Sabtu, 25 April 2020

Ramadan yang Berbeda

Assalamu'alaikum Wr. Wb. 
 
Marhaban ya Ramadhan!
 
Yak, seperti yang bisa kita rasakan saat ini bahwa Ramadan kali ini sangat amat terasa berbeda. Seperti setengah hidup dan setengah mati. Suasana kehangatan yang biasanya terasa menyelimuti jiwa kini menjadi suasana yang suram dan sangat menakutkan. Alhamdulillah sampai tulisan ini dibuat, saya masih dapat bertahan hidup. Gak tau dah lima bulan kemudian, atau lima tahun yang akan datang. Sulit dibayangkan dengan nalar. Apakah saya masih sanggup menghadapi segala tantangan di tengah pandemi ini atau bahkan sebaliknya. Entahlah.. Rasanya begitu lelah dan bosan dengan kondisi seperti sekarang ini. Namun, saya selalu berharap ada kabar gembira yang akan terjadi di tahun kembar ini, dua puluh dua puluh. Entah itu kabar tentang kuliah atau apa gitu sesuatu yang bisa membangkitkan semangat untuk terus hidup lebih lama. 
 
Dalam menyambut bulan suci Ramadan kali ini, tak ada lagi sholat tarawih berjamaah di masjid, tak ada keramaian pawai menyambut Ramadan. Karena memang saat ini keramaian itu dilarang oleh pemerintah demi memutuskan rantai penyebaran virus korona. Selain itu untuk sekadar mencari hidangan berbuka merupakan sebuah tantangan yang sangat berat karena masih banyak masyarakat yang belum sepenuhnya mematuhi aturan pemerintah untuk menjaga jarak. Kalau saya udah diajak ibu untuk mencari takjil rasanya ingin cepat-cepat pulang aja, karena seperti ada rasa bersalah saat keluar dari rumah di masa pandemi seperti ini. Tentunya kalau pun harus ke luar rumah saya selalu memakai masker. Itu seperti udah barang wajib yang harus dipakai sekarang. Walaupun kurang nyaman dalam bernafas, demi keselamatan bersama apa pun akan saya lakukan. Asli dah, rasanya memang agak sedih. Entah ini ujian, cobaan, atau teguran yang Allah berikan kepada kita umat manusia. Yang jelas dari sini kita sama-sama belajar bahwa kuasa Allah di atas segalanya. 
 

Satu hal yang mungkin saya syukuri dengan adanya virus korona di saat bulan puasa seperti ini adalah tidak adanya ajakan buka bersama. Karena saya paling malas untuk ikut kegiatan tersebut. Seumur hidup saya tidak pernah mengiyakan ajakan buka bersama dari berbagai lapisan masyarakat. Bukan saya anti-sosial, tapi saya merasa makna dari buka puasa bersama sudah bergeser dari yang sebenarnya. Alih-alih mempererat tali silaturahmi, yang ada malah sibuk dengan handphone, meng-update status dan story di media sosial. Foto makanan dulu, baru baca doa. Upload ke WhatsApp dan Instagram dulu, baru makan. Kadang malah ada rasa canggung ketika duduk satu meja dengan orang yang sebenarnya tidak terlalu dekat. Saya jadi bertanya-tanya, "apakah ini benar-benar ibadah, atau hanya formalitas sosial?" Jujur saja, saya merasa lebih khusyuk berbuka di rumah bersama keluarga sendiri dibanding menghadiri acara buka bersama yang penuh basa-basi. Maka ketika ada larangan keramaian seperti ini, entah kenapa saya justru merasa sedikit lega. Mohon maaf nih jika menyinggung banyak pihak, saya hanya mengatakan apa yang saya rasakan saja. 

Larangan keramaian seperti mengadakan buka bersama memang telah menciptakan kesunyian. Namun kesunyian di tengah bulan suci Ramadan itu dapat menjernihkan hati dan pikiran. Di saat itu pula muncul pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya filosofis. Salah satunya adalah "apa makna paling dalam di balik semua ini?" Virus ini seolah ingin memberi pelajaran kepada kita umat manusia bahwa "Anda bukanlah siapa-siapa." Jangankan untuk menghadapi Zat Yang Maha Besar, menghadapi zat yang sangat kecil seperti virus korona saja, manusia tidak berdaya. Kematian di mana-mana. Bagaimana nanti ketika kita akan menghadapi Zat Yang Maha Besar itu nanti? Sang Pencipta, Allah SWT. Tak bisa dibayangkan. Otak manusia terlalu kecil untuk dapat memahami skala penuh alam semesta ini. Allah sendiri sudah mengingatkan dalam Al-Qur’an:

Dan sungguh Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155).

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah akan menguji manusia dengan berbagai cobaan dalam hidupnya, seperti kesulitan, kekurangan, dan kehilangan. Namun, di balik ujian tersebut, terdapat kabar gembira bagi orang-orang yang sabar menghadapinya, yaitu mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat, dan petunjuk dari Tuhan. Maka dari itu mental kita benar-benar diuji tanpa adanya keramaian dunia, apakah umat islam masih bisa menjalani bulan puasa Ramadan ini dengan penuh kesederhanaan? Tujuan yang hanya satu agar bisa fokus beribadah kepada Allah SWT. Walaupun dalam suasana yang berbeda, semoga Ramadan kali ini tetap menjadi bulan suci yang penuh ampunan untuk kita semua. Rasulullah SAW pun bersabda:

"Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Allah akan menimpakan musibah kepadanya." (HR. Bukhari).

Hadis di atas memiliki makna bahwa ujian atau musibah adalah bentuk cinta dan perhatian Allah kepada hamba-Nya, dengan tujuan membersihkan dosa atau meninggikan derajatnya, serta agar ia senantiasa bersabar dan bersyukur kepada Allah. Semoga segala amal ibadah dapat diterima Allah SWT. dan menjadi ladang pahala untuk kita semua. Semoga juga kita mampu mengambil hikmah besar dari pandemi ini bahwa hidup hanyalah persinggahan sementara. Kita diajarkan untuk tidak terlalu bergantung pada dunia, karena yang abadi hanyalah Allah dan janji-Nya. Semoga roda kehidupan bisa segera pulih, bumi segera membaik, dan hati kita tetap terikat pada-Nya, bukan pada dunia yang fana. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Selamat menjalankan ibadah puasa, sob! Semoga Ramadan kali ini menjadi Ramadan yang benar-benar meninggalkan bekas dalam hati kita.

0 comments:

Posting Komentar

Silahkan komentar, bebas asal sopan dan relevan.