Jumat, 17 Januari 2020

Jumat yang Menyentuh Jiwa

Hari Jumat selalu punya cara tersendiri untuk menyapa hati saya. Sejak pagi, udara terasa sejuk karena hujan dari malam membuat langkah kaki saya bersemangat untuk jalan pagi sambil meregangkan badan setelah seminggu penuh bekerja membantu orang tua. Karena hanya di hari jumat saya mendapatkan kelonggaran waktu alias hari jumat adalah hari libur wajib setiap pekannya. Saya sempat berolahraga sebentar, lalu sarapan, kemudian menekuni hobi sederhana yaitu menulis dan membaca buku. Rutinitas kecil yang justru menjadi penyelamat di tengah padatnya hari-hari lain. Kalau sudah melakukan aktivitas tersebut kadang saya suka lupa waktu, tau-tau udah menjelang solat jumat. Akhirnya saya harus mempersiapkan diri untuk melaksanakannya. 

Jumat yang menyentuh jiwa


Seperti biasa siang hari waktu jumat, khotib selalu membawakan materi khutbah Jumat yang berbeda setiap minggunya. Selain ajakan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. ada banyak nasihat serta pengingat kebenaran bagi jemaah solat jumat. Nah untuk minggu ini saya merasa sedikit berbeda. Kali ini khotib membahas tentang bangkit dari keterpurukan. Entah kenapa ini pas banget pada suasana otak saya yang lagi-lagi terombang-ambing dengan perasaan yang hampir menyerah karena belum jadi apa-apa sedangkan saya sudah memasuki usia hampir 20 tahun. 

Isi ceramahnya kurang lebih mengingatkan para jemaah untuk tidak mudah putus asa dan harus selalu percaya pertolongan Allah itu ada dan datang di waktu yang tepat. Percaya bahwa takdir-Nya pasti yang terbaik. Percaya bahwa di balik kesulitan pasti ada kemudahan. Seakan Allah Yang Maha Mendengar sedang menjawab bisikan hati saya selama ini. Sebab beberapa hari terakhir, saya diliputi rasa lelah tak berkesudahan. Entah kenapa setiap awal tahun pikiran saya sering menengok ke belakang hanya untuk mengingat kegagalan. Saya membandingkan diri dengan orang lain lalu jatuh dalam jurang kekecewaan. Dalam doa pun, kadang ada desahan pasrah bercampur protes. Namun, khutbah jumat kemarin mengetuk hati saya dengan kalimat sederhana yaitu jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah. Seperti dalam firman-Nya:

“...dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah, melainkan orang-orang yang kafir.”
(QS. Yusuf: 87)


Surat ini salah satu yang dibawakan khatib jumat. Ayat ini turun ketika Nabi Ya’qub AS menasihati anak-anaknya agar tetap mencari kabar tentang Nabi Yusuf dan saudaranya. Tafsir sederhananya yaitu jangan pernah merasa Allah meninggalkan kita, meski keadaan tampak gelap dan penuh kegagalan. Putus asa itu sifat orang yang tak lagi percaya pada kasih sayang Allah. Bagi orang beriman, harapan itu harus terus ada. Ayat ini mendorong manusia untuk terus berjuang dalam menghadapi kesulitan hidup dan selalu berserah diri kepada Allah, karena hanya Dia lah adalah sumber segala karunia dan kebaikan. 

Ayat ini seperti pelukan yang menenangkan jiwa saya. Selama ini saya terlalu cepat menutup pintu, terlalu mudah merasa kalah, padahal rahmat Allah itu luas tak terbatas. Justru di titik terendah itulah saya seharusnya semakin yakin bahwa Allah masih punya rencana. Dalam hati saya selalu bertanya, "mengapa saya begitu takut pada cap manusia gagal?" Setelah lama berpikir terus menerus saya tersadar, mungkin karena saya selalu menganggapnya sebagai akhir, bukan proses.

Padahal kalau dipikir-pikir, hidup ini mirip seperti anak kecil belajar naik sepeda. Pasti ada fase jatuh berkali-kali, namun ia tak pernah menyerah. Justru setiap kali terjatuh, ia semakin mahir dan percaya diri. Hal inilah yang menguatkan langkahnya. Sifat anak kecil memang terkadang memiliki rasa tak kenal lelah sebelum berhasil. Nah Kalau anak kecil bisa melakukannya, mengapa saya yang sudah mulai menginjak dewasa tidak bisa semangat seperti itu? Kan saya juga pernah menjadi anak kecil? Cobalah bangkitkan kembali daya juang anak kecil itu yang sudah lama terpendam belasan tahun. 

Saya juga sering lupa, bahwa kegagalan bukan berarti Allah membenci saya. Bisa jadi justru sebaliknya, banyaknya kegagalan yang telah saya lalui adalah tanda bahwa Allah ingin melindungi saya dari sesuatu yang belum layak saya terima. Seperti seorang ayah yang menahan anaknya agar tidak memegang api, bukan karena benci, tapi karena sayang. Begitulah Allah dengan hamba-Nya. Ceramah itu seakan menyingkap tabir kecil dalam diri saya. Saya tersadar bahwa saya harus berhenti mengukur hidup dengan kacamata dunia semata. Keterpurukan bukan aib, melainkan ruang belajar. Kegagalan bukan penutup, tapi pintu menuju pengalaman baru. Karena saya yakin, Allah tidak akan mengubah keadaan saya kalau saya tidak berusaha mengubahnya sendiri, sebagaimana firman-Nya:

 “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini seperti cerminan kalau saya ingin bangkit, saya harus mulai bergerak. Tak ada gunanya hanya diam atau menunggu. Perubahan besar selalu lahir dari langkah-langkah kecil. Dan saya juga ingat satu janji Allah yang menenangkan hati:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya...”
(QS. Al-Baqarah: 286)

Saat mendengar ayat ini dibacakan, hati saya seperti disentuh lembut. Betapa sering saya berkata dalam hati, "Ya Allah, aku tidak sanggup." Padahal kenyataannya, saya masih sanggup, hanya saja terlalu cepat menyerah. Allah sudah lebih tahu batas kemampuan hamba-Nya daripada hamba itu sendiri. Semua beban dan ujian sudah diukur oleh Allah sesuai dengan kemampuan manusia. Kalau kita diuji seberat itu, berarti Allah tahu kita bisa menanggungnya. Kadang memang kita merasa tak kuat, tapi kenyataannya kita tetap bertahan hingga hari ini. Itu bukti bahwa Allah selalu menopang kita, meski dengan cara yang kadang tak kita sadari.

Wah, setelah selesai solat Jumat saya merasa seperti diisi ulang semangat dan daya juang untuk bisa bangkit lagi menghadapi kegagalan dan ujian hidup. Saya percaya Allah sedang mempersiapkan yang terbaik untuk saya. Di sisa hari sehabis solat jumat hingga matahari terbenam saya habiskan untuk berpikir dan berpikir. Merenungi benar-benar makna dari ceramah tadi. Entah mengapa, hati saya terasa lebih ringan. Ada rasa percaya yang mulai tumbuh bahwa pertolongan Allah itu selalu dekat, meski sering tidak saya sadari. Saya ingin berbenah mulai dari hal-hal kecil seperti memperbaiki shalat, memperbanyak istighfar, menulis dengan lebih jujur, dan berdoa tanpa lelah. 

Hari Jumat kali ini benar-benar meninggalkan kesan yang mendalam. Seolah Allah mengatur setiap detiknya untuk mengingatkan saya untuk tidak menyerah. Seakan khutbah tadi adalah jawaban dari setiap doa lirih yang pernah saya panjatkan. Saya menulis panjang di buku catatan saya malam itu, agar makna ini tidak cepat hilang. Sebagian tulisan saya buat postingan blog ini. Saya menuliskan kegagalan-kegagalan yang pernah saya alami, lalu mencoba melihatnya dari sudut pandang baru. Ternyata, ada hal-hal baik yang lahir dari kegagalan itu. Ada tempat baru yang saya kenal, ada pelajaran sabar yang saya dapat, ada kedekatan dengan Allah yang semakin tumbuh. Kalau bukan karena rentetan kegagalan yang sudah dilalui, mungkin saya tidak akan pernah belajar sedekat ini dengan Sang Pencipta.


Alhamdulillah... 

0 comments:

Posting Komentar

Silahkan komentar, bebas asal sopan dan relevan.