Sabtu, 28 Desember 2019

Coretan Akhir Tahun 2019

Selamat malam sobat blogger! 
Gimana kabar kalian semua di akhir tahun ini? Saya harap kondisi kalian dalam kondisi yang sehat dan bahagia selalu. Sekarang sudah memasuki akhir tahun yang berarti saatnya saya untuk membuat postingan khusus tentang kilas balik peristiwa yang saya alami selama tahun 2019, sebagai ungkapan rasa syukur untuk tahun yang mana banyak sekali hal-hal yang baru pertama kali saya rasakan. Walau masih ada yang tidak sesuai dengan harapan, setidaknya saya tidak dengan sengaja meremehkan alur ciptaan Tuhan atas perjalanan hidup saya. Tahun 2019 punya banyak momen yang menegangkan sekaligus menyenangkan, maka dari itu saya mencoba merangkum beberapa momen yang sangat melekat di ingatan saya dalam sebuah post yang seperti biasa saya sebut dengan Coretan Akhir Tahun 2019. Tujuan dari post ini simpel sebenarnya agar tidak mudah lupa aja. Oke. Yaudah langsung saja sob!
 
► Januari - Maret 2019 
Dari awal mulainya tahun 2019 saya sudah semakin disibukkan dengan aktivitas belajar memahami materi ujian SBMPTN yang tinggal hitungan minggu lagi. Selain belajar kegiatan saya yang sebenarnya yaitu membantu kegiatan sehari-hari bisnis milik orang tua saya yang kebetulan semenjak saya lulus sekolah lagi kekurangan pekerja. Jadinya saya bisa dibilang pekerja lepas di usaha orang tua saya. Lumayan dah buat mengisi waktu luang. Tapi terkadang saya kewalahan dan kesulitan untuk menyeimbangkan porsi keduanya. Ada hari-hari di mana saya semangat berjuang dan ada hari-hari di mana saya pasrah dan mengikuti kehendak tubuh untuk melakukan istirahat yang panjang. 
 
► 13 April 2019
Bulan april merupakan bulan yang sangat dinanti-nantikan oleh para pelajar di seluruh Indonesia karena akan dilaksanakan UTBK gelombang pertama. UTBK dilaksanakan dari tanggal 13 April sampai 26 Mei, dengan 12 kali waktu ujian dan dibagi menjadi dua gelombang. Para peserta bisa mengikuti tes maksimal dua kali. Jadi, apabila skor kita di UTBK satu lebih kecil, maka kita bisa menggunakan skor UTBK kedua, begitupun sebaliknya. Intinya skor tertinggi yang akan diseleksi dengan skor peserta lain. Jadi sekarang untuk bisa mengikuti SBMPTN tahun ini kita harus mempunyai nilai UTBK terlebih dahulu. UTBK itu nama tesnya, sedangkan SBMPTN itu nama seleksinya. Untuk gelombang pertama ini saya melaksanakan UTBK nya di SMKS PGRI 1 BOGOR yang berlokasi di Bogor Barat, Kota Bogor.
 
► 17 April 2019 
Kalau UTBK adalah momen ditunggu-tunggu oleh pelajar. Kalau momen ini ditunggu-tunggu juga, tapi skalanya lebih besar lagi yaitu oleh semua warga negara Republik Indonesia. Kita semua pasti sangat antusias adanya datangnya pesta demokrasi terbesar di dunia, Pemilu 2019! Ini merupakan pemilu pertama yang akan saya laksanakan selama menjadi warga negara Indonesia. Pemilu 2019 terdiri dari pemilihan umum legislatif dan pemilihan presiden yang akan diselenggarakan serentak 17 April. Saya benar-benar antusias dalam mengikuti setiap tahapan-tahapan dalam berdemokrasi ini. Dan alhamdulillah semua proses memilih ini berjalan dengan lancar.
 
 
► 4 Mei 2019
Avengers Endgame!! Siapa yang tidak tahu film paling diantisipasi tahun ini? Menyimak kelanjutan cerita para Avengers dan melihat kondisi dunia pasca hilangnya separuh populasi alam semesta memang sangatlah menarik. Dan ini adalah pengalaman pertama saya nonton film dengan format IMAX. Saya sengaja nonton film Avengers Endgame ini di studio IMAX untuk merayakan klimaks dari cerita dari INFINITY SAGA setelah sepuluh tahun eksis di dunia perfilman. Sangat layak film ini ditonton dalam format IMAX. Parade CGI yang sangat memukau membuat saya senang sekali. Saya benar-benar puas nonton film ini dengan format IMAX, layarnya lebih lebar dan nyaman. Pengalaman yang berkesan dan tak akan pernah terlupakan bagi saya. 
 
 
► 11 Mei 2019
Jadi untuk UTBK tahun ini memang ada keistimewaan di mana ujiannya bisa mengikuti dua kali tes. Saya sebenarnya kaget mendengar kabar ini. Saya bertanya-tanya waktu itu apakah kesempatan saya untuk lolos terbuka lebar? Entahlah. UTBK Gelombang II ini dilaksanakan pada 11- 26 Mei 2019. Dan lagi-lagi saya harus mengikuti ujiannya di hari pertama gelombang kedua. UTBK Gelombang II ini saya melaksanakannya di Karawang tepatnya di kampus UNSIKA. Dan yang lebih menantangnya lagi saya ujiannya pada saat bulan puasa ramadan. Behh jadi terasa lebih greget ini sebenarnya. 
 
► 10 Juni 2019 
Pada tanggal ini saya sekeluarga beserta nenek untuk pertama kalinya berkunjung ke candi terbesar di dunia yaitu Candi Borobudur. Perjalanan ini mungkin bukan sesuatu yang luar biasa dalam ukuran umum, mungkin orang lain sudah biasa ke sana bahkan ada yang sudah berkali-kali. Tapi bagi keluarga kami yang jarang melakukan perjalanan bersama, ini menjadi semacam simpul baru. Tidak mengubah dinamika keluarga secara drastis, tapi cukup untuk memberi ruang pada rasa yang kadang terlalu lama disimpan dalam diam. Buat saya pribadi, ini adalah perjalanan kecil yang menyisakan banyak rasa. Saya merasa lebih dekat dengan keluarga saya, lebih mengenal sejarah negeri, dan lebih menghargai momen sederhana yang kadang sering terlewat begitu saja.
 
► 9 Juli 2019 
Ini adalah hari Pengumuman SBMPTN 2019, saya lagi-lagi harus menerima kenyataan pahit ini. Saya gagal di percobaan kedua kalinya mengikuti SBMPTN. Jujur, Rasanya sangat campur aduk hingga membuat saya tak nafsu makan. Antara sedih, gemas dan tentu saja kesal. Padahal waktu itu saya sengaja mengulur waktu buat liat hasilnya. Sebelumnya, saya sudah yakin kalau saya akan lolos SBMPTN kali ini. Saya cukup percaya diri karena ikut test UTBK dua kali, namun takdir berkata lain, nyatanya saya tidak lolos. Cukup menyedihkan memang, tapi saya berusaha menerimanya. 
 
► 20 & 21 Juli 2019 
Karena saya gagal lolos seleksi kuliah lewat jalur SBMPTN, saya akhirnya  memberanikan diri untuk mengikuti test seleksi mandiri untuk pertama kalinya. Saya merasa, saya harus berusaha lebih jauh lagi dalam mengambil kesempatan yang ada di masa seleksi penerimaan mahasiswa baru tahun ini. Jadilah saya memilih ujian mandiri (UM) di IPB, UNDIP dan UNS. Untuk yang IPB, seleksinya memakai nilai UTBK. Dan untuk kedua terakhir memakai nilai murni ujian tertulis. UM UNDIP ujiannya di kota Bekasi tepatnya di Duren Jaya, Bekasi Timur. UM UNS ujiannya di Jakarta tepatnya di kampus UNJ, Jakarta Timur. Saya bela-belain mengikuti ujian tersebut dengan harapan ada yang lolos di salah satu UM. 
 
► 31 juli 2019
Ini adalah pengumuman terakhir ujian mandiri yang saya ikuti dan saya gagal. Secara resmi menandakan bahwa saya gagal kuliah tahun ini. Saya ditolak oleh semua PTN incaran saya. Mulai dari SBMPTN sampai ujian mandiri sudah saya lakukan. Ingin saya menangis untuk yang kesekian kalinya, tapi saya sadar sekarang dunia tak sebaik yang dibayangkan. Kecewa sudah pasti ada, rasanya seperti jatuh ke lubang yang sama karena saya gagal untuk yang kedua kalinya. Sedih pun hampir tak bisa dibendung, mata saya sempat berkaca-kaca begitu mengetahui bahwa saya gagal lagi. Emosi pun mulai bergejolak kembali. Ingin saya menangis untuk yang kesekian kalinya, tapi saya urungkan karena saya sudah sadar sepenuhnya bahwa ini adalah ketetapan terbaik yang Tuhan berikan untuk saya. Saya mencoba ikhlas menerimanya.
 
 
► 4 - 5 Agustus 2019 
Di awal bulan kemerdekaan ada peristiwa yang cukup menghebohkan warga Ibukota dan sekitarnya. Selama kurang lebih 16 jam lamanya listrik di wilayah JABODETABEK mati. Saya pun ikut terkena pemadaman listrik ini. Kalau diingat-ingat, selama 19 tahun saya hidup, baru kali ini saya merasakan mati listrik yang sangat lama. Bagi saya Ini merupakan mati listrik terparah. Saya tak pernah merasakan pemadaman selama ini, saya jadi gak bisa beraktivitas normal seperti biasanya. Gak cuma saya sih, semua orang yang tinggal di JABODETABEK merasakan hal yang sama. Banyak pihak yang dirugikan atas matinya listrik yang sangat vital keberadaannya di zaman modern. Ini adalah momen buruk selama tahun 2019 berjalan.
 
► 31 Agustus 2019 
Pada tanggal ini saya nonton film Gundala. Bisa dibilang Ini adalah film Indonesia pertama yang saya tonton di bioskop, kenapa saya bisa berkata seperti itu? Karena saya memang kurang tertarik dengan film Indonesia yang kebanyakan diisi dengan genre horor atau drama. Kalaupun nonton pasti di tv gak pernah di layar lebar. Kebetulan film ini mengangkat tema superhero dan laga. Dua genre favorit saya. Gak perlu mikir panjang, saya pun jadi tertarik untuk menontonnya, jarang-jarang film lokal ada yang seperti ini. Secara keseluruhan film ini sangat menghibur. Walaupun saya gak begitu tau kisah aslinya dari komik tapi tetap bisa diikuti oleh penonton awam. Luar biasa film Gundala! 
 
► 27 Oktober 2019 
Di akhir oktober, saya berkesempatan untuk menjajal transportasi teranyar yang baru saja diresmikan bulan maret yang lalu oleh presiden dan merupakan kereta bawah tanah pertama di Indonesia yaitu MRT Jakarta. Kenapa baru bulan itu yaa karena baru sempatnya saat itu. Saya bangga akhirnya Indonesia bisa punya transportasi umum yang canggih, modern, dan keren seperti MRT ini. Saking kagumnya, saya sampai tak menyangka hidup di saat MRT Jakarta ini sudah beroperasi. Pengalaman yang tak pernah saya lupakan seumur hidup. 
 
 
► 20 Desember 2019
Akhir tahun saya tutup dengan menonton film STAR WARS!! Seumur-umur saya belum pernah nonton film star wars langsung di bioskop. Selalu tak ada kesempatan untuk bisa berkunjung ke bioskop pada saat ada film star wars. Nahh begitu tau tahun ini ada film star wars episode terbaru saya langsung masukan list daftar nonton film saya. Karena ini adalah momen yang langka di mana saya sedang mengambil jeda tahun jadi saya punya waktu luang lebih banyak dan bertepatan dengan adanya film star wars yang akan di bioskop di mana franchise film ini adalah kesukaan saya. Maka dari itu untuk merayakannya maka saya nontonnya di bioskop IMAX. Ini adalah pengalaman kedua kalinya saya nonton di bioskop tahun ini dengan layar yang super lebar dan nyaman. 
 


Yak.. Mungkin itu saja yang bisa saya ceritakan tentang tahun 2019 versi saya. Kalau dilihat-lihat sih memang lebih banyak kegiatan menghibur diri daripada kegiatan yang benar-benar penting. Tapi gak masalah sih sebenarnya. Mudah-mudahan ini dapat menjadi sebuah pengingat, paling tidak untuk saya sendiri. Biar gak mudah lupa juga mengenang masa lalu. Dan pada akhirnya di antara beberapa tulisan saya di tahun ini, saya masih dapat merangkumnya untuk menjadi sebuah Coretan akhir tahun yang cukup mewakili atas segala sesuatu yang terjadi sepanjang tahun 2019. 

 
Bisa dikatakan tahun 2019, walaupun lebih banyak pengalaman pertama menjajal sesuatu, tapi sejujurnya lebih banyak dirasakan oleh hati alias perasaan. Saya terlalu banyak memakai perasaannya dalam menanggapi berbagai macam hal. Saya gak tau apa yang telah terjadi di dalam diri saya. Tahun ini banyak campur aduknya. Mungkin 2019 akan selalu saya ingat sebagai proses menjadi seorang manusia seutuhnya dengan adanya coretan ini. Saya harap rasa sedih yang menyertai tahun ini cepat berakhir. Saya berharap semoga tahun depan akan lebih baik lagi dari tahun ini. Yaudah lah saya kayaknya saya sudah terlalu panjang nulis ke sana ke mari bahas apa aja yang terjadi di tahun ini, maka dari itu untuk tulisan ini saya cukupkan dulu. Kurang lebihnya mohon dimaafkan. Sekian. Terima kasih banyak telah membaca! 
 
 
 
Selamat akhir tahun 2019 sob!
Read More

Selasa, 24 Desember 2019

Sixth Anniversary!

Hari ini tanggal 24 Desember 2019, menandakan enam tahun blog saya eksis di dunia maya sejak menerbitkan postingan yang pertama tentang pengenalan diri, yang kemudian hari saya jadikan sebagai hari "kelahiran" blog ini. Terlalu berlebihan? Bagi saya tidak, justru ini sebagai pengingat tahunan agar saya selalu produktif dalam membuat sebuah postingan. Saya kira blog saya tak bisa bertahan sampai sejauh ini, karena sekarang semakin banyaknya media sosial yang lebih asyik dan interaktif daripada ngeblog. 
 
Ambil contoh Instagram, misalnya. Isinya seolah tak pernah lepas dari orang-orang yang “memamerkan” keberhasilannya: soal harta, kecerdasan, jabatan, bisnis, hubungan, atau apapun itu. Lama-lama saya merasa terbebani oleh standar gaya hidup yang ditampilkan di sana. Ada gengsi yang tanpa sadar ditanamkan, ada ekspektasi yang tak tertulis tapi terasa menekan. Saking tidak kuatnya menghadapi itu, akhirnya saya memutuskan menonaktifkan akun pribadi Instagram. Sampai sekarang belum saya aktifkan kembali, dan mungkin jika kebiasaan ini sudah terasa nyaman, bisa saja suatu saat saya benar-benar menghapusnya secara permanen.
 
Untungnya masih ada tempat untuk bercerita yaitu blog. Sebuah ruang sederhana, minim hiruk-pikuk, tapi justru di situlah nilai kenyamanannya. Di sini relatif lebih sederhana yang isinya kebanyakan tulisan. Saya tetap berusaha untuk terus berusaha untuk terus konsisten mengisi blog sunyi ini selagi masa gap year kedua. Di sini, saya bisa bercerita tanpa harus takut dinilai berlebihan atau dibanding-bandingkan dengan orang lain. Blog ini semacam ruang jeda, tempat saya bisa bernapas lebih lega. Konsistensinya memang naik turun. Kadang bisa seminggu sekali menulis, kadang juga hanya sebulan sekali. Semuanya tergantung ada tidaknya ide yang muncul di kepala.
 


Pernah waktu itu pas lagi bulan-bulan pertama menyelami dunia blog, saya lagi buntu banget dalam mencari sesuatu yang dapat ditulis, saya coba buat komitmen tegas pada diri sendiri yaitu, setiap bulan minimal satu tulisan bisa dikeluarkan. Tidak banyak, tapi cukup untuk menyalakan api kecil agar tidak padam. Ternyata, komitmen itu cukup berhasil membawa saya sampai sejauh ini. Awalnya hanya artikel yang menarik untuk disebarkan. Lama-kelamaan saya buat sendiri tulisan dari ide-ide yang muncul, gagasan tentang suatu hal, atau konsep-konsep asal yang terlintas di kepala. Dari sana, saya jadi terbiasa menuliskannya dan merasa ada kepuasan tersendiri. Menulis di blog bukan hanya sekadar mengisi waktu, melainkan sudah menjadi kebiasaan yang menyenangkan. Selain itu, saya makin giat menulis blog karena sebagai tempat untuk “mendokumentasikan”  pengalaman apa saja yang pernah saya lakukan dan rasakan selama hidup. Karena makin kesini makin banyak peristiwa penting yang menerjang hidup saya.
 
Bagi saya.. menulis blog itu awalnya seperti menulis catatan harian, ditulis hanya untuk diri sendiri. Karena saya pikir nama aslinya juga WEBLOG, website log, blog. ya maka sekedar catatan harian aja. Dari menulis di blog ini, saya jadi punya kenangan bahwa saya pernah melakukan hal tersebut. Sampai akhirnya, saya berpikir akan sesuatu yang lebih penting dari sekadar mengabadikan sebuah momen, yaitu.. menulis di blog itu bagaikan saya melatih cara berpikir saya. Karena kata kebanyakan orang bilang, jika ingin melatih cara berpikir yang lebih terstruktur, mulailah dengan menulis sesuatu yang terstruktur. Menulis di blog memang saya gunakan sebagai proses latihan saya untuk berpikir lebih terstruktur. Karena saya kalo udah mikir kan jadi liar dan bisa melebar kemana-mana. Jadinya harus diikat dengan tulisan. Kurang lebih seperti itu manfaatnya untuk saya. 
 
Yak, mungkin itu saja yang bisa saya bagikan pada momen enam tahun blog ini. Terima kasih sudah membaca sampai habis, dan terima kasih juga sudah ikut menjadi bagian dari perjalanan kecil ini, entah sebagai pembaca setia atau sekadar singgah sebentar. Semoga saya bisa terus menjaga konsistensi ini, walau sederhana, tapi tetap berarti. 


Cukup Sekian. 


Selamat malam! 
Read More

Rabu, 06 November 2019

Idealisme vs Realita: Mengenal Diri Lewat Kegagalan

Saya tidak tahu harus bagaimana membuat pembuka yang tepat untuk postingan kali ini, tapi yang jelas saya membuat tulisan kali ini sebagai bentuk refleksi diri akan banyak hal yang terjadi setelah saya lulus sekolah. Jujur aja, saya seringkali terlalu idealis dalam menentukan sesuatu. Termasuk soal masa depan. Dulu saya pernah berpikir, "kalau kuliah, harus di kampus negeri ternama, jurusan yang keren, dan nantinya kerja di tempat yang bergengsi." Saya ingin membuktikan kepada dunia bahwa anak SMK seperti saya bisa kuliah di kampus negeri. Tapi realita ternyata nggak sesimpel itu. Kadang, hidup memaksa saya untuk membuka mata lebih lebar, dan memaksa saya untuk bertanya lagi, "Inikah sebenarnya mimpi yang ingin saya raih? atau jangan-jangan ini mimpi yang ditanamkan orang lain?" 


Masih teringat jelas di otak, saya dua kali ikut SBMPTN. Dua-duanya gagal. Rasanya seperti disadarkan dengan cara yang keras bahwa semangat aja nggak cukup, dan idealisme nggak menjamin keberhasilan. Saya sadar saya terlalu menutup mata dari realita, saya terlalu terpesona pada gengsi dan label, tanpa benar-benar mengenali kemampuan dan kesiapan diri. Kadang saya merasa lucu juga kalau mengingat-ngingat masa ambisius. Saya yang dulu idealisnya kelewat langit. Pokoknya harus kampus A, jurusan B, biar keren dan dipandang. Tapi di sisi lain, saya nggak benar-benar paham tentang dunia yang saya incar. Saya terlalu sibuk bermimpi, tapi lupa mempersiapkan diri. Ujungnya? Gagal dua kali. Mental drop dua kali. Lalu merasa hidup saya sia-sia.

Dan di momen-momen sunyi saat mencoba mengurai benang kusut itu, saya teringat satu hal penting. Saya nggak mau mengulangi kesalahan saya di SMK dulu, waktu saya bisa dibilang 'salah jurusan' karena nggak benar-benar tahu isi pelajaran dan tingkat kesulitannya waktu itu. Saya masuk SMK karena ikut arus, bukan karena tahu apa yang saya mau. Diiming-imingi gampang dapat kerja saya nurut aja. Hasilnya ya gitu, banyak kelimpungan, nggak cocok, dan bikin saya makin ragu sama kemampuan diri sendiri. 

Sekarang, kalau harus memilih lagi, apalagi di tingkat universitas yang bebannya pasti lebih berat, saya nggak bisa asal pilih. Saya nggak mau main-main. Saya harus benar-benar yakin dan ngerti kenapa saya milih itu. Karena satu keputusan bisa berdampak ke banyak hal ke depan. Maka dari itu saya banyak belajar juga dari pengalaman orang lain. Saya kembali main Twitter, saya sering mantengin akun-akun studytweet yang sering bahas soal persiapan kuliah, tips belajar, dan juga perspektif hidup. Dari sana saya mulai paham bahwa idealisme itu bagus, tapi tanpa realisme, saya bisa kehabisan tenaga di tengah jalan. Banyak juga yang cerita bahwa mereka pun harus mengubah rencana hidup karena realita yang nggak bisa ditawar. Tapi bukan berarti mereka gagal. Justru dari sanalah mereka menemukan cara baru yang lebih cocok dengan diri mereka.


Dalam sebuah wawancara, mendiang psikolog Albert Ellis, Ph.D., pernah bilang bahwa idealisme cenderung datang dari keinginan untuk menggapai versi terbaik dari hidup, sementara realisme adalah seni berdamai dengan kondisi sekarang dan mencari cara agar tetap bisa bertumbuh. Dua-duanya penting. Tapi yang berbahaya adalah saat kita terjebak di salah satunya secara ekstrem. Saya rasa saya pernah ada di titik itu, terjebak di ekstrem idealisme. Waktu itu, saya memegang keyakinan kaku (rigid belief) yang dalam teori Ellis disebut sebagai "musturbation". Istilah ini adalah keyakinan seseorang bahwa mereka harus selalu memenuhi standar yang sangat tinggi atau perfeksionis supaya bisa merasa berhasil, diterima, atau nyaman. Masalahnya, cara berpikir seperti ini sering bikin orang tertekan. Misalnya yang telah terjadi di saya yaitu saya pernah berada di masa ambisius. Saya maunya kampus A dan harus tetap A, bukan B ataupun C. Tidak peduli apa kata orang lain. Tidak peduli masukan teman-teman. Tidak peduli nasihat orang tua. Pokoknya harus masuk kampus A titik.

Di dalam pikiran saya saat itu, seolah-olah hanya ada satu jalan menuju kesuksesan dan kebahagiaan. Seandainya gagal mencapainya, berarti saya adalah orang yang gagal. Pola pikir ini mencerminkan tiga tuntutan irasional yang sering digambarkan Ellis:

  1. "Saya HARUS berhasil!" → sehingga kegagalan terasa seperti akhir segalanya.
  2. "Orang lain HARUS mendukung saya!" → sehingga ketika orang tua atau teman memberi saran yang berbeda, saya menganggapnya sebagai penghalang.
  3. "Dunia ini HARUS-nya adil dan mudah!" → sehingga ketika prosesnya sulit, saya merasa dunia sedang tidak berpihak.

Padahal, menurut mendiang Albert Ellis, bukan keinginan untuk sukses yang salah, melainkan cara kita untuk menuntutnya. Keinginan adalah hal yang sehat, tapi ketika berubah menjadi keharusan mutlak, itulah sumber penderitaan. Saya tidak menyadari bahwa yang saya perlukan saat itu adalah realisme yang fleksibel. Ini berarti bukan menyerah pada impiannya, tapi menerima bahwa hidup tidak selalu linear. Pola pikir inilah yang perlu dipahami, kita semestinya mengganti kata "harus" menjadi "lebih baik" atau "ingin". Misalnya:

Dari "Saya HARUS masuk kampus A!" menjadi "Saya SANGAT INGIN masuk kampus A, dan akan berusaha semaksimal mungkin. Tapi jika tidak berhasil, bukan berarti dunia berakhir. Masih banyak jalan lain yang bisa saya coba."

Belakangan ini pada akhirnya saya sadar, idealisme tanpa realisme bisa berubah menjadi perangkap mental. Sebaliknya, realisme tanpa idealisme pun bisa kehilangan visi. Mendiang Albert Ellis menawarkan jalan tengah yaitu berjuang untuk yang terbaik, tetapi juga bersiap menghadapi yang terburuk dan menerima diri sepenuhnya, apa pun hasilnya. Pelajaran terbesar yang saya ambil dari teori dan artikel mengenai idealisme dan realisme dalam menggapai impian adalah kita boleh memimpikan hal-hal besar, tapi jangan sampai kita menjadi budak dari impian kita sendiri.


Sekarang saya belajar untuk pelan-pelan menyeimbangkannya. Kalau saya masih mau mengejar kampus impian, saya tahu itu butuh usaha ekstra. Bukan sekadar karena 'keinginan buta', tapi karena saya paham apa konsekuensinya. Dan kalau pun nanti saya harus melepas impian itu, saya juga ingin bisa berdamai tanpa merasa jadi pecundang. Jadi ya, mungkin idealisme saya dulu tak terarah dan terlalu mentah. Sangat ngotot dan percaya diri tanpa melihat medan. Tapi saya juga gak pernah menyesal pernah ngejar mimpi setinggi itu. Justru karena saya jatuh, saya jadi mengerti bahwa dunia ini bukan hanya tentang siapa yang cepat berhasil, tapi juga siapa yang bisa bertahan dan belajar dari setiap luka. 

Sekarang, saya masih belum kuliah, masih di jalur yang belum pasti. Tapi saya nggak lagi malu bilang saya masih punya mimpi. Bedanya, sekarang saya belajar melangkah pelan, lebih sadar arah, dan nggak takut kalau nanti harus berhenti lagi atau istirahat sebentar. Gap year tahun kedua ini jadi ruang sunyi yang pelan-pelan menyembuhkan diri. Mungkin saya masih idealis, tapi kali ini saya nggak sendiri. Ada versi diri saya yang lebih dewasa, lebih sabar, dan lebih tahu cara menyeimbangkan angan dengan kenyataan. Dan kalau kalian juga lagi di titik bingung, entah karena gagal, atau takut melangkah, percayalah bukan cuma kalian. Kita semua sedang belajar jalan, dengan luka masing-masing, dengan caranya masing-masing. Pelan-pelan aja, yang penting masih hidup, masih belajar, dan masih mau berharap. Itu udah keren. 


Semangat!





Read More