Sudah hampir dua minggu ini jadwal saya cukup menguras otak. Rasanya kepala ini mulai panas, perih, dan seolah terbakar oleh materi kuliah agribisnis yang tidak ada habisnya. Hari ini adalah puncaknya. Sabtu yang seharusnya menjadi hari tenang, justru menjadi penutup rangkaian Ujian Tengah Semester atau UTS pertama saya di bangku perkuliahan. Ternyata, kenyataan menjadi mahasiswa di tengah pandemi jauh lebih menguras energi daripada yang saya bayangkan sebelumnya.
Jujur saja, saya mengalami gegar budaya yang cukup hebat. Sistem ujian di kampus sangat jauh berbeda dengan apa yang saya alami saat masih sekolah dulu—saat ujian terasa seragam dan linear. Sekarang, setiap dosen memiliki "kerajaan" dan aturannya masing-masing. Ada yang gak mau ribet dengan hanya mengunggah soal baik esai maupun pilihan ganda di situs e-learning kampus dan bisa langsung dikerjain di situs tersebut tanpa ditulis atau dalam pengawasan online tapi tetap dengan waktu terbatas dan jam yang telah ditentukan. Saya sempat merasa terpukau dengan sistem ujian pilihan ganda di situs E-learning kampus. Rasanya sangat modern, keren, dan praktis karena nilai bisa langsung keluar atau setidaknya prosesnya efisien meski dibatasi waktu yang sangat ketat.
Ada dosen juga yang membolehkan buka buku atau open book. Awalnya terdengar menyenangkan. Saya bisa membuka catatan, mencari jawaban, bahkan sesekali mengandalkan internet. Tapi ternyata tidak sesederhana itu. Waktu yang diberikan tetap terbatas dan pertanyaan yang diberikan justru jauh lebih mematikan karena sifatnya murni analisis mendalam yang menuntut pemahaman bukan sekadar menjawab. Saya jadi sempat panik sendiri, sibuk membuka ini itu, sampai lupa berpikir jernih.
Sebaliknya, ada juga yang benar-benar close book. dengan pengawasan ketat melalui kamera zoom atau gmeet yang harus menyala sepanjang waktu. Seolah-olah pandemi tidak mengubah toleransi apa pun bagi mereka. Metode pengumpulannya pun sangat beragam dan bisa dibilang cukup melelahkan. Ada yang meminta jawaban diketik rapi, ada yang mengharuskan tulis tangan di kertas folio lalu dipindai menjadi PDF, kemudian diunggah ke Google Drive atau portal situs kampus. Oke masih bisa diatasi. Lalu ada ujian lisan yang membuat saya harus berbicara langsung di depan layar, menjawab pertanyaan secara spontan tanpa waktu berpikir panjang. Rasanya canggung. Tidak ada kontak mata yang jelas, tidak ada suasana yang bisa membantu saya merasa tenang. Beneran menguji daya pikir saya sebagai mahasiswa baru.
Nahh, di ujian yang lain, saya juga bertemu dengan tipe dosen yang sangat kaku dan konservatif. Bayangkan saja, di tengah situasi serba digital seperti sekarang, ada dosen yang mewajibkan jawaban tetap ditulis tangan lalu dikirimkan dalam bentuk fisiknya ke rumah beliau. Beliau memberikan alamat rumahnya dan bagi mahasiswa yang tinggal jauh, diinstruksikan untuk menggunakan jasa ekspedisi atau paket.
Wah ini benar-benar sebuah kejutan yang tak terduga bagi saya. Mau gak mau saya harus menulis jawaban di kertas folio, seperti ujian biasa, lalu mengirimkannya lewat paket. Jujur saja, ini membuat saya cukup syok. Di tengah kondisi seperti ini, ketika semua orang berusaha beradaptasi dengan teknologi, masih ada sistem yang terasa sangat tradisional. Bahkan untuk sekadar mengikuti ujian, saya harus memikirkan biaya pengiriman. Jawaban saya belum tentu benar, tapi saya sudah harus mengeluarkan modal dan tenaga ekstra hanya untuk mengirim lembar jawaban tersebut. Saya merasa ini baru ujian kuliah yang sesungguhnya yang menguji kesabaran dan kemampuan saya untuk menghadapi persoalan rumit dari awal. Saya jadi makin tidak sabar ingin masuk kuliah offline agar praktik seperti ini bisa dihentikan segera.
Selama menjalani UTS ini, saya menyadari bahwa bertahan di dunia perkuliahan ternyata jauh lebih sulit daripada perjuangan mengejar PTN dahulu. Dinamika pertemanannya berbeda, terasa lebih individualis mungkin karena keterbatasan jarak. Tugas-tugas yang diberikan mungkin tidak sebanyak saat sekolah, tetapi tingkat stres yang dihasilkan jauh berkali-kali lipat. Belum lagi urusan dosen yang terkadang sangat pelit memberikan nilai ujian, padahal saya merasa sudah menjawab dengan baik dan performa saya sudah cukup bagus.
Kondisi ini perlahan membangkitkan jiwa perfeksionis lagi dalam diri saya untuk mengontrol pikiran secara berlebihan. Saya selalu merasa harus sempurna dalam setiap hal, baik itu dalam mengerjakan tugas maupun memahami materi kuliah. Saya tidak tenang jika ada satu poin pun yang terlewat atau terlihat kurang maksimal. Namun, ambisi untuk menjadi sempurna ini justru menjadi bumerang. Manajemen waktu saya akhir-akhir ini jadi berantakan banget dua bulan terakhir. Berada seharian di rumah berarti peran saya terbagi dua yaitu sebagai mahasiswa yang harus belajar dan mengejar nilai, serta sebagai anak yang tidak bisa meninggalkan kewajiban membantu orang tua.
Saya sering kali merasa keteteran menyeimbangkan kedua hal ini. Membantu orang tua adalah prioritas yang tidak mungkin saya abaikan, tetapi di saat yang sama, tugas-tugas kuliah terus menumpuk menanti sentuhan perfeksionisme saya. Hasilnya adalah rasa lelah yang luar biasa, saya burnout, dan stres yang cukup berat. Layar hp dan laptop hampir setiap hari tidak absen untuk terus menyala, sementara pikiran saya terus membakar energi yang tersisa.
Kesempurnaan yang saya kejar seringkali terasa seperti bayangan yang menjauh saat saya mencoba mendekat. Menjalani UTS online ini menyadarkan saya bahwa kemampuan saya sesungguhnya sedang ditempa melalui fase ketidakteraturan ini. Saya diuji untuk tetap tenang di tengah persoalan yang rumit, dari hal teknis pengiriman ujian hingga analisis soal yang memutar otak. Semua ini terasa seperti belum terbiasa menemukan bentuknya. Saya masih berusaha menyesuaikan diri dengan ritme yang berubah begitu cepat. Dari fase gap year yang tampak bebas tanpa jadwal yang jelas, sekarang semuanya serba teratur dan mengikat. Ujian pertama ini tidak memberi rasa lega seperti yang dulu sering saya bayangkan. Tidak ada perasaan selesai yang benar-benar tuntas. Justru yang ada adalah sisa-sisa cemas yang masih tertinggal. Tentang jawaban yang saya ragukan, tentang sistem yang belum sepenuhnya saya pahami, dan tentang diri saya sendiri yang masih sering terasa tidak cukup.
Mungkin ini memang fase yang harus dilewati. Fase di mana semuanya terasa asing, serba tidak pasti, dan cukup melelahkan. Bisa dibilang saya masih berada di tengah proses menyesuaikan diri dengan dunia yang benar-benar baru.
Dan sepertinya, setelah tulisan ini selesai pun, semuanya tidak langsung menjadi lebih mudah. Besok atau lusa, mungkin akan ada kebingungan lain yang datang lagi, dengan bentuk yang berbeda. Saya masih akan duduk di depan layar yang sama, dengan perasaan yang kurang lebih serupa.
Saya berusaha meyakinkan diri bahwa jika saya mampu melewati fase transisi yang berat ini, maka saya adalah pribadi yang kuat. Kemampuan saya sebenarnya jauh lebih besar dari keraguan yang saat ini menghantui. Untuk sekarang, saya akan menyudahi cerita ini, mengistirahatkan mata yang mulai memerah, dan mensyukuri bahwa satu tahap ujian telah terlewati.







