Sabtu, 18 Juli 2020

Tentang Gap Year

Halo selamat siang sobat blogger! Sambil menunggu pengumuman UTBK yang masih satu bulan lagi, saya ingin mengisi rentang waktu ini dengan menulis lagi di blog sambil merapikan pikiran yang sempat berantakan. Hari ini saya mau berbagi aja mengenai pengalaman saya menjalani gap year yang kurang lebih dua tahun saya lalui dengan penuh suka duka. 

Oke langsung aja ya, jadi pada dasarnya tidak ada manusia yang benar-benar siap menjalani tahun yang tidak pernah ia direncanakan. Setiap tahun baru manusia selalu merancang dan merencanakan sesuatu yang akan dilaluinya setahun kedepan, entah secara sadar dengan menuliskannya sendiri ataupun tidak sadar seperti saat berada di dalam sistem yang telah pasti jadwal setiap bulannya. Saya pun begitu. Menjalani Gap year setelah lulus sekolah dua tahun yang lalu bukanlah keputusan matang, melainkan sesuatu yang terjadi spontan begitu saja, secara tiba-tiba, dan sering kali membuat saya merasa tertinggal dari orang lain di fase awal menjalaninya.


Tentang Gap Year blog zulfahmi Adam


Saya masih ingat bagaimana tahun pertama setelah lulus itu terasa seperti ruang tunggu yang terlalu panjang dan lama yang sempat membuat saya hilang kendali dan emosi meledak tidak karuan. Teman-teman sekolah saya udah ada yang masuk kuliah, sebagian ada yang mulai bekerja, dan sebagian lain sudah punya rencana jangka panjang. Sementara saya saat itu masih berputar-putar di dalam pikiran sendiri, memikirkan kesalahan apa yang saya lakukan dan kenapa langkah saya terasa lebih lambat dari semuanya. Setiap hari rasanya mirip satu sama lain. Saya bangun, melakukan rutinitas membantu orang tua agar badan tetap gerak, lalu kembali tenggelam dalam pikiran yang sulit ditata. Ada lelah yang tidak berasal dari pekerjaan apa pun, dan ada kegelisahan yang bahkan tidak punya bentuk. Saya mencoba memperbaiki banyak hal dalam diri saya, tapi kebanyakan hanya berakhir sebagai niat yang tidak selalu bertahan lama.  

Tidur saya tidak teratur, pikiran saya sulit diam, dan terkadang saya merasa sedang mengejar sesuatu yang tidak saya pahami. Dalam proses itu, akhirnya saya memaksa diri saya untuk mulai membaca lebih banyak. Karena saya sadar saya masih berat kepala, saya butuh sesuatu untuk menahan diri agar tidak terus-menerus mengulang kekhawatiran yang sama. Saya mulai belajar tentang hal-hal yang berkaitan dengan spiritualitas, tentang bagaimana seseorang bisa menata diri dari dalam, meskipun saya tidak pernah benar-benar tahu apakah itu bekerja dengan baik pada saya atau tidak. Saya hanya mengikuti alurnya, berharap ada perubahan kecil yang membuat saya sedikit lebih kuat menghadapi hari.

Waktu itu saya tidak berani menyebutnya gap year. Rasanya terlalu mewah untuk ukuran orang biasa seperti saya. Saya hanya menyebutnya sebagai masa istirahat. Kenapa istirahat? Karena masa sekolah saya itu sangat melelahkan dan menguras emosi saya bertahun-tahun lamanya hingga saya sempat kehilangan jati diri karena terlalu lama berpura-pura untuk menyenangkan semua orang. Saya menyadarinya setelah masa istirahat itu tiba dan merefleksikannya kembali. 

Saya ternyata tipe orang yang gak enakan. Saya ternyata tipe orang yang selalu mendahului kepentingan bersama dibanding kepentingan pribadi. Saya ternyata tipe orang yang tidak ingin punya musuh jadi selalu memberi dan berusaha menyenangkan teman-teman. Kedengarannya sih baik ya, tapi ternyata kalo berlebihan sampai mengganggu kepribadian hingga kehilangan sifat aslinya itu berbahaya. Maka dari itu saya merasa setahun setelah lulus itu ada fase istirahat total sembari mengenali lagi diri sendiri. Ada proses pemulihan di situ dan ternyata memang itu yang saya butuhkan. Saya lebih banyak merenung sepanjang tahun untuk melihat ke dalam diri dan menyadari banyaknya luka yang perlu dikeringkan. Akhirnya ada sesuatu yang harus dikorbankan yaitu berkurangnya waktu dan fokus belajar untuk persiapan ujian masuk kuliah yang mengakibatkan gagalnya saya di UTBK kedua. 

Namun, dari semua kekacauan tahun pertama itu, saya mulai menyadari satu hal bahwa ternyata tidak semua orang langsung menemukan jalannya setelah sekolah. Ada yang butuh waktu untuk berhenti, mengatur napas, dan mendengar dirinya sendiri. Nilai yang saya dapat pada tahap ini sederhana tapi cukup penting bahwa tidak apa-apa untuk diam dulu. Tidak apa-apa untuk bingung. Tidak apa-apa untuk tidak langsung tahu. Kadang, justru dari ketidakpastian itu, kita belajar mendengar suara-suara kecil dalam diri kita yang selama ini tenggelam oleh keramaian. 
 

Tahun pertama gap year bukan tentang sukses atau produktivitas. Tahun itu adalah tentang mengenal ulang diri sendiri.


Tahun pertama gap year membuka mata saya bahwa tidak semua langkah lambat berarti salah. Kadang di situlah seseorang mulai belajar menata dirinya.

0 comments:

Posting Komentar

Silahkan komentar, bebas asal sopan dan relevan.