Sabtu, 15 Februari 2020

Kita Telah Berubah

Manusia adalah entitas yang terus berkembang, mereka berubah seiring berubahnya zaman. Begitupun diriku. Dulu aku mengira bahwa kau adalah cermin terbaik dalam hidupku. Saat itu, aku masih sangat muda dan naif mengartikan sebuah pertemuan. Aku terbuai oleh keindahan duniawi. Dirimu yang memiliki paras ayu nan lugu. Sungguh membuatku semangat menjalani hari-hari baru. Aku selalu menjadikan kau sebagai motivasi untuk terus berkembang. Ingin rasanya aku menyamai kemampuanmu yang luar biasa itu. Namun sekarang aku sudah sadar, aku salah menempatkan dirimu di dalam hidupku. Kau layaknya manusia pada umumnya, mempunyai sisi gelap. Begitu aku tau sisi gelapmu, aku langsung mengerti bahwa tak ada yang sempurna di dunia ini. Setiap orang pasti punya sisi gelapnya sendiri. Aku pun sama memilikinya. Laki-laki dan perempuan sama-sama manusia, bukan malaikat. Kita semua pernah melakukan kesalahan. Kita telah memahami porsi kesalahan masing-masing. Dan kita masih punya waktu. Jadi pada akhirnya aku harus memutuskan untuk menutup hasrat jiwaku. 
 

Maaf kalau aku harus mengucapkan kata-kata 'pernah' di beberapa tulisanku. Karena memang dulu kita pernah dekat dan sekarang sudah tidak. Ada batasan yang jelas dari dirimu yang kini tak pernah bisa aku sentuh. Pikiranmu yang tak bisa lagi aku tebak akan kemana tujuannya. Ada banyak hal sederhana yang kini berubah menjadi rumit. Seolah-olah berbagai perubahan ini membuat kita saling menyalahkan diri sendiri. Padahal bukan salah kita, ini semua murni karena waktu yang menuntut kita berbeda haluan. Memilih jalan hidup masing-masing. Ini perlu dilakukan agar kita belajar bahwa dalam hidup memang perlu ada yang berubah. Dan biarkan waktu yang mengajari kita untuk menerimanya. 
 
Maka dari itu, aku undur diri atas segala rasa yang nantinya bisa memperburuk kondisi hati. Aku undur diri untuk menitipkan lagi segala rasa yang pernah singgah di hatimu dulu. Aku undur diri untuk segala masa depan yang dulu pernah kita bicarakan. Langkahku pelan-pelan menjauh, mungkin kenangan akan begitu riuh, tapi takkan membuat beberapa luka semakin melepuh. Maaf jika aku tak mampu lagi bertahan, dan maaf jika aku secepat ini melepaskan. Namun hal-hal pahit, harus kau cicipi lebih dulu agar kau tahu apa rasanya manis. Sesendok pelajaran sedang kita lahap bersama-sama, tentang kenyataan bahwa tak seharusnya lagi kita bersama. Lepaslah dengan rela. Karena suatu hari, kita akan sama-sama tersenyum mengingat hari ini.
 
Kau dan aku sama-sama sedang dalam proses mengobati luka lama, sama-sama trauma dalam mengelola perasaan, dan sama-sama ingin fokus ke masa depan. Kita semua telah berubah seiring berjalannya waktu. Dan perubahan itu adalah hal yang mutlak. Aku tak keberatan melihat dirimu yang sekarang dengan segala perbedaannya. Aku sudah meyakinkan diri, bahwa tidak mungkin ada kita. Kau terlalu indah tuk kumiliki. Aku tak sanggup jika aku benar-benar bersamamu selamanya. Aku berhenti meminta kepada Tuhan agar berjodoh denganmu. Aku ingin sekali berhenti mengagumi dirimu. Terima kasih pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupku yang singkat ini.


0 comments:

Posting Komentar

Silahkan komentar, bebas asal sopan dan relevan.