Jumat, 17 Januari 2020

Jumat yang Menyentuh Jiwa

Hari Jumat selalu punya cara tersendiri untuk menyapa hati saya. Sejak pagi, udara terasa sejuk karena hujan dari malam membuat langkah kaki saya bersemangat untuk jalan pagi sambil meregangkan badan setelah seminggu penuh bekerja membantu orang tua. Karena hanya di hari jumat saya mendapatkan kelonggaran waktu alias hari jumat adalah hari libur wajib setiap pekannya. Saya sempat berolahraga sebentar, lalu sarapan, kemudian menekuni hobi sederhana yaitu menulis dan membaca buku. Rutinitas kecil yang justru menjadi penyelamat di tengah padatnya hari-hari lain. Kalau sudah melakukan aktivitas tersebut kadang saya suka lupa waktu, tau-tau udah menjelang solat jumat. Akhirnya saya harus mempersiapkan diri untuk melaksanakannya. 

Jumat yang menyentuh jiwa


Seperti biasa siang hari waktu jumat, khotib selalu membawakan materi khutbah Jumat yang berbeda setiap minggunya. Selain ajakan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. ada banyak nasihat serta pengingat kebenaran bagi jemaah solat jumat. Nah untuk minggu ini saya merasa sedikit berbeda. Kali ini khotib membahas tentang bangkit dari keterpurukan. Entah kenapa ini pas banget pada suasana otak saya yang lagi-lagi terombang-ambing dengan perasaan yang hampir menyerah karena belum jadi apa-apa sedangkan saya sudah memasuki usia hampir 20 tahun. 

Isi ceramahnya kurang lebih mengingatkan para jemaah untuk tidak mudah putus asa dan harus selalu percaya pertolongan Allah itu ada dan datang di waktu yang tepat. Percaya bahwa takdir-Nya pasti yang terbaik. Percaya bahwa di balik kesulitan pasti ada kemudahan. Seakan Allah Yang Maha Mendengar sedang menjawab bisikan hati saya selama ini. Sebab beberapa hari terakhir, saya diliputi rasa lelah tak berkesudahan. Entah kenapa setiap awal tahun pikiran saya sering menengok ke belakang hanya untuk mengingat kegagalan. Saya membandingkan diri dengan orang lain lalu jatuh dalam jurang kekecewaan. Dalam doa pun, kadang ada desahan pasrah bercampur protes. Namun, khutbah jumat kemarin mengetuk hati saya dengan kalimat sederhana yaitu jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah. Seperti dalam firman-Nya:

“...dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah, melainkan orang-orang yang kafir.”
(QS. Yusuf: 87)


Surat ini salah satu yang dibawakan khatib jumat. Ayat ini turun ketika Nabi Ya’qub AS menasihati anak-anaknya agar tetap mencari kabar tentang Nabi Yusuf dan saudaranya. Tafsir sederhananya yaitu jangan pernah merasa Allah meninggalkan kita, meski keadaan tampak gelap dan penuh kegagalan. Putus asa itu sifat orang yang tak lagi percaya pada kasih sayang Allah. Bagi orang beriman, harapan itu harus terus ada. Ayat ini mendorong manusia untuk terus berjuang dalam menghadapi kesulitan hidup dan selalu berserah diri kepada Allah, karena hanya Dia lah adalah sumber segala karunia dan kebaikan. 

Ayat ini seperti pelukan yang menenangkan jiwa saya. Selama ini saya terlalu cepat menutup pintu, terlalu mudah merasa kalah, padahal rahmat Allah itu luas tak terbatas. Justru di titik terendah itulah saya seharusnya semakin yakin bahwa Allah masih punya rencana. Dalam hati saya selalu bertanya, "mengapa saya begitu takut pada cap manusia gagal?" Setelah lama berpikir terus menerus saya tersadar, mungkin karena saya selalu menganggapnya sebagai akhir, bukan proses.

Padahal kalau dipikir-pikir, hidup ini mirip seperti anak kecil belajar naik sepeda. Pasti ada fase jatuh berkali-kali, namun ia tak pernah menyerah. Justru setiap kali terjatuh, ia semakin mahir dan percaya diri. Hal inilah yang menguatkan langkahnya. Sifat anak kecil memang terkadang memiliki rasa tak kenal lelah sebelum berhasil. Nah Kalau anak kecil bisa melakukannya, mengapa saya yang sudah mulai menginjak dewasa tidak bisa semangat seperti itu? Kan saya juga pernah menjadi anak kecil? Cobalah bangkitkan kembali daya juang anak kecil itu yang sudah lama terpendam belasan tahun. 

Saya juga sering lupa, bahwa kegagalan bukan berarti Allah membenci saya. Bisa jadi justru sebaliknya, banyaknya kegagalan yang telah saya lalui adalah tanda bahwa Allah ingin melindungi saya dari sesuatu yang belum layak saya terima. Seperti seorang ayah yang menahan anaknya agar tidak memegang api, bukan karena benci, tapi karena sayang. Begitulah Allah dengan hamba-Nya. Ceramah itu seakan menyingkap tabir kecil dalam diri saya. Saya tersadar bahwa saya harus berhenti mengukur hidup dengan kacamata dunia semata. Keterpurukan bukan aib, melainkan ruang belajar. Kegagalan bukan penutup, tapi pintu menuju pengalaman baru. Karena saya yakin, Allah tidak akan mengubah keadaan saya kalau saya tidak berusaha mengubahnya sendiri, sebagaimana firman-Nya:

 “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini seperti cerminan kalau saya ingin bangkit, saya harus mulai bergerak. Tak ada gunanya hanya diam atau menunggu. Perubahan besar selalu lahir dari langkah-langkah kecil. Dan saya juga ingat satu janji Allah yang menenangkan hati:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya...”
(QS. Al-Baqarah: 286)

Saat mendengar ayat ini dibacakan, hati saya seperti disentuh lembut. Betapa sering saya berkata dalam hati, "Ya Allah, aku tidak sanggup." Padahal kenyataannya, saya masih sanggup, hanya saja terlalu cepat menyerah. Allah sudah lebih tahu batas kemampuan hamba-Nya daripada hamba itu sendiri. Semua beban dan ujian sudah diukur oleh Allah sesuai dengan kemampuan manusia. Kalau kita diuji seberat itu, berarti Allah tahu kita bisa menanggungnya. Kadang memang kita merasa tak kuat, tapi kenyataannya kita tetap bertahan hingga hari ini. Itu bukti bahwa Allah selalu menopang kita, meski dengan cara yang kadang tak kita sadari.

Wah, setelah selesai solat Jumat saya merasa seperti diisi ulang semangat dan daya juang untuk bisa bangkit lagi menghadapi kegagalan dan ujian hidup. Saya percaya Allah sedang mempersiapkan yang terbaik untuk saya. Di sisa hari sehabis solat jumat hingga matahari terbenam saya habiskan untuk berpikir dan berpikir. Merenungi benar-benar makna dari ceramah tadi. Entah mengapa, hati saya terasa lebih ringan. Ada rasa percaya yang mulai tumbuh bahwa pertolongan Allah itu selalu dekat, meski sering tidak saya sadari. Saya ingin berbenah mulai dari hal-hal kecil seperti memperbaiki shalat, memperbanyak istighfar, menulis dengan lebih jujur, dan berdoa tanpa lelah. 

Hari Jumat kali ini benar-benar meninggalkan kesan yang mendalam. Seolah Allah mengatur setiap detiknya untuk mengingatkan saya untuk tidak menyerah. Seakan khutbah tadi adalah jawaban dari setiap doa lirih yang pernah saya panjatkan. Saya menulis panjang di buku catatan saya malam itu, agar makna ini tidak cepat hilang. Sebagian tulisan saya buat postingan blog ini. Saya menuliskan kegagalan-kegagalan yang pernah saya alami, lalu mencoba melihatnya dari sudut pandang baru. Ternyata, ada hal-hal baik yang lahir dari kegagalan itu. Ada tempat baru yang saya kenal, ada pelajaran sabar yang saya dapat, ada kedekatan dengan Allah yang semakin tumbuh. Kalau bukan karena rentetan kegagalan yang sudah dilalui, mungkin saya tidak akan pernah belajar sedekat ini dengan Sang Pencipta.


Alhamdulillah... 
Read More

Selasa, 31 Desember 2019

Dua Puluh Dua Puluh

Selamat malam sobat! Pertama-tama, untuk mengakhiri tahun 2019 ini tentu saja kita harus mengucapkan syukur kepada Sang Pencipta, Allah SWT sebagai Yang Memberi Rizki kepada kita. Karena segala nikmat yang kita dapatkan setiap harinya itu tidak lain datangnya dari Allah SWT. Itu sebabnya, alangkah baiknya jika kita mengingatkan diri sendiri untuk selalu bersyukur. Alhamdulillah hirobbil'alamin.... 
 
Hari ini adalah hari terakhir di tahun 2019. Hujan yang awet dari tadi sore tidak mengurungkan niat saya untuk membuat postingan khusus sebagai ungkapan rasa syukur untuk tahun yang mana banyak sekali hal-hal yang baru pertama kali saya rasakan. Ada yang bilang bahwa untuk berubah memerlukan sebuah momentum. Dan bagi saya, sebaik-baiknya momentum adalah malam pergantian tahun baru. Momentum terbaik untuk berubah. Dengan mengawali tahun 2020 degan bersyukur, tentunya kita jadi lebih siap dalam menjalani hari-hari baru yang semakin hari semakin menantang. 
 

Tahun 2020 juga merupakan awal dari dekade baru ini. Tidak ada salahnya untuk meningkatkan sesuatu yang kurang dan mempertahankan hal yang dianggap telah baik. Dengan begitu, rencana yang telah dibuat setelahnya tidak akan terganggu. Salah satu yang harus dipertahankan adalah kesehatan mental. Saya baru menyadari betapa pentingnya kesehatan mental itu pada tahun ini.
 
Semua kenangan..
Semua perjalanan.. 
Semua tantangan.. 
Semua kesedihan...
semua keindahan...
Semua kebahagiaan...
 
Yang telah saya lalui di Tahun 2019 semoga menjadi inspirasi dan motivasi untuk saya menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Saya berkomitmen untuk menjadi pribadi yang lebih peduli dan sayang pada diri sendiri. Saya menerima kesuksesan dan kegagalan yang telah lalu. Saya menerima kurang dan lebihnya diri saya.
 
Dari sekian banyaknya tantangan yang menerjang, tahun 2019 bisa saya simpulkan merupakan titik awal perubahan besar dalam hidup saya. Saya jadi lebih tenang dalam menjalani rutinitas kehidupan dengan segala permasalahnya. Saya merasakan apa yang sebelumnya tak pernah saya tau. Saya jadi lebih manusia lah rasanya.

Terima kasih akan semua hal itu yang terangkum menjadi satu dalam folder yang berlabel 2019. Semua terjadi begitu cepat dan berlalu walaupun ada beberapa hal yang bisa diperbaiki dan yang tak bisa diperbaiki. Terima kasih kepada tahun-tahun yang telah membagi sedikit rasa yang pernah dirasakan. Sekarang mah saya harus banyak bersyukur saja agar diri ini dapat merasakan kebahagiaan lagi, karena saya selalu yakin bahwa rencana Allah SWT selalu yang terbaik.
 
 
Selamat datang tahun kembar!
Read More

Sabtu, 28 Desember 2019

Coretan Akhir Tahun 2019

Selamat malam sobat blogger! 
Gimana kabar kalian semua di akhir tahun ini? Saya harap kondisi kalian dalam kondisi yang sehat dan bahagia selalu. Sekarang sudah memasuki akhir tahun yang berarti saatnya saya untuk membuat postingan khusus tentang kilas balik peristiwa yang saya alami selama tahun 2019, sebagai ungkapan rasa syukur untuk tahun yang mana banyak sekali hal-hal yang baru pertama kali saya rasakan. Walau masih ada yang tidak sesuai dengan harapan, setidaknya saya tidak dengan sengaja meremehkan alur ciptaan Tuhan atas perjalanan hidup saya. Tahun 2019 punya banyak momen yang menegangkan sekaligus menyenangkan, maka dari itu saya mencoba merangkum beberapa momen yang sangat melekat di ingatan saya dalam sebuah post yang seperti biasa saya sebut dengan Coretan Akhir Tahun 2019. Tujuan dari post ini simpel sebenarnya agar tidak mudah lupa aja. Oke. Yaudah langsung saja sob!
 
► Januari - Maret 2019 
Dari awal mulainya tahun 2019 saya sudah semakin disibukkan dengan aktivitas belajar memahami materi ujian SBMPTN yang tinggal hitungan minggu lagi. Selain belajar kegiatan saya yang sebenarnya yaitu membantu kegiatan sehari-hari bisnis milik orang tua saya yang kebetulan semenjak saya lulus sekolah lagi kekurangan pekerja. Jadinya saya bisa dibilang pekerja lepas di usaha orang tua saya. Lumayan dah buat mengisi waktu luang. Tapi terkadang saya kewalahan dan kesulitan untuk menyeimbangkan porsi keduanya. Ada hari-hari di mana saya semangat berjuang dan ada hari-hari di mana saya pasrah dan mengikuti kehendak tubuh untuk melakukan istirahat yang panjang. 
 
► 13 April 2019
Bulan april merupakan bulan yang sangat dinanti-nantikan oleh para pelajar di seluruh Indonesia karena akan dilaksanakan UTBK gelombang pertama. UTBK dilaksanakan dari tanggal 13 April sampai 26 Mei, dengan 12 kali waktu ujian dan dibagi menjadi dua gelombang. Para peserta bisa mengikuti tes maksimal dua kali. Jadi, apabila skor kita di UTBK satu lebih kecil, maka kita bisa menggunakan skor UTBK kedua, begitupun sebaliknya. Intinya skor tertinggi yang akan diseleksi dengan skor peserta lain. Jadi sekarang untuk bisa mengikuti SBMPTN tahun ini kita harus mempunyai nilai UTBK terlebih dahulu. UTBK itu nama tesnya, sedangkan SBMPTN itu nama seleksinya. Untuk gelombang pertama ini saya melaksanakan UTBK nya di SMKS PGRI 1 BOGOR yang berlokasi di Bogor Barat, Kota Bogor.
 
► 17 April 2019 
Kalau UTBK adalah momen ditunggu-tunggu oleh pelajar. Kalau momen ini ditunggu-tunggu juga, tapi skalanya lebih besar lagi yaitu oleh semua warga negara Republik Indonesia. Kita semua pasti sangat antusias adanya datangnya pesta demokrasi terbesar di dunia, Pemilu 2019! Ini merupakan pemilu pertama yang akan saya laksanakan selama menjadi warga negara Indonesia. Pemilu 2019 terdiri dari pemilihan umum legislatif dan pemilihan presiden yang akan diselenggarakan serentak 17 April. Saya benar-benar antusias dalam mengikuti setiap tahapan-tahapan dalam berdemokrasi ini. Dan alhamdulillah semua proses memilih ini berjalan dengan lancar.
 
 
► 4 Mei 2019
Avengers Endgame!! Siapa yang tidak tahu film paling diantisipasi tahun ini? Menyimak kelanjutan cerita para Avengers dan melihat kondisi dunia pasca hilangnya separuh populasi alam semesta memang sangatlah menarik. Dan ini adalah pengalaman pertama saya nonton film dengan format IMAX. Saya sengaja nonton film Avengers Endgame ini di studio IMAX untuk merayakan klimaks dari cerita dari INFINITY SAGA setelah sepuluh tahun eksis di dunia perfilman. Sangat layak film ini ditonton dalam format IMAX. Parade CGI yang sangat memukau membuat saya senang sekali. Saya benar-benar puas nonton film ini dengan format IMAX, layarnya lebih lebar dan nyaman. Pengalaman yang berkesan dan tak akan pernah terlupakan bagi saya. 
 
 
► 11 Mei 2019
Jadi untuk UTBK tahun ini memang ada keistimewaan di mana ujiannya bisa mengikuti dua kali tes. Saya sebenarnya kaget mendengar kabar ini. Saya bertanya-tanya waktu itu apakah kesempatan saya untuk lolos terbuka lebar? Entahlah. UTBK Gelombang II ini dilaksanakan pada 11- 26 Mei 2019. Dan lagi-lagi saya harus mengikuti ujiannya di hari pertama gelombang kedua. UTBK Gelombang II ini saya melaksanakannya di Karawang tepatnya di kampus UNSIKA. Dan yang lebih menantangnya lagi saya ujiannya pada saat bulan puasa ramadan. Behh jadi terasa lebih greget ini sebenarnya. 
 
► 10 Juni 2019 
Pada tanggal ini saya sekeluarga beserta nenek untuk pertama kalinya berkunjung ke candi terbesar di dunia yaitu Candi Borobudur. Perjalanan ini mungkin bukan sesuatu yang luar biasa dalam ukuran umum, mungkin orang lain sudah biasa ke sana bahkan ada yang sudah berkali-kali. Tapi bagi keluarga kami yang jarang melakukan perjalanan bersama, ini menjadi semacam simpul baru. Tidak mengubah dinamika keluarga secara drastis, tapi cukup untuk memberi ruang pada rasa yang kadang terlalu lama disimpan dalam diam. Buat saya pribadi, ini adalah perjalanan kecil yang menyisakan banyak rasa. Saya merasa lebih dekat dengan keluarga saya, lebih mengenal sejarah negeri, dan lebih menghargai momen sederhana yang kadang sering terlewat begitu saja.
 
► 9 Juli 2019 
Ini adalah hari Pengumuman SBMPTN 2019, saya lagi-lagi harus menerima kenyataan pahit ini. Saya gagal di percobaan kedua kalinya mengikuti SBMPTN. Jujur, Rasanya sangat campur aduk hingga membuat saya tak nafsu makan. Antara sedih, gemas dan tentu saja kesal. Padahal waktu itu saya sengaja mengulur waktu buat liat hasilnya. Sebelumnya, saya sudah yakin kalau saya akan lolos SBMPTN kali ini. Saya cukup percaya diri karena ikut test UTBK dua kali, namun takdir berkata lain, nyatanya saya tidak lolos. Cukup menyedihkan memang, tapi saya berusaha menerimanya. 
 
► 20 & 21 Juli 2019 
Karena saya gagal lolos seleksi kuliah lewat jalur SBMPTN, saya akhirnya  memberanikan diri untuk mengikuti test seleksi mandiri untuk pertama kalinya. Saya merasa, saya harus berusaha lebih jauh lagi dalam mengambil kesempatan yang ada di masa seleksi penerimaan mahasiswa baru tahun ini. Jadilah saya memilih ujian mandiri (UM) di IPB, UNDIP dan UNS. Untuk yang IPB, seleksinya memakai nilai UTBK. Dan untuk kedua terakhir memakai nilai murni ujian tertulis. UM UNDIP ujiannya di kota Bekasi tepatnya di Duren Jaya, Bekasi Timur. UM UNS ujiannya di Jakarta tepatnya di kampus UNJ, Jakarta Timur. Saya bela-belain mengikuti ujian tersebut dengan harapan ada yang lolos di salah satu UM. 
 
► 31 juli 2019
Ini adalah pengumuman terakhir ujian mandiri yang saya ikuti dan saya gagal. Secara resmi menandakan bahwa saya gagal kuliah tahun ini. Saya ditolak oleh semua PTN incaran saya. Mulai dari SBMPTN sampai ujian mandiri sudah saya lakukan. Ingin saya menangis untuk yang kesekian kalinya, tapi saya sadar sekarang dunia tak sebaik yang dibayangkan. Kecewa sudah pasti ada, rasanya seperti jatuh ke lubang yang sama karena saya gagal untuk yang kedua kalinya. Sedih pun hampir tak bisa dibendung, mata saya sempat berkaca-kaca begitu mengetahui bahwa saya gagal lagi. Emosi pun mulai bergejolak kembali. Ingin saya menangis untuk yang kesekian kalinya, tapi saya urungkan karena saya sudah sadar sepenuhnya bahwa ini adalah ketetapan terbaik yang Tuhan berikan untuk saya. Saya mencoba ikhlas menerimanya.
 
 
► 4 - 5 Agustus 2019 
Di awal bulan kemerdekaan ada peristiwa yang cukup menghebohkan warga Ibukota dan sekitarnya. Selama kurang lebih 16 jam lamanya listrik di wilayah JABODETABEK mati. Saya pun ikut terkena pemadaman listrik ini. Kalau diingat-ingat, selama 19 tahun saya hidup, baru kali ini saya merasakan mati listrik yang sangat lama. Bagi saya Ini merupakan mati listrik terparah. Saya tak pernah merasakan pemadaman selama ini, saya jadi gak bisa beraktivitas normal seperti biasanya. Gak cuma saya sih, semua orang yang tinggal di JABODETABEK merasakan hal yang sama. Banyak pihak yang dirugikan atas matinya listrik yang sangat vital keberadaannya di zaman modern. Ini adalah momen buruk selama tahun 2019 berjalan.
 
► 31 Agustus 2019 
Pada tanggal ini saya nonton film Gundala. Bisa dibilang Ini adalah film Indonesia pertama yang saya tonton di bioskop, kenapa saya bisa berkata seperti itu? Karena saya memang kurang tertarik dengan film Indonesia yang kebanyakan diisi dengan genre horor atau drama. Kalaupun nonton pasti di tv gak pernah di layar lebar. Kebetulan film ini mengangkat tema superhero dan laga. Dua genre favorit saya. Gak perlu mikir panjang, saya pun jadi tertarik untuk menontonnya, jarang-jarang film lokal ada yang seperti ini. Secara keseluruhan film ini sangat menghibur. Walaupun saya gak begitu tau kisah aslinya dari komik tapi tetap bisa diikuti oleh penonton awam. Luar biasa film Gundala! 
 
► 27 Oktober 2019 
Di akhir oktober, saya berkesempatan untuk menjajal transportasi teranyar yang baru saja diresmikan bulan maret yang lalu oleh presiden dan merupakan kereta bawah tanah pertama di Indonesia yaitu MRT Jakarta. Kenapa baru bulan itu yaa karena baru sempatnya saat itu. Saya bangga akhirnya Indonesia bisa punya transportasi umum yang canggih, modern, dan keren seperti MRT ini. Saking kagumnya, saya sampai tak menyangka hidup di saat MRT Jakarta ini sudah beroperasi. Pengalaman yang tak pernah saya lupakan seumur hidup. 
 
 
► 20 Desember 2019
Akhir tahun saya tutup dengan menonton film STAR WARS!! Seumur-umur saya belum pernah nonton film star wars langsung di bioskop. Selalu tak ada kesempatan untuk bisa berkunjung ke bioskop pada saat ada film star wars. Nahh begitu tau tahun ini ada film star wars episode terbaru saya langsung masukan list daftar nonton film saya. Karena ini adalah momen yang langka di mana saya sedang mengambil jeda tahun jadi saya punya waktu luang lebih banyak dan bertepatan dengan adanya film star wars yang akan di bioskop di mana franchise film ini adalah kesukaan saya. Maka dari itu untuk merayakannya maka saya nontonnya di bioskop IMAX. Ini adalah pengalaman kedua kalinya saya nonton di bioskop tahun ini dengan layar yang super lebar dan nyaman. 
 


Yak.. Mungkin itu saja yang bisa saya ceritakan tentang tahun 2019 versi saya. Kalau dilihat-lihat sih memang lebih banyak kegiatan menghibur diri daripada kegiatan yang benar-benar penting. Tapi gak masalah sih sebenarnya. Mudah-mudahan ini dapat menjadi sebuah pengingat, paling tidak untuk saya sendiri. Biar gak mudah lupa juga mengenang masa lalu. Dan pada akhirnya di antara beberapa tulisan saya di tahun ini, saya masih dapat merangkumnya untuk menjadi sebuah Coretan akhir tahun yang cukup mewakili atas segala sesuatu yang terjadi sepanjang tahun 2019. 

 
Bisa dikatakan tahun 2019, walaupun lebih banyak pengalaman pertama menjajal sesuatu, tapi sejujurnya lebih banyak dirasakan oleh hati alias perasaan. Saya terlalu banyak memakai perasaannya dalam menanggapi berbagai macam hal. Saya gak tau apa yang telah terjadi di dalam diri saya. Tahun ini banyak campur aduknya. Mungkin 2019 akan selalu saya ingat sebagai proses menjadi seorang manusia seutuhnya dengan adanya coretan ini. Saya harap rasa sedih yang menyertai tahun ini cepat berakhir. Saya berharap semoga tahun depan akan lebih baik lagi dari tahun ini. Yaudah lah saya kayaknya saya sudah terlalu panjang nulis ke sana ke mari bahas apa aja yang terjadi di tahun ini, maka dari itu untuk tulisan ini saya cukupkan dulu. Kurang lebihnya mohon dimaafkan. Sekian. Terima kasih banyak telah membaca! 
 
 
 
Selamat akhir tahun 2019 sob!
Read More