Selasa, 31 Desember 2019

Dua Puluh Dua Puluh

Selamat malam sobat! Pertama-tama, untuk mengakhiri tahun 2019 ini tentu saja kita harus mengucapkan syukur kepada Sang Pencipta, Allah SWT sebagai Yang Memberi Rizki kepada kita. Karena segala nikmat yang kita dapatkan setiap harinya itu tidak lain datangnya dari Allah SWT. Itu sebabnya, alangkah baiknya jika kita mengingatkan diri sendiri untuk selalu bersyukur. Alhamdulillah hirobbil'alamin.... 
 
Hari ini adalah hari terakhir di tahun 2019. Hujan yang awet dari tadi sore tidak mengurungkan niat saya untuk membuat postingan khusus sebagai ungkapan rasa syukur untuk tahun yang mana banyak sekali hal-hal yang baru pertama kali saya rasakan. Ada yang bilang bahwa untuk berubah memerlukan sebuah momentum. Dan bagi saya, sebaik-baiknya momentum adalah malam pergantian tahun baru. Momentum terbaik untuk berubah. Dengan mengawali tahun 2020 degan bersyukur, tentunya kita jadi lebih siap dalam menjalani hari-hari baru yang semakin hari semakin menantang. 
 

Tahun 2020 juga merupakan awal dari dekade baru ini. Tidak ada salahnya untuk meningkatkan sesuatu yang kurang dan mempertahankan hal yang dianggap telah baik. Dengan begitu, rencana yang telah dibuat setelahnya tidak akan terganggu. Salah satu yang harus dipertahankan adalah kesehatan mental. Saya baru menyadari betapa pentingnya kesehatan mental itu pada tahun ini.
 
Semua kenangan..
Semua perjalanan.. 
Semua tantangan.. 
Semua kesedihan...
semua keindahan...
Semua kebahagiaan...
 
Yang telah saya lalui di Tahun 2019 semoga menjadi inspirasi dan motivasi untuk saya menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Saya berkomitmen untuk menjadi pribadi yang lebih peduli dan sayang pada diri sendiri. Saya menerima kesuksesan dan kegagalan yang telah lalu. Saya menerima kurang dan lebihnya diri saya.
 
Dari sekian banyaknya tantangan yang menerjang, tahun 2019 bisa saya simpulkan merupakan titik awal perubahan besar dalam hidup saya. Saya jadi lebih tenang dalam menjalani rutinitas kehidupan dengan segala permasalahnya. Saya merasakan apa yang sebelumnya tak pernah saya tau. Saya jadi lebih manusia lah rasanya.

Terima kasih akan semua hal itu yang terangkum menjadi satu dalam folder yang berlabel 2019. Semua terjadi begitu cepat dan berlalu walaupun ada beberapa hal yang bisa diperbaiki dan yang tak bisa diperbaiki. Terima kasih kepada tahun-tahun yang telah membagi sedikit rasa yang pernah dirasakan. Sekarang mah saya harus banyak bersyukur saja agar diri ini dapat merasakan kebahagiaan lagi, karena saya selalu yakin bahwa rencana Allah SWT selalu yang terbaik.
 
 
Selamat datang tahun kembar!
Read More

Sabtu, 28 Desember 2019

Coretan Akhir Tahun 2019

Selamat malam sobat blogger! 
Gimana kabar kalian semua di akhir tahun ini? Saya harap kondisi kalian dalam kondisi yang sehat dan bahagia selalu. Sekarang sudah memasuki akhir tahun yang berarti saatnya saya untuk membuat postingan khusus tentang kilas balik peristiwa yang saya alami selama tahun 2019, sebagai ungkapan rasa syukur untuk tahun yang mana banyak sekali hal-hal yang baru pertama kali saya rasakan. Walau masih ada yang tidak sesuai dengan harapan, setidaknya saya tidak dengan sengaja meremehkan alur ciptaan Tuhan atas perjalanan hidup saya. Tahun 2019 punya banyak momen yang menegangkan sekaligus menyenangkan, maka dari itu saya mencoba merangkum beberapa momen yang sangat melekat di ingatan saya dalam sebuah post yang seperti biasa saya sebut dengan Coretan Akhir Tahun 2019. Tujuan dari post ini simpel sebenarnya agar tidak mudah lupa aja. Oke. Yaudah langsung saja sob!
 
► Januari - Maret 2019 
Dari awal mulainya tahun 2019 saya sudah semakin disibukkan dengan aktivitas belajar memahami materi ujian SBMPTN yang tinggal hitungan minggu lagi. Selain belajar kegiatan saya yang sebenarnya yaitu membantu kegiatan sehari-hari bisnis milik orang tua saya yang kebetulan semenjak saya lulus sekolah lagi kekurangan pekerja. Jadinya saya bisa dibilang pekerja lepas di usaha orang tua saya. Lumayan dah buat mengisi waktu luang. Tapi terkadang saya kewalahan dan kesulitan untuk menyeimbangkan porsi keduanya. Ada hari-hari di mana saya semangat berjuang dan ada hari-hari di mana saya pasrah dan mengikuti kehendak tubuh untuk melakukan istirahat yang panjang. 
 
► 13 April 2019
Bulan april merupakan bulan yang sangat dinanti-nantikan oleh para pelajar di seluruh Indonesia karena akan dilaksanakan UTBK gelombang pertama. UTBK dilaksanakan dari tanggal 13 April sampai 26 Mei, dengan 12 kali waktu ujian dan dibagi menjadi dua gelombang. Para peserta bisa mengikuti tes maksimal dua kali. Jadi, apabila skor kita di UTBK satu lebih kecil, maka kita bisa menggunakan skor UTBK kedua, begitupun sebaliknya. Intinya skor tertinggi yang akan diseleksi dengan skor peserta lain. Jadi sekarang untuk bisa mengikuti SBMPTN tahun ini kita harus mempunyai nilai UTBK terlebih dahulu. UTBK itu nama tesnya, sedangkan SBMPTN itu nama seleksinya. Untuk gelombang pertama ini saya melaksanakan UTBK nya di SMKS PGRI 1 BOGOR yang berlokasi di Bogor Barat, Kota Bogor.
 
► 17 April 2019 
Kalau UTBK adalah momen ditunggu-tunggu oleh pelajar. Kalau momen ini ditunggu-tunggu juga, tapi skalanya lebih besar lagi yaitu oleh semua warga negara Republik Indonesia. Kita semua pasti sangat antusias adanya datangnya pesta demokrasi terbesar di dunia, Pemilu 2019! Ini merupakan pemilu pertama yang akan saya laksanakan selama menjadi warga negara Indonesia. Pemilu 2019 terdiri dari pemilihan umum legislatif dan pemilihan presiden yang akan diselenggarakan serentak 17 April. Saya benar-benar antusias dalam mengikuti setiap tahapan-tahapan dalam berdemokrasi ini. Dan alhamdulillah semua proses memilih ini berjalan dengan lancar.
 
 
► 4 Mei 2019
Avengers Endgame!! Siapa yang tidak tahu film paling diantisipasi tahun ini? Menyimak kelanjutan cerita para Avengers dan melihat kondisi dunia pasca hilangnya separuh populasi alam semesta memang sangatlah menarik. Dan ini adalah pengalaman pertama saya nonton film dengan format IMAX. Saya sengaja nonton film Avengers Endgame ini di studio IMAX untuk merayakan klimaks dari cerita dari INFINITY SAGA setelah sepuluh tahun eksis di dunia perfilman. Sangat layak film ini ditonton dalam format IMAX. Parade CGI yang sangat memukau membuat saya senang sekali. Saya benar-benar puas nonton film ini dengan format IMAX, layarnya lebih lebar dan nyaman. Pengalaman yang berkesan dan tak akan pernah terlupakan bagi saya. 
 
 
► 11 Mei 2019
Jadi untuk UTBK tahun ini memang ada keistimewaan di mana ujiannya bisa mengikuti dua kali tes. Saya sebenarnya kaget mendengar kabar ini. Saya bertanya-tanya waktu itu apakah kesempatan saya untuk lolos terbuka lebar? Entahlah. UTBK Gelombang II ini dilaksanakan pada 11- 26 Mei 2019. Dan lagi-lagi saya harus mengikuti ujiannya di hari pertama gelombang kedua. UTBK Gelombang II ini saya melaksanakannya di Karawang tepatnya di kampus UNSIKA. Dan yang lebih menantangnya lagi saya ujiannya pada saat bulan puasa ramadan. Behh jadi terasa lebih greget ini sebenarnya. 
 
► 10 Juni 2019 
Pada tanggal ini saya sekeluarga beserta nenek untuk pertama kalinya berkunjung ke candi terbesar di dunia yaitu Candi Borobudur. Perjalanan ini mungkin bukan sesuatu yang luar biasa dalam ukuran umum, mungkin orang lain sudah biasa ke sana bahkan ada yang sudah berkali-kali. Tapi bagi keluarga kami yang jarang melakukan perjalanan bersama, ini menjadi semacam simpul baru. Tidak mengubah dinamika keluarga secara drastis, tapi cukup untuk memberi ruang pada rasa yang kadang terlalu lama disimpan dalam diam. Buat saya pribadi, ini adalah perjalanan kecil yang menyisakan banyak rasa. Saya merasa lebih dekat dengan keluarga saya, lebih mengenal sejarah negeri, dan lebih menghargai momen sederhana yang kadang sering terlewat begitu saja.
 
► 9 Juli 2019 
Ini adalah hari Pengumuman SBMPTN 2019, saya lagi-lagi harus menerima kenyataan pahit ini. Saya gagal di percobaan kedua kalinya mengikuti SBMPTN. Jujur, Rasanya sangat campur aduk hingga membuat saya tak nafsu makan. Antara sedih, gemas dan tentu saja kesal. Padahal waktu itu saya sengaja mengulur waktu buat liat hasilnya. Sebelumnya, saya sudah yakin kalau saya akan lolos SBMPTN kali ini. Saya cukup percaya diri karena ikut test UTBK dua kali, namun takdir berkata lain, nyatanya saya tidak lolos. Cukup menyedihkan memang, tapi saya berusaha menerimanya. 
 
► 20 & 21 Juli 2019 
Karena saya gagal lolos seleksi kuliah lewat jalur SBMPTN, saya akhirnya  memberanikan diri untuk mengikuti test seleksi mandiri untuk pertama kalinya. Saya merasa, saya harus berusaha lebih jauh lagi dalam mengambil kesempatan yang ada di masa seleksi penerimaan mahasiswa baru tahun ini. Jadilah saya memilih ujian mandiri (UM) di IPB, UNDIP dan UNS. Untuk yang IPB, seleksinya memakai nilai UTBK. Dan untuk kedua terakhir memakai nilai murni ujian tertulis. UM UNDIP ujiannya di kota Bekasi tepatnya di Duren Jaya, Bekasi Timur. UM UNS ujiannya di Jakarta tepatnya di kampus UNJ, Jakarta Timur. Saya bela-belain mengikuti ujian tersebut dengan harapan ada yang lolos di salah satu UM. 
 
► 31 juli 2019
Ini adalah pengumuman terakhir ujian mandiri yang saya ikuti dan saya gagal. Secara resmi menandakan bahwa saya gagal kuliah tahun ini. Saya ditolak oleh semua PTN incaran saya. Mulai dari SBMPTN sampai ujian mandiri sudah saya lakukan. Ingin saya menangis untuk yang kesekian kalinya, tapi saya sadar sekarang dunia tak sebaik yang dibayangkan. Kecewa sudah pasti ada, rasanya seperti jatuh ke lubang yang sama karena saya gagal untuk yang kedua kalinya. Sedih pun hampir tak bisa dibendung, mata saya sempat berkaca-kaca begitu mengetahui bahwa saya gagal lagi. Emosi pun mulai bergejolak kembali. Ingin saya menangis untuk yang kesekian kalinya, tapi saya urungkan karena saya sudah sadar sepenuhnya bahwa ini adalah ketetapan terbaik yang Tuhan berikan untuk saya. Saya mencoba ikhlas menerimanya.
 
 
► 4 - 5 Agustus 2019 
Di awal bulan kemerdekaan ada peristiwa yang cukup menghebohkan warga Ibukota dan sekitarnya. Selama kurang lebih 16 jam lamanya listrik di wilayah JABODETABEK mati. Saya pun ikut terkena pemadaman listrik ini. Kalau diingat-ingat, selama 19 tahun saya hidup, baru kali ini saya merasakan mati listrik yang sangat lama. Bagi saya Ini merupakan mati listrik terparah. Saya tak pernah merasakan pemadaman selama ini, saya jadi gak bisa beraktivitas normal seperti biasanya. Gak cuma saya sih, semua orang yang tinggal di JABODETABEK merasakan hal yang sama. Banyak pihak yang dirugikan atas matinya listrik yang sangat vital keberadaannya di zaman modern. Ini adalah momen buruk selama tahun 2019 berjalan.
 
► 31 Agustus 2019 
Pada tanggal ini saya nonton film Gundala. Bisa dibilang Ini adalah film Indonesia pertama yang saya tonton di bioskop, kenapa saya bisa berkata seperti itu? Karena saya memang kurang tertarik dengan film Indonesia yang kebanyakan diisi dengan genre horor atau drama. Kalaupun nonton pasti di tv gak pernah di layar lebar. Kebetulan film ini mengangkat tema superhero dan laga. Dua genre favorit saya. Gak perlu mikir panjang, saya pun jadi tertarik untuk menontonnya, jarang-jarang film lokal ada yang seperti ini. Secara keseluruhan film ini sangat menghibur. Walaupun saya gak begitu tau kisah aslinya dari komik tapi tetap bisa diikuti oleh penonton awam. Luar biasa film Gundala! 
 
► 27 Oktober 2019 
Di akhir oktober, saya berkesempatan untuk menjajal transportasi teranyar yang baru saja diresmikan bulan maret yang lalu oleh presiden dan merupakan kereta bawah tanah pertama di Indonesia yaitu MRT Jakarta. Kenapa baru bulan itu yaa karena baru sempatnya saat itu. Saya bangga akhirnya Indonesia bisa punya transportasi umum yang canggih, modern, dan keren seperti MRT ini. Saking kagumnya, saya sampai tak menyangka hidup di saat MRT Jakarta ini sudah beroperasi. Pengalaman yang tak pernah saya lupakan seumur hidup. 
 
 
► 20 Desember 2019
Akhir tahun saya tutup dengan menonton film STAR WARS!! Seumur-umur saya belum pernah nonton film star wars langsung di bioskop. Selalu tak ada kesempatan untuk bisa berkunjung ke bioskop pada saat ada film star wars. Nahh begitu tau tahun ini ada film star wars episode terbaru saya langsung masukan list daftar nonton film saya. Karena ini adalah momen yang langka di mana saya sedang mengambil jeda tahun jadi saya punya waktu luang lebih banyak dan bertepatan dengan adanya film star wars yang akan di bioskop di mana franchise film ini adalah kesukaan saya. Maka dari itu untuk merayakannya maka saya nontonnya di bioskop IMAX. Ini adalah pengalaman kedua kalinya saya nonton di bioskop tahun ini dengan layar yang super lebar dan nyaman. 
 


Yak.. Mungkin itu saja yang bisa saya ceritakan tentang tahun 2019 versi saya. Kalau dilihat-lihat sih memang lebih banyak kegiatan menghibur diri daripada kegiatan yang benar-benar penting. Tapi gak masalah sih sebenarnya. Mudah-mudahan ini dapat menjadi sebuah pengingat, paling tidak untuk saya sendiri. Biar gak mudah lupa juga mengenang masa lalu. Dan pada akhirnya di antara beberapa tulisan saya di tahun ini, saya masih dapat merangkumnya untuk menjadi sebuah Coretan akhir tahun yang cukup mewakili atas segala sesuatu yang terjadi sepanjang tahun 2019. 

 
Bisa dikatakan tahun 2019, walaupun lebih banyak pengalaman pertama menjajal sesuatu, tapi sejujurnya lebih banyak dirasakan oleh hati alias perasaan. Saya terlalu banyak memakai perasaannya dalam menanggapi berbagai macam hal. Saya gak tau apa yang telah terjadi di dalam diri saya. Tahun ini banyak campur aduknya. Mungkin 2019 akan selalu saya ingat sebagai proses menjadi seorang manusia seutuhnya dengan adanya coretan ini. Saya harap rasa sedih yang menyertai tahun ini cepat berakhir. Saya berharap semoga tahun depan akan lebih baik lagi dari tahun ini. Yaudah lah saya kayaknya saya sudah terlalu panjang nulis ke sana ke mari bahas apa aja yang terjadi di tahun ini, maka dari itu untuk tulisan ini saya cukupkan dulu. Kurang lebihnya mohon dimaafkan. Sekian. Terima kasih banyak telah membaca! 
 
 
 
Selamat akhir tahun 2019 sob!
Read More

Selasa, 24 Desember 2019

Sixth Anniversary!

Hari ini tanggal 24 Desember 2019, menandakan enam tahun blog saya eksis di dunia maya sejak menerbitkan postingan yang pertama tentang pengenalan diri, yang kemudian hari saya jadikan sebagai hari "kelahiran" blog ini. Terlalu berlebihan? Bagi saya tidak, justru ini sebagai pengingat tahunan agar saya selalu produktif dalam membuat sebuah postingan. Saya kira blog saya tak bisa bertahan sampai sejauh ini, karena sekarang semakin banyaknya media sosial yang lebih asyik dan interaktif daripada ngeblog. 
 
Ambil contoh Instagram, misalnya. Isinya seolah tak pernah lepas dari orang-orang yang “memamerkan” keberhasilannya: soal harta, kecerdasan, jabatan, bisnis, hubungan, atau apapun itu. Lama-lama saya merasa terbebani oleh standar gaya hidup yang ditampilkan di sana. Ada gengsi yang tanpa sadar ditanamkan, ada ekspektasi yang tak tertulis tapi terasa menekan. Saking tidak kuatnya menghadapi itu, akhirnya saya memutuskan menonaktifkan akun pribadi Instagram. Sampai sekarang belum saya aktifkan kembali, dan mungkin jika kebiasaan ini sudah terasa nyaman, bisa saja suatu saat saya benar-benar menghapusnya secara permanen.
 
Untungnya masih ada tempat untuk bercerita yaitu blog. Sebuah ruang sederhana, minim hiruk-pikuk, tapi justru di situlah nilai kenyamanannya. Di sini relatif lebih sederhana yang isinya kebanyakan tulisan. Saya tetap berusaha untuk terus berusaha untuk terus konsisten mengisi blog sunyi ini selagi masa gap year kedua. Di sini, saya bisa bercerita tanpa harus takut dinilai berlebihan atau dibanding-bandingkan dengan orang lain. Blog ini semacam ruang jeda, tempat saya bisa bernapas lebih lega. Konsistensinya memang naik turun. Kadang bisa seminggu sekali menulis, kadang juga hanya sebulan sekali. Semuanya tergantung ada tidaknya ide yang muncul di kepala.
 


Pernah waktu itu pas lagi bulan-bulan pertama menyelami dunia blog, saya lagi buntu banget dalam mencari sesuatu yang dapat ditulis, saya coba buat komitmen tegas pada diri sendiri yaitu, setiap bulan minimal satu tulisan bisa dikeluarkan. Tidak banyak, tapi cukup untuk menyalakan api kecil agar tidak padam. Ternyata, komitmen itu cukup berhasil membawa saya sampai sejauh ini. Awalnya hanya artikel yang menarik untuk disebarkan. Lama-kelamaan saya buat sendiri tulisan dari ide-ide yang muncul, gagasan tentang suatu hal, atau konsep-konsep asal yang terlintas di kepala. Dari sana, saya jadi terbiasa menuliskannya dan merasa ada kepuasan tersendiri. Menulis di blog bukan hanya sekadar mengisi waktu, melainkan sudah menjadi kebiasaan yang menyenangkan. Selain itu, saya makin giat menulis blog karena sebagai tempat untuk “mendokumentasikan”  pengalaman apa saja yang pernah saya lakukan dan rasakan selama hidup. Karena makin kesini makin banyak peristiwa penting yang menerjang hidup saya.
 
Bagi saya.. menulis blog itu awalnya seperti menulis catatan harian, ditulis hanya untuk diri sendiri. Karena saya pikir nama aslinya juga WEBLOG, website log, blog. ya maka sekedar catatan harian aja. Dari menulis di blog ini, saya jadi punya kenangan bahwa saya pernah melakukan hal tersebut. Sampai akhirnya, saya berpikir akan sesuatu yang lebih penting dari sekadar mengabadikan sebuah momen, yaitu.. menulis di blog itu bagaikan saya melatih cara berpikir saya. Karena kata kebanyakan orang bilang, jika ingin melatih cara berpikir yang lebih terstruktur, mulailah dengan menulis sesuatu yang terstruktur. Menulis di blog memang saya gunakan sebagai proses latihan saya untuk berpikir lebih terstruktur. Karena saya kalo udah mikir kan jadi liar dan bisa melebar kemana-mana. Jadinya harus diikat dengan tulisan. Kurang lebih seperti itu manfaatnya untuk saya. 
 
Yak, mungkin itu saja yang bisa saya bagikan pada momen enam tahun blog ini. Terima kasih sudah membaca sampai habis, dan terima kasih juga sudah ikut menjadi bagian dari perjalanan kecil ini, entah sebagai pembaca setia atau sekadar singgah sebentar. Semoga saya bisa terus menjaga konsistensi ini, walau sederhana, tapi tetap berarti. 


Cukup Sekian. 


Selamat malam! 
Read More

Rabu, 06 November 2019

Idealisme vs Realita: Mengenal Diri Lewat Kegagalan

Saya tidak tahu harus bagaimana membuat pembuka yang tepat untuk postingan kali ini, tapi yang jelas saya membuat tulisan kali ini sebagai bentuk refleksi diri akan banyak hal yang terjadi setelah saya lulus sekolah. Jujur aja, saya seringkali terlalu idealis dalam menentukan sesuatu. Termasuk soal masa depan. Dulu saya pernah berpikir, "kalau kuliah, harus di kampus negeri ternama, jurusan yang keren, dan nantinya kerja di tempat yang bergengsi." Saya ingin membuktikan kepada dunia bahwa anak SMK seperti saya bisa kuliah di kampus negeri. Tapi realita ternyata nggak sesimpel itu. Kadang, hidup memaksa saya untuk membuka mata lebih lebar, dan memaksa saya untuk bertanya lagi, "Inikah sebenarnya mimpi yang ingin saya raih? atau jangan-jangan ini mimpi yang ditanamkan orang lain?" 


Masih teringat jelas di otak, saya dua kali ikut SBMPTN. Dua-duanya gagal. Rasanya seperti disadarkan dengan cara yang keras bahwa semangat aja nggak cukup, dan idealisme nggak menjamin keberhasilan. Saya sadar saya terlalu menutup mata dari realita, saya terlalu terpesona pada gengsi dan label, tanpa benar-benar mengenali kemampuan dan kesiapan diri. Kadang saya merasa lucu juga kalau mengingat-ngingat masa ambisius. Saya yang dulu idealisnya kelewat langit. Pokoknya harus kampus A, jurusan B, biar keren dan dipandang. Tapi di sisi lain, saya nggak benar-benar paham tentang dunia yang saya incar. Saya terlalu sibuk bermimpi, tapi lupa mempersiapkan diri. Ujungnya? Gagal dua kali. Mental drop dua kali. Lalu merasa hidup saya sia-sia.

Dan di momen-momen sunyi saat mencoba mengurai benang kusut itu, saya teringat satu hal penting. Saya nggak mau mengulangi kesalahan saya di SMK dulu, waktu saya bisa dibilang 'salah jurusan' karena nggak benar-benar tahu isi pelajaran dan tingkat kesulitannya waktu itu. Saya masuk SMK karena ikut arus, bukan karena tahu apa yang saya mau. Diiming-imingi gampang dapat kerja saya nurut aja. Hasilnya ya gitu, banyak kelimpungan, nggak cocok, dan bikin saya makin ragu sama kemampuan diri sendiri. 

Sekarang, kalau harus memilih lagi, apalagi di tingkat universitas yang bebannya pasti lebih berat, saya nggak bisa asal pilih. Saya nggak mau main-main. Saya harus benar-benar yakin dan ngerti kenapa saya milih itu. Karena satu keputusan bisa berdampak ke banyak hal ke depan. Maka dari itu saya banyak belajar juga dari pengalaman orang lain. Saya kembali main Twitter, saya sering mantengin akun-akun studytweet yang sering bahas soal persiapan kuliah, tips belajar, dan juga perspektif hidup. Dari sana saya mulai paham bahwa idealisme itu bagus, tapi tanpa realisme, saya bisa kehabisan tenaga di tengah jalan. Banyak juga yang cerita bahwa mereka pun harus mengubah rencana hidup karena realita yang nggak bisa ditawar. Tapi bukan berarti mereka gagal. Justru dari sanalah mereka menemukan cara baru yang lebih cocok dengan diri mereka.


Dalam sebuah wawancara, mendiang psikolog Albert Ellis, Ph.D., pernah bilang bahwa idealisme cenderung datang dari keinginan untuk menggapai versi terbaik dari hidup, sementara realisme adalah seni berdamai dengan kondisi sekarang dan mencari cara agar tetap bisa bertumbuh. Dua-duanya penting. Tapi yang berbahaya adalah saat kita terjebak di salah satunya secara ekstrem. Saya rasa saya pernah ada di titik itu, terjebak di ekstrem idealisme. Waktu itu, saya memegang keyakinan kaku (rigid belief) yang dalam teori Ellis disebut sebagai "musturbation". Istilah ini adalah keyakinan seseorang bahwa mereka harus selalu memenuhi standar yang sangat tinggi atau perfeksionis supaya bisa merasa berhasil, diterima, atau nyaman. Masalahnya, cara berpikir seperti ini sering bikin orang tertekan. Misalnya yang telah terjadi di saya yaitu saya pernah berada di masa ambisius. Saya maunya kampus A dan harus tetap A, bukan B ataupun C. Tidak peduli apa kata orang lain. Tidak peduli masukan teman-teman. Tidak peduli nasihat orang tua. Pokoknya harus masuk kampus A titik.

Di dalam pikiran saya saat itu, seolah-olah hanya ada satu jalan menuju kesuksesan dan kebahagiaan. Seandainya gagal mencapainya, berarti saya adalah orang yang gagal. Pola pikir ini mencerminkan tiga tuntutan irasional yang sering digambarkan Ellis:

  1. "Saya HARUS berhasil!" → sehingga kegagalan terasa seperti akhir segalanya.
  2. "Orang lain HARUS mendukung saya!" → sehingga ketika orang tua atau teman memberi saran yang berbeda, saya menganggapnya sebagai penghalang.
  3. "Dunia ini HARUS-nya adil dan mudah!" → sehingga ketika prosesnya sulit, saya merasa dunia sedang tidak berpihak.

Padahal, menurut mendiang Albert Ellis, bukan keinginan untuk sukses yang salah, melainkan cara kita untuk menuntutnya. Keinginan adalah hal yang sehat, tapi ketika berubah menjadi keharusan mutlak, itulah sumber penderitaan. Saya tidak menyadari bahwa yang saya perlukan saat itu adalah realisme yang fleksibel. Ini berarti bukan menyerah pada impiannya, tapi menerima bahwa hidup tidak selalu linear. Pola pikir inilah yang perlu dipahami, kita semestinya mengganti kata "harus" menjadi "lebih baik" atau "ingin". Misalnya:

Dari "Saya HARUS masuk kampus A!" menjadi "Saya SANGAT INGIN masuk kampus A, dan akan berusaha semaksimal mungkin. Tapi jika tidak berhasil, bukan berarti dunia berakhir. Masih banyak jalan lain yang bisa saya coba."

Belakangan ini pada akhirnya saya sadar, idealisme tanpa realisme bisa berubah menjadi perangkap mental. Sebaliknya, realisme tanpa idealisme pun bisa kehilangan visi. Mendiang Albert Ellis menawarkan jalan tengah yaitu berjuang untuk yang terbaik, tetapi juga bersiap menghadapi yang terburuk dan menerima diri sepenuhnya, apa pun hasilnya. Pelajaran terbesar yang saya ambil dari teori dan artikel mengenai idealisme dan realisme dalam menggapai impian adalah kita boleh memimpikan hal-hal besar, tapi jangan sampai kita menjadi budak dari impian kita sendiri.


Sekarang saya belajar untuk pelan-pelan menyeimbangkannya. Kalau saya masih mau mengejar kampus impian, saya tahu itu butuh usaha ekstra. Bukan sekadar karena 'keinginan buta', tapi karena saya paham apa konsekuensinya. Dan kalau pun nanti saya harus melepas impian itu, saya juga ingin bisa berdamai tanpa merasa jadi pecundang. Jadi ya, mungkin idealisme saya dulu tak terarah dan terlalu mentah. Sangat ngotot dan percaya diri tanpa melihat medan. Tapi saya juga gak pernah menyesal pernah ngejar mimpi setinggi itu. Justru karena saya jatuh, saya jadi mengerti bahwa dunia ini bukan hanya tentang siapa yang cepat berhasil, tapi juga siapa yang bisa bertahan dan belajar dari setiap luka. 

Sekarang, saya masih belum kuliah, masih di jalur yang belum pasti. Tapi saya nggak lagi malu bilang saya masih punya mimpi. Bedanya, sekarang saya belajar melangkah pelan, lebih sadar arah, dan nggak takut kalau nanti harus berhenti lagi atau istirahat sebentar. Gap year tahun kedua ini jadi ruang sunyi yang pelan-pelan menyembuhkan diri. Mungkin saya masih idealis, tapi kali ini saya nggak sendiri. Ada versi diri saya yang lebih dewasa, lebih sabar, dan lebih tahu cara menyeimbangkan angan dengan kenyataan. Dan kalau kalian juga lagi di titik bingung, entah karena gagal, atau takut melangkah, percayalah bukan cuma kalian. Kita semua sedang belajar jalan, dengan luka masing-masing, dengan caranya masing-masing. Pelan-pelan aja, yang penting masih hidup, masih belajar, dan masih mau berharap. Itu udah keren. 


Semangat!





Read More

Selasa, 29 Oktober 2019

Pertemuan pertama dengan MRT Jakarta, rasanya...

Ada kalanya sebuah perjalanan sederhana bisa berubah menjadi cerita yang berkesan. Bukan tentang pergi jauh atau liburan mewah ke negeri orang, tapi tentang langkah kecil yang memberikan pengalaman baru di ibu kota. Kemarin, pada hari minggu tanggal 27 Oktober, saya bersama abang dan adik saya memutuskan untuk pergi ke Jakarta. Tujuan kami tidak muluk-muluk yaitu mencoba MRT Jakarta untuk pertama kalinya. Moda transportasi yang baru saja diresmikan Maret lalu itu sudah ramai dibicarakan orang, dan kami penasaran ingin merasakannya sendiri.

Perjalanan kami dimulai cukup pagi. Sekitar pukul setengah tujuh, kami berangkat dari rumah menuju stasiun Metland Telaga Murni. Sebenarnya ada pilihan untuk langsung menggunakan bus atau transportasi online menuju pusat kota, tapi saya ingin merasakan bagaimana rasanya berpindah dari satu moda transportasi ke moda lainnya. Jadi kami memutuskan untuk memulai dengan KRL Commuter Line. Selain lebih terjangkau, ada sensasi tersendiri menaiki kereta dari Bekasi, melihat perlahan-lahan pemandangan berganti dari rumah-rumah sederhana hingga gedung-gedung perkotaan.

Suasana pagi itu masih belum terlalu padat, sehingga ketika kereta datang, saya bisa duduk dengan nyaman. Di dalam kereta, saya memperhatikan sekeliling. Ada para pekerja dengan wajah yang masih sedikit mengantuk, ada keluarga yang tampak ingin berekreasi ke pusat kota, ada pula pemuda pemudi yang sibuk menatap layar ponsel mereka. Sementara itu, saya justru sibuk memperhatikan jendela. Dari balik kaca, pemandangan bergulir cepat mulai dari pepohonan, jalan raya, rumah-rumah, hingga perlahan berganti menjadi gedung-gedung tinggi yang mulai menampakkan dirinya. Saya teringat, betapa berbedanya Jakarta dengan kota asal saya tinggal. Jakarta tampak seperti dunia lain yang bergerak terlalu cepat, sementara saya hanya seorang penumpang yang mencoba menyesuaikan diri dengan arus utama. 

Sekitar satu jam kemudian, kami transit di stasiun Manggarai untuk lanjut naik KRL yang menuju ke stasiun Sudirman. Sekitar 15 menit kemudian kami akhirnya tiba di Stasiun Sudirman. Pukul 08.32, catatan waktu itu masih saya ingat jelas karena menjadi penanda momen penting. Kami keluar stasiun, dan sebelum melanjutkan perjalanan, sempat berfoto-foto di terowongan Kendal. Terowongan itu rupanya sudah ditata begitu rapi, dengan mural-mural menarik yang membuat suasana tidak sekadar jalan penghubung biasa. Ada perasaan bahwa Jakarta sedang berusaha tampil lebih ramah, lebih indah, walau tetap ramai dan riuh.


Dari terowongan Kendal, kami berjalan menuju pintu masuk MRT Dukuh Atas. Pintu masuknya besar dan modern, dengan desain arsitektur yang menurut saya cukup elegan. Saat melangkah menuruni tangga, saya merasa sedikit kagum. Ada sesuatu yang berbeda, seperti masuk ke dunia lain yang lebih rapi, teratur, dan futuristik. Begitu masuk ke dalam, hawa sejuk dari AC langsung menyambut. Kesan yang diberikan nyaman sekali, seakan-akan saya sedang berada di luar negeri. Rasanya seperti membuka lembaran baru, seolah-olah Jakarta yang biasa saya lihat hanya dari kejauhan kini menawarkan wajah yang berbeda.


Kami membeli tiket berupa kartu MRT, lalu turun lagi ke peron. Sambil menunggu kereta datang, kami berfoto-foto. Tentu, momen pertama ini tidak boleh terlewatkan. Saat kereta tiba, saya perhatikan gerbongnya bersih, modern, dan terawat. Tidak terlalu ramai pagi itu, sehingga kami bisa memilih tempat duduk. Begitu MRT mulai berjalan, saya benar-benar bisa merasakan perbedaan. Gerakannya halus, nyaris tanpa suara, berbeda dengan KRL yang lebih bising. Dari balik kaca, saya menyaksikan jalanan Jakarta yang padat oleh kendaraan, gedung-gedung modern yang menjulang, dan struktur lintasan MRT yang berdiri di tengah-tengah jalan raya. Rasanya luar biasa, kota ini benar-benar punya wajah baru.



Perjalanan pertama kami berakhir di Stasiun Lebak Bulus. Kami sengaja memilih stasiun ini karena ingin melihat langsung Depo MRT. Dari sana, terlihat deretan kereta yang tersusun rapi. Lagi-lagi, kami berfoto untuk mengabadikan momen. Ada kebanggaan tersendiri bisa berada di sana, meski hanya sebagai pengunjung biasa. Setelah puas, kami mulai merasakan lapar. Tujuan berikutnya sudah kami sepakati yaitu Blok M dengan kawasan yang terkenal dengan kulinernya.





Kami kembali naik MRT dan turun di Stasiun Blok M. Begitu sampai, suasana langsung berubah. Blok M terasa lebih hidup, dengan orang-orang berlalu lalang dan berbagai aroma makanan yang menggoda. Kami berjalan berkeliling, sempat bingung harus makan apa, hingga akhirnya kami memutuskan untuk makan di restoran D’Cost di dalam Blok M Square. Makanan nusantara sangat mengenyangkan. Rasanya lega ketika perut terisi dengan baik, setelah sejak pagi hanya ditemani semangat dan rasa penasaran.

Namun ternyata hari masih panjang. Matahari baru berada di tengah, dan kami bertiga belum ingin pulang. Setelah diskusi kecil, kami memutuskan menonton film di bioskop XXI Blok M Square. Saya dan adik menonton film drama “Bebas”, sementara abang memilih film horor “Perempuan Tanah Jahanam”. Keputusan yang sederhana, tapi menyenangkan. Rasanya seperti perjalanan kecil ini berubah menjadi liburan singkat, padahal hanya sehari.


Waktu berlalu cepat. Tahu-tahu sudah sore, dan kami sadar harus segera pulang agar tidak terlalu malam di perjalanan. Perjalanan kembali ke rumah dengan MRT dan KRL menjadi penutup dari hari yang penuh pengalaman pertama. Suasana sore hari terasa padat dengan penumpang, kami bahkan sampai tidak kebagian duduk. Akhirnya kami berdiri sampai stasiun pemberhentian terakhir. Selama perjalanan pulang saya menghayati apa yang telah dilalui seharian itu sambil merenung. Rasanya menyenangkan sekaligus menenangkan, bahwa saya bisa mencoba sesuatu yang baru bersama keluarga. Ada rasa syukur yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Perjalanan kemarin lebih dari sekadar menjajal transportasi baru, hari itu membuat saya melihat Jakarta dari sisi yang berbeda. Saya bisa merasakan denyut nadi keramaian Kota ini, dari hiruk-pikuk KRL, mural penuh warna di terowongan Kendal, hingga modernitas MRT yang menjadi simbol baru. Jakarta bukan hanya tentang kemacetan, panas, dan kebisingan. Ada juga upaya membangun, berbenah, dan memberikan harapan baru bagi warganya.

Bagi saya pribadi, pengalaman ini lebih dari sekadar jalan-jalan biasa. Ada makna unik di baliknya. Saya belajar bahwa mencoba sesuatu yang baru tidak harus selalu jauh atau mahal. Kadang, hal-hal mudah seperti naik MRT untuk pertama kalinya bisa menghadirkan rasa kagum, kebahagiaan, bahkan kebanggaan tersendiri. Saya juga merasa bahwa perjalanan itu mengingatkan saya untuk tidak meremehkan kota sendiri. Jakarta, dengan segala masalahnya, tetap punya sisi yang patut diapresiasi.

Tak teras matahari sudah mulai tenggelam, kami akhirnya sampai di rumah sore hari sekitar jam lima. Badan mungkin sedikit lelah, tapi hati terasa ringan. Semua langkah yang telah kami jalani sejak pagi, dari Bekasi hingga Lebak Bulus, dari Blok M hingga kembali lagi ke rumah, menjadi cerita yang lengkap. Saya merasa bahwa hari itu berhasil mempertemukan banyak hal yaitu kebersamaan, pengetahuan baru, dan juga pengalaman yang layak diingat. 

Secara keseluruhan, perjalanan pertama dengan MRT Jakarta adalah cerita kecil yang layak dikenang, sebuah potongan sejarah pribadi yang suatu hari nanti mungkin akan saya ceritakan lagi. Bahwa pada tanggal 27 Oktober itu, saya, abang, dan adik, bersama-sama menjejakkan langkah moda transportasi baru di Jakarta, ikut merasakan denyut modernitas, dan menyimpan kenangan yang tak akan habis oleh waktu. Saya bisa melihat Jakarta dari perspektif baru, bukan hanya sebagai kota yang padat dan melelahkan, tapi juga sebagai tempat yang sedang terus tumbuh dan berubah. 
Read More

Kamis, 10 Oktober 2019

Memahami Takdir dan Rasa Syukur

Setiap orang punya beban yang selalu dipikul. Mau berat atau ringan, semua bergantung pada bagaimana kita menjalaninya. Bersyukur adalah salah satu cara agar beban itu terasa lebih ringan, karena dengan bersyukur kita diingatkan bahwa nikmat Tuhan ternyata jauh lebih besar daripada beban yang kita pikul.

Pernah suatu ketika, melihat anaknya yang selalu terlihat murung seakan tak ada semangat menjalani hari, bapak saya memanggil saya untuk ngopi bareng. Tanpa disangka, beliau memberikan beberapa wejangan. Wah… ini dia momen yang saya tunggu-tunggu. Sebuah nasihat yang rasanya seperti air di tengah dahaga, penguat untuk menapaki masa depan yang masih menjadi misteri.

Beliau bertanya kenapa saya selalu tampak tak bersemangat. Seperti kehilangan arah. Lalu saya ceritakan beberapa hal yang selama ini memenuhi kepala saya. Sampai akhirnya pembicaraan kami sampai pada soal rasa syukur.

Kata beliau, “Orang beruntung itu adalah orang yang pandai bersyukur.”

Saya pun bertanya,
“Jadi orang yang selalu bersyukur itu pasti beruntung?”

Bapak tersenyum kecil, lalu menjawab,
“Tergantung kacamatanya. Atau perspektif lah istilahnya. Karena perspektif itu penting. Walau banyak orang yang melihat sesuatu itu tidak baik, kita harus mencari alasan untuk membuktikan kebenaran yang sesungguhnya. Yaitu kebenaran Tuhan.

Kalau dilihat dari kacamata agama, yaa… orang yang selalu bersyukur itu insyaAllah selalu beruntung. Dalam artian bahwa dia benar-benar dicukupkan rezekinya. Gimana caranya supaya bisa bersyukur? Jangan terlalu sering melihat ke atas, nanti jatuh. Lihatlah ke bawah, supaya kita sadar betapa beruntungnya kita.”

Saya terdiam mendengarnya. Penjelasan itu begitu sederhana tapi menampar. Saya lalu bertanya lagi,
“Jadi takdir itu harus dicari atau diterima?”

Bapak menjawab, “Takdir itu perlu dicari, tapi dalam pencariannya ada hal-hal yang harus diterima. Dan dibuktikan kebenarannya.”

Sejak saat itu saya semakin penasaran tentang takdir. Takdir adalah keputusan Tuhan yang tidak dapat ditolak oleh manusia. Tidak ada satu pun makhluk yang bisa mengubahnya. Namun, apakah itu berarti kita tidak boleh mengupayakan takdir baik dalam hidup kita?


Dalam perenungan itu, saya juga teringat akan konsep qodho dan qodar. Qodho adalah ketetapan Allah yang sudah pasti terjadi, sementara qodar adalah ukuran atau jalan yang kita lalui hingga ketetapan itu terwujud. Qodho ibarat tujuan akhir, sementara qodar adalah langkah-langkah yang harus ditempuh.

Bapak melanjutkan, “Manusia itu berjalan di atas qodar yang sudah ditentukan, tapi setiap langkahnya tetap diberi pilihan. Tugas kita bukan melawan takdir, tapi menjemputnya dengan ikhtiar.”

Dari situlah saya mengerti, menerima takdir bukan berarti menyerah tanpa usaha. Justru setiap ikhtiar yang kita lakukan adalah bagian dari qodar yang Allah atur, hingga akhirnya bermuara pada qodho-Nya. Bersyukur pun bukan sekadar reaksi setelah menerima hasil. Ia adalah cara kita merangkul qodar yang sedang berjalan—percaya bahwa setiap kesulitan dan kemudahan adalah bagian dari rancangan Tuhan yang sempurna.

Ketika memikirkan hal itu, saya pun menoleh pada diri saya sendiri. Sudah dua kali gagal masuk kuliah. Saya belum jadi apa-apa, bahkan terkadang merasa tertinggal jauh dibandingkan teman-teman lain yang sudah melangkah lebih dulu. Tapi, jika saya lihat dari kacamata yang bapak ajarkan, mungkin inilah bagian dari qodar saya. Bukan untuk membuat saya merasa kalah, tetapi untuk mengajarkan bahwa setiap perjalanan punya waktunya sendiri.

Saya mulai sadar, penerimaan terhadap takdir bukan berarti berhenti mencoba. Penerimaan justru membuat langkah kita lebih ringan, karena kita tidak lagi menolak kenyataan. Kita berusaha, kita jatuh, kita bangkit lagi—dan di setiap proses itu, kita sedang berjalan di atas qodar yang mengantarkan kita pada qodho yang terbaik.

Bersyukur dalam keadaan seperti ini tidak mudah, tapi justru di sinilah letak nilainya. Bersyukur bukan hanya untuk mereka yang sedang berada di puncak, tapi juga untuk mereka yang masih berjuang di lembah. Mungkin saya belum mencapai mimpi saya, belum mendapatkan apa yang saya inginkan, tapi saya masih diberi kesempatan untuk hidup, untuk mencoba lagi, untuk menata ulang mimpi yang sempat runtuh. Dan hal itu sendiri adalah sebuah nikmat.

Menurut saya, maksud dari perkataan bapak “Orang beruntung itu adalah orang yang pandai bersyukur” adalah bahwa keberuntungan bukanlah sekadar kebetulan. Ia juga lahir dari sikap seseorang dalam menjalani hidup. Orang yang pandai bersyukur mampu menghargai segala hal, baik ataupun buruk. Mereka bisa melihat keberuntungan yang sering tersembunyi di balik kesulitan. 


Dengan bersyukur, kita belajar memandang hidup dengan kacamata yang berbeda. Kita tidak lagi terlalu takut pada masa depan atau menyesali masa lalu, karena kita tahu semua yang terjadi adalah bagian dari qodar yang mengantarkan kita pada qodho. Pada akhirnya, saya pun tersadar, sekeras apa pun keinginan saya untuk memutar waktu, itu semua tidak akan berguna. Nyatanya itu hanya lamunan yang tak akan mengubah apa pun dalam hidup saya. Bahkan hanya akan menyeret saya pada penyesalan yang lebih dalam. 

Kita semua sedang berjalan di jalan yang berbeda-beda. Ada yang cepat, ada yang lambat. Ada yang sudah berada jauh di depan, ada yang masih mencari pijakan pertama. Tapi lambat bukan berarti kalah, dan tertunda bukan berarti gagal. Karena qodho dan qodar bukan tentang siapa yang lebih cepat sampai, tapi siapa yang tetap berjalan meski langkahnya tertatih. Tuhan tidak menilai kita dari hasil yang tampak di mata manusia, melainkan dari kejujuran hati kita dalam menapaki jalan yang sudah Ia ukur.

Mungkin hari ini saya belum diterima kuliah. Mungkin saya belum belum bisa jadi sesuatu yang bisa dibanggakan. Mungkin saya belum menjadi siapa-siapa. Tapi saya percaya, ini semua bagian dari perjalanan yang Allah pilihkan. Ada alasan di balik setiap keterlambatan, ada makna di balik setiap penantian. Dan jika saya terus bersyukur, mungkin kelak saya akan melihat bahwa semua ini bukanlah kemunduran, melainkan cara Tuhan mempersiapkan saya.

Jadi, untuk diri saya sendiri—dan siapa pun yang membaca tulisan ini—ingatlah bahwa takdir bukan untuk dilawan, melainkan untuk dijemput dengan ikhtiar. Syukurilah apa yang ada, terimalah apa yang belum kesampaian, dan percayalah pada Allah SWT yang menulis cerita ini sejak awal. Karena di balik setiap kesulitan, selalu ada takdir baik yang menunggu untuk diungkap pada waktunya.

"Hidup dan mati ada dalam genggaman Illahi. Takdir adalah kepastian, tapi hidup harus tetap berjalan. Proses kehidupan adalah hakikat, sementara hasil akhir hanyalah syariat. Gusti Allah akan menilai ketulusan perjuangan manusia, bukan hasil akhirnya. Kalaupun harus menjumpai kematian, itu artinya mati syahid di jalan Tuhan."
- Pangeran Diponegoro 

Read More

Minggu, 01 September 2019

Jalan yang Tidak Ramai

Tak terasa sekarang sudah tanggal satu, Agustus kemarin yang terasa cepat atau saya yang terlalu sibuk menghibur diri? Hmm… Walau bagaimanapun, saya hanyalah manusia biasa. Saya butuh yang namanya istirahat dari segala keramaian dunia. Ketika mimpi besar saya tahun ini belum tercapai, rasanya tidur adalah aktivitas yang paling menyenangkan bagi saya. Di dalam tidur saya bisa mimpi menjadi apa saja yang saya inginkan. Mimpi dalam tidur itu bagaikan surga tersembunyi di dunia. Hanya satu cara untuk bisa masuk ke dalamnya yaitu dengan tidur yang khusyuk.

Lama-kelamaan, saya mulai sadar bahwa saya tidak bisa terus-menerus berlindung di balik keheningan. Rasa nyaman dari tidur dan pelarian justru membuat saya makin jauh dari harapan yang pernah saya tanam sendiri. Saya bukan sedang menyerah, hanya sedang mencari waktu yang tepat untuk kembali menyusun langkah. Dan mungkin, sekarang saatnya untuk perlahan-lahan menengok kembali jalan yang sempat saya tinggalkan. Karena di balik keinginan untuk diam, ada suara kecil dalam diri saya yang masih ingin berusaha, meskipun dengan cara yang berbeda.

Saya ingin jujur bahwa satu-satunya hal gak enak saat gap year yaitu… semangat belajar yang gak terlalu tinggi. Rasanya berjuang sendirian itu memang menyedihkan. Saya gak punya support system yang baik dalam proses pembelajaran. Maka dari itu, untuk gap year jilid dua ini, salah satu hal yang ingin saya lakukan yaitu mencari 'teman berjuang' sebanyak-banyaknya yang sejalan dengan saya. Menciptakan suasana yang mendukung proses belajar saya. Gak harus kenal banget sih, cukup mengetahui bahwa ada sejumlah orang yang bersemangat menggapai mimpinya di PTN incarannya masing-masing sudah cukup buat saya. Jadilah saya akhirnya aktif kembali bermain Twitter. Karena hanya di Twitter saya menemukan frekuensi tersebut. Walaupun saya seringnya hanya menjadi silent reader, tapi saya akui cukup membantu saya untuk tetap berproses.

Ada banyak akun studytweet yang saya temukan secara tidak sengaja. Beberapa di antaranya rutin membagikan jadwal belajar, update soal-soal latihan, atau sekadar curhat tentang rasa capek karena terus-menerus mencoba. Anehnya, saya tidak merasa terintimidasi. Justru sebaliknya—saya merasa sedikit hangat. Melihat mereka berjuang dengan gigih, sambil tetap jujur tentang rasa lelah dan cemasnya, membuat saya merasa tidak sendirian. Mereka tidak tahu keberadaan saya, tapi entah kenapa, keberadaan mereka seperti jadi bahan bakar kecil yang menyalakan kembali api yang hampir padam. Dari situ saya sadar, bahwa semangat tidak selalu datang dari dalam diri. Kadang, semangat datang dari melihat orang lain tetap berjalan, meski pelan. Dan itu cukup. Cukup untuk membuat saya bertahan satu hari lagi. Satu minggu lagi. Satu bulan lagi.


Saya rasa, sudah waktunya saya menuliskan isi hati ini secara utuh. Bukan hanya sebagai bentuk pelampiasan, tapi juga sebagai pengingat bahwa keputusan ini bukanlah sesuatu yang saya ambil dengan tergesa-gesa. Ini adalah keputusan besar yang akan sangat memengaruhi hidup saya ke depan. Dan saya ingin jujur dalam menyampaikannya dalam bahasa yang amat sangat sederhana, karena saya tahu betapa dalamnya pergulatan yang saya alami untuk sampai di titik ini.

Setelah pertimbangan yang panjang, saya akhirnya memutuskan untuk mengambil gap year untuk kedua kalinya. Bagi sebagian orang, keputusan ini mungkin terdengar aneh atau bahkan sia-sia. Tapi bagi saya, ini adalah bentuk tanggung jawab pada diri sendiri. Saya tidak ingin hanya sekadar "jalan terus" tanpa benar-benar tahu apa yang sedang saya tuju. Keputusan ini tidak mudah. Saya menghabiskan banyak waktu untuk merenung, mempertimbangkan ulang semua yang telah saya jalani, dan membayangkan segala kemungkinan ke depan. Namun setelah menimbang segalanya, saya merasa gap year kedua ini adalah langkah yang paling jujur dan paling masuk akal untuk saya ambil saat ini.

Fokus saya kali ini bukan lagi sekadar mengejar kampus impian. Lebih dari itu, saya ingin memanfaatkan waktu ini untuk mengenali diri saya lebih dalam, mengeksplorasi minat yang selama ini terabaikan, dan mengembangkan keterampilan yang bisa berguna di masa depan. Saya juga berharap bisa mencoba kegiatan baru seperti menjelajah tempat baru atau menekuni hobi baru, agar dunia saya tak sebatas meja belajar dan hasil try out.

Pengalaman dari gap year pertama memberi saya pelajaran berharga. Bahwa jeda bukan berarti diam dan diam bukan berarti kalah. Justru dari situ saya belajar menjadi lebih sabar, lebih kenal diri sendiri, dan lebih tahu arah. Maka saya percaya, gap year kedua ini bisa jadi ruang tumbuh yang bahkan lebih bermakna dari sebelumnya.

Saya sudah tahu konsekuensi penuhnya, mungkin saya akan terlambat lulus, terlambat masuk dunia kerja, atau bahkan kehilangan momentum. Tapi saya tidak takut. Karena saya yakin, hidup bukan soal cepat-cepat sampai, melainkan soal bagaimana kita bisa bertahan, bertumbuh, dan tetap waras dalam prosesnya.

Jadi inilah saya, dengan keputusan yang mungkin tidak populer, tapi saya merasa ini sangat berarti. Saya tidak meminta pengertian dari semua orang. Tapi saya harap, dengan menuliskannya secara jujur seperti ini, saya bisa lebih berdamai dengan diri sendiri. Dan mungkin, suatu hari nanti saya akan bersyukur karena pernah berani mengambil jalan yang tidak biasa.

Memang saya belum sampai ke mana-mana. Tapi bukan berarti saya diam. Saya sedang belajar menempuh jalan yang tidak ramai, menata ulang arah, dan mendengar suara hati yang selama ini tenggelam dalam hiruk-pikuk dunia. Saya tidak tahu kapan akan sampai, atau apakah saya akan benar-benar sampai tujuan. Tapi saya masih percaya, selama saya tetap jujur pada diri sendiri dan terus melangkah, sekecil apa pun, hidup akan membawa saya ke tempat yang memang seharusnya.
Read More

Sabtu, 24 Agustus 2019

Selanjutnya Apa?

Selamat malam sobat blogger di mana pun kalian berada. Apa kabar kalian semua? Saya harap kondisi kalian sehat selalu. Di bulan agustus ini biasanya adalah bulan dimana banyak kampus yang sedang melaksanakan ospek untuk para mahasiswa baru. Rasa tak nyaman mulai bergejolak dalam diri saya tatkala melihat banyaknya orang yang update status kegembiraannya diterima oleh PTN dan mulai foto-foto di ikon kampus masing-masing. Akhirnya saya memutuskan untuk vakum sementara dari media sosial yang penuh dengan euforia ospek kampus dengan segala keseruannya. Sungguh mengasyikkan sekali nampaknya. 
 
Sementara itu.. Saya.. Seperti yang kalian ketahui, tahun ini saya gagal lolos seleksi penerimaan mahasiswa baru lewat jalur mana pun untuk yang kedua kalinya. Kecewa sudah pasti ada, rasanya seperti jatuh ke lubang yang sama karena saya gagal untuk yang kedua kalinya. Sedih pun hampir tak bisa dibendung, mata saya sempat berkaca-kaca begitu mengetahui bahwa saya gagal lagi. Emosi pun mulai bergejolak kembali. Seketika itu juga otak saya langsung dipenuhi dengan tanda tanya.. 
 
"apa yang salah dengan diriku sehingga aku belum layak untuk dapat diterima oleh PTN?" 
 
"Mengapa aku masih gagal?" 
 
"Apa yang kurang ya?" 
 
"Apa yang harus aku lakukan selanjutnya?" 
 
 
Pertanyaan-pertanyaan itu muncul lagi untuk yang kedua kalinya. Saya mau gak mau harus banyak instrospeksi lagi terkait langkah yang sudah saya lakukan selama ini. Apakah cara saya yang kemarin sudah benar. Harus ada revisi terhadap sistem gap year yang telah saya lalui kemarin. Dari sini, pikiran saya lagi-lagi mulai berjalan dengan cepat. Saya pun membiarkan diri ini tenggelam dalam lautan pertanyaan hebat. Sekitar tiga minggu saya melakukan pergumulan hebat dengan diri sendiri, akhirnya saya sadar bahwa kegagalan adalah satu-satunya teguran dan respon terbaik yang diberikan Tuhan untuk saya. Ini semacam pecutan yang keras untuk diri saya sendiri agar saya terus belajar dan belajar lagi. 
 
Bisa jadi saya gagal karena terlalu pusing memikirkan luka batin yang belum sembuh serta eksistensi diri pasca kelulusan sekolah. Bisa jadi saya gagal karena saya terlalu nyaman dengan ilusi kelonggaran waktu yang ada selama gap year kemarin, hingga teperdaya dan akhirnya malas melakukan apa pun. Situasi-situasi seperti ini lah yang sempat membuat saya tidak banyak belajar dan berlatih lebih giat lagi. Inilah yang ingin saya perbaiki nanti. Saya berniat untuk menambah satu tahun lagi jeda sambil mempersiapkan diri sejak dini untuk pertempuran terakhir kalinya. 
 
Perlahan-lahan saya sudah mulai terbiasa dengan penolakan seperti ini. Karena yang namanya pengalaman gak selalu hal yang indah-indah. Pengalaman bisa berisi tentang hal-hal yang berhasil dicapai atau bisa juga hal-hal yang tidak pernah diharapkan. Seperti kegagalan saya ini. Menerima takdir yang tak sesuai dengan keinginan itu memang berat. Sangat berat! Tujuannya apa? Satu kata. Ikhlas. Ikhlas dengan jalan yang sudah Tuhan tetapkan untuk saya. Ikhlas menerima kenyataan bahwa saya belum berhasil kuliah tahun ini adalah suatu keberanian. 
 
Memang jalan yang saya pilih memang bukanlah jalan yang mudah. Bisa dibilang nekat dan tidak biasa. Di luar kebiasaan orang pada umumnya. Medannya sangat terjal. Peluangnya pun sangatlah kecil. Meskipun ada pilihan lain yang tampaknya lebih mudah, lebih nyaman, lebih enak; terlihat menyenangkan; banyak yang menginginkannya; serta menjadi angan yang sering diidam-idamkan banyak orang. Dengan tujuan akhir yang terlihat tak ada perbedaan satu sama lainnya. Namun saya tak yakin, apakah saya bisa menikmati setiap hal yang ada di dalamnya. Karena ini adalah kuliah, berbeda jauh dengan sekolah yang masih bisa dipaksakan. Saya tak ingin tersiksa lagi hanya gara-gara salah jurusan seperti yang pernah saya rasakan di masa putih abu-abu. 
 
Maka dari itu saya memutuskan untuk memilih jalan ini. Terlihat sangat beresiko, berbahaya, dan penuh tantangan besar. Namun saya harap terjaga nilai-nilai idealisme. Dalam segala proses dan lika-likunya, saya berusaha untuk menikmatinya. Saya selalu percaya bahwa semua pengalaman ini akan menguatkan pribadi saya dan membuat saya tangguh di masa mendatang. Saya akan menjadi lebih kuat dalam menghadapi situasi-situasi sulit yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Karena takdir-Nya tidak pernah salah, Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk saya, sedangkan saya tidak. 
 

Gagal itu hal yang biasa terjadi, bukan aib yang harus ditutupi. Akan menjadi luar biasa ketika kita bisa bangkit dari kegagalan itu. Memang nggak mudah untuk bangkit, saya pun harus jatuh bangun dalam menghadapi situasi-situasi sulit selama proses ini berlangsung. Tapi kita kan butuh kemajuan dalam hidup, kalau kita mau maju, berkembang dan sukses yaa tak ada pilihan selain harus belajar dari yang namanya kegagalan. Kegagalan bisa menjadi pemantik semangat karena sukses adalah sebuah pilihan. Kita bisa memilih kesuksesan macam apa yang kita inginkan. Tentunya dengan perjuangan yang terus berkelanjutan hingga kesuksesan itu bisa diraih. Yaaa terdengar sangat klise memang, tapi itu merupakan kebenaran. Saya jadi teringat kutipan almarhum Pak Sutopo yang sangat menginspirasi. 

 


Intinya, seberapa besar pun usaha ingat Tuhan tetap punya kuasa atas segala sesuatu. Jangan lupa bersyukur dan jangan larut dalam kesedihan karena sejatinya kuliah itu proses menimba ilmu, kualitas kita tergantung seberapa pandai kita mengendalikan diri di titik terendah dalam hidup. Tetap semangat!!!
 
 

Salam hangat, dari saya pejuang SBMPTN yang belum beruntung (lagi).. 
 
 






 
Sekian.
Read More

Sabtu, 17 Agustus 2019

Refleksi kemerdekaan dan makna SDM unggul

Dua minggu yang lalu listrik mati. Lama. Lebih dari sepuluh jam di tempat saya. Awalnya saya kira cuma sebentar, seperti biasanya. Tapi ternyata makin malam, justru makin sunyi. Tidak ada suara kipas angin, tidak ada lampu jalan menyala. Bahkan sinyal pun ikut lenyap. Rasanya seperti dipaksa diam di tengah dunia yang tiba-tiba kehilangan tenaga. Nah dari gelapnya peristiwa itu, justru ada hal yang menyala di kepala saya, kita ini sebenarnya sudah merdeka belum, sih?

Saya tahu, pertanyaan itu terdengar terlalu besar. Terlalu berat untuk dipikirkan saat sedang kehabisan daya baterai HP. Tapi mati listrik kemarin yang katanya hanya karena gangguan teknis di pembangkit utama membuat saya sadar satu hal, negara ini masih sangat rentan. Bahkan untuk hal yang paling mendasar sekalipun, listrik. Jika hal mendasar seperti energi saja belum bisa dijaga dengan baik, lalu bagaimana kita mau berbicara soal "SDM unggul" atau bahkan "Indonesia maju" yang menjadi tema utama perayaan tujuhbelasan tahun ini. 



Saya bukan ahli apa-apa. Saya cuma orang biasa yang suka mikir terlalu dalam di saat tidak ada yang minta. Tapi mungkin justru karena itu saya sering mempertanyakan banyak hal yang orang anggap biasa aja. Setiap tahun, kita pasang bendera. Kita nyanyikan lagu kebangsaan. Kita lomba makan kerupuk. Semua tradisi itu hangat, menyenangkan, dan jujur saja membawa kenangan masa kecil yang tak tergantikan. Tapi kalau dipikir-pikir, kadang kita terlalu sibuk merayakan kemerdekaan, sampai lupa menguji ulang maknanya. Karena buat saya, kemerdekaan itu bukan cuma soal masa lalu. Tapi tentang bagaimana kita menjalani hari ini. Tentang punya pilihan. Punya akses. Punya harapan.

SDM unggul, katanya. Saya sering mendengar jargon itu. Tapi sering juga bingung apa artinya dalam kehidupan sehari-hari. Apakah itu berarti harus punya gelar tinggi? Gaji besar? Kemampuan bicara lancar di depan umum? Atau SDM unggul itu orang-orang yang tetap bertahan walau hidup tidak mudah? Yang bangun pagi-pagi, kerja serabutan, tapi masih sempat bantu tetangganya? Yang belajar dari YouTube karena tak mampu bayar kursus, tapi tetap mau berkembang?Kalau itu definisinya, saya kenal beberapa SDM unggul di sekitar saya. Sayangnya, mereka tidak dianggap unggul oleh sistem hanya karena tidak "berlabel resmi". Maaf untuk mengatakannya, tapi ini memang benar adanya. 

Saya lagi-lagi mengambil contoh mati listrik kemarin yang ibarat kata seperti metafora kecil dari kenyataan yang lebih besar yaitu bangsa ini bisa punya visi yang hebat, tapi kalau fondasinya goyah, semua bisa lumpuh. Kita bisa bicara soal industri 4.0, digitalisasi, unicorn, energi terbarukan, dan sebagainya. Tapi kalau akses listrik saja tidak stabil, apa yang bisa dibanggakan? Kalau generasi mudanya masih harus meminjam kuota ke tetangga atau teman yang agak berada untuk bisa tetap belajar, ini bukan soal kesiapan teknologi—tapi ketimpangan yang nyata.

Saya tidak ingin terdengar sinis tapi saya juga tidak ingin membohongi diri sendiri. Saya pikir, Indonesia belum sepenuhnya merasakan keunggulan SDM-nya. Ya memang tidak harus terasa saat ini juga tapi setidaknya kita bisa jujur pada diri sendiri bahwa jalan kita masih panjang dan tidak semua orang mendapat jalur yang sama rata. Ada yang berangkat dari start yang nyaman, ada yang bahkan belum diberi sepatu. Buat saya pribadi, kemerdekaan itu bukan hanya soal seremoni. Tapi soal ruang. Ruang untuk gagal. Ruang untuk berkembang. Ruang untuk tumbuh. Ruang untuk belajar jadi diri sendiri.

Saya pernah merasa tidak "unggul" karena hidup saya tidak secepat orang lain. Tidak sekaya teman-teman saya. Tidak semulus jalur yang digembar-gemborkan para motivator. Tapi sekarang saya belajar menerima bahwa setiap orang punya waktunya masing-masing. Punya definisi suksesnya sendiri. Dan mungkin negara ini juga begitu. Sedang belajar dewasa, seperti kita. Masih banyak yang harus diperbaiki, tapi bukan berarti tidak bisa. Saya percaya Indonesia masih berpotensi untuk merasakan kualitas SDM yang berdaya saing tinggi. Tinggal kemauan untuk terus melaju, tidak peduli seberapa sulitnya rintangan ke depan. 

Tak ada negara di dunia yang yang benar-benar selesai dengan perjuangan memajukan kualitas bangsanya, bahkan negara maju sekalipun tetap masih melakukan pembangunan demi masa depan yang lebih baik. Kita semua sedang tumbuh, belajar, dan mencari bentuk yang ideal. Maka kalau hari ini kalian masih merasa kecil, merasa tertinggal, merasa belum jadi siapa-siapa itu wajar. Mungkin Indonesia pun sedang merasa hal yang sama. Kita bukan bangsa gagal. Kita hanya bangsa yang sedang bertumbuh. Kadang tertatih, kadang tergelincir, kadang terlalu sibuk meniru bangsa lain sampai lupa cara berjalan sendiri, tapi pada akhirnya kita akan selalu belajar dan itu sudah cukup untuk jadi alasan agar tak berhenti berproses. 


Terakhir, ini hanya sekadar trivia aja sih, entah kenapa, dari sekian banyak logo resmi yang pernah dirilis pemerintah, saya suka banget dengan logo 74 HUT RI tahun ini. Desainnya sederhana, bersih, dan punya kekuatan visual. Nggak terasa dipaksakan atau terlalu simbolik. Sangat enak dilihat. Daann yang paling bikin saya terkesima adalah angka 7 dan 4 menyatu dengan sempurna. Rapi, lugas, tapi tetap berkarakter. 

Ada rasa kekaguman yang muncul begitu saja. Mungkin karena logo ini tidak memaksa untuk tampil meriah. Logo terlihat tenang tapi juga kuat. Diam-diam menyampaikan pesan kemerdekaan dengan cara yang elegan. Dan yang bikin saya senyum sendiri, sekilas bentuknya seperti inisial nama saya ZA atau bahkan kayak tanggal lahir saya 24. Haha. Konyol juga dipikir-pikir. Tapi ya itulah yang membuatnya terasa lebih personal.

Saya rasa tim yang mendesain logo ini patut diapresiasi. Mereka berhasil meramu pesan yang kuat dalam bentuk yang sederhana. Tanpa perlu banyak elemen, tapi tetap membekas. Kadang hal sekecil itu saja cukup untuk membangkitkan perasaan bahwa saya masih terhubung dengan Indonesia, dengan cara yang paling sederhana. Lewat sepotong logo yang indah. 
Read More

Minggu, 11 Agustus 2019

Selamat Hari Raya Iduladha 1440 H!

Assalamu'alaikum.. Selamat pagi sobat. Syukur Alhamdulillah hirobbil'alamin kita masih diizinkan bertemu lagi dengan Hari Raya Qurban ini. Tidak ada lagi kata yang paling tepat untuk menggambarkan betapa bahagianya kita selain bersyukur. Karena sejatinya hidup ini adalah sebuah pencarian. Serahkan pencarian hidup kita hanya pada Yang Maha Kekal. Walaupun penuh pengorbanan, seperti pencarian dan pengorbanan Nabi Ibrahim AS yang Istiqomah. Ya memang cuma dari rangkaian kata ini yang bisa saya sampaikan. Air tak selalu jernih, begitu juga ucapan saya. Melalui tulisan ini saya mohon maaf yang sebesar-besarnya pada kalian semua, apabila masih banyak kesalahan. Semoga perjalanan hidup kita semakin mudah dengan rezeki yang cukup dan berkah.  




Semoga di hari raya ini, Allah SWT selalu memberikan kemudahan, berkah, rizki, dan kesehatan tentunya pada kita semua. Akhir kata saya pribadi mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha 1440 H. Minal aidin wallfaidin. mohon maaf lahir dan batin. Selamat berQurban sob!
Read More

Selasa, 06 Agustus 2019

Padam yang Membuka Mata

Selamat siang sobat blogger di mana pun kalian berada. Hari ini saya nulis sambil merenungi musibah pemadaman listrik hari minggu kemarin, terasa sangat menampar dan mengguncang kehidupan sehari-hari. Listrik yang biasanya gak pernah dianggap sebagai nikmat ketika ia menghilang baru dah terasa sekali dampaknya. Pemadaman yang terjadi kemarin itu mencakup Jabodetabek dan sebagian kota besar yang tersebar di daerah jawa yang dihuni oleh lebih dari 100 juta penduduk. 

Hal ini tampaknya telah mempengaruhi sebagian besar usaha untuk menggunakan genset di beberapa tempat seperti kantor, mal, dan apartemen. Namun itu tidak berlangsung lama, karena generator punya masa pakai yang terbilang sebentar hanya sekitar dua sampai tiga jam saja. Sedangkan pemadaman listrik ini kurang lebih hingga 10 jam lamanya. Bahkan sampai ada yang 16 jam di beberapa titik lokasi, saya salah satunya yang terdampak. Gimana ya, rasanya itu absurd. Dunia kayak dipaksa istirahat. Lampu mati, sinyal ilang, internet putus, dan semua jadi diam. Hening. Sepi. Tapi gak tenang.



Di tempat saya, listrik mati dari sekitar jam 12 siang sampai subuh sekitar jam 4 pagi. Sepanjang malam, seantero kota gelap gulita. HP udah mulai pada lowbat, sinyal juga gak ada, colokan jadi pada nganggur. Seperti biasa, media sosial sempat ramai sebentar sebelum akhirnya semua orang benar-benar kehilangan daya. Tagar #matilampu langsung meroket jadi trending topic nasional. Orang-orang jadi pada nyari sinyal keliling kota, ada yang ke atas gedung, masjid, sampe dataran tinggi. Beberapa warganet bahkan sempat bikin konten gelap-gelapan, ala-ala vlog survival dadakan. 

Kata berita, biang keladinya adalah gangguan transmisi di jalur SUTET Ungaran–Pemalang. Jalur utama trip, jalur cadangan lagi diservis. Alhasil, Pulau Jawa bagian barat dan tengah kolaps. Sistem kelistrikan PLN gak kuat nahan beban. Dan yang bikin tambah nyesek adalah kejadian ini terjadi di bulan kemerdekaan. Ketika banyak warga pada semangat bikin perlombaan dan festival menyambut tujuhbelasan di setiap akhir pekan, ehhh malah krik-krik tak berdaya. 

Mungkin ironis adalah kata yang tepat untuk menggambarkan peristiwa tersebut. Di usia yang menjelang 74 tahun kemerdekaan, Indonesia masih harus mengalami mati lampu massal dan terlama di era modern seperti saat ini dan parahnya, itu terjadi justru di bulan Agustus, bulan yang mestinya jadi simbol kemajuan dan semangat nasionalisme. Namun kenyataannya, sebagian dari penduduk Indonesia khususnya yang tinggal di Pulau Jawa malah merasakan kegelapan yang sangat mengganggu. Seolah-olah kemerdekaan belum sepenuhnya sampai ke urusan listrik yang sudah menjadi kebutuhan pokok. 



Pada titik ini, saya gak bisa gak mikir, kok bisa ya kejadian kayak gini sampai terjadi? Kok bisa satu sistem negara kita rapuh cuma karena satu jalur transmisi? Ini bukan cuma soal kenyamanan. Ini soal ketahanan energi. KRL MRT lumpuh, lampu lalu lintas mati, jaringan sinyal komunikasi tumbang. Bayangin kalau situasi genting terjadi bersamaan dengan blackout ini. Ngeri banget. Saya jadi ingat beberapa film yang menggambarkan gimana negara bisa lumpuh hanya dengan menyerang sektor energi. Di film, biasanya disabotase. Tapi kenyataannya kita nggak perlu disabotase dulu, karena kerentanannya udah kelihatan. Listrik padam 16 jam lebih dan semua jadi mandek. Kegiatan ekonomi terganggu, komunikasi mati, bahkan rumah sakit harus putar otak jaga mesin-mesin tetap nyala.

Saya sadar, ini mungkin cuma kekhawatiran saya. Tapi siapa yang bisa jamin besok-besok nggak ada pihak luar yang melihat celah ini? Kalau listrik bisa dipadamkan dalam hitungan menit, apa kita siap? Jujur, saya ragu. Jangan dikira cuma rugi uang. Iya, PLN rugi. Transportasi rugi. Logistik rugi. Komunikasi rugi. Usaha kecil apalagi. Tapi masyarakat juga merasakan kerugian yang tak kasat mata yaitu rasa aman. Kita jadi gelisah, nggak tahu mau ngapain. Anak-anak rewel, orang tua panik. Saya yang masih muda berusaha tetap tenang. Bahkan masjid yang biasanya selalu berkumandang azan setiap waktu solat sempat kesulitan karena speaker mati. Di rumah saya, kami sempat makan malam dengan lilin seadanya. Hangat sih, tapi juga getir. Selain itu ada beberapa teman cerita soal stok makanan yang basi, freezer mencair, pesanan online yang batal, dan kerjaan yang nggak bisa dikirim karena internet lumpuh. Makin runyam aja dah. 



Namun, ada hal aneh yang terasa indah dan langka. Di tengah segala kekacauan itu, ada satu hal yang bikin saya terdiam. Malam itu, selepas makan malam, setelah semua rumah gagal nyala, saya duduk di luar rumah. Hanya kegelapan yang mendominasi visual tapi begitu nengok ke atas, wahhh.. langitnya jernih juga. Berkurangnya polusi cahaya membuat bintang-bintang muncul. Udara juga terasa lebih tenang. Jadi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, saya merasa hidup melambat secara harfiah. Benar-benar satu jam itu lama banget tanpa adanya gawai di tangan. Hanya berusaha menikmati suasana yang tidak biasa. 

Di lain jam berikutnya, saya mencoba untuk lebih banyak ngobrol sama orang tua. Bukan basa-basi tapi obrolan yang hangat dan ngalir begitu saja. Kami bercerita banyak hal, yang biasanya tidak sempat dikeluarkan karena masing-masing sibuk dengan layarnya. Lagi-lagi ini momen yang langka terjadi. Akhirnya saya melihat sisi lain dari mati lampu yaitu sisi yang jujur dan cukup menyentuh bahwa listrik adalah nikmat yang selama ini tak terlihat. Kita menikmatinya tiap hari tanpa sadar, dan ketika nikmat itu seketika dicabut, kita kelabakan. Kita panik. Bahkan sebagian dari kita mencaci pemerintah, menyalahkan segalanya, seolah-olah tidak pernah belajar bersyukur.

Kegiatan selanjutnya untuk mengisi waktu yang terasa amat sangat lama ini adalah melakukan hal-hal yang selama ini tertunda karena terlalu sibuk main HP yaitu baca buku di luar rumah, olahraga ringan di halaman depan, bahkan nulis lagi di blog ini yang udah lama nggak saya sentuh. Saya mulai sadar gimana HP sering menyita waktu hidup saya. Karena baterai HP sangat terbatas, saya jadi hemat banget. HP cuma saya buka kalau betul-betul darurat. Rasanya kayak nyimpen oksigen terakhir di dalam kapal selam. Untungnya, keluarga kami sudah punya lampu emergency. Setidaknya itu membantu kami di tengah malam. Tapi tetap saja, tidur susah. Gak ada kipas, panas gerah, dan banyak nyamuk berdengung seakan bersorak merayakan mati lampu. Huff nasib. 



Yaaa terlepas dari keadaan tersebut, mati lampu sebenarnya dapat memberikan banyak hikmah bagi kehidupan, saya pribadi khususnya merasakan. Mati lampu lebih dari 16 jam itu memang mengganggu tapi peristiwa ini juga mengajarkan bahwa dalam gelap ada ruang untuk melihat, menata, dan memulai ulang kehidupan yang serba cepat. Terkadang saat dunia melambat kita justru sadar bahwa selama ini hidup kita terlalu terburu-buru. Peristiwa ini seakan membuka mata kita bahwa ada hal-hal yang perlu kita sadari:


  1. Infrastruktur kita masih rapuh. Ini bukan cuma soal sistem PLN, tapi soal tata kelola negara. Kita tidak bisa terus-menerus menyalahkan alam atau gangguan teknis. Perlu adanya reformasi dalam mitigasi pencegahan mati listrik massal yang mengancam ketahanan energi dalam negeri agar tidak terulang kembali peristiwa tersebut. 
  2. Ketergantungan kita pada teknologi sudah sangat tinggi. Di era digital seperti saat ini kita hidup di dunia yang serba cepat. Serba padat. Serba dikejar target. Sampai-sampai, terkadang kita merasa kesulitan untuk menemukan ketenangan meskipun hanya sejenak, untuk sekadar menikmati segala hal yang telah dianugerahkan Tuhan dan berada di sekitar kita. Sekali listrik mati, semua ikut tumbang: HP, internet, bank, transportasi. Kita terlalu bergantung tapi tidak punya alternatif.
  3. Kita kehilangan koneksi manusia. Makin ke sini makin sedikit dan sulit untuk tidak terhubung dan berinteraksi secara online di dunia maya. Baru terasa saat semua layar mati, bahwa ngobrol langsung itu ternyata lebih hangat, lebih bermakna, lebih terasa memorinya. Hubungan kita selama ini terlalu digital dan mati listrik ini memaksa kita kembali ke titik awal.
  4. Kita gampang panik. Saat rasa kenyamanan hilang, reaksi pertama kita pada umumnya adalah marah dan menyalahkan. Padahal yang dibutuhkan justru refleksi dan kesadaran diri. Apa perlu kita bereaksi seperti itu. Coba kita lihat sisi lain dan mencari hikmah apa yang bisa diberikan dari peristiwa ini. 
  5. Nikmat itu kadang baru terasa saat dicabut. Listrik, air, udara bersih, bahkan waktu. Pada saat nikmat itu memang jarang sekali yang mensyukurinya. Begitu hilang baru dah terasa kehilangan banget. Kita lupa bersyukur karena terbiasa nyaman. Jika kenikmatan ini berwujud manusia mungkin dia akan berkata "Kalian selama ini ini terlalu dimanjakan." 
  6. Kita belum siap menghadapi keadaan darurat. Tidak semua rumah punya senter atau lampu darurat. Tidak semua orang tahu harus bagaimana saat sistem digital mati. Kita terlalu percaya bahwa semuanya pasti akan baik-baik saja, padahal belum tentu. Ada masa kegentingan yang akan tiba secara mendadak tanpa pemberitahuan. Mau gak mau kita harus sedia payung sebelum hujan alias kita harus persiapan barang untuk kondisi darurat. 
  7. Banyak hal tertunda karena gadget. Waktu mati lampu, justru banyak hal yang tersentuh kembali seperti buku yang lama nggak dibaca, pikiran yang lama nggak diajak berpikir, dan obrolan ringan yang selama ini dibutuhkan makhluk sosial. Itu adalah aktivitas yang seharusnya diperbanyak selain menggulir layar tak kenal waktu. 
  8. Kesederhanaan itu menenangkan. Tanpa layar, tanpa bising notifikasi, dunia terasa lebih pelan. Benar-benar kayak disuruh istirahat dulu dari silaunya sorotan hiruk pikuk dunia. Secara gak langsung hal ini memang dibutuhkan setiap orang untuk bisa mengambil jeda untuk sekadar diam dan menyadari apa yang selama ini dilakukan sudah benar alias introspeksi diri. Momen yang tepat memang pada saat ujian hidup seperti ini melanda. 


Oke cukup sekian dulu tulisan saya yang ngalor ngidul gak karuan ini, sampai jumpa di tulisan berikutnya. Tulisan ini bukan nasihat, bukan juga ceramah. Saya cuma berbagi sudut pandang sebagai orang biasa yang sempat panik tapi kemudian banyak belajar. Semoga bisa jadi pengingat bareng-bareng, bukan semata-mata menyalahkan siapa-siapa. Saya harap kejadian ini nggak terulang.

Jangan lupa bahwa listrik bukan sesuatu yang bisa disepelekan. Listrik bukan hanya sumber penerangan tapi dia adalah fondasi kehidupan modern. Dan waktu dia pergi, semua ikut runtuh. Jangan lupa bahwa satu gangguan bisa jadi domino effect buat jutaan orang. Semoga dari kejadian ini, ada perubahan. Bukan cuma di level PLN atau pemerintah, tapi juga di diri kita sendiri. Lebih siap. Lebih sadar. Lebih saling terhubung. Lebih banyak bersyukur. Dan jangan lupa juga bahwa saat semua teknologi runtuh, yang tersisa hanyalah kita manusia. Karena kalau mati listrik kemarin bisa bikin kita sadar bahwa hidup bukan sekadar terang maka kegelapan itu setidaknya gak sia-sia, masih ada hikmah yang bisa didapatkan. Semoga setelah peristiwa ini berlalu lampu tetap menyala dan kesadaran kita akan hal-hal kecil dan sederhana tidak pernah padam.

Read More

Jumat, 02 Agustus 2019

Gagal Lagi

Akuuuuu memaang belum beruntuuung...

Gagaaal.. Dan selalu gagal lagi..


Begitulah kira-kira penggalan lirik lagu yang paling pas digambarkan untuk kondisi saya saat ini. Akhir agustus kemarin itu pengumuman terakhir ujian mandiri yang saya ikuti yaitu UM UNS dan saya gagal lagi. Padahal saya udah Gap Year tapi kenapa saya gak lolos di PTN mana pun. Saya merasa kosong, karna ini jalur terakhir yang bisa saya ikuti buat masuk PTN incaran saya. Perasaan sedih terus menerus menyelimuti hari-hari saya. Walau saya tau ini adalah jalan terbaik yang telah diberikan oleh Sang Pencipta. Tapi masih ada aja pikiran busuk dari hati kotor ini yang kurang bersyukur atas segala nikmat yang tak terhingga. Hmm.. Saya berusaha ikhlas menerima kenyataan pahit ini lagi dan lagi. Saya harus bisa beradaptasi dengan kegagalan baru ini. Tidak ada salahnya juga untuk saya dapat rehat sejenak dari hingar bingar dunia yang serba cepat dan dinamis setelah setahun berjuang keras. Maka dari itu sebagai pelipur diri akan penolakan yang baru saja saya terima, saya memutuskan membuat postingan khusus ini agar bisa tetap semangat menjalani hari-hari baru yang semakin menantang pasca gagalnya seleksi penerimaan mahasiswa baru. 


Daripada terus meratapi kesedihan, mungkin untuk saat ini saya ingin merefleksikan kembali perjalanan apa saja yang saya dapatkan selama setahun terakhir ini. Walaupun saya gagal kuliah tahun ini, saya ingin melihat sisi positif dari gap year yang baru saja saya lalui. Setelah dicermati lebih dalam, ternyata saya mendapatkan banyak hikmah yang bisa diresapi. Salah satunya adalah saya jadi bisa lebih dekat dengan orang tua. Karena setelah saya amati lingkungan sekitar, makin bertambahnya usia, makin jarang anak yang bisa dekat dengan orang tuanya. Di usia-usia seperti ini kebanyakan anak lebih dekat dengan teman-temannya atau kalau yang sudah punya pasangan pasti fokusnya lebih banyak ke pasangannya atau istilah jaman sekarang itu bucin alias budak cinta. Jadi komunikasi dengan orang tua itu ya mungkin seperlunya doang.

Alhamdulillah.. Selama setahun terakhir ini, saya lebih punya banyak waktu untuk bercengkrama dengan beliau berdua setelah sekian lama tak melakukannya karena sibuk sekolah. Membahas segala hal tentang kehidupan yang sekira perlu untuk saya. Tentang cinta yang harus diberikan, tentang kasih sayang yang terus disalurkan dan tentang sisi gelap maupun terang dalam kehidupan yang belum benar-benar saya ketahui. Sebagai seorang anak telah hidup lebih dari 19 tahun, Saya memang harus mengetahui hal-hal seperti ini. Agar hidup bisa seimbang.

Selain itu, menurut saya untuk saat ini satu-satunya cara saya tuk dapat membahagiakan kedua orang tua saya adalah dengan membantu meringankan pekerjaannya. Ini waktu yang tepat untuk berbakti kepada orang tua, karena saya sadar selama ini sudah merepotkannya. Walaupun saya tau mereka tidak pernah merasa direpotkan, karena saya kan anaknya. Kalau Kata orang kebanyakan mah, Untuk anak, apa sih yang gak dikasih sama orang tua. Begitu kira-kira. Tapi tetap saja saya ingin memberikan kontribusi terbaik untuk mereka berdua selama masa Gap Year ini berlangsung.

Setelah berbulan-bulan saya membantunya hingga menjadi rutinitas, saya menemukan apa yang disebut dengan bahagia. Bagi saya bahagia itu sederhana, ketika melihat beban orang tua sedikit berkurang karena saya. Saya jadi tau bahwa mencari rupiah itu sulit. Maka dari itu saya bercita-cita mengubah arah perusahaan bapak saya ke bidang yang lebih menguntungkan. Dan tentunya butuh ilmu yang banyak untuk mewujudkan itu. Nahh.. Itulah pentingnya pendidikan yang lebih tinggi, agar tidak mudah ditipu orang. Tanpa ada ilmu, bagaimana caranya bisa membesarkan suatu perusahaan? Begitulah barangkali pemikiran saya kenapa masih ingin melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Walaupun memang jalan menuju PTN itu sangat berliku-liku karena saya berasal dari SMK dan lintas jurusan pula.

Saya harus tetap belajar dari kegagalan yang kemarin. Karena belajar mempunyai kekuatan untuk mengubah kita menjadi orang sukses. Semua orang sukses pastinya pernah mengalami kegagalan. Namun mereka tak menyerah dan terus berulang-ulang mencoba. Tidak pernah ada kesuksesan yang dapat diperoleh secara instan. Salah satu langkah menggapai dan mencicipi kesuksesan adalah dengan belajar dari pengalaman dan belajar memperbaiki kekurangan yang ada. 

Tampak sangat jelas bukan bahwa langkah ditempuh sebuah kesuksesan tiada lain adalah dengan belajar dan belajar. Artinya belajar memiliki kekuatan yang ampuh untuk menyajikan kesuksesan untuk kita nikmati. Jadi jika rasa lelah yang menghambat kita untuk belajar, maka cukup yakini saja bahwa suatu saat usaha ini akan berbuah kesuksesan untuk diri kita sendiri. Maksud kesuksesan ini tentunya tidak diartikan hanya dalam kekayaan saja. Kesuksesan di sini dalam artian yang lebih luas seperti dalam bidang akademik, hubungan sosial, keyakinan dan kesuksesan-kesuksesan yang lainnya. 

Walau harapan saya lolos PTN tahun ini belum tercapai, tapi setidaknya saya jadi lebih bermanfaat untuk keluarga dan bisa mengendalikan diri dari kecanduan media sosial yang tak akan ada habisnya. Itu merupakan suatu hal yang luar biasa bagi saya selama setahun terakhir ini. Dan inilah cerita kegagalan saya masuk PTN untuk kedua kalinya, mana cerita kegagalan kalian?


Read More