Hari ini saya resmi menjadi mahasiswa.
Rasanya aneh juga menuliskan kalimat itu, karena yang saya lakukan sejak pagi bukanlah datang ke kampus, bukan berjalan melewati gerbang universitas, bukan juga duduk di aula bersama ratusan mahasiswa baru lainnya. Saya hanya duduk di depan laptop, mengenakan kemeja putih, celana hitam, dan sepatu yang sebenarnya tidak akan terlihat kamera.
Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru atau biasa disingkat PKKMB dimulai sekitar pukul tujuh pagi. Saya sudah bersiap lebih awal, memastikan koneksi internet aman, kuota tercukupi untuk dipakai berjam-jam, kamera dipastikan jelas bisa digunakan, dan ruangan cukup terang untuk on cam. Ya begitulah suasana ospek dalam jaringan alias via online yang diharuskan oleh pihak kampus setelah diberikan edaran bahwa ospek tahun ini di rumah aja, dengan menggunakan pendekatan teknologi seperti google meet, zoom meeting, dan live streaming YouTube.
Walaupun masa orientasi ini online tapi tetap saja ada rasa tegang yang tidak bisa dijelaskan. Bukan karena takut dimarahi senior seperti cerita ospek pada umumnya, tapi lebih karena semuanya terasa asing dengan cara yang berbeda. Sejak awal acara dibuka, saya mulai menyadari bahwa ini bukan pengalaman yang saya bayangkan sebelumnya. Tidak ada suara riuh keramaian mahasiswa baru. Tidak ada getaran semangat yang merasuki jiwa. Tidak ada interaksi langsung antar mahasiswa. Semua berlangsung satu arah. Pemateri berbicara, peserta mendengarkan. Sesekali kolom chat bergerak cepat, tapi itu pun terasa jauh dari kata "berinteraksi", hanya sekadar formalitas percakapan yang dipandu kaka kelas senior.
Setiap sesi diselingi dengan presensi. Kami diminta mengunggah foto diri sebagai bukti kehadiran. Saya beberapa kali harus memastikan posisi kamera benar, wajah terlihat jelas, dan pencahayaan cukup. Hal kecil seperti ini justru menjadi cukup melelahkan karena harus dilakukan berulang kali. Rasanya seperti diawasi, tapi dalam diam. Gak banyak gerakan yang bisa membangkitkan euforia menjajaki fase baru kehidupan kampus yang selama ini saya bayangkan atau saya lihat di media sosial.
Enam jam di depan layar ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan. Mata mulai lelah, fokus perlahan menurun, dan rasa jenuh datang tanpa permisi. Saya mencoba tetap mengikuti materi, tentang pengenalan kampus, sistem perkuliahan, dan berbagai hal yang seharusnya menjadi pintu awal saya mengenal dunia baru ini. Tapi entah kenapa, ada jarak yang sulit dijelaskan. Seolah saya sedang melihat semuanya dari luar, bukan benar-benar menjadi bagian di dalamnya. Bagian dari institusi akademis baru yang berfokus pada pengembangan ilmu pengetahuan.
Saya sempat berpikir, mungkin ini memang konsekuensi dari keadaan yang tidak pernah diduga. Tahun ini sangat berbeda. Pandemi memaksa semuanya berubah, termasuk cara mahasiswa baru memulai langkah pertamanya. Tidak ada pilihan lain selain menyesuaikan diri. Di kondisi saat ini adaptasi bukanlah sebuah opsi, melainkan sebuah keharusan untuk bertahan hidup dan berkembang di tengah perubahan lingkungan, situasi dunia, dan tuntutan sosial. Karena jika tidak pasti akan tertinggal dan ditinggalkan. Okelah saya akhirnya hanya bisa pasrah menghadapinya.
Menjelang siang sekitar jam satu, acara akhirnya selesai. Tidak ada tepuk tangan nyata yang terdengar dekat di telinga, tidak ada momen kebersamaan dialog perkenalan sesama mahasiswa baru yang terasa hangat, tidak ada ikatan langsung dengan kampus. Hanya ada layar yang perlahan ditutup, dan saya kembali ke kamar dengan suasana yang sama seperti sebelum acara dimulai.
Dan yaa usai sudah cerita saya hari ini yang baru saja selesai mengikuti PKKMB. Walaupun rasanya seperti belum benar-benar masuk ke dunia kampus. Mungkin memang seperti ini bentuk awal dari perjalanan saya sebagai mahasiswa di tahun yang tidak biasa. Tidak ada kesan meriah, tidak ada cerita yang bisa langsung dikenang dengan hangat selamanya hingga jadi core memory. Semuanya terasa pelan, canggung, dan asing. Tapi setidaknya, hari ini sudah menjadi tanda bahwa saya benar-benar memulai sesuatu. Entah nanti akan terasa lebih nyata atau tetap seperti ini, saya hanya berharap langkah yang dimulai dari balik layar ini tidak berhenti di tengah jalan, dan perlahan bisa membawa saya benar-benar masuk ke dunia yang sejak tadi pagi hanya bisa saya lihat dari kejauhan.
Mungkin ini baru awal, dan mungkin ke depannya akan terasa berbeda. Untuk sekarang, saya hanya bisa menerima bahwa langkah pertama saya sebagai mahasiswa dimulai dari balik layar yang dingin dan penuh keheningan. Saya harap ini bukan awal yang tidak baik untuk menapaki jalan baru di dunia perkuliahan.


0 comments:
Posting Komentar
Silahkan komentar, bebas asal sopan dan relevan.