Dua minggu yang lalu listrik mati. Lama. Lebih dari sepuluh jam di tempat saya. Awalnya saya kira cuma sebentar, seperti biasanya. Tapi ternyata makin malam, justru makin sunyi. Tidak ada suara kipas angin, tidak ada lampu jalan menyala. Bahkan sinyal pun ikut lenyap. Rasanya seperti dipaksa diam di tengah dunia yang tiba-tiba kehilangan tenaga. Nah dari gelapnya peristiwa itu, justru ada hal yang menyala di kepala saya, kita ini sebenarnya sudah merdeka belum, sih?
Saya tahu, pertanyaan itu terdengar terlalu besar. Terlalu berat untuk dipikirkan saat sedang kehabisan daya baterai HP. Tapi mati listrik kemarin yang katanya hanya karena gangguan teknis di pembangkit utama membuat saya sadar satu hal, negara ini masih sangat rentan. Bahkan untuk hal yang paling mendasar sekalipun, listrik. Jika hal mendasar seperti energi saja belum bisa dijaga dengan baik, lalu bagaimana kita mau berbicara soal "SDM unggul" atau bahkan "Indonesia maju" yang menjadi tema utama perayaan tujuhbelasan tahun ini.
Saya bukan ahli apa-apa. Saya cuma orang biasa yang suka mikir terlalu dalam di saat tidak ada yang minta. Tapi mungkin justru karena itu saya sering mempertanyakan banyak hal yang orang anggap biasa aja. Setiap tahun, kita pasang bendera. Kita nyanyikan lagu kebangsaan. Kita lomba makan kerupuk. Semua tradisi itu hangat, menyenangkan, dan jujur saja membawa kenangan masa kecil yang tak tergantikan. Tapi kalau dipikir-pikir, kadang kita terlalu sibuk merayakan kemerdekaan, sampai lupa menguji ulang maknanya. Karena buat saya, kemerdekaan itu bukan cuma soal masa lalu. Tapi tentang bagaimana kita menjalani hari ini. Tentang punya pilihan. Punya akses. Punya harapan.
SDM unggul, katanya. Saya sering mendengar jargon itu. Tapi sering juga bingung apa artinya dalam kehidupan sehari-hari. Apakah itu berarti harus punya gelar tinggi? Gaji besar? Kemampuan bicara lancar di depan umum? Atau SDM unggul itu orang-orang yang tetap bertahan walau hidup tidak mudah? Yang bangun pagi-pagi, kerja serabutan, tapi masih sempat bantu tetangganya? Yang belajar dari YouTube karena tak mampu bayar kursus, tapi tetap mau berkembang?Kalau itu definisinya, saya kenal beberapa SDM unggul di sekitar saya. Sayangnya, mereka tidak dianggap unggul oleh sistem hanya karena tidak "berlabel resmi". Maaf untuk mengatakannya, tapi ini memang benar adanya.
Saya lagi-lagi mengambil contoh mati listrik kemarin yang ibarat kata seperti metafora kecil dari kenyataan yang lebih besar yaitu bangsa ini bisa punya visi yang hebat, tapi kalau fondasinya goyah, semua bisa lumpuh. Kita bisa bicara soal industri 4.0, digitalisasi, unicorn, energi terbarukan, dan sebagainya. Tapi kalau akses listrik saja tidak stabil, apa yang bisa dibanggakan? Kalau generasi mudanya masih harus meminjam kuota ke tetangga atau teman yang agak berada untuk bisa tetap belajar, ini bukan soal kesiapan teknologi—tapi ketimpangan yang nyata.
Saya tidak ingin terdengar sinis tapi saya juga tidak ingin membohongi diri sendiri. Saya pikir, Indonesia belum sepenuhnya merasakan keunggulan SDM-nya. Ya memang tidak harus terasa saat ini juga tapi setidaknya kita bisa jujur pada diri sendiri bahwa jalan kita masih panjang dan tidak semua orang mendapat jalur yang sama rata. Ada yang berangkat dari start yang nyaman, ada yang bahkan belum diberi sepatu. Buat saya pribadi, kemerdekaan itu bukan hanya soal seremoni. Tapi soal ruang. Ruang untuk gagal. Ruang untuk berkembang. Ruang untuk tumbuh. Ruang untuk belajar jadi diri sendiri.
Saya pernah merasa tidak "unggul" karena hidup saya tidak secepat orang lain. Tidak sekaya teman-teman saya. Tidak semulus jalur yang digembar-gemborkan para motivator. Tapi sekarang saya belajar menerima bahwa setiap orang punya waktunya masing-masing. Punya definisi suksesnya sendiri. Dan mungkin negara ini juga begitu. Sedang belajar dewasa, seperti kita. Masih banyak yang harus diperbaiki, tapi bukan berarti tidak bisa. Saya percaya Indonesia masih berpotensi untuk merasakan kualitas SDM yang berdaya saing tinggi. Tinggal kemauan untuk terus melaju, tidak peduli seberapa sulitnya rintangan ke depan.
Tak ada negara di dunia yang yang benar-benar selesai dengan perjuangan memajukan kualitas bangsanya, bahkan negara maju sekalipun tetap masih melakukan pembangunan demi masa depan yang lebih baik. Kita semua sedang tumbuh, belajar, dan mencari bentuk yang ideal. Maka kalau hari ini kalian masih merasa kecil, merasa tertinggal, merasa belum jadi siapa-siapa itu wajar. Mungkin Indonesia pun sedang merasa hal yang sama. Kita bukan bangsa gagal. Kita hanya bangsa yang sedang bertumbuh. Kadang tertatih, kadang tergelincir, kadang terlalu sibuk meniru bangsa lain sampai lupa cara berjalan sendiri, tapi pada akhirnya kita akan selalu belajar dan itu sudah cukup untuk jadi alasan agar tak berhenti berproses.
Terakhir, ini hanya sekadar trivia aja sih, entah kenapa, dari sekian banyak logo resmi yang pernah dirilis pemerintah, saya suka banget dengan logo 74 HUT RI tahun ini. Desainnya sederhana, bersih, dan punya kekuatan visual. Nggak terasa dipaksakan atau terlalu simbolik. Sangat enak dilihat. Daann yang paling bikin saya terkesima adalah angka 7 dan 4 menyatu dengan sempurna. Rapi, lugas, tapi tetap berkarakter.
Ada rasa kekaguman yang muncul begitu saja. Mungkin karena logo ini tidak memaksa untuk tampil meriah. Logo terlihat tenang tapi juga kuat. Diam-diam menyampaikan pesan kemerdekaan dengan cara yang elegan. Dan yang bikin saya senyum sendiri, sekilas bentuknya seperti inisial nama saya ZA atau bahkan kayak tanggal lahir saya 24. Haha. Konyol juga dipikir-pikir. Tapi ya itulah yang membuatnya terasa lebih personal.
Saya rasa tim yang mendesain logo ini patut diapresiasi. Mereka berhasil meramu pesan yang kuat dalam bentuk yang sederhana. Tanpa perlu banyak elemen, tapi tetap membekas. Kadang hal sekecil itu saja cukup untuk membangkitkan perasaan bahwa saya masih terhubung dengan Indonesia, dengan cara yang paling sederhana. Lewat sepotong logo yang indah.
-01.jpg)
-03.jpg)
0 comments:
Posting Komentar
Silahkan komentar, bebas asal sopan dan relevan.