Halo, selamat malam sobat blogger di mana pun kalian berada.
Sudah satu bulan terakhir ini saya memutuskan untuk kembali aktif di media sosial, khususnya Instagram. Keputusan ini sebenarnya cukup kontradiktif dengan prinsip yang saya pegang selama dua tahun terakhir. Setelah lulus sekolah, saya sempat menghapus akun utama secara permanen demi menjaga ketenangan jiwa dan raga. Saat itu saya merasa terlalu banyak hal yang tidak perlu masuk ke kepala. Terlalu ramai, terlalu cepat, dan pada akhirnya membuat pikiran tidak tenang. Namun, realita sebagai mahasiswa baru menuntut hal yang berbeda. Keperluan kuliah, kewajiban mengikuti akun kampus, hingga mengunggah atribut orientasi mahasiswa dalam bentuk twibbon dan bikin story, memaksa saya untuk kembali menciptakan jejak digital.
Dalam kepulangan saya ke jagat maya penuh visual ini, saya memilih untuk membangun persona yang sedikit berbeda. Saya kini mengutamakan nama depan sebagai nama panggilan, meninggalkan nama belakang yang selama dua puluh tahun ini begitu melekat. Sebuah transisi kecil, tapi terasa sangat mendasar bagi saya dalam memulai kebiasaan baru. Bahkan, deskripsi bio di profil saya pun ikut berubah. Jika dulu saya menggunakan kutipan tentang ketenangan kura-kura dan merpati, kini saya menuliskan kalimat pendek yang cukup ambisius: "Pemikir kelas berat".
Transformasi ini bukan sekadar gaya-gayaan. Saya berharap identitas baru ini menjadi pengingat agar saya selalu berpikir sebelum bertindak. Sejak dulu, saya memang merasa lebih nyaman saat memikirkan sesuatu secara mendalam. Kekuatan kreasi dan aksi saya selalu berakar pada daya pikir untuk menciptakan sesuatu yang saya senangi sekaligus mudah untuk dipahami.
Suatu malam, saat sedang menjelajahi beranda Instagram, saya menemukan sebuah unggahan dari penerbit buku indie yang cukup menyentak. Isinya adalah kutipan dari filsuf prancis, René Descartes:
"Aku berpikir, maka aku ada."
atau dalam bahasa latinnya,
Cogito Ergo Sum.
Awalnya kalimat itu terlihat sederhana. Bahkan mungkin terlalu sederhana. Tapi entah kenapa, saya berhenti cukup lama di situ. Seolah ada sesuatu yang ingin saya pahami lebih jauh. Saya mulai mencari tahu lebih lanjut dan membaca penjelasannya. Intinya maksud René Descartes dalam kutipan ini adalah berawal dari kebisaan dia meragukan segalanya. Dia bilang indra manusia bisa menipu. Pengalaman bisa juga salah. Apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan belum tentu benar. Bahkan realitas yang selama ini kita yakini bisa saja tidak seperti yang kita kira. Sampai pada satu titik, semua itu seakan runtuh. Tapi di tengah keraguan itu, ada satu hal yang tidak bisa digoyahkan. Ketika kita meragukan sesuatu, berarti kita sedang berpikir. Dan jika kita berpikir, berarti kita ada.
Wah gokil sih ini pemikirannya. Saya mencoba merenungkan itu lebih dalam.
Jika semua bisa diragukan, lalu apa yang sebenarnya bisa saya pegang? Ternyata bukan dunia di luar sana. Bukan juga orang lain. Tapi diri saya sendiri, tepatnya kesadaran bahwa saya sedang berpikir. Sesederhana itu, tapi sekaligus terasa sangat mendasar dan memperbarui pola pikir saya selama ini.
René Descartes menggunakan kalimat ini untuk meyakinkan dirinya sendiri tentang hakikat keberadaan. Ia berargumen bahwa seseorang tidak mungkin meragukan keberadaan pikirannya sendiri karena dalam tindakan meragukan itu pun, seseorang sebenarnya sedang berpikir.
Refleksi Descartes ini terasa sangat relevan saat ini, khususnya untuk saya pribadi. Sering kali, persepsi saya terhadap dunia di sekitar saya terasa mengecewakan atau bahkan menipu. Saya menganggap pengalaman hidup saya yang naik turun ini sebagai sesuatu yang otentik, tapi ketika realita berkata lain, rasanya seperti disiram air es ke wajah saya. Saya baru menyadari bahwa indra manusia bisa menyesatkan tanpa disadari. Jika indra bisa menipu sekali saja, maka menurut standar ketat Descartes, indra tersebut tidak bisa diandalkan sepenuhnya.
Lalu, apa yang tersisa? Satu-satunya landasan yang kokoh adalah fakta bahwa saya sedang berpikir. Betapa pun kelirunya penilaian saya terhadap realitas, atau betapa pun kacaunya nalar saya bekerja, saya tidak akan pernah salah mengenai fakta bahwa saya sedang ada untuk melakukan kesalahan tersebut. Saya ada, karena saya berpikir.
Dari situ, saya mulai melihat diri saya sendiri dengan cara yang sedikit berbeda. Selama ini saya memang lebih sering berada di dalam kepala saya sendiri. Memikirkan banyak hal, bahkan hal-hal kecil yang mungkin tidak terlalu penting bagi orang lain. Saya suka menganalisis, membayangkan, dan mempertanyakan. Kadang terlalu jauh, sampai akhirnya malah membuat diri sendiri lelah.
Tapi setelah memahami kutipan itu, saya mulai menyadari bahwa berpikir bukan sekadar kebiasaan. Itu adalah bagian dari keberadaan saya sendiri. Dan mungkin, di situlah letak arah saya. Saya juga mulai melihat pola dalam cara saya bekerja dan belajar. Saya cukup nyaman dengan sesuatu yang terstruktur. Saya cenderung membuat daftar, menyusun rencana, dan mengikuti alur yang jelas. Ada kebutuhan untuk menjaga semuanya tetap rapi dan terkendali. Mungkin ini bagian dari sisi konvensional dalam diri saya.
Di sisi lain, saya juga menyukai proses mencari tahu. Ketika ada sesuatu yang membuat penasaran, saya lebih memilih untuk memikirkannya sendiri, mencoba memahami, daripada langsung bertanya atau mengikuti orang lain. Saya menikmati proses menganalisis, mengurai, dan menyusun ulang pemahaman. Ada rasa puas ketika akhirnya menemukan jawaban, meskipun tidak selalu benar.
Lalu ada juga sisi lain yang tidak bisa saya abaikan. Saya suka menulis. Saya suka menuangkan isi kepala ke dalam kata-kata. Bukan karena ingin dibaca banyak orang, tapi lebih karena saya ingin memahami apa yang sebenarnya saya pikirkan dan rasakan. Menulis seperti menjadi jembatan antara pikiran dan sesuatu yang bisa saya lihat.
Semua itu, jika dipikirkan lagi, seperti mengarah ke satu hal yang sama. Saya lebih sering berhadapan dengan diri sendiri. Saya mencoba memahami diri saya, mengenali emosi, melihat kelebihan dan kekurangan, dan mempertanyakan banyak hal yang terjadi di dalam. Tidak selalu mudah, kadang justru membingungkan. Tapi di situ juga saya merasa lebih jujur.
Sebagai mahasiswa yang baru memulai perjalanan akademik, pemahaman ini memberikan perspektif baru. Gairah untuk menggali potensi dan nalar ternyata tidak semudah bertemu dengan orang-orang yang satu pemahaman. Masih banyak hal yang terasa asing. Lingkungan baru, tuntutan baru, dan cara hidup yang mulai berubah. Tapi setidaknya, dari satu kutipan sederhana itu, saya mendapatkan satu pijakan baru.
Bahwa berpikir bukan sesuatu yang harus dihindari, tapi juga tidak boleh berlebihan sampai melumpuhkan diri sendiri. Saya tetap harus belajar menyeimbangkan. Antara berpikir dan bertindak. Antara memahami dan menjalani. Keberagaman pemikiran di dunia kuliah justru menjadi ajang latihan yang sesungguhnya. Berbicara atau menulis bukan hanya untuk orang lain, melainkan sebuah bentuk refleksi diri untuk menjaga idealisme agar tetap berpijak pada realitas.
Dari satu kutipan sederhana itu, saya seperti diberi ruang untuk berhenti sejenak dan benar-benar menyadari apa yang selama ini saya lakukan tanpa sadar. Bahwa kebiasaan berpikir, menganalisis, dan menulis bukan sekadar pengisi waktu luang, tapi bagian dari cara saya memahami keberadaan saya sendiri. Mungkin ke depan, saya akan tetap sering dipenuhi pertanyaan. Mungkin juga akan ada saat-saat di mana pikiran terasa terlalu ramai dan melelahkan. Tapi sekarang saya sedikit lebih mengerti bahwa itu bukan sesuatu yang harus selalu dilawan. Selama saya masih bisa mengelolanya, di situlah saya justru sedang mengenali diri saya lebih jauh.
Menulis akan tetap menjadi tempat saya kembali. Tempat di mana pikiran yang semrawut bisa perlahan dirapikan. Tempat di mana saya bisa jujur tanpa harus menjelaskan semuanya kepada orang lain. Dan dari sana, pelan-pelan saya belajar satu hal. Bahwa memahami diri sendiri tidak harus selalu tentang menemukan jawaban, tapi tentang berani tetap kritis di dalam proses berpikir itu sendiri.








