Ada satu masa dalam hidup di mana saya benar-benar merasa dunia tidak berpihak pada saya. Bukan karena saya malas, bukan karena saya tidak berusaha. Tapi karena setiap langkah yang saya ambil selalu terasa seperti ada tembok tebal yang tak terlihat. Sukar sekali untuk ditembus. Sudah dua kali saya mencoba peruntungan di ujian masuk perguruan tinggi negeri. Dua kali pula saya menyiapkan diri, menulis mimpi, menahan air mata, lalu menelan kenyataan. Dua kali berharap, dua kali jatuh, tapi entah kenapa… saya masih di sini, berdiri di antara puing-puing mimpi yang belum terwujud. Setiap tahun saya mencoba memperbaiki diri. Mengulang bab yang sama, membuka lembar soal yang berbeda, berharap kali ini Tuhan sedikit lebih lembut. Tapi kenyataannya, dunia ini sering kali tak punya belas kasih terhadap mereka yang terlalu berharap.
Saya anggap masa sulit itu terjadi lagi saat ini juga. Sistem ujian berubah setiap tahun, peluang makin sempit, dan di antara ratusan ribu nama, nama saya selalu saja tak tercantum. Memang saya hanyalah pejuang gap year. Bergerak dalam senyap, tapi tak pernah terlihat jerih payahnya. Mungkin sebutan itu dianggap hal yang biasa, tapi bagi saya sebutan itu mengandung begitu banyak cerita yang tak pernah sepenuhnya dimengerti orang lain. Ada kalanya saya berpikir, mungkin semesta benar-benar tidak ingin merestui jalan ini. Apalagi ketika pandemi datang. Waktu di mana semua rencana besar saya terasa tak berguna. Buyar begitu saja tanpa ada yang tersisa. Satu-satunya hal yang saya lakukan hanya pasrah dan berserah diri sama Yang Maha Kuasa.
Aturan terbaru LTMPT yang baru rilis kemarin semakin memperberat langkah saya untuk bisa kuliah. Setelah menghilangkan materi TKA (Tes Kompetensi Akademik), kali ini peserta tidak bisa seenaknya memilih jurusan yang diincar. Ada syarat khusus untuk UTBK tahun ini yaitu sekolah asal. Memang bisa dibilang saya ini 'lompat jurusan' karena gak sesuai dengan rumpun awal saya yaitu ilmu sosial. Saat ingin daftar SBMPTN, saya mencari jurusan impian saya itu benar-benar tidak tersedia. Di mana pun universitasnya gak ada yang mau menerima saya sebagai anak SMK. Rasa pesimis makin menjadi-jadi.
Saya sempat ingin menyerah. Sungguh, saya pernah sampai di titik di mana saya tak lagi ingin membuka buku, tak lagi ingin menatap jadwal ujian, hanya bengong dan meratapi nasib buruk saya yang tak bisa dihindari. Dan itu terjadi lagi saat ini juga. Tepat di H-33 menjelang UTBK terakhir saya. Saya merasa hal ini seperti sebuah siklus mematikan bagi seorang pejuang kampus negeri. Karena saya sempat berpikir "apa gunanya berjuang jika hasilnya selalu sama?" Saya sudah mencoba semuanya. Mulai dari ikut bimbingan online, menonton video pembelajaran, dan membuat catatan materi. Tapi nyatanya, gagal tidak pernah bosan mengetuk pintu hidup saya. Saya selalu bertanya-tanya, keajaiban apa yang akan saya dapatkan sampai-sampai harus merasakan gagal seberat ini?
Satu dua hari berselang saya berpikir mencari jalan keluar. Saya jadi teringat ada pepatah lama yang kini jadi penyemangat saya baru-baru ini karena salah satu idola saya, sang raja dangdut Rhoma Irama kebetulan banget merilis lagu motivasi di awal tahun ini yang berjudul "Banyak jalan menuju Roma". Dalam lirik lagunya ada kata-kata yang mengharuskan para pejuang hidup untuk "coba lagi dan coba lagi". Dan seketika saya sadar, saya tidak harus berfokus pada satu pintu saja. Saya percaya, ada banyak jalan menuju mimpi-mimpi saya. meski jalannya tidak lurus, bahkan berliku, penuh batu, atau mungkin harus saya buat sendiri dari tanah dan darah.
Maka dari itu, untuk kesempatan yang terakhir kalinya ini saya mencoba untuk realistis total. Saya benar-benar tidak mengikuti keinginan buta tapi memilih apa yang tersedia. Saya akhirnya memutuskan untuk tetap ikut UTBK tapi dengan pilihan jurusan yang sangat berbeda dengan apa yang saya impikan. Saya berusaha meyakinkan diri berkali-kali, "udah gapapa, mungkin ini jalan terbaik buatku". Sambil berharap keajaiban akan datang. Jadi sekarang, tinggal satu ujian lagi. Peluang terakhir. Tapi kali ini saya sudah tidak berharap banyak. Saya hanya ingin menjalaninya tanpa beban, tanpa ekspektasi. Kalau lulus, saya bersyukur. Kalau tidak, ya sudah. Saya sudah sampai di tahap "nothing to lose". Karena saya tahu, mungkin Tuhan memang sedang menyiapkan jalan terbaik yang belum saya lihat sekarang.
Sebagai catatan aja, saya menulis ini bukan untuk mengeluh, tapi hanya untuk menyalurkan keresahan dan mengingatkan diri sendiri bahwa jalan yang panjang ini bukanlah kutukan, melainkan proses pembentukan diri agar menjadi pribadi yang lebih baik. Saya yakin bahwa Tuhan tidak pernah benar-benar menutup semua pintu kesuksesan. Sang Pencipta hanya ingin saya mengetuk pintu yang lain jikalau jalan ini memang tidak pernah terbuka.

0 comments:
Posting Komentar
Silahkan komentar, bebas asal sopan dan relevan.