Yak selamat malam sobat blogger!
Selamat awal tahun untuk kita semua. Semoga kesehatan selalu menyertai kita semua di tahun baru 2021.
Nah hari ini saya mau cerita sedikit sekaligus mengeluarkan uneg-uneg tentang kesibukan baru saya yang sekarang yaitu kuliah. Beberapa hari yang lalu saya baru saja menuntaskan ujian akhir semester alias UAS perdana saya di dunia perkuliahan. Jika dilihat dari tanggalan, memang ini sangat berbeda dengan kebiasaan saat sekolah dulu. Jadwal kuliah bisa saja berlangsung hingga musim liburan seperti saat ini, dan libur kuliah bisa saja terjadi saat hari biasa. Dan ini yang harus dibiasakan sejak awal. Sejauh ini saya masih bisa mengikutinya dan belum banyak materi kuliah yang menguras otak. Saya berusaha jawab semaksimal mungkin walau gak benar-benar yakin soalnya kebanyakan pertanyaan analisis yang menuntut pendapat saya sebagai mahasiswa baru (maba). Setelah saya berhasil melewati semester satu ini, saya amati jurusan Agribisnis itu kebanyakan mata kuliah yang membahas bisnis. Sedangkan unsur pertanian atau yang berhubungan dengan penelitian sains itu bisa dibilang sedikit. Ya walaupun memang masih baru dasar-dasarnya, saya melihat nanti kedepannya jurusan ini akan diarahkan untuk fokus ke pemahaman teori sosial dan ekonomi.
Tapi jangan kira segampang yang dibayangkan ya. Walaupun kebanyakan membahas teori tapi tetap membutuhkan daya pikir yang mendalam. Salah satu tantangan saya adalah melaksanakan semuanya serba online. Sangat banyak batasan yang menghambat diri saya untuk menjelajahi ilmu ini dengan lancar dan teratur karena hanya bisa dilakukan dalam jaringan. Hal utama jika berhubungan dengan jaringan udah pasti masalah sinyal. Kadang walaupun sinyal penuh tapi untuk online meeting suka tersendat gitu, suara gak ada, video buram, bahkan benar-benar gak ada respon. Ini cukup menggangu saya sebenarnya. Saya merasa menjalani keseharian sebagai maba secara online ini benar-benar tidak ada bedanya dengan masa Gap Year saya dulu. Saya masih duduk di kursi yang sama, menulis di meja yang sama, di dalam kamar yang sama. Dulu saya duduk di kamar hanya untuk mengejar materi UTBK sendirian tanpa interaksi nyata, dan sekarang saya duduk di sini untuk kuliah yang juga terasa hampa. Suasana kuliahnya benar-benar tidak terasa sama sekali. Saya sering bertanya pada diri sendiri, apakah saya merasa lebih pintar dalam memahami materi, atau saya hanya berubah bentuk jadi semacam mesin yang diprogram untuk mengerjakan tugas?
Terus terang setelah menjalani satu semester kuliah ini, saya lebih banyak memenuhi ekspektasi dosen saja ketimbang benar-benar mengulik apa saja yang ada di dalamnya. Di setiap mata kuliahnya sebenarnya selalu ada sesuatu yang menarik untuk diselami. Tapi entah kenapa, dosen menganggap semua mahasiswa baru ini sudah bisa menguasai dasarnya dan langsung memberikan pemahaman yang sulit dimengerti. Jadi saya hanya bisa terus mengulang isi buku tanpa benar-benar menguasai suatu materi dengan baik dan benar dan mendalam dan mendetail. Sejujurnya saya ingin sekali menguasai setiap mata kuliah dengan pemahaman yang sama minimal dengan teman-teman kelas, tapi lagi-lagi saya selalu merasa tertinggal. Saya kadang kebingungan untuk mulai dari mana memperkuat penalaran.
Saya sempat mikir, apa karena ini dampak dari saya Gap Year dua tahun ya? Jadi ingatan tentang materi sekolah itu sudah mulai kabur sedangkan teman sekelas saya ini semuanya itu lulusan baru angkatan 2020 yang langsung masuk kuliah tahun itu juga jadi masih segar ingatan akan fondasi materi pelajaran? Belum lagi perasaan rendah diri saya jadi orang yang paling tua di kelas—sampai saat ini teman sekelas tidak ada yang tahu. Saya merasa sejauh ini kurang nyambung atau kurang klik dengan bahasa pergaulan yang mereka lakukan setiap harinya di grup kelas. Saya merasa ada tembok besar dalam hal pergaulan. Walaupun hanya berjarak dua tahun tapi ada jurang pemisah yang cukup renggang yang membatasi diri saya untuk bisa terkoneksi dengan mereka. Akhirnya saya jadi lebih banyak diam dan menyimak setiap obrolan di grup. Hanya sesekali saja saya bersuara jika diminta pendapat atau voting sesuatu. Sungguh ini bukan hal yang saya bayangkan sebelumnya.
Apakah ini efek samping juga dari mengurung diri selama dua tahun tanpa interaksi dengan orang lain yang sebaya yang membuat saya jadi orang yang semakin canggung? Jujur aja ternyata saya baru menyadari akhir-akhir ini bahwa saya tipe orang yang lebih gampang dekat jika berinteraksi langsung, saya termasuk manusia offline yang gak biasa dengan segala interaksi online yang ada. Saya selalu lambat dalam hal beradaptasi dengan suasana baru, dibutuhkan minimal dua puluh satu hari untuk membiasakannya. Nah kalau online gini gimana coba? Susah banget untuk bisa dekat dan menjalin hubungan dengan teman-teman baru. Terlalu banyak ketakutan yang saya bayangkan jika sok kenal sok dekat di media online karena itu semua terekam dan tercatat real-time, beda dengan interaksi offline yang bisa dengan mudahnya melupakan keanehan yang ada dan fokus ke hubungan pertemanan yang nyata.
Ternyata komunikasi dalam jaringan itu sangatlah sulit. Interaksi online yang serba digital ini membuat saya merasa asing di tengah keramaian kelas virtual perkuliahan. Belum lagi dengan banyaknya suara negatif dalam pikiran yang selalu ingin menjatuhkan diri sendiri dengan berkata, "kamu tidak pantas berada di sini", "kamu masuk kuliah hanya beruntung bukan benar-benar pintar", "kamu sudah kalah sejak awal karena tidak memahami fondasi materi kuliah dengan baik". Wahhh benar-benar memperberat isi kepala dan hati untuk bisa menjalani ini semua. Setiap hari hanya berkutat dengan pengumpulan tugas di portal, mengejar deadline, dan menatap layar laptop terus menerus hingga mata perih. Manajemen waktu saya pun masih sangat berantakan.
Kondisi ini semakin diperparah dengan situasi di rumah yang tidak selalu memungkinkan saya untuk fokus sepenuhnya menjadi mahasiswa. Sebagai anak yang tinggal bersama orang tua, ada tanggung jawab domestik yang tetap harus saya jalankan. Membantu orang tua adalah kewajiban yang tidak bisa saya abaikan, namun di saat yang sama, tugas kuliah terus mengalir tanpa henti. Saya sering kali merasa kehabisan napas karena mencoba menyeimbangkan kedua sisi tersebut. Saya ingin menjadi mahasiswa dengan nilai sempurna, tapi saya juga ingin menjadi anak yang tetap bisa diandalkan di rumah. Ambisi untuk menjadi sempurna dalam segala hal inilah yang akhirnya membawa saya pada titik lelah yang cukup menyiksa.
Setelah melewati satu semester ini, saya akhirnya sampai pada satu kesimpulan yang cukup berat. Ternyata, perjuangan untuk lolos UTBK dan masuk ke perguruan tinggi negeri belum ada apa-apanya dibandingkan perjuangan untuk bertahan hidup di dunia perkuliahan yang penuh dengan ketegangan. Di sini, musuh terbesar bukan lagi latihan soal yang sulit atau melawan rasa malas, melainkan kemampuan diri untuk mengelola ekspektasi, mengatur waktu, dan menjaga kesehatan mental di tengah isolasi pandemi yang belum juga berakhir.
Semester satu ini telah mengajarkan saya bahwa menjadi mahasiswa bukan hanya soal mendapatkan nilai bagus di akhir portal akademik. Ini adalah tentang bagaimana usaha saya untuk tetap bisa memanusiakan diri sendiri di tengah sistem yang sering kali memperlakukan saya seperti mesin. Meski saya selalu merasa lelah dan sempat kehilangan arah, setidaknya saya masih bertahan. Dan untuk saat ini, bertahan hidup adalah pencapaian terbesar yang patut saya syukuri. Saya akan membiarkan tubuh dan pikiran ini beristirahat sejenak, menikmati libur semester—yang sebenarnya tidak sepenuhnya libur karena saya harus kembali membantu orang tua—sebelum nanti kembali bertarung di semester dua dengan tantangan yang pastinya akan lebih berat lagi.


