Minggu, 24 Mei 2020

Lebaran Langka

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillah hirobbil'alamin.. Puji dan syukur tak henti-hentinya saya panjatkan kepada Allah SWT. Tuhan Semesta Alam, Yang telah memberikan saya nikmat yang tak bisa saya hitung satu per satu, serta kesadaran untuk dapat merasakan momen langka yaitu ulang tahun di hari yang mulia ini. Solawat dan salam tak lupa semoga terlimpah curahkan pada Nabi besar kita Muhammad SAW. Beserta Keluarganya, Sahabatnya, pengikutnya dan semoga sampai pada kita semua hingga kita mendapatkan pertolongan di hari kiamat nanti. Aamiin.. 

Tanggal 24 Mei 2020 bukan hanya diperingati sebagai jatuhnya Hari Raya Idul Fitri tahun ini, tetapi juga sebagai hari berkurangnya umur dari seonggok daging bernama Zulfahmi Adam. Alhamdulillah di hari kemenangan yang berbahagia ini, saya masih diberikan kesempatan hidup oleh Sang Pencipta. Ini adalah momen yang sangat jarang sekali terjadi, bisa dibilang Ini momen langka—di mana hari kelahiran saya bertepatan dengan Lebaran. Ini bukan suatu kebetulan, tapi ini adalah berkah dari Yang Maha Kuasa. Bisa jadi mungkin kesempatan sekali seumur hidup saya. Sungguh sebuah anugerah yang luar biasa jika saya dapat mensyukuri setiap nikmat yang telah diberikan Tuhan. 


Datangnya Lebaran selalu menjadi saat-saat yang dinantikan oleh seluruh umat muslim di dunia ini, setelah berpuasa 30 hari di bulan Ramadan. Hari raya Idul Fitri merupakan kesempatan bagi umat Islam untuk menunjukkan rasa syukur kepada Allah SWT. dan kesempatan bermaaf-maafan dengan sesama, serta dengan harapan dosa-dosa masa lalunya diampuni. 
 
Momen yang biasanya dinanti saat Idul Fitri adalah berkumpulnya seluruh keluarga besar dan makan-makan dengan berbagai menu khas Lebaran bersama keluarga besar dan kunjungan ke rumah sanak saudara serta kerabat. Selain itu, momen berjalan ke masjid bersama keluarga dan tetangga untuk melaksanakan Salat Id pun menjadi momen yang cukup berkesan dan dinantikan para umat muslim. Namun, Lebaran tahun ini sangat berbeda bagi umat muslim di Indonesia khususnya dan dunia umumnya. Pasalnya, Pemerintah kita resmi melarang masyarakat melakukan salat Idul Fitri di masjid ataupun lapangan secara bersama-sama di ruang publik. Idul Fitri kali ini kita rayakan dengan penuh kesederhanaan. 
 
Dikarenakan daerah saya ini masih termasuk zona merah, keluarga saya menghabiskan waktu perayaan Lebaran hanya di rumah. Keluarga saya memutuskan untuk melaksanakan salat Idul Fitri di rumah sesuai dengan anjuran pemerintah. Kita tidak akan pernah tahu orang di sebelah kita itu terkena virus, kan sekarang ada orang yang tanpa gejala tapi sudah positif. Walaupun kita sudah pakai masker, tidak ada jaminan pasti bahwa tidak akan terkena. Apalagi yang dipakai masker kain, bukan masker bedah yang perlindungan bagus, dan juga maskernya terkadang masih banyak orang tidak benar memakainya. 
 
Setelah melaksanakan salat Idul Fitri, kami menghabiskan momen-momen Lebaran dengan bersilaturahmi secara virtual melalui video call dengan keluarga besar. Tidak lupa berfoto-foto dulu sebagai kenangan bahwa kami pernah menghadapi lebaran yang sangat langka. Kenapa saya bilang langka? Karena sangat jarang sekali terjadi. Pertama, bertepatan dengan hari kelahiran saya. Kedua, bertepatan dengan adanya pandemi virus korona. Nuansa lebaran tahun ini terasa sangat berbeda di mana kita semua harus tetap berada #dirumahaja untuk meminimalkan resiko penularan virus korona. 
 
Sedih, sunyi dan sederhana. Itulah tiga kata yang sangat tepat untuk menggambarkan betapa berbedanya lebaran tahun ini. Seluruh kebiasaan yang kita lakukan di hari raya ini tak bisa dilakukan lagi. Sekarang kegiatanya seperti biasa saja di rumah. Tidak ada perbedaan, seperti tidak merasakan Lebaran, benar-benar sederhana sekali. Kita semua merayakannya di tengah pandemi Covid-19 dengan segala aturan dan kebiasaan yang baru untuk menghambat penyebaran virus. Pandemi ini sungguh mengubah kehidupan sehari-hari, terutama interaksi sosial. 
 
Walaupun Ramadan dan lebaran tahun ini terkesan sunyi dan sangat berbeda, saya yakin tidak mengurangi debar di dada kita saat menyambutnya dan merasa sedih melepasnya. Sebab Ramadan dan lebaran pasti akan datang lagi, namun kita belum tentu bisa bertemu lagi. Meski begitu, kita harus tetap berdoa kepada Allah SWT. agar bisa bertemu lagi dengan Ramadan dan lebaran berikutnya dan mendapatkan ampunan dari Allah Yang Maha Kuasa.
Sesulit apa pun kondisi yang kita jalani saat ini, kita tetap harus bersyukur. Karena kita harus meyakini bahwa, selalu ada alasan dan hikmah yang Allah SWT. berikan di setiap cobaan. Semoga kita semua selalu diberikan kekuatan lebih dalam menghadapi segala ujian dan tantangan hidup yang menerjang. Aamiin.. 

 
 
Akhir kata saya mewakili diri saya sendiri mengucapkan.. 

Selamat Idulfitri 1441 H

Taqobbalallahu minna wa minkum wa shiyaamanaa wa shiyaamakum, Wataqobbal ya kariim Ja'alnallahu minal aidin walfaizin.

Mohon maaf lahir dan batin, jiwa dan raga, serta jasmani dan rohani saya.  


Maafkan semua kesalahan saya, kata-kata saya yang kurang pantas atau barangkali ada tulisan saya yang sempat menyinggung kalian semua. Itu semua murni hanya ingin melampiaskan kegelisahan di kepala agar beban hidup saya bisa lebih ringan. Semoga, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan, kita bisa menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Aamiin..
 
 
 
Selamat hari kemenangan sobat!
Read More

Sabtu, 25 April 2020

Ramadan yang Berbeda

Assalamu'alaikum Wr. Wb. 
 
Marhaban ya Ramadhan!
 
Yak, seperti yang bisa kita rasakan saat ini bahwa Ramadan kali ini sangat amat terasa berbeda. Seperti setengah hidup dan setengah mati. Suasana kehangatan yang biasanya terasa menyelimuti jiwa kini menjadi suasana yang suram dan sangat menakutkan. Alhamdulillah sampai tulisan ini dibuat, saya masih dapat bertahan hidup. Gak tau dah lima bulan kemudian, atau lima tahun yang akan datang. Sulit dibayangkan dengan nalar. Apakah saya masih sanggup menghadapi segala tantangan di tengah pandemi ini atau bahkan sebaliknya. Entahlah.. Rasanya begitu lelah dan bosan dengan kondisi seperti sekarang ini. Namun, saya selalu berharap ada kabar gembira yang akan terjadi di tahun kembar ini, dua puluh dua puluh. Entah itu kabar tentang kuliah atau apa gitu sesuatu yang bisa membangkitkan semangat untuk terus hidup lebih lama. 
 
Dalam menyambut bulan suci Ramadan kali ini, tak ada lagi sholat tarawih berjamaah di masjid, tak ada keramaian pawai menyambut Ramadan. Karena memang saat ini keramaian itu dilarang oleh pemerintah demi memutuskan rantai penyebaran virus korona. Selain itu untuk sekadar mencari hidangan berbuka merupakan sebuah tantangan yang sangat berat karena masih banyak masyarakat yang belum sepenuhnya mematuhi aturan pemerintah untuk menjaga jarak. Kalau saya udah diajak ibu untuk mencari takjil rasanya ingin cepat-cepat pulang aja, karena seperti ada rasa bersalah saat keluar dari rumah di masa pandemi seperti ini. Tentunya kalau pun harus ke luar rumah saya selalu memakai masker. Itu seperti udah barang wajib yang harus dipakai sekarang. Walaupun kurang nyaman dalam bernafas, demi keselamatan bersama apa pun akan saya lakukan. Asli dah, rasanya memang agak sedih. Entah ini ujian, cobaan, atau teguran yang Allah berikan kepada kita umat manusia. Yang jelas dari sini kita sama-sama belajar bahwa kuasa Allah di atas segalanya. 
 

Satu hal yang mungkin saya syukuri dengan adanya virus korona di saat bulan puasa seperti ini adalah tidak adanya ajakan buka bersama. Karena saya paling malas untuk ikut kegiatan tersebut. Seumur hidup saya tidak pernah mengiyakan ajakan buka bersama dari berbagai lapisan masyarakat. Bukan saya anti-sosial, tapi saya merasa makna dari buka puasa bersama sudah bergeser dari yang sebenarnya. Alih-alih mempererat tali silaturahmi, yang ada malah sibuk dengan handphone, meng-update status dan story di media sosial. Foto makanan dulu, baru baca doa. Upload ke WhatsApp dan Instagram dulu, baru makan. Kadang malah ada rasa canggung ketika duduk satu meja dengan orang yang sebenarnya tidak terlalu dekat. Saya jadi bertanya-tanya, "apakah ini benar-benar ibadah, atau hanya formalitas sosial?" Jujur saja, saya merasa lebih khusyuk berbuka di rumah bersama keluarga sendiri dibanding menghadiri acara buka bersama yang penuh basa-basi. Maka ketika ada larangan keramaian seperti ini, entah kenapa saya justru merasa sedikit lega. Mohon maaf nih jika menyinggung banyak pihak, saya hanya mengatakan apa yang saya rasakan saja. 

Larangan keramaian seperti mengadakan buka bersama memang telah menciptakan kesunyian. Namun kesunyian di tengah bulan suci Ramadan itu dapat menjernihkan hati dan pikiran. Di saat itu pula muncul pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya filosofis. Salah satunya adalah "apa makna paling dalam di balik semua ini?" Virus ini seolah ingin memberi pelajaran kepada kita umat manusia bahwa "Anda bukanlah siapa-siapa." Jangankan untuk menghadapi Zat Yang Maha Besar, menghadapi zat yang sangat kecil seperti virus korona saja, manusia tidak berdaya. Kematian di mana-mana. Bagaimana nanti ketika kita akan menghadapi Zat Yang Maha Besar itu nanti? Sang Pencipta, Allah SWT. Tak bisa dibayangkan. Otak manusia terlalu kecil untuk dapat memahami skala penuh alam semesta ini. Allah sendiri sudah mengingatkan dalam Al-Qur’an:

Dan sungguh Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155).

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah akan menguji manusia dengan berbagai cobaan dalam hidupnya, seperti kesulitan, kekurangan, dan kehilangan. Namun, di balik ujian tersebut, terdapat kabar gembira bagi orang-orang yang sabar menghadapinya, yaitu mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat, dan petunjuk dari Tuhan. Maka dari itu mental kita benar-benar diuji tanpa adanya keramaian dunia, apakah umat islam masih bisa menjalani bulan puasa Ramadan ini dengan penuh kesederhanaan? Tujuan yang hanya satu agar bisa fokus beribadah kepada Allah SWT. Walaupun dalam suasana yang berbeda, semoga Ramadan kali ini tetap menjadi bulan suci yang penuh ampunan untuk kita semua. Rasulullah SAW pun bersabda:

"Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Allah akan menimpakan musibah kepadanya." (HR. Bukhari).

Hadis di atas memiliki makna bahwa ujian atau musibah adalah bentuk cinta dan perhatian Allah kepada hamba-Nya, dengan tujuan membersihkan dosa atau meninggikan derajatnya, serta agar ia senantiasa bersabar dan bersyukur kepada Allah. Semoga segala amal ibadah dapat diterima Allah SWT. dan menjadi ladang pahala untuk kita semua. Semoga juga kita mampu mengambil hikmah besar dari pandemi ini bahwa hidup hanyalah persinggahan sementara. Kita diajarkan untuk tidak terlalu bergantung pada dunia, karena yang abadi hanyalah Allah dan janji-Nya. Semoga roda kehidupan bisa segera pulih, bumi segera membaik, dan hati kita tetap terikat pada-Nya, bukan pada dunia yang fana. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Selamat menjalankan ibadah puasa, sob! Semoga Ramadan kali ini menjadi Ramadan yang benar-benar meninggalkan bekas dalam hati kita.
Read More

Sabtu, 11 April 2020

Di Tengah Pandemi

Selamat malam sobat blogger di mana pun kalian berada. Gimana karantinanya? Semoga kalian semua selalu sehat dan dapat mematuhi aturan pemerintah untuk tetap #dirumahaja ya. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa dunia saat ini tengah digemparkan dengan adanya Virus Corona (Covid-19) yang menyerang semua kalangan. Pemerintah pun dengan sigap mengeluarkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau disingkat PSBB dengan harapan memutus rantai penyebaran virus ini. Kita diajak untuk tetap di rumah serta melakukan physical distancing atau jaga jarak.

Mungkin, pembatasan sosial ini terasa menyiksa dan mengekang. Bayang-bayang kesibukan dan kesenangan yang dapat dilakukan di luar rumah, seolah menggoda dan menambah rasa tertekan. Apalagi buat sebagian orang yang terbiasa sibuk di luar, tiba-tiba harus diam di rumah rasanya seperti kehilangan arah. Jujur saja, saya pun pernah merasa jenuh. Bangun tidur, melihat kalender yang seakan berhenti di tempat, hari-hari terasa sama saja. Tidak ada kafe tempat nongkrong, tidak ada obrolan ringan di jalan, bahkan suara jalan raya pun lebih sepi dari biasanya. Seolah-olah kita sedang hidup di dunia yang lain, dunia yang menuntut kita lebih banyak diam dan merenung.


Namun di balik itu semua, ada mereka yang terpaksa berjuang di luar sana, dengan ancaman virus. Mereka juga tidak bisa berlindung di dalam rumah yang aman bersama orang-orang tercinta. Mereka adalah para tenaga medis, garda terdepan dalam menghadapi virus korona. Saya sering membayangkan, bagaimana rasanya berada di posisi mereka? Saat sebagian dari kita bisa mengeluh karena bosan di rumah, mereka justru berhadapan langsung dengan ketakutan setiap hari. Membayangkan hal itu saja membuat hati saya bergetar: betapa besar pengorbanan mereka.

Karena PSBB ini, kehidupan masyarakat Indonesia pun berubah. Di warung makan atau restoran, sekarang udah gak bisa makan di tempat. Hanya bisa bungkus alias take away, atau pesan lewat online. Aktivitas masyarakat pun dibatasi. Tempat ibadah ditutup sementara, warga wajib pakai masker saat berada di tempat umum dan ojek online dilarang mengangkut penumpang, hanya bisa melayani order makanan atau pengantaran barang.

Apakah cara ini cukup menghentikan penyebaran virus korona? Sejauh ini sih lebih efektif ya, dibandingkan tak ada tindakan sama sekali. Sejujurnya, saya melihat dari sisi lain bahwa virus Corona ini mengajarkan banyak hal pada manusia. Mengajarkan hidup sehat, mengajarkan bahwa manusia harus selaras sama alam. Sudah banyak berita yang beredar bahwa kualitas udara di berbagai penjuru dunia jadi lebih bersih, tak terkecuali di Indonesia. Khususnya Ibu Kota Jakarta, dikutip dari Antara News semenjak virus Corona ini menyebar, kualitas udara di Jakarta membaik. Hal tersebut juga dibuktikan pada pantauan Air Quality Index (AQI) AirVisual pada 31 Maret 2020 yang diakses pukul 11.10. Jakarta pada urutan ke-40 dari kota-kota berpolusi tinggi yang artinya kualitas udara Jakarta lebih baik dari 39 kota lainnya di dunia, dengan Air Quality Index (AQI) di angka 60.

Ya gimana nggak bersih, karena masyarakat banyak yang berada di rumah, dan alam pun menjadi lebih segar. Saya sendiri merasakan udara yang lebih ringan saat pagi hari, suara burung yang biasanya tenggelam oleh bising kendaraan kini terdengar lebih jelas. Seakan-akan alam sedang diberi kesempatan untuk bernapas kembali, dan kita diminta belajar menghargai kesederhanaan. Bukankah hidup memang sering kali begitu? Kadang kita baru sadar nikmatnya hal kecil setelah hal-hal besar diambil dari kita.


Selain itu, pemerintah juga sekarang lebih giat mengkampanyekan gaya hidup sehat. Mulai dari himbauan untuk lebih sering mencuci tangan pakai sabun, membiasakan berjemur di bawah terik matahari, makan makanan yang mengandung gizi baik. Itu semua disiarkan hampir setiap hari agar kita jadi terbiasa dengan gaya hidup sehat. Dan di sisi lain, kita pun belajar sabar. Belajar menahan diri untuk tidak egois, karena setiap tindakan kita berdampak bagi orang lain. Dengan tetap di rumah, kita sebenarnya sedang menjaga orang tua kita, tetangga kita, bahkan orang yang sama sekali tidak kita kenal.

Saya juga melihat langsung dampak besar pandemi ini di sekitar saya. Keluarga saya, yang usahanya bergerak di bidang makanan ringan, ikut lesu karena pembeli berkurang drastis sebulan terakhir. Biasanya ada pesanan dari sekolah atau acara hajatan, tapi sekarang semua sepi. Warung-warung banyak yang tutup, warteg dan tempat makan lainnya juga membatasi jam bukanya. Ada perasaan sedih melihat barang dagangan mulai menumpuk, sementara biaya hidup tidak bisa ikut berhenti. Saya jadi lebih paham bahwa pandemi ini bukan hanya soal kesehatan, tapi juga soal perut, soal bertahan hidup. Tapi kami tetap berkeyakinan bahwa semua ini akan berlalu. 

Di sisi lain adik saya yang masih sekolah pun ikut merasakan. Mendadak harus belajar daring, duduk berjam-jam di depan layar. Bagi sebagian orang mungkin terlihat mudah, tapi kenyataannya tidak sesederhana itu. Banyak pelajaran yang susah dipahami tanpa tatap muka, tugas-tugas menumpuk, jaringan internet sering jadi kendala. Dari wajahnya, saya bisa melihat kebingungan sekaligus rasa lelah. Sesekali bertanya kepada saya perihal perlahan atau pun hal teknis berkaitan dengan belajar online. Pendidikan yang biasanya jadi ruang interaksi sosial, sekarang berubah jadi ruang sunyi dengan layar virtual sebagai perantara guru dalam mengajar.

Belum lagi cerita dari banyak orang di luar sana yang harus terpisah dari keluarganya. Ada yang bekerja di kota lain, tidak bisa pulang kampung karena transportasi dibatasi. Ada yang menunda pertemuan penting dengan orang tua atau pasangan. Bahkan ada kisah memilukan, anggota keluarga yang jatuh sakit dan tidak bisa dijenguk karena adanya protokol ketat. Pandemi ini sungguh menampar kita, ternyata kebersamaan yang dulu kita anggap biasa, kini jadi sebuah kemewahan.

Dan kalau saya perhatikan, hingga hari ini di pertengahan April, banyak sekali fenomena tak biasa yang ikut melanda tanah air. Harga masker dan hand sanitizer melonjak drastis sampai sulit ditemukan. Ini sih udah parah ya, sudah di tahap mengkhawatirkan sebenarnya. Di media sosial, tren tantangan kopi dalgona masih bertahan keviralannya karena orang-orang mencari hiburan sederhana di rumah. Jalanan besar di Jakarta dan kota-kota besar lain mendadak lengang, sepi seperti kota mati. Konser musik online bermunculan, penyanyi dan band pun ikut tampil dari rumah masing-masing. 

Saya percaya, pandemi ini adalah ruang jeda yang dipaksa untuk kita semua. Sebuah jeda agar kita bisa kembali mengatur napas, kembali menata apa yang selama ini berantakan. Dari hal-hal sederhana seperti waktu bersama keluarga, obrolan kecil yang sering kita abaikan, sampai momen untuk merenung tentang arti hidup. Tiba-tiba, semua yang dulu dianggap biasa kini terasa begitu berharga.

Jadi siapa pun yang gak sengaja membaca tulisan ini tolonglah jaga diri, keluarga dan lingkungan kalian. Jangan lagi menambah beban para tenaga medis dengan terus bertambahnya kasus positif. Yuk sama-sama kita lawan covid-19 agar cepat musnah dari muka bumi dengan memutus rantai penyebaran virus ini. Semoga dengan bantuan dan bimbingan dari Tuhan Yang Maha Kuasa, kita selalu bisa menyelesaikan masalah atau krisis dalam hidup ini. Dan semoga ketika pandemi ini berakhir, kita bisa keluar sebagai manusia yang lebih bijak, lebih peduli, dan lebih kuat menghadapi apa pun. Aamiin...
Read More