Rabu, 09 September 2020

Pengalaman PKKMB 2020 secara Online

Hari ini saya resmi menjadi mahasiswa.

Rasanya aneh juga menuliskan kalimat itu, karena yang saya lakukan sejak pagi bukanlah datang ke kampus, bukan berjalan melewati gerbang universitas, bukan juga duduk di aula bersama ratusan mahasiswa baru lainnya. Saya hanya duduk di depan laptop, mengenakan kemeja putih, celana hitam, dan sepatu yang sebenarnya tidak akan terlihat kamera.

Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru atau biasa disingkat PKKMB dimulai sekitar pukul tujuh pagi. Saya sudah bersiap lebih awal, memastikan koneksi internet aman, kuota tercukupi untuk dipakai berjam-jam, kamera dipastikan jelas bisa digunakan, dan ruangan cukup terang untuk on cam. Ya begitulah suasana ospek dalam jaringan alias via online yang diharuskan oleh pihak kampus setelah diberikan edaran bahwa ospek tahun ini di rumah aja, dengan menggunakan pendekatan teknologi seperti google meet, zoom meeting, dan live streaming YouTube. 



Walaupun masa orientasi ini online tapi tetap saja ada rasa tegang yang tidak bisa dijelaskan. Bukan karena takut dimarahi senior seperti cerita ospek pada umumnya, tapi lebih karena semuanya terasa asing dengan cara yang berbeda. Sejak awal acara dibuka, saya mulai menyadari bahwa ini bukan pengalaman yang saya bayangkan sebelumnya. Tidak ada suara riuh keramaian mahasiswa baru. Tidak ada getaran semangat yang merasuki jiwa. Tidak ada interaksi langsung antar mahasiswa. Semua berlangsung satu arah. Pemateri berbicara, peserta mendengarkan. Sesekali kolom chat bergerak cepat, tapi itu pun terasa jauh dari kata "berinteraksi", hanya sekadar formalitas percakapan yang dipandu kaka kelas senior. 

Setiap sesi diselingi dengan presensi. Kami diminta mengunggah foto diri sebagai bukti kehadiran. Saya beberapa kali harus memastikan posisi kamera benar, wajah terlihat jelas, dan pencahayaan cukup. Hal kecil seperti ini justru menjadi cukup melelahkan karena harus dilakukan berulang kali. Rasanya seperti diawasi, tapi dalam diam. Gak banyak gerakan yang bisa membangkitkan euforia menjajaki fase baru kehidupan kampus yang selama ini saya bayangkan atau saya lihat di media sosial. 

Enam jam di depan layar ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan. Mata mulai lelah, fokus perlahan menurun, dan rasa jenuh datang tanpa permisi. Saya mencoba tetap mengikuti materi, tentang pengenalan kampus, sistem perkuliahan, dan berbagai hal yang seharusnya menjadi pintu awal saya mengenal dunia baru ini. Tapi entah kenapa, ada jarak yang sulit dijelaskan. Seolah saya sedang melihat semuanya dari luar, bukan benar-benar menjadi bagian di dalamnya. Bagian dari institusi akademis baru yang berfokus pada pengembangan ilmu pengetahuan.

Saya sempat berpikir, mungkin ini memang konsekuensi dari keadaan yang tidak pernah diduga. Tahun ini sangat berbeda. Pandemi memaksa semuanya berubah, termasuk cara mahasiswa baru memulai langkah pertamanya. Tidak ada pilihan lain selain menyesuaikan diri. Di kondisi saat ini adaptasi bukanlah sebuah opsi, melainkan sebuah keharusan untuk bertahan hidup dan berkembang di tengah perubahan lingkungan, situasi dunia, dan tuntutan sosial. Karena jika tidak pasti akan tertinggal dan ditinggalkan. Okelah saya akhirnya hanya bisa pasrah menghadapinya. 

Menjelang siang sekitar jam satu, acara akhirnya selesai. Tidak ada tepuk tangan nyata yang terdengar dekat di telinga, tidak ada momen kebersamaan dialog perkenalan sesama mahasiswa baru yang terasa hangat, tidak ada ikatan langsung dengan kampus. Hanya ada layar yang perlahan ditutup, dan saya kembali ke kamar dengan suasana yang sama seperti sebelum acara dimulai.


Dan yaa usai sudah cerita saya hari ini yang baru saja selesai mengikuti PKKMB. Walaupun rasanya seperti belum benar-benar masuk ke dunia kampus. Mungkin memang seperti ini bentuk awal dari perjalanan saya sebagai mahasiswa di tahun yang tidak biasa. Tidak ada kesan meriah, tidak ada cerita yang bisa langsung dikenang dengan hangat selamanya hingga jadi core memory. Semuanya terasa pelan, canggung, dan asing. Tapi setidaknya, hari ini sudah menjadi tanda bahwa saya benar-benar memulai sesuatu. Entah nanti akan terasa lebih nyata atau tetap seperti ini, saya hanya berharap langkah yang dimulai dari balik layar ini tidak berhenti di tengah jalan, dan perlahan bisa membawa saya benar-benar masuk ke dunia yang sejak tadi pagi hanya bisa saya lihat dari kejauhan.

Mungkin ini baru awal, dan mungkin ke depannya akan terasa berbeda. Untuk sekarang, saya hanya bisa menerima bahwa langkah pertama saya sebagai mahasiswa dimulai dari balik layar yang dingin dan penuh keheningan. Saya harap ini bukan awal yang tidak baik untuk menapaki jalan baru di dunia perkuliahan.
Read More

Senin, 17 Agustus 2020

Agustusan dalam Keheningan

Halo, sobat blogger di mana pun kalian berada. 

Selamat siang dari sudut kamar yang mungkin sekarang jadi "kantor" atau "kelas" yang sekaligus jadi tempat kita merenung paling dalam selama beberapa bulan terakhir. 



Hari ini, 17 Agustus 2020. Hari Kemerdekaan. Tapi rasanya aneh, ya? Biasanya jam segini telinga kita sudah akrab dengan suara peluit lomba balap karung di ujung gang atau riuh rendah persiapan upacara. Namun tahun ini, perayaan ulang tahun ke-75 Republik Indonesia terasa jauh lebih sunyi. Tidak ada kerumunan, tidak ada panjat pinang yang bikin baju kotor, tidak ada lomba makan kerupuk, yang ada hanya hening dan mungkin layar televisi dan gawai yang menyiarkan upacara secara virtual alias upacara online. Fakta menarik aja nih ternyata karakter komik favorit saya Si Juki pernah memprediksi upacara online pada tahun 2012. Sebuah kebetulan yang kebetulan. 

© Si Juki via Twitter @jukihoki


Jujur saja, di tengah pandemi yang belum juga mereda ini, merayakan kemerdekaan terasa seperti sebuah tantangan tersendiri. Ada beban yang sedikit lebih berat di pundak masing-masing. Namun, di tengah kesunyian inilah, saya merasa kita dipaksa untuk benar-benar memaknai apa itu slogan yang jadi tema besar tahun ini yaitu "Indonesia Maju." Sebuah visi besar yang digaungkan oleh Pak Presiden 
Jokowi. 

Beberapa hari lalu, tepatnya Jumat, 14 Agustus, saya sempat menyimak pidato Bapak Presiden di Sidang Tahunan MPR. Ada satu poin yang terus terngiang di kepala saya yaitu beliau mengingatkan kita untuk tetap optimis menghadapi krisis ini. Beliau menyebut bahwa krisis ini harus kita jadikan momentum untuk membenahi diri dan membuat "lompatan besar" bersama-sama.

Terdengar sangat idealis? Mungkin bagi sebagian kita, iya. Apalagi kalau kita melihat realita di lapangan seperti ekonomi yang sulit, sekolah dan bekerja yang masih dari rumah, sampai rasa cemas yang belum hilang setiap kali harus keluar rumah. Tapi kalau saya coba tarik ke kehidupan sehari-hari sebagai warga biasa, pesan itu sebenarnya sangat masuk akal. Optimisme itu bukan berarti kita menutup mata dari masalah. Optimisme di tahun 2020 ini, menurut saya, adalah bentuk keberanian untuk tetap bergerak meskipun langkah kita terbatas. Seperti karakter dalam film-film pahlawan super yang sering saya tonton, mereka tidak menjadi kuat karena tidak punya rasa takut, tapi karena mereka memilih untuk tetap maju saat situasi sedang hancur-hancurnya.

Belakangan ini saya banyak merenung lewat bacaan-bacaan buku pengembangan diri dan filosofi. Sebuah kebiasaan baru yang jadi pelarian positif selama di rumah saja. Ada konsep menarik tentang memfokuskan energi pada hal-hal yang bisa kita kendalikan. Pandemi ini? Jelas di luar kendali kita. Kebijakan global? Bukan ranah kita.

Lalu, apa yang bisa kita kendalikan agar visi "Indonesia Maju" tetap berjalan?

Ya, diri kita sendiri. Langkah kecil kita.
Memilih untuk tetap disiplin memakai masker dan protokol kesehatan itu adalah kontribusi nyata. Memilih untuk tetap kreatif mencari peluang, belajar skill baru lewat internet, atau sekadar memberikan semangat kepada teman yang sedang terpuruk adalah cara kita menjaga mesin bangsa ini tetap berputar. Indonesia tidak akan maju hanya karena kebijakan di atas kertas, tapi karena manusianya yang memutuskan untuk tidak menyerah pada keadaan.

Saya jadi teringat bapak saya. Beliau orangnya cukup tegas dan kalau bicara soal disiplin, tidak ada tawar-menawar. Di masa sulit seperti ini, gaya komunikasinya yang lugas itu seolah jadi pengingat: "Jangan banyak mengeluh, lakukan apa yang bisa dilakukan." Dan memang benar, di saat-saat seperti ini, mentalitas seperti itulah yang kita butuhkan. Realistis, tapi tetap punya daya juang.




Menyambut 75 tahun kemerdekaan dalam kondisi prihatin seperti sekarang sebenarnya adalah ujian kedewasaan bagi kita sebagai sebuah bangsa. Kita sedang diajak untuk melakukan "lompatan besar" yang disebutkan Pak Presiden, bukan dalam bentuk fisik, tapi dalam bentuk pola pikir. Jadi kata "maju" di sini tuh punya makna yang luas, tidak hanya pembangunan infrastruktur fisik saja tapi juga pembangunan sumber daya manusianya sesuai fokus yang ingin dilakukan Pak Presiden di periode kedua ini. Maju itu bisa berarti kita yang lebih peduli pada kesehatan sesama. Maju itu artinya kita yang lebih melek teknologi demi bertahan hidup. Maju itu adalah saat kita bisa mengubah rasa takut menjadi kekuatan untuk berkarya. 

Untuk sobat yang mungkin hari ini merasa lelah, merasa "kok gini amat ya tujuhbelasan kali ini," itu wajar. Sangat manusiawi. Tapi jangan sampai lelah itu mematikan api optimisme kita. Kita punya sejarah panjang sebagai bangsa yang tangguh. Kalau kakek-nenek kita dulu bisa melewati masa penjajahan yang jauh lebih gelap, masa kita harus kalah oleh virus?

Jadi, meskipun tidak ada lomba tahun ini, mari kita rayakan hari kemerdekaan ini dengan cara yang lebih personal. Mungkin dengan berterima kasih pada ibu yang selalu jadi pahlawan di rumah, atau dengan mulai menulis lagi rencana-rencana yang sempat tertunda, atau apa pun itu, sesuatu yang positif yang bisa membangun diri ke arah yang lebih baik lagi. Terus semangat dan tetap optimis. Indonesia Maju bukan cuma slogan pemerintah, itu adalah cita-cita yang bahan bakarnya adalah semangat dan harapan kita semua, warga biasa yang tetap mau berjuang di tengah krisis.


Selamat HUT Ke-75 Republik Indonesia!


Dari saya, yang merayakan kemerdekaan di dalam rumah sambil percaya bahwa hari esok akan jauh lebih cerah. Merdeka!
Read More

Jumat, 14 Agustus 2020

Momen Itu Akhirnya Tiba

Kurang lebih tiga tahun yang lalu tepatnya di awal kelas 12 aku mempunyai harapan besar untuk dapat melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi yaitu kuliah di PTN setelah menyelesaikan masa putih abu-abu. Setiap hari aku berdoa semoga aku bisa lolos seleksi kuliah lewat jalur SBMPTN. Dalam diam, dalam sujud, dalam pikiran yang sering kali melayang ke masa depan yang belum tentu. Aku panjatkan semua doa ke langit berharap akan didengar Yang Maha Kuasa. Aku menuliskan cita-cita dan impian di setiap media yang dapat ditulis, seperti di kertas hvs, di kertas buram, di kertas folio, di kertas soal, di buku tulis, di buku paket, di buku catatan, bahkan di buku besar. Itu semua aku lalukan berulang-ulang sebagai ungkapan rasa percaya diriku. 

Tapi Allah jauh lebih mengetahui apa yang pantas aku terima. Aku gagal lolos seleksi kuliah di mana pun saat itu. Akhirnya aku memutuskan untuk mengambil jeda setahun agar bisa mempersiapkan diri lagi untuk mengikuti ulang ujian masuk perguruan tinggi tahun berikutnya. Meyakinkan diri bahwa ini hanya soal waktu, bahwa saya hanya perlu mencoba lagi dengan usaha yang lebih keras. Di tahun kedua aku mengikuti ujian masuk perguruan tinggi, lagi-lagi aku harus tunduk pada ketetapan-Nya. Aku gagal lagi untuk yang kedua kalinya. Rasa sedih pasti ada, tidak perlu dijelaskan terlalu panjang. Ada kecewa, ada lelah, ada pertanyaan-pertanyaan yang tidak selalu berani saya ucapkan. Tapi hidup tetap berjalan. Waktu tidak berhenti hanya karena saya belum sampai di tujuan.
 
Sampai pada akhirnya aku mengikuti ujian masuk perguruan tinggi untuk yang terakhir kalinya, aku sudah tidak berharap tinggi akan diterima oleh PTN aja dan tanpa ada beban sedikit pun. Tidak ada ekspektasi sedikit pun, aku mengerjakan soal sebisanya, tanpa tekanan, tanpa beban, seperti seseorang yang sudah berdamai dengan kemungkinan terburuk. Aku nothing to lose aja. Aku hanya berusaha, sambil diam-diam tetap berdoa. Siapa tahu, masih ada ruang untuk keajaiban. Nahhh.. Di situlah akhirnya keberuntungan memihakku. 
 
Detik-detik pengumuman jam 15.00 WIB. Aku dan keluarga sudah menunggu di depan laptop untuk menyaksikan momen penentuan masa depanku. Begitu hitung mundur selesai, halaman pengumuman disegarkan, dan aku memasukan nomor peserta dan tanggal lahir. Lalu klik lihat hasil. Dannnn.... 
 
Alhamdulillah.. 

Aku lolos SBMPTN di pilihan pertama! 



Yaitu Agribisnis - Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. 


Aku tak henti-hentinya mengucapkan syukur kepada Sang Pencipta, Allah SWT yang telah melimpahkan Rizki kepadaku. Impian yang selama ini aku inginkan akhirnya dikabulkan oleh-Nya. Aku langsung sujud syukur depan orang tuaku dan salim kepadanya seraya menyerukan rasa syukur alhamdulillah. Dan rasanya itu luar biasa. Seperti anda menjadi Superman. Banyak yang menitipkan harapan-harapan dari berbagai pihak untuk dapat berguna bagi masyarakat khususnya dan negara pada umumnya. Menjadi mahasiswa bukanlah akhir dari perjalanan. Justru ini adalah awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Ada tuntutan untuk berpikir lebih kritis, untuk lebih peka terhadap sekitar, dan untuk bisa memberi manfaat, sekecil apa pun itu. Ada tanggung jawab yang dibebankan kepada mahasiswa untuk dapat berkontribusi langsung dalam mengubah kondisi bangsa ini. 
 
Walaupun aku harus menunggu kurang lebih dua tahun untuk dapat merasakan titel mahasiswa, itu tidak masalah bagiku. Yang penting aku bisa kuliah di PTN. Ini merupakan sebuah anugerah yang luar biasa di tengah pandemi yang belum tau kapan akan berakhir. Seperti cahaya harapan yang menyinariku di tengah bayang-bayang kegelapan tahun 2020. Hari ini, aku merasa lengkap. Senang, haru, dan entah kenapa, ada sedikit rasa sedih yang ikut hadir. Mungkin karena aku tahu betapa panjang jalan yang sudah dilalui untuk sampai di titik ini. Dan untuk semua itu, aku hanya bisa berkata, terima kasih. 

Terima kasih Bapak Ibu atas dukungan yang selalu diberikan kepadaku. Terima kasih abangku yang selalu hadir saat aku rapuh. Terima kasih adikku yang tetap menyemangatiku saat diriku tidak bersemangat. Aku tidak akan sampai di titik ini kalau bukan karena doa dan dukungan dan kesabaran kalian semua. Hari ini aku sangat campur aduk. Senang sekaligus sedih di saat yang bersamaan. Kalian adalah sebenar-benarnya penguatku. 




Read More