Setiap orang punya beban yang selalu dipikul. Mau berat atau ringan, semua bergantung pada bagaimana kita menjalaninya. Bersyukur adalah salah satu cara agar beban itu terasa lebih ringan, karena dengan bersyukur kita diingatkan bahwa nikmat Tuhan ternyata jauh lebih besar daripada beban yang kita pikul.
Pernah suatu ketika, melihat anaknya yang selalu terlihat murung seakan tak ada semangat menjalani hari, bapak saya memanggil saya untuk ngopi bareng. Tanpa disangka, beliau memberikan beberapa wejangan. Wah… ini dia momen yang saya tunggu-tunggu. Sebuah nasihat yang rasanya seperti air di tengah dahaga, penguat untuk menapaki masa depan yang masih menjadi misteri.
Beliau bertanya kenapa saya selalu tampak tak bersemangat. Seperti kehilangan arah. Lalu saya ceritakan beberapa hal yang selama ini memenuhi kepala saya. Sampai akhirnya pembicaraan kami sampai pada soal rasa syukur.
Kata beliau, “Orang beruntung itu adalah orang yang pandai bersyukur.”
Saya pun bertanya,
“Jadi orang yang selalu bersyukur itu pasti beruntung?”
Bapak tersenyum kecil, lalu menjawab,
“Tergantung kacamatanya. Atau perspektif lah istilahnya. Karena perspektif itu penting. Walau banyak orang yang melihat sesuatu itu tidak baik, kita harus mencari alasan untuk membuktikan kebenaran yang sesungguhnya. Yaitu kebenaran Tuhan.
Kalau dilihat dari kacamata agama, yaa… orang yang selalu bersyukur itu insyaAllah selalu beruntung. Dalam artian bahwa dia benar-benar dicukupkan rezekinya. Gimana caranya supaya bisa bersyukur? Jangan terlalu sering melihat ke atas, nanti jatuh. Lihatlah ke bawah, supaya kita sadar betapa beruntungnya kita.”
Saya terdiam mendengarnya. Penjelasan itu begitu sederhana tapi menampar. Saya lalu bertanya lagi,
“Jadi takdir itu harus dicari atau diterima?”
Bapak menjawab, “Takdir itu perlu dicari, tapi dalam pencariannya ada hal-hal yang harus diterima. Dan dibuktikan kebenarannya.”
Sejak saat itu saya semakin penasaran tentang takdir. Takdir adalah keputusan Tuhan yang tidak dapat ditolak oleh manusia. Tidak ada satu pun makhluk yang bisa mengubahnya. Namun, apakah itu berarti kita tidak boleh mengupayakan takdir baik dalam hidup kita?
Dalam perenungan itu, saya juga teringat akan konsep qodho dan qodar. Qodho adalah ketetapan Allah yang sudah pasti terjadi, sementara qodar adalah ukuran atau jalan yang kita lalui hingga ketetapan itu terwujud. Qodho ibarat tujuan akhir, sementara qodar adalah langkah-langkah yang harus ditempuh.
Bapak melanjutkan, “Manusia itu berjalan di atas qodar yang sudah ditentukan, tapi setiap langkahnya tetap diberi pilihan. Tugas kita bukan melawan takdir, tapi menjemputnya dengan ikhtiar.”
Dari situlah saya mengerti, menerima takdir bukan berarti menyerah tanpa usaha. Justru setiap ikhtiar yang kita lakukan adalah bagian dari qodar yang Allah atur, hingga akhirnya bermuara pada qodho-Nya. Bersyukur pun bukan sekadar reaksi setelah menerima hasil. Ia adalah cara kita merangkul qodar yang sedang berjalan—percaya bahwa setiap kesulitan dan kemudahan adalah bagian dari rancangan Tuhan yang sempurna.
Ketika memikirkan hal itu, saya pun menoleh pada diri saya sendiri. Sudah dua kali gagal masuk kuliah. Saya belum jadi apa-apa, bahkan terkadang merasa tertinggal jauh dibandingkan teman-teman lain yang sudah melangkah lebih dulu. Tapi, jika saya lihat dari kacamata yang bapak ajarkan, mungkin inilah bagian dari qodar saya. Bukan untuk membuat saya merasa kalah, tetapi untuk mengajarkan bahwa setiap perjalanan punya waktunya sendiri.
Saya mulai sadar, penerimaan terhadap takdir bukan berarti berhenti mencoba. Penerimaan justru membuat langkah kita lebih ringan, karena kita tidak lagi menolak kenyataan. Kita berusaha, kita jatuh, kita bangkit lagi—dan di setiap proses itu, kita sedang berjalan di atas qodar yang mengantarkan kita pada qodho yang terbaik.
Bersyukur dalam keadaan seperti ini tidak mudah, tapi justru di sinilah letak nilainya. Bersyukur bukan hanya untuk mereka yang sedang berada di puncak, tapi juga untuk mereka yang masih berjuang di lembah. Mungkin saya belum mencapai mimpi saya, belum mendapatkan apa yang saya inginkan, tapi saya masih diberi kesempatan untuk hidup, untuk mencoba lagi, untuk menata ulang mimpi yang sempat runtuh. Dan hal itu sendiri adalah sebuah nikmat.
Menurut saya, maksud dari perkataan bapak “Orang beruntung itu adalah orang yang pandai bersyukur” adalah bahwa keberuntungan bukanlah sekadar kebetulan. Ia juga lahir dari sikap seseorang dalam menjalani hidup. Orang yang pandai bersyukur mampu menghargai segala hal, baik ataupun buruk. Mereka bisa melihat keberuntungan yang sering tersembunyi di balik kesulitan.
Dengan bersyukur, kita belajar memandang hidup dengan kacamata yang berbeda. Kita tidak lagi terlalu takut pada masa depan atau menyesali masa lalu, karena kita tahu semua yang terjadi adalah bagian dari qodar yang mengantarkan kita pada qodho. Pada akhirnya, saya pun tersadar, sekeras apa pun keinginan saya untuk memutar waktu, itu semua tidak akan berguna. Nyatanya itu hanya lamunan yang tak akan mengubah apa pun dalam hidup saya. Bahkan hanya akan menyeret saya pada penyesalan yang lebih dalam.
Kita semua sedang berjalan di jalan yang berbeda-beda. Ada yang cepat, ada yang lambat. Ada yang sudah berada jauh di depan, ada yang masih mencari pijakan pertama. Tapi lambat bukan berarti kalah, dan tertunda bukan berarti gagal. Karena qodho dan qodar bukan tentang siapa yang lebih cepat sampai, tapi siapa yang tetap berjalan meski langkahnya tertatih. Tuhan tidak menilai kita dari hasil yang tampak di mata manusia, melainkan dari kejujuran hati kita dalam menapaki jalan yang sudah Ia ukur.
Mungkin hari ini saya belum diterima kuliah. Mungkin saya belum belum bisa jadi sesuatu yang bisa dibanggakan. Mungkin saya belum menjadi siapa-siapa. Tapi saya percaya, ini semua bagian dari perjalanan yang Allah pilihkan. Ada alasan di balik setiap keterlambatan, ada makna di balik setiap penantian. Dan jika saya terus bersyukur, mungkin kelak saya akan melihat bahwa semua ini bukanlah kemunduran, melainkan cara Tuhan mempersiapkan saya.
Jadi, untuk diri saya sendiri—dan siapa pun yang membaca tulisan ini—ingatlah bahwa takdir bukan untuk dilawan, melainkan untuk dijemput dengan ikhtiar. Syukurilah apa yang ada, terimalah apa yang belum kesampaian, dan percayalah pada Allah SWT yang menulis cerita ini sejak awal. Karena di balik setiap kesulitan, selalu ada takdir baik yang menunggu untuk diungkap pada waktunya.
"Hidup dan mati ada dalam genggaman Illahi. Takdir adalah kepastian, tapi hidup harus tetap berjalan. Proses kehidupan adalah hakikat, sementara hasil akhir hanyalah syariat. Gusti Allah akan menilai ketulusan perjuangan manusia, bukan hasil akhirnya. Kalaupun harus menjumpai kematian, itu artinya mati syahid di jalan Tuhan."
- Pangeran Diponegoro


0 comments:
Posting Komentar
Silahkan komentar, bebas asal sopan dan relevan.