Jumat, 31 Juli 2020

Selamat Hari Raya Iduladha 1441 H!

Assalamu'alaikum. Wr. Wb. 

Alhamdulillah hirobbil'alamin.. Puji dan syukur selalu dipanjatkan kepada Allah SWT. yang masih memberikan izin bertemu lagi dengan Hari Raya Qurban tahun ini. Hari Raya Iduladha tahun ini terasa sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Biasanya, pagi hari Idul Adha dipenuhi suara takbir yang menggema dari masjid, orang-orang berjalan menuju lapangan, dan aktivitas pemotongan hewan qurban yang berlangsung sejak pagi sampai siang. Namun, Iduladha 1441 H yang jatuh pada tanggal 31 Juli 2020 ini terasa sangat sunyi, hanya menyisakan gema takbir dari pengeras suara masjid yang terdengar pelan dari kejauhan.

Pandemi Covid-19 membuat banyak aktivitas harus dibatasi. Daerah tempat saya tinggal masih berada dalam kategori zona merah, sehingga keluarga saya sepakat untuk melaksanakan salat Idul Adha di rumah saja. Tidak ada persiapan khusus, hanya sajadah yang digelar di ruang tamu, dan khutbah yang kami dengarkan melalui siaran televisi. Suasananya sederhana sekali, bahkan rasanya tidak seperti hari raya. Tapi itulah keadaan yang harus kami jalani.

Biasanya setelah salat, jalanan mulai ramai dengan warga yang mengantar hewan qurban atau membantu proses penyembelihan di halaman masjid. Tapi tahun ini berbeda total. Tidak terdengar suara kambing atau sapi yang biasanya menjadi tanda khas Idul Adha. Tidak ada kerumunan orang yang bekerja sama memotong, membersihkan, atau membagikan daging. Pemerintah daerah meminta agar penyembelihan dilakukan di tempat pemotongan hewan resmi untuk menghindari kerumunan. Akibatnya, lingkungan sekitar rumah saya benar-benar sepi. Dari jendela, saya hanya melihat jalanan kosong dan beberapa orang lewat sebentar dengan masker menutupi wajah.



Bagi saya, ini adalah momen yang langka. Sejak kecil, saya selalu mengingat Idul Adha sebagai hari yang paling ramai setelah Idul Fitri. Kalau bukan takbir, yang terdengar adalah suara obrolan warga, aktivitas panitia qurban, atau anak-anak yang berlarian sambil penasaran melihat proses penyembelihan. Tahun ini semuanya hilang. Rumah terasa sunyi meski hari ini seharusnya penuh semangat berbagi. 

Bahkan aroma khas daging qurban yang biasanya tercium dari pagi sampai sore sama sekali tidak saya rasakan. Suasananya seperti hari biasa, hanya saja suasana hati sedikit lebih tertata karena kami memakai pakaian rapi. Setelah salat, kami hanya duduk bersama sambil menonton berita tentang perayaan Idul Adha di berbagai daerah. Sebagian daerah melaksanakan salat Id dalam skala terbatas, sebagian lagi memilih untuk tetap di rumah seperti kami. Semua orang sedang berusaha menyesuaikan diri dengan keadaan yang tidak ada seorang pun bayangkan sebelumnya. Pandemi ini membuat banyak kebiasaan terpaksa dihentikan, termasuk tradisi besar seperti qurban di lingkungan sendiri.

Meskipun Idul Adha tahun ini terasa sangat sepi, saya merasa ada hikmah yang Allah ingin tunjukkan. Qurban bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi tentang keikhlasan dalam menjalankan perintah-Nya, meski situasi sedang sulit. Kadang, pengorbanan datang dalam bentuk yang tidak terlihat seperti menahan diri untuk tidak berkumpul, tidak berkerumun, dan tidak melakukan tradisi yang sudah biasa karena ingin melindungi keluarga dan orang lain dari risiko penularan virus. Rasanya berat, tetapi itulah bentuk sederhana dari qurban di masa pandemi.

Sesederhana apa pun Idul Adha tahun ini, saya tetap bersyukur masih bisa merayakannya bersama keluarga. Kami saling mengucapkan selamat di ruang tamu, mengambil beberapa foto untuk kenang-kenangan, dan berbicara lewat video call dengan keluarga besar. Walaupun tanpa keramaian, momen ini tetap memiliki makna tersendiri karena mengingatkan saya bahwa tidak semua hari raya harus ramai untuk bisa dirayakan dengan penuh rasa syukur.

Semoga pandemi ini segera berakhir dan tahun depan kita bisa merayakan Idul Adha seperti biasanya. Semoga Allah menerima segala amal ibadah dan pengorbanan kita, serta melindungi kita dari segala penyakit dan kesulitan. Aamiin.

Selamat Hari Raya Iduladha 1441 H.
Read More

Rabu, 22 Juli 2020

Tentang Gap Year Bagian 3

Hal yang paling melelahkan dari Gap Year bagi saya selain dari materi pelajarannya yang banyak yaitu pikiran yang selalu bermain dengan perasaan yang berkecamuk. Dan ini hal yang luput dari pertimbangan saya waktu memutuskan untuk mantap memilih masa jeda ini. Tidak ada seorang pun yang mengingatkan saya tentang hal ini sebelum saya benar-benar menjalaninya sendiri. Maka dari itu saya ingin berbagi aja di tulisan ketiga kali ini yang membahas sedikit gambaran betapa beratnya mengambil gap year bagi jiwa yang lemah dan rentan akan pencapaian orang lain. 

Kalau ada satu hal yang paling sukar saya lewati, itu adalah tekanan emosional yang datang bertubi-tubi. Ada rasa bersalah karena terus menyusahkan orang tua, rasa minder setiap melihat teman-teman mengunggah kehidupan kampus, dan rasa takut tidak pernah mencapai apa yang dicita-citakan. Belum lagi komentar-komentar kecil dari orang terdekat yang maksudnya mungkin baik, tapi tajamnya mengiris sampai ke inti jantung yang terdalam, 

"Kapan kuliah?", 
"Nggak takut ketinggalan?", 
"Kerja dulu aja gak sih kalau nggak masuk-masuk?" 

Menjalani gap year di negara yang memandang keterlambatan itu sebagai kekurangan bukan perkara mudah. Lingkungan hidup yang selalu kompetitif membuat jeda hidup seorang gap year terasa seperti kemunduran. Tangga sosial kita diukur dari seberapa cepat naik dibanding orang lain. Bukan dari seberapa matang kita melangkah. Dari sinilah saya belajar mengatur ulang cara saya memandang tekanan. Kalau saya terus mengikuti tempo orang lain, saya tidak akan pernah selesai berdamai dengan diri sendiri. Harus ada prioritas baru yang saya pilih sendiri, tanpa ikut arus ekspektasi masyarakat. Saya juga belajar menerima bahwa perasaan tidak baik-baik saja itu wajar. Tidak perlu ditutupi, tidak perlu dibuat seolah kuat setiap saat. Perjalanan sunyi ini pasti akan berat, dan saya berhak merasakannya apa adanya.

Tentang Gap Year Bagian 3 blog Zulfahmi Adam


Setelah UTBK terakhir selesai kurang lebih dua minggu yang lalu, saya pikir saya akan merasa lega. Tapi yang datang justru kekosongan hebat yang sulit dijelaskan. Rutinitas belajar yang menekan hilang begitu saja, dan saya merasa seperti tersesat di ruang yang terlalu luas. Hari-hari berjalan semakin tak menentu tanpa arah, dan saya seperti tidak tahu harus melakukan apa sekarang di tengah masa pembatasan ini. Orang jarang membicarakan fase ini, fase setelah perjuangan, ketika semua target sudah selesai tapi tidak ada kegiatan yang menggantikannya. Di titik inilah saya merasa jadi manusia yang paling bingung sedunia. 

Selama berbulan-bulan saya hidup dengan tekanan hebat, dan ketika tekanan itu hilang, saya pun kehilangan sesuatu yang membentuk keseharian saya. Beberapa hari terakhir saya sering rebahan berjam-jam tanpa melakukan apa pun. Bukan malas, hanya bingung aja. Pikiran saya seperti tidak punya tempat untuk dituju. Saya sadar bahwa tubuh saya butuh istirahat, tapi batin saya terus menerus mempertanyakan banyak hal. Keheningan itu membuat saya lagi-lagi melihat diri sendiri lebih jelas, kadang dengan cara yang paling tidak nyaman. Namun dari fase inilah lahir pelajaran penting bahwa tidak semua kekosongan itu buruk. Ada kekosongan yang justru memberi ruang bagi diri saya untuk memahami apa yang sebenarnya saya cari. 



Masa Gap Year selama dua tahun ini mengajarkan saya bahwa tidak ada tempat di Indonesia yang benar-benar aman dari perbandingan sosial. Orang-orang terbiasa menilai capaian berdasarkan garis waktu yang seragam, seakan semua hidup harus bergerak dalam tempo yang sama. Padahal kenyataannya tidak begitu. Saya akhirnya mulai mengerti bahwa hidup tidak selalu diisi dengan pencapaian. Terkadang, masa paling berharga adalah masa ketika kita berhenti dan mencoba memahami ulang arah hidup yang ingin kita tuju. Perenungan ini tidak pernah diajarkan orang tua mana pun di negara ini selain orang itu sendiri yang harus sadar dan mengalaminya secara langsung. 

Setelah semua peristiwa besar selama dua tahun terakhir ini saya hadapi, saya sampai di titik kesimpulan bahwa mengambil jalan berbeda menuntut mental yang lebih tebal. Kalau teman-teman lain bisa berjalan lurus, saya harus membuka jalur sendiri. Saya tidak pernah bilang masa jeda ini akan gampang. Rasanya sangat melelahkan, tetapi pelajaran inilah yang nantinya akan menjadi fondasi seluruh perjalanan saya berikutnya. 

Kalau ditanya apakah saya menyesal memutuskan untuk Gap Year? Saya akan jawab tidak sama sekali. Tapi jika ada kesempatan untuk mengulanginya lagi saya tidak akan bersedia. Cukup sekali ini saja di kehidupan yang singkat ini saya merasakan derita yang tak berujung. Karena Gap year bukan hanya ujian kemampuan belajar. Ini adalah ujian emosi dan keberanian menghadapi diri sendiri di tengah dunia yang terus menuntut untuk bergerak cepat. Itulah realita yang sebenarnya. 



Mohon diingat baik-baik untuk seluruh pelajar di mana pun kalian berada. 
Read More

Selasa, 21 Juli 2020

Tentang Gap Year Bagian 2

Saya pikir kegagalan cukup terjadi satu kali saat SBMPTN pertama pasca kelulusan sekolah. Ternyata hidup punya cara yang keras untuk menunjukkan bahwa beberapa pelajaran memang tidak cukup diajarkan sekali saja. Di tahun kedua, saya mulai lebih serius mempersiapkan diri untuk kembali ikut ujian masuk. Setelah setahun saya menyelami pikiran saya sendiri dan berusaha menyembuhkan luka yang mengganggu, saya akhirnya pelan-pelan mulai memberikan kesempatan kepada diri saya untuk belajar kembali materi ujian masuk kuliah. 

Saya mulai belajar lebih terstruktur, membaca lebih banyak, dan mencoba menutup celah-celah lama yang dulu membuat saya terpeleset. Tapi nyatanya, usaha yang lebih keras tidak selalu menjamin hasil lebih baik. Kegagalan itu datang lagi. Dan yang kedua selalu terasa lebih pahit daripada yang pertama. Seolah-olah dunia ingin memastikan bahwa diri saya benar-benar diuji, bukan hanya dari segi kemampuan tapi dari ketahanan mental. Di titik ini, saya belajar bahwa kegagalan tidak hanya tentang kelolosan, tetapi tentang bagaimana perasaan seseorang saat berhadapan dengan batas dirinya sendiri. 

Saya mulai memetakan pola emosi saya setahun terakhir mulai dari rasa takut, ragu-ragu, cemas berlebihan, hingga rasa bersalah yang muncul secara otomatis setiap kali melihat orang lain melangkah lebih jauh dari saya. Di setiap titik-titik gelap itu, saya mulai memahami bahwa kegagalan bukanlah musuh. Ia lebih mirip cermin yang memperlihatkan versi utuh dari diri sendiri yang belum selesai diperbaiki. Dan kalau dipikir lagi, kegagalan berulang itulah yang akhirnya membuat saya lebih dewasa. Kalau saya lolos di percobaan pertama, mungkin saya tidak akan pernah belajar mengenali diri saya sedalam ini.

Tentang Gap Year Bagian 2 blog Zulfahmi Adam


Setelah melewati masa tenang yang panjang habis UTBK kedua kalinya, saya akhirnya untuk pertama kalinya memasuki lingkungan kampus dan merasakan suasananya. Gak hanya masuk, saya waktu itu pernah ikut tes ujian mandiri yang diadakan kampus ternama. Yaa walaupun hasilnya tidak lolos tapi setidaknya saya sudah merasakan sedikit aura kehidupan di kampus. Itung-itung juga sebagai motivasi tambahan untuk bahan bakar memasuki tahun kedua gap year saya yang dimulai september yang lalu. Saya belajar lagi, membuka buku yang sudah lama saya tinggalkan, dan memaksa otak saya bekerja setelah berbulan-bulan hidup tanpa tekanan akademik. Saat itu saya percaya, selama saya berusaha, saya pasti mendapat hasil. 

Tapi ternyata hidup tidak berjalan begitu lancar sesuai keinginan saya. Lima bulan yang lalu virus korona memasuki Indonesia dan tidak lama status pandemi diumumkan. Cobaan hidup yang menghantam rencana besar saya dengan cukup keras. Saya tidak menyangka bahwa semua persiapan yang saya lakukan tetap tidak cukup. Banyak aturan yang berubah dan ketiadaan materi TKA yang sangat krusial dalam menentukan jurusan kuliah membuat saya stres. Ada rasa malu pada diri sendiri, ada rasa tertinggal, ada rasa bahwa waktu saya terbuang sia-sia lagi. Tapi saya tetap mencobanya lagi dengan pilihan yang sangat bertolak belakang dengan apa yang selama ini saya inginkan. Kata bapak saya, "gapapa coba aja dulu jurusan yang tersedia, pokoknya jangan menggelapkan pikiran dengan terhalangnya satu pintu, InsyaAllah pintu lain akan terbuka."

Dengan beban yang lebih berat, dengan harapan yang lebih besar, dan dengan ketakutan akan kecewa untuk hasil ujian yang terakhir kalinya, saya akhirnya tetap mendaftar UTBK sesuai dengan arahan bapak saya karena saya sudah tidak tahu lagi harus bagaimana memutuskan jalan hidup. Saya sudah di tahap pasrah dan tidak berharap lagi akan terwujudnya mimpi. Tidak ada tangis, tidak ada drama, hanya perasaan kosong yang menggantung di dada. Saya mulai mempertanyakan banyak hal, apakah saya memang tidak cukup layak, atau apakah jalur ini memang bukan untuk saya? Ditambah aturan ujian yang berubah dan jurusan impian yang ternyata tidak bisa saya pilih, perjalanan ini jadi lebih menyakitkan daripada yang pernah saya bayangkan sebelumnya.



Kegagalan bertubi-tubi ini membuka mata saya lebar-lebar. Kesadaran diri selalu datang di saat-saat paling pasrah dalam hidup. Segalanya saya serahkan kepada Sang Pencipta. 
Read More

Sabtu, 18 Juli 2020

Tentang Gap Year

Halo selamat siang sobat blogger! Sambil menunggu pengumuman UTBK yang masih satu bulan lagi, saya ingin mengisi rentang waktu ini dengan menulis lagi di blog sambil merapikan pikiran yang sempat berantakan. Hari ini saya mau berbagi aja mengenai pengalaman saya menjalani gap year yang kurang lebih dua tahun saya lalui dengan penuh suka duka. 

Oke langsung aja ya, jadi pada dasarnya tidak ada manusia yang benar-benar siap menjalani tahun yang tidak pernah ia direncanakan. Setiap tahun baru manusia selalu merancang dan merencanakan sesuatu yang akan dilaluinya setahun kedepan, entah secara sadar dengan menuliskannya sendiri ataupun tidak sadar seperti saat berada di dalam sistem yang telah pasti jadwal setiap bulannya. Saya pun begitu. Menjalani Gap year setelah lulus sekolah dua tahun yang lalu bukanlah keputusan matang, melainkan sesuatu yang terjadi spontan begitu saja, secara tiba-tiba, dan sering kali membuat saya merasa tertinggal dari orang lain di fase awal menjalaninya.


Tentang Gap Year blog zulfahmi Adam


Saya masih ingat bagaimana tahun pertama setelah lulus itu terasa seperti ruang tunggu yang terlalu panjang dan lama yang sempat membuat saya hilang kendali dan emosi meledak tidak karuan. Teman-teman sekolah saya udah ada yang masuk kuliah, sebagian ada yang mulai bekerja, dan sebagian lain sudah punya rencana jangka panjang. Sementara saya saat itu masih berputar-putar di dalam pikiran sendiri, memikirkan kesalahan apa yang saya lakukan dan kenapa langkah saya terasa lebih lambat dari semuanya. Setiap hari rasanya mirip satu sama lain. Saya bangun, melakukan rutinitas membantu orang tua agar badan tetap gerak, lalu kembali tenggelam dalam pikiran yang sulit ditata. Ada lelah yang tidak berasal dari pekerjaan apa pun, dan ada kegelisahan yang bahkan tidak punya bentuk. Saya mencoba memperbaiki banyak hal dalam diri saya, tapi kebanyakan hanya berakhir sebagai niat yang tidak selalu bertahan lama.  

Tidur saya tidak teratur, pikiran saya sulit diam, dan terkadang saya merasa sedang mengejar sesuatu yang tidak saya pahami. Dalam proses itu, akhirnya saya memaksa diri saya untuk mulai membaca lebih banyak. Karena saya sadar saya masih berat kepala, saya butuh sesuatu untuk menahan diri agar tidak terus-menerus mengulang kekhawatiran yang sama. Saya mulai belajar tentang hal-hal yang berkaitan dengan spiritualitas, tentang bagaimana seseorang bisa menata diri dari dalam, meskipun saya tidak pernah benar-benar tahu apakah itu bekerja dengan baik pada saya atau tidak. Saya hanya mengikuti alurnya, berharap ada perubahan kecil yang membuat saya sedikit lebih kuat menghadapi hari.

Waktu itu saya tidak berani menyebutnya gap year. Rasanya terlalu mewah untuk ukuran orang biasa seperti saya. Saya hanya menyebutnya sebagai masa istirahat. Kenapa istirahat? Karena masa sekolah saya itu sangat melelahkan dan menguras emosi saya bertahun-tahun lamanya hingga saya sempat kehilangan jati diri karena terlalu lama berpura-pura untuk menyenangkan semua orang. Saya menyadarinya setelah masa istirahat itu tiba dan merefleksikannya kembali. 

Saya ternyata tipe orang yang gak enakan. Saya ternyata tipe orang yang selalu mendahului kepentingan bersama dibanding kepentingan pribadi. Saya ternyata tipe orang yang tidak ingin punya musuh jadi selalu memberi dan berusaha menyenangkan teman-teman. Kedengarannya sih baik ya, tapi ternyata kalo berlebihan sampai mengganggu kepribadian hingga kehilangan sifat aslinya itu berbahaya. Maka dari itu saya merasa setahun setelah lulus itu ada fase istirahat total sembari mengenali lagi diri sendiri. Ada proses pemulihan di situ dan ternyata memang itu yang saya butuhkan. Saya lebih banyak merenung sepanjang tahun untuk melihat ke dalam diri dan menyadari banyaknya luka yang perlu dikeringkan. Akhirnya ada sesuatu yang harus dikorbankan yaitu berkurangnya waktu dan fokus belajar untuk persiapan ujian masuk kuliah yang mengakibatkan gagalnya saya di UTBK kedua. 

Namun, dari semua kekacauan tahun pertama itu, saya mulai menyadari satu hal bahwa ternyata tidak semua orang langsung menemukan jalannya setelah sekolah. Ada yang butuh waktu untuk berhenti, mengatur napas, dan mendengar dirinya sendiri. Nilai yang saya dapat pada tahap ini sederhana tapi cukup penting bahwa tidak apa-apa untuk diam dulu. Tidak apa-apa untuk bingung. Tidak apa-apa untuk tidak langsung tahu. Kadang, justru dari ketidakpastian itu, kita belajar mendengar suara-suara kecil dalam diri kita yang selama ini tenggelam oleh keramaian. 
 

Tahun pertama gap year bukan tentang sukses atau produktivitas. Tahun itu adalah tentang mengenal ulang diri sendiri.


Tahun pertama gap year membuka mata saya bahwa tidak semua langkah lambat berarti salah. Kadang di situlah seseorang mulai belajar menata dirinya.

Read More

Selasa, 14 Juli 2020

Menanti Keajaiban

Akhir-akhir ini saya sering memikirkan satu pertanyaan sederhana yang entah kenapa terasa seperti sesuatu yang harus saya jawab sendiri, 

"apakah keajaiban itu ditunggu atau diciptakan?" 


Pertanyaan ini muncul karena saya sedang berada di fase menunggu pengumuman UTBK yang saya kira hampir mustahil saya bisa lolos, mengingat UTBK terakhir saya yang dikerjain ala kadarnya saja dengan penuh ketidakyakinan diri ditambah hanya TPS saja yang diujikan. Saya merasa hidup sering kali bergerak ke arah yang tidak saya pahami. Ada masa ketika saya merasa sudah melakukan semua yang saya bisa, namun hidup tetap saja diam di tempat. Di sisi lain, ada momen ketika aktivitas yang tidak pernah saya persiapkan matang tiba-tiba dilancarkan begitu saja, benar-benar gak ada hambatan yang berarti. Dari perasaan itulah saya mulai menyadari bahwa keajaiban punya sifat yang rumit. Tidak bisa dipaksa, tapi juga tidak mungkin datang jika saya tidak melakukan apa-apa.

Dalam pandangan modern yang sering saya baca di internet—baik di artikel pengembangan diri maupun pengalaman orang lain—keajaiban lebih sering dipahami sebagai sesuatu yang diciptakan. Bukan dalam arti ajaib seperti cerita dongeng, tapi dari kerja keras yang panjang, dari proses yang tidak terlihat, dari kebiasaan kecil yang terus diulang sampai akhirnya menghasilkan sesuatu yang besar. Banyak orang mengatakan bahwa keajaiban adalah titik ketika persiapan bertemu kesempatan. Dan semakin lama saya hidup, semakin terasa bahwa kalimat itu ada benarnya. Tidak ada perubahan besar tanpa usaha di belakangnya. Bahkan apa yang tampak seperti keberuntungan pun biasanya lahir dari seseorang yang sudah jauh-jauh hari menyiapkan dirinya.




Namun kalau saya jujur, pandangan itu hanya menjelaskan separuh dari kenyataan. Karena dalam hidup saya sendiri, ada hal-hal yang tidak pernah bisa saya klaim sebagai hasil “usaha”. Ada kejadian yang muncul begitu saja ketika saya sedang rapuh, atau ketika saya sudah merasa tidak punya tenaga lagi untuk mendorong hidup ke arah manapun. Hal-hal semacam itu sering kali membuat saya berpikir bahwa keajaiban juga punya sisi teologis—sisi yang jauh lebih sunyi, lebih personal, dan lebih sulit diterjemahkan dengan logika. Seolah ada kekuatan yang bekerja di luar diri saya, memberi jalan pada sesuatu yang tidak mungkin terjadi hanya dengan usaha manusia.

Saya tidak sedang berbicara soal mukjizat besar atau pengalaman religius yang dramatis. Saya sedang membicarakan momen kecil yang kadang datang di saat yang tepat seperti seseorang yang tiba-tiba memberi bantuan, kesempatan yang muncul tanpa saya duga, atau bahkan rasa tenang yang turun begitu saja setelah berminggu-minggu merasa sesak. Keajaiban dalam perspektif ini bukan hasil kerja saya. Ia lebih seperti campur tangan yang tidak terlihat—hadiah yang hadir bukan karena saya layak, tetapi karena saya membutuhkan.

Makin dipikir, saya merasa kedua pandangan ini tidak saling meniadakan. Justru keajaiban sering lahir dari pertemuan keduanya. Saya berusaha, tapi pada saat yang sama saya juga membuka ruang bagi hal-hal yang berada di luar kendali saya. Saya bergerak, tapi saya juga sadar bahwa tidak semua hasil bisa saya tentukan. Ada bagian dari hidup yang bisa saya bentuk, tapi ada juga bagian yang hanya bisa saya terima. Di tengah pertemuan itulah keajaiban biasanya muncul, misalnya saat usaha dan takdir berjalan beriringan, lalu menghasilkan sesuatu yang tidak pernah saya rencanakan tetapi sangat saya syukuri.

Pada akhirnya saya sampai pada kesimpulan yang cukup mengikat keduanya bahwa keajaiban itu ditunggu sekaligus diciptakan. Saya perlu menanam, tapi saya juga perlu menunggu tanah bekerja dengan caranya sendiri. Saya perlu mengambil langkah, tapi saya juga harus siap dengan hasil yang mungkin datangnya dari arah yang tidak terduga. Saya tidak bisa sepenuhnya mengandalkan usaha, tapi saya juga tidak bisa duduk diam dan berharap sesuatu turun dari langit. Hidup tidak bekerja seperti itu.

Mungkin itu sebabnya keajaiban selalu terasa istimewa. Ia bukan sekadar hadiah atau hasil. Ia adalah momen ketika saya menyadari bahwa saya tidak sendirian dalam mengarungi hidup, tetapi juga tidak sepenuhnya digerakkan oleh kekuatan luar. Ada peran saya, ada peran Tuhan, dan ada peran waktu. Semuanya saling terkait, saling mengisi, dan saling menunggu saat yang tepat. Keajaiban itu sendiri adalah pertemuan sunyi di antara semuanya. Sebuah momen ketika hidup terasa lebih lembut, lebih masuk akal, dan lebih mudah diterima. Dan saya rasa itu sudah cukup untuk disebut sebagai keajaiban.

Read More

Sabtu, 11 Juli 2020

Setelah Tekanan Itu Hilang

Halo! Selamat pagi sobat blogger di mana pun kalian berada. Gimana kabarnya kalian semua? Saya harap kondisi kalian baik-baik saja ya. Saya ingin cerita sedikit tentang kondisi yang saya rasakan saat ini. Sudah beberapa hari sejak saya menyelesaikan UTBK terakhir, saya merasakan keanehan yang aneh. Bukan gugup, bukan takut, bukan juga lega. Lebih seperti rasa kosong yang tiba-tiba terbentuk di dalam kepala. Seolah-olah sesuatu yang selama ini menancap dan memenuhi hari-hari saya mendadak dicabut. Setelah itu saya dibiarkan kebingungan berdiri di tengah hamparan lahan yang luas tanpa tahu harus melangkah ke mana. 

Awalnya saya pikir setelah ujian itu akan merasa lega. Bisa tidur panjang tanpa rasa bersalah, bisa nonton film tanpa dihantui waktu yang terbuang, bisa makan banyak tanpa dihitung sebagai "calon penyesalan" . Tapi ternyata, begitu ujian selesai dan semua hal itu diperbolehkan, rasanya malah janggal. Seperti tubuh saya sudah lupa bagaimana rasanya hidup tanpa tekanan. Beberapa kali saya membuka ponsel, lalu menutupnya lagi. Jalan ke dapur, lalu bingung mau ngapain. Duduk di kamar, menatap dinding, mencoba memikirkan sesuatu yang penting tapi tidak ada. Tidak ada apa pun. Persis seperti ilustrasi gambar ini 


Saya berusaha semaksimal mungkin memahami kondisi ini, saya perlahan-lahan mengenali gejala aneh ini dengan banyak cara dan metode. Saya pikir masalahnya bukan kelelahan. Bukan juga bosan. Lebih seperti kehilangan arah sejenak setelah sekian lama berlari hanya ke satu tujuan besar. Setelah saya hubungkan dengan perjalanan saya sampai saat ini mungkin ini adalah efek samping dari selesainya ujian saya. Setelah ujian itu lewat, rasanya saya berdiri memandangi sekeliling, dan ternyata tidak ada petunjuk ke mana harus pergi selain menunggu. Banyak yang bilang ini fase normal, semacam kehampaan setelah peristiwa besar. Tapi rasanya tetap aneh. Rasa hampa yang menekan tapi tidak menyakitkan, kosong tapi tidak sepenuhnya gelap.

Hari-hari saya jadi terasa datar. Saya bangun tanpa rencana, bergerak tanpa tujuan, mengerjakan hal-hal kecil dengan setengah sadar. Kadang saya memaksa diri untuk bersih-bersih, membantu orang tua, atau olahraga ringan, sekadar agar tubuh saya tidak ikut tenggelam dalam kekosongan yang sama. Tapi setelah itu selesai, saya kembali ke titik yang sama. Duduk tanpa tahu apa yang sebenarnya sedang saya inginkan. Satu hal yang paling bikin saya bingung adalah fakta bahwa seharusnya saya merasa bebas. Tanggung jawab belajar yang selama ini menyedot energi sudah hilang. Tidak ada lagi jam belajar yang kaku. Tidak ada lagi tekanan mencatat target setiap hari. Namun anehnya, tubuh saya seperti belum menerima kenyataan itu. Ada perasaan seperti "harusnya saya melakukan sesuatu yang bermanfaat" , tapi saya bahkan tidak tahu kegiatan apa itu. 

Saya tidak lagi menyentuh materi pelajaran untuk berjaga-jaga mengikuti persiapan ujian mandiri karena saya memang tidak berniat untuk ikut serta dalam ujian mandiri. Alasannya mungkin sudah bisa ditebak, ya karena biayanya yang cukup mahal untuk kondisi sulit seperti pandemi yang saat ini tengah berlangsung. Ada hal yang harus bisa direm dan diatur ulang agar semua bisa tepat sasaran. Itu yang ditekankan bapak saya berkali-kali. Jadinya ya sudahlah. Saya hanya bisa pasrah dengan keadaan yang ada. "Nothing to lose" istilah kerennya. Jika nanti pengumuman UTBK keterima ya alhamdulillah, jika tidak ya saya akan mencari kerja sungguhan untuk bisa membantu perekonomian keluarga. 

Nah di tengah rasa hampa itu, muncul pikiran kecil yang awalnya ingin saya abaikan, yaitu menulis. Pikiran terus berkata setiap harinya, "Coba tulis saja. Apa pun itu." Semacam naluri lama di otak yang terbangun dari tidur panjang. Mungkin karena saya butuh tempat untuk menuangkan kebingungan yang tidak bisa dijelaskan lewat percakapan biasa. Mungkin karena menulis selalu menjadi cara terbaik saya untuk memahami apa yang sedang terjadi di dalam diri ini ketika semuanya terasa sangat kabur.

Alhasil, saya berusaha fokus lagi lalu duduk dan membuka blog ini lagi, sebuah ruang aman yang sudah lama saya abaikan dan hanya saya buka sesekali ketika pikiran saya butuh tempat pulang. Rasanya memang sedikit canggung. Seperti bertemu teman lama dan tidak tahu harus memulai dari mana. Tapi di saat yang sama, ada kepuasan kecil yang muncul hanya karena saya pada akhirnya menekan tombol "postingan baru". Dan jujur saja, alasan saya mencurahkan hal ini selalu sederhana, saya sedang berusaha menghancurkan kekosongan ini. Atau setidaknya, saya memberikan bentuk pada rasa itu lewat kata-kata. Karena terkadang kehampaan yang tidak diberi nama atau bahkan diabaikan justru semakin membesar, sementara yang dicatat perlahan punya batas dan terkadang bisa menghilang sendiri. 

Saya tidak tahu apakah tulisan ini akan membuat perasaan saya membaik. Tapi setidaknya sekarang saya sedang melakukan sesuatu. Sedikit demi sedikit, saya mulai bergerak lagi, bukan karena harus, tapi karena saya tidak ingin tenggelam dalam ruang kosong ini sendirian. Mungkin beberapa hari ke depan masih akan terasa sama. Mungkin juga perasaan ini hilang tiba-tiba. Saya tidak tahu. Tapi untuk sekarang, menulis adalah langkah kecil yang bisa saya lakukan. Dan kadang, langkah kecil seperti ini sudah cukup untuk membuat saya merasa semangat lagi. 
Read More

Senin, 06 Juli 2020

UTBK Terakhir

Selamat malam sobat blogger!
 
Hari ini saya ingin bercerita tentang ujian yang sudah saya tunggu-tunggu tahun ini, apalagi kalau bukan UTBK 2020. Ini adalah UTBK terakhir yang akan saya laksanakan selama menjadi warga negara Republik Indonesia. Sungguh sangat amat terasa berbeda dengan UTBK yang pernah saya lakukan. UTBK tahun 2020 adalah salah suatu pengalaman yang cukup berkesan bagi saya, banyak sekali kejutan yang saya dapatkan hahahaha. Kenapa bisa saya katakan seperti itu? Karena saya benar-benar tidak menyangka akan seribet ini persiapannya. Mulai dari pendaftaran sampai saat UTBK nya berlangsung itu semua sangat menyusahkan. Dalam artian bahwa saya lebih fokus ke hal-hal teknis daripada belajar itu sendiri. Oke dari pada kelamaan langsung aja disimak ya sob.
 
Jadi begini ceritanya.. Mulai dari awal daftar dulu kali yak. Registrasi akun LTMPT kan dibuka februari, saya baru mendaftarkan diri pada tanggal 17. Lalu selang seminggu kemudian virus korona mulai menyerang seluruh dunia. Awal bulan maret, virus ini mulai terdeteksi di Indonesia. Dengan adanya beberapa pasien yang dinyatakan positif di daerah Depok. Seluruh lapisan masyarakat pun panik menyikapi adanya virus ini karena penyebarannya yang sangat masif. Saat itulah keresahan saya sebagai pejuang SBMPTN mulai muncul. Saya mulai bertanya-tanya, apakah ada kemungkinan untuk ditunda ujian masuk perguruan tinggi tahun ini? Mengingat tinggal sebulan lagi pelaksanaan UTBK berlangsung. Dan benar saja, sebulan kemudian tepatnya pada tanggal 6 April, Lembaga penyelenggara SBMPTN yaitu LTMPT,  mengeluarkan surat edaran yang isinya :
  • Pengunduran waktu SBMPTN sampai bulan Juli 
  • Sistem SBMPTN menjadi sekali tes
  • Materi tes yang diujikan HANYA Tes Potensi Skolastik (TPS)
Apa aja yang bikin greget sekarang? Okelah pengunduran waktu ujian yang lama memberi saya kesempatan belajar lebih banyak lagi. Tapi sistem yang berubah dari yang awalnya sistem ujian dilakukan sekali menjadi dua kali lalu menjadi sekali lagi, hingga penghapusan materi Tes Potensial Akademik (TKA) ini tentu bikin saya agak syok. Terlalu beresiko. Sampai-sampai ada guyon yang kurang lebih seperti ini, "Apakah nanti anak IPS bisa masuk kedokteran?" Saking bingungnya para pejuang PTN dikasih info seperti ini. Banyak teman-teman seperjuangan di media sosial yang sambat. Bahkan hingga mencapai trending topic Indonesia di Twitter. Otomatis persaingannya makin tinggi dong karena banyak camaba yang bisa seenaknya lintas jurusan, apalagi saya dari SMK. Peluang untuk bisa lolos itu sangatlah kecil. Mau gak mau strategi belajar harus diubah, begitu pula strategi memilih universitas. Hmm.. Makin-makin lah saya bingung menyusun kembali rencana besar tahun ini jikalau memang takdir saya gak bisa kuliah. 
 

H-33 UTBK. Tibalah pendaftaran SBMPTN di awal juni. Lagi-lagi saya dibuat galau oleh LTMPT. Setelah keputusan kontroversinya yang menghapus materi TKA karena adanya pandemi virus korona, ternyata eh ternyata.. pas daftar SBMPTN nya gak bisa seenaknya lintas jurusan! Sial banget nasibku ini :( Jadi memang benar ada syarat dan ketentuan masing-masing universitas. Kita gak bisa 'lompat' jurusan secara ekstrem kayak tahun kemarin karena ada syarat SMTA nya. Itulah mengapa LTMPT berani menghapus materi TKA untuk UTBK tahun. Bisa dibilang Ini kayak semi-SBMPTN. Sebenarnya kita tetap boleh lintas jurusan JIKA memang diizinkan oleh program studi yang akan dipilih, itulah yang saya maksud syarat SMTA. Dan kabar buruknya lagi jurusan yang saya inginkan itu ternyata gak bisa menerima anak SMK!! Saya bingung dah karena gak bisa milih jurusan yang saya idam-idamkan sejak lama yaitu teknologi pangan. Pas dicari itu benar-benar gak tersedia jurusan tersebut. Di mana pun universitasnya gak ada yang mau menerima anak SMK. Rasa pesimis makin menjadi-jadi. Saya sampai sudah gak menyentuh materi UTBK lagi semenjak awal juni karena down banget mengetahui kenyataan pahit ini. Saya sempat merenung beberapa hari sebelum memutuskan apakah saya harus lanjut menyelesaikan ambisi masuk PTN atau udahan aja. Pasrah. Berhenti sampai di sini perjuangan saya. "Jika saya memang tidak ditakdirkan untuk berkuliah yaa mau gimana lagi. Mungkin saya memang harus terus bekerja agar membantu meringankan beban orang tua" Gitu pikir saya waktu itu. 
 
Setelah bergumul sekitar empat hari, melihat anaknya yang nampak tidak bersemangat menjalani hari-hari. Akhirnya bapak saya turun tangan, datang dan menghampiri saya merekomendasikan dua jurusan alternatif yang masih seirama dengan teknologi pangan dan masih satu rumpun dengan pertanian—karena ini memang keinginan saya yaitu di bidang pengelolaan hasil pertanian. Jurusan tersebut adalah agroekoteknologi atau agribisnis. Saya langsung cari tahu tuh berbagai info tentang kedua jurusan itu. Apa saja yang akan dipelajari di jurusan itu, prospek pekerjaannya, dan cerita pengalaman orang-orang yang pernah merasakan jurusan tersebut. Setelah saya cari tahu tentang kedua jurusan itu, ternyata menarik juga. Saya merasa tertantang dengan berbagai mata kuliah yang ditawarkan. "Kayaknya mirip nih" kata saya. Yaudah.. Lantas pilihan saya jatuh kepada agribisnis. Alasannya? Karena menurut apa yang saya baca, jurusan ini lebih menekankan pengelolaan bisnis di bidang pertanian. Kalau agroekoteknologi itu lebih ke pengelolaan tanamannya dari biji sampai berbuah. Nah.. Setelah tahu jurusannya, baru saya cari tahu universitasnya yang menerima lulusan SMK (karena ada syarat SMTA) . Pilihannya cuma ada tiga, yaitu:
 
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa - Agribisnis
Universitas Diponegoro - Agribisnis
Universitas Siliwangi - agribisnis 
 
Waaaw... Ini adalah pilihan yang cukup sulit. Ada dua universitas yang baru saya dengar alias underrated dan satu universitas ternama. Karena ini adalah SBMPTN terakhir saya, maka saya harus benar-benar realistis dalam memilih universitas. Saya berusaha menyakinkan diri ini agar tidak lagi mengikuti ego ingin masuk universitas top, yang penting judulnya PTN. Di mana pun tempatnya, kalau memang itu memiliki peluang besar untuk saya bisa lolos maka saya akan pilih. Jadi saya memutuskan untuk mendaftar di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa dengan pilihan 1 Agribisnis dan pilihan 2 Universitas Siliwangi dengan jurusan yang sama. 



Saya baru tahu ada nama universitas-universitas tersebut pada saat mendaftar. Saya lihat-lihat juga persaingannya gak terlalu ketat, jadi ini adalah peluang saya untuk dapat lolos. Karena saya tak ingin mengulang kesalahan saya karena terlalu mengikuti idealisme tanpa memikirkan medan perang dan persaingan yang sangat ketat di dua SBMPTN sebelumnya. 

H-7 UTBK. Karena masih ada PSBB, jadi pergerakan antar daerah masih dibatasi, sedangkan saya harus nyebrang kabupaten untuk bisa ujian. Maka dari itu harus membawa surat keterangan sehat dan surat keterangan dari puskesmas yang menyatakan saya bebas rapid test. Yaudah akhirnya saya ke puskesmas, nah awalnya puskesmas tidak mau mengeluarkan surat tersebut karena patuh sama pemerintah soal pembatasan. Saya cukup dipersulit awalnya hingga harus beberapa kali bolak-balik ke puskesmas untuk memastikan keaslian mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Saya sampe bikin meme untuk meredakan ketegangan karena adanya peraturan yang ketat. 


Okey tibalah pada hari UTBK. Saya mendapatkan jatah test di hari pertama pelaksanaan UTBK yaitu tanggal 5 juli sesi 2, pengalaman saya selama UTBK terakhir ini sangat unik, Karena UTBK di tahun 2020 ini dalam keadaan pandemi dan pihak LTMPT menyarankan untuk memilih lokasi ujian terdekat, jadi saya memilih ujian di UNSIKA. Para peserta harus menggunakan alat pelindung diri pribadi yang sudah diberi tahu sebelumnya yang termasuk ke dalam tata tertib UTBK. Ada masker medis, sarung tangan karet gitu, face shield, dan hand sanitizer. Sebelum masuk ruangan pemeriksaan suhu dan surat keterangan sehat dari dokter, ketika suhu saya di cek, lebih dari 37° dan suhu yang ditentukan dibawah 37°. Jadi saya duduk dulu sambil menunggu suhu saya turun dan melihat teman-teman sudah mulai masuk ruangan. 

Di dalam ruangan diberikan jarak yang lebih jauh antar peserta agar tidak ada penularan dan praktik menyontek tentunya. Ujiannya berlangsung sekitar dua jam aja. Karena hanya materi TPS aja yang diujika. Reaksi awal saya adalah.. Astaghfirullah... Ada soal yang bahasanya itu sangat aneh. Kata orang-orang mah bahasa panda legendaris yang sangat mengandalkan logika. Soal ini muncul dan sempat menyebabkan otak saya mengalami konslet seketika. Saya mencoba tenang, saya pun memilih untuk diam sejenak. Saya jawab sebisanya aja, mengikuti nalar saya saat itu. Dua jam gak terasa banget. Tiba-tiba UTBK udah selesai aja. Setelah itu saya hanya bisa pasrah. Sisanya tinggal berdoa aja yang banyak. Saya minta didoakan oleh keluarga, nenek, teman-teman, dan beberapa warganet yang saya temui dunia maya. 

Ini foto saya pas banget selesai UTBK di UNSIKA menggunakan alat pelindung diri pribadi 

Yak dapat disimpulkan bahwa UTBK terakhir saya ini sangat rollercoaster alias banyak naik turunnya. Kesulitan tahun ini sih lebih kepada aturan masa Covid-19 yang sangat ketat sehingga membuat esensi ujiannya bagi saya gak terlalu serius. Bisa dibilang terpecah lah fokusnya. Saya gak terlalu menikmati banget ujian terakhir ini. Tapi saya tetap berusaha sebaik mungkin. Saya sudah di tahap nothing to lose alias pasrah aja udah tidak akan terbebani lagi oleh kegagalan. Jika saya tidak lulus lagi yaudah gapapa gitu. Dengan adanya pergantian aturan, pergantian mekanisme, pengunduran, penyesuaian jadwal ujian, penyebaran info hoax yang ternyata fakta, wah banyak dah. Itu semua adalah hal-hal yang saya alami sebagai pejuang UTBK 2020. 

Jadi, yaa begitulah pengalaman saya mengerjakan UTBK untuk yang terakhir kalinya. Panjang juga ya kalau dilihat-lihat. Mohon maaf jika kurang jelas dan ada kesalahan ketik. Bagi yang sanggup membacanya hingga akhir tanpa skip, saya ucapkan terima kasih banyak. Kemarin benar-benar hari yang penuh ujian banget. Saya berharap perjuangan saya ini membuahkan hasil yang menggembirakan pada pengumuman UTBK tanggal 20 Agustus 2020. Saya berdoa, semoga saya bisa lolos SBMPTN jalur pertama dan dapat membahagiakan orang tua saya. Aamiin.. 
Read More