Tampilkan postingan dengan label Coretan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Coretan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Desember 2020

Coretan Akhir Tahun 2020

Selamat siang sobat blogger! 

Gimana kabar kalian semua di akhir tahun yang berat ini? Saya harap kondisi kalian dalam keadaan aman dan sehat selalu ya. 

Huuft akhirnya sampai juga di penghujung akhir tahun 2020. Lama banget ya kalo dirasain bener-bener ini tahun, kebanyakan beraktivitas di rumah aja tanpa banyak keluar bikin dunia terasa sempit dan terkesan tidak banyak perubahan atau pencapaian yang diraih. Saya sebenarnya sudah menyempatkan diri untuk mencicil postingan tahunan ini dari seminggu yang lalu—dengan pikiran yang masih dipenuhi banyak hal yang belum benar-benar selesai, termasuk UAS yang bahkan masih berlangsung. Tapi baru sekarang postingan spesial rangkuman akhir tahun ini saya paksakan untuk selesai dan tetap merilisnya hari ini karena sangat sayang jika dilewatkan tanpa catatan arsip sejarah dunia pada umumnya dan saya pribadi khususnya. 

2020 adalah tahun yang entah harus saya definisikan seperti apa ya... Berat? banget. Melelahkan? udah pasti. Membingungkan? Jujur iya. Tahun yang penuh dengan kejadian tak terduga, penuh tantangan, dan mungkin bagi sebagian orang termasuk saya, menjadi tahun yang cukup menguras perasaan. Saya tergolong orang yang sangat lambat dalam hal menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi ekstrem seperti tahun ini yang membuat jiwa raga saya cukup syok berat menghadapi segala ujian yang ada. 

Tapi di sisi lain tahun ini juga penuh pelajaran yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Bisa dibilang tulisan ini bukan sesuatu yang terlalu berbobot sebenarnya, hanya rangkuman kejadian yang menurut saya penting, tapi setidaknya bisa menjadi pengingat kecil tentang apa saja yang telah saya lalui. Karena saya sadar, ingatan manusia itu terbatas. Dan mungkin, suatu hari nanti saya akan kembali membaca ini dan mencoba memahami kembali versi diri saya di tahun ini.

Karena tahun ini punya banyak momen yang menegangkan sekaligus mengharukan, maka dari itu saya mencoba mengumpulkan beberapa momen yang sangat melekat di ingatan saya dalam sebuah post rutin tahunan yang biasa saya sebut dengan "Coretan Akhir Tahun" edisi 2020. 
Oke. Yaudah langsung saja sob. Berikut beberapa momen yang cukup melekat dalam ingatan saya. 

► 2 Maret 2020
Tahun 2020 dimulai dengan sesuatu yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Baru berjalan dua bulan, sebuah virus yang awalnya terdengar jauh, perlahan menjadi sangat dekat. Pada awal Maret, pemerintah mengumumkan kasus pertama di Indonesia. Hari ini menjadi salah satu titik awal guncangan besar di Indonesia. Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus positif pertama infeksi COVID-19. Virus ini disebabkan oleh virus korona jenis baru yang diberi nama SARS-CoV-2. Wabah COVID-19 pertama kali dideteksi di Kota Wuhan, Hubei, Tiongkok pada Desember 2019. Awalnya saya tidak terlalu memahami seberapa besar dampaknya. Rasanya seperti berita biasa yang lewat begitu saja, seperti banyak berita lain yang sebelumnya saya dengar dari luar negeri. Tapi perlahan, semuanya mulai terasa berbeda. Ada kekhawatiran yang mulai muncul, meskipun saat itu saya belum benar-benar menyadari dampak sepenuhnya.


► 11 Maret 2020
Pada 11 Maret, Organisasi Kesehatan Dunia WHO akhirnya resmi menyatakan COVID-19 sebagai keadaan darurat kesehatan global atau biasa disebut pandemi. Saya termasuk orang yang cukup lambat dalam beradaptasi. Perubahan mendadak seperti ini tidak mudah untuk diterima begitu saja. Banyak kebiasaan yang harus diubah, banyak rencana yang harus ditunda, bahkan dibatalkan. Suasana mencekam mulai berubah lebih nyata. Informasi datang dari berbagai arah. Sejak saat itu, semuanya berubah. Aktivitas yang biasa dilakukan di luar rumah mulai dibatasi. Sekolah, kampus, bahkan pekerjaan, perlahan berpindah ke dalam ruang-ruang virtual. Saya mulai menyadari bahwa ini bukan situasi sementara. Ada sesuatu yang besar sedang terjadi, dan semua orang harus cepat beradaptasi, termasuk saya yang jujur saja cukup lama dalam menerima perubahan. Ada kekhawatiran yang muncul tapi seiring berjalannya waktu, saya mulai memahami bahwa tidak semua hal bisa berjalan sesuai dengan keinginan.


► 24 April 2020 
Bulan Ramadan pertama di tengah pandemi. Suasana yang biasanya ramai, kini terasa jauh lebih sepi. Tidak ada berburu takjil di sore hari, tidak ada tarawih di masjid atau musola, tidak ada kebiasaan berkumpul buka bersama keluarga besar seperti tahun-tahun sebelumnya. Saya menjalani semuanya dari rumah. Ada rasa aneh yang tidak bisa dijelaskan. Biasanya bulan Ramadan selalu identik dengan kebersamaan, masjid yang ramai, dan suasana kekeluargaan yang hangat. Tapi tahun ini terasa jauh lebih sepi. Saya menjalani ibadah dari rumah, tanpa suasana yang biasanya saya rasakan. Awalnya terasa ganjil, Seolah-olah ada bagian dari tradisi yang hilang, semuanya terasa lebih hampa. Tapi ya mau gimana lagi, saya hanya bisa menerima keadaan pahit ini, perlahan-lahan saya mencoba menyesuaikan diri.


► 24 Mei 2020
Begitu juga dengan Lebaran Idul Fitri di bulan Mei. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup, saya merasakan Lebaran tanpa salat ied di masjid tapi hanya di rumah saja. Tidak ada silaturahmi juga seperti biasanya. Semua terasa serba terbatas, hanya bisa dilakukan secara online melalui video call karena di daerah saya termasuk zona merah. Lebaran yang terasa sangat berbeda 360 derajat. Di hari yang sama, saya juga berulang tahun yang ke-20. Sebuah usia yang seharusnya menjadi momen spesial sekaligus langka karena bertepatan dengan lebaran, tapi justru saya lewati dengan sederhana dan perasaan yang lagi-lagi sulit dijelaskan. Tidak ada perayaan, tidak ada kejutan, tidak ada rasa untuk bisa menikmati hari sepenuhnya dengan kesenangan yang bisa jadi memori indah. Hari itu hanya hari yang berjalan seperti biasa, namun dengan perasaan yang lebih sedih dari biasanya. Hari yang cukup berat untuk saya lalui pribadi. 


► 3 Juni 2020
Di tengah semua itu, saya tetap menjalani proses yang sudah dimulai sejak lama yaitu proses seleksi masuk kuliah. UTBK menjadi salah satu hal yang cukup menguras pikiran saya juga. Bahkan sebelum ujian dimulai, aturan sudah berubah dan membuat saya harus merelakan pilihan jurusan yang sebelumnya saya inginkan. Saya tidak tahu harus merasa kecewa atau pasrah. Mungkin keduanya. Saya mendaftar UTBK dengan perasaan yang campur aduk hingga saya tumpahkan dalam bentuk tulisan di sini. Perubahan aturan membuat saya tidak bisa memilih jurusan yang benar-benar saya inginkan. Di titik ini, saya mulai belajar tentang menerima. Tidak semua hal bisa berjalan sesuai rencana. Dan jujur saja, ini tidak mudah.


► 5 Juli 2020
Tanggal 5 Juli menjadi salah satu hari yang cukup saya ingat. Hari di mana saya akhirnya mengikuti UTBK untuk terakhir kalinya sebagai warga negara Indonesia. Ini adalah salah satu momen paling pasrah yang saya rasakan sepanjang tahun ini. Saya datang tanpa ekspektasi. Tidak ada ambisi besar, tidak ada target tinggi. Hanya ingin menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Dan mungkin, di situlah letak kepasrahannya. Ketika saya tidak lagi memaksakan hasil. Hanya datang, kerjakan, dan lupakan. Tentunya dengen prosedur dan protokol kesehatan yang sangat ketat. Saya tulis juga perjalanan UTBK terakhir ini di sini. 


► 14 Agustus 2020
Di tahun yang penuh kedukaan dan kabar buruk ini, ada satu keajaiban yang terjadi di perjalanan hidup saya tahun ini yaitu akhirnya saya lolos UTBK SBMPTN hingga saya kesulitan untuk mengungkapkannya dengan kata-kata. Dengan level kepasrahan yang sudah mencapai titik tertingginya, eh ternyata di luar dugaan, saya dinyatakan lolos. Pilihan pertama. Rasanya sulit dijelaskan. Antara senang, tidak percaya, dan sedikit bingung karena bukan jurusan yang benar-benar saya inginkan sejak awal. Tapi tetap saja, ini adalah pencapaian yang tidak bisa saya anggap kecil. Ada rasa haru yang muncul begitu saja melihat orang tuaku senang melihat anaknya lolos. Momen yang masuk ke inti memori ini saya abadikan juga dalam bentuk tulisan di sini. 


► 5 September 2020
Hari yang mungkin terlihat sepele bagi sebagian orang, tapi cukup berarti bagi saya. Layanan streaming Disney Plus resmi hadir di Indonesia. Di tengah pembatasan aktivitas sosial di masa pandemi, hal ini seperti menjadi salah satu penerang hidup untuk bisa jadi tempat pelarian sejenak menghibur diri dengan tayangan yang beragam. Saya bisa menikmati banyak film dan serial dari rumah. Di tahun yang penuh tekanan ini, hal-hal kecil seperti ini terasa cukup membantu. Saya sangat senang dan berbahagia menyambut perilisan aplikasi ini, dengan lebih banyak waktu di rumah, saya jadi lebih sering menonton film dan serial. Ini menjadi salah satu cara saya mengisi waktu sekaligus menghibur diri di tengah situasi yang tidak pasti. jadi tidak ada lagi jarak yang terasa soal hiburan yang asyik ini dengan orang barat. Begitu ada konten baru di sini juga ikut update dan sama-sama merasakan kehebohan yang sama. Luar biasa. 

► 9 & 10 September 2020
Memasuki bulan september, kehidupan baru dimulai. Saya melaksanakan Ospek universitas dan fakultas tapi dilakukan secara online. Ospek yang biasanya identik dengan interaksi langsung, kini hanya bisa dilakukan melalui layar. Saya mengikuti rangkaian kegiatan itu dengan perasaan yang jujur saja, kurang menikmati. Tidak ada interaksi langsung, tidak ada suasana panik, gerah, atau capek yang benar-benar terasa. Saya mengikuti semuanya dari layar, duduk berjam-jam, dan mencoba tetap fokus. Ada sedikit rasa kecewa, karena pengalaman yang seharusnya berkesan, malah terasa cukup hambar. Sabar banget. 


► 26-27 September 2020
Hal yang sama juga terjadi saat ospek jurusan dan berbagai kegiatan lainnya. Semua berjalan online dan terasa jauh. Ada jarak yang tidak bisa dijelaskan. Mungkin ini adalah konsekuensi dari keadaan. Polanya hampir sama. Duduk, menatap layar, mendengarkan materi yang tidak nampak nyata dan terkadang sulit untuk benar-benar dicerna. Ada kelelahan yang berbeda. Bukan fisik, tapi lebih ke arah mental. Seolah-olah saya hadir, tapi tidak benar-benar berada di sana. Dua hari ini terasa cukup panjang. Informasi yang diberikan banyak, tapi sulit untuk benar-benar terserap. Saya mulai merasakan bagaimana rasanya menjalani aktivitas sepenuhnya secara online. Sangat menyiksa badan dan pikiran untuk orang yang sudah lama tidak punya jadwal tetap sekaligus tidak berinteraksi dengan sesama manusia lainnya. 



► 26 Oktober - 6 November 2020
Memasuki kuartal keempat tahun ini, alur kehidupan mulai berubah. Saya makin sibuk dengan tugas-tugas kuliah yang mulai berdatangan tanpa henti. Lalu tibalah UTS pertama saya sebagai mahasiswa. Ini menjadi pengalaman yang cukup mengejutkan. Sistem yang berbeda, tekanan yang terasa lebih nyata walau hanya online. Saya sempat merasa tidak siap. Cara belajar harus diubah, cara berpikir juga harus menyesuaikan. Ada momen di mana saya merasa tertinggal, tapi saya mencoba untuk tetap mengikuti ritme yang ada. Saya cukup syok dengan beragam aturan yang sangat berbeda ketika ujian waktu sekolah dulu. 


► 18 Desember 2020
Di sela-sela semua itu, saya banyak menghabiskan waktu luang dengan menonton film dan serial. Mungkin ini adalah cara saya untuk tetap waras. Salah satu yang cukup membekas adalah penutup musim kedua The Mandalorian di bulan Desember ini. Sebuah tontonan yang memanjakan penggemar setia dan mampu memberikan rasa senang yang tak terkira. Episode final mandalorian sangatlah apik. Banyak kejutan yang dihadirkan dan membuat saya merasa euforia yang tak terbendung sebagai fans Star Wars. Ada kebahagiaan sederhana yang muncul, sesuatu yang membuat saya sejenak lupa dengan dunia nyata.


► 21 Desember 2020 - 1 Januari 
Sekarang, saya sedang berada di penghujung UAS pertama saya sebagai mahasiswa baru. Masih ada satu ujian lagi sebenarnya. Tapi saya tetap meluangkan waktu untuk menuntaskan tulisan ini malam ini. Mungkin karena saya tidak ingin melewatkan tahun ini begitu saja. Saya ingin menutup tahun ini seperti biasa saya lalui yaitu mengikatnya dalam bentuk tulisan, dari yang penting sampai yang receh, pokoknya apa pun yang menurut saya cukup membekas. Untuk UAS pertama ini saya sudah mulai terbiasa dengan sistem dan tekanan yang dihadapi. Tapi untuk cara belajar masih belum menemukan cara yang ideal karena banyak teori yang cukup sulit dibayangkan tapi harus bisa dikuasai dengan baik. Saya masih terus beradaptasi dan berusaha memahami segala pelajaran yang ada. Doakan ya sob semoga saya kuat. 


Yak mungkin itu saja yang bisa saya ceritakan tentang apa saja daftar momen yang paling berdampak pada hidup saya tahun ini. Mohon maaf jika kepanjangan karena memang cukup banyak yang terjadi di tahun 2020. 

Jika dipikirkan kembali, tahun ini ada beberapa rencana yang tidak berjalan seperti yang saya bayangkan. Banyak liku-likunya. Lebih banyak hal yang tidak berjalan sesuai resolusi. Lebih banyak waktu yang dihabiskan di rumah. Lebih banyak perasaan yang datang tanpa bisa dijelaskan dengan jelas. Lebih banyak ketidakpastian, lebih banyak rasa khawatir, dan mungkin juga lebih banyak waktu yang dihabiskan untuk berpikir terlalu jauh. Saya merasa tahun ini lagi-lagi lebih banyak dirasakan oleh emosi daripada dijalani dengan tindakan. Ada banyak perasaan yang datang silih berganti. Takut, ragu, kecewa, tapi juga sesekali ada rasa syukur yang muncul diam-diam. Saya tidak benar-benar mengerti apa yang terjadi di dalam diri saya selama satu tahun ini. Tapi satu hal yang pasti, saya merasakan perubahan. Entah menjadi lebih baik atau tidak, saya juga belum tahu.

2020 yang seharusnya menjadi tahun terbaik malah berkata sebaliknya. Banyak kesulitan yang terjadi. Tapi saya yakin, tahun ini akan selalu saya ingat sebagai salah satu fase penting dalam hidup saya. Fase di mana saya mulai benar-benar merasakan apa artinya menjadi manusia, dengan segala keraguan, ketakutan, dan harapan yang bercampur menjadi satu. Tahun di mana saya belajar menerima hal-hal yang tidak bisa saya kendalikan. Dan tahun di mana saya mulai memahami bahwa menjadi manusia itu tidak selalu tentang pencapaian, tapi juga tentang bertahan hidup. 

Saya tidak punya harapan yang muluk-muluk untuk tahun depan. Saya hanya berharap keadaan dunia bisa perlahan membaik. Semoga apa yang terasa berat di tahun ini, tidak perlu terulang dengan cara yang sama di tahun berikutnya. Semoga saya bisa cepat beradaptasi mengikuti arus kuliah dan bisa menjalaninya dengan lebih tenang. Akhir kata, terima kasih untuk diri saya sendiri yang masih bisa bertahan sampai sejauh ini. Terima kasih juga untuk para pengunjung yang telah membacanya hingga tuntas. Kalian luar biasa. Kurang lebihnya mohon dimaafkan ya. 





Oh iya satu lagi, jangan lupa, tetap jaga kesehatan serta patuhi protokol kesehatan 3M (Memakai masker; mencuci tangan; menjaga jarak) ya! Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiin... 



Selamat akhir tahun 2020 sob! 
Read More

Kamis, 24 Desember 2020

SEVENTH ANNIVERSARY

Selamat malam sobat blogger!

Saya tidak menyangka kita semua masih diberikan kesehatan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Ucapan syukur tak henti-hentinya saya panjatkan kepada Allah SWT, karena dengan kuasa-Nya saya bisa bertahan menghadapi berbagai tantangan besar tahun ini, beriringan dengan virus corona yang belum tahu kapan akan berakhir.

Selain itu, saya juga bersyukur masih bisa merasakan hari jadi blog ini yang ketujuh. Tepat hari ini, 24 Desember. Tak terasa, saya bisa sejauh ini melangkah bersama catatan daring yang sangat saya sayangi. Hehe, mungkin terdengar lebay. Tapi memang seperti itu adanya. Blog ini telah menjadi saksi bisu dari perjalanan hidup saya, terutama di masa-masa krusial peralihan usia menuju kepala dua. Kalau ada sesuatu yang ingin saya keluarkan dari pikiran, biasanya saya langsung membuka blog dan melampiaskannya. Ini merupakan kegiatan yang mengasah diri saya agar bisa terus termotivasi, sekaligus membuat pikiran menjadi lebih tenang.



Hampir setiap hari, saya memiliki banyak ide untuk ditulis. Mungkin karena saya memang suka memikirkan banyak hal. Apa pun bisa saya pikirkan, sampai kadang kepala terasa penuh sendiri. Dari hal yang sepele seperti kenapa kedutan bisa muncul sampai hal-hal yang agak di luar kebiasaan seperti apakah alam semesta punya ujung? 

Makanya daripada terlalu sumpek di kepala, saya biasanya tulis pemikiran-pemikiran saya di aplikasi buku catatan terlebih dahulu untuk ditampung. Kalau dirasa menarik untuk digali lebih dalam, baru saya pindahkan ke daftar prioritas untuk diposting di blog. Setelah itu, saya kembangkan sedikit demi sedikit sampai menjadi tulisan yang layak dibaca dan disebarkan di blog saya.

Tapi tentu saja tidak semua pemikiran saya harus dipublikasikan. Terkadang ada juga beberapa tulisan yang sebaiknya tetap disimpan sebagai catatan luring. Mungkin karena terlalu sensitif, atau memang belum saatnya dibagikan. Jadi, bisa dibilang semua tulisan yang sudah saya posting di sini sebenarnya sudah melalui proses pertimbangan yang cukup panjang dan sangat ketat untuk bisa lolos publikasi hingga bisa dinikmati oleh kalian semua pembaca setia blog saya. Walaupun, yaa... kadang tetap saja terasa seperti tidak ada yang membaca karena minimnya interaksi. Hehe.. 

Susah dan senang sudah saya lalui bersama blog ini. Apa yang seharusnya saya tulis, saya usahakan untuk ditulis dengan sebaik mungkin, setidaknya agar bisa menenangkan hati dan pikiran saya sendiri. Ini semacam ‘me time’ sederhana yang cukup berarti. Sudah sekitar tujuh tahun saya melakukan kebiasaan ini. Dan saya sadar, saya masih terus berproses. Harapannya, saya bisa tetap menulis secara rutin, bahkan kalau bisa sampai akhir hayat menjelang. Kalau pun ternyata suatu saat tidak bisa atau terhenti lagi, paling tidak dalam beberapa tahun terakhir saya punya rekam jejak catatan yang bisa dilihat kembali. Siapa tahu, itu bisa menjadi inspirasi untuk memulai lagi.

Sebagai orang yang cukup takut menjadi pelupa di masa tua, saya merasa sangat terbantu dengan adanya catatan-catatan ini. Setidaknya, ada sesuatu yang bisa mengingatkan saya tentang apa saja yang pernah saya rasakan di masa lalu. Menulis catatan harian berarti menyimpan jejak dari hari ke hari. Ada sesuatu yang bisa dinantikan setiap kali hari berakhir. Paling tidak, itu yang saya rasakan selama beberapa tahun terakhir.

Yak, mungkin itu saja yang bisa saya ceritakan di penanda hari jadi blog kali ini. Tidak terasa, tujuh tahun sudah berlalu. Banyak hal yang berubah, tapi kebiasaan positif ini masih tetap saya pertahankan semampunya. Menulis, menyimpan, lalu sesekali kembali membaca hanya sebagai pengingat bahwa saya pernah ada di titik-titik itu. Sebuah rasa antusiasme yang tidak pernah hilang sampai kapanpun. Karena selama saya masih menulis maka saya akan selalu ada. 

Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca sampai akhir. Dan semoga kita semua masih diberi kesempatan untuk terus melangkah, sejauh apa pun itu.

Jangan lupa tetap jaga kesehatan. Jangan remehkan 3M, dan tetap semangat! 
Read More

Minggu, 11 Oktober 2020

Aku Berpikir, Aku Menulis

Halo, selamat malam sobat blogger di mana pun kalian berada. 

Sudah satu bulan terakhir ini saya memutuskan untuk kembali aktif di media sosial, khususnya Instagram. Keputusan ini sebenarnya cukup kontradiktif dengan prinsip yang saya pegang selama dua tahun terakhir. Setelah lulus sekolah, saya sempat menghapus akun utama secara permanen demi menjaga ketenangan jiwa dan raga. Saat itu saya merasa terlalu banyak hal yang tidak perlu masuk ke kepala. Terlalu ramai, terlalu cepat, dan pada akhirnya membuat pikiran tidak tenang. Namun, realita sebagai mahasiswa baru menuntut hal yang berbeda. Keperluan kuliah, kewajiban mengikuti akun kampus, hingga mengunggah atribut orientasi mahasiswa dalam bentuk twibbon dan bikin story, memaksa saya untuk kembali menciptakan jejak digital.

Dalam kepulangan saya ke jagat maya penuh visual ini, saya memilih untuk membangun persona yang sedikit berbeda. Saya kini mengutamakan nama depan sebagai nama panggilan, meninggalkan nama belakang yang selama dua puluh tahun ini begitu melekat. Sebuah transisi kecil, tapi terasa sangat mendasar bagi saya dalam memulai kebiasaan baru. Bahkan, deskripsi bio di profil saya pun ikut berubah. Jika dulu saya menggunakan kutipan tentang ketenangan kura-kura dan merpati, kini saya menuliskan kalimat pendek yang cukup ambisius: "Pemikir kelas berat".


Transformasi ini bukan sekadar gaya-gayaan. Saya berharap identitas baru ini menjadi pengingat agar saya selalu berpikir sebelum bertindak. Sejak dulu, saya memang merasa lebih nyaman saat memikirkan sesuatu secara mendalam. Kekuatan kreasi dan aksi saya selalu berakar pada daya pikir untuk menciptakan sesuatu yang saya senangi sekaligus mudah untuk dipahami.

Suatu malam, saat sedang menjelajahi beranda Instagram, saya menemukan sebuah unggahan dari penerbit buku indie yang cukup menyentak. Isinya adalah kutipan dari filsuf prancis, René Descartes: 

"Aku berpikir, maka aku ada." 

atau dalam bahasa latinnya, 
Cogito Ergo Sum. 

Awalnya kalimat itu terlihat sederhana. Bahkan mungkin terlalu sederhana. Tapi entah kenapa, saya berhenti cukup lama di situ. Seolah ada sesuatu yang ingin saya pahami lebih jauh. Saya mulai mencari tahu lebih lanjut dan membaca penjelasannya. Intinya maksud René Descartes dalam kutipan ini adalah berawal dari kebisaan dia meragukan segalanya. Dia bilang indra manusia bisa menipu. Pengalaman bisa juga salah. Apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan belum tentu benar. Bahkan realitas yang selama ini kita yakini bisa saja tidak seperti yang kita kira. Sampai pada satu titik, semua itu seakan runtuh. Tapi di tengah keraguan itu, ada satu hal yang tidak bisa digoyahkan. Ketika kita meragukan sesuatu, berarti kita sedang berpikir. Dan jika kita berpikir, berarti kita ada.

Wah gokil sih ini pemikirannya. Saya mencoba merenungkan itu lebih dalam.
Jika semua bisa diragukan, lalu apa yang sebenarnya bisa saya pegang? Ternyata bukan dunia di luar sana. Bukan juga orang lain. Tapi diri saya sendiri, tepatnya kesadaran bahwa saya sedang berpikir. Sesederhana itu, tapi sekaligus terasa sangat mendasar dan memperbarui pola pikir saya selama ini. 

René Descartes menggunakan kalimat ini untuk meyakinkan dirinya sendiri tentang hakikat keberadaan. Ia berargumen bahwa seseorang tidak mungkin meragukan keberadaan pikirannya sendiri karena dalam tindakan meragukan itu pun, seseorang sebenarnya sedang berpikir.


Refleksi Descartes ini terasa sangat relevan saat ini, khususnya untuk saya pribadi. Sering kali, persepsi saya terhadap dunia di sekitar saya terasa mengecewakan atau bahkan menipu. Saya menganggap pengalaman hidup saya yang naik turun ini sebagai sesuatu yang otentik, tapi ketika realita berkata lain, rasanya seperti disiram air es ke wajah saya. Saya baru menyadari bahwa indra manusia bisa menyesatkan tanpa disadari. Jika indra bisa menipu sekali saja, maka menurut standar ketat Descartes, indra tersebut tidak bisa diandalkan sepenuhnya.

Lalu, apa yang tersisa? Satu-satunya landasan yang kokoh adalah fakta bahwa saya sedang berpikir. Betapa pun kelirunya penilaian saya terhadap realitas, atau betapa pun kacaunya nalar saya bekerja, saya tidak akan pernah salah mengenai fakta bahwa saya sedang ada untuk melakukan kesalahan tersebut. Saya ada, karena saya berpikir.

Dari situ, saya mulai melihat diri saya sendiri dengan cara yang sedikit berbeda. Selama ini saya memang lebih sering berada di dalam kepala saya sendiri. Memikirkan banyak hal, bahkan hal-hal kecil yang mungkin tidak terlalu penting bagi orang lain. Saya suka menganalisis, membayangkan, dan mempertanyakan. Kadang terlalu jauh, sampai akhirnya malah membuat diri sendiri lelah.

Tapi setelah memahami kutipan itu, saya mulai menyadari bahwa berpikir bukan sekadar kebiasaan. Itu adalah bagian dari keberadaan saya sendiri. Dan mungkin, di situlah letak arah saya. Saya juga mulai melihat pola dalam cara saya bekerja dan belajar. Saya cukup nyaman dengan sesuatu yang terstruktur. Saya cenderung membuat daftar, menyusun rencana, dan mengikuti alur yang jelas. Ada kebutuhan untuk menjaga semuanya tetap rapi dan terkendali. Mungkin ini bagian dari sisi konvensional dalam diri saya.

Di sisi lain, saya juga menyukai proses mencari tahu. Ketika ada sesuatu yang membuat penasaran, saya lebih memilih untuk memikirkannya sendiri, mencoba memahami, daripada langsung bertanya atau mengikuti orang lain. Saya menikmati proses menganalisis, mengurai, dan menyusun ulang pemahaman. Ada rasa puas ketika akhirnya menemukan jawaban, meskipun tidak selalu benar.

Lalu ada juga sisi lain yang tidak bisa saya abaikan. Saya suka menulis. Saya suka menuangkan isi kepala ke dalam kata-kata. Bukan karena ingin dibaca banyak orang, tapi lebih karena saya ingin memahami apa yang sebenarnya saya pikirkan dan rasakan. Menulis seperti menjadi jembatan antara pikiran dan sesuatu yang bisa saya lihat.
Semua itu, jika dipikirkan lagi, seperti mengarah ke satu hal yang sama. Saya lebih sering berhadapan dengan diri sendiri. Saya mencoba memahami diri saya, mengenali emosi, melihat kelebihan dan kekurangan, dan mempertanyakan banyak hal yang terjadi di dalam. Tidak selalu mudah, kadang justru membingungkan. Tapi di situ juga saya merasa lebih jujur.


Sebagai mahasiswa yang baru memulai perjalanan akademik, pemahaman ini memberikan perspektif baru. Gairah untuk menggali potensi dan nalar ternyata tidak semudah bertemu dengan orang-orang yang satu pemahaman. Masih banyak hal yang terasa asing. Lingkungan baru, tuntutan baru, dan cara hidup yang mulai berubah. Tapi setidaknya, dari satu kutipan sederhana itu, saya mendapatkan satu pijakan baru.

Bahwa berpikir bukan sesuatu yang harus dihindari, tapi juga tidak boleh berlebihan sampai melumpuhkan diri sendiri. Saya tetap harus belajar menyeimbangkan. Antara berpikir dan bertindak. Antara memahami dan menjalani. Keberagaman pemikiran di dunia kuliah justru menjadi ajang latihan yang sesungguhnya. Berbicara atau menulis bukan hanya untuk orang lain, melainkan sebuah bentuk refleksi diri untuk menjaga idealisme agar tetap berpijak pada realitas.

Dari satu kutipan sederhana itu, saya seperti diberi ruang untuk berhenti sejenak dan benar-benar menyadari apa yang selama ini saya lakukan tanpa sadar. Bahwa kebiasaan berpikir, menganalisis, dan menulis bukan sekadar pengisi waktu luang, tapi bagian dari cara saya memahami keberadaan saya sendiri. Mungkin ke depan, saya akan tetap sering dipenuhi pertanyaan. Mungkin juga akan ada saat-saat di mana pikiran terasa terlalu ramai dan melelahkan. Tapi sekarang saya sedikit lebih mengerti bahwa itu bukan sesuatu yang harus selalu dilawan. Selama saya masih bisa mengelolanya, di situlah saya justru sedang mengenali diri saya lebih jauh. 

Menulis akan tetap menjadi tempat saya kembali. Tempat di mana pikiran yang semrawut bisa perlahan dirapikan. Tempat di mana saya bisa jujur tanpa harus menjelaskan semuanya kepada orang lain. Dan dari sana, pelan-pelan saya belajar satu hal. Bahwa memahami diri sendiri tidak harus selalu tentang menemukan jawaban, tapi tentang berani tetap kritis di dalam proses berpikir itu sendiri.
Read More

Senin, 28 September 2020

AGRARIS dan Identitas Diri

Halo. Selamat malam sobat! Saya kali ini mau berbagi cerita dan kesan yang tertinggal tentang kegiatan yang baru saja saya laksanakan. Dua hari terakhir, tepatnya pada tanggal 26 dan 27 September kemarin, saya baru saja menyelesaikan sebuah rangkaian acara ospek jurusan bertajuk AGRARIS. Singkatannya cukup megah yaitu Ajang Keakraban Mahasiswa Agribisnis. Sebuah nama acara yang seharusnya menyiratkan kedekatan fisik, lelah di bawah matahari, atau setidaknya jabat tangan yang erat dengan sesama mahasiswa baru. Namun, realitanya jauh dari itu.

Semuanya terjadi di dalam jaringan. Daring. Online. Depan laptop atau hp. Dari layar ke layar lagi. Di dalam rumah. Di dalam kamar. Sunyi dan tenang. 


Sejujurnya, saya tidak tahu harus berekspektasi seperti apa lagi. Kata "keakraban" terdengar hangat, seolah ada interaksi yang lebih dekat, lebih manusiawi. Tapi ketika semuanya dilakukan secara online, rasanya kata itu seperti kehilangan bentuknya. Saya tetap hadir, duduk di depan layar, menatap ratusan wajah yang sebagian besar bahkan belum tentu saya ingat setelah acara selesai. 

Materi demi materi disampaikan. Tentang agribisnis, tentang potensi pertanian, tentang peran mahasiswa dalam sektor pangan, dan berbagai hal lain yang sebenarnya penting. Saya tahu itu penting. Saya paham bahwa jurusan ini punya peran besar dalam kehidupan banyak orang. Tapi di sisi lain, ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Seperti saya sedang belajar tentang bisnis di bidang pertanian, tentang sesuatu yang seharusnya menjadi dasar kehidupan, tapi justru merasa belum benar-benar berpijak di mana pun.
Ya saya maklum sih, saat ini kita semau sedang berada di masa di mana orientasi mahasiswa harus dilakukan dari meja belajar masing-masing, di dalam kamar yang terkadang terasa sangat sempit untuk menampung ambisi yang sangat besar. AGRARIS tahun ini menjadi saksi betapa anehnya membangun keakraban lewat kotak-kotak kecil di Zoom. Saya melihat wajah-wajah baru, mendengar suara-suara yang terkadang putus karena koneksi yang tidak stabil, dan mengikuti rangkaian instruksi dari mentor kakak tingkat yang berusaha keras menjaga wibawa meski hanya terlihat dari dada ke atasnya. 

Di hari pertama, saya masih mencoba mengikuti dengan serius. Mencatat beberapa hal, memperhatikan penjelasan, mencoba memahami arah yang ingin ditunjukkan. Tapi semakin lama, fokus itu mulai goyah. Bukan karena materinya tidak menarik, tapi karena suasananya tidak mendukung. Duduk berjam-jam di depan layar membuat segalanya terasa lebih berat dari yang seharusnya. Saya tidak benar-benar merasakan suasana menjadi mahasiswa baru. Tidak ada hiruk pikuk kampus, tidak ada obrolan santai di sela kegiatan, tidak ada tatapan langsung yang bisa memberi kesan pertama. 

Hari kedua tidak jauh berbeda. Ada beberapa sesi yang mencoba lebih interaktif dengan menghadirkan alumnus yang sudah sukses dan berhasil membangun bisnis pertaniannya sendiri. Tapi tetap saja semua terasa seperti formalitas. Saya melihat nama-nama asing di layar, mendengar suara-suara yang kadang terputus, dan sesekali menatap diri sendiri di monitor yang entah kenapa terasa asing. Ini aneh. Saya bagian dari acara ini, tapi rasanya seperti tidak benar-benar hadir. Semua terasa datar. Bahkan ketika panitia mencoba mencairkan suasana, tetap saja ada jarak yang tidak bisa ditembus.

Ilustrasi

​Sejujurnya, ada rasa super canggung yang tidak bisa saya ucapkan secara langsung. Kita diminta untuk saling mengenal, tapi pembatasnya adalah layar. Kita diminta untuk mencintai jurusan ini, sementara saya sendiri masih merasa seperti orang asing di rumah sendiri. Agribisnis. Nama itu masih terasa berat sekali di lidah saya. Ada masanya saya merasa bahwa ini hanyalah tempat persinggahan sementara, sebuah rencana cadangan yang terpaksa menjadi rencana utama karena jalan lain sudah tertutup rapat.
Selama dua hari orientasi jurusan ini, saya banyak merenung. Saya merasa identitas saya saat ini masih mengambang. Di satu sisi, saya adalah mahasiswa Agribisnis yang harus mulai peduli pada rantai pasok, manajemen pertanian, dan isu-isu pangan. Di sisi lain, pikiran saya sering kali melayang ke tempat lain, ke mimpi-mimpi yang mungkin sudah harus saya lipat rapi dan simpan di laci pikiran yang terdalam. Ada semacam pergulatan batin ketika saya harus meneriakkan yel-yel atau mengikuti penugasan yang diberikan. Apakah saya benar-benar di sini karena saya mau, atau hanya karena saya hanya mengikuti arus? Entahlah... 

Ilustrasi

Namun, setelah menjalani acara dua hari ini, AGRARIS memberikan sedikit celah cahaya. Meski dilakukan secara online, saya mulai melihat bahwa saya tidak sendirian dalam ketidakpastian ini. Ada ratusan orang lain di balik layar mereka yang mungkin merasakan kegelisahan yang sama. Saat sesi berbagi cerita atau sekadar candaan di kolom komentar chat, ada rasa terhibur sedikit yang muncul secara perlahan. Mungkin ini yang mereka sebut sebagai awal dari sebuah identitas baru.
Saya sedang mencoba. Saya sedang berusaha untuk mencintai apa yang sudah saya dapatkan hari ini. Bukankah hidup memang sering kali tentang bagaimana kita mengelola kekecewaan menjadi sesuatu yang produktif? Mempelajari Agribisnis mungkin bukan cinta pandangan pertama bagi saya, tapi barangkali ia adalah jenis cinta yang tumbuh karena terbiasa. Saya mulai membaca sedikit demi sedikit tentang prospeknya, tentang bagaimana sektor ini bisa tetap bertahan di tengah pandemi yang melumpuhkan banyak aspek kehidupan lainnya. Inti dari agribisnis sebenernya belajar tentang pengolahan sistem dari hulu ke hilir, ada juga tentang produksi dan distribusi, serta tentang tanah dan segala sayuran yang tumbuh di atasnya. 

Namun untuk saat ini saya sendiri merasa seperti belum punya pijakan yang jelas. Seolah sedang berdiri di atas sesuatu yang tidak benar-benar solid. Mungkin "mengambang" adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan posisi saya sekarang. Saya tidak lagi berada di daratan lama saya yang penuh ambisi mimpi masa lalu, tapi saya juga belum benar-benar menginjakkan kaki di tanah agraris yang sesungguhnya. Saya masih berada di tengah laut, di atas sekoci yang bernama adaptasi.
Mungkin ini bukan tentang jurusannya. Mungkin ini tentang kondisi. Tentang masa yang memang tidak memberi ruang untuk merasakan segalanya dengan utuh. Saya hanya menjalani apa yang ada di depan mata, tanpa benar-benar tahu harus merasakan apa. Masa orientasi jurusan ini seharusnya menjadi ajang yang mengakrabkan saya dan jurusan. Tapi bagi saya, ini lebih terasa seperti ajang perkenalan yang belum benar-benar selesai. Dengan jurusan, dengan lingkungan, bahkan dengan diri sendiri sebagai manusia yang menyandang status sebagai mahasiswa.
Mungkin keakraban itu memang tidak bisa dipaksakan dalam dua hari, apalagi hanya lewat layar. Mungkin butuh waktu yang lebih panjang, dan cara yang lebih nyata. Untuk saat ini, saya hanya bisa mengikuti alurnya saja. Menyelesaikan setiap tahap, satu per satu.

Ilustrasi


Begitu acara AGRARIS kemarin sudah usai. Secara administratif, saya sudah dianggap akrab dengan lingkungan ini. Namun secara personal, perjalanan saya baru saja dimulai. Besok dan hari-hari setelahnya, saya harus kembali berhadapan dengan kuliah-kuliah daring yang menuntut fokus ekstra. Saya hanya berharap, identitas yang masih mengambang ini perlahan-lahan akan menemukan tempat untuk berlabuh. Saya ingin belajar untuk berhenti menoleh ke belakang dan mulai melihat apa yang ada di depan mata, sekecil apa pun itu.
Untuk sekarang, biarlah saya beristirahat sejenak dari layar ini. Menutup laptop, mematikan koneksi internet, dan mencoba berdialog dengan diri sendiri lagi tanpa gangguan notifikasi. Ternyata, menjadi mahasiswa di tengah pandemi bukan hanya soal belajar materi kuliah, tapi juga belajar cara untuk tetap waras dan menerima kenyataan yang tidak pernah sesuai dengan ekspektasi.

Akhir kata saya ingin mengucapkan, Selamat datang di Agribisnis, untuk diri saya sendiri. Mari kita lihat, sejauh mana tanah ini bisa membuat saya tumbuh lebih baik. 
Read More

Jumat, 14 Agustus 2020

Momen Itu Akhirnya Tiba

Kurang lebih tiga tahun yang lalu tepatnya di awal kelas 12 aku mempunyai harapan besar untuk dapat melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi yaitu kuliah di PTN setelah menyelesaikan masa putih abu-abu. Setiap hari aku berdoa semoga aku bisa lolos seleksi kuliah lewat jalur SBMPTN. Dalam diam, dalam sujud, dalam pikiran yang sering kali melayang ke masa depan yang belum tentu. Aku panjatkan semua doa ke langit berharap akan didengar Yang Maha Kuasa. Aku menuliskan cita-cita dan impian di setiap media yang dapat ditulis, seperti di kertas hvs, di kertas buram, di kertas folio, di kertas soal, di buku tulis, di buku paket, di buku catatan, bahkan di buku besar. Itu semua aku lalukan berulang-ulang sebagai ungkapan rasa percaya diriku. 

Tapi Allah jauh lebih mengetahui apa yang pantas aku terima. Aku gagal lolos seleksi kuliah di mana pun saat itu. Akhirnya aku memutuskan untuk mengambil jeda setahun agar bisa mempersiapkan diri lagi untuk mengikuti ulang ujian masuk perguruan tinggi tahun berikutnya. Meyakinkan diri bahwa ini hanya soal waktu, bahwa saya hanya perlu mencoba lagi dengan usaha yang lebih keras. Di tahun kedua aku mengikuti ujian masuk perguruan tinggi, lagi-lagi aku harus tunduk pada ketetapan-Nya. Aku gagal lagi untuk yang kedua kalinya. Rasa sedih pasti ada, tidak perlu dijelaskan terlalu panjang. Ada kecewa, ada lelah, ada pertanyaan-pertanyaan yang tidak selalu berani saya ucapkan. Tapi hidup tetap berjalan. Waktu tidak berhenti hanya karena saya belum sampai di tujuan.
 
Sampai pada akhirnya aku mengikuti ujian masuk perguruan tinggi untuk yang terakhir kalinya, aku sudah tidak berharap tinggi akan diterima oleh PTN aja dan tanpa ada beban sedikit pun. Tidak ada ekspektasi sedikit pun, aku mengerjakan soal sebisanya, tanpa tekanan, tanpa beban, seperti seseorang yang sudah berdamai dengan kemungkinan terburuk. Aku nothing to lose aja. Aku hanya berusaha, sambil diam-diam tetap berdoa. Siapa tahu, masih ada ruang untuk keajaiban. Nahhh.. Di situlah akhirnya keberuntungan memihakku. 
 
Detik-detik pengumuman jam 15.00 WIB. Aku dan keluarga sudah menunggu di depan laptop untuk menyaksikan momen penentuan masa depanku. Begitu hitung mundur selesai, halaman pengumuman disegarkan, dan aku memasukan nomor peserta dan tanggal lahir. Lalu klik lihat hasil. Dannnn.... 
 
Alhamdulillah.. 

Aku lolos SBMPTN di pilihan pertama! 



Yaitu Agribisnis - Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. 


Aku tak henti-hentinya mengucapkan syukur kepada Sang Pencipta, Allah SWT yang telah melimpahkan Rizki kepadaku. Impian yang selama ini aku inginkan akhirnya dikabulkan oleh-Nya. Aku langsung sujud syukur depan orang tuaku dan salim kepadanya seraya menyerukan rasa syukur alhamdulillah. Dan rasanya itu luar biasa. Seperti anda menjadi Superman. Banyak yang menitipkan harapan-harapan dari berbagai pihak untuk dapat berguna bagi masyarakat khususnya dan negara pada umumnya. Menjadi mahasiswa bukanlah akhir dari perjalanan. Justru ini adalah awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Ada tuntutan untuk berpikir lebih kritis, untuk lebih peka terhadap sekitar, dan untuk bisa memberi manfaat, sekecil apa pun itu. Ada tanggung jawab yang dibebankan kepada mahasiswa untuk dapat berkontribusi langsung dalam mengubah kondisi bangsa ini. 
 
Walaupun aku harus menunggu kurang lebih dua tahun untuk dapat merasakan titel mahasiswa, itu tidak masalah bagiku. Yang penting aku bisa kuliah di PTN. Ini merupakan sebuah anugerah yang luar biasa di tengah pandemi yang belum tau kapan akan berakhir. Seperti cahaya harapan yang menyinariku di tengah bayang-bayang kegelapan tahun 2020. Hari ini, aku merasa lengkap. Senang, haru, dan entah kenapa, ada sedikit rasa sedih yang ikut hadir. Mungkin karena aku tahu betapa panjang jalan yang sudah dilalui untuk sampai di titik ini. Dan untuk semua itu, aku hanya bisa berkata, terima kasih. 

Terima kasih Bapak Ibu atas dukungan yang selalu diberikan kepadaku. Terima kasih abangku yang selalu hadir saat aku rapuh. Terima kasih adikku yang tetap menyemangatiku saat diriku tidak bersemangat. Aku tidak akan sampai di titik ini kalau bukan karena doa dan dukungan dan kesabaran kalian semua. Hari ini aku sangat campur aduk. Senang sekaligus sedih di saat yang bersamaan. Kalian adalah sebenar-benarnya penguatku. 




Read More

Sabtu, 08 Agustus 2020

Resiliensi



Tumbuh besar bersama Naruto dan mengikuti perjalanannya mengejar mimpi, entah kenapa selalu terasa menyenangkan.

Mungkin terdengar berlebihan, tapi mengenal Naruto terasa seperti sebuah anugerah. Karena dari sana aku belajar banyak tentang arti hidup.

Ada satu hal yang baru aku sadari ketika menonton lagi Naruto di usia dua puluh ini. 

Bukan tentang pertarungannya. Bukan tentang jurus-jurusnya yang terlihat keren.

Tapi tentang satu hal yang terasa sangat sederhana.

Yaitu cara bertahan.

Naruto Uzumaki bukan karakter yang hidupnya mudah. Bahkan bisa dibilang, sejak awal dia sudah kehilangan banyak hal.

Tidak punya orang tua.
Tidak punya tempat pulang yang benar-benar hangat.
Bahkan untuk diakui saja, dia harus berjuang mati-matian.

Kalau dipikir-pikir, dia punya banyak alasan untuk menyerah.

Tapi dia tidak melakukannya.


Nah di situlah letak ketangguhannya. 

Naruto tidak selalu kuat.

Dia pernah kesepian.
Pernah sedih. 
Pernah marah.
Pernah kehilangan arah.

Tapi setiap kali dia jatuh, dia selalu mencoba berdiri lagi.

Bukan karena dia punya kekuatan luar biasa sejak awal.

Tapi karena dia memilih untuk tetap berjalan.


Kadang aku merasa, hidupku juga seperti itu.

Jalanku tidak selalu berjalan sesuai rencana. Bahkan sering kali berantakan.

Aku pernah berada di titik di mana semuanya terasa tidak jelas. Gagal. Bingung. Tidak tahu harus melangkah ke mana.

Rasanya seperti tertinggal.

Seperti semua orang berjalan maju, sementara aku diam di tempat.

Dan jujur saja, di titik itu… menyerah terasa sangatlah menggoda.


Tapi setiap kali aku mengingat Naruto, ada satu hal yang terasa menahan pikiranku.

Kalau dia saja bisa bertahan dengan kondisi seperti itu, lalu kenapa aku tidak?

Padahal aku masih punya banyak hal yang dia tidak punya.

Aku masih punya keluarga.
Masih punya tempat pulang.
Masih punya orang-orang yang diam-diam peduli.


Naruto tidak mengajarkan cara menjadi hebat.

Dia mengajarkan cara untuk tidak berhenti.

Dan itu terasa lebih penting.

Karena dalam kenyataannya, tidak semua orang akan langsung berhasil. Tidak semua orang punya jalan yang mulus.

Tapi semua orang selalu punya pilihan.

Berhenti, atau tetap berjalan? 


Aku tidak sedang bilang kalau mental aku sekuat Naruto.

Aku masih jauh dari itu.

Aku masih sering merasa lelah. Masih sering ragu. Masih sering ingin menyerah.

Tapi setidaknya, sekarang aku tahu satu hal sederhana.

Bertahan itu juga sebuah bentuk kekuatan.


Tidak harus selalu cepat.
Tidak harus selalu sempurna.
Yang penting, tidak berhenti.


Mungkin, pada akhirnya hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai.

Tapi siapa yang tetap berjalan, meskipun pelan.

Dan untuk sekarang, itu sudah cukup bagiku untuk terus melangkah. 

Walaupun pelan.

Yang penting tidak pernah menyerah. 
Read More

Minggu, 02 Agustus 2020

Penguatku



Lebih dari dua puluh tahun sudah mereka ada di sini. Menjagaku.

Kalau dipikir-pikir, waktu berjalan terlalu cepat. Tiba-tiba saja aku sudah berada di titik ini. Usia yang katanya sudah cukup dewasa, tapi rasanya masih sering bingung harus bagaimana menjalani hidup.

Namun di tengah kebingungan itu, ada dua sosok yang tidak pernah benar-benar pergi dari pikiranku.

Ibu dan bapak.

Aku masih ingat saat masa kecil itu. Saat aku belum mengerti apa-apa. Saat dunia terasa sederhana. Saat tugasku hanya bermain dan eksplorasi. Kalian menjelaskan segalanya dengan penuh kesabaran. 

Sekarang, semuanya terasa berbeda.

Malam hari, ketika ibu memintaku memijat kakinya yang mulai lelah, sering kali aku terdiam. Tanganku bergerak, tapi pikiranku ke mana-mana. Dan entah kenapa, tanpa alasan yang jelas, air mata itu kadang jatuh begitu saja.

Kaki itu sudah tidak sama lagi.

Kaki yang dulu kuat, yang dulu mungkin tidak pernah kupikirkan, sekarang mulai menua. Ada garis-garis waktu di sana. Ada lelah yang tidak pernah benar-benar diucapkan.

Aku hanya bisa membalas dengan pijatan sederhana. Itu pun terasa tidak sebanding dengan apa yang sudah beliau berikan.

Kalau kaki itu saja sudah begitu lelah, aku tidak tahu bagaimana dengan hatinya. Dua puluh tahun bersabar menghadapi diriku yang sering kali keras kepala, malas, dan tidak tahu diri.

Begitu pula Bapak.

Dulu, suaranya tegas. Bahkan cenderung dingin. Setiap kata yang keluar seperti aturan yang harus dipatuhi. Tidak banyak basa-basi. Tidak banyak kelembutan.

Tapi sekarang, ada yang berubah.

Suaranya tidak sekeras dulu. Bukan karena beliau berubah menjadi lemah. Mungkin justru karena sudah terlalu lama kuat.

Sepuluh, dua puluh tahun mendidik dengan cara yang sama. Mengulang hal yang sama. Menahan lelah yang sama.

Dan tanpa kusadari, waktu ikut mengubah cara beliau berbicara. Kini lebih tenang dan tidak berlebihan. 

Semangat yang beliau keluarkan setiap hari sangatlah berarti. Semangat yang membuatku tetap hidup sampai sekarang. Semangat yang bisa mengisi perutku. Semangat yang membuatku punya tempat untuk pulang.

Dan aku baru benar-benar menyadarinya ketika semuanya mulai terasa berat.


Aku bukan anak yang sempurna.

Masih sering malas. Masih suka menunda. Kadang masih melawan. Kadang masih mengecewakan.

Dulu, aku marah ketika keinginanku tidak terpenuhi. Sekarang aku malu mengingat itu semua.

Karena aku sudah melihat sendiri bagaimana sulitnya mereka mencari uang. Bagaimana kerasnya dunia yang mereka hadapi setiap hari. Ditambah dengan kondisi pandemi seperti saat ini yang sangat menguji daya juang. 

Mereka mungkin tidak bisa memberikan semua yang aku inginkan. Tapi mereka sudah memberikan semua yang mereka punya.


Yang paling sedih, banyak hal dari mereka yang berubah seiring waktu.

Tenaga berkurang. Suara berubah. Waktu tidak lagi sebanyak dulu.

Tapi ada satu hal yang tetap sama.

Semangat itu.

Semangat yang sederhana, tapi selalu terasa tulus. Bahkan di saat keadaan tidak benar-benar baik-baik saja.


Kadang, saat malam tiba dan aku sendirian, sosok mereka muncul begitu saja di kepala. 

Lalu pikiranku mulai berjalan ke mana-mana.

Apakah aku bisa membahagiakan mereka?

Masih adakah waktu untuk membuat mereka bangga?

Pertanyaan itu tidak pernah benar-benar hilang. Aku hanya belajar untuk menghadapinya.


Aku pernah merasa gagal.

Dan jujur saja, sampai sekarang perasaan itu kadang masih datang. Terutama ketika aku melihat betapa besar usaha mereka, sementara aku merasa belum bisa memberikan apa-apa.

Selama masa gap year ini, aku mencoba membantu semaksimal mungkin. Setidaknya untuk meringankan sedikit beban mereka.

Di situ aku mulai mengenal mereka lebih dekat.

Bukan hanya sebagai orang tua.

Tapi sebagai manusia.

Yang bisa lelah.
Yang bisa khawatir.
Yang punya harapan.


Sebagai seorang anak, aku tidak tahu apakah aku sudah bisa disebut berbakti.

Sepertinya belum.

Tapi aku sedang belajar.
Belajar untuk lebih peka.
Belajar untuk lebih peduli.
Belajar untuk tidak hanya menuntut, tapi juga memahami.


Ibu…
Bapak…
Maaf kalau sampai sekarang aku masih belum bisa membahagiakan kalian sepenuhnya.

Maaf kalau masih ada luka yang aku tinggalkan di hari-hari kalian.

Aku belum sampai di titik yang kalian harapkan.

Tapi aku tidak berhenti.
Aku sedang berusaha.
Pelan-pelan.


Selama kalian masih ada, aku masih punya alasan untuk terus berjalan.

Karena kalian adalah penguatku. 
Read More

Rabu, 22 Juli 2020

Tentang Gap Year Bagian 3

Hal yang paling melelahkan dari Gap Year bagi saya selain dari materi pelajarannya yang banyak yaitu pikiran yang selalu bermain dengan perasaan yang berkecamuk. Dan ini hal yang luput dari pertimbangan saya waktu memutuskan untuk mantap memilih masa jeda ini. Tidak ada seorang pun yang mengingatkan saya tentang hal ini sebelum saya benar-benar menjalaninya sendiri. Maka dari itu saya ingin berbagi aja di tulisan ketiga kali ini yang membahas sedikit gambaran betapa beratnya mengambil gap year bagi jiwa yang lemah dan rentan akan pencapaian orang lain. 

Kalau ada satu hal yang paling sukar saya lewati, itu adalah tekanan emosional yang datang bertubi-tubi. Ada rasa bersalah karena terus menyusahkan orang tua, rasa minder setiap melihat teman-teman mengunggah kehidupan kampus, dan rasa takut tidak pernah mencapai apa yang dicita-citakan. Belum lagi komentar-komentar kecil dari orang terdekat yang maksudnya mungkin baik, tapi tajamnya mengiris sampai ke inti jantung yang terdalam, 

"Kapan kuliah?", 
"Nggak takut ketinggalan?", 
"Kerja dulu aja gak sih kalau nggak masuk-masuk?" 

Menjalani gap year di negara yang memandang keterlambatan itu sebagai kekurangan bukan perkara mudah. Lingkungan hidup yang selalu kompetitif membuat jeda hidup seorang gap year terasa seperti kemunduran. Tangga sosial kita diukur dari seberapa cepat naik dibanding orang lain. Bukan dari seberapa matang kita melangkah. Dari sinilah saya belajar mengatur ulang cara saya memandang tekanan. Kalau saya terus mengikuti tempo orang lain, saya tidak akan pernah selesai berdamai dengan diri sendiri. Harus ada prioritas baru yang saya pilih sendiri, tanpa ikut arus ekspektasi masyarakat. Saya juga belajar menerima bahwa perasaan tidak baik-baik saja itu wajar. Tidak perlu ditutupi, tidak perlu dibuat seolah kuat setiap saat. Perjalanan sunyi ini pasti akan berat, dan saya berhak merasakannya apa adanya.

Tentang Gap Year Bagian 3 blog Zulfahmi Adam


Setelah UTBK terakhir selesai kurang lebih dua minggu yang lalu, saya pikir saya akan merasa lega. Tapi yang datang justru kekosongan hebat yang sulit dijelaskan. Rutinitas belajar yang menekan hilang begitu saja, dan saya merasa seperti tersesat di ruang yang terlalu luas. Hari-hari berjalan semakin tak menentu tanpa arah, dan saya seperti tidak tahu harus melakukan apa sekarang di tengah masa pembatasan ini. Orang jarang membicarakan fase ini, fase setelah perjuangan, ketika semua target sudah selesai tapi tidak ada kegiatan yang menggantikannya. Di titik inilah saya merasa jadi manusia yang paling bingung sedunia. 

Selama berbulan-bulan saya hidup dengan tekanan hebat, dan ketika tekanan itu hilang, saya pun kehilangan sesuatu yang membentuk keseharian saya. Beberapa hari terakhir saya sering rebahan berjam-jam tanpa melakukan apa pun. Bukan malas, hanya bingung aja. Pikiran saya seperti tidak punya tempat untuk dituju. Saya sadar bahwa tubuh saya butuh istirahat, tapi batin saya terus menerus mempertanyakan banyak hal. Keheningan itu membuat saya lagi-lagi melihat diri sendiri lebih jelas, kadang dengan cara yang paling tidak nyaman. Namun dari fase inilah lahir pelajaran penting bahwa tidak semua kekosongan itu buruk. Ada kekosongan yang justru memberi ruang bagi diri saya untuk memahami apa yang sebenarnya saya cari. 



Masa Gap Year selama dua tahun ini mengajarkan saya bahwa tidak ada tempat di Indonesia yang benar-benar aman dari perbandingan sosial. Orang-orang terbiasa menilai capaian berdasarkan garis waktu yang seragam, seakan semua hidup harus bergerak dalam tempo yang sama. Padahal kenyataannya tidak begitu. Saya akhirnya mulai mengerti bahwa hidup tidak selalu diisi dengan pencapaian. Terkadang, masa paling berharga adalah masa ketika kita berhenti dan mencoba memahami ulang arah hidup yang ingin kita tuju. Perenungan ini tidak pernah diajarkan orang tua mana pun di negara ini selain orang itu sendiri yang harus sadar dan mengalaminya secara langsung. 

Setelah semua peristiwa besar selama dua tahun terakhir ini saya hadapi, saya sampai di titik kesimpulan bahwa mengambil jalan berbeda menuntut mental yang lebih tebal. Kalau teman-teman lain bisa berjalan lurus, saya harus membuka jalur sendiri. Saya tidak pernah bilang masa jeda ini akan gampang. Rasanya sangat melelahkan, tetapi pelajaran inilah yang nantinya akan menjadi fondasi seluruh perjalanan saya berikutnya. 

Kalau ditanya apakah saya menyesal memutuskan untuk Gap Year? Saya akan jawab tidak sama sekali. Tapi jika ada kesempatan untuk mengulanginya lagi saya tidak akan bersedia. Cukup sekali ini saja di kehidupan yang singkat ini saya merasakan derita yang tak berujung. Karena Gap year bukan hanya ujian kemampuan belajar. Ini adalah ujian emosi dan keberanian menghadapi diri sendiri di tengah dunia yang terus menuntut untuk bergerak cepat. Itulah realita yang sebenarnya. 



Mohon diingat baik-baik untuk seluruh pelajar di mana pun kalian berada. 
Read More

Selasa, 21 Juli 2020

Tentang Gap Year Bagian 2

Saya pikir kegagalan cukup terjadi satu kali saat SBMPTN pertama pasca kelulusan sekolah. Ternyata hidup punya cara yang keras untuk menunjukkan bahwa beberapa pelajaran memang tidak cukup diajarkan sekali saja. Di tahun kedua, saya mulai lebih serius mempersiapkan diri untuk kembali ikut ujian masuk. Setelah setahun saya menyelami pikiran saya sendiri dan berusaha menyembuhkan luka yang mengganggu, saya akhirnya pelan-pelan mulai memberikan kesempatan kepada diri saya untuk belajar kembali materi ujian masuk kuliah. 

Saya mulai belajar lebih terstruktur, membaca lebih banyak, dan mencoba menutup celah-celah lama yang dulu membuat saya terpeleset. Tapi nyatanya, usaha yang lebih keras tidak selalu menjamin hasil lebih baik. Kegagalan itu datang lagi. Dan yang kedua selalu terasa lebih pahit daripada yang pertama. Seolah-olah dunia ingin memastikan bahwa diri saya benar-benar diuji, bukan hanya dari segi kemampuan tapi dari ketahanan mental. Di titik ini, saya belajar bahwa kegagalan tidak hanya tentang kelolosan, tetapi tentang bagaimana perasaan seseorang saat berhadapan dengan batas dirinya sendiri. 

Saya mulai memetakan pola emosi saya setahun terakhir mulai dari rasa takut, ragu-ragu, cemas berlebihan, hingga rasa bersalah yang muncul secara otomatis setiap kali melihat orang lain melangkah lebih jauh dari saya. Di setiap titik-titik gelap itu, saya mulai memahami bahwa kegagalan bukanlah musuh. Ia lebih mirip cermin yang memperlihatkan versi utuh dari diri sendiri yang belum selesai diperbaiki. Dan kalau dipikir lagi, kegagalan berulang itulah yang akhirnya membuat saya lebih dewasa. Kalau saya lolos di percobaan pertama, mungkin saya tidak akan pernah belajar mengenali diri saya sedalam ini.

Tentang Gap Year Bagian 2 blog Zulfahmi Adam


Setelah melewati masa tenang yang panjang habis UTBK kedua kalinya, saya akhirnya untuk pertama kalinya memasuki lingkungan kampus dan merasakan suasananya. Gak hanya masuk, saya waktu itu pernah ikut tes ujian mandiri yang diadakan kampus ternama. Yaa walaupun hasilnya tidak lolos tapi setidaknya saya sudah merasakan sedikit aura kehidupan di kampus. Itung-itung juga sebagai motivasi tambahan untuk bahan bakar memasuki tahun kedua gap year saya yang dimulai september yang lalu. Saya belajar lagi, membuka buku yang sudah lama saya tinggalkan, dan memaksa otak saya bekerja setelah berbulan-bulan hidup tanpa tekanan akademik. Saat itu saya percaya, selama saya berusaha, saya pasti mendapat hasil. 

Tapi ternyata hidup tidak berjalan begitu lancar sesuai keinginan saya. Lima bulan yang lalu virus korona memasuki Indonesia dan tidak lama status pandemi diumumkan. Cobaan hidup yang menghantam rencana besar saya dengan cukup keras. Saya tidak menyangka bahwa semua persiapan yang saya lakukan tetap tidak cukup. Banyak aturan yang berubah dan ketiadaan materi TKA yang sangat krusial dalam menentukan jurusan kuliah membuat saya stres. Ada rasa malu pada diri sendiri, ada rasa tertinggal, ada rasa bahwa waktu saya terbuang sia-sia lagi. Tapi saya tetap mencobanya lagi dengan pilihan yang sangat bertolak belakang dengan apa yang selama ini saya inginkan. Kata bapak saya, "gapapa coba aja dulu jurusan yang tersedia, pokoknya jangan menggelapkan pikiran dengan terhalangnya satu pintu, InsyaAllah pintu lain akan terbuka."

Dengan beban yang lebih berat, dengan harapan yang lebih besar, dan dengan ketakutan akan kecewa untuk hasil ujian yang terakhir kalinya, saya akhirnya tetap mendaftar UTBK sesuai dengan arahan bapak saya karena saya sudah tidak tahu lagi harus bagaimana memutuskan jalan hidup. Saya sudah di tahap pasrah dan tidak berharap lagi akan terwujudnya mimpi. Tidak ada tangis, tidak ada drama, hanya perasaan kosong yang menggantung di dada. Saya mulai mempertanyakan banyak hal, apakah saya memang tidak cukup layak, atau apakah jalur ini memang bukan untuk saya? Ditambah aturan ujian yang berubah dan jurusan impian yang ternyata tidak bisa saya pilih, perjalanan ini jadi lebih menyakitkan daripada yang pernah saya bayangkan sebelumnya.



Kegagalan bertubi-tubi ini membuka mata saya lebar-lebar. Kesadaran diri selalu datang di saat-saat paling pasrah dalam hidup. Segalanya saya serahkan kepada Sang Pencipta. 
Read More

Sabtu, 18 Juli 2020

Tentang Gap Year

Halo selamat siang sobat blogger! Sambil menunggu pengumuman UTBK yang masih satu bulan lagi, saya ingin mengisi rentang waktu ini dengan menulis lagi di blog sambil merapikan pikiran yang sempat berantakan. Hari ini saya mau berbagi aja mengenai pengalaman saya menjalani gap year yang kurang lebih dua tahun saya lalui dengan penuh suka duka. 

Oke langsung aja ya, jadi pada dasarnya tidak ada manusia yang benar-benar siap menjalani tahun yang tidak pernah ia direncanakan. Setiap tahun baru manusia selalu merancang dan merencanakan sesuatu yang akan dilaluinya setahun kedepan, entah secara sadar dengan menuliskannya sendiri ataupun tidak sadar seperti saat berada di dalam sistem yang telah pasti jadwal setiap bulannya. Saya pun begitu. Menjalani Gap year setelah lulus sekolah dua tahun yang lalu bukanlah keputusan matang, melainkan sesuatu yang terjadi spontan begitu saja, secara tiba-tiba, dan sering kali membuat saya merasa tertinggal dari orang lain di fase awal menjalaninya.


Tentang Gap Year blog zulfahmi Adam


Saya masih ingat bagaimana tahun pertama setelah lulus itu terasa seperti ruang tunggu yang terlalu panjang dan lama yang sempat membuat saya hilang kendali dan emosi meledak tidak karuan. Teman-teman sekolah saya udah ada yang masuk kuliah, sebagian ada yang mulai bekerja, dan sebagian lain sudah punya rencana jangka panjang. Sementara saya saat itu masih berputar-putar di dalam pikiran sendiri, memikirkan kesalahan apa yang saya lakukan dan kenapa langkah saya terasa lebih lambat dari semuanya. Setiap hari rasanya mirip satu sama lain. Saya bangun, melakukan rutinitas membantu orang tua agar badan tetap gerak, lalu kembali tenggelam dalam pikiran yang sulit ditata. Ada lelah yang tidak berasal dari pekerjaan apa pun, dan ada kegelisahan yang bahkan tidak punya bentuk. Saya mencoba memperbaiki banyak hal dalam diri saya, tapi kebanyakan hanya berakhir sebagai niat yang tidak selalu bertahan lama.  

Tidur saya tidak teratur, pikiran saya sulit diam, dan terkadang saya merasa sedang mengejar sesuatu yang tidak saya pahami. Dalam proses itu, akhirnya saya memaksa diri saya untuk mulai membaca lebih banyak. Karena saya sadar saya masih berat kepala, saya butuh sesuatu untuk menahan diri agar tidak terus-menerus mengulang kekhawatiran yang sama. Saya mulai belajar tentang hal-hal yang berkaitan dengan spiritualitas, tentang bagaimana seseorang bisa menata diri dari dalam, meskipun saya tidak pernah benar-benar tahu apakah itu bekerja dengan baik pada saya atau tidak. Saya hanya mengikuti alurnya, berharap ada perubahan kecil yang membuat saya sedikit lebih kuat menghadapi hari.

Waktu itu saya tidak berani menyebutnya gap year. Rasanya terlalu mewah untuk ukuran orang biasa seperti saya. Saya hanya menyebutnya sebagai masa istirahat. Kenapa istirahat? Karena masa sekolah saya itu sangat melelahkan dan menguras emosi saya bertahun-tahun lamanya hingga saya sempat kehilangan jati diri karena terlalu lama berpura-pura untuk menyenangkan semua orang. Saya menyadarinya setelah masa istirahat itu tiba dan merefleksikannya kembali. 

Saya ternyata tipe orang yang gak enakan. Saya ternyata tipe orang yang selalu mendahului kepentingan bersama dibanding kepentingan pribadi. Saya ternyata tipe orang yang tidak ingin punya musuh jadi selalu memberi dan berusaha menyenangkan teman-teman. Kedengarannya sih baik ya, tapi ternyata kalo berlebihan sampai mengganggu kepribadian hingga kehilangan sifat aslinya itu berbahaya. Maka dari itu saya merasa setahun setelah lulus itu ada fase istirahat total sembari mengenali lagi diri sendiri. Ada proses pemulihan di situ dan ternyata memang itu yang saya butuhkan. Saya lebih banyak merenung sepanjang tahun untuk melihat ke dalam diri dan menyadari banyaknya luka yang perlu dikeringkan. Akhirnya ada sesuatu yang harus dikorbankan yaitu berkurangnya waktu dan fokus belajar untuk persiapan ujian masuk kuliah yang mengakibatkan gagalnya saya di UTBK kedua. 

Namun, dari semua kekacauan tahun pertama itu, saya mulai menyadari satu hal bahwa ternyata tidak semua orang langsung menemukan jalannya setelah sekolah. Ada yang butuh waktu untuk berhenti, mengatur napas, dan mendengar dirinya sendiri. Nilai yang saya dapat pada tahap ini sederhana tapi cukup penting bahwa tidak apa-apa untuk diam dulu. Tidak apa-apa untuk bingung. Tidak apa-apa untuk tidak langsung tahu. Kadang, justru dari ketidakpastian itu, kita belajar mendengar suara-suara kecil dalam diri kita yang selama ini tenggelam oleh keramaian. 
 

Tahun pertama gap year bukan tentang sukses atau produktivitas. Tahun itu adalah tentang mengenal ulang diri sendiri.


Tahun pertama gap year membuka mata saya bahwa tidak semua langkah lambat berarti salah. Kadang di situlah seseorang mulai belajar menata dirinya.

Read More

Rabu, 04 Maret 2020

TJVZ #3

Aku tak bisa diajak lagi ke dalam hatimu, goresan luka dan perasaan ini adalah bukti nyata bahwa kau sudah mulai melupakanku. Hari yang lalu biarlah berlalu dengan dia yang selalu ada di hatimu, yang bisa dibilang tampan dan manis di awal bulan ini. Aku tahu apapun yang kau pilih, pasti sudah dipertimbangkan dahulu. Aku terima semua keputusanmu. Setelah delapan tahun lamanya mengagumimu, kini aku putuskan untuk perlahan berhenti menomorsatukanmu. Aku sadar ini semua hanyalah bagian dari pendewasaan. Sudah jelas sekali bahwa kau memang sedari awal kurang peduli dengan diriku. Teruntuk kamu yang sering kuselipkan dalam karyaku, terima kasih sudah sudi menjadi inspirasiku selama ini. Kau akan selalu menjadi teman perempuan pertamaku. Sosok yang dapat memberikanku semangat. 

Aku ingin menegaskan bahwa aku pernah mengagumimu dalam diamku. Maafkan aku karena telah melakukan hal ini. Aku bingung harus melakukan apa ketika melihat salah satu keindahan duniawi. Sengaja aku tak pernah sampaikan kepadamu. Tapi jika kau sudah mengetahuinya pun, aku tak peduli. Mulai hari ini dan seterusnya aku berusaha untuk berhenti terpesona akan indahnya dirimu. Karena rasa ini perlahan-lahan tumbuh menjadi kegelisahan. Hal itu hanya akan menyiksa diriku sendiri. Semakin aku melihatmu bebas dengan yang lain, hanya akan menimbulkan kesedihan sepanjang waktu. Aku tak ingin hal itu terus terjadi. Pada akhirnya, aku harus menegur diriku sendiri untuk berhenti. 
 

Dengan semakin berkurangnya umurku, tolong izinkan aku tuk melupakanmu. Akan kukubur dalam-dalam semua cita-cita ini. Seluruh perasaan indah yang pernah singgah dalam ruang hidupku. Ketergantungan terhadap apa yang dinamakan keindahan duniawi ini mulai surut. Aku sadar, bahwa aku tidak benar-benar mengenali dirimu. Kau tak lagi istimewa di dalam hidupku. Tak ada yang bisa kusembunyikan lagi. Kau bukan lagi yang utama, karena memang tidak bisa diutamakan. Jika dipikir-pikir memang ini hanyalah pemborosan waktu yang cukup lama. Tapi dari itu semua, ada banyak hikmah yang sudah aku dapatkan. Belasan karya tercipta dari rasa kagum atas sebuah keindahan jiwa. Aku tak menyesal jika aku pernah menikmati itu semua.
 
Tepat di hari kelahiranmu yang ke dua puluh tahun ini, aku mempersembahkan tulisan khusus tentang dirimu—untuk yang terakhir kalinya. Aku sudah sangat yakin untuk mengakhiri keterikatan yang melekat kuat selama delapan tahun ini. Kalau ditanya gimana rasanya? Yaaa.. cukup memberatkan. Rasa sakit itu selalu ada, karena Tuhan izinkan ia ada. Tapi aku tak akan ambil pusing lagi dengan keputusan ini. Dan pada akhirnya aku harus bisa. Walaupun rasanya sulit. Inilah saatnya aku menentukan pilihan. Pilihan yang membuatku merasa bebas. Kau dapat fokus dengan jalanmu sendiri. Begitu juga aku, bisa fokus dengan jalanku sendiri. 
 
Kisah ini dapat dinyatakan sudah selesai. Aku berhenti menuliskan karya tentang dirimu. Tak ada lagi yang bisa kupersembahkan. Stok kata-kataku telah menipis untukmu. Ingin sekali berhenti mengikuti perkembanganmu. Menghapus segala impian dan khayalan yang bersemayam di pikiran. Aku memantapkan hati tuk berhenti memperjuangkanmu—yang mungkin ditakdirkan bukan untukku. Walaupun itu sangat rumit, karena memang sudah melekat dengan otakku. Tapi akan aku usahakan. 
 
Mengunjungi hatimu adalah cara terbaik mengenal cinta. Dan mengundurkan diri adalah satu-satunya cara yang paling tepat untuk menghindari luka yang lebih dalam. Kebahagiaan hati tak akan datang sendiri, ia merupakan hasil dari sebuah perjalanan panjang dalam memaknai apa yang disebut ketulusan. Aku pastikan kita semua akan baik-baik saja. Pada titik paling akhir ini, tinta penaku telah luruh. Saat kumenulis karya terakhir tentang dirimu, aku memutuskan untuk perlahan berhenti mengagumimu.








TJVZ - The Last 
04.03.20
Read More

Sabtu, 15 Februari 2020

Kita Telah Berubah

Manusia adalah entitas yang terus berkembang, mereka berubah seiring berubahnya zaman. Begitupun diriku. Dulu aku mengira bahwa kau adalah cermin terbaik dalam hidupku. Saat itu, aku masih sangat muda dan naif mengartikan sebuah pertemuan. Aku terbuai oleh keindahan duniawi. Dirimu yang memiliki paras ayu nan lugu. Sungguh membuatku semangat menjalani hari-hari baru. Aku selalu menjadikan kau sebagai motivasi untuk terus berkembang. Ingin rasanya aku menyamai kemampuanmu yang luar biasa itu. Namun sekarang aku sudah sadar, aku salah menempatkan dirimu di dalam hidupku. Kau layaknya manusia pada umumnya, mempunyai sisi gelap. Begitu aku tau sisi gelapmu, aku langsung mengerti bahwa tak ada yang sempurna di dunia ini. Setiap orang pasti punya sisi gelapnya sendiri. Aku pun sama memilikinya. Laki-laki dan perempuan sama-sama manusia, bukan malaikat. Kita semua pernah melakukan kesalahan. Kita telah memahami porsi kesalahan masing-masing. Dan kita masih punya waktu. Jadi pada akhirnya aku harus memutuskan untuk menutup hasrat jiwaku. 
 

Maaf kalau aku harus mengucapkan kata-kata 'pernah' di beberapa tulisanku. Karena memang dulu kita pernah dekat dan sekarang sudah tidak. Ada batasan yang jelas dari dirimu yang kini tak pernah bisa aku sentuh. Pikiranmu yang tak bisa lagi aku tebak akan kemana tujuannya. Ada banyak hal sederhana yang kini berubah menjadi rumit. Seolah-olah berbagai perubahan ini membuat kita saling menyalahkan diri sendiri. Padahal bukan salah kita, ini semua murni karena waktu yang menuntut kita berbeda haluan. Memilih jalan hidup masing-masing. Ini perlu dilakukan agar kita belajar bahwa dalam hidup memang perlu ada yang berubah. Dan biarkan waktu yang mengajari kita untuk menerimanya. 
 
Maka dari itu, aku undur diri atas segala rasa yang nantinya bisa memperburuk kondisi hati. Aku undur diri untuk menitipkan lagi segala rasa yang pernah singgah di hatimu dulu. Aku undur diri untuk segala masa depan yang dulu pernah kita bicarakan. Langkahku pelan-pelan menjauh, mungkin kenangan akan begitu riuh, tapi takkan membuat beberapa luka semakin melepuh. Maaf jika aku tak mampu lagi bertahan, dan maaf jika aku secepat ini melepaskan. Namun hal-hal pahit, harus kau cicipi lebih dulu agar kau tahu apa rasanya manis. Sesendok pelajaran sedang kita lahap bersama-sama, tentang kenyataan bahwa tak seharusnya lagi kita bersama. Lepaslah dengan rela. Karena suatu hari, kita akan sama-sama tersenyum mengingat hari ini.
 
Kau dan aku sama-sama sedang dalam proses mengobati luka lama, sama-sama trauma dalam mengelola perasaan, dan sama-sama ingin fokus ke masa depan. Kita semua telah berubah seiring berjalannya waktu. Dan perubahan itu adalah hal yang mutlak. Aku tak keberatan melihat dirimu yang sekarang dengan segala perbedaannya. Aku sudah meyakinkan diri, bahwa tidak mungkin ada kita. Kau terlalu indah tuk kumiliki. Aku tak sanggup jika aku benar-benar bersamamu selamanya. Aku berhenti meminta kepada Tuhan agar berjodoh denganmu. Aku ingin sekali berhenti mengagumi dirimu. Terima kasih pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupku yang singkat ini.


Read More

Sabtu, 24 Agustus 2019

Selanjutnya Apa?

Selamat malam sobat blogger di mana pun kalian berada. Apa kabar kalian semua? Saya harap kondisi kalian sehat selalu. Di bulan agustus ini biasanya adalah bulan dimana banyak kampus yang sedang melaksanakan ospek untuk para mahasiswa baru. Rasa tak nyaman mulai bergejolak dalam diri saya tatkala melihat banyaknya orang yang update status kegembiraannya diterima oleh PTN dan mulai foto-foto di ikon kampus masing-masing. Akhirnya saya memutuskan untuk vakum sementara dari media sosial yang penuh dengan euforia ospek kampus dengan segala keseruannya. Sungguh mengasyikkan sekali nampaknya. 
 
Sementara itu.. Saya.. Seperti yang kalian ketahui, tahun ini saya gagal lolos seleksi penerimaan mahasiswa baru lewat jalur mana pun untuk yang kedua kalinya. Kecewa sudah pasti ada, rasanya seperti jatuh ke lubang yang sama karena saya gagal untuk yang kedua kalinya. Sedih pun hampir tak bisa dibendung, mata saya sempat berkaca-kaca begitu mengetahui bahwa saya gagal lagi. Emosi pun mulai bergejolak kembali. Seketika itu juga otak saya langsung dipenuhi dengan tanda tanya.. 
 
"apa yang salah dengan diriku sehingga aku belum layak untuk dapat diterima oleh PTN?" 
 
"Mengapa aku masih gagal?" 
 
"Apa yang kurang ya?" 
 
"Apa yang harus aku lakukan selanjutnya?" 
 
 
Pertanyaan-pertanyaan itu muncul lagi untuk yang kedua kalinya. Saya mau gak mau harus banyak instrospeksi lagi terkait langkah yang sudah saya lakukan selama ini. Apakah cara saya yang kemarin sudah benar. Harus ada revisi terhadap sistem gap year yang telah saya lalui kemarin. Dari sini, pikiran saya lagi-lagi mulai berjalan dengan cepat. Saya pun membiarkan diri ini tenggelam dalam lautan pertanyaan hebat. Sekitar tiga minggu saya melakukan pergumulan hebat dengan diri sendiri, akhirnya saya sadar bahwa kegagalan adalah satu-satunya teguran dan respon terbaik yang diberikan Tuhan untuk saya. Ini semacam pecutan yang keras untuk diri saya sendiri agar saya terus belajar dan belajar lagi. 
 
Bisa jadi saya gagal karena terlalu pusing memikirkan luka batin yang belum sembuh serta eksistensi diri pasca kelulusan sekolah. Bisa jadi saya gagal karena saya terlalu nyaman dengan ilusi kelonggaran waktu yang ada selama gap year kemarin, hingga teperdaya dan akhirnya malas melakukan apa pun. Situasi-situasi seperti ini lah yang sempat membuat saya tidak banyak belajar dan berlatih lebih giat lagi. Inilah yang ingin saya perbaiki nanti. Saya berniat untuk menambah satu tahun lagi jeda sambil mempersiapkan diri sejak dini untuk pertempuran terakhir kalinya. 
 
Perlahan-lahan saya sudah mulai terbiasa dengan penolakan seperti ini. Karena yang namanya pengalaman gak selalu hal yang indah-indah. Pengalaman bisa berisi tentang hal-hal yang berhasil dicapai atau bisa juga hal-hal yang tidak pernah diharapkan. Seperti kegagalan saya ini. Menerima takdir yang tak sesuai dengan keinginan itu memang berat. Sangat berat! Tujuannya apa? Satu kata. Ikhlas. Ikhlas dengan jalan yang sudah Tuhan tetapkan untuk saya. Ikhlas menerima kenyataan bahwa saya belum berhasil kuliah tahun ini adalah suatu keberanian. 
 
Memang jalan yang saya pilih memang bukanlah jalan yang mudah. Bisa dibilang nekat dan tidak biasa. Di luar kebiasaan orang pada umumnya. Medannya sangat terjal. Peluangnya pun sangatlah kecil. Meskipun ada pilihan lain yang tampaknya lebih mudah, lebih nyaman, lebih enak; terlihat menyenangkan; banyak yang menginginkannya; serta menjadi angan yang sering diidam-idamkan banyak orang. Dengan tujuan akhir yang terlihat tak ada perbedaan satu sama lainnya. Namun saya tak yakin, apakah saya bisa menikmati setiap hal yang ada di dalamnya. Karena ini adalah kuliah, berbeda jauh dengan sekolah yang masih bisa dipaksakan. Saya tak ingin tersiksa lagi hanya gara-gara salah jurusan seperti yang pernah saya rasakan di masa putih abu-abu. 
 
Maka dari itu saya memutuskan untuk memilih jalan ini. Terlihat sangat beresiko, berbahaya, dan penuh tantangan besar. Namun saya harap terjaga nilai-nilai idealisme. Dalam segala proses dan lika-likunya, saya berusaha untuk menikmatinya. Saya selalu percaya bahwa semua pengalaman ini akan menguatkan pribadi saya dan membuat saya tangguh di masa mendatang. Saya akan menjadi lebih kuat dalam menghadapi situasi-situasi sulit yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Karena takdir-Nya tidak pernah salah, Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk saya, sedangkan saya tidak. 
 

Gagal itu hal yang biasa terjadi, bukan aib yang harus ditutupi. Akan menjadi luar biasa ketika kita bisa bangkit dari kegagalan itu. Memang nggak mudah untuk bangkit, saya pun harus jatuh bangun dalam menghadapi situasi-situasi sulit selama proses ini berlangsung. Tapi kita kan butuh kemajuan dalam hidup, kalau kita mau maju, berkembang dan sukses yaa tak ada pilihan selain harus belajar dari yang namanya kegagalan. Kegagalan bisa menjadi pemantik semangat karena sukses adalah sebuah pilihan. Kita bisa memilih kesuksesan macam apa yang kita inginkan. Tentunya dengan perjuangan yang terus berkelanjutan hingga kesuksesan itu bisa diraih. Yaaa terdengar sangat klise memang, tapi itu merupakan kebenaran. Saya jadi teringat kutipan almarhum Pak Sutopo yang sangat menginspirasi. 

 


Intinya, seberapa besar pun usaha ingat Tuhan tetap punya kuasa atas segala sesuatu. Jangan lupa bersyukur dan jangan larut dalam kesedihan karena sejatinya kuliah itu proses menimba ilmu, kualitas kita tergantung seberapa pandai kita mengendalikan diri di titik terendah dalam hidup. Tetap semangat!!!
 
 

Salam hangat, dari saya pejuang SBMPTN yang belum beruntung (lagi).. 
 
 






 
Sekian.
Read More

Minggu, 16 Juni 2019

Tak Lagi Sama

Pena di tangan kembali bercerita. Aku ungkap isi hati yang bimbang. Empat tahun yang lalu memang tahun yang sangat indah, dimana aku dapat merasakan nikmatnya pertemuan. Aku benar-benar tak menyangka bahwa kita bisa bercengkrama lagi setelah sekian lama terpisah. Tepat di hari ke 200 di tahun 2015 peristiwa langka ini terjadi, hari yang sangat istimewa dalam sejarah hidupku. Saat aku dapat menatapmu dan berbincang bersama dalam indahnya rasa yang menggugah jiwa. Aku saat itu terbawa akan perasaan bahagia tak terkira. Rasanya benar-benar menyenangkan sekaligus menegangkan. Aku begitu antusias menanggapi setiap detail obrolan yang kau berikan. Saat itu pula aku berkeyakinan bahwa setelah pertemuan ini pasti akan ada lagi pertemuan selanjutnya, cepat atau lambat hari itu pasti akan datang.

Dan yaa.. Benar saja, dalam kurun waktu empat tahun setelah pertemuan pertama, aku kembali lagi dipertemukan dengannya. Tapi, ada yang berbeda sekarang. Rasanya pertemuan ini tak seindah dulu. Pandanganku kali ini tak lagi sama. Aku tidak menemukan kehangatan lagi di sini. Setelah ku tahu sisi lain dari dirimu. Sisi yang sebelumnya tak pernah aku ketahui. Begitu aku mengetahuinya, otak ini tak henti-hentinya bekerja. Mencoba tuk tegar, walau perasaan tak karuan. Rasa sakit ini begitu kuat mengalir ke seluruh tubuhku. Kamu mungkin sudah lupa, tapi aku akan selalu ingat.


Kini, semuanya terasa sangat berbeda. Walau sepenuh hatiku mencoba tuk menikmatinya. Namun, rasanya tidak pernah sama. Ibarat roda yang terus berputar, ada saatnya di atas, ada saatnya di bawah. Aku merasakan suatu keadaan yang terulang kembali namun dalam masa dan waktu yang baru. Tapi yang sangat disayangkan adalah aku tak bisa lagi merasakan manisnya pertemuan ini. Meski kuakui di dasar hatiku masih ada sedikit rasa. Namun, tidak sehebat saat pertama kali kita bertemu dan berkomitmen untuk saling terhubung. Itulah barangkali yang membuat aku membiarkanmu banyak terdiam, seakan aku tak punya hati pada hari itu.

Kini, sudah bukan waktunya lagi untuk bermain-main dengan sebuah perasaan. Perasaan itu adalah hal yang suci. Akan ada saatnya nanti untuk aku menetapkan kepada siapa pemilik hati ini kelak dan merindukan orang yang tepat. Karena waktu tak lagi sama, yang lalu hanya bisa menjadi kenangan, ingatan dalam memori yang pernah ada. Sekarang sudah bukan waktuku untuk berada di masa itu, sekarang adalah saat dimana perjuangan hidupku dimulai. Benar-benar dimulai dari nol. Masa dimana aku merasakan banyak perubahan dalam diriku. Aku jadi bisa merasakan kembali keutuhan jiwa dan ragaku. Inilah perubahan yang aku tunggu-tunggu selama ini. 

Maka dari itu aku putuskan, biarlah aku yang mundur, tak apa. Agar kau bisa selalu menjalani kehidupan indah tanpa perlu mengingatku. Sungguh, aku baik-baik saja di sini. Dan aku lihat kamu pun amat bahagia di sana. Lanjutkan kebahagiaanmu, lanjutkan hidupmu. Aku hanya lah jeda dalam setiap hembusan nafasmu. Aku tidak bisa menemanimu seperti komitmenku yang dulu. Aku bahagia melihatmu bahagia. Teruskan lah kebahagiaanmu. Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu.





TJVZ
10.06.19


Read More