Kurang lebih tiga tahun yang lalu tepatnya di awal kelas 12 aku mempunyai harapan besar untuk dapat melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi yaitu kuliah di PTN setelah menyelesaikan masa putih abu-abu. Setiap hari aku berdoa semoga aku bisa lolos seleksi kuliah lewat jalur SBMPTN. Dalam diam, dalam sujud, dalam pikiran yang sering kali melayang ke masa depan yang belum tentu. Aku panjatkan semua doa ke langit berharap akan didengar Yang Maha Kuasa. Aku menuliskan cita-cita dan impian di setiap media yang dapat ditulis, seperti di kertas hvs, di kertas buram, di kertas folio, di kertas soal, di buku tulis, di buku paket, di buku catatan, bahkan di buku besar. Itu semua aku lalukan berulang-ulang sebagai ungkapan rasa percaya diriku.
Tapi Allah jauh lebih mengetahui apa yang pantas aku terima. Aku gagal lolos seleksi kuliah di mana pun saat itu. Akhirnya aku memutuskan untuk mengambil jeda setahun agar bisa mempersiapkan diri lagi untuk mengikuti ulang ujian masuk perguruan tinggi tahun berikutnya. Meyakinkan diri bahwa ini hanya soal waktu, bahwa saya hanya perlu mencoba lagi dengan usaha yang lebih keras. Di tahun kedua aku mengikuti ujian masuk perguruan tinggi, lagi-lagi aku harus tunduk pada ketetapan-Nya. Aku gagal lagi untuk yang kedua kalinya. Rasa sedih pasti ada, tidak perlu dijelaskan terlalu panjang. Ada kecewa, ada lelah, ada pertanyaan-pertanyaan yang tidak selalu berani saya ucapkan. Tapi hidup tetap berjalan. Waktu tidak berhenti hanya karena saya belum sampai di tujuan.
Sampai pada akhirnya aku mengikuti ujian masuk perguruan tinggi untuk yang terakhir kalinya, aku sudah tidak berharap tinggi akan diterima oleh PTN aja dan tanpa ada beban sedikit pun. Tidak ada ekspektasi sedikit pun, aku mengerjakan soal sebisanya, tanpa tekanan, tanpa beban, seperti seseorang yang sudah berdamai dengan kemungkinan terburuk. Aku nothing to lose aja. Aku hanya berusaha, sambil diam-diam tetap berdoa. Siapa tahu, masih ada ruang untuk keajaiban. Nahhh.. Di situlah akhirnya keberuntungan memihakku.
Detik-detik pengumuman jam 15.00 WIB. Aku dan keluarga sudah menunggu di depan laptop untuk menyaksikan momen penentuan masa depanku. Begitu hitung mundur selesai, halaman pengumuman disegarkan, dan aku memasukan nomor peserta dan tanggal lahir. Lalu klik lihat hasil. Dannnn....
Alhamdulillah..
Aku lolos SBMPTN di pilihan pertama!
Yaitu Agribisnis - Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
Aku tak henti-hentinya mengucapkan syukur kepada Sang Pencipta, Allah SWT yang telah melimpahkan Rizki kepadaku. Impian yang selama ini aku inginkan akhirnya dikabulkan oleh-Nya. Aku langsung sujud syukur depan orang tuaku dan salim kepadanya seraya menyerukan rasa syukur alhamdulillah. Dan rasanya itu luar biasa. Seperti anda menjadi Superman. Banyak yang menitipkan harapan-harapan dari berbagai pihak untuk dapat berguna bagi masyarakat khususnya dan negara pada umumnya. Menjadi mahasiswa bukanlah akhir dari perjalanan. Justru ini adalah awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Ada tuntutan untuk berpikir lebih kritis, untuk lebih peka terhadap sekitar, dan untuk bisa memberi manfaat, sekecil apa pun itu. Ada tanggung jawab yang dibebankan kepada mahasiswa untuk dapat berkontribusi langsung dalam mengubah kondisi bangsa ini.
Walaupun aku harus menunggu kurang lebih dua tahun untuk dapat merasakan titel mahasiswa, itu tidak masalah bagiku. Yang penting aku bisa kuliah di PTN. Ini merupakan sebuah anugerah yang luar biasa di tengah pandemi yang belum tau kapan akan berakhir. Seperti cahaya harapan yang menyinariku di tengah bayang-bayang kegelapan tahun 2020. Hari ini, aku merasa lengkap. Senang, haru, dan entah kenapa, ada sedikit rasa sedih yang ikut hadir. Mungkin karena aku tahu betapa panjang jalan yang sudah dilalui untuk sampai di titik ini. Dan untuk semua itu, aku hanya bisa berkata, terima kasih.
Terima kasih Bapak Ibu atas dukungan yang selalu diberikan kepadaku. Terima kasih abangku yang selalu hadir saat aku rapuh. Terima kasih adikku yang tetap menyemangatiku saat diriku tidak bersemangat. Aku tidak akan sampai di titik ini kalau bukan karena doa dan dukungan dan kesabaran kalian semua. Hari ini aku sangat campur aduk. Senang sekaligus sedih di saat yang bersamaan. Kalian adalah sebenar-benarnya penguatku.
Ohh iyaaa. Terakhir untuk para pembaca yang selesai membaca sampai akhir, saya ingin mengucapkan terima kasih.
Terima kasih ya sudah meluangkan waktu, membaca cerita sederhana ini, dan tanpa sadar ikut menemani perjalanan saya dalam mengejar mimpi yang tidak pernah mudah. Saya tidak tahu siapa yang membaca tulisan ini, tapi kalau kamu sedang berada di fase yang sama, sedang berjuang, sedang menunggu, atau bahkan sedang merasa gagal, semoga cerita ini bisa sedikit menemani. Karena pada akhirnya, setiap orang punya waktunya masing-masing. Hal yang diperlakukan hanya bertahan sedikit lebih lama.
Oke cukup sekian dulu.
Salam dariku. Pejuang Impian.

0 comments:
Posting Komentar
Silahkan komentar, bebas asal sopan dan relevan.