Rabu, 22 Juli 2020

Tentang Gap Year Bagian 3

Hal yang paling melelahkan dari Gap Year bagi saya selain dari materi pelajarannya yang banyak yaitu pikiran yang selalu bermain dengan perasaan yang berkecamuk. Dan ini hal yang luput dari pertimbangan saya waktu memutuskan untuk mantap memilih masa jeda ini. Tidak ada seorang pun yang mengingatkan saya tentang hal ini sebelum saya benar-benar menjalaninya sendiri. Maka dari itu saya ingin berbagi aja di tulisan ketiga kali ini yang membahas sedikit gambaran betapa beratnya mengambil gap year bagi jiwa yang lemah dan rentan akan pencapaian orang lain. 

Kalau ada satu hal yang paling sukar saya lewati, itu adalah tekanan emosional yang datang bertubi-tubi. Ada rasa bersalah karena terus menyusahkan orang tua, rasa minder setiap melihat teman-teman mengunggah kehidupan kampus, dan rasa takut tidak pernah mencapai apa yang dicita-citakan. Belum lagi komentar-komentar kecil dari orang terdekat yang maksudnya mungkin baik, tapi tajamnya mengiris sampai ke inti jantung yang terdalam, 

"Kapan kuliah?", 
"Nggak takut ketinggalan?", 
"Kerja dulu aja gak sih kalau nggak masuk-masuk?" 

Menjalani gap year di negara yang memandang keterlambatan itu sebagai kekurangan bukan perkara mudah. Lingkungan hidup yang selalu kompetitif membuat jeda hidup seorang gap year terasa seperti kemunduran. Tangga sosial kita diukur dari seberapa cepat naik dibanding orang lain. Bukan dari seberapa matang kita melangkah. Dari sinilah saya belajar mengatur ulang cara saya memandang tekanan. Kalau saya terus mengikuti tempo orang lain, saya tidak akan pernah selesai berdamai dengan diri sendiri. Harus ada prioritas baru yang saya pilih sendiri, tanpa ikut arus ekspektasi masyarakat. Saya juga belajar menerima bahwa perasaan tidak baik-baik saja itu wajar. Tidak perlu ditutupi, tidak perlu dibuat seolah kuat setiap saat. Perjalanan sunyi ini pasti akan berat, dan saya berhak merasakannya apa adanya.

Tentang Gap Year Bagian 3 blog Zulfahmi Adam


Setelah UTBK terakhir selesai kurang lebih dua minggu yang lalu, saya pikir saya akan merasa lega. Tapi yang datang justru kekosongan hebat yang sulit dijelaskan. Rutinitas belajar yang menekan hilang begitu saja, dan saya merasa seperti tersesat di ruang yang terlalu luas. Hari-hari berjalan semakin tak menentu tanpa arah, dan saya seperti tidak tahu harus melakukan apa sekarang di tengah masa pembatasan ini. Orang jarang membicarakan fase ini, fase setelah perjuangan, ketika semua target sudah selesai tapi tidak ada kegiatan yang menggantikannya. Di titik inilah saya merasa jadi manusia yang paling bingung sedunia. 

Selama berbulan-bulan saya hidup dengan tekanan hebat, dan ketika tekanan itu hilang, saya pun kehilangan sesuatu yang membentuk keseharian saya. Beberapa hari terakhir saya sering rebahan berjam-jam tanpa melakukan apa pun. Bukan malas, hanya bingung aja. Pikiran saya seperti tidak punya tempat untuk dituju. Saya sadar bahwa tubuh saya butuh istirahat, tapi batin saya terus menerus mempertanyakan banyak hal. Keheningan itu membuat saya lagi-lagi melihat diri sendiri lebih jelas, kadang dengan cara yang paling tidak nyaman. Namun dari fase inilah lahir pelajaran penting bahwa tidak semua kekosongan itu buruk. Ada kekosongan yang justru memberi ruang bagi diri saya untuk memahami apa yang sebenarnya saya cari. 



Masa Gap Year selama dua tahun ini mengajarkan saya bahwa tidak ada tempat di Indonesia yang benar-benar aman dari perbandingan sosial. Orang-orang terbiasa menilai capaian berdasarkan garis waktu yang seragam, seakan semua hidup harus bergerak dalam tempo yang sama. Padahal kenyataannya tidak begitu. Saya akhirnya mulai mengerti bahwa hidup tidak selalu diisi dengan pencapaian. Terkadang, masa paling berharga adalah masa ketika kita berhenti dan mencoba memahami ulang arah hidup yang ingin kita tuju. Perenungan ini tidak pernah diajarkan orang tua mana pun di negara ini selain orang itu sendiri yang harus sadar dan mengalaminya secara langsung. 

Setelah semua peristiwa besar selama dua tahun terakhir ini saya hadapi, saya sampai di titik kesimpulan bahwa mengambil jalan berbeda menuntut mental yang lebih tebal. Kalau teman-teman lain bisa berjalan lurus, saya harus membuka jalur sendiri. Saya tidak pernah bilang masa jeda ini akan gampang. Rasanya sangat melelahkan, tetapi pelajaran inilah yang nantinya akan menjadi fondasi seluruh perjalanan saya berikutnya. 

Kalau ditanya apakah saya menyesal memutuskan untuk Gap Year? Saya akan jawab tidak sama sekali. Tapi jika ada kesempatan untuk mengulanginya lagi saya tidak akan bersedia. Cukup sekali ini saja di kehidupan yang singkat ini saya merasakan derita yang tak berujung. Karena Gap year bukan hanya ujian kemampuan belajar. Ini adalah ujian emosi dan keberanian menghadapi diri sendiri di tengah dunia yang terus menuntut untuk bergerak cepat. Itulah realita yang sebenarnya. 



Mohon diingat baik-baik untuk seluruh pelajar di mana pun kalian berada. 

0 comments:

Posting Komentar

Silahkan komentar, bebas asal sopan dan relevan.