Minggu, 02 Agustus 2020

Penguatku



Lebih dari dua puluh tahun sudah mereka ada di sini. Menjagaku.

Kalau dipikir-pikir, waktu berjalan terlalu cepat. Tiba-tiba saja aku sudah berada di titik ini. Usia yang katanya sudah cukup dewasa, tapi rasanya masih sering bingung harus bagaimana menjalani hidup.

Namun di tengah kebingungan itu, ada dua sosok yang tidak pernah benar-benar pergi dari pikiranku.

Ibu dan bapak.

Aku masih ingat saat masa kecil itu. Saat aku belum mengerti apa-apa. Saat dunia terasa sederhana. Saat tugasku hanya bermain dan eksplorasi. Kalian menjelaskan segalanya dengan penuh kesabaran. 

Sekarang, semuanya terasa berbeda.

Malam hari, ketika ibu memintaku memijat kakinya yang mulai lelah, sering kali aku terdiam. Tanganku bergerak, tapi pikiranku ke mana-mana. Dan entah kenapa, tanpa alasan yang jelas, air mata itu kadang jatuh begitu saja.

Kaki itu sudah tidak sama lagi.

Kaki yang dulu kuat, yang dulu mungkin tidak pernah kupikirkan, sekarang mulai menua. Ada garis-garis waktu di sana. Ada lelah yang tidak pernah benar-benar diucapkan.

Aku hanya bisa membalas dengan pijatan sederhana. Itu pun terasa tidak sebanding dengan apa yang sudah beliau berikan.

Kalau kaki itu saja sudah begitu lelah, aku tidak tahu bagaimana dengan hatinya. Dua puluh tahun bersabar menghadapi diriku yang sering kali keras kepala, malas, dan tidak tahu diri.

Begitu pula Bapak.

Dulu, suaranya tegas. Bahkan cenderung dingin. Setiap kata yang keluar seperti aturan yang harus dipatuhi. Tidak banyak basa-basi. Tidak banyak kelembutan.

Tapi sekarang, ada yang berubah.

Suaranya tidak sekeras dulu. Bukan karena beliau berubah menjadi lemah. Mungkin justru karena sudah terlalu lama kuat.

Sepuluh, dua puluh tahun mendidik dengan cara yang sama. Mengulang hal yang sama. Menahan lelah yang sama.

Dan tanpa kusadari, waktu ikut mengubah cara beliau berbicara. Kini lebih tenang dan tidak berlebihan. 

Semangat yang beliau keluarkan setiap hari sangatlah berarti. Semangat yang membuatku tetap hidup sampai sekarang. Semangat yang bisa mengisi perutku. Semangat yang membuatku punya tempat untuk pulang.

Dan aku baru benar-benar menyadarinya ketika semuanya mulai terasa berat.


Aku bukan anak yang sempurna.

Masih sering malas. Masih suka menunda. Kadang masih melawan. Kadang masih mengecewakan.

Dulu, aku marah ketika keinginanku tidak terpenuhi. Sekarang aku malu mengingat itu semua.

Karena aku sudah melihat sendiri bagaimana sulitnya mereka mencari uang. Bagaimana kerasnya dunia yang mereka hadapi setiap hari. Ditambah dengan kondisi pandemi seperti saat ini yang sangat menguji daya juang. 

Mereka mungkin tidak bisa memberikan semua yang aku inginkan. Tapi mereka sudah memberikan semua yang mereka punya.


Yang paling sedih, banyak hal dari mereka yang berubah seiring waktu.

Tenaga berkurang. Suara berubah. Waktu tidak lagi sebanyak dulu.

Tapi ada satu hal yang tetap sama.

Semangat itu.

Semangat yang sederhana, tapi selalu terasa tulus. Bahkan di saat keadaan tidak benar-benar baik-baik saja.


Kadang, saat malam tiba dan aku sendirian, sosok mereka muncul begitu saja di kepala. 

Lalu pikiranku mulai berjalan ke mana-mana.

Apakah aku bisa membahagiakan mereka?

Masih adakah waktu untuk membuat mereka bangga?

Pertanyaan itu tidak pernah benar-benar hilang. Aku hanya belajar untuk menghadapinya.


Aku pernah merasa gagal.

Dan jujur saja, sampai sekarang perasaan itu kadang masih datang. Terutama ketika aku melihat betapa besar usaha mereka, sementara aku merasa belum bisa memberikan apa-apa.

Selama masa gap year ini, aku mencoba membantu semaksimal mungkin. Setidaknya untuk meringankan sedikit beban mereka.

Di situ aku mulai mengenal mereka lebih dekat.

Bukan hanya sebagai orang tua.

Tapi sebagai manusia.

Yang bisa lelah.
Yang bisa khawatir.
Yang punya harapan.


Sebagai seorang anak, aku tidak tahu apakah aku sudah bisa disebut berbakti.

Sepertinya belum.

Tapi aku sedang belajar.
Belajar untuk lebih peka.
Belajar untuk lebih peduli.
Belajar untuk tidak hanya menuntut, tapi juga memahami.


Ibu…
Bapak…
Maaf kalau sampai sekarang aku masih belum bisa membahagiakan kalian sepenuhnya.

Maaf kalau masih ada luka yang aku tinggalkan di hari-hari kalian.

Aku belum sampai di titik yang kalian harapkan.

Tapi aku tidak berhenti.
Aku sedang berusaha.
Pelan-pelan.


Selama kalian masih ada, aku masih punya alasan untuk terus berjalan.

Karena kalian adalah penguatku. 

0 comments:

Posting Komentar

Silahkan komentar, bebas asal sopan dan relevan.