Sabtu, 19 Desember 2020

The Mandalorian Season 2: Hadiah untuk Penggemar Setia

Halo sobat blogger di mana pun kalian berada. Semoga semuanya berjalan dengan baik, meskipun mungkin masih diisi dengan rutinitas yang itu-itu saja. Akhir-akhir ini, saya juga tidak melakukan banyak hal yang benar-benar berbeda selain mengerjakan tugas kuliah. Tapi ada satu hal yang cukup saya tunggu setiap minggunya, dan akhirnya sampai juga di titik akhir.

Yak apalagi kalau bukan series The Mandalorian yang baru saja mengakhiri season 2 nya dengan luar biasa hebat. Fans rasanya dimanjakan dengan beragam fans service yang tak terduga. Jujur saja, rasanya masih sulit untuk dicerna dengan tenang. Karena episode final ini seru banget. Bahkan mungkin lebih dari sekadar keren. Fantastis. 


Sejak pertama tayang di akhir Oktober, saya mengikuti season ini dengan cukup santai. Tidak terlalu banyak ekspektasi di awal, hanya ingin melanjutkan perjalanan yang sebelumnya sudah terasa menarik. Tapi ternyata, semakin ke sini, justru semakin terasa bahwa season ini membawa sesuatu yang jauh lebih besar dari yang saya bayangkan. Sebagai seseorang yang sudah cukup lama menyukai Star Wars, saya masuk ke season ini dengan perasaan yang cukup sederhana. Ingin melanjutkan cerita season pertama yang cukup menggantung penuh misteri yaitu adegan Moff Gideon yang memegang darksaber. Saya jadi penasaran dan ingin melihat ke mana arah perjalanan karakter ini dibawa. Tidak ada ekspektasi berlebihan di awal. Tapi pelan-pelan, setiap episode seperti memberi alasan baru untuk tetap bertahan dan menunggu minggu berikutnya.


WARNING! Spoiler alert! ⚠️ 

Season kedua ini terasa lebih luas dibanding sebelumnya. Dunia yang ditampilkan tidak lagi terasa sempit. Perjalanan The Mandalorian membawa saya ke lebih banyak tempat, lebih banyak konflik, dan tentu saja, lebih banyak karakter yang sudah lama saya kenal. Dan di situlah salah satu kekuatan terbesarnya mulai terasa. Kemunculan Bo-Katan Kryze dan kelompok kecilnya di awal season membawa konflik politik Mandalore ke permukaan dan memperluas budayanya. 

Lalu ada Boba Fett di pertengahan season menjadi salah satu momen yang sangat mengejutkan. Sosok yang selama ini hanya dikenal sebagai karakter ikonik dari masa lalu, tiba-tiba kembali dengan cara yang tidak dibuat berlebihan, tapi langsung terasa dampaknya. Fennec Shand juga hadir bersamanya yang menambah dinamika baru dalam cerita. Interaksinya dengan sang Mandalorian memberikan warna baru, seolah mempertemukan dua dunia yang berbeda dalam satu perjalanan yang sama.


Tidak berhenti di situ, kehadiran Ahsoka Tano juga benar-benar membawa nuansa yang berbeda. Ada kedalaman emosional yang terasa, terutama bagi saya yang sudah mengikuti perjalanan karakter ini sebelumnya. Cara ia hadir, cara ia berbicara, ketenangannya sebagai Jedi yang sudah jauh lebih dewasa dibanding series animasinya. Kehadiran semua karakter familiar terasa seperti pengingat bahwa dunia Star Wars tidak hanya tentang perang besar skala galaksi saja, tapi juga tentang perjalanan individu yang panjang dan tidak selalu mudah.


Di titik itu, saya mulai menyadari bahwa season ini memang tidak ragu untuk memberikan apa yang selama ini diharapkan para penggemar. Tapi yang membuatnya tetap terasa kuat adalah bagaimana semua itu dibungkus dengan penceritaan yang tetap terjaga. Tidak terasa dipaksakan, tidak juga sekadar menjadi kumpulan momen nostalgia. Setiap episode seperti punya tujuan. Tidak selalu besar, tapi cukup untuk membuat perjalanan ini terasa utuh dan enak diikuti. Semua karakter ini tidak hanya hadir sebagai tempelan, tapi benar-benar punya peran yang terasa penting dalam membangun arah cerita. 


Dan kemudian, saya sampai di episode terakhir yang tayang perdana hari ini dan saya langsung tonton juga tanpa penundaan yang lama. Ada rasa semangat yang tinggi menyaksikan klimaks season 2 yang lebih besar dari biasanya, tapi juga ada harapan yang tidak terlalu berani saya ucapkan. Karena terkadang, harapan seperti itu justru lebih baik disimpan. Episode itu berjalan seperti biasa di awal. Tegang, penuh konflik, tapi masih dalam jalur yang bisa diprediksi. Sampai akhirnya, momen itu datang....... 

⚠️ WARNING! SPOILER! ⚠️ 


Sebuah kehadiran yang tidak saya sangka akan muncul di situ. Ada momen keheningan di kapal Moff Gideon saat ada sesuatu yang tiba-tiba masuk 

Sebuah kapal X-Wing

Seorang pahlawan perang 

Seorang Jedi terakhir 

Satu-satunya.. 

Itu diaaaa

LUKE SKYWALKER!


Wooww. Saya sempat terdiam beberapa saat. Bukan karena tidak percaya, tapi karena tidak benar-benar siap. Cara kemunculannya, cara semuanya dibangun menuju titik itu, terasa seperti sesuatu yang sudah lama dinantikan tanpa benar-benar disadari. Gak nyangka banget series ini bisa kehadiran Luke Skywalker muda yang dalam kondisi sangat prima. Bisa melawan robot dark trooper dengan lincah dan terampil. 

Bukan hanya sekadar kejutan, tapi ini seperti puncak dari semua yang sudah dibangun sejak awal. Adegan itu tidak hanya memberikan kepuasan sebagai penonton, tapi juga sebagai penggemar lama. Ada rasa bahwa sesuatu yang dulu terasa jauh, kini hadir dengan cara yang lebih dekat, lebih nyata. Dan di sinilah saya benar-benar merasakan euforia yang sulit dijelaskan. Saya sangat kegirangan sendiri menyaksikannya. Ini adalah momen besar dalam sejarah series Star Wars, adegan ini sangat menyentuh jiwa anak-anak saya yang lebih dalam. Sesuatu yang sudah lama saya rasakan sejak pertama kali mengenal dunia Star Wars.


Secara keseluruhan, Season kedua memang penuh dengan fan service. Tapi bukan jenis yang terasa hadir tanpa arti. Semua kemunculan karakter, semua momen besar, tetap punya tempat dalam cerita. Semua kejutan yang dihidangkan dalam season ini membuat penonton bersorak, serta memperkuat basis cerita yang sedang dibangun semakin lebar dan kokoh. Saya kasih nilai 9 dari 10 untuk The Mandalorian season 2 ini. 

Sebagai penonton, saya merasa benar-benar diperhatikan. Terasa dimanjakan secara pas dan diberi sesuatu yang memang pantas untuk dinikmati setelah mengikuti perjalanan panjang ini. Dengan adanya Disney Plus, waralaba star wars jadi punya wadah apresiasi resmi yang bisa saya tonton terus-menerus berulang kali hingga menamati semua seriesnya.

Dan ketika semuanya selesai, yang tertinggal bukan hanya tentang kejutan di akhir. Tapi tentang bagaimana satu season bisa membawa saya kembali merasakan apa yang dulu membuat saya menyukai Star Wars. Sebuah perasaan bahagia sederhana yang nikmat.

Di balik kehebohan semua cerita besar itu, selalu ada ruang untuk kembali bagi saya merasa terhubung dengan galaksi yang sangat jauh.



It's beautiful. 
Read More

Sabtu, 07 November 2020

Ingin Sempurna di Ujian Pertama

Sudah hampir dua minggu ini jadwal saya cukup menguras otak. Rasanya kepala ini mulai panas, perih, dan seolah terbakar oleh materi kuliah agribisnis yang tidak ada habisnya. Hari ini adalah puncaknya. Sabtu yang seharusnya menjadi hari tenang, justru menjadi penutup rangkaian Ujian Tengah Semester atau UTS pertama saya di bangku perkuliahan. Ternyata, kenyataan menjadi mahasiswa di tengah pandemi jauh lebih menguras energi daripada yang saya bayangkan sebelumnya.

Jujur saja, saya mengalami gegar budaya yang cukup hebat. Sistem ujian di kampus sangat jauh berbeda dengan apa yang saya alami saat masih sekolah dulu—saat ujian terasa seragam dan linear. Sekarang, setiap dosen memiliki "kerajaan" dan aturannya masing-masing. Ada yang gak mau ribet dengan hanya mengunggah soal baik esai maupun pilihan ganda di situs e-learning kampus dan bisa langsung dikerjain di situs tersebut tanpa ditulis atau dalam pengawasan online tapi tetap dengan waktu terbatas dan jam yang telah ditentukan. Saya sempat merasa terpukau dengan sistem ujian pilihan ganda di situs E-learning kampus. Rasanya sangat modern, keren, dan praktis karena nilai bisa langsung keluar atau setidaknya prosesnya efisien meski dibatasi waktu yang sangat ketat. 

Ada dosen juga yang membolehkan buka buku atau open book. Awalnya terdengar menyenangkan. Saya bisa membuka catatan, mencari jawaban, bahkan sesekali mengandalkan internet. Tapi ternyata tidak sesederhana itu. Waktu yang diberikan tetap terbatas dan pertanyaan yang diberikan justru jauh lebih mematikan karena sifatnya murni analisis mendalam yang menuntut pemahaman bukan sekadar menjawab. Saya jadi sempat panik sendiri, sibuk membuka ini itu, sampai lupa berpikir jernih.

Sebaliknya, ada juga yang benar-benar close book. dengan pengawasan ketat melalui kamera zoom atau gmeet yang harus menyala sepanjang waktu. Seolah-olah pandemi tidak mengubah toleransi apa pun bagi mereka. Metode pengumpulannya pun sangat beragam dan bisa dibilang cukup melelahkan. Ada yang meminta jawaban diketik rapi, ada yang mengharuskan tulis tangan di kertas folio lalu dipindai menjadi PDF, kemudian diunggah ke Google Drive atau portal situs kampus. Oke masih bisa diatasi. Lalu ada ujian lisan yang membuat saya harus berbicara langsung di depan layar, menjawab pertanyaan secara spontan tanpa waktu berpikir panjang. Rasanya canggung. Tidak ada kontak mata yang jelas, tidak ada suasana yang bisa membantu saya merasa tenang. Beneran menguji daya pikir saya sebagai mahasiswa baru. 

Nahh, di ujian yang lain, saya juga bertemu dengan tipe dosen yang sangat kaku dan konservatif. Bayangkan saja, di tengah situasi serba digital seperti sekarang, ada dosen yang mewajibkan jawaban tetap ditulis tangan lalu dikirimkan dalam bentuk fisiknya ke rumah beliau. Beliau memberikan alamat rumahnya dan bagi mahasiswa yang tinggal jauh, diinstruksikan untuk menggunakan jasa ekspedisi atau paket. 

Wah ini benar-benar sebuah kejutan yang tak terduga bagi saya. Mau gak mau saya harus menulis jawaban di kertas folio, seperti ujian biasa, lalu mengirimkannya lewat paket. Jujur saja, ini membuat saya cukup syok. Di tengah kondisi seperti ini, ketika semua orang berusaha beradaptasi dengan teknologi, masih ada sistem yang terasa sangat tradisional. Bahkan untuk sekadar mengikuti ujian, saya harus memikirkan biaya pengiriman. Jawaban saya belum tentu benar, tapi saya sudah harus mengeluarkan modal dan tenaga ekstra hanya untuk mengirim lembar jawaban tersebut. Saya merasa ini baru ujian kuliah yang sesungguhnya yang menguji kesabaran dan kemampuan saya untuk menghadapi persoalan rumit dari awal. Saya jadi makin tidak sabar ingin masuk kuliah offline agar praktik seperti ini bisa dihentikan segera. 



Selama menjalani UTS ini, saya menyadari bahwa bertahan di dunia perkuliahan ternyata jauh lebih sulit daripada perjuangan mengejar PTN dahulu. Dinamika pertemanannya berbeda, terasa lebih individualis mungkin karena keterbatasan jarak. Tugas-tugas yang diberikan mungkin tidak sebanyak saat sekolah, tetapi tingkat stres yang dihasilkan jauh berkali-kali lipat. Belum lagi urusan dosen yang terkadang sangat pelit memberikan nilai ujian, padahal saya merasa sudah menjawab dengan baik dan performa saya sudah cukup bagus.

Kondisi ini perlahan membangkitkan jiwa perfeksionis lagi dalam diri saya untuk mengontrol pikiran secara berlebihan. Saya selalu merasa harus sempurna dalam setiap hal, baik itu dalam mengerjakan tugas maupun memahami materi kuliah. Saya tidak tenang jika ada satu poin pun yang terlewat atau terlihat kurang maksimal. Namun, ambisi untuk menjadi sempurna ini justru menjadi bumerang. Manajemen waktu saya akhir-akhir ini jadi berantakan banget dua bulan terakhir. Berada seharian di rumah berarti peran saya terbagi dua yaitu sebagai mahasiswa yang harus belajar dan mengejar nilai, serta sebagai anak yang tidak bisa meninggalkan kewajiban membantu orang tua.

Saya sering kali merasa keteteran menyeimbangkan kedua hal ini. Membantu orang tua adalah prioritas yang tidak mungkin saya abaikan, tetapi di saat yang sama, tugas-tugas kuliah terus menumpuk menanti sentuhan perfeksionisme saya. Hasilnya adalah rasa lelah yang luar biasa, saya burnout, dan stres yang cukup berat. Layar hp dan laptop hampir setiap hari tidak absen untuk terus menyala, sementara pikiran saya terus membakar energi yang tersisa.

Kesempurnaan yang saya kejar seringkali terasa seperti bayangan yang menjauh saat saya mencoba mendekat. Menjalani UTS online ini menyadarkan saya bahwa kemampuan saya sesungguhnya sedang ditempa melalui fase ketidakteraturan ini. Saya diuji untuk tetap tenang di tengah persoalan yang rumit, dari hal teknis pengiriman ujian hingga analisis soal yang memutar otak. Semua ini terasa seperti belum terbiasa menemukan bentuknya. Saya masih berusaha menyesuaikan diri dengan ritme yang berubah begitu cepat. Dari fase gap year yang tampak bebas tanpa jadwal yang jelas, sekarang semuanya serba teratur dan mengikat. Ujian pertama ini tidak memberi rasa lega seperti yang dulu sering saya bayangkan. Tidak ada perasaan selesai yang benar-benar tuntas. Justru yang ada adalah sisa-sisa cemas yang masih tertinggal. Tentang jawaban yang saya ragukan, tentang sistem yang belum sepenuhnya saya pahami, dan tentang diri saya sendiri yang masih sering terasa tidak cukup.

Mungkin ini memang fase yang harus dilewati. Fase di mana semuanya terasa asing, serba tidak pasti, dan cukup melelahkan. Bisa dibilang saya masih berada di tengah proses menyesuaikan diri dengan dunia yang benar-benar baru.
Dan sepertinya, setelah tulisan ini selesai pun, semuanya tidak langsung menjadi lebih mudah. Besok atau lusa, mungkin akan ada kebingungan lain yang datang lagi, dengan bentuk yang berbeda. Saya masih akan duduk di depan layar yang sama, dengan perasaan yang kurang lebih serupa.

Saya berusaha meyakinkan diri bahwa jika saya mampu melewati fase transisi yang berat ini, maka saya adalah pribadi yang kuat. Kemampuan saya sebenarnya jauh lebih besar dari keraguan yang saat ini menghantui. Untuk sekarang, saya akan menyudahi cerita ini, mengistirahatkan mata yang mulai memerah, dan mensyukuri bahwa satu tahap ujian telah terlewati.
Read More

Minggu, 11 Oktober 2020

Aku Berpikir, Aku Menulis

Halo, selamat malam sobat blogger di mana pun kalian berada. 

Sudah satu bulan terakhir ini saya memutuskan untuk kembali aktif di media sosial, khususnya Instagram. Keputusan ini sebenarnya cukup kontradiktif dengan prinsip yang saya pegang selama dua tahun terakhir. Setelah lulus sekolah, saya sempat menghapus akun utama secara permanen demi menjaga ketenangan jiwa dan raga. Saat itu saya merasa terlalu banyak hal yang tidak perlu masuk ke kepala. Terlalu ramai, terlalu cepat, dan pada akhirnya membuat pikiran tidak tenang. Namun, realita sebagai mahasiswa baru menuntut hal yang berbeda. Keperluan kuliah, kewajiban mengikuti akun kampus, hingga mengunggah atribut orientasi mahasiswa dalam bentuk twibbon dan bikin story, memaksa saya untuk kembali menciptakan jejak digital.

Dalam kepulangan saya ke jagat maya penuh visual ini, saya memilih untuk membangun persona yang sedikit berbeda. Saya kini mengutamakan nama depan sebagai nama panggilan, meninggalkan nama belakang yang selama dua puluh tahun ini begitu melekat. Sebuah transisi kecil, tapi terasa sangat mendasar bagi saya dalam memulai kebiasaan baru. Bahkan, deskripsi bio di profil saya pun ikut berubah. Jika dulu saya menggunakan kutipan tentang ketenangan kura-kura dan merpati, kini saya menuliskan kalimat pendek yang cukup ambisius: "Pemikir kelas berat".


Transformasi ini bukan sekadar gaya-gayaan. Saya berharap identitas baru ini menjadi pengingat agar saya selalu berpikir sebelum bertindak. Sejak dulu, saya memang merasa lebih nyaman saat memikirkan sesuatu secara mendalam. Kekuatan kreasi dan aksi saya selalu berakar pada daya pikir untuk menciptakan sesuatu yang saya senangi sekaligus mudah untuk dipahami.

Suatu malam, saat sedang menjelajahi beranda Instagram, saya menemukan sebuah unggahan dari penerbit buku indie yang cukup menyentak. Isinya adalah kutipan dari filsuf prancis, René Descartes: 

"Aku berpikir, maka aku ada." 

atau dalam bahasa latinnya, 
Cogito Ergo Sum. 

Awalnya kalimat itu terlihat sederhana. Bahkan mungkin terlalu sederhana. Tapi entah kenapa, saya berhenti cukup lama di situ. Seolah ada sesuatu yang ingin saya pahami lebih jauh. Saya mulai mencari tahu lebih lanjut dan membaca penjelasannya. Intinya maksud René Descartes dalam kutipan ini adalah berawal dari kebisaan dia meragukan segalanya. Dia bilang indra manusia bisa menipu. Pengalaman bisa juga salah. Apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan belum tentu benar. Bahkan realitas yang selama ini kita yakini bisa saja tidak seperti yang kita kira. Sampai pada satu titik, semua itu seakan runtuh. Tapi di tengah keraguan itu, ada satu hal yang tidak bisa digoyahkan. Ketika kita meragukan sesuatu, berarti kita sedang berpikir. Dan jika kita berpikir, berarti kita ada.

Wah gokil sih ini pemikirannya. Saya mencoba merenungkan itu lebih dalam.
Jika semua bisa diragukan, lalu apa yang sebenarnya bisa saya pegang? Ternyata bukan dunia di luar sana. Bukan juga orang lain. Tapi diri saya sendiri, tepatnya kesadaran bahwa saya sedang berpikir. Sesederhana itu, tapi sekaligus terasa sangat mendasar dan memperbarui pola pikir saya selama ini. 

René Descartes menggunakan kalimat ini untuk meyakinkan dirinya sendiri tentang hakikat keberadaan. Ia berargumen bahwa seseorang tidak mungkin meragukan keberadaan pikirannya sendiri karena dalam tindakan meragukan itu pun, seseorang sebenarnya sedang berpikir.


Refleksi Descartes ini terasa sangat relevan saat ini, khususnya untuk saya pribadi. Sering kali, persepsi saya terhadap dunia di sekitar saya terasa mengecewakan atau bahkan menipu. Saya menganggap pengalaman hidup saya yang naik turun ini sebagai sesuatu yang otentik, tapi ketika realita berkata lain, rasanya seperti disiram air es ke wajah saya. Saya baru menyadari bahwa indra manusia bisa menyesatkan tanpa disadari. Jika indra bisa menipu sekali saja, maka menurut standar ketat Descartes, indra tersebut tidak bisa diandalkan sepenuhnya.

Lalu, apa yang tersisa? Satu-satunya landasan yang kokoh adalah fakta bahwa saya sedang berpikir. Betapa pun kelirunya penilaian saya terhadap realitas, atau betapa pun kacaunya nalar saya bekerja, saya tidak akan pernah salah mengenai fakta bahwa saya sedang ada untuk melakukan kesalahan tersebut. Saya ada, karena saya berpikir.

Dari situ, saya mulai melihat diri saya sendiri dengan cara yang sedikit berbeda. Selama ini saya memang lebih sering berada di dalam kepala saya sendiri. Memikirkan banyak hal, bahkan hal-hal kecil yang mungkin tidak terlalu penting bagi orang lain. Saya suka menganalisis, membayangkan, dan mempertanyakan. Kadang terlalu jauh, sampai akhirnya malah membuat diri sendiri lelah.

Tapi setelah memahami kutipan itu, saya mulai menyadari bahwa berpikir bukan sekadar kebiasaan. Itu adalah bagian dari keberadaan saya sendiri. Dan mungkin, di situlah letak arah saya. Saya juga mulai melihat pola dalam cara saya bekerja dan belajar. Saya cukup nyaman dengan sesuatu yang terstruktur. Saya cenderung membuat daftar, menyusun rencana, dan mengikuti alur yang jelas. Ada kebutuhan untuk menjaga semuanya tetap rapi dan terkendali. Mungkin ini bagian dari sisi konvensional dalam diri saya.

Di sisi lain, saya juga menyukai proses mencari tahu. Ketika ada sesuatu yang membuat penasaran, saya lebih memilih untuk memikirkannya sendiri, mencoba memahami, daripada langsung bertanya atau mengikuti orang lain. Saya menikmati proses menganalisis, mengurai, dan menyusun ulang pemahaman. Ada rasa puas ketika akhirnya menemukan jawaban, meskipun tidak selalu benar.

Lalu ada juga sisi lain yang tidak bisa saya abaikan. Saya suka menulis. Saya suka menuangkan isi kepala ke dalam kata-kata. Bukan karena ingin dibaca banyak orang, tapi lebih karena saya ingin memahami apa yang sebenarnya saya pikirkan dan rasakan. Menulis seperti menjadi jembatan antara pikiran dan sesuatu yang bisa saya lihat.
Semua itu, jika dipikirkan lagi, seperti mengarah ke satu hal yang sama. Saya lebih sering berhadapan dengan diri sendiri. Saya mencoba memahami diri saya, mengenali emosi, melihat kelebihan dan kekurangan, dan mempertanyakan banyak hal yang terjadi di dalam. Tidak selalu mudah, kadang justru membingungkan. Tapi di situ juga saya merasa lebih jujur.


Sebagai mahasiswa yang baru memulai perjalanan akademik, pemahaman ini memberikan perspektif baru. Gairah untuk menggali potensi dan nalar ternyata tidak semudah bertemu dengan orang-orang yang satu pemahaman. Masih banyak hal yang terasa asing. Lingkungan baru, tuntutan baru, dan cara hidup yang mulai berubah. Tapi setidaknya, dari satu kutipan sederhana itu, saya mendapatkan satu pijakan baru.

Bahwa berpikir bukan sesuatu yang harus dihindari, tapi juga tidak boleh berlebihan sampai melumpuhkan diri sendiri. Saya tetap harus belajar menyeimbangkan. Antara berpikir dan bertindak. Antara memahami dan menjalani. Keberagaman pemikiran di dunia kuliah justru menjadi ajang latihan yang sesungguhnya. Berbicara atau menulis bukan hanya untuk orang lain, melainkan sebuah bentuk refleksi diri untuk menjaga idealisme agar tetap berpijak pada realitas.

Dari satu kutipan sederhana itu, saya seperti diberi ruang untuk berhenti sejenak dan benar-benar menyadari apa yang selama ini saya lakukan tanpa sadar. Bahwa kebiasaan berpikir, menganalisis, dan menulis bukan sekadar pengisi waktu luang, tapi bagian dari cara saya memahami keberadaan saya sendiri. Mungkin ke depan, saya akan tetap sering dipenuhi pertanyaan. Mungkin juga akan ada saat-saat di mana pikiran terasa terlalu ramai dan melelahkan. Tapi sekarang saya sedikit lebih mengerti bahwa itu bukan sesuatu yang harus selalu dilawan. Selama saya masih bisa mengelolanya, di situlah saya justru sedang mengenali diri saya lebih jauh. 

Menulis akan tetap menjadi tempat saya kembali. Tempat di mana pikiran yang semrawut bisa perlahan dirapikan. Tempat di mana saya bisa jujur tanpa harus menjelaskan semuanya kepada orang lain. Dan dari sana, pelan-pelan saya belajar satu hal. Bahwa memahami diri sendiri tidak harus selalu tentang menemukan jawaban, tapi tentang berani tetap kritis di dalam proses berpikir itu sendiri.
Read More