rasakan di masa lalu. Menulis catatan harian berarti menyimpan jejak dari hari ke hari. Ada sesuatu yang bisa dinantikan setiap kali hari berakhir. Paling tidak, itu yang saya rasakan selama beberapa tahun terakhir.

Yak, mungkin itu saja yang bisa saya ceritakan di penanda hari jadi blog kali ini. Tidak terasa, tujuh tahun sudah berlalu. Banyak hal yang berubah, tapi kebiasaan positif ini masih tetap saya pertahankan semampunya. Menulis, menyimpan, lalu sesekali kembali membaca hanya sebagai pengingat bahwa saya pernah ada di titik-titik itu. Sebuah rasa antusiasme yang tidak pernah hilang sampai kapanpun. Karena selama saya masih menulis maka saya akan selalu ada. 

Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca sampai akhir. Dan semoga kita semua masih diberi kesempatan untuk terus melangkah, sejauh apa pun itu.

Jangan lupa tetap jaga kesehatan. Jangan remehkan 3M, dan tetap semangat! 
Read More

Sabtu, 19 Desember 2020

The Mandalorian Season 2: Hadiah untuk Penggemar Setia

Halo sobat blogger di mana pun kalian berada. Semoga semuanya berjalan dengan baik, meskipun mungkin masih diisi dengan rutinitas yang itu-itu saja. Akhir-akhir ini, saya juga tidak melakukan banyak hal yang benar-benar berbeda selain mengerjakan tugas kuliah. Tapi ada satu hal yang cukup saya tunggu setiap minggunya, dan akhirnya sampai juga di titik akhir.

Yak apalagi kalau bukan series The Mandalorian yang baru saja mengakhiri season 2 nya dengan luar biasa hebat. Fans rasanya dimanjakan dengan beragam fans service yang tak terduga. Jujur saja, rasanya masih sulit untuk dicerna dengan tenang. Karena episode final ini seru banget. Bahkan mungkin lebih dari sekadar keren. Fantastis. 


Sejak pertama tayang di akhir Oktober, saya mengikuti season ini dengan cukup santai. Tidak terlalu banyak ekspektasi di awal, hanya ingin melanjutkan perjalanan yang sebelumnya sudah terasa menarik. Tapi ternyata, semakin ke sini, justru semakin terasa bahwa season ini membawa sesuatu yang jauh lebih besar dari yang saya bayangkan. Sebagai seseorang yang sudah cukup lama menyukai Star Wars, saya masuk ke season ini dengan perasaan yang cukup sederhana. Ingin melanjutkan cerita season pertama yang cukup menggantung penuh misteri yaitu adegan Moff Gideon yang memegang darksaber. Saya jadi penasaran dan ingin melihat ke mana arah perjalanan karakter ini dibawa. Tidak ada ekspektasi berlebihan di awal. Tapi pelan-pelan, setiap episode seperti memberi alasan baru untuk tetap bertahan dan menunggu minggu berikutnya.


WARNING! Spoiler alert! ⚠️ 

Season kedua ini terasa lebih luas dibanding sebelumnya. Dunia yang ditampilkan tidak lagi terasa sempit. Perjalanan The Mandalorian membawa saya ke lebih banyak tempat, lebih banyak konflik, dan tentu saja, lebih banyak karakter yang sudah lama saya kenal. Dan di situlah salah satu kekuatan terbesarnya mulai terasa. Kemunculan Bo-Katan Kryze dan kelompok kecilnya di awal season membawa konflik politik Mandalore ke permukaan dan memperluas budayanya. 

Lalu ada Boba Fett di pertengahan season menjadi salah satu momen yang sangat mengejutkan. Sosok yang selama ini hanya dikenal sebagai karakter ikonik dari masa lalu, tiba-tiba kembali dengan cara yang tidak dibuat berlebihan, tapi langsung terasa dampaknya. Fennec Shand juga hadir bersamanya yang menambah dinamika baru dalam cerita. Interaksinya dengan sang Mandalorian memberikan warna baru, seolah mempertemukan dua dunia yang berbeda dalam satu perjalanan yang sama.


Tidak berhenti di situ, kehadiran Ahsoka Tano juga benar-benar membawa nuansa yang berbeda. Ada kedalaman emosional yang terasa, terutama bagi saya yang sudah mengikuti perjalanan karakter ini sebelumnya. Cara ia hadir, cara ia berbicara, ketenangannya sebagai Jedi yang sudah jauh lebih dewasa dibanding series animasinya. Kehadiran semua karakter familiar terasa seperti pengingat bahwa dunia Star Wars tidak hanya tentang perang besar skala galaksi saja, tapi juga tentang perjalanan individu yang panjang dan tidak selalu mudah.


Di titik itu, saya mulai menyadari bahwa season ini memang tidak ragu untuk memberikan apa yang selama ini diharapkan para penggemar. Tapi yang membuatnya tetap terasa kuat adalah bagaimana semua itu dibungkus dengan penceritaan yang tetap terjaga. Tidak terasa dipaksakan, tidak juga sekadar menjadi kumpulan momen nostalgia. Setiap episode seperti punya tujuan. Tidak selalu besar, tapi cukup untuk membuat perjalanan ini terasa utuh dan enak diikuti. Semua karakter ini tidak hanya hadir sebagai tempelan, tapi benar-benar punya peran yang terasa penting dalam membangun arah cerita. 


Dan kemudian, saya sampai di episode terakhir yang tayang perdana hari ini dan saya langsung tonton juga tanpa penundaan yang lama. Ada rasa semangat yang tinggi menyaksikan klimaks season 2 yang lebih besar dari biasanya, tapi juga ada harapan yang tidak terlalu berani saya ucapkan. Karena terkadang, harapan seperti itu justru lebih baik disimpan. Episode itu berjalan seperti biasa di awal. Tegang, penuh konflik, tapi masih dalam jalur yang bisa diprediksi. Sampai akhirnya, momen itu datang....... 

⚠️ WARNING! SPOILER! ⚠️ 


Sebuah kehadiran yang tidak saya sangka akan muncul di situ. Ada momen keheningan di kapal Moff Gideon saat ada sesuatu yang tiba-tiba masuk 

Sebuah kapal X-Wing

Seorang pahlawan perang 

Seorang Jedi terakhir 

Satu-satunya.. 

Itu diaaaa

LUKE SKYWALKER!


Wooww. Saya sempat terdiam beberapa saat. Bukan karena tidak percaya, tapi karena tidak benar-benar siap. Cara kemunculannya, cara semuanya dibangun menuju titik itu, terasa seperti sesuatu yang sudah lama dinantikan tanpa benar-benar disadari. Gak nyangka banget series ini bisa kehadiran Luke Skywalker muda yang dalam kondisi sangat prima. Bisa melawan robot dark trooper dengan lincah dan terampil. 

Bukan hanya sekadar kejutan, tapi ini seperti puncak dari semua yang sudah dibangun sejak awal. Adegan itu tidak hanya memberikan kepuasan sebagai penonton, tapi juga sebagai penggemar lama. Ada rasa bahwa sesuatu yang dulu terasa jauh, kini hadir dengan cara yang lebih dekat, lebih nyata. Dan di sinilah saya benar-benar merasakan euforia yang sulit dijelaskan. Saya sangat kegirangan sendiri menyaksikannya. Ini adalah momen besar dalam sejarah series Star Wars, adegan ini sangat menyentuh jiwa anak-anak saya yang lebih dalam. Sesuatu yang sudah lama saya rasakan sejak pertama kali mengenal dunia Star Wars.


Secara keseluruhan, Season kedua memang penuh dengan fan service. Tapi bukan jenis yang terasa hadir tanpa arti. Semua kemunculan karakter, semua momen besar, tetap punya tempat dalam cerita. Semua kejutan yang dihidangkan dalam season ini membuat penonton bersorak, serta memperkuat basis cerita yang sedang dibangun semakin lebar dan kokoh. Saya kasih nilai 9 dari 10 untuk The Mandalorian season 2 ini. 

Sebagai penonton, saya merasa benar-benar diperhatikan. Terasa dimanjakan secara pas dan diberi sesuatu yang memang pantas untuk dinikmati setelah mengikuti perjalanan panjang ini. Dengan adanya Disney Plus, waralaba star wars jadi punya wadah apresiasi resmi yang bisa saya tonton terus-menerus berulang kali hingga menamati semua seriesnya.

Dan ketika semuanya selesai, yang tertinggal bukan hanya tentang kejutan di akhir. Tapi tentang bagaimana satu season bisa membawa saya kembali merasakan apa yang dulu membuat saya menyukai Star Wars. Sebuah perasaan bahagia sederhana yang nikmat.

Di balik kehebohan semua cerita besar itu, selalu ada ruang untuk kembali bagi saya merasa terhubung dengan galaksi yang sangat jauh.



It's beautiful. 
Read More

Sabtu, 07 November 2020

Ingin Sempurna di Ujian Pertama

Sudah hampir dua minggu ini jadwal saya cukup menguras otak. Rasanya kepala ini mulai panas, perih, dan seolah terbakar oleh materi kuliah agribisnis yang tidak ada habisnya. Hari ini adalah puncaknya. Sabtu yang seharusnya menjadi hari tenang, justru menjadi penutup rangkaian Ujian Tengah Semester atau UTS pertama saya di bangku perkuliahan. Ternyata, kenyataan menjadi mahasiswa di tengah pandemi jauh lebih menguras energi daripada yang saya bayangkan sebelumnya.

Jujur saja, saya mengalami gegar budaya yang cukup hebat. Sistem ujian di kampus sangat jauh berbeda dengan apa yang saya alami saat masih sekolah dulu—saat ujian terasa seragam dan linear. Sekarang, setiap dosen memiliki "kerajaan" dan aturannya masing-masing. Ada yang gak mau ribet dengan hanya mengunggah soal baik esai maupun pilihan ganda di situs e-learning kampus dan bisa langsung dikerjain di situs tersebut tanpa ditulis atau dalam pengawasan online tapi tetap dengan waktu terbatas dan jam yang telah ditentukan. Saya sempat merasa terpukau dengan sistem ujian pilihan ganda di situs E-learning kampus. Rasanya sangat modern, keren, dan praktis karena nilai bisa langsung keluar atau setidaknya prosesnya efisien meski dibatasi waktu yang sangat ketat. 

Ada dosen juga yang membolehkan buka buku atau open book. Awalnya terdengar menyenangkan. Saya bisa membuka catatan, mencari jawaban, bahkan sesekali mengandalkan internet. Tapi ternyata tidak sesederhana itu. Waktu yang diberikan tetap terbatas dan pertanyaan yang diberikan justru jauh lebih mematikan karena sifatnya murni analisis mendalam yang menuntut pemahaman bukan sekadar menjawab. Saya jadi sempat panik sendiri, sibuk membuka ini itu, sampai lupa berpikir jernih.

Sebaliknya, ada juga yang benar-benar close book. dengan pengawasan ketat melalui kamera zoom atau gmeet yang harus menyala sepanjang waktu. Seolah-olah pandemi tidak mengubah toleransi apa pun bagi mereka. Metode pengumpulannya pun sangat beragam dan bisa dibilang cukup melelahkan. Ada yang meminta jawaban diketik rapi, ada yang mengharuskan tulis tangan di kertas folio lalu dipindai menjadi PDF, kemudian diunggah ke Google Drive atau portal situs kampus. Oke masih bisa diatasi. Lalu ada ujian lisan yang membuat saya harus berbicara langsung di depan layar, menjawab pertanyaan secara spontan tanpa waktu berpikir panjang. Rasanya canggung. Tidak ada kontak mata yang jelas, tidak ada suasana yang bisa membantu saya merasa tenang. Beneran menguji daya pikir saya sebagai mahasiswa baru. 

Nahh, di ujian yang lain, saya juga bertemu dengan tipe dosen yang sangat kaku dan konservatif. Bayangkan saja, di tengah situasi serba digital seperti sekarang, ada dosen yang mewajibkan jawaban tetap ditulis tangan lalu dikirimkan dalam bentuk fisiknya ke rumah beliau. Beliau memberikan alamat rumahnya dan bagi mahasiswa yang tinggal jauh, diinstruksikan untuk menggunakan jasa ekspedisi atau paket. 

Wah ini benar-benar sebuah kejutan yang tak terduga bagi saya. Mau gak mau saya harus menulis jawaban di kertas folio, seperti ujian biasa, lalu mengirimkannya lewat paket. Jujur saja, ini membuat saya cukup syok. Di tengah kondisi seperti ini, ketika semua orang berusaha beradaptasi dengan teknologi, masih ada sistem yang terasa sangat tradisional. Bahkan untuk sekadar mengikuti ujian, saya harus memikirkan biaya pengiriman. Jawaban saya belum tentu benar, tapi saya sudah harus mengeluarkan modal dan tenaga ekstra hanya untuk mengirim lembar jawaban tersebut. Saya merasa ini baru ujian kuliah yang sesungguhnya yang menguji kesabaran dan kemampuan saya untuk menghadapi persoalan rumit dari awal. Saya jadi makin tidak sabar ingin masuk kuliah offline agar praktik seperti ini bisa dihentikan segera. 



Selama menjalani UTS ini, saya menyadari bahwa bertahan di dunia perkuliahan ternyata jauh lebih sulit daripada perjuangan mengejar PTN dahulu. Dinamika pertemanannya berbeda, terasa lebih individualis mungkin karena keterbatasan jarak. Tugas-tugas yang diberikan mungkin tidak sebanyak saat sekolah, tetapi tingkat stres yang dihasilkan jauh berkali-kali lipat. Belum lagi urusan dosen yang terkadang sangat pelit memberikan nilai ujian, padahal saya merasa sudah menjawab dengan baik dan performa saya sudah cukup bagus.

Kondisi ini perlahan membangkitkan jiwa perfeksionis lagi dalam diri saya untuk mengontrol pikiran secara berlebihan. Saya selalu merasa harus sempurna dalam setiap hal, baik itu dalam mengerjakan tugas maupun memahami materi kuliah. Saya tidak tenang jika ada satu poin pun yang terlewat atau terlihat kurang maksimal. Namun, ambisi untuk menjadi sempurna ini justru menjadi bumerang. Manajemen waktu saya akhir-akhir ini jadi berantakan banget dua bulan terakhir. Berada seharian di rumah berarti peran saya terbagi dua yaitu sebagai mahasiswa yang harus belajar dan mengejar nilai, serta sebagai anak yang tidak bisa meninggalkan kewajiban membantu orang tua.

Saya sering kali merasa keteteran menyeimbangkan kedua hal ini. Membantu orang tua adalah prioritas yang tidak mungkin saya abaikan, tetapi di saat yang sama, tugas-tugas kuliah terus menumpuk menanti sentuhan perfeksionisme saya. Hasilnya adalah rasa lelah yang luar biasa, saya burnout, dan stres yang cukup berat. Layar hp dan laptop hampir setiap hari tidak absen untuk terus menyala, sementara pikiran saya terus membakar energi yang tersisa.

Kesempurnaan yang saya kejar seringkali terasa seperti bayangan yang menjauh saat saya mencoba mendekat. Menjalani UTS online ini menyadarkan saya bahwa kemampuan saya sesungguhnya sedang ditempa melalui fase ketidakteraturan ini. Saya diuji untuk tetap tenang di tengah persoalan yang rumit, dari hal teknis pengiriman ujian hingga analisis soal yang memutar otak. Semua ini terasa seperti belum terbiasa menemukan bentuknya. Saya masih berusaha menyesuaikan diri dengan ritme yang berubah begitu cepat. Dari fase gap year yang tampak bebas tanpa jadwal yang jelas, sekarang semuanya serba teratur dan mengikat. Ujian pertama ini tidak memberi rasa lega seperti yang dulu sering saya bayangkan. Tidak ada perasaan selesai yang benar-benar tuntas. Justru yang ada adalah sisa-sisa cemas yang masih tertinggal. Tentang jawaban yang saya ragukan, tentang sistem yang belum sepenuhnya saya pahami, dan tentang diri saya sendiri yang masih sering terasa tidak cukup.

Mungkin ini memang fase yang harus dilewati. Fase di mana semuanya terasa asing, serba tidak pasti, dan cukup melelahkan. Bisa dibilang saya masih berada di tengah proses menyesuaikan diri dengan dunia yang benar-benar baru.
Dan sepertinya, setelah tulisan ini selesai pun, semuanya tidak langsung menjadi lebih mudah. Besok atau lusa, mungkin akan ada kebingungan lain yang datang lagi, dengan bentuk yang berbeda. Saya masih akan duduk di depan layar yang sama, dengan perasaan yang kurang lebih serupa.

Saya berusaha meyakinkan diri bahwa jika saya mampu melewati fase transisi yang berat ini, maka saya adalah pribadi yang kuat. Kemampuan saya sebenarnya jauh lebih besar dari keraguan yang saat ini menghantui. Untuk sekarang, saya akan menyudahi cerita ini, mengistirahatkan mata yang mulai memerah, dan mensyukuri bahwa satu tahap ujian telah terlewati.
Read More

Minggu, 11 Oktober 2020

Aku Berpikir, Aku Menulis

Halo, selamat malam sobat blogger di mana pun kalian berada. 

Sudah satu bulan terakhir ini saya memutuskan untuk kembali aktif di media sosial, khususnya Instagram. Keputusan ini sebenarnya cukup kontradiktif dengan prinsip yang saya pegang selama dua tahun terakhir. Setelah lulus sekolah, saya sempat menghapus akun utama secara permanen demi menjaga ketenangan jiwa dan raga. Saat itu saya merasa terlalu banyak hal yang tidak perlu masuk ke kepala. Terlalu ramai, terlalu cepat, dan pada akhirnya membuat pikiran tidak tenang. Namun, realita sebagai mahasiswa baru menuntut hal yang berbeda. Keperluan kuliah, kewajiban mengikuti akun kampus, hingga mengunggah atribut orientasi mahasiswa dalam bentuk twibbon dan bikin story, memaksa saya untuk kembali menciptakan jejak digital.

Dalam kepulangan saya ke jagat maya penuh visual ini, saya memilih untuk membangun persona yang sedikit berbeda. Saya kini mengutamakan nama depan sebagai nama panggilan, meninggalkan nama belakang yang selama dua puluh tahun ini begitu melekat. Sebuah transisi kecil, tapi terasa sangat mendasar bagi saya dalam memulai kebiasaan baru. Bahkan, deskripsi bio di profil saya pun ikut berubah. Jika dulu saya menggunakan kutipan tentang ketenangan kura-kura dan merpati, kini saya menuliskan kalimat pendek yang cukup ambisius: "Pemikir kelas berat".


Transformasi ini bukan sekadar gaya-gayaan. Saya berharap identitas baru ini menjadi pengingat agar saya selalu berpikir sebelum bertindak. Sejak dulu, saya memang merasa lebih nyaman saat memikirkan sesuatu secara mendalam. Kekuatan kreasi dan aksi saya selalu berakar pada daya pikir untuk menciptakan sesuatu yang saya senangi sekaligus mudah untuk dipahami.

Suatu malam, saat sedang menjelajahi beranda Instagram, saya menemukan sebuah unggahan dari penerbit buku indie yang cukup menyentak. Isinya adalah kutipan dari filsuf prancis, René Descartes: 

"Aku berpikir, maka aku ada." 

atau dalam bahasa latinnya, 
Cogito Ergo Sum. 

Awalnya kalimat itu terlihat sederhana. Bahkan mungkin terlalu sederhana. Tapi entah kenapa, saya berhenti cukup lama di situ. Seolah ada sesuatu yang ingin saya pahami lebih jauh. Saya mulai mencari tahu lebih lanjut dan membaca penjelasannya. Intinya maksud René Descartes dalam kutipan ini adalah berawal dari kebisaan dia meragukan segalanya. Dia bilang indra manusia bisa menipu. Pengalaman bisa juga salah. Apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan belum tentu benar. Bahkan realitas yang selama ini kita yakini bisa saja tidak seperti yang kita kira. Sampai pada satu titik, semua itu seakan runtuh. Tapi di tengah keraguan itu, ada satu hal yang tidak bisa digoyahkan. Ketika kita meragukan sesuatu, berarti kita sedang berpikir. Dan jika kita berpikir, berarti kita ada.

Wah gokil sih ini pemikirannya. Saya mencoba merenungkan itu lebih dalam.
Jika semua bisa diragukan, lalu apa yang sebenarnya bisa saya pegang? Ternyata bukan dunia di luar sana. Bukan juga orang lain. Tapi diri saya sendiri, tepatnya kesadaran bahwa saya sedang berpikir. Sesederhana itu, tapi sekaligus terasa sangat mendasar dan memperbarui pola pikir saya selama ini. 

René Descartes menggunakan kalimat ini untuk meyakinkan dirinya sendiri tentang hakikat keberadaan. Ia berargumen bahwa seseorang tidak mungkin meragukan keberadaan pikirannya sendiri karena dalam tindakan meragukan itu pun, seseorang sebenarnya sedang berpikir.


Refleksi Descartes ini terasa sangat relevan saat ini, khususnya untuk saya pribadi. Sering kali, persepsi saya terhadap dunia di sekitar saya terasa mengecewakan atau bahkan menipu. Saya menganggap pengalaman hidup saya yang naik turun ini sebagai sesuatu yang otentik, tapi ketika realita berkata lain, rasanya seperti disiram air es ke wajah saya. Saya baru menyadari bahwa indra manusia bisa menyesatkan tanpa disadari. Jika indra bisa menipu sekali saja, maka menurut standar ketat Descartes, indra tersebut tidak bisa diandalkan sepenuhnya.

Lalu, apa yang tersisa? Satu-satunya landasan yang kokoh adalah fakta bahwa saya sedang berpikir. Betapa pun kelirunya penilaian saya terhadap realitas, atau betapa pun kacaunya nalar saya bekerja, saya tidak akan pernah salah mengenai fakta bahwa saya sedang ada untuk melakukan kesalahan tersebut. Saya ada, karena saya berpikir.

Dari situ, saya mulai melihat diri saya sendiri dengan cara yang sedikit berbeda. Selama ini saya memang lebih sering berada di dalam kepala saya sendiri. Memikirkan banyak hal, bahkan hal-hal kecil yang mungkin tidak terlalu penting bagi orang lain. Saya suka menganalisis, membayangkan, dan mempertanyakan. Kadang terlalu jauh, sampai akhirnya malah membuat diri sendiri lelah.

Tapi setelah memahami kutipan itu, saya mulai menyadari bahwa berpikir bukan sekadar kebiasaan. Itu adalah bagian dari keberadaan saya sendiri. Dan mungkin, di situlah letak arah saya. Saya juga mulai melihat pola dalam cara saya bekerja dan belajar. Saya cukup nyaman dengan sesuatu yang terstruktur. Saya cenderung membuat daftar, menyusun rencana, dan mengikuti alur yang jelas. Ada kebutuhan untuk menjaga semuanya tetap rapi dan terkendali. Mungkin ini bagian dari sisi konvensional dalam diri saya.

Di sisi lain, saya juga menyukai proses mencari tahu. Ketika ada sesuatu yang membuat penasaran, saya lebih memilih untuk memikirkannya sendiri, mencoba memahami, daripada langsung bertanya atau mengikuti orang lain. Saya menikmati proses menganalisis, mengurai, dan menyusun ulang pemahaman. Ada rasa puas ketika akhirnya menemukan jawaban, meskipun tidak selalu benar.

Lalu ada juga sisi lain yang tidak bisa saya abaikan. Saya suka menulis. Saya suka menuangkan isi kepala ke dalam kata-kata. Bukan karena ingin dibaca banyak orang, tapi lebih karena saya ingin memahami apa yang sebenarnya saya pikirkan dan rasakan. Menulis seperti menjadi jembatan antara pikiran dan sesuatu yang bisa saya lihat.
Semua itu, jika dipikirkan lagi, seperti mengarah ke satu hal yang sama. Saya lebih sering berhadapan dengan diri sendiri. Saya mencoba memahami diri saya, mengenali emosi, melihat kelebihan dan kekurangan, dan mempertanyakan banyak hal yang terjadi di dalam. Tidak selalu mudah, kadang justru membingungkan. Tapi di situ juga saya merasa lebih jujur.


Sebagai mahasiswa yang baru memulai perjalanan akademik, pemahaman ini memberikan perspektif baru. Gairah untuk menggali potensi dan nalar ternyata tidak semudah bertemu dengan orang-orang yang satu pemahaman. Masih banyak hal yang terasa asing. Lingkungan baru, tuntutan baru, dan cara hidup yang mulai berubah. Tapi setidaknya, dari satu kutipan sederhana itu, saya mendapatkan satu pijakan baru.

Bahwa berpikir bukan sesuatu yang harus dihindari, tapi juga tidak boleh berlebihan sampai melumpuhkan diri sendiri. Saya tetap harus belajar menyeimbangkan. Antara berpikir dan bertindak. Antara memahami dan menjalani. Keberagaman pemikiran di dunia kuliah justru menjadi ajang latihan yang sesungguhnya. Berbicara atau menulis bukan hanya untuk orang lain, melainkan sebuah bentuk refleksi diri untuk menjaga idealisme agar tetap berpijak pada realitas.

Dari satu kutipan sederhana itu, saya seperti diberi ruang untuk berhenti sejenak dan benar-benar menyadari apa yang selama ini saya lakukan tanpa sadar. Bahwa kebiasaan berpikir, menganalisis, dan menulis bukan sekadar pengisi waktu luang, tapi bagian dari cara saya memahami keberadaan saya sendiri. Mungkin ke depan, saya akan tetap sering dipenuhi pertanyaan. Mungkin juga akan ada saat-saat di mana pikiran terasa terlalu ramai dan melelahkan. Tapi sekarang saya sedikit lebih mengerti bahwa itu bukan sesuatu yang harus selalu dilawan. Selama saya masih bisa mengelolanya, di situlah saya justru sedang mengenali diri saya lebih jauh. 

Menulis akan tetap menjadi tempat saya kembali. Tempat di mana pikiran yang semrawut bisa perlahan dirapikan. Tempat di mana saya bisa jujur tanpa harus menjelaskan semuanya kepada orang lain. Dan dari sana, pelan-pelan saya belajar satu hal. Bahwa memahami diri sendiri tidak harus selalu tentang menemukan jawaban, tapi tentang berani tetap kritis di dalam proses berpikir itu sendiri.
Read More

Senin, 28 September 2020

AGRARIS dan Identitas Diri

Halo. Selamat malam sobat! Saya kali ini mau berbagi cerita dan kesan yang tertinggal tentang kegiatan yang baru saja saya laksanakan. Dua hari terakhir, tepatnya pada tanggal 26 dan 27 September kemarin, saya baru saja menyelesaikan sebuah rangkaian acara ospek jurusan bertajuk AGRARIS. Singkatannya cukup megah yaitu Ajang Keakraban Mahasiswa Agribisnis. Sebuah nama acara yang seharusnya menyiratkan kedekatan fisik, lelah di bawah matahari, atau setidaknya jabat tangan yang erat dengan sesama mahasiswa baru. Namun, realitanya jauh dari itu.

Semuanya terjadi di dalam jaringan. Daring. Online. Depan laptop atau hp. Dari layar ke layar lagi. Di dalam rumah. Di dalam kamar. Sunyi dan tenang. 


Sejujurnya, saya tidak tahu harus berekspektasi seperti apa lagi. Kata "keakraban" terdengar hangat, seolah ada interaksi yang lebih dekat, lebih manusiawi. Tapi ketika semuanya dilakukan secara online, rasanya kata itu seperti kehilangan bentuknya. Saya tetap hadir, duduk di depan layar, menatap ratusan wajah yang sebagian besar bahkan belum tentu saya ingat setelah acara selesai. 

Materi demi materi disampaikan. Tentang agribisnis, tentang potensi pertanian, tentang peran mahasiswa dalam sektor pangan, dan berbagai hal lain yang sebenarnya penting. Saya tahu itu penting. Saya paham bahwa jurusan ini punya peran besar dalam kehidupan banyak orang. Tapi di sisi lain, ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Seperti saya sedang belajar tentang bisnis di bidang pertanian, tentang sesuatu yang seharusnya menjadi dasar kehidupan, tapi justru merasa belum benar-benar berpijak di mana pun.
Ya saya maklum sih, saat ini kita semau sedang berada di masa di mana orientasi mahasiswa harus dilakukan dari meja belajar masing-masing, di dalam kamar yang terkadang terasa sangat sempit untuk menampung ambisi yang sangat besar. AGRARIS tahun ini menjadi saksi betapa anehnya membangun keakraban lewat kotak-kotak kecil di Zoom. Saya melihat wajah-wajah baru, mendengar suara-suara yang terkadang putus karena koneksi yang tidak stabil, dan mengikuti rangkaian instruksi dari mentor kakak tingkat yang berusaha keras menjaga wibawa meski hanya terlihat dari dada ke atasnya. 

Di hari pertama, saya masih mencoba mengikuti dengan serius. Mencatat beberapa hal, memperhatikan penjelasan, mencoba memahami arah yang ingin ditunjukkan. Tapi semakin lama, fokus itu mulai goyah. Bukan karena materinya tidak menarik, tapi karena suasananya tidak mendukung. Duduk berjam-jam di depan layar membuat segalanya terasa lebih berat dari yang seharusnya. Saya tidak benar-benar merasakan suasana menjadi mahasiswa baru. Tidak ada hiruk pikuk kampus, tidak ada obrolan santai di sela kegiatan, tidak ada tatapan langsung yang bisa memberi kesan pertama. 

Hari kedua tidak jauh berbeda. Ada beberapa sesi yang mencoba lebih interaktif dengan menghadirkan alumnus yang sudah sukses dan berhasil membangun bisnis pertaniannya sendiri. Tapi tetap saja semua terasa seperti formalitas. Saya melihat nama-nama asing di layar, mendengar suara-suara yang kadang terputus, dan sesekali menatap diri sendiri di monitor yang entah kenapa terasa asing. Ini aneh. Saya bagian dari acara ini, tapi rasanya seperti tidak benar-benar hadir. Semua terasa datar. Bahkan ketika panitia mencoba mencairkan suasana, tetap saja ada jarak yang tidak bisa ditembus.

Ilustrasi

​Sejujurnya, ada rasa super canggung yang tidak bisa saya ucapkan secara langsung. Kita diminta untuk saling mengenal, tapi pembatasnya adalah layar. Kita diminta untuk mencintai jurusan ini, sementara saya sendiri masih merasa seperti orang asing di rumah sendiri. Agribisnis. Nama itu masih terasa berat sekali di lidah saya. Ada masanya saya merasa bahwa ini hanyalah tempat persinggahan sementara, sebuah rencana cadangan yang terpaksa menjadi rencana utama karena jalan lain sudah tertutup rapat.
Selama dua hari orientasi jurusan ini, saya banyak merenung. Saya merasa identitas saya saat ini masih mengambang. Di satu sisi, saya adalah mahasiswa Agribisnis yang harus mulai peduli pada rantai pasok, manajemen pertanian, dan isu-isu pangan. Di sisi lain, pikiran saya sering kali melayang ke tempat lain, ke mimpi-mimpi yang mungkin sudah harus saya lipat rapi dan simpan di laci pikiran yang terdalam. Ada semacam pergulatan batin ketika saya harus meneriakkan yel-yel atau mengikuti penugasan yang diberikan. Apakah saya benar-benar di sini karena saya mau, atau hanya karena saya hanya mengikuti arus? Entahlah... 

Ilustrasi

Namun, setelah menjalani acara dua hari ini, AGRARIS memberikan sedikit celah cahaya. Meski dilakukan secara online, saya mulai melihat bahwa saya tidak sendirian dalam ketidakpastian ini. Ada ratusan orang lain di balik layar mereka yang mungkin merasakan kegelisahan yang sama. Saat sesi berbagi cerita atau sekadar candaan di kolom komentar chat, ada rasa terhibur sedikit yang muncul secara perlahan. Mungkin ini yang mereka sebut sebagai awal dari sebuah identitas baru.
Saya sedang mencoba. Saya sedang berusaha untuk mencintai apa yang sudah saya dapatkan hari ini. Bukankah hidup memang sering kali tentang bagaimana kita mengelola kekecewaan menjadi sesuatu yang produktif? Mempelajari Agribisnis mungkin bukan cinta pandangan pertama bagi saya, tapi barangkali ia adalah jenis cinta yang tumbuh karena terbiasa. Saya mulai membaca sedikit demi sedikit tentang prospeknya, tentang bagaimana sektor ini bisa tetap bertahan di tengah pandemi yang melumpuhkan banyak aspek kehidupan lainnya. Inti dari agribisnis sebenernya belajar tentang pengolahan sistem dari hulu ke hilir, ada juga tentang produksi dan distribusi, serta tentang tanah dan segala sayuran yang tumbuh di atasnya. 

Namun untuk saat ini saya sendiri merasa seperti belum punya pijakan yang jelas. Seolah sedang berdiri di atas sesuatu yang tidak benar-benar solid. Mungkin "mengambang" adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan posisi saya sekarang. Saya tidak lagi berada di daratan lama saya yang penuh ambisi mimpi masa lalu, tapi saya juga belum benar-benar menginjakkan kaki di tanah agraris yang sesungguhnya. Saya masih berada di tengah laut, di atas sekoci yang bernama adaptasi.
Mungkin ini bukan tentang jurusannya. Mungkin ini tentang kondisi. Tentang masa yang memang tidak memberi ruang untuk merasakan segalanya dengan utuh. Saya hanya menjalani apa yang ada di depan mata, tanpa benar-benar tahu harus merasakan apa. Masa orientasi jurusan ini seharusnya menjadi ajang yang mengakrabkan saya dan jurusan. Tapi bagi saya, ini lebih terasa seperti ajang perkenalan yang belum benar-benar selesai. Dengan jurusan, dengan lingkungan, bahkan dengan diri sendiri sebagai manusia yang menyandang status sebagai mahasiswa.
Mungkin keakraban itu memang tidak bisa dipaksakan dalam dua hari, apalagi hanya lewat layar. Mungkin butuh waktu yang lebih panjang, dan cara yang lebih nyata. Untuk saat ini, saya hanya bisa mengikuti alurnya saja. Menyelesaikan setiap tahap, satu per satu.

Ilustrasi


Begitu acara AGRARIS kemarin sudah usai. Secara administratif, saya sudah dianggap akrab dengan lingkungan ini. Namun secara personal, perjalanan saya baru saja dimulai. Besok dan hari-hari setelahnya, saya harus kembali berhadapan dengan kuliah-kuliah daring yang menuntut fokus ekstra. Saya hanya berharap, identitas yang masih mengambang ini perlahan-lahan akan menemukan tempat untuk berlabuh. Saya ingin belajar untuk berhenti menoleh ke belakang dan mulai melihat apa yang ada di depan mata, sekecil apa pun itu.
Untuk sekarang, biarlah saya beristirahat sejenak dari layar ini. Menutup laptop, mematikan koneksi internet, dan mencoba berdialog dengan diri sendiri lagi tanpa gangguan notifikasi. Ternyata, menjadi mahasiswa di tengah pandemi bukan hanya soal belajar materi kuliah, tapi juga belajar cara untuk tetap waras dan menerima kenyataan yang tidak pernah sesuai dengan ekspektasi.

Akhir kata saya ingin mengucapkan, Selamat datang di Agribisnis, untuk diri saya sendiri. Mari kita lihat, sejauh mana tanah ini bisa membuat saya tumbuh lebih baik. 
Read More

Jumat, 11 September 2020

Nonton film Star Wars: The Clone Wars untuk pertama kalinya

Halo selamat malam sobat blogger! 

Hari yang indah karena bisa menikmati hari jumat yang menenangkan. Ada momen dalam hidup saya yang hanya ingin kembali merasakan hal yang dulu pernah terasa sangat menyenangkan untuk dilakukan, yaitu nonton film. Hari ini akhirnya saya bisa merasakan momen itu lagi. Di tengah minggu yang padat ini, Disney+ Hotstar akhirnya resmi rilis di Indonesia pada awal september ini. Rasanya seperti memberi angin segar di tengah pandemi saat maraknya pembatasan keramaian di luar rumah yang otomatis bioskop ditutup sementara. Dan ini pertama kalinya saya berlangganan aplikasi streaming. Rasa penasaran saya begitu tinggi untuk kembali masuk ke dunia fantasi yang sudah lama saya kenal mulai dari Marvel, Disney, sampai Star Wars secara legal semua ada di aplikasi ini. 


Karena Marvel belum ada konten baru, saya berniat untuk mulai menjamah konten star wars yang berbentuk series yang sudah lama juga jadi watchlist dan sekarang akhirnya benar-benar terwujud secara legal dan resmi. Saya sudah cukup lama menjadi penggemar Star Wars. Bukan sekadar tahu, tapi benar-benar menikmati semestanya. Akhirnya perjalanan ini saya mulai dengan sesuatu yang paling masuk akal sebagai pembuka, yaitu Star Wars: The Clone Wars yang rilis tahun 2008. Sebagaimana urutannya yaitu film animasinya dulu baru series animasinya. 

Saya menontonnya tidak dengan ekspektasi tinggi, lebih ke rasa ingin tahu yang tinggi dan keyakinan untuk memulai urutan dengan benar. Film ini terasa seperti pintu masuk sebelum melangkah lebih jauh ke serial panjangnya. Secara tampilan, memang bukan sesuatu yang bisa langsung mengesankan jika dilihat dengan standar sekarang. Tapi gaya visual animasinya punya identitas sendiri, dan cukup untuk mengingatkan bahwa ini tetap bagian dari dunia Star Wars yang saya sukai.

Star Wars The clone wars 2008

Dari segi cerita, terasa sederhana, bahkan cenderung seperti pengantar. Tidak terlalu dalam, tidak juga terlalu kompleks. Tapi justru di situlah fungsinya bekerja. Ia memperkenalkan karakter baru, dinamika antar jedi, konflik dasar yang menarik, dan suasana yang nantinya akan berkembang di serialnya. Tidak memaksa untuk langsung terasa besar, tapi cukup untuk membuat saya bertahan. Saya hari ini juga baru tahu bahwa Anakin ternyata punya padawan yaitu Ahsoka Tano. Misi pertama mereka yaitu menyelamatkan putra Jabba the Hutt yang diculik menjadi ujian kesabaran dan kepercayaan yang cukup menantang, yang pada akhirnya membentuk ikatan kuat yang saling menghormati.

Yang paling terasa justru bukan dari filmnya, tapi dari momen saat menontonnya. Ada perasaan yang sulit dijelaskan menyentuh sisi anak-anak dalam diri saya yang telah lama menunggu momen ini. Nonton film animasi The Clone Wars yang sudah berusia lebih dari 12 tahun ini gokil sih. Emang sih ini bukan pengalaman yang meledak-ledak kayak keterima SBMPTN, tapi rasa haru ini tetap nyata seakan tidak percaya saya akhirnya merasakan sensasi seolah tv kabel tapi kini semua bisa diakses di hp. Sensasi yang membuat saya ingin lanjut ke seriesnya. 

Dan setelah ini, semuanya terasa lebih seru. Saya akan masuk ke series Star Wars: The Clone Wars dari season pertama. Pelan-pelan saya rencanakan kedepannya nonton sekitar enam episode dalam seminggu, mungkin bisa lebih saat sedang senggang atau di akhir pekan. Sejauh ini sih gak ada target khusus, tidak juga ingin terburu-buru. Hanya ingin menikmati proses menontonnya dengan khidmat, sedikit demi sedikit.

Pada akhirnya, film ini bukan tentang seberapa bagus atau seberapa berkesannya ia berdiri sendiri. Tapi lebih ke bagaimana ia membuka jalan cerita baru di antara film-film yang punya jarak yang cukup untuk bercerita. Karena dari sini, perang klon yang penuh intrik baru saja diperdalam kisahnya. 
Read More

Kamis, 10 September 2020

Pengalaman MOMB 2020 secara online

Halo. Selamat sore sobat! 

Hari ini saya baru saja menyelesaikan rangkaian masa orientasi hari kedua. Dari pagi saya duduk di tempat yang sama, dengan pakaian yang kurang lebih sama, dan layar laptop yang menjadi satu-satunya jendela menuju dunia kampus. Bedanya, hari ini bukan lagi tentang universitas secara umum, melainkan tentang tempat saya akan benar-benar berproses nanti yaitu Fakultas Pertanian. Kegiatan ini biasa disebut dengan Masa Orientasi Mahasiswa Baru alias MOMB yang diselenggarakan oleh para mahasiswa fakultas pertanian itu sendiri di bawah organisasi BEM FAPERTA. 



Acara dimulai pukul delapan pagi. Perlahan-lahan saya sudah mulai terbiasa dengan pola seperti ini, masuk ke ruang virtual, memastikan kamera aktif, dan menunggu acara dimulai. Rasa panik dan deg-degan tidak terlalu hebat seperti hari kemarin, tapi juga tidak ada rasa antusias yang berlebihan. Semuanya terasa cukup normal dan berjalan begitu saja. Materi yang disampaikan hari ini lebih spesifik. Tentang fakultas, jurusan Agribisnis, sistem belajar, hingga gambaran umum dunia pertanian. Saya mencoba lebih fokus, karena ini menyangkut pilihan yang sudah saya ambil. Setidaknya, ini bukan sekadar pengenalan umum, tapi sesuatu yang akan benar-benar saya jalani.

Namun lagi-lagi, ada hal yang terasa kurang. Mendengar penjelasan tentang fakultas tanpa pernah benar-benar melihat lingkungannya secara langsung membuat semuanya terasa seperti teori. Saya tahu nama-nama gedungnya, saya tahu struktur organisasinya, tapi saya belum punya gambaran nyata seperti apa rasanya berada di sana. Enam jam kembali terasa panjang. Duduk, mendengarkan, sesekali mencatat, lalu kembali diam. Interaksi tetap terbatas. Tidak ada obrolan ringan dengan teman baru, tidak ada momen saling kenal yang biasanya menjadi bagian penting dari ospek. Saya bahkan belum benar-benar mengenal siapa saja yang satu jurusan dengan saya. Di sela-sela acara, saya sempat melihat wajah-wajah mahasiswa lain di layar. Banyak yang tampak serius, ada juga yang terlihat lelah. Mungkin perasaan kami tidak jauh berbeda. Sama-sama mencoba menyesuaikan diri dengan situasi yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya.



Menjelang akhir acara, ada sedikit penjelasan tentang harapan ke depan sebagai mahasiswa Fakultas Pertanian. Tentang peran, tanggung jawab, dan peluang yang bisa diraih. Tidak ketinggalan juga beberapa alumnus fakultas pertanian dihadirkan untuk memberikan kisah suksesnya bekerja di bidang pertanian yang sangat menjanjikan itu. Saya mendengarkan dengan cukup fokus dan serius, meskipun di dalam hati masih ada keraguan besar yang belum sepenuhnya hilang. Ketika acara selesai sekitar pukul satu siang, saya menutup laptop dengan perasaan yang lagi-lagi sulit dijelaskan. Tidak bisa dibilang kecewa, tapi juga belum bisa merasa puas. Semuanya terasa seperti belum lengkap.

Dan yaa usai sudah rangkaian aktivitas saya hari ini tentang pengenalan fakultas dan jurusan yang akan saya jalani. Tapi rasanya saya masih berdiri di luar, belum benar-benar masuk ke dalamnya. Kalau harus jujur, hari ini bukan sesuatu yang benar-benar saya nikmati sepenuhnya. Ada rasa bosan yang datang berulang kali, ada juga keinginan untuk sekadar menyudahi semuanya lebih cepat. Tapi di sisi lain, saya sadar bahwa ini memang bagian yang harus dilalui. Mungkin tidak semua awal terasa menyenangkan, dan mungkin tidak semua proses langsung memberikan kesan yang berarti. 

Untuk sekarang, saya hanya mencoba bertahan dan tetap mengikuti alurnya, meskipun tanpa rasa awal yang benar-benar kuat. Siapa tahu, dari langkah yang terlihat biasa ini, perlahan akan muncul sesuatu yang lebih nyata, sesuatu yang membuat saya merasa benar-benar berada di tempat yang seharusnya. Mungkin hanya butuh waktu. Mungkin juga butuh pengalaman yang lebih nyata. 


Yaa kita lihat saja nanti. Untuk sekarang, saya hanya bisa melanjutkan langkah ini, meskipun dimulai dari ruang yang sunyi, tanpa keramaian, tanpa kehangatan yang biasanya menyertai awal perjalanan besar bernama kuliah.
Read More

Rabu, 09 September 2020

Pengalaman PKKMB 2020 secara Online

Hari ini saya resmi menjadi mahasiswa.

Rasanya aneh juga menuliskan kalimat itu, karena yang saya lakukan sejak pagi bukanlah datang ke kampus, bukan berjalan melewati gerbang universitas, bukan juga duduk di aula bersama ratusan mahasiswa baru lainnya. Saya hanya duduk di depan laptop, mengenakan kemeja putih, celana hitam, dan sepatu yang sebenarnya tidak akan terlihat kamera.

Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru atau biasa disingkat PKKMB dimulai sekitar pukul tujuh pagi. Saya sudah bersiap lebih awal, memastikan koneksi internet aman, kuota tercukupi untuk dipakai berjam-jam, kamera dipastikan jelas bisa digunakan, dan ruangan cukup terang untuk on cam. Ya begitulah suasana ospek dalam jaringan alias via online yang diharuskan oleh pihak kampus setelah diberikan edaran bahwa ospek tahun ini di rumah aja, dengan menggunakan pendekatan teknologi seperti google meet, zoom meeting, dan live streaming YouTube. 



Walaupun masa orientasi ini online tapi tetap saja ada rasa tegang yang tidak bisa dijelaskan. Bukan karena takut dimarahi senior seperti cerita ospek pada umumnya, tapi lebih karena semuanya terasa asing dengan cara yang berbeda. Sejak awal acara dibuka, saya mulai menyadari bahwa ini bukan pengalaman yang saya bayangkan sebelumnya. Tidak ada suara riuh keramaian mahasiswa baru. Tidak ada getaran semangat yang merasuki jiwa. Tidak ada interaksi langsung antar mahasiswa. Semua berlangsung satu arah. Pemateri berbicara, peserta mendengarkan. Sesekali kolom chat bergerak cepat, tapi itu pun terasa jauh dari kata "berinteraksi", hanya sekadar formalitas percakapan yang dipandu kaka kelas senior. 

Setiap sesi diselingi dengan presensi. Kami diminta mengunggah foto diri sebagai bukti kehadiran. Saya beberapa kali harus memastikan posisi kamera benar, wajah terlihat jelas, dan pencahayaan cukup. Hal kecil seperti ini justru menjadi cukup melelahkan karena harus dilakukan berulang kali. Rasanya seperti diawasi, tapi dalam diam. Gak banyak gerakan yang bisa membangkitkan euforia menjajaki fase baru kehidupan kampus yang selama ini saya bayangkan atau saya lihat di media sosial. 

Enam jam di depan layar ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan. Mata mulai lelah, fokus perlahan menurun, dan rasa jenuh datang tanpa permisi. Saya mencoba tetap mengikuti materi, tentang pengenalan kampus, sistem perkuliahan, dan berbagai hal yang seharusnya menjadi pintu awal saya mengenal dunia baru ini. Tapi entah kenapa, ada jarak yang sulit dijelaskan. Seolah saya sedang melihat semuanya dari luar, bukan benar-benar menjadi bagian di dalamnya. Bagian dari institusi akademis baru yang berfokus pada pengembangan ilmu pengetahuan.

Saya sempat berpikir, mungkin ini memang konsekuensi dari keadaan yang tidak pernah diduga. Tahun ini sangat berbeda. Pandemi memaksa semuanya berubah, termasuk cara mahasiswa baru memulai langkah pertamanya. Tidak ada pilihan lain selain menyesuaikan diri. Di kondisi saat ini adaptasi bukanlah sebuah opsi, melainkan sebuah keharusan untuk bertahan hidup dan berkembang di tengah perubahan lingkungan, situasi dunia, dan tuntutan sosial. Karena jika tidak pasti akan tertinggal dan ditinggalkan. Okelah saya akhirnya hanya bisa pasrah menghadapinya. 

Menjelang siang sekitar jam satu, acara akhirnya selesai. Tidak ada tepuk tangan nyata yang terdengar dekat di telinga, tidak ada momen kebersamaan dialog perkenalan sesama mahasiswa baru yang terasa hangat, tidak ada ikatan langsung dengan kampus. Hanya ada layar yang perlahan ditutup, dan saya kembali ke kamar dengan suasana yang sama seperti sebelum acara dimulai.


Dan yaa usai sudah cerita saya hari ini yang baru saja selesai mengikuti PKKMB. Walaupun rasanya seperti belum benar-benar masuk ke dunia kampus. Mungkin memang seperti ini bentuk awal dari perjalanan saya sebagai mahasiswa di tahun yang tidak biasa. Tidak ada kesan meriah, tidak ada cerita yang bisa langsung dikenang dengan hangat selamanya hingga jadi core memory. Semuanya terasa pelan, canggung, dan asing. Tapi setidaknya, hari ini sudah menjadi tanda bahwa saya benar-benar memulai sesuatu. Entah nanti akan terasa lebih nyata atau tetap seperti ini, saya hanya berharap langkah yang dimulai dari balik layar ini tidak berhenti di tengah jalan, dan perlahan bisa membawa saya benar-benar masuk ke dunia yang sejak tadi pagi hanya bisa saya lihat dari kejauhan.

Mungkin ini baru awal, dan mungkin ke depannya akan terasa berbeda. Untuk sekarang, saya hanya bisa menerima bahwa langkah pertama saya sebagai mahasiswa dimulai dari balik layar yang dingin dan penuh keheningan. Saya harap ini bukan awal yang tidak baik untuk menapaki jalan baru di dunia perkuliahan.
Read More

Senin, 17 Agustus 2020

Agustusan dalam Keheningan

Halo, sobat blogger di mana pun kalian berada. 

Selamat siang dari sudut kamar yang mungkin sekarang jadi "kantor" atau "kelas" yang sekaligus jadi tempat kita merenung paling dalam selama beberapa bulan terakhir. 



Hari ini, 17 Agustus 2020. Hari Kemerdekaan. Tapi rasanya aneh, ya? Biasanya jam segini telinga kita sudah akrab dengan suara peluit lomba balap karung di ujung gang atau riuh rendah persiapan upacara. Namun tahun ini, perayaan ulang tahun ke-75 Republik Indonesia terasa jauh lebih sunyi. Tidak ada kerumunan, tidak ada panjat pinang yang bikin baju kotor, tidak ada lomba makan kerupuk, yang ada hanya hening dan mungkin layar televisi dan gawai yang menyiarkan upacara secara virtual alias upacara online. Fakta menarik aja nih ternyata karakter komik favorit saya Si Juki pernah memprediksi upacara online pada tahun 2012. Sebuah kebetulan yang kebetulan. 

© Si Juki via Twitter @jukihoki


Jujur saja, di tengah pandemi yang belum juga mereda ini, merayakan kemerdekaan terasa seperti sebuah tantangan tersendiri. Ada beban yang sedikit lebih berat di pundak masing-masing. Namun, di tengah kesunyian inilah, saya merasa kita dipaksa untuk benar-benar memaknai apa itu slogan yang jadi tema besar tahun ini yaitu "Indonesia Maju." Sebuah visi besar yang digaungkan oleh Pak Presiden 
Jokowi. 

Beberapa hari lalu, tepatnya Jumat, 14 Agustus, saya sempat menyimak pidato Bapak Presiden di Sidang Tahunan MPR. Ada satu poin yang terus terngiang di kepala saya yaitu beliau mengingatkan kita untuk tetap optimis menghadapi krisis ini. Beliau menyebut bahwa krisis ini harus kita jadikan momentum untuk membenahi diri dan membuat "lompatan besar" bersama-sama.

Terdengar sangat idealis? Mungkin bagi sebagian kita, iya. Apalagi kalau kita melihat realita di lapangan seperti ekonomi yang sulit, sekolah dan bekerja yang masih dari rumah, sampai rasa cemas yang belum hilang setiap kali harus keluar rumah. Tapi kalau saya coba tarik ke kehidupan sehari-hari sebagai warga biasa, pesan itu sebenarnya sangat masuk akal. Optimisme itu bukan berarti kita menutup mata dari masalah. Optimisme di tahun 2020 ini, menurut saya, adalah bentuk keberanian untuk tetap bergerak meskipun langkah kita terbatas. Seperti karakter dalam film-film pahlawan super yang sering saya tonton, mereka tidak menjadi kuat karena tidak punya rasa takut, tapi karena mereka memilih untuk tetap maju saat situasi sedang hancur-hancurnya.

Belakangan ini saya banyak merenung lewat bacaan-bacaan buku pengembangan diri dan filosofi. Sebuah kebiasaan baru yang jadi pelarian positif selama di rumah saja. Ada konsep menarik tentang memfokuskan energi pada hal-hal yang bisa kita kendalikan. Pandemi ini? Jelas di luar kendali kita. Kebijakan global? Bukan ranah kita.

Lalu, apa yang bisa kita kendalikan agar visi "Indonesia Maju" tetap berjalan?

Ya, diri kita sendiri. Langkah kecil kita.
Memilih untuk tetap disiplin memakai masker dan protokol kesehatan itu adalah kontribusi nyata. Memilih untuk tetap kreatif mencari peluang, belajar skill baru lewat internet, atau sekadar memberikan semangat kepada teman yang sedang terpuruk adalah cara kita menjaga mesin bangsa ini tetap berputar. Indonesia tidak akan maju hanya karena kebijakan di atas kertas, tapi karena manusianya yang memutuskan untuk tidak menyerah pada keadaan.

Saya jadi teringat bapak saya. Beliau orangnya cukup tegas dan kalau bicara soal disiplin, tidak ada tawar-menawar. Di masa sulit seperti ini, gaya komunikasinya yang lugas itu seolah jadi pengingat: "Jangan banyak mengeluh, lakukan apa yang bisa dilakukan." Dan memang benar, di saat-saat seperti ini, mentalitas seperti itulah yang kita butuhkan. Realistis, tapi tetap punya daya juang.



Menyambut 75 tahun kemerdekaan dalam kondisi prihatin seperti sekarang sebenarnya adalah ujian kedewasaan bagi kita sebagai sebuah bangsa. Kita sedang diajak untuk melakukan "lompatan besar" yang disebutkan Pak Presiden, bukan dalam bentuk fisik, tapi dalam bentuk pola pikir. Jadi kata "maju" di sini tuh punya makna yang luas, tidak hanya pembangunan infrastruktur fisik saja tapi juga pembangunan sumber daya manusianya sesuai fokus yang ingin dilakukan Pak Presiden di periode kedua ini. Maju itu bisa berarti kita yang lebih peduli pada kesehatan sesama. Maju itu artinya kita yang lebih melek teknologi demi bertahan hidup. Maju itu adalah saat kita bisa mengubah rasa takut menjadi kekuatan untuk berkarya. 

Untuk sobat yang mungkin hari ini merasa lelah, merasa "kok gini amat ya tujuhbelasan kali ini," itu wajar. Sangat manusiawi. Tapi jangan sampai lelah itu mematikan api optimisme kita. Kita punya sejarah panjang sebagai bangsa yang tangguh. Kalau kakek-nenek kita dulu bisa melewati masa penjajahan yang jauh lebih gelap, masa kita harus kalah oleh virus?

Jadi, meskipun tidak ada lomba tahun ini, mari kita rayakan hari kemerdekaan ini dengan cara yang lebih personal. Mungkin dengan berterima kasih pada ibu yang selalu jadi pahlawan di rumah, atau dengan mulai menulis lagi rencana-rencana yang sempat tertunda, atau apa pun itu, sesuatu yang positif yang bisa membangun diri ke arah yang lebih baik lagi. Terus semangat dan tetap optimis. Indonesia Maju bukan cuma slogan pemerintah, itu adalah cita-cita yang bahan bakarnya adalah semangat dan harapan kita semua, warga biasa yang tetap mau berjuang di tengah krisis.


Selamat HUT Ke-75 Republik Indonesia!


Dari saya, yang merayakan kemerdekaan di dalam rumah sambil percaya bahwa hari esok akan jauh lebih cerah. Merdeka!
Read More