Selamat malam sobat blogger!
Hari ini saya ingin bercerita tentang ujian yang sudah saya tunggu-tunggu tahun ini, apalagi kalau bukan UTBK 2020. Ini adalah UTBK terakhir yang akan saya laksanakan selama menjadi warga negara Republik Indonesia. Sungguh sangat amat terasa berbeda dengan UTBK yang pernah saya lakukan. UTBK tahun 2020 adalah salah suatu pengalaman yang cukup berkesan bagi saya, banyak sekali kejutan yang saya dapatkan hahahaha. Kenapa bisa saya katakan seperti itu? Karena saya benar-benar tidak menyangka akan seribet ini persiapannya. Mulai dari pendaftaran sampai saat UTBK nya berlangsung itu semua sangat menyusahkan. Dalam artian bahwa saya lebih fokus ke hal-hal teknis daripada belajar itu sendiri. Oke dari pada kelamaan langsung aja disimak ya sob.
Jadi begini ceritanya.. Mulai dari awal daftar dulu kali yak. Registrasi akun LTMPT kan dibuka februari, saya baru mendaftarkan diri pada tanggal 17. Lalu selang seminggu kemudian virus korona mulai menyerang seluruh dunia. Awal bulan maret, virus ini mulai terdeteksi di Indonesia. Dengan adanya beberapa pasien yang dinyatakan positif di daerah Depok. Seluruh lapisan masyarakat pun panik menyikapi adanya virus ini karena penyebarannya yang sangat masif. Saat itulah keresahan saya sebagai pejuang SBMPTN mulai muncul. Saya mulai bertanya-tanya, apakah ada kemungkinan untuk ditunda ujian masuk perguruan tinggi tahun ini? Mengingat tinggal sebulan lagi pelaksanaan UTBK berlangsung. Dan benar saja, sebulan kemudian tepatnya pada tanggal 6 April, Lembaga penyelenggara SBMPTN yaitu LTMPT, mengeluarkan surat edaran yang isinya :
- Pengunduran waktu SBMPTN sampai bulan Juli
- Sistem SBMPTN menjadi sekali tes
- Materi tes yang diujikan HANYA Tes Potensi Skolastik (TPS)
Apa aja yang bikin greget sekarang? Okelah pengunduran waktu ujian yang lama memberi saya kesempatan belajar lebih banyak lagi. Tapi sistem yang berubah dari yang awalnya sistem ujian dilakukan sekali menjadi dua kali lalu menjadi sekali lagi, hingga penghapusan materi Tes Potensial Akademik (TKA) ini tentu bikin saya agak syok. Terlalu beresiko. Sampai-sampai ada guyon yang kurang lebih seperti ini, "Apakah nanti anak IPS bisa masuk kedokteran?" Saking bingungnya para pejuang PTN dikasih info seperti ini. Banyak teman-teman seperjuangan di media sosial yang sambat. Bahkan hingga mencapai trending topic Indonesia di Twitter. Otomatis persaingannya makin tinggi dong karena banyak camaba yang bisa seenaknya lintas jurusan, apalagi saya dari SMK. Peluang untuk bisa lolos itu sangatlah kecil. Mau gak mau strategi belajar harus diubah, begitu pula strategi memilih universitas. Hmm.. Makin-makin lah saya bingung menyusun kembali rencana besar tahun ini jikalau memang takdir saya gak bisa kuliah.
H-33 UTBK. Tibalah pendaftaran SBMPTN di awal juni. Lagi-lagi saya dibuat galau oleh LTMPT. Setelah keputusan kontroversinya yang menghapus materi TKA karena adanya pandemi virus korona, ternyata eh ternyata.. pas daftar SBMPTN nya gak bisa seenaknya lintas jurusan! Sial banget nasibku ini :( Jadi memang benar ada syarat dan ketentuan masing-masing universitas. Kita gak bisa 'lompat' jurusan secara ekstrem kayak tahun kemarin karena ada syarat SMTA nya. Itulah mengapa LTMPT berani menghapus materi TKA untuk UTBK tahun. Bisa dibilang Ini kayak semi-SBMPTN. Sebenarnya kita tetap boleh lintas jurusan JIKA memang diizinkan oleh program studi yang akan dipilih, itulah yang saya maksud syarat SMTA. Dan kabar buruknya lagi jurusan yang saya inginkan itu ternyata gak bisa menerima anak SMK!! Saya bingung dah karena gak bisa milih jurusan yang saya idam-idamkan sejak lama yaitu teknologi pangan. Pas dicari itu benar-benar gak tersedia jurusan tersebut. Di mana pun universitasnya gak ada yang mau menerima anak SMK. Rasa pesimis makin menjadi-jadi. Saya sampai sudah gak menyentuh materi UTBK lagi semenjak awal juni karena down banget mengetahui kenyataan pahit ini. Saya sempat merenung beberapa hari sebelum memutuskan apakah saya harus lanjut menyelesaikan ambisi masuk PTN atau udahan aja. Pasrah. Berhenti sampai di sini perjuangan saya. "Jika saya memang tidak ditakdirkan untuk berkuliah yaa mau gimana lagi. Mungkin saya memang harus terus bekerja agar membantu meringankan beban orang tua" Gitu pikir saya waktu itu.
Setelah bergumul sekitar empat hari, melihat anaknya yang nampak tidak bersemangat menjalani hari-hari. Akhirnya bapak saya turun tangan, datang dan menghampiri saya merekomendasikan dua jurusan alternatif yang masih seirama dengan teknologi pangan dan masih satu rumpun dengan pertanian—karena ini memang keinginan saya yaitu di bidang pengelolaan hasil pertanian. Jurusan tersebut adalah agroekoteknologi atau agribisnis. Saya langsung cari tahu tuh berbagai info tentang kedua jurusan itu. Apa saja yang akan dipelajari di jurusan itu, prospek pekerjaannya, dan cerita pengalaman orang-orang yang pernah merasakan jurusan tersebut. Setelah saya cari tahu tentang kedua jurusan itu, ternyata menarik juga. Saya merasa tertantang dengan berbagai mata kuliah yang ditawarkan. "Kayaknya mirip nih" kata saya. Yaudah.. Lantas pilihan saya jatuh kepada agribisnis. Alasannya? Karena menurut apa yang saya baca, jurusan ini lebih menekankan pengelolaan bisnis di bidang pertanian. Kalau agroekoteknologi itu lebih ke pengelolaan tanamannya dari biji sampai berbuah. Nah.. Setelah tahu jurusannya, baru saya cari tahu universitasnya yang menerima lulusan SMK (karena ada syarat SMTA) . Pilihannya cuma ada tiga, yaitu:
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa - Agribisnis
Universitas Diponegoro - Agribisnis
Universitas Siliwangi - agribisnis
Waaaw... Ini adalah pilihan yang cukup sulit. Ada dua universitas yang baru saya dengar alias underrated dan satu universitas ternama. Karena ini adalah SBMPTN terakhir saya, maka saya harus benar-benar realistis dalam memilih universitas. Saya berusaha menyakinkan diri ini agar tidak lagi mengikuti ego ingin masuk universitas top, yang penting judulnya PTN. Di mana pun tempatnya, kalau memang itu memiliki peluang besar untuk saya bisa lolos maka saya akan pilih. Jadi saya memutuskan untuk mendaftar di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa dengan pilihan 1 Agribisnis dan pilihan 2 Universitas Siliwangi dengan jurusan yang sama. Saya baru tahu ada nama universitas-universitas tersebut pada saat mendaftar. Saya lihat-lihat juga persaingannya gak terlalu ketat, jadi ini adalah peluang saya untuk dapat lolos. Karena saya tak ingin mengulang kesalahan saya karena terlalu mengikuti idealisme tanpa memikirkan medan perang dan persaingan yang sangat ketat di dua SBMPTN sebelumnya.
H-7 UTBK. Karena masih ada PSBB, jadi pergerakan antar daerah masih dibatasi, sedangkan saya harus nyebrang kabupaten untuk bisa ujian. Maka dari itu harus membawa surat keterangan sehat dan surat keterangan dari puskesmas yang menyatakan saya bebas rapid test. Yaudah akhirnya saya ke puskesmas, nah awalnya puskesmas tidak mau mengeluarkan surat tersebut karena patuh sama pemerintah soal pembatasan. Saya cukup dipersulit awalnya hingga harus beberapa kali bolak-balik ke puskesmas untuk memastikan keaslian mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Saya sampe bikin meme untuk meredakan ketegangan karena adanya peraturan yang ketat.
Okey tibalah pada hari UTBK. Saya mendapatkan jatah test di hari pertama pelaksanaan UTBK yaitu tanggal 5 juli sesi 2, pengalaman saya selama UTBK terakhir ini sangat unik, Karena UTBK di tahun 2020 ini dalam keadaan pandemi dan pihak LTMPT menyarankan untuk memilih lokasi ujian terdekat, jadi saya memilih ujian di UNSIKA. Para peserta harus menggunakan alat pelindung diri pribadi yang sudah diberi tahu sebelumnya yang termasuk ke dalam tata tertib UTBK. Ada masker medis, sarung tangan karet gitu, face shield, dan hand sanitizer. Sebelum masuk ruangan pemeriksaan suhu dan surat keterangan sehat dari dokter, ketika suhu saya di cek, lebih dari 37° dan suhu yang ditentukan dibawah 37°. Jadi saya duduk dulu sambil menunggu suhu saya turun dan melihat teman-teman sudah mulai masuk ruangan.
Di dalam ruangan diberikan jarak yang lebih jauh antar peserta agar tidak ada penularan dan praktik menyontek tentunya. Ujiannya berlangsung sekitar dua jam aja. Karena hanya materi TPS aja yang diujika. Reaksi awal saya adalah.. Astaghfirullah... Ada soal yang bahasanya itu sangat aneh. Kata orang-orang mah bahasa panda legendaris yang sangat mengandalkan logika. Soal ini muncul dan sempat menyebabkan otak saya mengalami konslet seketika. Saya mencoba tenang, saya pun memilih untuk diam sejenak. Saya jawab sebisanya aja, mengikuti nalar saya saat itu. Dua jam gak terasa banget. Tiba-tiba UTBK udah selesai aja. Setelah itu saya hanya bisa pasrah. Sisanya tinggal berdoa aja yang banyak. Saya minta didoakan oleh keluarga, nenek, teman-teman, dan beberapa warganet yang saya temui dunia maya.
Ini foto saya pas banget selesai UTBK di UNSIKA menggunakan alat pelindung diri pribadi
Yak dapat disimpulkan bahwa UTBK terakhir saya ini sangat rollercoaster alias banyak naik turunnya. Kesulitan tahun ini sih lebih kepada aturan masa Covid-19 yang sangat ketat sehingga membuat esensi ujiannya bagi saya gak terlalu serius. Bisa dibilang terpecah lah fokusnya. Saya gak terlalu menikmati banget ujian terakhir ini. Tapi saya tetap berusaha sebaik mungkin. Saya sudah di tahap nothing to lose alias pasrah aja udah tidak akan terbebani lagi oleh kegagalan. Jika saya tidak lulus lagi yaudah gapapa gitu. Dengan adanya pergantian aturan, pergantian mekanisme, pengunduran, penyesuaian jadwal ujian, penyebaran info hoax yang ternyata fakta, wah banyak dah. Itu semua adalah hal-hal yang saya alami sebagai pejuang UTBK 2020.
Jadi, yaa begitulah pengalaman saya mengerjakan UTBK untuk yang terakhir kalinya. Panjang juga ya kalau dilihat-lihat. Mohon maaf jika kurang jelas dan ada kesalahan ketik. Bagi yang sanggup membacanya hingga akhir tanpa skip, saya ucapkan terima kasih banyak. Kemarin benar-benar hari yang penuh ujian banget. Saya berharap perjuangan saya ini membuahkan hasil yang menggembirakan pada pengumuman UTBK tanggal 20 Agustus 2020. Saya berdoa, semoga saya bisa lolos SBMPTN jalur pertama dan dapat membahagiakan orang tua saya. Aamiin..



0 comments:
Posting Komentar
Silahkan komentar, bebas asal sopan dan relevan.