Kamis, 07 Januari 2021

Catatan Semester Pertama Kuliah Online

Yak selamat malam sobat blogger! 

Selamat awal tahun untuk kita semua. Semoga kesehatan selalu menyertai kita semua di tahun baru 2021. 

Nah hari ini saya mau cerita sedikit sekaligus mengeluarkan uneg-uneg tentang kesibukan baru saya yang sekarang yaitu kuliah. Beberapa hari yang lalu saya baru saja menuntaskan ujian akhir semester alias UAS perdana saya di dunia perkuliahan. Jika dilihat dari tanggalan, memang ini sangat berbeda dengan kebiasaan saat sekolah dulu. Jadwal kuliah bisa saja berlangsung hingga musim liburan seperti saat ini, dan libur kuliah bisa saja terjadi saat hari biasa. Dan ini yang harus dibiasakan sejak awal. Sejauh ini saya masih bisa mengikutinya dan belum banyak materi kuliah yang menguras otak. Saya berusaha jawab semaksimal mungkin walau gak benar-benar yakin soalnya kebanyakan pertanyaan analisis yang menuntut pendapat saya sebagai mahasiswa baru (maba). Setelah saya berhasil melewati semester satu ini, saya amati jurusan Agribisnis itu kebanyakan mata kuliah yang membahas bisnis. Sedangkan unsur pertanian atau yang berhubungan dengan penelitian sains itu bisa dibilang sedikit. Ya walaupun memang masih baru dasar-dasarnya, saya melihat nanti kedepannya jurusan ini akan diarahkan untuk fokus ke pemahaman teori sosial dan ekonomi. 

Tapi jangan kira segampang yang dibayangkan ya. Walaupun kebanyakan membahas teori tapi tetap membutuhkan daya pikir yang mendalam. Salah satu tantangan saya adalah melaksanakan semuanya serba online. Sangat banyak batasan yang menghambat diri saya untuk menjelajahi ilmu ini dengan lancar dan teratur karena hanya bisa dilakukan dalam jaringan. Hal utama jika berhubungan dengan jaringan udah pasti masalah sinyal. Kadang walaupun sinyal penuh tapi untuk online meeting suka tersendat gitu, suara gak ada, video buram, bahkan benar-benar gak ada respon. Ini cukup menggangu saya sebenarnya. Saya merasa menjalani keseharian sebagai maba secara online ini benar-benar tidak ada bedanya dengan masa Gap Year saya dulu. Saya masih duduk di kursi yang sama, menulis di meja yang sama, di dalam kamar yang sama. Dulu saya duduk di kamar hanya untuk mengejar materi UTBK sendirian tanpa interaksi nyata, dan sekarang saya duduk di sini untuk kuliah yang juga terasa hampa. Suasana kuliahnya benar-benar tidak terasa sama sekali. Saya sering bertanya pada diri sendiri, apakah saya merasa lebih pintar dalam memahami materi, atau saya hanya berubah bentuk jadi semacam mesin yang diprogram untuk mengerjakan tugas?

Terus terang setelah menjalani satu semester kuliah ini, saya lebih banyak memenuhi ekspektasi dosen saja ketimbang benar-benar mengulik apa saja yang ada di dalamnya. Di setiap mata kuliahnya sebenarnya selalu ada sesuatu yang menarik untuk diselami. Tapi entah kenapa, dosen menganggap semua mahasiswa baru ini sudah bisa menguasai dasarnya dan langsung memberikan pemahaman yang sulit dimengerti. Jadi saya hanya bisa terus mengulang isi buku tanpa benar-benar menguasai suatu materi dengan baik dan benar dan mendalam dan mendetail. Sejujurnya saya ingin sekali menguasai setiap mata kuliah dengan pemahaman yang sama minimal dengan teman-teman kelas, tapi lagi-lagi saya selalu merasa tertinggal. Saya kadang kebingungan untuk mulai dari mana memperkuat penalaran. 



Saya sempat mikir, apa karena ini dampak dari saya Gap Year dua tahun ya? Jadi ingatan tentang materi sekolah itu sudah mulai kabur sedangkan teman sekelas saya ini semuanya itu lulusan baru angkatan 2020 yang langsung masuk kuliah tahun itu juga jadi masih segar ingatan akan fondasi materi pelajaran? Belum lagi perasaan rendah diri saya jadi orang yang paling tua di kelas—sampai saat ini teman sekelas tidak ada yang tahu. Saya merasa sejauh ini kurang nyambung atau kurang klik dengan bahasa pergaulan yang mereka lakukan setiap harinya di grup kelas. Saya merasa ada tembok besar dalam hal pergaulan. Walaupun hanya berjarak dua tahun tapi ada jurang pemisah yang cukup renggang yang membatasi diri saya untuk bisa terkoneksi dengan mereka. Akhirnya saya jadi lebih banyak diam dan menyimak setiap obrolan di grup. Hanya sesekali saja saya bersuara jika diminta pendapat atau voting sesuatu. Sungguh ini bukan hal yang saya bayangkan sebelumnya.

Apakah ini efek samping juga dari mengurung diri selama dua tahun tanpa interaksi dengan orang lain yang sebaya yang membuat saya jadi orang yang semakin canggung? Jujur aja ternyata saya baru menyadari akhir-akhir ini bahwa saya tipe orang yang lebih gampang dekat jika berinteraksi langsung, saya termasuk manusia offline yang gak biasa dengan segala interaksi online yang ada. Saya selalu lambat dalam hal beradaptasi dengan suasana baru, dibutuhkan minimal dua puluh satu hari untuk membiasakannya. Nah kalau online gini gimana coba? Susah banget untuk bisa dekat dan menjalin hubungan dengan teman-teman baru. Terlalu banyak ketakutan yang saya bayangkan jika sok kenal sok dekat di media online karena itu semua terekam dan tercatat real-time, beda dengan interaksi offline yang bisa dengan mudahnya melupakan keanehan yang ada dan fokus ke hubungan pertemanan yang nyata.

Ternyata komunikasi dalam jaringan itu sangatlah sulit. Interaksi online yang serba digital ini membuat saya merasa asing di tengah keramaian kelas virtual perkuliahan. Belum lagi dengan banyaknya suara negatif dalam pikiran yang selalu ingin menjatuhkan diri sendiri dengan berkata, "kamu tidak pantas berada di sini", "kamu masuk kuliah hanya beruntung bukan benar-benar pintar", "kamu sudah kalah sejak awal karena tidak memahami fondasi materi kuliah dengan baik". Wahhh benar-benar memperberat isi kepala dan hati untuk bisa menjalani ini semua. Setiap hari hanya berkutat dengan pengumpulan tugas di portal, mengejar deadline, dan menatap layar laptop terus menerus hingga mata perih. Manajemen waktu saya pun masih sangat berantakan. 

Kondisi ini semakin diperparah dengan situasi di rumah yang tidak selalu memungkinkan saya untuk fokus sepenuhnya menjadi mahasiswa. Sebagai anak yang tinggal bersama orang tua, ada tanggung jawab domestik yang tetap harus saya jalankan. Membantu orang tua adalah kewajiban yang tidak bisa saya abaikan, namun di saat yang sama, tugas kuliah terus mengalir tanpa henti. Saya sering kali merasa kehabisan napas karena mencoba menyeimbangkan kedua sisi tersebut. Saya ingin menjadi mahasiswa dengan nilai sempurna, tapi saya juga ingin menjadi anak yang tetap bisa diandalkan di rumah. Ambisi untuk menjadi sempurna dalam segala hal inilah yang akhirnya membawa saya pada titik lelah yang cukup menyiksa.

Setelah melewati satu semester ini, saya akhirnya sampai pada satu kesimpulan yang cukup berat. Ternyata, perjuangan untuk lolos UTBK dan masuk ke perguruan tinggi negeri belum ada apa-apanya dibandingkan perjuangan untuk bertahan hidup di dunia perkuliahan yang penuh dengan ketegangan. Di sini, musuh terbesar bukan lagi latihan soal yang sulit atau melawan rasa malas, melainkan kemampuan diri untuk mengelola ekspektasi, mengatur waktu, dan menjaga kesehatan mental di tengah isolasi pandemi yang belum juga berakhir.

​Semester satu ini telah mengajarkan saya bahwa menjadi mahasiswa bukan hanya soal mendapatkan nilai bagus di akhir portal akademik. Ini adalah tentang bagaimana usaha saya untuk tetap bisa memanusiakan diri sendiri di tengah sistem yang sering kali memperlakukan saya seperti mesin. Meski saya selalu merasa lelah dan sempat kehilangan arah, setidaknya saya masih bertahan. Dan untuk saat ini, bertahan hidup adalah pencapaian terbesar yang patut saya syukuri. Saya akan membiarkan tubuh dan pikiran ini beristirahat sejenak, menikmati libur semester—yang sebenarnya tidak sepenuhnya libur karena saya harus kembali membantu orang tua—sebelum nanti kembali bertarung di semester dua dengan tantangan yang pastinya akan lebih berat lagi.
Read More

Kamis, 31 Desember 2020

Coretan Akhir Tahun 2020

Selamat siang sobat blogger! 

Gimana kabar kalian semua di akhir tahun yang berat ini? Saya harap kondisi kalian dalam keadaan aman dan sehat selalu ya. 

Huuft akhirnya sampai juga di penghujung akhir tahun 2020. Lama banget ya kalo dirasain bener-bener ini tahun, kebanyakan beraktivitas di rumah aja tanpa banyak keluar bikin dunia terasa sempit dan terkesan tidak banyak perubahan atau pencapaian yang diraih. Saya sebenarnya sudah menyempatkan diri untuk mencicil postingan tahunan ini dari seminggu yang lalu—dengan pikiran yang masih dipenuhi banyak hal yang belum benar-benar selesai, termasuk UAS yang bahkan masih berlangsung. Tapi baru sekarang postingan spesial rangkuman akhir tahun ini saya paksakan untuk selesai dan tetap merilisnya hari ini karena sangat sayang jika dilewatkan tanpa catatan arsip sejarah dunia pada umumnya dan saya pribadi khususnya. 

2020 adalah tahun yang entah harus saya definisikan seperti apa ya... Berat? banget. Melelahkan? udah pasti. Membingungkan? Jujur iya. Tahun yang penuh dengan kejadian tak terduga, penuh tantangan, dan mungkin bagi sebagian orang termasuk saya, menjadi tahun yang cukup menguras perasaan. Saya tergolong orang yang sangat lambat dalam hal menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi ekstrem seperti tahun ini yang membuat jiwa raga saya cukup syok berat menghadapi segala ujian yang ada. 

Tapi di sisi lain tahun ini juga penuh pelajaran yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Bisa dibilang tulisan ini bukan sesuatu yang terlalu berbobot sebenarnya, hanya rangkuman kejadian yang menurut saya penting, tapi setidaknya bisa menjadi pengingat kecil tentang apa saja yang telah saya lalui. Karena saya sadar, ingatan manusia itu terbatas. Dan mungkin, suatu hari nanti saya akan kembali membaca ini dan mencoba memahami kembali versi diri saya di tahun ini.

Karena tahun ini punya banyak momen yang menegangkan sekaligus mengharukan, maka dari itu saya mencoba mengumpulkan beberapa momen yang sangat melekat di ingatan saya dalam sebuah post rutin tahunan yang biasa saya sebut dengan "Coretan Akhir Tahun" edisi 2020. 
Oke. Yaudah langsung saja sob. Berikut beberapa momen yang cukup melekat dalam ingatan saya. 

► 2 Maret 2020
Tahun 2020 dimulai dengan sesuatu yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Baru berjalan dua bulan, sebuah virus yang awalnya terdengar jauh, perlahan menjadi sangat dekat. Pada awal Maret, pemerintah mengumumkan kasus pertama di Indonesia. Hari ini menjadi salah satu titik awal guncangan besar di Indonesia. Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus positif pertama infeksi COVID-19. Virus ini disebabkan oleh virus korona jenis baru yang diberi nama SARS-CoV-2. Wabah COVID-19 pertama kali dideteksi di Kota Wuhan, Hubei, Tiongkok pada Desember 2019. Awalnya saya tidak terlalu memahami seberapa besar dampaknya. Rasanya seperti berita biasa yang lewat begitu saja, seperti banyak berita lain yang sebelumnya saya dengar dari luar negeri. Tapi perlahan, semuanya mulai terasa berbeda. Ada kekhawatiran yang mulai muncul, meskipun saat itu saya belum benar-benar menyadari dampak sepenuhnya.


► 11 Maret 2020
Pada 11 Maret, Organisasi Kesehatan Dunia WHO akhirnya resmi menyatakan COVID-19 sebagai keadaan darurat kesehatan global atau biasa disebut pandemi. Saya termasuk orang yang cukup lambat dalam beradaptasi. Perubahan mendadak seperti ini tidak mudah untuk diterima begitu saja. Banyak kebiasaan yang harus diubah, banyak rencana yang harus ditunda, bahkan dibatalkan. Suasana mencekam mulai berubah lebih nyata. Informasi datang dari berbagai arah. Sejak saat itu, semuanya berubah. Aktivitas yang biasa dilakukan di luar rumah mulai dibatasi. Sekolah, kampus, bahkan pekerjaan, perlahan berpindah ke dalam ruang-ruang virtual. Saya mulai menyadari bahwa ini bukan situasi sementara. Ada sesuatu yang besar sedang terjadi, dan semua orang harus cepat beradaptasi, termasuk saya yang jujur saja cukup lama dalam menerima perubahan. Ada kekhawatiran yang muncul tapi seiring berjalannya waktu, saya mulai memahami bahwa tidak semua hal bisa berjalan sesuai dengan keinginan.


► 24 April 2020 
Bulan Ramadan pertama di tengah pandemi. Suasana yang biasanya ramai, kini terasa jauh lebih sepi. Tidak ada berburu takjil di sore hari, tidak ada tarawih di masjid atau musola, tidak ada kebiasaan berkumpul buka bersama keluarga besar seperti tahun-tahun sebelumnya. Saya menjalani semuanya dari rumah. Ada rasa aneh yang tidak bisa dijelaskan. Biasanya bulan Ramadan selalu identik dengan kebersamaan, masjid yang ramai, dan suasana kekeluargaan yang hangat. Tapi tahun ini terasa jauh lebih sepi. Saya menjalani ibadah dari rumah, tanpa suasana yang biasanya saya rasakan. Awalnya terasa ganjil, Seolah-olah ada bagian dari tradisi yang hilang, semuanya terasa lebih hampa. Tapi ya mau gimana lagi, saya hanya bisa menerima keadaan pahit ini, perlahan-lahan saya mencoba menyesuaikan diri.


► 24 Mei 2020
Begitu juga dengan Lebaran Idul Fitri di bulan Mei. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup, saya merasakan Lebaran tanpa salat ied di masjid tapi hanya di rumah saja. Tidak ada silaturahmi juga seperti biasanya. Semua terasa serba terbatas, hanya bisa dilakukan secara online melalui video call karena di daerah saya termasuk zona merah. Lebaran yang terasa sangat berbeda 360 derajat. Di hari yang sama, saya juga berulang tahun yang ke-20. Sebuah usia yang seharusnya menjadi momen spesial sekaligus langka karena bertepatan dengan lebaran, tapi justru saya lewati dengan sederhana dan perasaan yang lagi-lagi sulit dijelaskan. Tidak ada perayaan, tidak ada kejutan, tidak ada rasa untuk bisa menikmati hari sepenuhnya dengan kesenangan yang bisa jadi memori indah. Hari itu hanya hari yang berjalan seperti biasa, namun dengan perasaan yang lebih sedih dari biasanya. Hari yang cukup berat untuk saya lalui pribadi. 


► 3 Juni 2020
Di tengah semua itu, saya tetap menjalani proses yang sudah dimulai sejak lama yaitu proses seleksi masuk kuliah. UTBK menjadi salah satu hal yang cukup menguras pikiran saya juga. Bahkan sebelum ujian dimulai, aturan sudah berubah dan membuat saya harus merelakan pilihan jurusan yang sebelumnya saya inginkan. Saya tidak tahu harus merasa kecewa atau pasrah. Mungkin keduanya. Saya mendaftar UTBK dengan perasaan yang campur aduk hingga saya tumpahkan dalam bentuk tulisan di sini. Perubahan aturan membuat saya tidak bisa memilih jurusan yang benar-benar saya inginkan. Di titik ini, saya mulai belajar tentang menerima. Tidak semua hal bisa berjalan sesuai rencana. Dan jujur saja, ini tidak mudah.


► 5 Juli 2020
Tanggal 5 Juli menjadi salah satu hari yang cukup saya ingat. Hari di mana saya akhirnya mengikuti UTBK untuk terakhir kalinya sebagai warga negara Indonesia. Ini adalah salah satu momen paling pasrah yang saya rasakan sepanjang tahun ini. Saya datang tanpa ekspektasi. Tidak ada ambisi besar, tidak ada target tinggi. Hanya ingin menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Dan mungkin, di situlah letak kepasrahannya. Ketika saya tidak lagi memaksakan hasil. Hanya datang, kerjakan, dan lupakan. Tentunya dengen prosedur dan protokol kesehatan yang sangat ketat. Saya tulis juga perjalanan UTBK terakhir ini di sini. 


► 14 Agustus 2020
Di tahun yang penuh kedukaan dan kabar buruk ini, ada satu keajaiban yang terjadi di perjalanan hidup saya tahun ini yaitu akhirnya saya lolos UTBK SBMPTN hingga saya kesulitan untuk mengungkapkannya dengan kata-kata. Dengan level kepasrahan yang sudah mencapai titik tertingginya, eh ternyata di luar dugaan, saya dinyatakan lolos. Pilihan pertama. Rasanya sulit dijelaskan. Antara senang, tidak percaya, dan sedikit bingung karena bukan jurusan yang benar-benar saya inginkan sejak awal. Tapi tetap saja, ini adalah pencapaian yang tidak bisa saya anggap kecil. Ada rasa haru yang muncul begitu saja melihat orang tuaku senang melihat anaknya lolos. Momen yang masuk ke inti memori ini saya abadikan juga dalam bentuk tulisan di sini. 


► 5 September 2020
Hari yang mungkin terlihat sepele bagi sebagian orang, tapi cukup berarti bagi saya. Layanan streaming Disney Plus resmi hadir di Indonesia. Di tengah pembatasan aktivitas sosial di masa pandemi, hal ini seperti menjadi salah satu penerang hidup untuk bisa jadi tempat pelarian sejenak menghibur diri dengan tayangan yang beragam. Saya bisa menikmati banyak film dan serial dari rumah. Di tahun yang penuh tekanan ini, hal-hal kecil seperti ini terasa cukup membantu. Saya sangat senang dan berbahagia menyambut perilisan aplikasi ini, dengan lebih banyak waktu di rumah, saya jadi lebih sering menonton film dan serial. Ini menjadi salah satu cara saya mengisi waktu sekaligus menghibur diri di tengah situasi yang tidak pasti. jadi tidak ada lagi jarak yang terasa soal hiburan yang asyik ini dengan orang barat. Begitu ada konten baru di sini juga ikut update dan sama-sama merasakan kehebohan yang sama. Luar biasa. 

► 9 & 10 September 2020
Memasuki bulan september, kehidupan baru dimulai. Saya melaksanakan Ospek universitas dan fakultas tapi dilakukan secara online. Ospek yang biasanya identik dengan interaksi langsung, kini hanya bisa dilakukan melalui layar. Saya mengikuti rangkaian kegiatan itu dengan perasaan yang jujur saja, kurang menikmati. Tidak ada interaksi langsung, tidak ada suasana panik, gerah, atau capek yang benar-benar terasa. Saya mengikuti semuanya dari layar, duduk berjam-jam, dan mencoba tetap fokus. Ada sedikit rasa kecewa, karena pengalaman yang seharusnya berkesan, malah terasa cukup hambar. Sabar banget. 


► 26-27 September 2020
Hal yang sama juga terjadi saat ospek jurusan dan berbagai kegiatan lainnya. Semua berjalan online dan terasa jauh. Ada jarak yang tidak bisa dijelaskan. Mungkin ini adalah konsekuensi dari keadaan. Polanya hampir sama. Duduk, menatap layar, mendengarkan materi yang tidak nampak nyata dan terkadang sulit untuk benar-benar dicerna. Ada kelelahan yang berbeda. Bukan fisik, tapi lebih ke arah mental. Seolah-olah saya hadir, tapi tidak benar-benar berada di sana. Dua hari ini terasa cukup panjang. Informasi yang diberikan banyak, tapi sulit untuk benar-benar terserap. Saya mulai merasakan bagaimana rasanya menjalani aktivitas sepenuhnya secara online. Sangat menyiksa badan dan pikiran untuk orang yang sudah lama tidak punya jadwal tetap sekaligus tidak berinteraksi dengan sesama manusia lainnya. 



► 26 Oktober - 6 November 2020
Memasuki kuartal keempat tahun ini, alur kehidupan mulai berubah. Saya makin sibuk dengan tugas-tugas kuliah yang mulai berdatangan tanpa henti. Lalu tibalah UTS pertama saya sebagai mahasiswa. Ini menjadi pengalaman yang cukup mengejutkan. Sistem yang berbeda, tekanan yang terasa lebih nyata walau hanya online. Saya sempat merasa tidak siap. Cara belajar harus diubah, cara berpikir juga harus menyesuaikan. Ada momen di mana saya merasa tertinggal, tapi saya mencoba untuk tetap mengikuti ritme yang ada. Saya cukup syok dengan beragam aturan yang sangat berbeda ketika ujian waktu sekolah dulu. 


► 18 Desember 2020
Di sela-sela semua itu, saya banyak menghabiskan waktu luang dengan menonton film dan serial. Mungkin ini adalah cara saya untuk tetap waras. Salah satu yang cukup membekas adalah penutup musim kedua The Mandalorian di bulan Desember ini. Sebuah tontonan yang memanjakan penggemar setia dan mampu memberikan rasa senang yang tak terkira. Episode final mandalorian sangatlah apik. Banyak kejutan yang dihadirkan dan membuat saya merasa euforia yang tak terbendung sebagai fans Star Wars. Ada kebahagiaan sederhana yang muncul, sesuatu yang membuat saya sejenak lupa dengan dunia nyata.


► 21 Desember 2020 - 1 Januari 
Sekarang, saya sedang berada di penghujung UAS pertama saya sebagai mahasiswa baru. Masih ada satu ujian lagi sebenarnya. Tapi saya tetap meluangkan waktu untuk menuntaskan tulisan ini malam ini. Mungkin karena saya tidak ingin melewatkan tahun ini begitu saja. Saya ingin menutup tahun ini seperti biasa saya lalui yaitu mengikatnya dalam bentuk tulisan, dari yang penting sampai yang receh, pokoknya apa pun yang menurut saya cukup membekas. Untuk UAS pertama ini saya sudah mulai terbiasa dengan sistem dan tekanan yang dihadapi. Tapi untuk cara belajar masih belum menemukan cara yang ideal karena banyak teori yang cukup sulit dibayangkan tapi harus bisa dikuasai dengan baik. Saya masih terus beradaptasi dan berusaha memahami segala pelajaran yang ada. Doakan ya sob semoga saya kuat. 


Yak mungkin itu saja yang bisa saya ceritakan tentang apa saja daftar momen yang paling berdampak pada hidup saya tahun ini. Mohon maaf jika kepanjangan karena memang cukup banyak yang terjadi di tahun 2020. 

Jika dipikirkan kembali, tahun ini ada beberapa rencana yang tidak berjalan seperti yang saya bayangkan. Banyak liku-likunya. Lebih banyak hal yang tidak berjalan sesuai resolusi. Lebih banyak waktu yang dihabiskan di rumah. Lebih banyak perasaan yang datang tanpa bisa dijelaskan dengan jelas. Lebih banyak ketidakpastian, lebih banyak rasa khawatir, dan mungkin juga lebih banyak waktu yang dihabiskan untuk berpikir terlalu jauh. Saya merasa tahun ini lagi-lagi lebih banyak dirasakan oleh emosi daripada dijalani dengan tindakan. Ada banyak perasaan yang datang silih berganti. Takut, ragu, kecewa, tapi juga sesekali ada rasa syukur yang muncul diam-diam. Saya tidak benar-benar mengerti apa yang terjadi di dalam diri saya selama satu tahun ini. Tapi satu hal yang pasti, saya merasakan perubahan. Entah menjadi lebih baik atau tidak, saya juga belum tahu.

2020 yang seharusnya menjadi tahun terbaik malah berkata sebaliknya. Banyak kesulitan yang terjadi. Tapi saya yakin, tahun ini akan selalu saya ingat sebagai salah satu fase penting dalam hidup saya. Fase di mana saya mulai benar-benar merasakan apa artinya menjadi manusia, dengan segala keraguan, ketakutan, dan harapan yang bercampur menjadi satu. Tahun di mana saya belajar menerima hal-hal yang tidak bisa saya kendalikan. Dan tahun di mana saya mulai memahami bahwa menjadi manusia itu tidak selalu tentang pencapaian, tapi juga tentang bertahan hidup. 

Saya tidak punya harapan yang muluk-muluk untuk tahun depan. Saya hanya berharap keadaan dunia bisa perlahan membaik. Semoga apa yang terasa berat di tahun ini, tidak perlu terulang dengan cara yang sama di tahun berikutnya. Semoga saya bisa cepat beradaptasi mengikuti arus kuliah dan bisa menjalaninya dengan lebih tenang. Akhir kata, terima kasih untuk diri saya sendiri yang masih bisa bertahan sampai sejauh ini. Terima kasih juga untuk para pengunjung yang telah membacanya hingga tuntas. Kalian luar biasa. Kurang lebihnya mohon dimaafkan ya. 





Oh iya satu lagi, jangan lupa, tetap jaga kesehatan serta patuhi protokol kesehatan 3M (Memakai masker; mencuci tangan; menjaga jarak) ya! Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiin... 



Selamat akhir tahun 2020 sob! 
Read More

Kamis, 24 Desember 2020

SEVENTH ANNIVERSARY

Selamat malam sobat blogger!

Saya tidak menyangka kita semua masih diberikan kesehatan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Ucapan syukur tak henti-hentinya saya panjatkan kepada Allah SWT, karena dengan kuasa-Nya saya bisa bertahan menghadapi berbagai tantangan besar tahun ini, beriringan dengan virus corona yang belum tahu kapan akan berakhir.

Selain itu, saya juga bersyukur masih bisa merasakan hari jadi blog ini yang ketujuh. Tepat hari ini, 24 Desember. Tak terasa, saya bisa sejauh ini melangkah bersama catatan daring yang sangat saya sayangi. Hehe, mungkin terdengar lebay. Tapi memang seperti itu adanya. Blog ini telah menjadi saksi bisu dari perjalanan hidup saya, terutama di masa-masa krusial peralihan usia menuju kepala dua. Kalau ada sesuatu yang ingin saya keluarkan dari pikiran, biasanya saya langsung membuka blog dan melampiaskannya. Ini merupakan kegiatan yang mengasah diri saya agar bisa terus termotivasi, sekaligus membuat pikiran menjadi lebih tenang.



Hampir setiap hari, saya memiliki banyak ide untuk ditulis. Mungkin karena saya memang suka memikirkan banyak hal. Apa pun bisa saya pikirkan, sampai kadang kepala terasa penuh sendiri. Dari hal yang sepele seperti kenapa kedutan bisa muncul sampai hal-hal yang agak di luar kebiasaan seperti apakah alam semesta punya ujung? 

Makanya daripada terlalu sumpek di kepala, saya biasanya tulis pemikiran-pemikiran saya di aplikasi buku catatan terlebih dahulu untuk ditampung. Kalau dirasa menarik untuk digali lebih dalam, baru saya pindahkan ke daftar prioritas untuk diposting di blog. Setelah itu, saya kembangkan sedikit demi sedikit sampai menjadi tulisan yang layak dibaca dan disebarkan di blog saya.

Tapi tentu saja tidak semua pemikiran saya harus dipublikasikan. Terkadang ada juga beberapa tulisan yang sebaiknya tetap disimpan sebagai catatan luring. Mungkin karena terlalu sensitif, atau memang belum saatnya dibagikan. Jadi, bisa dibilang semua tulisan yang sudah saya posting di sini sebenarnya sudah melalui proses pertimbangan yang cukup panjang dan sangat ketat untuk bisa lolos publikasi hingga bisa dinikmati oleh kalian semua pembaca setia blog saya. Walaupun, yaa... kadang tetap saja terasa seperti tidak ada yang membaca karena minimnya interaksi. Hehe.. 

Susah dan senang sudah saya lalui bersama blog ini. Apa yang seharusnya saya tulis, saya usahakan untuk ditulis dengan sebaik mungkin, setidaknya agar bisa menenangkan hati dan pikiran saya sendiri. Ini semacam ‘me time’ sederhana yang cukup berarti. Sudah sekitar tujuh tahun saya melakukan kebiasaan ini. Dan saya sadar, saya masih terus berproses. Harapannya, saya bisa tetap menulis secara rutin, bahkan kalau bisa sampai akhir hayat menjelang. Kalau pun ternyata suatu saat tidak bisa atau terhenti lagi, paling tidak dalam beberapa tahun terakhir saya punya rekam jejak catatan yang bisa dilihat kembali. Siapa tahu, itu bisa menjadi inspirasi untuk memulai lagi.

Sebagai orang yang cukup takut menjadi pelupa di masa tua, saya merasa sangat terbantu dengan adanya catatan-catatan ini. Setidaknya, ada sesuatu yang bisa mengingatkan saya tentang apa saja yang pernah saya rasakan di masa lalu. Menulis catatan harian berarti menyimpan jejak dari hari ke hari. Ada sesuatu yang bisa dinantikan setiap kali hari berakhir. Paling tidak, itu yang saya rasakan selama beberapa tahun terakhir.

Yak, mungkin itu saja yang bisa saya ceritakan di penanda hari jadi blog kali ini. Tidak terasa, tujuh tahun sudah berlalu. Banyak hal yang berubah, tapi kebiasaan positif ini masih tetap saya pertahankan semampunya. Menulis, menyimpan, lalu sesekali kembali membaca hanya sebagai pengingat bahwa saya pernah ada di titik-titik itu. Sebuah rasa antusiasme yang tidak pernah hilang sampai kapanpun. Karena selama saya masih menulis maka saya akan selalu ada. 

Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca sampai akhir. Dan semoga kita semua masih diberi kesempatan untuk terus melangkah, sejauh apa pun itu.

Jangan lupa tetap jaga kesehatan. Jangan remehkan 3M, dan tetap semangat! 
Read More