Kamis, 31 Desember 2020

Coretan Akhir Tahun 2020

Selamat siang sobat blogger! 

Gimana kabar kalian semua di akhir tahun yang berat ini? Saya harap kondisi kalian dalam keadaan aman dan sehat selalu ya. 

Huuft akhirnya sampai juga di penghujung akhir tahun 2020. Lama banget ya kalo dirasain bener-bener ini tahun, kebanyakan beraktivitas di rumah aja tanpa banyak keluar bikin dunia terasa sempit dan terkesan tidak banyak perubahan atau pencapaian yang diraih. Saya sebenarnya sudah menyempatkan diri untuk mencicil postingan tahunan ini dari seminggu yang lalu—dengan pikiran yang masih dipenuhi banyak hal yang belum benar-benar selesai, termasuk UAS yang bahkan masih berlangsung. Tapi baru sekarang postingan spesial rangkuman akhir tahun ini saya paksakan untuk selesai dan tetap merilisnya hari ini karena sangat sayang jika dilewatkan tanpa catatan arsip sejarah dunia pada umumnya dan saya pribadi khususnya. 

2020 adalah tahun yang entah harus saya definisikan seperti apa ya... Berat? banget. Melelahkan? udah pasti. Membingungkan? Jujur iya. Tahun yang penuh dengan kejadian tak terduga, penuh tantangan, dan mungkin bagi sebagian orang termasuk saya, menjadi tahun yang cukup menguras perasaan. Saya tergolong orang yang sangat lambat dalam hal menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi ekstrem seperti tahun ini yang membuat jiwa raga saya cukup syok berat menghadapi segala ujian yang ada. 

Tapi di sisi lain tahun ini juga penuh pelajaran yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Bisa dibilang tulisan ini bukan sesuatu yang terlalu berbobot sebenarnya, hanya rangkuman kejadian yang menurut saya penting, tapi setidaknya bisa menjadi pengingat kecil tentang apa saja yang telah saya lalui. Karena saya sadar, ingatan manusia itu terbatas. Dan mungkin, suatu hari nanti saya akan kembali membaca ini dan mencoba memahami kembali versi diri saya di tahun ini.

Karena tahun ini punya banyak momen yang menegangkan sekaligus mengharukan, maka dari itu saya mencoba mengumpulkan beberapa momen yang sangat melekat di ingatan saya dalam sebuah post rutin tahunan yang biasa saya sebut dengan "Coretan Akhir Tahun" edisi 2020. 
Oke. Yaudah langsung saja sob. Berikut beberapa momen yang cukup melekat dalam ingatan saya. 

► 2 Maret 2020
Tahun 2020 dimulai dengan sesuatu yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Baru berjalan dua bulan, sebuah virus yang awalnya terdengar jauh, perlahan menjadi sangat dekat. Pada awal Maret, pemerintah mengumumkan kasus pertama di Indonesia. Hari ini menjadi salah satu titik awal guncangan besar di Indonesia. Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus positif pertama infeksi COVID-19. Virus ini disebabkan oleh virus korona jenis baru yang diberi nama SARS-CoV-2. Wabah COVID-19 pertama kali dideteksi di Kota Wuhan, Hubei, Tiongkok pada Desember 2019. Awalnya saya tidak terlalu memahami seberapa besar dampaknya. Rasanya seperti berita biasa yang lewat begitu saja, seperti banyak berita lain yang sebelumnya saya dengar dari luar negeri. Tapi perlahan, semuanya mulai terasa berbeda. Ada kekhawatiran yang mulai muncul, meskipun saat itu saya belum benar-benar menyadari dampak sepenuhnya.


► 11 Maret 2020
Pada 11 Maret, Organisasi Kesehatan Dunia WHO akhirnya resmi menyatakan COVID-19 sebagai keadaan darurat kesehatan global atau biasa disebut pandemi. Saya termasuk orang yang cukup lambat dalam beradaptasi. Perubahan mendadak seperti ini tidak mudah untuk diterima begitu saja. Banyak kebiasaan yang harus diubah, banyak rencana yang harus ditunda, bahkan dibatalkan. Suasana mencekam mulai berubah lebih nyata. Informasi datang dari berbagai arah. Sejak saat itu, semuanya berubah. Aktivitas yang biasa dilakukan di luar rumah mulai dibatasi. Sekolah, kampus, bahkan pekerjaan, perlahan berpindah ke dalam ruang-ruang virtual. Saya mulai menyadari bahwa ini bukan situasi sementara. Ada sesuatu yang besar sedang terjadi, dan semua orang harus cepat beradaptasi, termasuk saya yang jujur saja cukup lama dalam menerima perubahan. Ada kekhawatiran yang muncul tapi seiring berjalannya waktu, saya mulai memahami bahwa tidak semua hal bisa berjalan sesuai dengan keinginan.


► 24 April 2020 
Bulan Ramadan pertama di tengah pandemi. Suasana yang biasanya ramai, kini terasa jauh lebih sepi. Tidak ada berburu takjil di sore hari, tidak ada tarawih di masjid atau musola, tidak ada kebiasaan berkumpul buka bersama keluarga besar seperti tahun-tahun sebelumnya. Saya menjalani semuanya dari rumah. Ada rasa aneh yang tidak bisa dijelaskan. Biasanya bulan Ramadan selalu identik dengan kebersamaan, masjid yang ramai, dan suasana kekeluargaan yang hangat. Tapi tahun ini terasa jauh lebih sepi. Saya menjalani ibadah dari rumah, tanpa suasana yang biasanya saya rasakan. Awalnya terasa ganjil, Seolah-olah ada bagian dari tradisi yang hilang, semuanya terasa lebih hampa. Tapi ya mau gimana lagi, saya hanya bisa menerima keadaan pahit ini, perlahan-lahan saya mencoba menyesuaikan diri.


► 24 Mei 2020
Begitu juga dengan Lebaran Idul Fitri di bulan Mei. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup, saya merasakan Lebaran tanpa salat ied di masjid tapi hanya di rumah saja. Tidak ada silaturahmi juga seperti biasanya. Semua terasa serba terbatas, hanya bisa dilakukan secara online melalui video call karena di daerah saya termasuk zona merah. Lebaran yang terasa sangat berbeda 360 derajat. Di hari yang sama, saya juga berulang tahun yang ke-20. Sebuah usia yang seharusnya menjadi momen spesial sekaligus langka karena bertepatan dengan lebaran, tapi justru saya lewati dengan sederhana dan perasaan yang lagi-lagi sulit dijelaskan. Tidak ada perayaan, tidak ada kejutan, tidak ada rasa untuk bisa menikmati hari sepenuhnya dengan kesenangan yang bisa jadi memori indah. Hari itu hanya hari yang berjalan seperti biasa, namun dengan perasaan yang lebih sedih dari biasanya. Hari yang cukup berat untuk saya lalui pribadi. 


► 3 Juni 2020
Di tengah semua itu, saya tetap menjalani proses yang sudah dimulai sejak lama yaitu proses seleksi masuk kuliah. UTBK menjadi salah satu hal yang cukup menguras pikiran saya juga. Bahkan sebelum ujian dimulai, aturan sudah berubah dan membuat saya harus merelakan pilihan jurusan yang sebelumnya saya inginkan. Saya tidak tahu harus merasa kecewa atau pasrah. Mungkin keduanya. Saya mendaftar UTBK dengan perasaan yang campur aduk hingga saya tumpahkan dalam bentuk tulisan di sini. Perubahan aturan membuat saya tidak bisa memilih jurusan yang benar-benar saya inginkan. Di titik ini, saya mulai belajar tentang menerima. Tidak semua hal bisa berjalan sesuai rencana. Dan jujur saja, ini tidak mudah.


► 5 Juli 2020
Tanggal 5 Juli menjadi salah satu hari yang cukup saya ingat. Hari di mana saya akhirnya mengikuti UTBK untuk terakhir kalinya sebagai warga negara Indonesia. Ini adalah salah satu momen paling pasrah yang saya rasakan sepanjang tahun ini. Saya datang tanpa ekspektasi. Tidak ada ambisi besar, tidak ada target tinggi. Hanya ingin menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Dan mungkin, di situlah letak kepasrahannya. Ketika saya tidak lagi memaksakan hasil. Hanya datang, kerjakan, dan lupakan. Tentunya dengen prosedur dan protokol kesehatan yang sangat ketat. Saya tulis juga perjalanan UTBK terakhir ini di sini. 


► 14 Agustus 2020
Di tahun yang penuh kedukaan dan kabar buruk ini, ada satu keajaiban yang terjadi di perjalanan hidup saya tahun ini yaitu akhirnya saya lolos UTBK SBMPTN hingga saya kesulitan untuk mengungkapkannya dengan kata-kata. Dengan level kepasrahan yang sudah mencapai titik tertingginya, eh ternyata di luar dugaan, saya dinyatakan lolos. Pilihan pertama. Rasanya sulit dijelaskan. Antara senang, tidak percaya, dan sedikit bingung karena bukan jurusan yang benar-benar saya inginkan sejak awal. Tapi tetap saja, ini adalah pencapaian yang tidak bisa saya anggap kecil. Ada rasa haru yang muncul begitu saja melihat orang tuaku senang melihat anaknya lolos. Momen yang masuk ke inti memori ini saya abadikan juga dalam bentuk tulisan di sini. 


► 5 September 2020
Hari yang mungkin terlihat sepele bagi sebagian orang, tapi cukup berarti bagi saya. Layanan streaming Disney Plus resmi hadir di Indonesia. Di tengah pembatasan aktivitas sosial di masa pandemi, hal ini seperti menjadi salah satu penerang hidup untuk bisa jadi tempat pelarian sejenak menghibur diri dengan tayangan yang beragam. Saya bisa menikmati banyak film dan serial dari rumah. Di tahun yang penuh tekanan ini, hal-hal kecil seperti ini terasa cukup membantu. Saya sangat senang dan berbahagia menyambut perilisan aplikasi ini, dengan lebih banyak waktu di rumah, saya jadi lebih sering menonton film dan serial. Ini menjadi salah satu cara saya mengisi waktu sekaligus menghibur diri di tengah situasi yang tidak pasti. jadi tidak ada lagi jarak yang terasa soal hiburan yang asyik ini dengan orang barat. Begitu ada konten baru di sini juga ikut update dan sama-sama merasakan kehebohan yang sama. Luar biasa. 

► 9 & 10 September 2020
Memasuki bulan september, kehidupan baru dimulai. Saya melaksanakan Ospek universitas dan fakultas tapi dilakukan secara online. Ospek yang biasanya identik dengan interaksi langsung, kini hanya bisa dilakukan melalui layar. Saya mengikuti rangkaian kegiatan itu dengan perasaan yang jujur saja, kurang menikmati. Tidak ada interaksi langsung, tidak ada suasana panik, gerah, atau capek yang benar-benar terasa. Saya mengikuti semuanya dari layar, duduk berjam-jam, dan mencoba tetap fokus. Ada sedikit rasa kecewa, karena pengalaman yang seharusnya berkesan, malah terasa cukup hambar. Sabar banget. 


► 26-27 September 2020
Hal yang sama juga terjadi saat ospek jurusan dan berbagai kegiatan lainnya. Semua berjalan online dan terasa jauh. Ada jarak yang tidak bisa dijelaskan. Mungkin ini adalah konsekuensi dari keadaan. Polanya hampir sama. Duduk, menatap layar, mendengarkan materi yang tidak nampak nyata dan terkadang sulit untuk benar-benar dicerna. Ada kelelahan yang berbeda. Bukan fisik, tapi lebih ke arah mental. Seolah-olah saya hadir, tapi tidak benar-benar berada di sana. Dua hari ini terasa cukup panjang. Informasi yang diberikan banyak, tapi sulit untuk benar-benar terserap. Saya mulai merasakan bagaimana rasanya menjalani aktivitas sepenuhnya secara online. Sangat menyiksa badan dan pikiran untuk orang yang sudah lama tidak punya jadwal tetap sekaligus tidak berinteraksi dengan sesama manusia lainnya. 



► 26 Oktober - 6 November 2020
Memasuki kuartal keempat tahun ini, alur kehidupan mulai berubah. Saya makin sibuk dengan tugas-tugas kuliah yang mulai berdatangan tanpa henti. Lalu tibalah UTS pertama saya sebagai mahasiswa. Ini menjadi pengalaman yang cukup mengejutkan. Sistem yang berbeda, tekanan yang terasa lebih nyata walau hanya online. Saya sempat merasa tidak siap. Cara belajar harus diubah, cara berpikir juga harus menyesuaikan. Ada momen di mana saya merasa tertinggal, tapi saya mencoba untuk tetap mengikuti ritme yang ada. Saya cukup syok dengan beragam aturan yang sangat berbeda ketika ujian waktu sekolah dulu. 


► 18 Desember 2020
Di sela-sela semua itu, saya banyak menghabiskan waktu luang dengan menonton film dan serial. Mungkin ini adalah cara saya untuk tetap waras. Salah satu yang cukup membekas adalah penutup musim kedua The Mandalorian di bulan Desember ini. Sebuah tontonan yang memanjakan penggemar setia dan mampu memberikan rasa senang yang tak terkira. Episode final mandalorian sangatlah apik. Banyak kejutan yang dihadirkan dan membuat saya merasa euforia yang tak terbendung sebagai fans Star Wars. Ada kebahagiaan sederhana yang muncul, sesuatu yang membuat saya sejenak lupa dengan dunia nyata.


► 21 Desember 2020 - 1 Januari 
Sekarang, saya sedang berada di penghujung UAS pertama saya sebagai mahasiswa baru. Masih ada satu ujian lagi sebenarnya. Tapi saya tetap meluangkan waktu untuk menuntaskan tulisan ini malam ini. Mungkin karena saya tidak ingin melewatkan tahun ini begitu saja. Saya ingin menutup tahun ini seperti biasa saya lalui yaitu mengikatnya dalam bentuk tulisan, dari yang penting sampai yang receh, pokoknya apa pun yang menurut saya cukup membekas. Untuk UAS pertama ini saya sudah mulai terbiasa dengan sistem dan tekanan yang dihadapi. Tapi untuk cara belajar masih belum menemukan cara yang ideal karena banyak teori yang cukup sulit dibayangkan tapi harus bisa dikuasai dengan baik. Saya masih terus beradaptasi dan berusaha memahami segala pelajaran yang ada. Doakan ya sob semoga saya kuat. 


Yak mungkin itu saja yang bisa saya ceritakan tentang apa saja daftar momen yang paling berdampak pada hidup saya tahun ini. Mohon maaf jika kepanjangan karena memang cukup banyak yang terjadi di tahun 2020. 

Jika dipikirkan kembali, tahun ini ada beberapa rencana yang tidak berjalan seperti yang saya bayangkan. Banyak liku-likunya. Lebih banyak hal yang tidak berjalan sesuai resolusi. Lebih banyak waktu yang dihabiskan di rumah. Lebih banyak perasaan yang datang tanpa bisa dijelaskan dengan jelas. Lebih banyak ketidakpastian, lebih banyak rasa khawatir, dan mungkin juga lebih banyak waktu yang dihabiskan untuk berpikir terlalu jauh. Saya merasa tahun ini lagi-lagi lebih banyak dirasakan oleh emosi daripada dijalani dengan tindakan. Ada banyak perasaan yang datang silih berganti. Takut, ragu, kecewa, tapi juga sesekali ada rasa syukur yang muncul diam-diam. Saya tidak benar-benar mengerti apa yang terjadi di dalam diri saya selama satu tahun ini. Tapi satu hal yang pasti, saya merasakan perubahan. Entah menjadi lebih baik atau tidak, saya juga belum tahu.

2020 yang seharusnya menjadi tahun terbaik malah berkata sebaliknya. Banyak kesulitan yang terjadi. Tapi saya yakin, tahun ini akan selalu saya ingat sebagai salah satu fase penting dalam hidup saya. Fase di mana saya mulai benar-benar merasakan apa artinya menjadi manusia, dengan segala keraguan, ketakutan, dan harapan yang bercampur menjadi satu. Tahun di mana saya belajar menerima hal-hal yang tidak bisa saya kendalikan. Dan tahun di mana saya mulai memahami bahwa menjadi manusia itu tidak selalu tentang pencapaian, tapi juga tentang bertahan hidup. 

Saya tidak punya harapan yang muluk-muluk untuk tahun depan. Saya hanya berharap keadaan dunia bisa perlahan membaik. Semoga apa yang terasa berat di tahun ini, tidak perlu terulang dengan cara yang sama di tahun berikutnya. Semoga saya bisa cepat beradaptasi mengikuti arus kuliah dan bisa menjalaninya dengan lebih tenang. Akhir kata, terima kasih untuk diri saya sendiri yang masih bisa bertahan sampai sejauh ini. Terima kasih juga untuk para pengunjung yang telah membacanya hingga tuntas. Kalian luar biasa. Kurang lebihnya mohon dimaafkan ya. 





Oh iya satu lagi, jangan lupa, tetap jaga kesehatan serta patuhi protokol kesehatan 3M (Memakai masker; mencuci tangan; menjaga jarak) ya! Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiin... 



Selamat akhir tahun 2020 sob! 
Read More

Kamis, 24 Desember 2020

SEVENTH ANNIVERSARY

Selamat malam sobat blogger!

Saya tidak menyangka kita semua masih diberikan kesehatan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Ucapan syukur tak henti-hentinya saya panjatkan kepada Allah SWT, karena dengan kuasa-Nya saya bisa bertahan menghadapi berbagai tantangan besar tahun ini, beriringan dengan virus corona yang belum tahu kapan akan berakhir.

Selain itu, saya juga bersyukur masih bisa merasakan hari jadi blog ini yang ketujuh. Tepat hari ini, 24 Desember. Tak terasa, saya bisa sejauh ini melangkah bersama catatan daring yang sangat saya sayangi. Hehe, mungkin terdengar lebay. Tapi memang seperti itu adanya. Blog ini telah menjadi saksi bisu dari perjalanan hidup saya, terutama di masa-masa krusial peralihan usia menuju kepala dua. Kalau ada sesuatu yang ingin saya keluarkan dari pikiran, biasanya saya langsung membuka blog dan melampiaskannya. Ini merupakan kegiatan yang mengasah diri saya agar bisa terus termotivasi, sekaligus membuat pikiran menjadi lebih tenang.



Hampir setiap hari, saya memiliki banyak ide untuk ditulis. Mungkin karena saya memang suka memikirkan banyak hal. Apa pun bisa saya pikirkan, sampai kadang kepala terasa penuh sendiri. Dari hal yang sepele seperti kenapa kedutan bisa muncul sampai hal-hal yang agak di luar kebiasaan seperti apakah alam semesta punya ujung? 

Makanya daripada terlalu sumpek di kepala, saya biasanya tulis pemikiran-pemikiran saya di aplikasi buku catatan terlebih dahulu untuk ditampung. Kalau dirasa menarik untuk digali lebih dalam, baru saya pindahkan ke daftar prioritas untuk diposting di blog. Setelah itu, saya kembangkan sedikit demi sedikit sampai menjadi tulisan yang layak dibaca dan disebarkan di blog saya.

Tapi tentu saja tidak semua pemikiran saya harus dipublikasikan. Terkadang ada juga beberapa tulisan yang sebaiknya tetap disimpan sebagai catatan luring. Mungkin karena terlalu sensitif, atau memang belum saatnya dibagikan. Jadi, bisa dibilang semua tulisan yang sudah saya posting di sini sebenarnya sudah melalui proses pertimbangan yang cukup panjang dan sangat ketat untuk bisa lolos publikasi hingga bisa dinikmati oleh kalian semua pembaca setia blog saya. Walaupun, yaa... kadang tetap saja terasa seperti tidak ada yang membaca karena minimnya interaksi. Hehe.. 

Susah dan senang sudah saya lalui bersama blog ini. Apa yang seharusnya saya tulis, saya usahakan untuk ditulis dengan sebaik mungkin, setidaknya agar bisa menenangkan hati dan pikiran saya sendiri. Ini semacam ‘me time’ sederhana yang cukup berarti. Sudah sekitar tujuh tahun saya melakukan kebiasaan ini. Dan saya sadar, saya masih terus berproses. Harapannya, saya bisa tetap menulis secara rutin, bahkan kalau bisa sampai akhir hayat menjelang. Kalau pun ternyata suatu saat tidak bisa atau terhenti lagi, paling tidak dalam beberapa tahun terakhir saya punya rekam jejak catatan yang bisa dilihat kembali. Siapa tahu, itu bisa menjadi inspirasi untuk memulai lagi.

Sebagai orang yang cukup takut menjadi pelupa di masa tua, saya merasa sangat terbantu dengan adanya catatan-catatan ini. Setidaknya, ada sesuatu yang bisa mengingatkan saya tentang apa saja yang pernah saya rasakan di masa lalu. Menulis catatan harian berarti menyimpan jejak dari hari ke hari. Ada sesuatu yang bisa dinantikan setiap kali hari berakhir. Paling tidak, itu yang saya rasakan selama beberapa tahun terakhir.

Yak, mungkin itu saja yang bisa saya ceritakan di penanda hari jadi blog kali ini. Tidak terasa, tujuh tahun sudah berlalu. Banyak hal yang berubah, tapi kebiasaan positif ini masih tetap saya pertahankan semampunya. Menulis, menyimpan, lalu sesekali kembali membaca hanya sebagai pengingat bahwa saya pernah ada di titik-titik itu. Sebuah rasa antusiasme yang tidak pernah hilang sampai kapanpun. Karena selama saya masih menulis maka saya akan selalu ada. 

Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca sampai akhir. Dan semoga kita semua masih diberi kesempatan untuk terus melangkah, sejauh apa pun itu.

Jangan lupa tetap jaga kesehatan. Jangan remehkan 3M, dan tetap semangat! 
Read More

Sabtu, 19 Desember 2020

The Mandalorian Season 2: Hadiah untuk Penggemar Setia

Halo sobat blogger di mana pun kalian berada. Semoga semuanya berjalan dengan baik, meskipun mungkin masih diisi dengan rutinitas yang itu-itu saja. Akhir-akhir ini, saya juga tidak melakukan banyak hal yang benar-benar berbeda selain mengerjakan tugas kuliah. Tapi ada satu hal yang cukup saya tunggu setiap minggunya, dan akhirnya sampai juga di titik akhir.

Yak apalagi kalau bukan series The Mandalorian yang baru saja mengakhiri season 2 nya dengan luar biasa hebat. Fans rasanya dimanjakan dengan beragam fans service yang tak terduga. Jujur saja, rasanya masih sulit untuk dicerna dengan tenang. Karena episode final ini seru banget. Bahkan mungkin lebih dari sekadar keren. Fantastis. 


Sejak pertama tayang di akhir Oktober, saya mengikuti season ini dengan cukup santai. Tidak terlalu banyak ekspektasi di awal, hanya ingin melanjutkan perjalanan yang sebelumnya sudah terasa menarik. Tapi ternyata, semakin ke sini, justru semakin terasa bahwa season ini membawa sesuatu yang jauh lebih besar dari yang saya bayangkan. Sebagai seseorang yang sudah cukup lama menyukai Star Wars, saya masuk ke season ini dengan perasaan yang cukup sederhana. Ingin melanjutkan cerita season pertama yang cukup menggantung penuh misteri yaitu adegan Moff Gideon yang memegang darksaber. Saya jadi penasaran dan ingin melihat ke mana arah perjalanan karakter ini dibawa. Tidak ada ekspektasi berlebihan di awal. Tapi pelan-pelan, setiap episode seperti memberi alasan baru untuk tetap bertahan dan menunggu minggu berikutnya.


WARNING! Spoiler alert! ⚠️ 

Season kedua ini terasa lebih luas dibanding sebelumnya. Dunia yang ditampilkan tidak lagi terasa sempit. Perjalanan The Mandalorian membawa saya ke lebih banyak tempat, lebih banyak konflik, dan tentu saja, lebih banyak karakter yang sudah lama saya kenal. Dan di situlah salah satu kekuatan terbesarnya mulai terasa. Kemunculan Bo-Katan Kryze dan kelompok kecilnya di awal season membawa konflik politik Mandalore ke permukaan dan memperluas budayanya. 

Lalu ada Boba Fett di pertengahan season menjadi salah satu momen yang sangat mengejutkan. Sosok yang selama ini hanya dikenal sebagai karakter ikonik dari masa lalu, tiba-tiba kembali dengan cara yang tidak dibuat berlebihan, tapi langsung terasa dampaknya. Fennec Shand juga hadir bersamanya yang menambah dinamika baru dalam cerita. Interaksinya dengan sang Mandalorian memberikan warna baru, seolah mempertemukan dua dunia yang berbeda dalam satu perjalanan yang sama.


Tidak berhenti di situ, kehadiran Ahsoka Tano juga benar-benar membawa nuansa yang berbeda. Ada kedalaman emosional yang terasa, terutama bagi saya yang sudah mengikuti perjalanan karakter ini sebelumnya. Cara ia hadir, cara ia berbicara, ketenangannya sebagai Jedi yang sudah jauh lebih dewasa dibanding series animasinya. Kehadiran semua karakter familiar terasa seperti pengingat bahwa dunia Star Wars tidak hanya tentang perang besar skala galaksi saja, tapi juga tentang perjalanan individu yang panjang dan tidak selalu mudah.


Di titik itu, saya mulai menyadari bahwa season ini memang tidak ragu untuk memberikan apa yang selama ini diharapkan para penggemar. Tapi yang membuatnya tetap terasa kuat adalah bagaimana semua itu dibungkus dengan penceritaan yang tetap terjaga. Tidak terasa dipaksakan, tidak juga sekadar menjadi kumpulan momen nostalgia. Setiap episode seperti punya tujuan. Tidak selalu besar, tapi cukup untuk membuat perjalanan ini terasa utuh dan enak diikuti. Semua karakter ini tidak hanya hadir sebagai tempelan, tapi benar-benar punya peran yang terasa penting dalam membangun arah cerita. 


Dan kemudian, saya sampai di episode terakhir yang tayang perdana hari ini dan saya langsung tonton juga tanpa penundaan yang lama. Ada rasa semangat yang tinggi menyaksikan klimaks season 2 yang lebih besar dari biasanya, tapi juga ada harapan yang tidak terlalu berani saya ucapkan. Karena terkadang, harapan seperti itu justru lebih baik disimpan. Episode itu berjalan seperti biasa di awal. Tegang, penuh konflik, tapi masih dalam jalur yang bisa diprediksi. Sampai akhirnya, momen itu datang....... 

⚠️ WARNING! SPOILER! ⚠️ 


Sebuah kehadiran yang tidak saya sangka akan muncul di situ. Ada momen keheningan di kapal Moff Gideon saat ada sesuatu yang tiba-tiba masuk 

Sebuah kapal X-Wing

Seorang pahlawan perang 

Seorang Jedi terakhir 

Satu-satunya.. 

Itu diaaaa

LUKE SKYWALKER!


Wooww. Saya sempat terdiam beberapa saat. Bukan karena tidak percaya, tapi karena tidak benar-benar siap. Cara kemunculannya, cara semuanya dibangun menuju titik itu, terasa seperti sesuatu yang sudah lama dinantikan tanpa benar-benar disadari. Gak nyangka banget series ini bisa kehadiran Luke Skywalker muda yang dalam kondisi sangat prima. Bisa melawan robot dark trooper dengan lincah dan terampil. 

Bukan hanya sekadar kejutan, tapi ini seperti puncak dari semua yang sudah dibangun sejak awal. Adegan itu tidak hanya memberikan kepuasan sebagai penonton, tapi juga sebagai penggemar lama. Ada rasa bahwa sesuatu yang dulu terasa jauh, kini hadir dengan cara yang lebih dekat, lebih nyata. Dan di sinilah saya benar-benar merasakan euforia yang sulit dijelaskan. Saya sangat kegirangan sendiri menyaksikannya. Ini adalah momen besar dalam sejarah series Star Wars, adegan ini sangat menyentuh jiwa anak-anak saya yang lebih dalam. Sesuatu yang sudah lama saya rasakan sejak pertama kali mengenal dunia Star Wars.


Secara keseluruhan, Season kedua memang penuh dengan fan service. Tapi bukan jenis yang terasa hadir tanpa arti. Semua kemunculan karakter, semua momen besar, tetap punya tempat dalam cerita. Semua kejutan yang dihidangkan dalam season ini membuat penonton bersorak, serta memperkuat basis cerita yang sedang dibangun semakin lebar dan kokoh. Saya kasih nilai 9 dari 10 untuk The Mandalorian season 2 ini. 

Sebagai penonton, saya merasa benar-benar diperhatikan. Terasa dimanjakan secara pas dan diberi sesuatu yang memang pantas untuk dinikmati setelah mengikuti perjalanan panjang ini. Dengan adanya Disney Plus, waralaba star wars jadi punya wadah apresiasi resmi yang bisa saya tonton terus-menerus berulang kali hingga menamati semua seriesnya.

Dan ketika semuanya selesai, yang tertinggal bukan hanya tentang kejutan di akhir. Tapi tentang bagaimana satu season bisa membawa saya kembali merasakan apa yang dulu membuat saya menyukai Star Wars. Sebuah perasaan bahagia sederhana yang nikmat.

Di balik kehebohan semua cerita besar itu, selalu ada ruang untuk kembali bagi saya merasa terhubung dengan galaksi yang sangat jauh.



It's beautiful. 
Read More