Ada kalanya sebuah perjalanan sederhana bisa berubah menjadi cerita yang berkesan. Bukan tentang pergi jauh atau liburan mewah ke negeri orang, tapi tentang langkah kecil yang memberikan pengalaman baru di ibu kota. Kemarin, pada hari minggu tanggal 27 Oktober, saya bersama abang dan adik saya memutuskan untuk pergi ke Jakarta. Tujuan kami tidak muluk-muluk yaitu mencoba MRT Jakarta untuk pertama kalinya. Moda transportasi yang baru saja diresmikan Maret lalu itu sudah ramai dibicarakan orang, dan kami penasaran ingin merasakannya sendiri.
Perjalanan kami dimulai cukup pagi. Sekitar pukul setengah tujuh, kami berangkat dari rumah menuju stasiun Metland Telaga Murni. Sebenarnya ada pilihan untuk langsung menggunakan bus atau transportasi online menuju pusat kota, tapi saya ingin merasakan bagaimana rasanya berpindah dari satu moda transportasi ke moda lainnya. Jadi kami memutuskan untuk memulai dengan KRL Commuter Line. Selain lebih terjangkau, ada sensasi tersendiri menaiki kereta dari Bekasi, melihat perlahan-lahan pemandangan berganti dari rumah-rumah sederhana hingga gedung-gedung perkotaan.
Suasana pagi itu masih belum terlalu padat, sehingga ketika kereta datang, saya bisa duduk dengan nyaman. Di dalam kereta, saya memperhatikan sekeliling. Ada para pekerja dengan wajah yang masih sedikit mengantuk, ada keluarga yang tampak ingin berekreasi ke pusat kota, ada pula pemuda pemudi yang sibuk menatap layar ponsel mereka. Sementara itu, saya justru sibuk memperhatikan jendela. Dari balik kaca, pemandangan bergulir cepat mulai dari pepohonan, jalan raya, rumah-rumah, hingga perlahan berganti menjadi gedung-gedung tinggi yang mulai menampakkan dirinya. Saya teringat, betapa berbedanya Jakarta dengan kota asal saya tinggal. Jakarta tampak seperti dunia lain yang bergerak terlalu cepat, sementara saya hanya seorang penumpang yang mencoba menyesuaikan diri dengan arus utama.
Sekitar satu jam kemudian, kami transit di stasiun Manggarai untuk lanjut naik KRL yang menuju ke stasiun Sudirman. Sekitar 15 menit kemudian kami akhirnya tiba di Stasiun Sudirman. Pukul 08.32, catatan waktu itu masih saya ingat jelas karena menjadi penanda momen penting. Kami keluar stasiun, dan sebelum melanjutkan perjalanan, sempat berfoto-foto di terowongan Kendal. Terowongan itu rupanya sudah ditata begitu rapi, dengan mural-mural menarik yang membuat suasana tidak sekadar jalan penghubung biasa. Ada perasaan bahwa Jakarta sedang berusaha tampil lebih ramah, lebih indah, walau tetap ramai dan riuh.
Dari terowongan Kendal, kami berjalan menuju pintu masuk MRT Dukuh Atas. Pintu masuknya besar dan modern, dengan desain arsitektur yang menurut saya cukup elegan. Saat melangkah menuruni tangga, saya merasa sedikit kagum. Ada sesuatu yang berbeda, seperti masuk ke dunia lain yang lebih rapi, teratur, dan futuristik. Begitu masuk ke dalam, hawa sejuk dari AC langsung menyambut. Kesan yang diberikan nyaman sekali, seakan-akan saya sedang berada di luar negeri. Rasanya seperti membuka lembaran baru, seolah-olah Jakarta yang biasa saya lihat hanya dari kejauhan kini menawarkan wajah yang berbeda.
Kami membeli tiket berupa kartu MRT, lalu turun lagi ke peron. Sambil menunggu kereta datang, kami berfoto-foto. Tentu, momen pertama ini tidak boleh terlewatkan. Saat kereta tiba, saya perhatikan gerbongnya bersih, modern, dan terawat. Tidak terlalu ramai pagi itu, sehingga kami bisa memilih tempat duduk. Begitu MRT mulai berjalan, saya benar-benar bisa merasakan perbedaan. Gerakannya halus, nyaris tanpa suara, berbeda dengan KRL yang lebih bising. Dari balik kaca, saya menyaksikan jalanan Jakarta yang padat oleh kendaraan, gedung-gedung modern yang menjulang, dan struktur lintasan MRT yang berdiri di tengah-tengah jalan raya. Rasanya luar biasa, kota ini benar-benar punya wajah baru.
Perjalanan pertama kami berakhir di Stasiun Lebak Bulus. Kami sengaja memilih stasiun ini karena ingin melihat langsung Depo MRT. Dari sana, terlihat deretan kereta yang tersusun rapi. Lagi-lagi, kami berfoto untuk mengabadikan momen. Ada kebanggaan tersendiri bisa berada di sana, meski hanya sebagai pengunjung biasa. Setelah puas, kami mulai merasakan lapar. Tujuan berikutnya sudah kami sepakati yaitu Blok M dengan kawasan yang terkenal dengan kulinernya.
Kami kembali naik MRT dan turun di Stasiun Blok M. Begitu sampai, suasana langsung berubah. Blok M terasa lebih hidup, dengan orang-orang berlalu lalang dan berbagai aroma makanan yang menggoda. Kami berjalan berkeliling, sempat bingung harus makan apa, hingga akhirnya kami memutuskan untuk makan di restoran D’Cost di dalam Blok M Square. Makanan nusantara sangat mengenyangkan. Rasanya lega ketika perut terisi dengan baik, setelah sejak pagi hanya ditemani semangat dan rasa penasaran.
Namun ternyata hari masih panjang. Matahari baru berada di tengah, dan kami bertiga belum ingin pulang. Setelah diskusi kecil, kami memutuskan menonton film di bioskop XXI Blok M Square. Saya dan adik menonton film drama “Bebas”, sementara abang memilih film horor “Perempuan Tanah Jahanam”. Keputusan yang sederhana, tapi menyenangkan. Rasanya seperti perjalanan kecil ini berubah menjadi liburan singkat, padahal hanya sehari.
Waktu berlalu cepat. Tahu-tahu sudah sore, dan kami sadar harus segera pulang agar tidak terlalu malam di perjalanan. Perjalanan kembali ke rumah dengan MRT dan KRL menjadi penutup dari hari yang penuh pengalaman pertama. Suasana sore hari terasa padat dengan penumpang, kami bahkan sampai tidak kebagian duduk. Akhirnya kami berdiri sampai stasiun pemberhentian terakhir. Selama perjalanan pulang saya menghayati apa yang telah dilalui seharian itu sambil merenung. Rasanya menyenangkan sekaligus menenangkan, bahwa saya bisa mencoba sesuatu yang baru bersama keluarga. Ada rasa syukur yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Perjalanan kemarin lebih dari sekadar menjajal transportasi baru, hari itu membuat saya melihat Jakarta dari sisi yang berbeda. Saya bisa merasakan denyut nadi keramaian Kota ini, dari hiruk-pikuk KRL, mural penuh warna di terowongan Kendal, hingga modernitas MRT yang menjadi simbol baru. Jakarta bukan hanya tentang kemacetan, panas, dan kebisingan. Ada juga upaya membangun, berbenah, dan memberikan harapan baru bagi warganya.
Bagi saya pribadi, pengalaman ini lebih dari sekadar jalan-jalan biasa. Ada makna unik di baliknya. Saya belajar bahwa mencoba sesuatu yang baru tidak harus selalu jauh atau mahal. Kadang, hal-hal mudah seperti naik MRT untuk pertama kalinya bisa menghadirkan rasa kagum, kebahagiaan, bahkan kebanggaan tersendiri. Saya juga merasa bahwa perjalanan itu mengingatkan saya untuk tidak meremehkan kota sendiri. Jakarta, dengan segala masalahnya, tetap punya sisi yang patut diapresiasi.
Tak teras matahari sudah mulai tenggelam, kami akhirnya sampai di rumah sore hari sekitar jam lima. Badan mungkin sedikit lelah, tapi hati terasa ringan. Semua langkah yang telah kami jalani sejak pagi, dari Bekasi hingga Lebak Bulus, dari Blok M hingga kembali lagi ke rumah, menjadi cerita yang lengkap. Saya merasa bahwa hari itu berhasil mempertemukan banyak hal yaitu kebersamaan, pengetahuan baru, dan juga pengalaman yang layak diingat.
Secara keseluruhan, perjalanan pertama dengan MRT Jakarta adalah cerita kecil yang layak dikenang, sebuah potongan sejarah pribadi yang suatu hari nanti mungkin akan saya ceritakan lagi. Bahwa pada tanggal 27 Oktober itu, saya, abang, dan adik, bersama-sama menjejakkan langkah moda transportasi baru di Jakarta, ikut merasakan denyut modernitas, dan menyimpan kenangan yang tak akan habis oleh waktu. Saya bisa melihat Jakarta dari perspektif baru, bukan hanya sebagai kota yang padat dan melelahkan, tapi juga sebagai tempat yang sedang terus tumbuh dan berubah.







0 comments:
Posting Komentar
Silahkan komentar, bebas asal sopan dan relevan.