Sabtu, 11 Juli 2020

Setelah Tekanan Itu Hilang

Halo! Selamat pagi sobat blogger di mana pun kalian berada. Gimana kabarnya kalian semua? Saya harap kondisi kalian baik-baik saja ya. Saya ingin cerita sedikit tentang kondisi yang saya rasakan saat ini. Sudah beberapa hari sejak saya menyelesaikan UTBK terakhir, saya merasakan keanehan yang aneh. Bukan gugup, bukan takut, bukan juga lega. Lebih seperti rasa kosong yang tiba-tiba terbentuk di dalam kepala. Seolah-olah sesuatu yang selama ini menancap dan memenuhi hari-hari saya mendadak dicabut. Setelah itu saya dibiarkan kebingungan berdiri di tengah hamparan lahan yang luas tanpa tahu harus melangkah ke mana. 

Awalnya saya pikir setelah ujian itu akan merasa lega. Bisa tidur panjang tanpa rasa bersalah, bisa nonton film tanpa dihantui waktu yang terbuang, bisa makan banyak tanpa dihitung sebagai "calon penyesalan" . Tapi ternyata, begitu ujian selesai dan semua hal itu diperbolehkan, rasanya malah janggal. Seperti tubuh saya sudah lupa bagaimana rasanya hidup tanpa tekanan. Beberapa kali saya membuka ponsel, lalu menutupnya lagi. Jalan ke dapur, lalu bingung mau ngapain. Duduk di kamar, menatap dinding, mencoba memikirkan sesuatu yang penting tapi tidak ada. Tidak ada apa pun. Persis seperti ilustrasi gambar ini 


Saya berusaha semaksimal mungkin memahami kondisi ini, saya perlahan-lahan mengenali gejala aneh ini dengan banyak cara dan metode. Saya pikir masalahnya bukan kelelahan. Bukan juga bosan. Lebih seperti kehilangan arah sejenak setelah sekian lama berlari hanya ke satu tujuan besar. Setelah saya hubungkan dengan perjalanan saya sampai saat ini mungkin ini adalah efek samping dari selesainya ujian saya. Setelah ujian itu lewat, rasanya saya berdiri memandangi sekeliling, dan ternyata tidak ada petunjuk ke mana harus pergi selain menunggu. Banyak yang bilang ini fase normal, semacam kehampaan setelah peristiwa besar. Tapi rasanya tetap aneh. Rasa hampa yang menekan tapi tidak menyakitkan, kosong tapi tidak sepenuhnya gelap.

Hari-hari saya jadi terasa datar. Saya bangun tanpa rencana, bergerak tanpa tujuan, mengerjakan hal-hal kecil dengan setengah sadar. Kadang saya memaksa diri untuk bersih-bersih, membantu orang tua, atau olahraga ringan, sekadar agar tubuh saya tidak ikut tenggelam dalam kekosongan yang sama. Tapi setelah itu selesai, saya kembali ke titik yang sama. Duduk tanpa tahu apa yang sebenarnya sedang saya inginkan. Satu hal yang paling bikin saya bingung adalah fakta bahwa seharusnya saya merasa bebas. Tanggung jawab belajar yang selama ini menyedot energi sudah hilang. Tidak ada lagi jam belajar yang kaku. Tidak ada lagi tekanan mencatat target setiap hari. Namun anehnya, tubuh saya seperti belum menerima kenyataan itu. Ada perasaan seperti "harusnya saya melakukan sesuatu yang bermanfaat" , tapi saya bahkan tidak tahu kegiatan apa itu. 

Saya tidak lagi menyentuh materi pelajaran untuk berjaga-jaga mengikuti persiapan ujian mandiri karena saya memang tidak berniat untuk ikut serta dalam ujian mandiri. Alasannya mungkin sudah bisa ditebak, ya karena biayanya yang cukup mahal untuk kondisi sulit seperti pandemi yang saat ini tengah berlangsung. Ada hal yang harus bisa direm dan diatur ulang agar semua bisa tepat sasaran. Itu yang ditekankan bapak saya berkali-kali. Jadinya ya sudahlah. Saya hanya bisa pasrah dengan keadaan yang ada. "Nothing to lose" istilah kerennya. Jika nanti pengumuman UTBK keterima ya alhamdulillah, jika tidak ya saya akan mencari kerja sungguhan untuk bisa membantu perekonomian keluarga. 

Nah di tengah rasa hampa itu, muncul pikiran kecil yang awalnya ingin saya abaikan, yaitu menulis. Pikiran terus berkata setiap harinya, "Coba tulis saja. Apa pun itu." Semacam naluri lama di otak yang terbangun dari tidur panjang. Mungkin karena saya butuh tempat untuk menuangkan kebingungan yang tidak bisa dijelaskan lewat percakapan biasa. Mungkin karena menulis selalu menjadi cara terbaik saya untuk memahami apa yang sedang terjadi di dalam diri ini ketika semuanya terasa sangat kabur.

Alhasil, saya berusaha fokus lagi lalu duduk dan membuka blog ini lagi, sebuah ruang aman yang sudah lama saya abaikan dan hanya saya buka sesekali ketika pikiran saya butuh tempat pulang. Rasanya memang sedikit canggung. Seperti bertemu teman lama dan tidak tahu harus memulai dari mana. Tapi di saat yang sama, ada kepuasan kecil yang muncul hanya karena saya pada akhirnya menekan tombol "postingan baru". Dan jujur saja, alasan saya mencurahkan hal ini selalu sederhana, saya sedang berusaha menghancurkan kekosongan ini. Atau setidaknya, saya memberikan bentuk pada rasa itu lewat kata-kata. Karena terkadang kehampaan yang tidak diberi nama atau bahkan diabaikan justru semakin membesar, sementara yang dicatat perlahan punya batas dan terkadang bisa menghilang sendiri. 

Saya tidak tahu apakah tulisan ini akan membuat perasaan saya membaik. Tapi setidaknya sekarang saya sedang melakukan sesuatu. Sedikit demi sedikit, saya mulai bergerak lagi, bukan karena harus, tapi karena saya tidak ingin tenggelam dalam ruang kosong ini sendirian. Mungkin beberapa hari ke depan masih akan terasa sama. Mungkin juga perasaan ini hilang tiba-tiba. Saya tidak tahu. Tapi untuk sekarang, menulis adalah langkah kecil yang bisa saya lakukan. Dan kadang, langkah kecil seperti ini sudah cukup untuk membuat saya merasa semangat lagi. 
Read More

Senin, 06 Juli 2020

UTBK Terakhir

Selamat malam sobat blogger!
 
Hari ini saya ingin bercerita tentang ujian yang sudah saya tunggu-tunggu tahun ini, apalagi kalau bukan UTBK 2020. Ini adalah UTBK terakhir yang akan saya laksanakan selama menjadi warga negara Republik Indonesia. Sungguh sangat amat terasa berbeda dengan UTBK yang pernah saya lakukan. UTBK tahun 2020 adalah salah suatu pengalaman yang cukup berkesan bagi saya, banyak sekali kejutan yang saya dapatkan hahahaha. Kenapa bisa saya katakan seperti itu? Karena saya benar-benar tidak menyangka akan seribet ini persiapannya. Mulai dari pendaftaran sampai saat UTBK nya berlangsung itu semua sangat menyusahkan. Dalam artian bahwa saya lebih fokus ke hal-hal teknis daripada belajar itu sendiri. Oke dari pada kelamaan langsung aja disimak ya sob.
 
Jadi begini ceritanya.. Mulai dari awal daftar dulu kali yak. Registrasi akun LTMPT kan dibuka februari, saya baru mendaftarkan diri pada tanggal 17. Lalu selang seminggu kemudian virus korona mulai menyerang seluruh dunia. Awal bulan maret, virus ini mulai terdeteksi di Indonesia. Dengan adanya beberapa pasien yang dinyatakan positif di daerah Depok. Seluruh lapisan masyarakat pun panik menyikapi adanya virus ini karena penyebarannya yang sangat masif. Saat itulah keresahan saya sebagai pejuang SBMPTN mulai muncul. Saya mulai bertanya-tanya, apakah ada kemungkinan untuk ditunda ujian masuk perguruan tinggi tahun ini? Mengingat tinggal sebulan lagi pelaksanaan UTBK berlangsung. Dan benar saja, sebulan kemudian tepatnya pada tanggal 6 April, Lembaga penyelenggara SBMPTN yaitu LTMPT,  mengeluarkan surat edaran yang isinya :
  • Pengunduran waktu SBMPTN sampai bulan Juli 
  • Sistem SBMPTN menjadi sekali tes
  • Materi tes yang diujikan HANYA Tes Potensi Skolastik (TPS)
Apa aja yang bikin greget sekarang? Okelah pengunduran waktu ujian yang lama memberi saya kesempatan belajar lebih banyak lagi. Tapi sistem yang berubah dari yang awalnya sistem ujian dilakukan sekali menjadi dua kali lalu menjadi sekali lagi, hingga penghapusan materi Tes Potensial Akademik (TKA) ini tentu bikin saya agak syok. Terlalu beresiko. Sampai-sampai ada guyon yang kurang lebih seperti ini, "Apakah nanti anak IPS bisa masuk kedokteran?" Saking bingungnya para pejuang PTN dikasih info seperti ini. Banyak teman-teman seperjuangan di media sosial yang sambat. Bahkan hingga mencapai trending topic Indonesia di Twitter. Otomatis persaingannya makin tinggi dong karena banyak camaba yang bisa seenaknya lintas jurusan, apalagi saya dari SMK. Peluang untuk bisa lolos itu sangatlah kecil. Mau gak mau strategi belajar harus diubah, begitu pula strategi memilih universitas. Hmm.. Makin-makin lah saya bingung menyusun kembali rencana besar tahun ini jikalau memang takdir saya gak bisa kuliah. 
 

H-33 UTBK. Tibalah pendaftaran SBMPTN di awal juni. Lagi-lagi saya dibuat galau oleh LTMPT. Setelah keputusan kontroversinya yang menghapus materi TKA karena adanya pandemi virus korona, ternyata eh ternyata.. pas daftar SBMPTN nya gak bisa seenaknya lintas jurusan! Sial banget nasibku ini :( Jadi memang benar ada syarat dan ketentuan masing-masing universitas. Kita gak bisa 'lompat' jurusan secara ekstrem kayak tahun kemarin karena ada syarat SMTA nya. Itulah mengapa LTMPT berani menghapus materi TKA untuk UTBK tahun. Bisa dibilang Ini kayak semi-SBMPTN. Sebenarnya kita tetap boleh lintas jurusan JIKA memang diizinkan oleh program studi yang akan dipilih, itulah yang saya maksud syarat SMTA. Dan kabar buruknya lagi jurusan yang saya inginkan itu ternyata gak bisa menerima anak SMK!! Saya bingung dah karena gak bisa milih jurusan yang saya idam-idamkan sejak lama yaitu teknologi pangan. Pas dicari itu benar-benar gak tersedia jurusan tersebut. Di mana pun universitasnya gak ada yang mau menerima anak SMK. Rasa pesimis makin menjadi-jadi. Saya sampai sudah gak menyentuh materi UTBK lagi semenjak awal juni karena down banget mengetahui kenyataan pahit ini. Saya sempat merenung beberapa hari sebelum memutuskan apakah saya harus lanjut menyelesaikan ambisi masuk PTN atau udahan aja. Pasrah. Berhenti sampai di sini perjuangan saya. "Jika saya memang tidak ditakdirkan untuk berkuliah yaa mau gimana lagi. Mungkin saya memang harus terus bekerja agar membantu meringankan beban orang tua" Gitu pikir saya waktu itu. 
 
Setelah bergumul sekitar empat hari, melihat anaknya yang nampak tidak bersemangat menjalani hari-hari. Akhirnya bapak saya turun tangan, datang dan menghampiri saya merekomendasikan dua jurusan alternatif yang masih seirama dengan teknologi pangan dan masih satu rumpun dengan pertanian—karena ini memang keinginan saya yaitu di bidang pengelolaan hasil pertanian. Jurusan tersebut adalah agroekoteknologi atau agribisnis. Saya langsung cari tahu tuh berbagai info tentang kedua jurusan itu. Apa saja yang akan dipelajari di jurusan itu, prospek pekerjaannya, dan cerita pengalaman orang-orang yang pernah merasakan jurusan tersebut. Setelah saya cari tahu tentang kedua jurusan itu, ternyata menarik juga. Saya merasa tertantang dengan berbagai mata kuliah yang ditawarkan. "Kayaknya mirip nih" kata saya. Yaudah.. Lantas pilihan saya jatuh kepada agribisnis. Alasannya? Karena menurut apa yang saya baca, jurusan ini lebih menekankan pengelolaan bisnis di bidang pertanian. Kalau agroekoteknologi itu lebih ke pengelolaan tanamannya dari biji sampai berbuah. Nah.. Setelah tahu jurusannya, baru saya cari tahu universitasnya yang menerima lulusan SMK (karena ada syarat SMTA) . Pilihannya cuma ada tiga, yaitu:
 
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa - Agribisnis
Universitas Diponegoro - Agribisnis
Universitas Siliwangi - agribisnis 
 
Waaaw... Ini adalah pilihan yang cukup sulit. Ada dua universitas yang baru saya dengar alias underrated dan satu universitas ternama. Karena ini adalah SBMPTN terakhir saya, maka saya harus benar-benar realistis dalam memilih universitas. Saya berusaha menyakinkan diri ini agar tidak lagi mengikuti ego ingin masuk universitas top, yang penting judulnya PTN. Di mana pun tempatnya, kalau memang itu memiliki peluang besar untuk saya bisa lolos maka saya akan pilih. Jadi saya memutuskan untuk mendaftar di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa dengan pilihan 1 Agribisnis dan pilihan 2 Universitas Siliwangi dengan jurusan yang sama. Saya baru tahu ada nama universitas-universitas tersebut pada saat mendaftar. Saya lihat-lihat juga persaingannya gak terlalu ketat, jadi ini adalah peluang saya untuk dapat lolos. Karena saya tak ingin mengulang kesalahan saya karena terlalu mengikuti idealisme tanpa memikirkan medan perang dan persaingan yang sangat ketat di dua SBMPTN sebelumnya. 

H-7 UTBK. Karena masih ada PSBB, jadi pergerakan antar daerah masih dibatasi, sedangkan saya harus nyebrang kabupaten untuk bisa ujian. Maka dari itu harus membawa surat keterangan sehat dan surat keterangan dari puskesmas yang menyatakan saya bebas rapid test. Yaudah akhirnya saya ke puskesmas, nah awalnya puskesmas tidak mau mengeluarkan surat tersebut karena patuh sama pemerintah soal pembatasan. Saya cukup dipersulit awalnya hingga harus beberapa kali bolak-balik ke puskesmas untuk memastikan keaslian mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Saya sampe bikin meme untuk meredakan ketegangan karena adanya peraturan yang ketat. 


Okey tibalah pada hari UTBK. Saya mendapatkan jatah test di hari pertama pelaksanaan UTBK yaitu tanggal 5 juli sesi 2, pengalaman saya selama UTBK terakhir ini sangat unik, Karena UTBK di tahun 2020 ini dalam keadaan pandemi dan pihak LTMPT menyarankan untuk memilih lokasi ujian terdekat, jadi saya memilih ujian di UNSIKA. Para peserta harus menggunakan alat pelindung diri pribadi yang sudah diberi tahu sebelumnya yang termasuk ke dalam tata tertib UTBK. Ada masker medis, sarung tangan karet gitu, face shield, dan hand sanitizer. Sebelum masuk ruangan pemeriksaan suhu dan surat keterangan sehat dari dokter, ketika suhu saya di cek, lebih dari 37° dan suhu yang ditentukan dibawah 37°. Jadi saya duduk dulu sambil menunggu suhu saya turun dan melihat teman-teman sudah mulai masuk ruangan. 

Di dalam ruangan diberikan jarak yang lebih jauh antar peserta agar tidak ada penularan dan praktik menyontek tentunya. Ujiannya berlangsung sekitar dua jam aja. Karena hanya materi TPS aja yang diujika. Reaksi awal saya adalah.. Astaghfirullah... Ada soal yang bahasanya itu sangat aneh. Kata orang-orang mah bahasa panda legendaris yang sangat mengandalkan logika. Soal ini muncul dan sempat menyebabkan otak saya mengalami konslet seketika. Saya mencoba tenang, saya pun memilih untuk diam sejenak. Saya jawab sebisanya aja, mengikuti nalar saya saat itu. Dua jam gak terasa banget. Tiba-tiba UTBK udah selesai aja. Setelah itu saya hanya bisa pasrah. Sisanya tinggal berdoa aja yang banyak. Saya minta didoakan oleh keluarga, nenek, teman-teman, dan beberapa warganet yang saya temui dunia maya. 

Ini foto saya pas banget selesai UTBK di UNSIKA menggunakan alat pelindung diri pribadi 

Yak dapat disimpulkan bahwa UTBK terakhir saya ini sangat rollercoaster alias banyak naik turunnya. Kesulitan tahun ini sih lebih kepada aturan masa Covid-19 yang sangat ketat sehingga membuat esensi ujiannya bagi saya gak terlalu serius. Bisa dibilang terpecah lah fokusnya. Saya gak terlalu menikmati banget ujian terakhir ini. Tapi saya tetap berusaha sebaik mungkin. Saya sudah di tahap nothing to lose alias pasrah aja udah tidak akan terbebani lagi oleh kegagalan. Jika saya tidak lulus lagi yaudah gapapa gitu. Dengan adanya pergantian aturan, pergantian mekanisme, pengunduran, penyesuaian jadwal ujian, penyebaran info hoax yang ternyata fakta, wah banyak dah. Itu semua adalah hal-hal yang saya alami sebagai pejuang UTBK 2020. 

Jadi, yaa begitulah pengalaman saya mengerjakan UTBK untuk yang terakhir kalinya. Panjang juga ya kalau dilihat-lihat. Mohon maaf jika kurang jelas dan ada kesalahan ketik. Bagi yang sanggup membacanya hingga akhir tanpa skip, saya ucapkan terima kasih banyak. Kemarin benar-benar hari yang penuh ujian banget. Saya berharap perjuangan saya ini membuahkan hasil yang menggembirakan pada pengumuman UTBK tanggal 20 Agustus 2020. Saya berdoa, semoga saya bisa lolos SBMPTN jalur pertama dan dapat membahagiakan orang tua saya. Aamiin.. 
Read More

Rabu, 03 Juni 2020

Jalan yang Tak Kunjung Terbuka

Ada satu masa dalam hidup di mana saya benar-benar merasa dunia tidak berpihak pada saya. Bukan karena saya malas, bukan karena saya tidak berusaha. Tapi karena setiap langkah yang saya ambil selalu terasa seperti ada tembok tebal yang tak terlihat. Sukar sekali untuk ditembus. Sudah dua kali saya mencoba peruntungan di ujian masuk perguruan tinggi negeri. Dua kali pula saya menyiapkan diri, menulis mimpi, menahan air mata, lalu menelan kenyataan. Dua kali berharap, dua kali jatuh, tapi entah kenapa… saya masih di sini, berdiri di antara puing-puing mimpi yang belum terwujud. Setiap tahun saya mencoba memperbaiki diri. Mengulang bab yang sama, membuka lembar soal yang berbeda, berharap kali ini Tuhan sedikit lebih lembut. Tapi kenyataannya, dunia ini sering kali tak punya belas kasih terhadap mereka yang terlalu berharap. 

Saya anggap masa sulit itu terjadi lagi saat ini juga. Sistem ujian berubah setiap tahun, peluang makin sempit, dan di antara ratusan ribu nama, nama saya selalu saja tak tercantum. Memang saya hanyalah pejuang gap year. Bergerak dalam senyap, tapi tak pernah terlihat jerih payahnya. Mungkin sebutan itu dianggap hal yang biasa, tapi bagi saya sebutan itu mengandung begitu banyak cerita yang tak pernah sepenuhnya dimengerti orang lain. Ada kalanya saya berpikir, mungkin semesta benar-benar tidak ingin merestui jalan ini. Apalagi ketika pandemi datang. Waktu di mana semua rencana besar saya terasa tak berguna. Buyar begitu saja tanpa ada yang tersisa. Satu-satunya hal yang saya lakukan hanya pasrah dan berserah diri sama Yang Maha Kuasa. 

Aturan terbaru LTMPT yang baru rilis kemarin semakin memperberat langkah saya untuk bisa kuliah. Setelah menghilangkan materi TKA (Tes Kompetensi Akademik), kali ini peserta tidak bisa seenaknya memilih jurusan yang diincar. Ada syarat khusus untuk UTBK tahun ini yaitu sekolah asal. Memang bisa dibilang saya ini 'lompat jurusan' karena gak sesuai dengan rumpun awal saya yaitu ilmu sosial. Saat ingin daftar SBMPTN, saya mencari jurusan impian saya itu benar-benar tidak tersedia. Di mana pun universitasnya gak ada yang mau menerima saya sebagai anak SMK. Rasa pesimis makin menjadi-jadi. 

Saya sempat ingin menyerah. Sungguh, saya pernah sampai di titik di mana saya tak lagi ingin membuka buku, tak lagi ingin menatap jadwal ujian, hanya bengong dan meratapi nasib buruk saya yang tak bisa dihindari. Dan itu terjadi lagi saat ini juga. Tepat di H-33 menjelang UTBK terakhir saya. Saya merasa hal ini seperti sebuah siklus mematikan bagi seorang pejuang kampus negeri. Karena saya sempat berpikir "apa gunanya berjuang jika hasilnya selalu sama?" Saya sudah mencoba semuanya. Mulai dari ikut bimbingan online, menonton video pembelajaran, dan membuat catatan materi. Tapi nyatanya, gagal tidak pernah bosan mengetuk pintu hidup saya. Saya selalu bertanya-tanya, keajaiban apa yang akan saya dapatkan sampai-sampai harus merasakan gagal seberat ini?


Satu dua hari berselang saya berpikir mencari jalan keluar. Saya jadi teringat ada pepatah lama yang kini jadi penyemangat saya baru-baru ini karena salah satu idola saya, sang raja dangdut Rhoma Irama kebetulan banget merilis lagu motivasi di awal tahun ini yang berjudul "Banyak jalan menuju Roma". Dalam lirik lagunya ada kata-kata yang mengharuskan para pejuang hidup untuk "coba lagi dan coba lagi". Dan seketika saya sadar, saya tidak harus berfokus pada satu pintu saja. Saya percaya, ada banyak jalan menuju mimpi-mimpi saya. meski jalannya tidak lurus, bahkan berliku, penuh batu, atau mungkin harus saya buat sendiri dari tanah dan darah. 

Maka dari itu, untuk kesempatan yang terakhir kalinya ini saya mencoba untuk realistis total. Saya benar-benar tidak mengikuti keinginan buta tapi memilih apa yang tersedia. Saya akhirnya memutuskan untuk tetap ikut UTBK tapi dengan pilihan jurusan yang sangat berbeda dengan apa yang saya impikan. Saya berusaha meyakinkan diri berkali-kali, "udah gapapa, mungkin ini jalan terbaik buatku". Sambil berharap keajaiban akan datang. Jadi sekarang, tinggal satu ujian lagi. Peluang terakhir. Tapi kali ini saya sudah tidak berharap banyak. Saya hanya ingin menjalaninya tanpa beban, tanpa ekspektasi. Kalau lulus, saya bersyukur. Kalau tidak, ya sudah. Saya sudah sampai di tahap "nothing to lose". Karena saya tahu, mungkin Tuhan memang sedang menyiapkan jalan terbaik yang belum saya lihat sekarang. 

Sebagai catatan aja, saya menulis ini bukan untuk mengeluh, tapi hanya untuk menyalurkan keresahan dan mengingatkan diri sendiri bahwa jalan yang panjang ini bukanlah kutukan, melainkan proses pembentukan diri agar menjadi pribadi yang lebih baik. Saya yakin bahwa Tuhan tidak pernah benar-benar menutup semua pintu kesuksesan. Sang Pencipta hanya ingin saya mengetuk pintu yang lain jikalau jalan ini memang tidak pernah terbuka. 
Read More

Senin, 25 Mei 2020

Dua Puluh Tahun Hidup di Dunia

Assalamu'alaikum Wr. Wb. 
 
Selamat pagi sobat blogger! Kemarin adalah hari lahir saya yang ke 20 tahun. Saat saya melalui usia 20 tahun ini, rasanya saya disadarkan betapa cepatnya waktu itu berjalan. Perasaan baru kemarin saya merasakan usia 19 tahun. Ehh.. Sekarang sudah datang lagi usia baru. Bertambahnya angka usia saya bukan berarti bertambah panjang juga nyawa saya, justru semakin berkurang layaknya batang korek api yang dibakar pasti akan terus memendek. Waktu saya di dunia ini pun sudah menguap sebanyak dua puluh tahun. 
 
Berkurangnya umur saya tahun ini dilalui di tengah pandemi, sebuah kondisi yang menguji daya juang saya sebagai manusia, apakah masih bisa tetap waras di antara kegilaan kondisi dunia saat ini DAN masa depan yang tidak pernah pasti. Hari-hari saya dipenuhi dengan bayang-bayang kecemasan, akan seperti apa masa depan saya pribadi khususnya dan negara serta masyarakat bumi ini umumnya. Kapan wabah ini akan berakhir? Entahlah.. Abu-abu, semua menjadi serba abu-abu. Tidak pernah ada jawaban yang pasti. Selagi belum tersedianya vaksin, kita semua harus hidup beriringan dengan virus ini. Yang bisa dilakukan hanya berdoa agar wabah pandemi ini segera berakhir dan dapat kembali menjalankan masa depan yang telah direncanakan sebelumnya dengan penuh keyakinan. 
 
Alhamdulillah saat ini saya masih dapat bertahan. Selain orang tua, salah satu alasan yang membuat saya masih bertahan yaitu pada tahun depan banyak film superhero baru yang akan rilis—baik dari Marvel dengan fase empatnya maupun DC dengan Snyder Cut-nya. Oh yaa tentu saja, bagi yang belum tahu, saya ini penggemar berat film yang bertemakan superhero. Entah kenapa rasanya asik aja gitu melihat adaptasi komik superhero ke layar lebar. Ada kesenangan tersendiri jika menyaksikan secara nyata imajinasi yang selama ini dibayangkan. Ini merupakan salah satu alasan yang membuat saya tetap bersemangat untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Untuk tahun ini sih saya masih bisa bersabar untuk tidak nonton film di bioskop karena masih pandemi. Bisa sekalian rehat juga setelah tahun lalu secara berturut-turut saya disajikan film superhero yang memanjakan mata. Tapi semoga aja tahun depan sudah mulai surut dan aktivitas bisa kembali normal. Paling tidak dengan adanya vaksinasi yang rencananya baru akan tersedia februari tahun depan, harapan akan terus menyala. Jadi untuk sekarang mah fokus dulu aja sama yang ada di depan mata yaitu menyelesaikan misi utama UTBK. Dengan fokus melakukan rutinitas kehidupan nanti secara gak sadar tau-tau udah ganti tahun aja.. Sesederhana itu sih sekarang saya mah.. Hehe.. 

Okey kembali ke laptop. Memang tidak mudah juga sih untuk dapat bertahan hidup dalam kondisi seperti saat ini. Apalagi untuk seseorang yang baru saja menginjak usia dewasa awal. Seperti saya dan kalian semua yang tahun ini sedang memasuki usia 20 ini, di mana banyak pertanyaan-pertanyaan yang berdatangan di dalam pikiran setelah berakhirnya masa sekolah. Mulai dari pekerjaan sampai ke pernikahan, itu semua terangkum dalam usia 20an ini. Saya pun merasakannya sendiri saat berada di antara persimpangan jalan hidup, jika saya salah memilih bisa repot nanti urusannya di masa yang akan datang. Butuh ketenangan yang luar biasa dalam mengambil keputusan yang tepat. Agar tidak salah langkah lagi seperti lima tahun yang lalu saya rasakan.
 

Ada yang bilang saat manusia memasuki usia 20, itu berarti dia sedang membuka dekade terbaik dalam hidupnya. Usia ini merupakan masa untuk mencoba berbagai macam hal-hal baru untuk membentuk karakter diri dan memikirkan keinginan jangka panjang. Konon katanya, usia ini merupakan tolok ukur kedewasaan. Seseorang yang sudah menginjak usia 20 tahun bisa dianggap sudah cukup mampu dalam hal perencanaan, pengambilan keputusan, serta konsekuensi akibat tindakan. Oleh karena itu saya harus paham bagaimana bertindak yang baik dan keputusan apa saja yang harus saya ambil di awal dekade baru ini. 
 
Kenapa demikian? Karena menurut saya segala hal yang akan terjadi di usia 20an akan membentuk jati diri saya selamanya. Itu yang selalu saya yakini sampai sekarang. Maka dari itu, untuk dapat bertindak dan mengambil keputusan terbaik terkadang kita harus belajar dari masa lalu. Masih dalam suasana libur lebaran yang langka Ini, daripada tak ada kegiatan yang produktif lebih baik saya mengulas kembali perjalanan saya selama setahun terakhir. Ini juga merupakan bagian dari pembelajaran saya sebagai manusia biasa yang tak luput dari salah. Seperti yang biasa saya lakukan pada tahun-tahun sebelumnya saat menyambut hari lahir saya yang kali ini cukup menenangkan jiwa dan raga.

Selama setahun terakhir ini saya lebih banyak melakukan perenungan dan refleksi diri. Menyadari bahwa selama ini ada yang tidak beres dengan diri saya. Minimal seminggu sekali saya selalu merenungkan apakah keputusan-keputusan yang saya pilih dulu sudah tepat atau tidak. Refleksi diri juga saya lakukan tidak lain hanyalah sarana saya untuk lebih mengenal kepribadian dan pola pikir saya. Di awal dekade baru ini, saya ingin menekankan bahwa saya tak mencari sebuah pencapaian yang berjalan cepat. 

Bagi saya, sebuah pencapaian yang berjalan perlahan tidak salah selama makna dari setiap langkahnya dapat mendewasakan diri saya. Karena itu, saya akan memulai dari langkah yang sederhana. Saya akan mulai dari bagaimana saya dapat mengatur emosi. Saya bertekad untuk dapat mengontrol amarah saya, menghilangkan kebiasaan mengeluh, dan menumbuhkan kesabaran serta keikhlasan yang luar biasa dalam menghadapi setiap problematika hidup saya. Hal-hal rumit tentang pengaturan emosi seperti itu merupakan sebuah pencapaian yang harus diapresiasi. Karena hidup tidak hanya sekedar hidup namun juga bisa memaknai arti kehidupan. Kehidupan yang bercerita tentang kesalahan, dan masih banyak lagi saya tak bisa menyebutnya satu per satu. 

Memang kenyataannya selama 20 tahun saya hidup saya tidak pernah benar-benar diajarkan secara langsung bagaimana MENJADI MANUSIA yang baik dan benar seutuhnya. Memang kebanyakan dari dulu saya belajar hal ini dari ilmu agama. Tapi itu belum cukup membuat saya benar-benar menjadi manusia yang sebenarnya. Terkadang ada beberapa hal yang belum bisa saya praktikan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu saya tumbuh besar di keluarga yang cukup konservatif. Apa yang orang tua saya rasakan dulu saat masih kecil terkadang saya masih sering merasakannya. Jadi selama masa jeda ini saya banyak belajar dari segi keilmuan yang telah terbukti mampu meningkatkan kualitas hidup. Saya banyak baca-baca buku yang berkaitan dengan pengembangan diri. Itu semua murni untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik. 
 
Karena selama ini bukan hanya perasaan cinta kepada lawan jenis yang harus saya tahan agar tak menggebu-gebu di fase runyam seperti sekarang ini, ada perasaan sedih yang harus saya urai agar tak melilit saya ke dalam lubang hitam pekat bernama keputusasaan. Banyak hal yang masih tak saya mengerti tentang rasa, tentang emosi, dan tentang jiwa. Waktu 20 tahun bagi saya belum cukup untuk memetakan sifat-sifat dasar manusia. Terlalu banyak hal-hal kompleks dalam diri seorang manusia. Karena setiap manusia itu unik dan tidak pernah sama satu dengan yang lainnya. Inilah yang membuat saya masih terus mempelajari dasar-dasar sifat kemanusiaan yang ada pada manusia agar saya bisa menjadi manusia seutuhnya. 
 
Begitulah kira-kira pergumulan yang jelas mengenai usia 20 tahun versi saya. Segalanya memang menjadi lebih kompleks dan bercabang. Saya memang selalu khawatir dengan masa depan yang telah saya rancang sendiri. Apakah masih bisa berjalan sesuai dengan target atau malah sebaliknya berantakan dan tidak ada yang terwujud satu pun hingga akhirnya saya harus merelakan idealisme saya runtuh sendiri. Tidak ada yang pernah tau sampai saya yang merasakannya sendiri nanti. Jadi, pada saat masa gap year terakhir ini sembari saya mendalami materi ujian masuk perguruan tinggi dan membantu orang tua, saya juga harus belajar lebih tentang kehidupan—yang tentu saja juga membuat saya belajar lebih banyak tentang diri saya sendiri. 

Di usia saya yang sekarang ini, saya pada akhirnya sudah mengetahui kebenaran bahwa kesedihan dan kebahagiaan, suka dan duka, berhasil dan gagal, musibah dan anugerah, mimpi dan realita, serta awal dan akhir. Semua hal tersebut hanya datang dari Allah SWT, Sang Pencipta Alam Semesta. DIA memberikan itu semua semata-mata agar hidup ini seimbang. Saya tidak akan pernah bisa merasakan apa yang disebut dengan bahagia jika tidak pernah sedih. Saya tidak akan pernah bisa merasakan nikmatnya keberhasilan jika kita tidak pernah merasakan kegagalan yang konstan. 

Semua ini bermuara pada kesadaran bahwa saya merasa belum menjadi hamba yang baik dan bertakwa sepenuhnya. Belum juga menjadi hamba yang selalu patuh terhadap perintah-Nya. Tapi di usia yang baru ini, saya ingin lebih menghargai setiap waktu yang terus berjalan. Agar saya menjadi orang yang selalu bersyukur. Karena saya hidup baru sebentar, baru 20 tahun. Pelajaran hidup pun baru sedikit. Saya yakin akan banyak pelajaran kehidupan lainnya di masa depan nanti. Seiring berjalannya waktu, tantangan-tantangan yang harus saya lewati akan semakin rumit. Perjalanan yang sebenarnya baru saja akan benar-benar dimulai.
 
Setahun ini saya banyak belajar tentang hidup. Belajar bahwa semua yang ada di dunia ini hanya milik Tuhan semata. Semuanya bisa diambil kapan saja dan  digantikan dengan kehendak-Nya.  
Saya banyak-banyak berterima kasih sama Allah atas nikmatnya sampai usia saya dapat menyentuh angka 20. Saya selalu berharap nikmat-Nya tak pernah putus di tahun-tahun selanjutnya, di angka-angka berikutnya. 
 
Yak secara keseluruhan, usia 20 bagi saya adalah usia yang mengharuskan saya menjadi pribadi yang bertanggung jawab atas segala keputusan dan tindakan yang telah saya lakukan. Hal-hal yang saya lakukan bukan lagi untuk sekadar bersenang-senang semata, tapi saya juga harus tau apa tujuan dari setiap perbuatan yang saya jalani. Kepala dua bagi saya minimal harus mampu menjadi teladan bagi diri sendiri. Kemudian kalau sudah bisa baru untuk keluarga, dan maksimalnya untuk orang lain alias harus bisa bermanfaat untuk kepentingan banyak orang. Itulah visi besar saya ke depannya. 
 
Di ambang batas hari ini, saya sudah resmi berusia 20 tahun. Semoga hari ini menjadi sebuah optimisme baru. Saya pikir ini bukanlah sebuah perayaan, ini murni hanya sebagai pengingat bahwa umur saya telah berkurang sebanyak dua dekade. Bagi yang berhasil membaca tulisan panjang ini sampai selesai saya ucapkan terima kasih. Kalau bukan karena kalian para pembaca setia *uhuk*, mungkin saya tak bisa nulis sebanyak ini. Terima kasih banyak telah peduli dengan sejarah hidup saya. Akhir kata, Selamat merayakan kemenangan semuanya!
 
 
 
 
Berbahagialah....!! 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
With Love
 
TTD 
 
Zulfahmi Adam 
Read More

Minggu, 24 Mei 2020

Lebaran Langka

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillah hirobbil'alamin.. Puji dan syukur tak henti-hentinya saya panjatkan kepada Allah SWT. Tuhan Semesta Alam, Yang telah memberikan saya nikmat yang tak bisa saya hitung satu per satu, serta kesadaran untuk dapat merasakan momen langka yaitu ulang tahun di hari yang mulia ini. Solawat dan salam tak lupa semoga terlimpah curahkan pada Nabi besar kita Muhammad SAW. Beserta Keluarganya, Sahabatnya, pengikutnya dan semoga sampai pada kita semua hingga kita mendapatkan pertolongan di hari kiamat nanti. Aamiin.. 

Tanggal 24 Mei 2020 bukan hanya diperingati sebagai jatuhnya Hari Raya Idul Fitri tahun ini, tetapi juga sebagai hari berkurangnya umur dari seonggok daging bernama Zulfahmi Adam. Alhamdulillah di hari kemenangan yang berbahagia ini, saya masih diberikan kesempatan hidup oleh Sang Pencipta. Ini adalah momen yang sangat jarang sekali terjadi, bisa dibilang Ini momen langka—di mana hari kelahiran saya bertepatan dengan Lebaran. Ini bukan suatu kebetulan, tapi ini adalah berkah dari Yang Maha Kuasa. Bisa jadi mungkin kesempatan sekali seumur hidup saya. Sungguh sebuah anugerah yang luar biasa jika saya dapat mensyukuri setiap nikmat yang telah diberikan Tuhan. 


Datangnya Lebaran selalu menjadi saat-saat yang dinantikan oleh seluruh umat muslim di dunia ini, setelah berpuasa 30 hari di bulan Ramadan. Hari raya Idul Fitri merupakan kesempatan bagi umat Islam untuk menunjukkan rasa syukur kepada Allah SWT. dan kesempatan bermaaf-maafan dengan sesama, serta dengan harapan dosa-dosa masa lalunya diampuni. 
 
Momen yang biasanya dinanti saat Idul Fitri adalah berkumpulnya seluruh keluarga besar dan makan-makan dengan berbagai menu khas Lebaran bersama keluarga besar dan kunjungan ke rumah sanak saudara serta kerabat. Selain itu, momen berjalan ke masjid bersama keluarga dan tetangga untuk melaksanakan Salat Id pun menjadi momen yang cukup berkesan dan dinantikan para umat muslim. Namun, Lebaran tahun ini sangat berbeda bagi umat muslim di Indonesia khususnya dan dunia umumnya. Pasalnya, Pemerintah kita resmi melarang masyarakat melakukan salat Idul Fitri di masjid ataupun lapangan secara bersama-sama di ruang publik. Idul Fitri kali ini kita rayakan dengan penuh kesederhanaan. 
 
Dikarenakan daerah saya ini masih termasuk zona merah, keluarga saya menghabiskan waktu perayaan Lebaran hanya di rumah. Keluarga saya memutuskan untuk melaksanakan salat Idul Fitri di rumah sesuai dengan anjuran pemerintah. Kita tidak akan pernah tahu orang di sebelah kita itu terkena virus, kan sekarang ada orang yang tanpa gejala tapi sudah positif. Walaupun kita sudah pakai masker, tidak ada jaminan pasti bahwa tidak akan terkena. Apalagi yang dipakai masker kain, bukan masker bedah yang perlindungan bagus, dan juga maskernya terkadang masih banyak orang tidak benar memakainya. 
 
Setelah melaksanakan salat Idul Fitri, kami menghabiskan momen-momen Lebaran dengan bersilaturahmi secara virtual melalui video call dengan keluarga besar. Tidak lupa berfoto-foto dulu sebagai kenangan bahwa kami pernah menghadapi lebaran yang sangat langka. Kenapa saya bilang langka? Karena sangat jarang sekali terjadi. Pertama, bertepatan dengan hari kelahiran saya. Kedua, bertepatan dengan adanya pandemi virus korona. Nuansa lebaran tahun ini terasa sangat berbeda di mana kita semua harus tetap berada #dirumahaja untuk meminimalkan resiko penularan virus korona. 
 
Sedih, sunyi dan sederhana. Itulah tiga kata yang sangat tepat untuk menggambarkan betapa berbedanya lebaran tahun ini. Seluruh kebiasaan yang kita lakukan di hari raya ini tak bisa dilakukan lagi. Sekarang kegiatanya seperti biasa saja di rumah. Tidak ada perbedaan, seperti tidak merasakan Lebaran, benar-benar sederhana sekali. Kita semua merayakannya di tengah pandemi Covid-19 dengan segala aturan dan kebiasaan yang baru untuk menghambat penyebaran virus. Pandemi ini sungguh mengubah kehidupan sehari-hari, terutama interaksi sosial. 
 
Walaupun Ramadan dan lebaran tahun ini terkesan sunyi dan sangat berbeda, saya yakin tidak mengurangi debar di dada kita saat menyambutnya dan merasa sedih melepasnya. Sebab Ramadan dan lebaran pasti akan datang lagi, namun kita belum tentu bisa bertemu lagi. Meski begitu, kita harus tetap berdoa kepada Allah SWT. agar bisa bertemu lagi dengan Ramadan dan lebaran berikutnya dan mendapatkan ampunan dari Allah Yang Maha Kuasa.
Sesulit apa pun kondisi yang kita jalani saat ini, kita tetap harus bersyukur. Karena kita harus meyakini bahwa, selalu ada alasan dan hikmah yang Allah SWT. berikan di setiap cobaan. Semoga kita semua selalu diberikan kekuatan lebih dalam menghadapi segala ujian dan tantangan hidup yang menerjang. Aamiin.. 

 
 
Akhir kata saya mewakili diri saya sendiri mengucapkan.. 

Selamat Idulfitri 1441 H

Taqobbalallahu minna wa minkum wa shiyaamanaa wa shiyaamakum, Wataqobbal ya kariim Ja'alnallahu minal aidin walfaizin.

Mohon maaf lahir dan batin, jiwa dan raga, serta jasmani dan rohani saya.  


Maafkan semua kesalahan saya, kata-kata saya yang kurang pantas atau barangkali ada tulisan saya yang sempat menyinggung kalian semua. Itu semua murni hanya ingin melampiaskan kegelisahan di kepala agar beban hidup saya bisa lebih ringan. Semoga, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan, kita bisa menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Aamiin..
 
 
 
Selamat hari kemenangan sobat!
Read More

Sabtu, 25 April 2020

Ramadan yang Berbeda

Assalamu'alaikum Wr. Wb. 
 
Marhaban ya Ramadhan!
 
Yak, seperti yang bisa kita rasakan saat ini bahwa Ramadan kali ini sangat amat terasa berbeda. Seperti setengah hidup dan setengah mati. Suasana kehangatan yang biasanya terasa menyelimuti jiwa kini menjadi suasana yang suram dan sangat menakutkan. Alhamdulillah sampai tulisan ini dibuat, saya masih dapat bertahan hidup. Gak tau dah lima bulan kemudian, atau lima tahun yang akan datang. Sulit dibayangkan dengan nalar. Apakah saya masih sanggup menghadapi segala tantangan di tengah pandemi ini atau bahkan sebaliknya. Entahlah.. Rasanya begitu lelah dan bosan dengan kondisi seperti sekarang ini. Namun, saya selalu berharap ada kabar gembira yang akan terjadi di tahun kembar ini, dua puluh dua puluh. Entah itu kabar tentang kuliah atau apa gitu sesuatu yang bisa membangkitkan semangat untuk terus hidup lebih lama. 
 
Dalam menyambut bulan suci Ramadan kali ini, tak ada lagi sholat tarawih berjamaah di masjid, tak ada keramaian pawai menyambut Ramadan. Karena memang saat ini keramaian itu dilarang oleh pemerintah demi memutuskan rantai penyebaran virus korona. Selain itu untuk sekadar mencari hidangan berbuka merupakan sebuah tantangan yang sangat berat karena masih banyak masyarakat yang belum sepenuhnya mematuhi aturan pemerintah untuk menjaga jarak. Kalau saya udah diajak ibu untuk mencari takjil rasanya ingin cepat-cepat pulang aja, karena seperti ada rasa bersalah saat keluar dari rumah di masa pandemi seperti ini. Tentunya kalau pun harus ke luar rumah saya selalu memakai masker. Itu seperti udah barang wajib yang harus dipakai sekarang. Walaupun kurang nyaman dalam bernafas, demi keselamatan bersama apa pun akan saya lakukan. Asli dah, rasanya memang agak sedih. Entah ini ujian, cobaan, atau teguran yang Allah berikan kepada kita umat manusia. Yang jelas dari sini kita sama-sama belajar bahwa kuasa Allah di atas segalanya. 
 

Satu hal yang mungkin saya syukuri dengan adanya virus korona di saat bulan puasa seperti ini adalah tidak adanya ajakan buka bersama. Karena saya paling malas untuk ikut kegiatan tersebut. Seumur hidup saya tidak pernah mengiyakan ajakan buka bersama dari berbagai lapisan masyarakat. Bukan saya anti-sosial, tapi saya merasa makna dari buka puasa bersama sudah bergeser dari yang sebenarnya. Alih-alih mempererat tali silaturahmi, yang ada malah sibuk dengan handphone, meng-update status dan story di media sosial. Foto makanan dulu, baru baca doa. Upload ke WhatsApp dan Instagram dulu, baru makan. Kadang malah ada rasa canggung ketika duduk satu meja dengan orang yang sebenarnya tidak terlalu dekat. Saya jadi bertanya-tanya, "apakah ini benar-benar ibadah, atau hanya formalitas sosial?" Jujur saja, saya merasa lebih khusyuk berbuka di rumah bersama keluarga sendiri dibanding menghadiri acara buka bersama yang penuh basa-basi. Maka ketika ada larangan keramaian seperti ini, entah kenapa saya justru merasa sedikit lega. Mohon maaf nih jika menyinggung banyak pihak, saya hanya mengatakan apa yang saya rasakan saja. 

Larangan keramaian seperti mengadakan buka bersama memang telah menciptakan kesunyian. Namun kesunyian di tengah bulan suci Ramadan itu dapat menjernihkan hati dan pikiran. Di saat itu pula muncul pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya filosofis. Salah satunya adalah "apa makna paling dalam di balik semua ini?" Virus ini seolah ingin memberi pelajaran kepada kita umat manusia bahwa "Anda bukanlah siapa-siapa." Jangankan untuk menghadapi Zat Yang Maha Besar, menghadapi zat yang sangat kecil seperti virus korona saja, manusia tidak berdaya. Kematian di mana-mana. Bagaimana nanti ketika kita akan menghadapi Zat Yang Maha Besar itu nanti? Sang Pencipta, Allah SWT. Tak bisa dibayangkan. Otak manusia terlalu kecil untuk dapat memahami skala penuh alam semesta ini. Allah sendiri sudah mengingatkan dalam Al-Qur’an:

Dan sungguh Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155).

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah akan menguji manusia dengan berbagai cobaan dalam hidupnya, seperti kesulitan, kekurangan, dan kehilangan. Namun, di balik ujian tersebut, terdapat kabar gembira bagi orang-orang yang sabar menghadapinya, yaitu mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat, dan petunjuk dari Tuhan. Maka dari itu mental kita benar-benar diuji tanpa adanya keramaian dunia, apakah umat islam masih bisa menjalani bulan puasa Ramadan ini dengan penuh kesederhanaan? Tujuan yang hanya satu agar bisa fokus beribadah kepada Allah SWT. Walaupun dalam suasana yang berbeda, semoga Ramadan kali ini tetap menjadi bulan suci yang penuh ampunan untuk kita semua. Rasulullah SAW pun bersabda:

"Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Allah akan menimpakan musibah kepadanya." (HR. Bukhari).

Hadis di atas memiliki makna bahwa ujian atau musibah adalah bentuk cinta dan perhatian Allah kepada hamba-Nya, dengan tujuan membersihkan dosa atau meninggikan derajatnya, serta agar ia senantiasa bersabar dan bersyukur kepada Allah. Semoga segala amal ibadah dapat diterima Allah SWT. dan menjadi ladang pahala untuk kita semua. Semoga juga kita mampu mengambil hikmah besar dari pandemi ini bahwa hidup hanyalah persinggahan sementara. Kita diajarkan untuk tidak terlalu bergantung pada dunia, karena yang abadi hanyalah Allah dan janji-Nya. Semoga roda kehidupan bisa segera pulih, bumi segera membaik, dan hati kita tetap terikat pada-Nya, bukan pada dunia yang fana. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Selamat menjalankan ibadah puasa, sob! Semoga Ramadan kali ini menjadi Ramadan yang benar-benar meninggalkan bekas dalam hati kita.
Read More

Sabtu, 11 April 2020

Di Tengah Pandemi

Selamat malam sobat blogger di mana pun kalian berada. Gimana karantinanya? Semoga kalian semua selalu sehat dan dapat mematuhi aturan pemerintah untuk tetap #dirumahaja ya. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa dunia saat ini tengah digemparkan dengan adanya Virus Corona (Covid-19) yang menyerang semua kalangan. Pemerintah pun dengan sigap mengeluarkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau disingkat PSBB dengan harapan memutus rantai penyebaran virus ini. Kita diajak untuk tetap di rumah serta melakukan physical distancing atau jaga jarak.

Mungkin, pembatasan sosial ini terasa menyiksa dan mengekang. Bayang-bayang kesibukan dan kesenangan yang dapat dilakukan di luar rumah, seolah menggoda dan menambah rasa tertekan. Apalagi buat sebagian orang yang terbiasa sibuk di luar, tiba-tiba harus diam di rumah rasanya seperti kehilangan arah. Jujur saja, saya pun pernah merasa jenuh. Bangun tidur, melihat kalender yang seakan berhenti di tempat, hari-hari terasa sama saja. Tidak ada kafe tempat nongkrong, tidak ada obrolan ringan di jalan, bahkan suara jalan raya pun lebih sepi dari biasanya. Seolah-olah kita sedang hidup di dunia yang lain, dunia yang menuntut kita lebih banyak diam dan merenung.


Namun di balik itu semua, ada mereka yang terpaksa berjuang di luar sana, dengan ancaman virus. Mereka juga tidak bisa berlindung di dalam rumah yang aman bersama orang-orang tercinta. Mereka adalah para tenaga medis, garda terdepan dalam menghadapi virus korona. Saya sering membayangkan, bagaimana rasanya berada di posisi mereka? Saat sebagian dari kita bisa mengeluh karena bosan di rumah, mereka justru berhadapan langsung dengan ketakutan setiap hari. Membayangkan hal itu saja membuat hati saya bergetar: betapa besar pengorbanan mereka.

Karena PSBB ini, kehidupan masyarakat Indonesia pun berubah. Di warung makan atau restoran, sekarang udah gak bisa makan di tempat. Hanya bisa bungkus alias take away, atau pesan lewat online. Aktivitas masyarakat pun dibatasi. Tempat ibadah ditutup sementara, warga wajib pakai masker saat berada di tempat umum dan ojek online dilarang mengangkut penumpang, hanya bisa melayani order makanan atau pengantaran barang.

Apakah cara ini cukup menghentikan penyebaran virus korona? Sejauh ini sih lebih efektif ya, dibandingkan tak ada tindakan sama sekali. Sejujurnya, saya melihat dari sisi lain bahwa virus Corona ini mengajarkan banyak hal pada manusia. Mengajarkan hidup sehat, mengajarkan bahwa manusia harus selaras sama alam. Sudah banyak berita yang beredar bahwa kualitas udara di berbagai penjuru dunia jadi lebih bersih, tak terkecuali di Indonesia. Khususnya Ibu Kota Jakarta, dikutip dari Antara News semenjak virus Corona ini menyebar, kualitas udara di Jakarta membaik. Hal tersebut juga dibuktikan pada pantauan Air Quality Index (AQI) AirVisual pada 31 Maret 2020 yang diakses pukul 11.10. Jakarta pada urutan ke-40 dari kota-kota berpolusi tinggi yang artinya kualitas udara Jakarta lebih baik dari 39 kota lainnya di dunia, dengan Air Quality Index (AQI) di angka 60.

Ya gimana nggak bersih, karena masyarakat banyak yang berada di rumah, dan alam pun menjadi lebih segar. Saya sendiri merasakan udara yang lebih ringan saat pagi hari, suara burung yang biasanya tenggelam oleh bising kendaraan kini terdengar lebih jelas. Seakan-akan alam sedang diberi kesempatan untuk bernapas kembali, dan kita diminta belajar menghargai kesederhanaan. Bukankah hidup memang sering kali begitu? Kadang kita baru sadar nikmatnya hal kecil setelah hal-hal besar diambil dari kita.


Selain itu, pemerintah juga sekarang lebih giat mengkampanyekan gaya hidup sehat. Mulai dari himbauan untuk lebih sering mencuci tangan pakai sabun, membiasakan berjemur di bawah terik matahari, makan makanan yang mengandung gizi baik. Itu semua disiarkan hampir setiap hari agar kita jadi terbiasa dengan gaya hidup sehat. Dan di sisi lain, kita pun belajar sabar. Belajar menahan diri untuk tidak egois, karena setiap tindakan kita berdampak bagi orang lain. Dengan tetap di rumah, kita sebenarnya sedang menjaga orang tua kita, tetangga kita, bahkan orang yang sama sekali tidak kita kenal.

Saya juga melihat langsung dampak besar pandemi ini di sekitar saya. Keluarga saya, yang usahanya bergerak di bidang makanan ringan, ikut lesu karena pembeli berkurang drastis sebulan terakhir. Biasanya ada pesanan dari sekolah atau acara hajatan, tapi sekarang semua sepi. Warung-warung banyak yang tutup, warteg dan tempat makan lainnya juga membatasi jam bukanya. Ada perasaan sedih melihat barang dagangan mulai menumpuk, sementara biaya hidup tidak bisa ikut berhenti. Saya jadi lebih paham bahwa pandemi ini bukan hanya soal kesehatan, tapi juga soal perut, soal bertahan hidup. Tapi kami tetap berkeyakinan bahwa semua ini akan berlalu. 

Di sisi lain adik saya yang masih sekolah pun ikut merasakan. Mendadak harus belajar daring, duduk berjam-jam di depan layar. Bagi sebagian orang mungkin terlihat mudah, tapi kenyataannya tidak sesederhana itu. Banyak pelajaran yang susah dipahami tanpa tatap muka, tugas-tugas menumpuk, jaringan internet sering jadi kendala. Dari wajahnya, saya bisa melihat kebingungan sekaligus rasa lelah. Sesekali bertanya kepada saya perihal perlahan atau pun hal teknis berkaitan dengan belajar online. Pendidikan yang biasanya jadi ruang interaksi sosial, sekarang berubah jadi ruang sunyi dengan layar virtual sebagai perantara guru dalam mengajar.

Belum lagi cerita dari banyak orang di luar sana yang harus terpisah dari keluarganya. Ada yang bekerja di kota lain, tidak bisa pulang kampung karena transportasi dibatasi. Ada yang menunda pertemuan penting dengan orang tua atau pasangan. Bahkan ada kisah memilukan, anggota keluarga yang jatuh sakit dan tidak bisa dijenguk karena adanya protokol ketat. Pandemi ini sungguh menampar kita, ternyata kebersamaan yang dulu kita anggap biasa, kini jadi sebuah kemewahan.

Dan kalau saya perhatikan, hingga hari ini di pertengahan April, banyak sekali fenomena tak biasa yang ikut melanda tanah air. Harga masker dan hand sanitizer melonjak drastis sampai sulit ditemukan. Ini sih udah parah ya, sudah di tahap mengkhawatirkan sebenarnya. Di media sosial, tren tantangan kopi dalgona masih bertahan keviralannya karena orang-orang mencari hiburan sederhana di rumah. Jalanan besar di Jakarta dan kota-kota besar lain mendadak lengang, sepi seperti kota mati. Konser musik online bermunculan, penyanyi dan band pun ikut tampil dari rumah masing-masing. 

Saya percaya, pandemi ini adalah ruang jeda yang dipaksa untuk kita semua. Sebuah jeda agar kita bisa kembali mengatur napas, kembali menata apa yang selama ini berantakan. Dari hal-hal sederhana seperti waktu bersama keluarga, obrolan kecil yang sering kita abaikan, sampai momen untuk merenung tentang arti hidup. Tiba-tiba, semua yang dulu dianggap biasa kini terasa begitu berharga.

Jadi siapa pun yang gak sengaja membaca tulisan ini tolonglah jaga diri, keluarga dan lingkungan kalian. Jangan lagi menambah beban para tenaga medis dengan terus bertambahnya kasus positif. Yuk sama-sama kita lawan covid-19 agar cepat musnah dari muka bumi dengan memutus rantai penyebaran virus ini. Semoga dengan bantuan dan bimbingan dari Tuhan Yang Maha Kuasa, kita selalu bisa menyelesaikan masalah atau krisis dalam hidup ini. Dan semoga ketika pandemi ini berakhir, kita bisa keluar sebagai manusia yang lebih bijak, lebih peduli, dan lebih kuat menghadapi apa pun. Aamiin...
Read More

Minggu, 29 Maret 2020

Saat Dunia Dipaksa Istirahat

Pagi ini saya terbangun lebih cepat dari biasanya. Tidak ada suara bising kendaraan yang biasanya memecah kesunyian, hanya keheningan yang terdengar lebih jelas dari jendela kamar. Sesuatu yang jarang sekali saya nikmati, karena biasanya suara itu kalah oleh deru motor dan klakson di jalanan. Rasanya seolah alam sedang mengambil kembali haknya untuk bersuara. Saya duduk sebentar di teras, menarik napas dalam-dalam, dan udara pagi terasa lebih segar dari hari-hari sebelum pandemi.

Hari-hari saat masa Social Distancing seperti saat ini membuat waktu berjalan aneh. Tidak ada yang menyangka sebelumnya memang, di awal tahun 2020 ini dunia sedang berperang menghadapi Covid-19 atau biasa disebut virus korona. Kalender tetap berganti, tapi suasananya serupa. Bangun, sarapan, duduk di depan televisi atau layar ponsel untuk mencari kabar terbaru tentang korona. Menyaksikan berita demi berita datang silih berganti. Jumlah kasus yang terus naik, rumah sakit yang kewalahan, tenaga medis yang kelelahan. Di antara berita itu, ada juga secercah harapan seperti kebaikan-kebaikan murni yang mulai disebarkan, atau doa-doa yang dikirimkan masyarakat dari rumah masing-masing.


Di pabrik tempat orang tua saya menjalankan operasional dagangan terlihat harap-harap cemas. Biasanya pesanan itu setiap hari selalu ada dan ramai, tapi sejak ada pembatasan social distancing sejak tanggal 16, jumlah pembeli mulai menurun. Saya bisa merasakan kekhawatiran yang tidak pernah diucapkan dengan kata-kata, bagaimana kalau pandemi ini lama? Bagaimana kalau usaha kecil kami tak bisa bertahan? Pandemi ini membuat saya sadar betapa rapuhnya kehidupan sehari-hari yang dulu terasa stabil.

Menjelang siang, adik saya sibuk dengan kelas daring. Duduk di depan layar, mencoba mengikuti pelajaran lewat aplikasi video. Dari wajahnya saya bisa membaca kebingungan. Guru menjelaskan, tapi sering kali suara terputus-putus karena sinyal. Tugas menumpuk, tapi tanpa bimbingan tatap muka, semua terasa berat. Sekolah yang biasanya penuh tawa bersama teman, kini hanya ruang sunyi dengan layar yang menyala. Saya ikut miris, karena pendidikan yang seharusnya membentuk keceriaan, justru terasa asing di masa ini.

Di luar sana, banyak orang lain juga berjuang dengan caranya masing-masing. Pedagang kecil yang kehilangan pembeli, ojek online yang hanya bisa mengantar makanan, dan keluarga-keluarga yang terpisah. Saya membaca cerita warganet, ada yang salah satu anggota keluarganya terjebak di kota lain dan tidak bisa pulang karena pembatasan perjalanan. Bahkan ketika ada anggota keluarga sakit, mereka tidak bisa menjenguk karena aturan rumah sakit yang begitu ketat. Pandemi ini membuat kita sadar bahwa jarak bisa begitu menyakitkan.

Hingga sore hari menjelang, saya tak bisa lepas dari keramaian media sosial. Timeline dipenuhi eksperimen orang-orang di rumah. Ada yang mencoba resep dalgona coffee, ada yang sibuk olahraga indoor, ada yang live konser musik dari kamar. Hal-hal kecil ini terasa unik sekaligus mengharukan, karena ternyata manusia selalu mencari cara untuk bertahan di tengah keterbatasan. 

Malam datang dengan keheningan yang tidak biasa. Jalanan depan rumah saya begitu sepi, hanya sesekali motor melintas dengan suara knalpotnya yang terpantul ke dinding rumah. Saya menatap ke langit, bulan terasa lebih terang. Mungkin karena polusi udara berkurang, atau mungkin karena saya jarang menengadah setenang ini sebelumnya. Entah kenapa, di balik semua ketakutan dan kecemasan, selalu ada tersimpan rasa syukur. Tuhan memberi kita kesempatan untuk berhenti sejenak, untuk merenung, untuk kembali melihat apa yang sebenarnya penting dalam hidup ini.

Hari-hari di tengah pandemi memang berat. Tapi saya percaya, kita tidak pernah benar-benar sendirian. Ada doa yang saling terhubung dari rumah ke rumah, ada pengorbanan para tenaga medis di garda depan, ada kasih sayang keluarga yang menjaga kita tetap kuat. Semoga pandemi ini segera berakhir, dan ketika saat itu tiba, kita bisa keluar bukan sebagai manusia yang sama, melainkan manusia yang lebih peduli, lebih bijak, dan lebih tahu cara menghargai hidup. Aamiin.. 
Read More

Rabu, 04 Maret 2020

TJVZ #3

Aku tak bisa diajak lagi ke dalam hatimu, goresan luka dan perasaan ini adalah bukti nyata bahwa kau sudah mulai melupakanku. Hari yang lalu biarlah berlalu dengan dia yang selalu ada di hatimu, yang bisa dibilang tampan dan manis di awal bulan ini. Aku tahu apapun yang kau pilih, pasti sudah dipertimbangkan dahulu. Aku terima semua keputusanmu. Setelah delapan tahun lamanya mengagumimu, kini aku putuskan untuk perlahan berhenti menomorsatukanmu. Aku sadar ini semua hanyalah bagian dari pendewasaan. Sudah jelas sekali bahwa kau memang sedari awal kurang peduli dengan diriku. Teruntuk kamu yang sering kuselipkan dalam karyaku, terima kasih sudah sudi menjadi inspirasiku selama ini. Kau akan selalu menjadi teman perempuan pertamaku. Sosok yang dapat memberikanku semangat. 

Aku ingin menegaskan bahwa aku pernah mengagumimu dalam diamku. Maafkan aku karena telah melakukan hal ini. Aku bingung harus melakukan apa ketika melihat salah satu keindahan duniawi. Sengaja aku tak pernah sampaikan kepadamu. Tapi jika kau sudah mengetahuinya pun, aku tak peduli. Mulai hari ini dan seterusnya aku berusaha untuk berhenti terpesona akan indahnya dirimu. Karena rasa ini perlahan-lahan tumbuh menjadi kegelisahan. Hal itu hanya akan menyiksa diriku sendiri. Semakin aku melihatmu bebas dengan yang lain, hanya akan menimbulkan kesedihan sepanjang waktu. Aku tak ingin hal itu terus terjadi. Pada akhirnya, aku harus menegur diriku sendiri untuk berhenti. 
 

Dengan semakin berkurangnya umurku, tolong izinkan aku tuk melupakanmu. Akan kukubur dalam-dalam semua cita-cita ini. Seluruh perasaan indah yang pernah singgah dalam ruang hidupku. Ketergantungan terhadap apa yang dinamakan keindahan duniawi ini mulai surut. Aku sadar, bahwa aku tidak benar-benar mengenali dirimu. Kau tak lagi istimewa di dalam hidupku. Tak ada yang bisa kusembunyikan lagi. Kau bukan lagi yang utama, karena memang tidak bisa diutamakan. Jika dipikir-pikir memang ini hanyalah pemborosan waktu yang cukup lama. Tapi dari itu semua, ada banyak hikmah yang sudah aku dapatkan. Belasan karya tercipta dari rasa kagum atas sebuah keindahan jiwa. Aku tak menyesal jika aku pernah menikmati itu semua.
 
Tepat di hari kelahiranmu yang ke dua puluh tahun ini, aku mempersembahkan tulisan khusus tentang dirimu—untuk yang terakhir kalinya. Aku sudah sangat yakin untuk mengakhiri keterikatan yang melekat kuat selama delapan tahun ini. Kalau ditanya gimana rasanya? Yaaa.. cukup memberatkan. Rasa sakit itu selalu ada, karena Tuhan izinkan ia ada. Tapi aku tak akan ambil pusing lagi dengan keputusan ini. Dan pada akhirnya aku harus bisa. Walaupun rasanya sulit. Inilah saatnya aku menentukan pilihan. Pilihan yang membuatku merasa bebas. Kau dapat fokus dengan jalanmu sendiri. Begitu juga aku, bisa fokus dengan jalanku sendiri. 
 
Kisah ini dapat dinyatakan sudah selesai. Aku berhenti menuliskan karya tentang dirimu. Tak ada lagi yang bisa kupersembahkan. Stok kata-kataku telah menipis untukmu. Ingin sekali berhenti mengikuti perkembanganmu. Menghapus segala impian dan khayalan yang bersemayam di pikiran. Aku memantapkan hati tuk berhenti memperjuangkanmu—yang mungkin ditakdirkan bukan untukku. Walaupun itu sangat rumit, karena memang sudah melekat dengan otakku. Tapi akan aku usahakan. 
 
Mengunjungi hatimu adalah cara terbaik mengenal cinta. Dan mengundurkan diri adalah satu-satunya cara yang paling tepat untuk menghindari luka yang lebih dalam. Kebahagiaan hati tak akan datang sendiri, ia merupakan hasil dari sebuah perjalanan panjang dalam memaknai apa yang disebut ketulusan. Aku pastikan kita semua akan baik-baik saja. Pada titik paling akhir ini, tinta penaku telah luruh. Saat kumenulis karya terakhir tentang dirimu, aku memutuskan untuk perlahan berhenti mengagumimu.








TJVZ - The Last 
04.03.20
Read More

Sabtu, 15 Februari 2020

Kita Telah Berubah

Manusia adalah entitas yang terus berkembang, mereka berubah seiring berubahnya zaman. Begitupun diriku. Dulu aku mengira bahwa kau adalah cermin terbaik dalam hidupku. Saat itu, aku masih sangat muda dan naif mengartikan sebuah pertemuan. Aku terbuai oleh keindahan duniawi. Dirimu yang memiliki paras ayu nan lugu. Sungguh membuatku semangat menjalani hari-hari baru. Aku selalu menjadikan kau sebagai motivasi untuk terus berkembang. Ingin rasanya aku menyamai kemampuanmu yang luar biasa itu. Namun sekarang aku sudah sadar, aku salah menempatkan dirimu di dalam hidupku. Kau layaknya manusia pada umumnya, mempunyai sisi gelap. Begitu aku tau sisi gelapmu, aku langsung mengerti bahwa tak ada yang sempurna di dunia ini. Setiap orang pasti punya sisi gelapnya sendiri. Aku pun sama memilikinya. Laki-laki dan perempuan sama-sama manusia, bukan malaikat. Kita semua pernah melakukan kesalahan. Kita telah memahami porsi kesalahan masing-masing. Dan kita masih punya waktu. Jadi pada akhirnya aku harus memutuskan untuk menutup hasrat jiwaku. 
 

Maaf kalau aku harus mengucapkan kata-kata 'pernah' di beberapa tulisanku. Karena memang dulu kita pernah dekat dan sekarang sudah tidak. Ada batasan yang jelas dari dirimu yang kini tak pernah bisa aku sentuh. Pikiranmu yang tak bisa lagi aku tebak akan kemana tujuannya. Ada banyak hal sederhana yang kini berubah menjadi rumit. Seolah-olah berbagai perubahan ini membuat kita saling menyalahkan diri sendiri. Padahal bukan salah kita, ini semua murni karena waktu yang menuntut kita berbeda haluan. Memilih jalan hidup masing-masing. Ini perlu dilakukan agar kita belajar bahwa dalam hidup memang perlu ada yang berubah. Dan biarkan waktu yang mengajari kita untuk menerimanya. 
 
Maka dari itu, aku undur diri atas segala rasa yang nantinya bisa memperburuk kondisi hati. Aku undur diri untuk menitipkan lagi segala rasa yang pernah singgah di hatimu dulu. Aku undur diri untuk segala masa depan yang dulu pernah kita bicarakan. Langkahku pelan-pelan menjauh, mungkin kenangan akan begitu riuh, tapi takkan membuat beberapa luka semakin melepuh. Maaf jika aku tak mampu lagi bertahan, dan maaf jika aku secepat ini melepaskan. Namun hal-hal pahit, harus kau cicipi lebih dulu agar kau tahu apa rasanya manis. Sesendok pelajaran sedang kita lahap bersama-sama, tentang kenyataan bahwa tak seharusnya lagi kita bersama. Lepaslah dengan rela. Karena suatu hari, kita akan sama-sama tersenyum mengingat hari ini.
 
Kau dan aku sama-sama sedang dalam proses mengobati luka lama, sama-sama trauma dalam mengelola perasaan, dan sama-sama ingin fokus ke masa depan. Kita semua telah berubah seiring berjalannya waktu. Dan perubahan itu adalah hal yang mutlak. Aku tak keberatan melihat dirimu yang sekarang dengan segala perbedaannya. Aku sudah meyakinkan diri, bahwa tidak mungkin ada kita. Kau terlalu indah tuk kumiliki. Aku tak sanggup jika aku benar-benar bersamamu selamanya. Aku berhenti meminta kepada Tuhan agar berjodoh denganmu. Aku ingin sekali berhenti mengagumi dirimu. Terima kasih pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupku yang singkat ini.


Read More

Jumat, 17 Januari 2020

Jumat yang Menyentuh Jiwa

Hari Jumat selalu punya cara tersendiri untuk menyapa hati saya. Sejak pagi, udara terasa sejuk karena hujan dari malam membuat langkah kaki saya bersemangat untuk jalan pagi sambil meregangkan badan setelah seminggu penuh bekerja membantu orang tua. Karena hanya di hari jumat saya mendapatkan kelonggaran waktu alias hari jumat adalah hari libur wajib setiap pekannya. Saya sempat berolahraga sebentar, lalu sarapan, kemudian menekuni hobi sederhana yaitu menulis dan membaca buku. Rutinitas kecil yang justru menjadi penyelamat di tengah padatnya hari-hari lain. Kalau sudah melakukan aktivitas tersebut kadang saya suka lupa waktu, tau-tau udah menjelang solat jumat. Akhirnya saya harus mempersiapkan diri untuk melaksanakannya. 

Jumat yang menyentuh jiwa


Seperti biasa siang hari waktu jumat, khotib selalu membawakan materi khutbah Jumat yang berbeda setiap minggunya. Selain ajakan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. ada banyak nasihat serta pengingat kebenaran bagi jemaah solat jumat. Nah untuk minggu ini saya merasa sedikit berbeda. Kali ini khotib membahas tentang bangkit dari keterpurukan. Entah kenapa ini pas banget pada suasana otak saya yang lagi-lagi terombang-ambing dengan perasaan yang hampir menyerah karena belum jadi apa-apa sedangkan saya sudah memasuki usia hampir 20 tahun. 

Isi ceramahnya kurang lebih mengingatkan para jemaah untuk tidak mudah putus asa dan harus selalu percaya pertolongan Allah itu ada dan datang di waktu yang tepat. Percaya bahwa takdir-Nya pasti yang terbaik. Percaya bahwa di balik kesulitan pasti ada kemudahan. Seakan Allah Yang Maha Mendengar sedang menjawab bisikan hati saya selama ini. Sebab beberapa hari terakhir, saya diliputi rasa lelah tak berkesudahan. Entah kenapa setiap awal tahun pikiran saya sering menengok ke belakang hanya untuk mengingat kegagalan. Saya membandingkan diri dengan orang lain lalu jatuh dalam jurang kekecewaan. Dalam doa pun, kadang ada desahan pasrah bercampur protes. Namun, khutbah jumat kemarin mengetuk hati saya dengan kalimat sederhana yaitu jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah. Seperti dalam firman-Nya:

“...dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah, melainkan orang-orang yang kafir.”
(QS. Yusuf: 87)


Surat ini salah satu yang dibawakan khatib jumat. Ayat ini turun ketika Nabi Ya’qub AS menasihati anak-anaknya agar tetap mencari kabar tentang Nabi Yusuf dan saudaranya. Tafsir sederhananya yaitu jangan pernah merasa Allah meninggalkan kita, meski keadaan tampak gelap dan penuh kegagalan. Putus asa itu sifat orang yang tak lagi percaya pada kasih sayang Allah. Bagi orang beriman, harapan itu harus terus ada. Ayat ini mendorong manusia untuk terus berjuang dalam menghadapi kesulitan hidup dan selalu berserah diri kepada Allah, karena hanya Dia lah adalah sumber segala karunia dan kebaikan. 

Ayat ini seperti pelukan yang menenangkan jiwa saya. Selama ini saya terlalu cepat menutup pintu, terlalu mudah merasa kalah, padahal rahmat Allah itu luas tak terbatas. Justru di titik terendah itulah saya seharusnya semakin yakin bahwa Allah masih punya rencana. Dalam hati saya selalu bertanya, "mengapa saya begitu takut pada cap manusia gagal?" Setelah lama berpikir terus menerus saya tersadar, mungkin karena saya selalu menganggapnya sebagai akhir, bukan proses.

Padahal kalau dipikir-pikir, hidup ini mirip seperti anak kecil belajar naik sepeda. Pasti ada fase jatuh berkali-kali, namun ia tak pernah menyerah. Justru setiap kali terjatuh, ia semakin mahir dan percaya diri. Hal inilah yang menguatkan langkahnya. Sifat anak kecil memang terkadang memiliki rasa tak kenal lelah sebelum berhasil. Nah Kalau anak kecil bisa melakukannya, mengapa saya yang sudah mulai menginjak dewasa tidak bisa semangat seperti itu? Kan saya juga pernah menjadi anak kecil? Cobalah bangkitkan kembali daya juang anak kecil itu yang sudah lama terpendam belasan tahun. 

Saya juga sering lupa, bahwa kegagalan bukan berarti Allah membenci saya. Bisa jadi justru sebaliknya, banyaknya kegagalan yang telah saya lalui adalah tanda bahwa Allah ingin melindungi saya dari sesuatu yang belum layak saya terima. Seperti seorang ayah yang menahan anaknya agar tidak memegang api, bukan karena benci, tapi karena sayang. Begitulah Allah dengan hamba-Nya. Ceramah itu seakan menyingkap tabir kecil dalam diri saya. Saya tersadar bahwa saya harus berhenti mengukur hidup dengan kacamata dunia semata. Keterpurukan bukan aib, melainkan ruang belajar. Kegagalan bukan penutup, tapi pintu menuju pengalaman baru. Karena saya yakin, Allah tidak akan mengubah keadaan saya kalau saya tidak berusaha mengubahnya sendiri, sebagaimana firman-Nya:

 “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini seperti cerminan kalau saya ingin bangkit, saya harus mulai bergerak. Tak ada gunanya hanya diam atau menunggu. Perubahan besar selalu lahir dari langkah-langkah kecil. Dan saya juga ingat satu janji Allah yang menenangkan hati:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya...”
(QS. Al-Baqarah: 286)

Saat mendengar ayat ini dibacakan, hati saya seperti disentuh lembut. Betapa sering saya berkata dalam hati, "Ya Allah, aku tidak sanggup." Padahal kenyataannya, saya masih sanggup, hanya saja terlalu cepat menyerah. Allah sudah lebih tahu batas kemampuan hamba-Nya daripada hamba itu sendiri. Semua beban dan ujian sudah diukur oleh Allah sesuai dengan kemampuan manusia. Kalau kita diuji seberat itu, berarti Allah tahu kita bisa menanggungnya. Kadang memang kita merasa tak kuat, tapi kenyataannya kita tetap bertahan hingga hari ini. Itu bukti bahwa Allah selalu menopang kita, meski dengan cara yang kadang tak kita sadari.

Wah, setelah selesai solat Jumat saya merasa seperti diisi ulang semangat dan daya juang untuk bisa bangkit lagi menghadapi kegagalan dan ujian hidup. Saya percaya Allah sedang mempersiapkan yang terbaik untuk saya. Di sisa hari sehabis solat jumat hingga matahari terbenam saya habiskan untuk berpikir dan berpikir. Merenungi benar-benar makna dari ceramah tadi. Entah mengapa, hati saya terasa lebih ringan. Ada rasa percaya yang mulai tumbuh bahwa pertolongan Allah itu selalu dekat, meski sering tidak saya sadari. Saya ingin berbenah mulai dari hal-hal kecil seperti memperbaiki shalat, memperbanyak istighfar, menulis dengan lebih jujur, dan berdoa tanpa lelah. 

Hari Jumat kali ini benar-benar meninggalkan kesan yang mendalam. Seolah Allah mengatur setiap detiknya untuk mengingatkan saya untuk tidak menyerah. Seakan khutbah tadi adalah jawaban dari setiap doa lirih yang pernah saya panjatkan. Saya menulis panjang di buku catatan saya malam itu, agar makna ini tidak cepat hilang. Sebagian tulisan saya buat postingan blog ini. Saya menuliskan kegagalan-kegagalan yang pernah saya alami, lalu mencoba melihatnya dari sudut pandang baru. Ternyata, ada hal-hal baik yang lahir dari kegagalan itu. Ada tempat baru yang saya kenal, ada pelajaran sabar yang saya dapat, ada kedekatan dengan Allah yang semakin tumbuh. Kalau bukan karena rentetan kegagalan yang sudah dilalui, mungkin saya tidak akan pernah belajar sedekat ini dengan Sang Pencipta.


Alhamdulillah... 
Read More