Halo! Selamat pagi sobat blogger di mana pun kalian berada. Gimana kabarnya kalian semua? Saya harap kondisi kalian baik-baik saja ya. Saya ingin cerita sedikit tentang kondisi yang saya rasakan saat ini. Sudah beberapa hari sejak saya menyelesaikan UTBK terakhir, saya merasakan keanehan yang aneh. Bukan gugup, bukan takut, bukan juga lega. Lebih seperti rasa kosong yang tiba-tiba terbentuk di dalam kepala. Seolah-olah sesuatu yang selama ini menancap dan memenuhi hari-hari saya mendadak dicabut. Setelah itu saya dibiarkan kebingungan berdiri di tengah hamparan lahan yang luas tanpa tahu harus melangkah ke mana.
Awalnya saya pikir setelah ujian itu akan merasa lega. Bisa tidur panjang tanpa rasa bersalah, bisa nonton film tanpa dihantui waktu yang terbuang, bisa makan banyak tanpa dihitung sebagai "calon penyesalan" . Tapi ternyata, begitu ujian selesai dan semua hal itu diperbolehkan, rasanya malah janggal. Seperti tubuh saya sudah lupa bagaimana rasanya hidup tanpa tekanan. Beberapa kali saya membuka ponsel, lalu menutupnya lagi. Jalan ke dapur, lalu bingung mau ngapain. Duduk di kamar, menatap dinding, mencoba memikirkan sesuatu yang penting tapi tidak ada. Tidak ada apa pun. Persis seperti ilustrasi gambar ini
Saya berusaha semaksimal mungkin memahami kondisi ini, saya perlahan-lahan mengenali gejala aneh ini dengan banyak cara dan metode. Saya pikir masalahnya bukan kelelahan. Bukan juga bosan. Lebih seperti kehilangan arah sejenak setelah sekian lama berlari hanya ke satu tujuan besar. Setelah saya hubungkan dengan perjalanan saya sampai saat ini mungkin ini adalah efek samping dari selesainya ujian saya. Setelah ujian itu lewat, rasanya saya berdiri memandangi sekeliling, dan ternyata tidak ada petunjuk ke mana harus pergi selain menunggu. Banyak yang bilang ini fase normal, semacam kehampaan setelah peristiwa besar. Tapi rasanya tetap aneh. Rasa hampa yang menekan tapi tidak menyakitkan, kosong tapi tidak sepenuhnya gelap.
Hari-hari saya jadi terasa datar. Saya bangun tanpa rencana, bergerak tanpa tujuan, mengerjakan hal-hal kecil dengan setengah sadar. Kadang saya memaksa diri untuk bersih-bersih, membantu orang tua, atau olahraga ringan, sekadar agar tubuh saya tidak ikut tenggelam dalam kekosongan yang sama. Tapi setelah itu selesai, saya kembali ke titik yang sama. Duduk tanpa tahu apa yang sebenarnya sedang saya inginkan. Satu hal yang paling bikin saya bingung adalah fakta bahwa seharusnya saya merasa bebas. Tanggung jawab belajar yang selama ini menyedot energi sudah hilang. Tidak ada lagi jam belajar yang kaku. Tidak ada lagi tekanan mencatat target setiap hari. Namun anehnya, tubuh saya seperti belum menerima kenyataan itu. Ada perasaan seperti "harusnya saya melakukan sesuatu yang bermanfaat" , tapi saya bahkan tidak tahu kegiatan apa itu.
Saya tidak lagi menyentuh materi pelajaran untuk berjaga-jaga mengikuti persiapan ujian mandiri karena saya memang tidak berniat untuk ikut serta dalam ujian mandiri. Alasannya mungkin sudah bisa ditebak, ya karena biayanya yang cukup mahal untuk kondisi sulit seperti pandemi yang saat ini tengah berlangsung. Ada hal yang harus bisa direm dan diatur ulang agar semua bisa tepat sasaran. Itu yang ditekankan bapak saya berkali-kali. Jadinya ya sudahlah. Saya hanya bisa pasrah dengan keadaan yang ada. "Nothing to lose" istilah kerennya. Jika nanti pengumuman UTBK keterima ya alhamdulillah, jika tidak ya saya akan mencari kerja sungguhan untuk bisa membantu perekonomian keluarga.
Nah di tengah rasa hampa itu, muncul pikiran kecil yang awalnya ingin saya abaikan, yaitu menulis. Pikiran terus berkata setiap harinya, "Coba tulis saja. Apa pun itu." Semacam naluri lama di otak yang terbangun dari tidur panjang. Mungkin karena saya butuh tempat untuk menuangkan kebingungan yang tidak bisa dijelaskan lewat percakapan biasa. Mungkin karena menulis selalu menjadi cara terbaik saya untuk memahami apa yang sedang terjadi di dalam diri ini ketika semuanya terasa sangat kabur.
Alhasil, saya berusaha fokus lagi lalu duduk dan membuka blog ini lagi, sebuah ruang aman yang sudah lama saya abaikan dan hanya saya buka sesekali ketika pikiran saya butuh tempat pulang. Rasanya memang sedikit canggung. Seperti bertemu teman lama dan tidak tahu harus memulai dari mana. Tapi di saat yang sama, ada kepuasan kecil yang muncul hanya karena saya pada akhirnya menekan tombol "postingan baru". Dan jujur saja, alasan saya mencurahkan hal ini selalu sederhana, saya sedang berusaha menghancurkan kekosongan ini. Atau setidaknya, saya memberikan bentuk pada rasa itu lewat kata-kata. Karena terkadang kehampaan yang tidak diberi nama atau bahkan diabaikan justru semakin membesar, sementara yang dicatat perlahan punya batas dan terkadang bisa menghilang sendiri.
Saya tidak tahu apakah tulisan ini akan membuat perasaan saya membaik. Tapi setidaknya sekarang saya sedang melakukan sesuatu. Sedikit demi sedikit, saya mulai bergerak lagi, bukan karena harus, tapi karena saya tidak ingin tenggelam dalam ruang kosong ini sendirian. Mungkin beberapa hari ke depan masih akan terasa sama. Mungkin juga perasaan ini hilang tiba-tiba. Saya tidak tahu. Tapi untuk sekarang, menulis adalah langkah kecil yang bisa saya lakukan. Dan kadang, langkah kecil seperti ini sudah cukup untuk membuat saya merasa semangat lagi.




