Senin, 17 Agustus 2020

Agustusan dalam Keheningan

Halo, sobat blogger di mana pun kalian berada. 

Selamat siang dari sudut kamar yang mungkin sekarang jadi "kantor" atau "kelas" yang sekaligus jadi tempat kita merenung paling dalam selama beberapa bulan terakhir. 



Hari ini, 17 Agustus 2020. Hari Kemerdekaan. Tapi rasanya aneh, ya? Biasanya jam segini telinga kita sudah akrab dengan suara peluit lomba balap karung di ujung gang atau riuh rendah persiapan upacara. Namun tahun ini, perayaan ulang tahun ke-75 Republik Indonesia terasa jauh lebih sunyi. Tidak ada kerumunan, tidak ada panjat pinang yang bikin baju kotor, tidak ada lomba makan kerupuk, yang ada hanya hening dan mungkin layar televisi dan gawai yang menyiarkan upacara secara virtual alias upacara online. Fakta menarik aja nih ternyata karakter komik favorit saya Si Juki pernah memprediksi upacara online pada tahun 2012. Sebuah kebetulan yang kebetulan. 

© Si Juki via Twitter @jukihoki


Jujur saja, di tengah pandemi yang belum juga mereda ini, merayakan kemerdekaan terasa seperti sebuah tantangan tersendiri. Ada beban yang sedikit lebih berat di pundak masing-masing. Namun, di tengah kesunyian inilah, saya merasa kita dipaksa untuk benar-benar memaknai apa itu slogan yang jadi tema besar tahun ini yaitu "Indonesia Maju." Sebuah visi besar yang digaungkan oleh Pak Presiden 
Jokowi. 

Beberapa hari lalu, tepatnya Jumat, 14 Agustus, saya sempat menyimak pidato Bapak Presiden di Sidang Tahunan MPR. Ada satu poin yang terus terngiang di kepala saya yaitu beliau mengingatkan kita untuk tetap optimis menghadapi krisis ini. Beliau menyebut bahwa krisis ini harus kita jadikan momentum untuk membenahi diri dan membuat "lompatan besar" bersama-sama.

Terdengar sangat idealis? Mungkin bagi sebagian kita, iya. Apalagi kalau kita melihat realita di lapangan seperti ekonomi yang sulit, sekolah dan bekerja yang masih dari rumah, sampai rasa cemas yang belum hilang setiap kali harus keluar rumah. Tapi kalau saya coba tarik ke kehidupan sehari-hari sebagai warga biasa, pesan itu sebenarnya sangat masuk akal. Optimisme itu bukan berarti kita menutup mata dari masalah. Optimisme di tahun 2020 ini, menurut saya, adalah bentuk keberanian untuk tetap bergerak meskipun langkah kita terbatas. Seperti karakter dalam film-film pahlawan super yang sering saya tonton, mereka tidak menjadi kuat karena tidak punya rasa takut, tapi karena mereka memilih untuk tetap maju saat situasi sedang hancur-hancurnya.

Belakangan ini saya banyak merenung lewat bacaan-bacaan buku pengembangan diri dan filosofi. Sebuah kebiasaan baru yang jadi pelarian positif selama di rumah saja. Ada konsep menarik tentang memfokuskan energi pada hal-hal yang bisa kita kendalikan. Pandemi ini? Jelas di luar kendali kita. Kebijakan global? Bukan ranah kita.

Lalu, apa yang bisa kita kendalikan agar visi "Indonesia Maju" tetap berjalan?

Ya, diri kita sendiri. Langkah kecil kita.
Memilih untuk tetap disiplin memakai masker dan protokol kesehatan itu adalah kontribusi nyata. Memilih untuk tetap kreatif mencari peluang, belajar skill baru lewat internet, atau sekadar memberikan semangat kepada teman yang sedang terpuruk adalah cara kita menjaga mesin bangsa ini tetap berputar. Indonesia tidak akan maju hanya karena kebijakan di atas kertas, tapi karena manusianya yang memutuskan untuk tidak menyerah pada keadaan.

Saya jadi teringat bapak saya. Beliau orangnya cukup tegas dan kalau bicara soal disiplin, tidak ada tawar-menawar. Di masa sulit seperti ini, gaya komunikasinya yang lugas itu seolah jadi pengingat: "Jangan banyak mengeluh, lakukan apa yang bisa dilakukan." Dan memang benar, di saat-saat seperti ini, mentalitas seperti itulah yang kita butuhkan. Realistis, tapi tetap punya daya juang.




Menyambut 75 tahun kemerdekaan dalam kondisi prihatin seperti sekarang sebenarnya adalah ujian kedewasaan bagi kita sebagai sebuah bangsa. Kita sedang diajak untuk melakukan "lompatan besar" yang disebutkan Pak Presiden, bukan dalam bentuk fisik, tapi dalam bentuk pola pikir. Jadi kata "maju" di sini tuh punya makna yang luas, tidak hanya pembangunan infrastruktur fisik saja tapi juga pembangunan sumber daya manusianya sesuai fokus yang ingin dilakukan Pak Presiden di periode kedua ini. Maju itu bisa berarti kita yang lebih peduli pada kesehatan sesama. Maju itu artinya kita yang lebih melek teknologi demi bertahan hidup. Maju itu adalah saat kita bisa mengubah rasa takut menjadi kekuatan untuk berkarya. 

Untuk sobat yang mungkin hari ini merasa lelah, merasa "kok gini amat ya tujuhbelasan kali ini," itu wajar. Sangat manusiawi. Tapi jangan sampai lelah itu mematikan api optimisme kita. Kita punya sejarah panjang sebagai bangsa yang tangguh. Kalau kakek-nenek kita dulu bisa melewati masa penjajahan yang jauh lebih gelap, masa kita harus kalah oleh virus?

Jadi, meskipun tidak ada lomba tahun ini, mari kita rayakan hari kemerdekaan ini dengan cara yang lebih personal. Mungkin dengan berterima kasih pada ibu yang selalu jadi pahlawan di rumah, atau dengan mulai menulis lagi rencana-rencana yang sempat tertunda, atau apa pun itu, sesuatu yang positif yang bisa membangun diri ke arah yang lebih baik lagi. Terus semangat dan tetap optimis. Indonesia Maju bukan cuma slogan pemerintah, itu adalah cita-cita yang bahan bakarnya adalah semangat dan harapan kita semua, warga biasa yang tetap mau berjuang di tengah krisis.


Selamat HUT Ke-75 Republik Indonesia!


Dari saya, yang merayakan kemerdekaan di dalam rumah sambil percaya bahwa hari esok akan jauh lebih cerah. Merdeka!

0 comments:

Posting Komentar

Silahkan komentar, bebas asal sopan dan relevan.