Sabtu, 07 November 2020

Ingin Sempurna di Ujian Pertama

Sudah hampir dua minggu ini jadwal saya cukup menguras otak. Rasanya kepala ini mulai panas, perih, dan seolah terbakar oleh materi kuliah agribisnis yang tidak ada habisnya. Hari ini adalah puncaknya. Sabtu yang seharusnya menjadi hari tenang, justru menjadi penutup rangkaian Ujian Tengah Semester atau UTS pertama saya di bangku perkuliahan. Ternyata, kenyataan menjadi mahasiswa di tengah pandemi jauh lebih menguras energi daripada yang saya bayangkan sebelumnya.

Jujur saja, saya mengalami gegar budaya yang cukup hebat. Sistem ujian di kampus sangat jauh berbeda dengan apa yang saya alami saat masih sekolah dulu—saat ujian terasa seragam dan linear. Sekarang, setiap dosen memiliki "kerajaan" dan aturannya masing-masing. Ada yang gak mau ribet dengan hanya mengunggah soal baik esai maupun pilihan ganda di situs e-learning kampus dan bisa langsung dikerjain di situs tersebut tanpa ditulis atau dalam pengawasan online tapi tetap dengan waktu terbatas dan jam yang telah ditentukan. Saya sempat merasa terpukau dengan sistem ujian pilihan ganda di situs E-learning kampus. Rasanya sangat modern, keren, dan praktis karena nilai bisa langsung keluar atau setidaknya prosesnya efisien meski dibatasi waktu yang sangat ketat. 

Ada dosen juga yang membolehkan buka buku atau open book. Awalnya terdengar menyenangkan. Saya bisa membuka catatan, mencari jawaban, bahkan sesekali mengandalkan internet. Tapi ternyata tidak sesederhana itu. Waktu yang diberikan tetap terbatas dan pertanyaan yang diberikan justru jauh lebih mematikan karena sifatnya murni analisis mendalam yang menuntut pemahaman bukan sekadar menjawab. Saya jadi sempat panik sendiri, sibuk membuka ini itu, sampai lupa berpikir jernih.

Sebaliknya, ada juga yang benar-benar close book. dengan pengawasan ketat melalui kamera zoom atau gmeet yang harus menyala sepanjang waktu. Seolah-olah pandemi tidak mengubah toleransi apa pun bagi mereka. Metode pengumpulannya pun sangat beragam dan bisa dibilang cukup melelahkan. Ada yang meminta jawaban diketik rapi, ada yang mengharuskan tulis tangan di kertas folio lalu dipindai menjadi PDF, kemudian diunggah ke Google Drive atau portal situs kampus. Oke masih bisa diatasi. Lalu ada ujian lisan yang membuat saya harus berbicara langsung di depan layar, menjawab pertanyaan secara spontan tanpa waktu berpikir panjang. Rasanya canggung. Tidak ada kontak mata yang jelas, tidak ada suasana yang bisa membantu saya merasa tenang. Beneran menguji daya pikir saya sebagai mahasiswa baru. 

Nahh, di ujian yang lain, saya juga bertemu dengan tipe dosen yang sangat kaku dan konservatif. Bayangkan saja, di tengah situasi serba digital seperti sekarang, ada dosen yang mewajibkan jawaban tetap ditulis tangan lalu dikirimkan dalam bentuk fisiknya ke rumah beliau. Beliau memberikan alamat rumahnya dan bagi mahasiswa yang tinggal jauh, diinstruksikan untuk menggunakan jasa ekspedisi atau paket. 

Wah ini benar-benar sebuah kejutan yang tak terduga bagi saya. Mau gak mau saya harus menulis jawaban di kertas folio, seperti ujian biasa, lalu mengirimkannya lewat paket. Jujur saja, ini membuat saya cukup syok. Di tengah kondisi seperti ini, ketika semua orang berusaha beradaptasi dengan teknologi, masih ada sistem yang terasa sangat tradisional. Bahkan untuk sekadar mengikuti ujian, saya harus memikirkan biaya pengiriman. Jawaban saya belum tentu benar, tapi saya sudah harus mengeluarkan modal dan tenaga ekstra hanya untuk mengirim lembar jawaban tersebut. Saya merasa ini baru ujian kuliah yang sesungguhnya yang menguji kesabaran dan kemampuan saya untuk menghadapi persoalan rumit dari awal. Saya jadi makin tidak sabar ingin masuk kuliah offline agar praktik seperti ini bisa dihentikan segera. 



Selama menjalani UTS ini, saya menyadari bahwa bertahan di dunia perkuliahan ternyata jauh lebih sulit daripada perjuangan mengejar PTN dahulu. Dinamika pertemanannya berbeda, terasa lebih individualis mungkin karena keterbatasan jarak. Tugas-tugas yang diberikan mungkin tidak sebanyak saat sekolah, tetapi tingkat stres yang dihasilkan jauh berkali-kali lipat. Belum lagi urusan dosen yang terkadang sangat pelit memberikan nilai ujian, padahal saya merasa sudah menjawab dengan baik dan performa saya sudah cukup bagus.

Kondisi ini perlahan membangkitkan jiwa perfeksionis lagi dalam diri saya untuk mengontrol pikiran secara berlebihan. Saya selalu merasa harus sempurna dalam setiap hal, baik itu dalam mengerjakan tugas maupun memahami materi kuliah. Saya tidak tenang jika ada satu poin pun yang terlewat atau terlihat kurang maksimal. Namun, ambisi untuk menjadi sempurna ini justru menjadi bumerang. Manajemen waktu saya akhir-akhir ini jadi berantakan banget dua bulan terakhir. Berada seharian di rumah berarti peran saya terbagi dua yaitu sebagai mahasiswa yang harus belajar dan mengejar nilai, serta sebagai anak yang tidak bisa meninggalkan kewajiban membantu orang tua.

Saya sering kali merasa keteteran menyeimbangkan kedua hal ini. Membantu orang tua adalah prioritas yang tidak mungkin saya abaikan, tetapi di saat yang sama, tugas-tugas kuliah terus menumpuk menanti sentuhan perfeksionisme saya. Hasilnya adalah rasa lelah yang luar biasa, saya burnout, dan stres yang cukup berat. Layar hp dan laptop hampir setiap hari tidak absen untuk terus menyala, sementara pikiran saya terus membakar energi yang tersisa.

Kesempurnaan yang saya kejar seringkali terasa seperti bayangan yang menjauh saat saya mencoba mendekat. Menjalani UTS online ini menyadarkan saya bahwa kemampuan saya sesungguhnya sedang ditempa melalui fase ketidakteraturan ini. Saya diuji untuk tetap tenang di tengah persoalan yang rumit, dari hal teknis pengiriman ujian hingga analisis soal yang memutar otak. Semua ini terasa seperti belum terbiasa menemukan bentuknya. Saya masih berusaha menyesuaikan diri dengan ritme yang berubah begitu cepat. Dari fase gap year yang tampak bebas tanpa jadwal yang jelas, sekarang semuanya serba teratur dan mengikat. Ujian pertama ini tidak memberi rasa lega seperti yang dulu sering saya bayangkan. Tidak ada perasaan selesai yang benar-benar tuntas. Justru yang ada adalah sisa-sisa cemas yang masih tertinggal. Tentang jawaban yang saya ragukan, tentang sistem yang belum sepenuhnya saya pahami, dan tentang diri saya sendiri yang masih sering terasa tidak cukup.

Mungkin ini memang fase yang harus dilewati. Fase di mana semuanya terasa asing, serba tidak pasti, dan cukup melelahkan. Bisa dibilang saya masih berada di tengah proses menyesuaikan diri dengan dunia yang benar-benar baru.
Dan sepertinya, setelah tulisan ini selesai pun, semuanya tidak langsung menjadi lebih mudah. Besok atau lusa, mungkin akan ada kebingungan lain yang datang lagi, dengan bentuk yang berbeda. Saya masih akan duduk di depan layar yang sama, dengan perasaan yang kurang lebih serupa.

Saya berusaha meyakinkan diri bahwa jika saya mampu melewati fase transisi yang berat ini, maka saya adalah pribadi yang kuat. Kemampuan saya sebenarnya jauh lebih besar dari keraguan yang saat ini menghantui. Untuk sekarang, saya akan menyudahi cerita ini, mengistirahatkan mata yang mulai memerah, dan mensyukuri bahwa satu tahap ujian telah terlewati.
Read More

Minggu, 11 Oktober 2020

Aku Berpikir, Aku Menulis

Halo, selamat malam sobat blogger di mana pun kalian berada. 

Sudah satu bulan terakhir ini saya memutuskan untuk kembali aktif di media sosial, khususnya Instagram. Keputusan ini sebenarnya cukup kontradiktif dengan prinsip yang saya pegang selama dua tahun terakhir. Setelah lulus sekolah, saya sempat menghapus akun utama secara permanen demi menjaga ketenangan jiwa dan raga. Saat itu saya merasa terlalu banyak hal yang tidak perlu masuk ke kepala. Terlalu ramai, terlalu cepat, dan pada akhirnya membuat pikiran tidak tenang. Namun, realita sebagai mahasiswa baru menuntut hal yang berbeda. Keperluan kuliah, kewajiban mengikuti akun kampus, hingga mengunggah atribut orientasi mahasiswa dalam bentuk twibbon dan bikin story, memaksa saya untuk kembali menciptakan jejak digital.

Dalam kepulangan saya ke jagat maya penuh visual ini, saya memilih untuk membangun persona yang sedikit berbeda. Saya kini mengutamakan nama depan sebagai nama panggilan, meninggalkan nama belakang yang selama dua puluh tahun ini begitu melekat. Sebuah transisi kecil, tapi terasa sangat mendasar bagi saya dalam memulai kebiasaan baru. Bahkan, deskripsi bio di profil saya pun ikut berubah. Jika dulu saya menggunakan kutipan tentang ketenangan kura-kura dan merpati, kini saya menuliskan kalimat pendek yang cukup ambisius: "Pemikir kelas berat".


Transformasi ini bukan sekadar gaya-gayaan. Saya berharap identitas baru ini menjadi pengingat agar saya selalu berpikir sebelum bertindak. Sejak dulu, saya memang merasa lebih nyaman saat memikirkan sesuatu secara mendalam. Kekuatan kreasi dan aksi saya selalu berakar pada daya pikir untuk menciptakan sesuatu yang saya senangi sekaligus mudah untuk dipahami.

Suatu malam, saat sedang menjelajahi beranda Instagram, saya menemukan sebuah unggahan dari penerbit buku indie yang cukup menyentak. Isinya adalah kutipan dari filsuf prancis, René Descartes: 

"Aku berpikir, maka aku ada." 

atau dalam bahasa latinnya, 
Cogito Ergo Sum. 

Awalnya kalimat itu terlihat sederhana. Bahkan mungkin terlalu sederhana. Tapi entah kenapa, saya berhenti cukup lama di situ. Seolah ada sesuatu yang ingin saya pahami lebih jauh. Saya mulai mencari tahu lebih lanjut dan membaca penjelasannya. Intinya maksud René Descartes dalam kutipan ini adalah berawal dari kebisaan dia meragukan segalanya. Dia bilang indra manusia bisa menipu. Pengalaman bisa juga salah. Apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan belum tentu benar. Bahkan realitas yang selama ini kita yakini bisa saja tidak seperti yang kita kira. Sampai pada satu titik, semua itu seakan runtuh. Tapi di tengah keraguan itu, ada satu hal yang tidak bisa digoyahkan. Ketika kita meragukan sesuatu, berarti kita sedang berpikir. Dan jika kita berpikir, berarti kita ada.

Wah gokil sih ini pemikirannya. Saya mencoba merenungkan itu lebih dalam.
Jika semua bisa diragukan, lalu apa yang sebenarnya bisa saya pegang? Ternyata bukan dunia di luar sana. Bukan juga orang lain. Tapi diri saya sendiri, tepatnya kesadaran bahwa saya sedang berpikir. Sesederhana itu, tapi sekaligus terasa sangat mendasar dan memperbarui pola pikir saya selama ini. 

René Descartes menggunakan kalimat ini untuk meyakinkan dirinya sendiri tentang hakikat keberadaan. Ia berargumen bahwa seseorang tidak mungkin meragukan keberadaan pikirannya sendiri karena dalam tindakan meragukan itu pun, seseorang sebenarnya sedang berpikir.


Refleksi Descartes ini terasa sangat relevan saat ini, khususnya untuk saya pribadi. Sering kali, persepsi saya terhadap dunia di sekitar saya terasa mengecewakan atau bahkan menipu. Saya menganggap pengalaman hidup saya yang naik turun ini sebagai sesuatu yang otentik, tapi ketika realita berkata lain, rasanya seperti disiram air es ke wajah saya. Saya baru menyadari bahwa indra manusia bisa menyesatkan tanpa disadari. Jika indra bisa menipu sekali saja, maka menurut standar ketat Descartes, indra tersebut tidak bisa diandalkan sepenuhnya.

Lalu, apa yang tersisa? Satu-satunya landasan yang kokoh adalah fakta bahwa saya sedang berpikir. Betapa pun kelirunya penilaian saya terhadap realitas, atau betapa pun kacaunya nalar saya bekerja, saya tidak akan pernah salah mengenai fakta bahwa saya sedang ada untuk melakukan kesalahan tersebut. Saya ada, karena saya berpikir.

Dari situ, saya mulai melihat diri saya sendiri dengan cara yang sedikit berbeda. Selama ini saya memang lebih sering berada di dalam kepala saya sendiri. Memikirkan banyak hal, bahkan hal-hal kecil yang mungkin tidak terlalu penting bagi orang lain. Saya suka menganalisis, membayangkan, dan mempertanyakan. Kadang terlalu jauh, sampai akhirnya malah membuat diri sendiri lelah.

Tapi setelah memahami kutipan itu, saya mulai menyadari bahwa berpikir bukan sekadar kebiasaan. Itu adalah bagian dari keberadaan saya sendiri. Dan mungkin, di situlah letak arah saya. Saya juga mulai melihat pola dalam cara saya bekerja dan belajar. Saya cukup nyaman dengan sesuatu yang terstruktur. Saya cenderung membuat daftar, menyusun rencana, dan mengikuti alur yang jelas. Ada kebutuhan untuk menjaga semuanya tetap rapi dan terkendali. Mungkin ini bagian dari sisi konvensional dalam diri saya.

Di sisi lain, saya juga menyukai proses mencari tahu. Ketika ada sesuatu yang membuat penasaran, saya lebih memilih untuk memikirkannya sendiri, mencoba memahami, daripada langsung bertanya atau mengikuti orang lain. Saya menikmati proses menganalisis, mengurai, dan menyusun ulang pemahaman. Ada rasa puas ketika akhirnya menemukan jawaban, meskipun tidak selalu benar.

Lalu ada juga sisi lain yang tidak bisa saya abaikan. Saya suka menulis. Saya suka menuangkan isi kepala ke dalam kata-kata. Bukan karena ingin dibaca banyak orang, tapi lebih karena saya ingin memahami apa yang sebenarnya saya pikirkan dan rasakan. Menulis seperti menjadi jembatan antara pikiran dan sesuatu yang bisa saya lihat.
Semua itu, jika dipikirkan lagi, seperti mengarah ke satu hal yang sama. Saya lebih sering berhadapan dengan diri sendiri. Saya mencoba memahami diri saya, mengenali emosi, melihat kelebihan dan kekurangan, dan mempertanyakan banyak hal yang terjadi di dalam. Tidak selalu mudah, kadang justru membingungkan. Tapi di situ juga saya merasa lebih jujur.


Sebagai mahasiswa yang baru memulai perjalanan akademik, pemahaman ini memberikan perspektif baru. Gairah untuk menggali potensi dan nalar ternyata tidak semudah bertemu dengan orang-orang yang satu pemahaman. Masih banyak hal yang terasa asing. Lingkungan baru, tuntutan baru, dan cara hidup yang mulai berubah. Tapi setidaknya, dari satu kutipan sederhana itu, saya mendapatkan satu pijakan baru.

Bahwa berpikir bukan sesuatu yang harus dihindari, tapi juga tidak boleh berlebihan sampai melumpuhkan diri sendiri. Saya tetap harus belajar menyeimbangkan. Antara berpikir dan bertindak. Antara memahami dan menjalani. Keberagaman pemikiran di dunia kuliah justru menjadi ajang latihan yang sesungguhnya. Berbicara atau menulis bukan hanya untuk orang lain, melainkan sebuah bentuk refleksi diri untuk menjaga idealisme agar tetap berpijak pada realitas.

Dari satu kutipan sederhana itu, saya seperti diberi ruang untuk berhenti sejenak dan benar-benar menyadari apa yang selama ini saya lakukan tanpa sadar. Bahwa kebiasaan berpikir, menganalisis, dan menulis bukan sekadar pengisi waktu luang, tapi bagian dari cara saya memahami keberadaan saya sendiri. Mungkin ke depan, saya akan tetap sering dipenuhi pertanyaan. Mungkin juga akan ada saat-saat di mana pikiran terasa terlalu ramai dan melelahkan. Tapi sekarang saya sedikit lebih mengerti bahwa itu bukan sesuatu yang harus selalu dilawan. Selama saya masih bisa mengelolanya, di situlah saya justru sedang mengenali diri saya lebih jauh. 

Menulis akan tetap menjadi tempat saya kembali. Tempat di mana pikiran yang semrawut bisa perlahan dirapikan. Tempat di mana saya bisa jujur tanpa harus menjelaskan semuanya kepada orang lain. Dan dari sana, pelan-pelan saya belajar satu hal. Bahwa memahami diri sendiri tidak harus selalu tentang menemukan jawaban, tapi tentang berani tetap kritis di dalam proses berpikir itu sendiri.
Read More

Senin, 28 September 2020

AGRARIS dan Identitas Diri

Halo. Selamat malam sobat! Saya kali ini mau berbagi cerita dan kesan yang tertinggal tentang kegiatan yang baru saja saya laksanakan. Dua hari terakhir, tepatnya pada tanggal 26 dan 27 September kemarin, saya baru saja menyelesaikan sebuah rangkaian acara ospek jurusan bertajuk AGRARIS. Singkatannya cukup megah yaitu Ajang Keakraban Mahasiswa Agribisnis. Sebuah nama acara yang seharusnya menyiratkan kedekatan fisik, lelah di bawah matahari, atau setidaknya jabat tangan yang erat dengan sesama mahasiswa baru. Namun, realitanya jauh dari itu.

Semuanya terjadi di dalam jaringan. Daring. Online. Depan laptop atau hp. Dari layar ke layar lagi. Di dalam rumah. Di dalam kamar. Sunyi dan tenang. 


Sejujurnya, saya tidak tahu harus berekspektasi seperti apa lagi. Kata "keakraban" terdengar hangat, seolah ada interaksi yang lebih dekat, lebih manusiawi. Tapi ketika semuanya dilakukan secara online, rasanya kata itu seperti kehilangan bentuknya. Saya tetap hadir, duduk di depan layar, menatap ratusan wajah yang sebagian besar bahkan belum tentu saya ingat setelah acara selesai. 

Materi demi materi disampaikan. Tentang agribisnis, tentang potensi pertanian, tentang peran mahasiswa dalam sektor pangan, dan berbagai hal lain yang sebenarnya penting. Saya tahu itu penting. Saya paham bahwa jurusan ini punya peran besar dalam kehidupan banyak orang. Tapi di sisi lain, ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Seperti saya sedang belajar tentang bisnis di bidang pertanian, tentang sesuatu yang seharusnya menjadi dasar kehidupan, tapi justru merasa belum benar-benar berpijak di mana pun.
Ya saya maklum sih, saat ini kita semau sedang berada di masa di mana orientasi mahasiswa harus dilakukan dari meja belajar masing-masing, di dalam kamar yang terkadang terasa sangat sempit untuk menampung ambisi yang sangat besar. AGRARIS tahun ini menjadi saksi betapa anehnya membangun keakraban lewat kotak-kotak kecil di Zoom. Saya melihat wajah-wajah baru, mendengar suara-suara yang terkadang putus karena koneksi yang tidak stabil, dan mengikuti rangkaian instruksi dari mentor kakak tingkat yang berusaha keras menjaga wibawa meski hanya terlihat dari dada ke atasnya. 

Di hari pertama, saya masih mencoba mengikuti dengan serius. Mencatat beberapa hal, memperhatikan penjelasan, mencoba memahami arah yang ingin ditunjukkan. Tapi semakin lama, fokus itu mulai goyah. Bukan karena materinya tidak menarik, tapi karena suasananya tidak mendukung. Duduk berjam-jam di depan layar membuat segalanya terasa lebih berat dari yang seharusnya. Saya tidak benar-benar merasakan suasana menjadi mahasiswa baru. Tidak ada hiruk pikuk kampus, tidak ada obrolan santai di sela kegiatan, tidak ada tatapan langsung yang bisa memberi kesan pertama. 

Hari kedua tidak jauh berbeda. Ada beberapa sesi yang mencoba lebih interaktif dengan menghadirkan alumnus yang sudah sukses dan berhasil membangun bisnis pertaniannya sendiri. Tapi tetap saja semua terasa seperti formalitas. Saya melihat nama-nama asing di layar, mendengar suara-suara yang kadang terputus, dan sesekali menatap diri sendiri di monitor yang entah kenapa terasa asing. Ini aneh. Saya bagian dari acara ini, tapi rasanya seperti tidak benar-benar hadir. Semua terasa datar. Bahkan ketika panitia mencoba mencairkan suasana, tetap saja ada jarak yang tidak bisa ditembus.

Ilustrasi

​Sejujurnya, ada rasa super canggung yang tidak bisa saya ucapkan secara langsung. Kita diminta untuk saling mengenal, tapi pembatasnya adalah layar. Kita diminta untuk mencintai jurusan ini, sementara saya sendiri masih merasa seperti orang asing di rumah sendiri. Agribisnis. Nama itu masih terasa berat sekali di lidah saya. Ada masanya saya merasa bahwa ini hanyalah tempat persinggahan sementara, sebuah rencana cadangan yang terpaksa menjadi rencana utama karena jalan lain sudah tertutup rapat.
Selama dua hari orientasi jurusan ini, saya banyak merenung. Saya merasa identitas saya saat ini masih mengambang. Di satu sisi, saya adalah mahasiswa Agribisnis yang harus mulai peduli pada rantai pasok, manajemen pertanian, dan isu-isu pangan. Di sisi lain, pikiran saya sering kali melayang ke tempat lain, ke mimpi-mimpi yang mungkin sudah harus saya lipat rapi dan simpan di laci pikiran yang terdalam. Ada semacam pergulatan batin ketika saya harus meneriakkan yel-yel atau mengikuti penugasan yang diberikan. Apakah saya benar-benar di sini karena saya mau, atau hanya karena saya hanya mengikuti arus? Entahlah... 

Ilustrasi

Namun, setelah menjalani acara dua hari ini, AGRARIS memberikan sedikit celah cahaya. Meski dilakukan secara online, saya mulai melihat bahwa saya tidak sendirian dalam ketidakpastian ini. Ada ratusan orang lain di balik layar mereka yang mungkin merasakan kegelisahan yang sama. Saat sesi berbagi cerita atau sekadar candaan di kolom komentar chat, ada rasa terhibur sedikit yang muncul secara perlahan. Mungkin ini yang mereka sebut sebagai awal dari sebuah identitas baru.
Saya sedang mencoba. Saya sedang berusaha untuk mencintai apa yang sudah saya dapatkan hari ini. Bukankah hidup memang sering kali tentang bagaimana kita mengelola kekecewaan menjadi sesuatu yang produktif? Mempelajari Agribisnis mungkin bukan cinta pandangan pertama bagi saya, tapi barangkali ia adalah jenis cinta yang tumbuh karena terbiasa. Saya mulai membaca sedikit demi sedikit tentang prospeknya, tentang bagaimana sektor ini bisa tetap bertahan di tengah pandemi yang melumpuhkan banyak aspek kehidupan lainnya. Inti dari agribisnis sebenernya belajar tentang pengolahan sistem dari hulu ke hilir, ada juga tentang produksi dan distribusi, serta tentang tanah dan segala sayuran yang tumbuh di atasnya. 

Namun untuk saat ini saya sendiri merasa seperti belum punya pijakan yang jelas. Seolah sedang berdiri di atas sesuatu yang tidak benar-benar solid. Mungkin "mengambang" adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan posisi saya sekarang. Saya tidak lagi berada di daratan lama saya yang penuh ambisi mimpi masa lalu, tapi saya juga belum benar-benar menginjakkan kaki di tanah agraris yang sesungguhnya. Saya masih berada di tengah laut, di atas sekoci yang bernama adaptasi.
Mungkin ini bukan tentang jurusannya. Mungkin ini tentang kondisi. Tentang masa yang memang tidak memberi ruang untuk merasakan segalanya dengan utuh. Saya hanya menjalani apa yang ada di depan mata, tanpa benar-benar tahu harus merasakan apa. Masa orientasi jurusan ini seharusnya menjadi ajang yang mengakrabkan saya dan jurusan. Tapi bagi saya, ini lebih terasa seperti ajang perkenalan yang belum benar-benar selesai. Dengan jurusan, dengan lingkungan, bahkan dengan diri sendiri sebagai manusia yang menyandang status sebagai mahasiswa.
Mungkin keakraban itu memang tidak bisa dipaksakan dalam dua hari, apalagi hanya lewat layar. Mungkin butuh waktu yang lebih panjang, dan cara yang lebih nyata. Untuk saat ini, saya hanya bisa mengikuti alurnya saja. Menyelesaikan setiap tahap, satu per satu.

Ilustrasi


Begitu acara AGRARIS kemarin sudah usai. Secara administratif, saya sudah dianggap akrab dengan lingkungan ini. Namun secara personal, perjalanan saya baru saja dimulai. Besok dan hari-hari setelahnya, saya harus kembali berhadapan dengan kuliah-kuliah daring yang menuntut fokus ekstra. Saya hanya berharap, identitas yang masih mengambang ini perlahan-lahan akan menemukan tempat untuk berlabuh. Saya ingin belajar untuk berhenti menoleh ke belakang dan mulai melihat apa yang ada di depan mata, sekecil apa pun itu.
Untuk sekarang, biarlah saya beristirahat sejenak dari layar ini. Menutup laptop, mematikan koneksi internet, dan mencoba berdialog dengan diri sendiri lagi tanpa gangguan notifikasi. Ternyata, menjadi mahasiswa di tengah pandemi bukan hanya soal belajar materi kuliah, tapi juga belajar cara untuk tetap waras dan menerima kenyataan yang tidak pernah sesuai dengan ekspektasi.

Akhir kata saya ingin mengucapkan, Selamat datang di Agribisnis, untuk diri saya sendiri. Mari kita lihat, sejauh mana tanah ini bisa membuat saya tumbuh lebih baik. 
Read More