Selamat malam sobat blogger di mana pun kalian berada. Gimana karantinanya? Semoga kalian semua selalu sehat dan dapat mematuhi aturan pemerintah untuk tetap #dirumahaja ya. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa dunia saat ini tengah digemparkan dengan adanya Virus Corona (Covid-19) yang menyerang semua kalangan. Pemerintah pun dengan sigap mengeluarkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau disingkat PSBB dengan harapan memutus rantai penyebaran virus ini. Kita diajak untuk tetap di rumah serta melakukan physical distancing atau jaga jarak.
Mungkin, pembatasan sosial ini terasa menyiksa dan mengekang. Bayang-bayang kesibukan dan kesenangan yang dapat dilakukan di luar rumah, seolah menggoda dan menambah rasa tertekan. Apalagi buat sebagian orang yang terbiasa sibuk di luar, tiba-tiba harus diam di rumah rasanya seperti kehilangan arah. Jujur saja, saya pun pernah merasa jenuh. Bangun tidur, melihat kalender yang seakan berhenti di tempat, hari-hari terasa sama saja. Tidak ada kafe tempat nongkrong, tidak ada obrolan ringan di jalan, bahkan suara jalan raya pun lebih sepi dari biasanya. Seolah-olah kita sedang hidup di dunia yang lain, dunia yang menuntut kita lebih banyak diam dan merenung.
Namun di balik itu semua, ada mereka yang terpaksa berjuang di luar sana, dengan ancaman virus. Mereka juga tidak bisa berlindung di dalam rumah yang aman bersama orang-orang tercinta. Mereka adalah para tenaga medis, garda terdepan dalam menghadapi virus korona. Saya sering membayangkan, bagaimana rasanya berada di posisi mereka? Saat sebagian dari kita bisa mengeluh karena bosan di rumah, mereka justru berhadapan langsung dengan ketakutan setiap hari. Membayangkan hal itu saja membuat hati saya bergetar: betapa besar pengorbanan mereka.
Karena PSBB ini, kehidupan masyarakat Indonesia pun berubah. Di warung makan atau restoran, sekarang udah gak bisa makan di tempat. Hanya bisa bungkus alias take away, atau pesan lewat online. Aktivitas masyarakat pun dibatasi. Tempat ibadah ditutup sementara, warga wajib pakai masker saat berada di tempat umum dan ojek online dilarang mengangkut penumpang, hanya bisa melayani order makanan atau pengantaran barang.
Apakah cara ini cukup menghentikan penyebaran virus korona? Sejauh ini sih lebih efektif ya, dibandingkan tak ada tindakan sama sekali. Sejujurnya, saya melihat dari sisi lain bahwa virus Corona ini mengajarkan banyak hal pada manusia. Mengajarkan hidup sehat, mengajarkan bahwa manusia harus selaras sama alam. Sudah banyak berita yang beredar bahwa kualitas udara di berbagai penjuru dunia jadi lebih bersih, tak terkecuali di Indonesia. Khususnya Ibu Kota Jakarta, dikutip dari Antara News semenjak virus Corona ini menyebar, kualitas udara di Jakarta membaik. Hal tersebut juga dibuktikan pada pantauan Air Quality Index (AQI) AirVisual pada 31 Maret 2020 yang diakses pukul 11.10. Jakarta pada urutan ke-40 dari kota-kota berpolusi tinggi yang artinya kualitas udara Jakarta lebih baik dari 39 kota lainnya di dunia, dengan Air Quality Index (AQI) di angka 60.
Ya gimana nggak bersih, karena masyarakat banyak yang berada di rumah, dan alam pun menjadi lebih segar. Saya sendiri merasakan udara yang lebih ringan saat pagi hari, suara burung yang biasanya tenggelam oleh bising kendaraan kini terdengar lebih jelas. Seakan-akan alam sedang diberi kesempatan untuk bernapas kembali, dan kita diminta belajar menghargai kesederhanaan. Bukankah hidup memang sering kali begitu? Kadang kita baru sadar nikmatnya hal kecil setelah hal-hal besar diambil dari kita.
Selain itu, pemerintah juga sekarang lebih giat mengkampanyekan gaya hidup sehat. Mulai dari himbauan untuk lebih sering mencuci tangan pakai sabun, membiasakan berjemur di bawah terik matahari, makan makanan yang mengandung gizi baik. Itu semua disiarkan hampir setiap hari agar kita jadi terbiasa dengan gaya hidup sehat. Dan di sisi lain, kita pun belajar sabar. Belajar menahan diri untuk tidak egois, karena setiap tindakan kita berdampak bagi orang lain. Dengan tetap di rumah, kita sebenarnya sedang menjaga orang tua kita, tetangga kita, bahkan orang yang sama sekali tidak kita kenal.
Saya juga melihat langsung dampak besar pandemi ini di sekitar saya. Keluarga saya, yang usahanya bergerak di bidang makanan ringan, ikut lesu karena pembeli berkurang drastis sebulan terakhir. Biasanya ada pesanan dari sekolah atau acara hajatan, tapi sekarang semua sepi. Warung-warung banyak yang tutup, warteg dan tempat makan lainnya juga membatasi jam bukanya. Ada perasaan sedih melihat barang dagangan mulai menumpuk, sementara biaya hidup tidak bisa ikut berhenti. Saya jadi lebih paham bahwa pandemi ini bukan hanya soal kesehatan, tapi juga soal perut, soal bertahan hidup. Tapi kami tetap berkeyakinan bahwa semua ini akan berlalu.
Di sisi lain adik saya yang masih sekolah pun ikut merasakan. Mendadak harus belajar daring, duduk berjam-jam di depan layar. Bagi sebagian orang mungkin terlihat mudah, tapi kenyataannya tidak sesederhana itu. Banyak pelajaran yang susah dipahami tanpa tatap muka, tugas-tugas menumpuk, jaringan internet sering jadi kendala. Dari wajahnya, saya bisa melihat kebingungan sekaligus rasa lelah. Sesekali bertanya kepada saya perihal perlahan atau pun hal teknis berkaitan dengan belajar online. Pendidikan yang biasanya jadi ruang interaksi sosial, sekarang berubah jadi ruang sunyi dengan layar virtual sebagai perantara guru dalam mengajar.
Belum lagi cerita dari banyak orang di luar sana yang harus terpisah dari keluarganya. Ada yang bekerja di kota lain, tidak bisa pulang kampung karena transportasi dibatasi. Ada yang menunda pertemuan penting dengan orang tua atau pasangan. Bahkan ada kisah memilukan, anggota keluarga yang jatuh sakit dan tidak bisa dijenguk karena adanya protokol ketat. Pandemi ini sungguh menampar kita, ternyata kebersamaan yang dulu kita anggap biasa, kini jadi sebuah kemewahan.
Dan kalau saya perhatikan, hingga hari ini di pertengahan April, banyak sekali fenomena tak biasa yang ikut melanda tanah air. Harga masker dan hand sanitizer melonjak drastis sampai sulit ditemukan. Ini sih udah parah ya, sudah di tahap mengkhawatirkan sebenarnya. Di media sosial, tren tantangan kopi dalgona masih bertahan keviralannya karena orang-orang mencari hiburan sederhana di rumah. Jalanan besar di Jakarta dan kota-kota besar lain mendadak lengang, sepi seperti kota mati. Konser musik online bermunculan, penyanyi dan band pun ikut tampil dari rumah masing-masing.
Saya percaya, pandemi ini adalah ruang jeda yang dipaksa untuk kita semua. Sebuah jeda agar kita bisa kembali mengatur napas, kembali menata apa yang selama ini berantakan. Dari hal-hal sederhana seperti waktu bersama keluarga, obrolan kecil yang sering kita abaikan, sampai momen untuk merenung tentang arti hidup. Tiba-tiba, semua yang dulu dianggap biasa kini terasa begitu berharga.
Jadi siapa pun yang gak sengaja membaca tulisan ini tolonglah jaga diri, keluarga dan lingkungan kalian. Jangan lagi menambah beban para tenaga medis dengan terus bertambahnya kasus positif. Yuk sama-sama kita lawan covid-19 agar cepat musnah dari muka bumi dengan memutus rantai penyebaran virus ini. Semoga dengan bantuan dan bimbingan dari Tuhan Yang Maha Kuasa, kita selalu bisa menyelesaikan masalah atau krisis dalam hidup ini. Dan semoga ketika pandemi ini berakhir, kita bisa keluar sebagai manusia yang lebih bijak, lebih peduli, dan lebih kuat menghadapi apa pun. Aamiin...


0 comments:
Posting Komentar
Silahkan komentar, bebas asal sopan dan relevan.