Senin, 28 September 2020

AGRARIS dan Identitas Diri

Halo. Selamat malam sobat! Saya kali ini mau berbagi cerita dan kesan yang tertinggal tentang kegiatan yang baru saja saya laksanakan. Dua hari terakhir, tepatnya pada tanggal 26 dan 27 September kemarin, saya baru saja menyelesaikan sebuah rangkaian acara ospek jurusan bertajuk AGRARIS. Singkatannya cukup megah yaitu Ajang Keakraban Mahasiswa Agribisnis. Sebuah nama acara yang seharusnya menyiratkan kedekatan fisik, lelah di bawah matahari, atau setidaknya jabat tangan yang erat dengan sesama mahasiswa baru. Namun, realitanya jauh dari itu.

Semuanya terjadi di dalam jaringan. Daring. Online. Depan laptop atau hp. Dari layar ke layar lagi. Di dalam rumah. Di dalam kamar. Sunyi dan tenang. 


Sejujurnya, saya tidak tahu harus berekspektasi seperti apa lagi. Kata "keakraban" terdengar hangat, seolah ada interaksi yang lebih dekat, lebih manusiawi. Tapi ketika semuanya dilakukan secara online, rasanya kata itu seperti kehilangan bentuknya. Saya tetap hadir, duduk di depan layar, menatap ratusan wajah yang sebagian besar bahkan belum tentu saya ingat setelah acara selesai. 

Materi demi materi disampaikan. Tentang agribisnis, tentang potensi pertanian, tentang peran mahasiswa dalam sektor pangan, dan berbagai hal lain yang sebenarnya penting. Saya tahu itu penting. Saya paham bahwa jurusan ini punya peran besar dalam kehidupan banyak orang. Tapi di sisi lain, ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Seperti saya sedang belajar tentang bisnis di bidang pertanian, tentang sesuatu yang seharusnya menjadi dasar kehidupan, tapi justru merasa belum benar-benar berpijak di mana pun.
Ya saya maklum sih, saat ini kita semau sedang berada di masa di mana orientasi mahasiswa harus dilakukan dari meja belajar masing-masing, di dalam kamar yang terkadang terasa sangat sempit untuk menampung ambisi yang sangat besar. AGRARIS tahun ini menjadi saksi betapa anehnya membangun keakraban lewat kotak-kotak kecil di Zoom. Saya melihat wajah-wajah baru, mendengar suara-suara yang terkadang putus karena koneksi yang tidak stabil, dan mengikuti rangkaian instruksi dari mentor kakak tingkat yang berusaha keras menjaga wibawa meski hanya terlihat dari dada ke atasnya. 

Di hari pertama, saya masih mencoba mengikuti dengan serius. Mencatat beberapa hal, memperhatikan penjelasan, mencoba memahami arah yang ingin ditunjukkan. Tapi semakin lama, fokus itu mulai goyah. Bukan karena materinya tidak menarik, tapi karena suasananya tidak mendukung. Duduk berjam-jam di depan layar membuat segalanya terasa lebih berat dari yang seharusnya. Saya tidak benar-benar merasakan suasana menjadi mahasiswa baru. Tidak ada hiruk pikuk kampus, tidak ada obrolan santai di sela kegiatan, tidak ada tatapan langsung yang bisa memberi kesan pertama. 

Hari kedua tidak jauh berbeda. Ada beberapa sesi yang mencoba lebih interaktif dengan menghadirkan alumnus yang sudah sukses dan berhasil membangun bisnis pertaniannya sendiri. Tapi tetap saja semua terasa seperti formalitas. Saya melihat nama-nama asing di layar, mendengar suara-suara yang kadang terputus, dan sesekali menatap diri sendiri di monitor yang entah kenapa terasa asing. Ini aneh. Saya bagian dari acara ini, tapi rasanya seperti tidak benar-benar hadir. Semua terasa datar. Bahkan ketika panitia mencoba mencairkan suasana, tetap saja ada jarak yang tidak bisa ditembus.

Ilustrasi

​Sejujurnya, ada rasa super canggung yang tidak bisa saya ucapkan secara langsung. Kita diminta untuk saling mengenal, tapi pembatasnya adalah layar. Kita diminta untuk mencintai jurusan ini, sementara saya sendiri masih merasa seperti orang asing di rumah sendiri. Agribisnis. Nama itu masih terasa berat sekali di lidah saya. Ada masanya saya merasa bahwa ini hanyalah tempat persinggahan sementara, sebuah rencana cadangan yang terpaksa menjadi rencana utama karena jalan lain sudah tertutup rapat.
Selama dua hari orientasi jurusan ini, saya banyak merenung. Saya merasa identitas saya saat ini masih mengambang. Di satu sisi, saya adalah mahasiswa Agribisnis yang harus mulai peduli pada rantai pasok, manajemen pertanian, dan isu-isu pangan. Di sisi lain, pikiran saya sering kali melayang ke tempat lain, ke mimpi-mimpi yang mungkin sudah harus saya lipat rapi dan simpan di laci pikiran yang terdalam. Ada semacam pergulatan batin ketika saya harus meneriakkan yel-yel atau mengikuti penugasan yang diberikan. Apakah saya benar-benar di sini karena saya mau, atau hanya karena saya hanya mengikuti arus? Entahlah... 

Ilustrasi

Namun, setelah menjalani acara dua hari ini, AGRARIS memberikan sedikit celah cahaya. Meski dilakukan secara online, saya mulai melihat bahwa saya tidak sendirian dalam ketidakpastian ini. Ada ratusan orang lain di balik layar mereka yang mungkin merasakan kegelisahan yang sama. Saat sesi berbagi cerita atau sekadar candaan di kolom komentar chat, ada rasa terhibur sedikit yang muncul secara perlahan. Mungkin ini yang mereka sebut sebagai awal dari sebuah identitas baru.
Saya sedang mencoba. Saya sedang berusaha untuk mencintai apa yang sudah saya dapatkan hari ini. Bukankah hidup memang sering kali tentang bagaimana kita mengelola kekecewaan menjadi sesuatu yang produktif? Mempelajari Agribisnis mungkin bukan cinta pandangan pertama bagi saya, tapi barangkali ia adalah jenis cinta yang tumbuh karena terbiasa. Saya mulai membaca sedikit demi sedikit tentang prospeknya, tentang bagaimana sektor ini bisa tetap bertahan di tengah pandemi yang melumpuhkan banyak aspek kehidupan lainnya. Inti dari agribisnis sebenernya belajar tentang pengolahan sistem dari hulu ke hilir, ada juga tentang produksi dan distribusi, serta tentang tanah dan segala sayuran yang tumbuh di atasnya. 

Namun untuk saat ini saya sendiri merasa seperti belum punya pijakan yang jelas. Seolah sedang berdiri di atas sesuatu yang tidak benar-benar solid. Mungkin "mengambang" adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan posisi saya sekarang. Saya tidak lagi berada di daratan lama saya yang penuh ambisi mimpi masa lalu, tapi saya juga belum benar-benar menginjakkan kaki di tanah agraris yang sesungguhnya. Saya masih berada di tengah laut, di atas sekoci yang bernama adaptasi.
Mungkin ini bukan tentang jurusannya. Mungkin ini tentang kondisi. Tentang masa yang memang tidak memberi ruang untuk merasakan segalanya dengan utuh. Saya hanya menjalani apa yang ada di depan mata, tanpa benar-benar tahu harus merasakan apa. Masa orientasi jurusan ini seharusnya menjadi ajang yang mengakrabkan saya dan jurusan. Tapi bagi saya, ini lebih terasa seperti ajang perkenalan yang belum benar-benar selesai. Dengan jurusan, dengan lingkungan, bahkan dengan diri sendiri sebagai manusia yang menyandang status sebagai mahasiswa.
Mungkin keakraban itu memang tidak bisa dipaksakan dalam dua hari, apalagi hanya lewat layar. Mungkin butuh waktu yang lebih panjang, dan cara yang lebih nyata. Untuk saat ini, saya hanya bisa mengikuti alurnya saja. Menyelesaikan setiap tahap, satu per satu.

Ilustrasi


Begitu acara AGRARIS kemarin sudah usai. Secara administratif, saya sudah dianggap akrab dengan lingkungan ini. Namun secara personal, perjalanan saya baru saja dimulai. Besok dan hari-hari setelahnya, saya harus kembali berhadapan dengan kuliah-kuliah daring yang menuntut fokus ekstra. Saya hanya berharap, identitas yang masih mengambang ini perlahan-lahan akan menemukan tempat untuk berlabuh. Saya ingin belajar untuk berhenti menoleh ke belakang dan mulai melihat apa yang ada di depan mata, sekecil apa pun itu.
Untuk sekarang, biarlah saya beristirahat sejenak dari layar ini. Menutup laptop, mematikan koneksi internet, dan mencoba berdialog dengan diri sendiri lagi tanpa gangguan notifikasi. Ternyata, menjadi mahasiswa di tengah pandemi bukan hanya soal belajar materi kuliah, tapi juga belajar cara untuk tetap waras dan menerima kenyataan yang tidak pernah sesuai dengan ekspektasi.

Akhir kata saya ingin mengucapkan, Selamat datang di Agribisnis, untuk diri saya sendiri. Mari kita lihat, sejauh mana tanah ini bisa membuat saya tumbuh lebih baik. 
Read More

Jumat, 11 September 2020

Nonton film Star Wars: The Clone Wars untuk pertama kalinya

Halo selamat malam sobat blogger! 

Hari yang indah karena bisa menikmati hari jumat yang menenangkan. Ada momen dalam hidup saya yang hanya ingin kembali merasakan hal yang dulu pernah terasa sangat menyenangkan untuk dilakukan, yaitu nonton film. Hari ini akhirnya saya bisa merasakan momen itu lagi. Di tengah minggu yang padat ini, Disney+ Hotstar akhirnya resmi rilis di Indonesia pada awal september ini. Rasanya seperti memberi angin segar di tengah pandemi saat maraknya pembatasan keramaian di luar rumah yang otomatis bioskop ditutup sementara. Dan ini pertama kalinya saya berlangganan aplikasi streaming. Rasa penasaran saya begitu tinggi untuk kembali masuk ke dunia fantasi yang sudah lama saya kenal mulai dari Marvel, Disney, sampai Star Wars secara legal semua ada di aplikasi ini. 


Karena Marvel belum ada konten baru, saya berniat untuk mulai menjamah konten star wars yang berbentuk series yang sudah lama juga jadi watchlist dan sekarang akhirnya benar-benar terwujud secara legal dan resmi. Saya sudah cukup lama menjadi penggemar Star Wars. Bukan sekadar tahu, tapi benar-benar menikmati semestanya. Akhirnya perjalanan ini saya mulai dengan sesuatu yang paling masuk akal sebagai pembuka, yaitu Star Wars: The Clone Wars yang rilis tahun 2008. Sebagaimana urutannya yaitu film animasinya dulu baru series animasinya. 

Saya menontonnya tidak dengan ekspektasi tinggi, lebih ke rasa ingin tahu yang tinggi dan keyakinan untuk memulai urutan dengan benar. Film ini terasa seperti pintu masuk sebelum melangkah lebih jauh ke serial panjangnya. Secara tampilan, memang bukan sesuatu yang bisa langsung mengesankan jika dilihat dengan standar sekarang. Tapi gaya visual animasinya punya identitas sendiri, dan cukup untuk mengingatkan bahwa ini tetap bagian dari dunia Star Wars yang saya sukai.

Star Wars The clone wars 2008

Dari segi cerita, terasa sederhana, bahkan cenderung seperti pengantar. Tidak terlalu dalam, tidak juga terlalu kompleks. Tapi justru di situlah fungsinya bekerja. Ia memperkenalkan karakter baru, dinamika antar jedi, konflik dasar yang menarik, dan suasana yang nantinya akan berkembang di serialnya. Tidak memaksa untuk langsung terasa besar, tapi cukup untuk membuat saya bertahan. Saya hari ini juga baru tahu bahwa Anakin ternyata punya padawan yaitu Ahsoka Tano. Misi pertama mereka yaitu menyelamatkan putra Jabba the Hutt yang diculik menjadi ujian kesabaran dan kepercayaan yang cukup menantang, yang pada akhirnya membentuk ikatan kuat yang saling menghormati.

Yang paling terasa justru bukan dari filmnya, tapi dari momen saat menontonnya. Ada perasaan yang sulit dijelaskan menyentuh sisi anak-anak dalam diri saya yang telah lama menunggu momen ini. Nonton film animasi The Clone Wars yang sudah berusia lebih dari 12 tahun ini gokil sih. Emang sih ini bukan pengalaman yang meledak-ledak kayak keterima SBMPTN, tapi rasa haru ini tetap nyata seakan tidak percaya saya akhirnya merasakan sensasi seolah tv kabel tapi kini semua bisa diakses di hp. Sensasi yang membuat saya ingin lanjut ke seriesnya. 

Dan setelah ini, semuanya terasa lebih seru. Saya akan masuk ke series Star Wars: The Clone Wars dari season pertama. Pelan-pelan saya rencanakan kedepannya nonton sekitar enam episode dalam seminggu, mungkin bisa lebih saat sedang senggang atau di akhir pekan. Sejauh ini sih gak ada target khusus, tidak juga ingin terburu-buru. Hanya ingin menikmati proses menontonnya dengan khidmat, sedikit demi sedikit.

Pada akhirnya, film ini bukan tentang seberapa bagus atau seberapa berkesannya ia berdiri sendiri. Tapi lebih ke bagaimana ia membuka jalan cerita baru di antara film-film yang punya jarak yang cukup untuk bercerita. Karena dari sini, perang klon yang penuh intrik baru saja diperdalam kisahnya. 
Read More

Kamis, 10 September 2020

Pengalaman MOMB 2020 secara online

Halo. Selamat sore sobat! 

Hari ini saya baru saja menyelesaikan rangkaian masa orientasi hari kedua. Dari pagi saya duduk di tempat yang sama, dengan pakaian yang kurang lebih sama, dan layar laptop yang menjadi satu-satunya jendela menuju dunia kampus. Bedanya, hari ini bukan lagi tentang universitas secara umum, melainkan tentang tempat saya akan benar-benar berproses nanti yaitu Fakultas Pertanian. Kegiatan ini biasa disebut dengan Masa Orientasi Mahasiswa Baru alias MOMB yang diselenggarakan oleh para mahasiswa fakultas pertanian itu sendiri di bawah organisasi BEM FAPERTA. 



Acara dimulai pukul delapan pagi. Perlahan-lahan saya sudah mulai terbiasa dengan pola seperti ini, masuk ke ruang virtual, memastikan kamera aktif, dan menunggu acara dimulai. Rasa panik dan deg-degan tidak terlalu hebat seperti hari kemarin, tapi juga tidak ada rasa antusias yang berlebihan. Semuanya terasa cukup normal dan berjalan begitu saja. Materi yang disampaikan hari ini lebih spesifik. Tentang fakultas, jurusan Agribisnis, sistem belajar, hingga gambaran umum dunia pertanian. Saya mencoba lebih fokus, karena ini menyangkut pilihan yang sudah saya ambil. Setidaknya, ini bukan sekadar pengenalan umum, tapi sesuatu yang akan benar-benar saya jalani.

Namun lagi-lagi, ada hal yang terasa kurang. Mendengar penjelasan tentang fakultas tanpa pernah benar-benar melihat lingkungannya secara langsung membuat semuanya terasa seperti teori. Saya tahu nama-nama gedungnya, saya tahu struktur organisasinya, tapi saya belum punya gambaran nyata seperti apa rasanya berada di sana. Enam jam kembali terasa panjang. Duduk, mendengarkan, sesekali mencatat, lalu kembali diam. Interaksi tetap terbatas. Tidak ada obrolan ringan dengan teman baru, tidak ada momen saling kenal yang biasanya menjadi bagian penting dari ospek. Saya bahkan belum benar-benar mengenal siapa saja yang satu jurusan dengan saya. Di sela-sela acara, saya sempat melihat wajah-wajah mahasiswa lain di layar. Banyak yang tampak serius, ada juga yang terlihat lelah. Mungkin perasaan kami tidak jauh berbeda. Sama-sama mencoba menyesuaikan diri dengan situasi yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya.



Menjelang akhir acara, ada sedikit penjelasan tentang harapan ke depan sebagai mahasiswa Fakultas Pertanian. Tentang peran, tanggung jawab, dan peluang yang bisa diraih. Tidak ketinggalan juga beberapa alumnus fakultas pertanian dihadirkan untuk memberikan kisah suksesnya bekerja di bidang pertanian yang sangat menjanjikan itu. Saya mendengarkan dengan cukup fokus dan serius, meskipun di dalam hati masih ada keraguan besar yang belum sepenuhnya hilang. Ketika acara selesai sekitar pukul satu siang, saya menutup laptop dengan perasaan yang lagi-lagi sulit dijelaskan. Tidak bisa dibilang kecewa, tapi juga belum bisa merasa puas. Semuanya terasa seperti belum lengkap.

Dan yaa usai sudah rangkaian aktivitas saya hari ini tentang pengenalan fakultas dan jurusan yang akan saya jalani. Tapi rasanya saya masih berdiri di luar, belum benar-benar masuk ke dalamnya. Kalau harus jujur, hari ini bukan sesuatu yang benar-benar saya nikmati sepenuhnya. Ada rasa bosan yang datang berulang kali, ada juga keinginan untuk sekadar menyudahi semuanya lebih cepat. Tapi di sisi lain, saya sadar bahwa ini memang bagian yang harus dilalui. Mungkin tidak semua awal terasa menyenangkan, dan mungkin tidak semua proses langsung memberikan kesan yang berarti. 

Untuk sekarang, saya hanya mencoba bertahan dan tetap mengikuti alurnya, meskipun tanpa rasa awal yang benar-benar kuat. Siapa tahu, dari langkah yang terlihat biasa ini, perlahan akan muncul sesuatu yang lebih nyata, sesuatu yang membuat saya merasa benar-benar berada di tempat yang seharusnya. Mungkin hanya butuh waktu. Mungkin juga butuh pengalaman yang lebih nyata. 


Yaa kita lihat saja nanti. Untuk sekarang, saya hanya bisa melanjutkan langkah ini, meskipun dimulai dari ruang yang sunyi, tanpa keramaian, tanpa kehangatan yang biasanya menyertai awal perjalanan besar bernama kuliah.
Read More