Selasa, 21 Juli 2020

Tentang Gap Year Bagian 2

Saya pikir kegagalan cukup terjadi satu kali saat SBMPTN pertama pasca kelulusan sekolah. Ternyata hidup punya cara yang keras untuk menunjukkan bahwa beberapa pelajaran memang tidak cukup diajarkan sekali saja. Di tahun kedua, saya mulai lebih serius mempersiapkan diri untuk kembali ikut ujian masuk. Setelah setahun saya menyelami pikiran saya sendiri dan berusaha menyembuhkan luka yang mengganggu, saya akhirnya pelan-pelan mulai memberikan kesempatan kepada diri saya untuk belajar kembali materi ujian masuk kuliah. 

Saya mulai belajar lebih terstruktur, membaca lebih banyak, dan mencoba menutup celah-celah lama yang dulu membuat saya terpeleset. Tapi nyatanya, usaha yang lebih keras tidak selalu menjamin hasil lebih baik. Kegagalan itu datang lagi. Dan yang kedua selalu terasa lebih pahit daripada yang pertama. Seolah-olah dunia ingin memastikan bahwa diri saya benar-benar diuji, bukan hanya dari segi kemampuan tapi dari ketahanan mental. Di titik ini, saya belajar bahwa kegagalan tidak hanya tentang kelolosan, tetapi tentang bagaimana perasaan seseorang saat berhadapan dengan batas dirinya sendiri. 

Saya mulai memetakan pola emosi saya setahun terakhir mulai dari rasa takut, ragu-ragu, cemas berlebihan, hingga rasa bersalah yang muncul secara otomatis setiap kali melihat orang lain melangkah lebih jauh dari saya. Di setiap titik-titik gelap itu, saya mulai memahami bahwa kegagalan bukanlah musuh. Ia lebih mirip cermin yang memperlihatkan versi utuh dari diri sendiri yang belum selesai diperbaiki. Dan kalau dipikir lagi, kegagalan berulang itulah yang akhirnya membuat saya lebih dewasa. Kalau saya lolos di percobaan pertama, mungkin saya tidak akan pernah belajar mengenali diri saya sedalam ini.

Tentang Gap Year Bagian 2 blog Zulfahmi Adam


Setelah melewati masa tenang yang panjang habis UTBK kedua kalinya, saya akhirnya untuk pertama kalinya memasuki lingkungan kampus dan merasakan suasananya. Gak hanya masuk, saya waktu itu pernah ikut tes ujian mandiri yang diadakan kampus ternama. Yaa walaupun hasilnya tidak lolos tapi setidaknya saya sudah merasakan sedikit aura kehidupan di kampus. Itung-itung juga sebagai motivasi tambahan untuk bahan bakar memasuki tahun kedua gap year saya yang dimulai september yang lalu. Saya belajar lagi, membuka buku yang sudah lama saya tinggalkan, dan memaksa otak saya bekerja setelah berbulan-bulan hidup tanpa tekanan akademik. Saat itu saya percaya, selama saya berusaha, saya pasti mendapat hasil. 

Tapi ternyata hidup tidak berjalan begitu lancar sesuai keinginan saya. Lima bulan yang lalu virus korona memasuki Indonesia dan tidak lama status pandemi diumumkan. Cobaan hidup yang menghantam rencana besar saya dengan cukup keras. Saya tidak menyangka bahwa semua persiapan yang saya lakukan tetap tidak cukup. Banyak aturan yang berubah dan ketiadaan materi TKA yang sangat krusial dalam menentukan jurusan kuliah membuat saya stres. Ada rasa malu pada diri sendiri, ada rasa tertinggal, ada rasa bahwa waktu saya terbuang sia-sia lagi. Tapi saya tetap mencobanya lagi dengan pilihan yang sangat bertolak belakang dengan apa yang selama ini saya inginkan. Kata bapak saya, "gapapa coba aja dulu jurusan yang tersedia, pokoknya jangan menggelapkan pikiran dengan terhalangnya satu pintu, InsyaAllah pintu lain akan terbuka."

Dengan beban yang lebih berat, dengan harapan yang lebih besar, dan dengan ketakutan akan kecewa untuk hasil ujian yang terakhir kalinya, saya akhirnya tetap mendaftar UTBK sesuai dengan arahan bapak saya karena saya sudah tidak tahu lagi harus bagaimana memutuskan jalan hidup. Saya sudah di tahap pasrah dan tidak berharap lagi akan terwujudnya mimpi. Tidak ada tangis, tidak ada drama, hanya perasaan kosong yang menggantung di dada. Saya mulai mempertanyakan banyak hal, apakah saya memang tidak cukup layak, atau apakah jalur ini memang bukan untuk saya? Ditambah aturan ujian yang berubah dan jurusan impian yang ternyata tidak bisa saya pilih, perjalanan ini jadi lebih menyakitkan daripada yang pernah saya bayangkan sebelumnya.



Kegagalan bertubi-tubi ini membuka mata saya lebar-lebar. Kesadaran diri selalu datang di saat-saat paling pasrah dalam hidup. Segalanya saya serahkan kepada Sang Pencipta. 

0 comments:

Posting Komentar

Silahkan komentar, bebas asal sopan dan relevan.