Assalamu'alaikum. Wr. Wb.
Alhamdulillah hirobbil'alamin.. Puji dan syukur selalu dipanjatkan kepada Allah SWT. yang masih memberikan izin bertemu lagi dengan Hari Raya Qurban tahun ini. Hari Raya Iduladha tahun ini terasa sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Biasanya, pagi hari Idul Adha dipenuhi suara takbir yang menggema dari masjid, orang-orang berjalan menuju lapangan, dan aktivitas pemotongan hewan qurban yang berlangsung sejak pagi sampai siang. Namun, Iduladha 1441 H yang jatuh pada tanggal 31 Juli 2020 ini terasa sangat sunyi, hanya menyisakan gema takbir dari pengeras suara masjid yang terdengar pelan dari kejauhan.
Pandemi Covid-19 membuat banyak aktivitas harus dibatasi. Daerah tempat saya tinggal masih berada dalam kategori zona merah, sehingga keluarga saya sepakat untuk melaksanakan salat Idul Adha di rumah saja. Tidak ada persiapan khusus, hanya sajadah yang digelar di ruang tamu, dan khutbah yang kami dengarkan melalui siaran televisi. Suasananya sederhana sekali, bahkan rasanya tidak seperti hari raya. Tapi itulah keadaan yang harus kami jalani.
Biasanya setelah salat, jalanan mulai ramai dengan warga yang mengantar hewan qurban atau membantu proses penyembelihan di halaman masjid. Tapi tahun ini berbeda total. Tidak terdengar suara kambing atau sapi yang biasanya menjadi tanda khas Idul Adha. Tidak ada kerumunan orang yang bekerja sama memotong, membersihkan, atau membagikan daging. Pemerintah daerah meminta agar penyembelihan dilakukan di tempat pemotongan hewan resmi untuk menghindari kerumunan. Akibatnya, lingkungan sekitar rumah saya benar-benar sepi. Dari jendela, saya hanya melihat jalanan kosong dan beberapa orang lewat sebentar dengan masker menutupi wajah.
Bagi saya, ini adalah momen yang langka. Sejak kecil, saya selalu mengingat Idul Adha sebagai hari yang paling ramai setelah Idul Fitri. Kalau bukan takbir, yang terdengar adalah suara obrolan warga, aktivitas panitia qurban, atau anak-anak yang berlarian sambil penasaran melihat proses penyembelihan. Tahun ini semuanya hilang. Rumah terasa sunyi meski hari ini seharusnya penuh semangat berbagi.
Bahkan aroma khas daging qurban yang biasanya tercium dari pagi sampai sore sama sekali tidak saya rasakan. Suasananya seperti hari biasa, hanya saja suasana hati sedikit lebih tertata karena kami memakai pakaian rapi. Setelah salat, kami hanya duduk bersama sambil menonton berita tentang perayaan Idul Adha di berbagai daerah. Sebagian daerah melaksanakan salat Id dalam skala terbatas, sebagian lagi memilih untuk tetap di rumah seperti kami. Semua orang sedang berusaha menyesuaikan diri dengan keadaan yang tidak ada seorang pun bayangkan sebelumnya. Pandemi ini membuat banyak kebiasaan terpaksa dihentikan, termasuk tradisi besar seperti qurban di lingkungan sendiri.
Meskipun Idul Adha tahun ini terasa sangat sepi, saya merasa ada hikmah yang Allah ingin tunjukkan. Qurban bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi tentang keikhlasan dalam menjalankan perintah-Nya, meski situasi sedang sulit. Kadang, pengorbanan datang dalam bentuk yang tidak terlihat seperti menahan diri untuk tidak berkumpul, tidak berkerumun, dan tidak melakukan tradisi yang sudah biasa karena ingin melindungi keluarga dan orang lain dari risiko penularan virus. Rasanya berat, tetapi itulah bentuk sederhana dari qurban di masa pandemi.
Sesederhana apa pun Idul Adha tahun ini, saya tetap bersyukur masih bisa merayakannya bersama keluarga. Kami saling mengucapkan selamat di ruang tamu, mengambil beberapa foto untuk kenang-kenangan, dan berbicara lewat video call dengan keluarga besar. Walaupun tanpa keramaian, momen ini tetap memiliki makna tersendiri karena mengingatkan saya bahwa tidak semua hari raya harus ramai untuk bisa dirayakan dengan penuh rasa syukur.
Semoga pandemi ini segera berakhir dan tahun depan kita bisa merayakan Idul Adha seperti biasanya. Semoga Allah menerima segala amal ibadah dan pengorbanan kita, serta melindungi kita dari segala penyakit dan kesulitan. Aamiin.
Selamat Hari Raya Iduladha 1441 H.



