Selasa, 14 Juli 2020

Menanti Keajaiban

Akhir-akhir ini saya sering memikirkan satu pertanyaan sederhana yang entah kenapa terasa seperti sesuatu yang harus saya jawab sendiri, 

"apakah keajaiban itu ditunggu atau diciptakan?" 


Pertanyaan ini muncul karena saya sedang berada di fase menunggu pengumuman UTBK yang saya kira hampir mustahil saya bisa lolos, mengingat UTBK terakhir saya yang dikerjain ala kadarnya saja dengan penuh ketidakyakinan diri ditambah hanya TPS saja yang diujikan. Saya merasa hidup sering kali bergerak ke arah yang tidak saya pahami. Ada masa ketika saya merasa sudah melakukan semua yang saya bisa, namun hidup tetap saja diam di tempat. Di sisi lain, ada momen ketika aktivitas yang tidak pernah saya persiapkan matang tiba-tiba dilancarkan begitu saja, benar-benar gak ada hambatan yang berarti. Dari perasaan itulah saya mulai menyadari bahwa keajaiban punya sifat yang rumit. Tidak bisa dipaksa, tapi juga tidak mungkin datang jika saya tidak melakukan apa-apa.

Dalam pandangan modern yang sering saya baca di internet—baik di artikel pengembangan diri maupun pengalaman orang lain—keajaiban lebih sering dipahami sebagai sesuatu yang diciptakan. Bukan dalam arti ajaib seperti cerita dongeng, tapi dari kerja keras yang panjang, dari proses yang tidak terlihat, dari kebiasaan kecil yang terus diulang sampai akhirnya menghasilkan sesuatu yang besar. Banyak orang mengatakan bahwa keajaiban adalah titik ketika persiapan bertemu kesempatan. Dan semakin lama saya hidup, semakin terasa bahwa kalimat itu ada benarnya. Tidak ada perubahan besar tanpa usaha di belakangnya. Bahkan apa yang tampak seperti keberuntungan pun biasanya lahir dari seseorang yang sudah jauh-jauh hari menyiapkan dirinya.




Namun kalau saya jujur, pandangan itu hanya menjelaskan separuh dari kenyataan. Karena dalam hidup saya sendiri, ada hal-hal yang tidak pernah bisa saya klaim sebagai hasil “usaha”. Ada kejadian yang muncul begitu saja ketika saya sedang rapuh, atau ketika saya sudah merasa tidak punya tenaga lagi untuk mendorong hidup ke arah manapun. Hal-hal semacam itu sering kali membuat saya berpikir bahwa keajaiban juga punya sisi teologis—sisi yang jauh lebih sunyi, lebih personal, dan lebih sulit diterjemahkan dengan logika. Seolah ada kekuatan yang bekerja di luar diri saya, memberi jalan pada sesuatu yang tidak mungkin terjadi hanya dengan usaha manusia.

Saya tidak sedang berbicara soal mukjizat besar atau pengalaman religius yang dramatis. Saya sedang membicarakan momen kecil yang kadang datang di saat yang tepat seperti seseorang yang tiba-tiba memberi bantuan, kesempatan yang muncul tanpa saya duga, atau bahkan rasa tenang yang turun begitu saja setelah berminggu-minggu merasa sesak. Keajaiban dalam perspektif ini bukan hasil kerja saya. Ia lebih seperti campur tangan yang tidak terlihat—hadiah yang hadir bukan karena saya layak, tetapi karena saya membutuhkan.

Makin dipikir, saya merasa kedua pandangan ini tidak saling meniadakan. Justru keajaiban sering lahir dari pertemuan keduanya. Saya berusaha, tapi pada saat yang sama saya juga membuka ruang bagi hal-hal yang berada di luar kendali saya. Saya bergerak, tapi saya juga sadar bahwa tidak semua hasil bisa saya tentukan. Ada bagian dari hidup yang bisa saya bentuk, tapi ada juga bagian yang hanya bisa saya terima. Di tengah pertemuan itulah keajaiban biasanya muncul, misalnya saat usaha dan takdir berjalan beriringan, lalu menghasilkan sesuatu yang tidak pernah saya rencanakan tetapi sangat saya syukuri.

Pada akhirnya saya sampai pada kesimpulan yang cukup mengikat keduanya bahwa keajaiban itu ditunggu sekaligus diciptakan. Saya perlu menanam, tapi saya juga perlu menunggu tanah bekerja dengan caranya sendiri. Saya perlu mengambil langkah, tapi saya juga harus siap dengan hasil yang mungkin datangnya dari arah yang tidak terduga. Saya tidak bisa sepenuhnya mengandalkan usaha, tapi saya juga tidak bisa duduk diam dan berharap sesuatu turun dari langit. Hidup tidak bekerja seperti itu.

Mungkin itu sebabnya keajaiban selalu terasa istimewa. Ia bukan sekadar hadiah atau hasil. Ia adalah momen ketika saya menyadari bahwa saya tidak sendirian dalam mengarungi hidup, tetapi juga tidak sepenuhnya digerakkan oleh kekuatan luar. Ada peran saya, ada peran Tuhan, dan ada peran waktu. Semuanya saling terkait, saling mengisi, dan saling menunggu saat yang tepat. Keajaiban itu sendiri adalah pertemuan sunyi di antara semuanya. Sebuah momen ketika hidup terasa lebih lembut, lebih masuk akal, dan lebih mudah diterima. Dan saya rasa itu sudah cukup untuk disebut sebagai keajaiban.

0 comments:

Posting Komentar

Silahkan komentar, bebas asal sopan dan relevan.