Kamis, 10 September 2020

Pengalaman MOMB 2020 secara online

Halo. Selamat sore sobat! 

Hari ini saya baru saja menyelesaikan rangkaian masa orientasi hari kedua. Dari pagi saya duduk di tempat yang sama, dengan pakaian yang kurang lebih sama, dan layar laptop yang menjadi satu-satunya jendela menuju dunia kampus. Bedanya, hari ini bukan lagi tentang universitas secara umum, melainkan tentang tempat saya akan benar-benar berproses nanti yaitu Fakultas Pertanian. Kegiatan ini biasa disebut dengan Masa Orientasi Mahasiswa Baru alias MOMB yang diselenggarakan oleh para mahasiswa fakultas pertanian itu sendiri di bawah organisasi BEM FAPERTA. 



Acara dimulai pukul delapan pagi. Perlahan-lahan saya sudah mulai terbiasa dengan pola seperti ini, masuk ke ruang virtual, memastikan kamera aktif, dan menunggu acara dimulai. Rasa panik dan deg-degan tidak terlalu hebat seperti hari kemarin, tapi juga tidak ada rasa antusias yang berlebihan. Semuanya terasa cukup normal dan berjalan begitu saja. Materi yang disampaikan hari ini lebih spesifik. Tentang fakultas, jurusan Agribisnis, sistem belajar, hingga gambaran umum dunia pertanian. Saya mencoba lebih fokus, karena ini menyangkut pilihan yang sudah saya ambil. Setidaknya, ini bukan sekadar pengenalan umum, tapi sesuatu yang akan benar-benar saya jalani.

Namun lagi-lagi, ada hal yang terasa kurang. Mendengar penjelasan tentang fakultas tanpa pernah benar-benar melihat lingkungannya secara langsung membuat semuanya terasa seperti teori. Saya tahu nama-nama gedungnya, saya tahu struktur organisasinya, tapi saya belum punya gambaran nyata seperti apa rasanya berada di sana. Enam jam kembali terasa panjang. Duduk, mendengarkan, sesekali mencatat, lalu kembali diam. Interaksi tetap terbatas. Tidak ada obrolan ringan dengan teman baru, tidak ada momen saling kenal yang biasanya menjadi bagian penting dari ospek. Saya bahkan belum benar-benar mengenal siapa saja yang satu jurusan dengan saya. Di sela-sela acara, saya sempat melihat wajah-wajah mahasiswa lain di layar. Banyak yang tampak serius, ada juga yang terlihat lelah. Mungkin perasaan kami tidak jauh berbeda. Sama-sama mencoba menyesuaikan diri dengan situasi yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya.



Menjelang akhir acara, ada sedikit penjelasan tentang harapan ke depan sebagai mahasiswa Fakultas Pertanian. Tentang peran, tanggung jawab, dan peluang yang bisa diraih. Tidak ketinggalan juga beberapa alumnus fakultas pertanian dihadirkan untuk memberikan kisah suksesnya bekerja di bidang pertanian yang sangat menjanjikan itu. Saya mendengarkan dengan cukup fokus dan serius, meskipun di dalam hati masih ada keraguan besar yang belum sepenuhnya hilang. Ketika acara selesai sekitar pukul satu siang, saya menutup laptop dengan perasaan yang lagi-lagi sulit dijelaskan. Tidak bisa dibilang kecewa, tapi juga belum bisa merasa puas. Semuanya terasa seperti belum lengkap.

Dan yaa usai sudah rangkaian aktivitas saya hari ini tentang pengenalan fakultas dan jurusan yang akan saya jalani. Tapi rasanya saya masih berdiri di luar, belum benar-benar masuk ke dalamnya. Kalau harus jujur, hari ini bukan sesuatu yang benar-benar saya nikmati sepenuhnya. Ada rasa bosan yang datang berulang kali, ada juga keinginan untuk sekadar menyudahi semuanya lebih cepat. Tapi di sisi lain, saya sadar bahwa ini memang bagian yang harus dilalui. Mungkin tidak semua awal terasa menyenangkan, dan mungkin tidak semua proses langsung memberikan kesan yang berarti. 

Untuk sekarang, saya hanya mencoba bertahan dan tetap mengikuti alurnya, meskipun tanpa rasa awal yang benar-benar kuat. Siapa tahu, dari langkah yang terlihat biasa ini, perlahan akan muncul sesuatu yang lebih nyata, sesuatu yang membuat saya merasa benar-benar berada di tempat yang seharusnya. Mungkin hanya butuh waktu. Mungkin juga butuh pengalaman yang lebih nyata. 


Yaa kita lihat saja nanti. Untuk sekarang, saya hanya bisa melanjutkan langkah ini, meskipun dimulai dari ruang yang sunyi, tanpa keramaian, tanpa kehangatan yang biasanya menyertai awal perjalanan besar bernama kuliah.
Read More

Rabu, 09 September 2020

Pengalaman PKKMB 2020 secara Online

Hari ini saya resmi menjadi mahasiswa.

Rasanya aneh juga menuliskan kalimat itu, karena yang saya lakukan sejak pagi bukanlah datang ke kampus, bukan berjalan melewati gerbang universitas, bukan juga duduk di aula bersama ratusan mahasiswa baru lainnya. Saya hanya duduk di depan laptop, mengenakan kemeja putih, celana hitam, dan sepatu yang sebenarnya tidak akan terlihat kamera.

Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru atau biasa disingkat PKKMB dimulai sekitar pukul tujuh pagi. Saya sudah bersiap lebih awal, memastikan koneksi internet aman, kuota tercukupi untuk dipakai berjam-jam, kamera dipastikan jelas bisa digunakan, dan ruangan cukup terang untuk on cam. Ya begitulah suasana ospek dalam jaringan alias via online yang diharuskan oleh pihak kampus setelah diberikan edaran bahwa ospek tahun ini di rumah aja, dengan menggunakan pendekatan teknologi seperti google meet, zoom meeting, dan live streaming YouTube. 



Walaupun masa orientasi ini online tapi tetap saja ada rasa tegang yang tidak bisa dijelaskan. Bukan karena takut dimarahi senior seperti cerita ospek pada umumnya, tapi lebih karena semuanya terasa asing dengan cara yang berbeda. Sejak awal acara dibuka, saya mulai menyadari bahwa ini bukan pengalaman yang saya bayangkan sebelumnya. Tidak ada suara riuh keramaian mahasiswa baru. Tidak ada getaran semangat yang merasuki jiwa. Tidak ada interaksi langsung antar mahasiswa. Semua berlangsung satu arah. Pemateri berbicara, peserta mendengarkan. Sesekali kolom chat bergerak cepat, tapi itu pun terasa jauh dari kata "berinteraksi", hanya sekadar formalitas percakapan yang dipandu kaka kelas senior. 

Setiap sesi diselingi dengan presensi. Kami diminta mengunggah foto diri sebagai bukti kehadiran. Saya beberapa kali harus memastikan posisi kamera benar, wajah terlihat jelas, dan pencahayaan cukup. Hal kecil seperti ini justru menjadi cukup melelahkan karena harus dilakukan berulang kali. Rasanya seperti diawasi, tapi dalam diam. Gak banyak gerakan yang bisa membangkitkan euforia menjajaki fase baru kehidupan kampus yang selama ini saya bayangkan atau saya lihat di media sosial. 

Enam jam di depan layar ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan. Mata mulai lelah, fokus perlahan menurun, dan rasa jenuh datang tanpa permisi. Saya mencoba tetap mengikuti materi, tentang pengenalan kampus, sistem perkuliahan, dan berbagai hal yang seharusnya menjadi pintu awal saya mengenal dunia baru ini. Tapi entah kenapa, ada jarak yang sulit dijelaskan. Seolah saya sedang melihat semuanya dari luar, bukan benar-benar menjadi bagian di dalamnya. Bagian dari institusi akademis baru yang berfokus pada pengembangan ilmu pengetahuan.

Saya sempat berpikir, mungkin ini memang konsekuensi dari keadaan yang tidak pernah diduga. Tahun ini sangat berbeda. Pandemi memaksa semuanya berubah, termasuk cara mahasiswa baru memulai langkah pertamanya. Tidak ada pilihan lain selain menyesuaikan diri. Di kondisi saat ini adaptasi bukanlah sebuah opsi, melainkan sebuah keharusan untuk bertahan hidup dan berkembang di tengah perubahan lingkungan, situasi dunia, dan tuntutan sosial. Karena jika tidak pasti akan tertinggal dan ditinggalkan. Okelah saya akhirnya hanya bisa pasrah menghadapinya. 

Menjelang siang sekitar jam satu, acara akhirnya selesai. Tidak ada tepuk tangan nyata yang terdengar dekat di telinga, tidak ada momen kebersamaan dialog perkenalan sesama mahasiswa baru yang terasa hangat, tidak ada ikatan langsung dengan kampus. Hanya ada layar yang perlahan ditutup, dan saya kembali ke kamar dengan suasana yang sama seperti sebelum acara dimulai.


Dan yaa usai sudah cerita saya hari ini yang baru saja selesai mengikuti PKKMB. Walaupun rasanya seperti belum benar-benar masuk ke dunia kampus. Mungkin memang seperti ini bentuk awal dari perjalanan saya sebagai mahasiswa di tahun yang tidak biasa. Tidak ada kesan meriah, tidak ada cerita yang bisa langsung dikenang dengan hangat selamanya hingga jadi core memory. Semuanya terasa pelan, canggung, dan asing. Tapi setidaknya, hari ini sudah menjadi tanda bahwa saya benar-benar memulai sesuatu. Entah nanti akan terasa lebih nyata atau tetap seperti ini, saya hanya berharap langkah yang dimulai dari balik layar ini tidak berhenti di tengah jalan, dan perlahan bisa membawa saya benar-benar masuk ke dunia yang sejak tadi pagi hanya bisa saya lihat dari kejauhan.

Mungkin ini baru awal, dan mungkin ke depannya akan terasa berbeda. Untuk sekarang, saya hanya bisa menerima bahwa langkah pertama saya sebagai mahasiswa dimulai dari balik layar yang dingin dan penuh keheningan. Saya harap ini bukan awal yang tidak baik untuk menapaki jalan baru di dunia perkuliahan.
Read More

Senin, 17 Agustus 2020

Agustusan dalam Keheningan

Halo, sobat blogger di mana pun kalian berada. 

Selamat siang dari sudut kamar yang mungkin sekarang jadi "kantor" atau "kelas" yang sekaligus jadi tempat kita merenung paling dalam selama beberapa bulan terakhir. 



Hari ini, 17 Agustus 2020. Hari Kemerdekaan. Tapi rasanya aneh, ya? Biasanya jam segini telinga kita sudah akrab dengan suara peluit lomba balap karung di ujung gang atau riuh rendah persiapan upacara. Namun tahun ini, perayaan ulang tahun ke-75 Republik Indonesia terasa jauh lebih sunyi. Tidak ada kerumunan, tidak ada panjat pinang yang bikin baju kotor, tidak ada lomba makan kerupuk, yang ada hanya hening dan mungkin layar televisi dan gawai yang menyiarkan upacara secara virtual alias upacara online. Fakta menarik aja nih ternyata karakter komik favorit saya Si Juki pernah memprediksi upacara online pada tahun 2012. Sebuah kebetulan yang kebetulan. 

© Si Juki via Twitter @jukihoki


Jujur saja, di tengah pandemi yang belum juga mereda ini, merayakan kemerdekaan terasa seperti sebuah tantangan tersendiri. Ada beban yang sedikit lebih berat di pundak masing-masing. Namun, di tengah kesunyian inilah, saya merasa kita dipaksa untuk benar-benar memaknai apa itu slogan yang jadi tema besar tahun ini yaitu "Indonesia Maju." Sebuah visi besar yang digaungkan oleh Pak Presiden 
Jokowi. 

Beberapa hari lalu, tepatnya Jumat, 14 Agustus, saya sempat menyimak pidato Bapak Presiden di Sidang Tahunan MPR. Ada satu poin yang terus terngiang di kepala saya yaitu beliau mengingatkan kita untuk tetap optimis menghadapi krisis ini. Beliau menyebut bahwa krisis ini harus kita jadikan momentum untuk membenahi diri dan membuat "lompatan besar" bersama-sama.

Terdengar sangat idealis? Mungkin bagi sebagian kita, iya. Apalagi kalau kita melihat realita di lapangan seperti ekonomi yang sulit, sekolah dan bekerja yang masih dari rumah, sampai rasa cemas yang belum hilang setiap kali harus keluar rumah. Tapi kalau saya coba tarik ke kehidupan sehari-hari sebagai warga biasa, pesan itu sebenarnya sangat masuk akal. Optimisme itu bukan berarti kita menutup mata dari masalah. Optimisme di tahun 2020 ini, menurut saya, adalah bentuk keberanian untuk tetap bergerak meskipun langkah kita terbatas. Seperti karakter dalam film-film pahlawan super yang sering saya tonton, mereka tidak menjadi kuat karena tidak punya rasa takut, tapi karena mereka memilih untuk tetap maju saat situasi sedang hancur-hancurnya.

Belakangan ini saya banyak merenung lewat bacaan-bacaan buku pengembangan diri dan filosofi. Sebuah kebiasaan baru yang jadi pelarian positif selama di rumah saja. Ada konsep menarik tentang memfokuskan energi pada hal-hal yang bisa kita kendalikan. Pandemi ini? Jelas di luar kendali kita. Kebijakan global? Bukan ranah kita.

Lalu, apa yang bisa kita kendalikan agar visi "Indonesia Maju" tetap berjalan?

Ya, diri kita sendiri. Langkah kecil kita.
Memilih untuk tetap disiplin memakai masker dan protokol kesehatan itu adalah kontribusi nyata. Memilih untuk tetap kreatif mencari peluang, belajar skill baru lewat internet, atau sekadar memberikan semangat kepada teman yang sedang terpuruk adalah cara kita menjaga mesin bangsa ini tetap berputar. Indonesia tidak akan maju hanya karena kebijakan di atas kertas, tapi karena manusianya yang memutuskan untuk tidak menyerah pada keadaan.

Saya jadi teringat bapak saya. Beliau orangnya cukup tegas dan kalau bicara soal disiplin, tidak ada tawar-menawar. Di masa sulit seperti ini, gaya komunikasinya yang lugas itu seolah jadi pengingat: "Jangan banyak mengeluh, lakukan apa yang bisa dilakukan." Dan memang benar, di saat-saat seperti ini, mentalitas seperti itulah yang kita butuhkan. Realistis, tapi tetap punya daya juang.




Menyambut 75 tahun kemerdekaan dalam kondisi prihatin seperti sekarang sebenarnya adalah ujian kedewasaan bagi kita sebagai sebuah bangsa. Kita sedang diajak untuk melakukan "lompatan besar" yang disebutkan Pak Presiden, bukan dalam bentuk fisik, tapi dalam bentuk pola pikir. Jadi kata "maju" di sini tuh punya makna yang luas, tidak hanya pembangunan infrastruktur fisik saja tapi juga pembangunan sumber daya manusianya sesuai fokus yang ingin dilakukan Pak Presiden di periode kedua ini. Maju itu bisa berarti kita yang lebih peduli pada kesehatan sesama. Maju itu artinya kita yang lebih melek teknologi demi bertahan hidup. Maju itu adalah saat kita bisa mengubah rasa takut menjadi kekuatan untuk berkarya. 

Untuk sobat yang mungkin hari ini merasa lelah, merasa "kok gini amat ya tujuhbelasan kali ini," itu wajar. Sangat manusiawi. Tapi jangan sampai lelah itu mematikan api optimisme kita. Kita punya sejarah panjang sebagai bangsa yang tangguh. Kalau kakek-nenek kita dulu bisa melewati masa penjajahan yang jauh lebih gelap, masa kita harus kalah oleh virus?

Jadi, meskipun tidak ada lomba tahun ini, mari kita rayakan hari kemerdekaan ini dengan cara yang lebih personal. Mungkin dengan berterima kasih pada ibu yang selalu jadi pahlawan di rumah, atau dengan mulai menulis lagi rencana-rencana yang sempat tertunda, atau apa pun itu, sesuatu yang positif yang bisa membangun diri ke arah yang lebih baik lagi. Terus semangat dan tetap optimis. Indonesia Maju bukan cuma slogan pemerintah, itu adalah cita-cita yang bahan bakarnya adalah semangat dan harapan kita semua, warga biasa yang tetap mau berjuang di tengah krisis.


Selamat HUT Ke-75 Republik Indonesia!


Dari saya, yang merayakan kemerdekaan di dalam rumah sambil percaya bahwa hari esok akan jauh lebih cerah. Merdeka!
Read More