Pagi ini saya terbangun lebih cepat dari biasanya. Tidak ada suara bising kendaraan yang biasanya memecah kesunyian, hanya keheningan yang terdengar lebih jelas dari jendela kamar. Sesuatu yang jarang sekali saya nikmati, karena biasanya suara itu kalah oleh deru motor dan klakson di jalanan. Rasanya seolah alam sedang mengambil kembali haknya untuk bersuara. Saya duduk sebentar di teras, menarik napas dalam-dalam, dan udara pagi terasa lebih segar dari hari-hari sebelum pandemi.
Hari-hari saat masa Social Distancing seperti saat ini membuat waktu berjalan aneh. Tidak ada yang menyangka sebelumnya memang, di awal tahun 2020 ini dunia sedang berperang menghadapi Covid-19 atau biasa disebut virus korona. Kalender tetap berganti, tapi suasananya serupa. Bangun, sarapan, duduk di depan televisi atau layar ponsel untuk mencari kabar terbaru tentang korona. Menyaksikan berita demi berita datang silih berganti. Jumlah kasus yang terus naik, rumah sakit yang kewalahan, tenaga medis yang kelelahan. Di antara berita itu, ada juga secercah harapan seperti kebaikan-kebaikan murni yang mulai disebarkan, atau doa-doa yang dikirimkan masyarakat dari rumah masing-masing.
Di pabrik tempat orang tua saya menjalankan operasional dagangan terlihat harap-harap cemas. Biasanya pesanan itu setiap hari selalu ada dan ramai, tapi sejak ada pembatasan social distancing sejak tanggal 16, jumlah pembeli mulai menurun. Saya bisa merasakan kekhawatiran yang tidak pernah diucapkan dengan kata-kata, bagaimana kalau pandemi ini lama? Bagaimana kalau usaha kecil kami tak bisa bertahan? Pandemi ini membuat saya sadar betapa rapuhnya kehidupan sehari-hari yang dulu terasa stabil.
Menjelang siang, adik saya sibuk dengan kelas daring. Duduk di depan layar, mencoba mengikuti pelajaran lewat aplikasi video. Dari wajahnya saya bisa membaca kebingungan. Guru menjelaskan, tapi sering kali suara terputus-putus karena sinyal. Tugas menumpuk, tapi tanpa bimbingan tatap muka, semua terasa berat. Sekolah yang biasanya penuh tawa bersama teman, kini hanya ruang sunyi dengan layar yang menyala. Saya ikut miris, karena pendidikan yang seharusnya membentuk keceriaan, justru terasa asing di masa ini.
Di luar sana, banyak orang lain juga berjuang dengan caranya masing-masing. Pedagang kecil yang kehilangan pembeli, ojek online yang hanya bisa mengantar makanan, dan keluarga-keluarga yang terpisah. Saya membaca cerita warganet, ada yang salah satu anggota keluarganya terjebak di kota lain dan tidak bisa pulang karena pembatasan perjalanan. Bahkan ketika ada anggota keluarga sakit, mereka tidak bisa menjenguk karena aturan rumah sakit yang begitu ketat. Pandemi ini membuat kita sadar bahwa jarak bisa begitu menyakitkan.
Hingga sore hari menjelang, saya tak bisa lepas dari keramaian media sosial. Timeline dipenuhi eksperimen orang-orang di rumah. Ada yang mencoba resep dalgona coffee, ada yang sibuk olahraga indoor, ada yang live konser musik dari kamar. Hal-hal kecil ini terasa unik sekaligus mengharukan, karena ternyata manusia selalu mencari cara untuk bertahan di tengah keterbatasan.
Malam datang dengan keheningan yang tidak biasa. Jalanan depan rumah saya begitu sepi, hanya sesekali motor melintas dengan suara knalpotnya yang terpantul ke dinding rumah. Saya menatap ke langit, bulan terasa lebih terang. Mungkin karena polusi udara berkurang, atau mungkin karena saya jarang menengadah setenang ini sebelumnya. Entah kenapa, di balik semua ketakutan dan kecemasan, selalu ada tersimpan rasa syukur. Tuhan memberi kita kesempatan untuk berhenti sejenak, untuk merenung, untuk kembali melihat apa yang sebenarnya penting dalam hidup ini.
Hari-hari di tengah pandemi memang berat. Tapi saya percaya, kita tidak pernah benar-benar sendirian. Ada doa yang saling terhubung dari rumah ke rumah, ada pengorbanan para tenaga medis di garda depan, ada kasih sayang keluarga yang menjaga kita tetap kuat. Semoga pandemi ini segera berakhir, dan ketika saat itu tiba, kita bisa keluar bukan sebagai manusia yang sama, melainkan manusia yang lebih peduli, lebih bijak, dan lebih tahu cara menghargai hidup. Aamiin..

0 comments:
Posting Komentar
Silahkan komentar, bebas asal sopan dan relevan.