Sabtu, 08 Agustus 2020

Resiliensi



Tumbuh besar bersama Naruto dan mengikuti perjalanannya mengejar mimpi, entah kenapa selalu terasa menyenangkan.

Mungkin terdengar berlebihan, tapi mengenal Naruto terasa seperti sebuah anugerah. Karena dari sana aku belajar banyak tentang arti hidup.

Ada satu hal yang baru aku sadari ketika menonton lagi Naruto di usia dua puluh ini. 

Bukan tentang pertarungannya. Bukan tentang jurus-jurusnya yang terlihat keren.

Tapi tentang satu hal yang terasa sangat sederhana.

Yaitu cara bertahan.

Naruto Uzumaki bukan karakter yang hidupnya mudah. Bahkan bisa dibilang, sejak awal dia sudah kehilangan banyak hal.

Tidak punya orang tua.
Tidak punya tempat pulang yang benar-benar hangat.
Bahkan untuk diakui saja, dia harus berjuang mati-matian.

Kalau dipikir-pikir, dia punya banyak alasan untuk menyerah.

Tapi dia tidak melakukannya.


Nah di situlah letak ketangguhannya. 

Naruto tidak selalu kuat.

Dia pernah kesepian.
Pernah sedih. 
Pernah marah.
Pernah kehilangan arah.

Tapi setiap kali dia jatuh, dia selalu mencoba berdiri lagi.

Bukan karena dia punya kekuatan luar biasa sejak awal.

Tapi karena dia memilih untuk tetap berjalan.


Kadang aku merasa, hidupku juga seperti itu.

Jalanku tidak selalu berjalan sesuai rencana. Bahkan sering kali berantakan.

Aku pernah berada di titik di mana semuanya terasa tidak jelas. Gagal. Bingung. Tidak tahu harus melangkah ke mana.

Rasanya seperti tertinggal.

Seperti semua orang berjalan maju, sementara aku diam di tempat.

Dan jujur saja, di titik itu… menyerah terasa sangatlah menggoda.


Tapi setiap kali aku mengingat Naruto, ada satu hal yang terasa menahan pikiranku.

Kalau dia saja bisa bertahan dengan kondisi seperti itu, lalu kenapa aku tidak?

Padahal aku masih punya banyak hal yang dia tidak punya.

Aku masih punya keluarga.
Masih punya tempat pulang.
Masih punya orang-orang yang diam-diam peduli.


Naruto tidak mengajarkan cara menjadi hebat.

Dia mengajarkan cara untuk tidak berhenti.

Dan itu terasa lebih penting.

Karena dalam kenyataannya, tidak semua orang akan langsung berhasil. Tidak semua orang punya jalan yang mulus.

Tapi semua orang selalu punya pilihan.

Berhenti, atau tetap berjalan? 


Aku tidak sedang bilang kalau mental aku sekuat Naruto.

Aku masih jauh dari itu.

Aku masih sering merasa lelah. Masih sering ragu. Masih sering ingin menyerah.

Tapi setidaknya, sekarang aku tahu satu hal sederhana.

Bertahan itu juga sebuah bentuk kekuatan.


Tidak harus selalu cepat.
Tidak harus selalu sempurna.
Yang penting, tidak berhenti.


Mungkin, pada akhirnya hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai.

Tapi siapa yang tetap berjalan, meskipun pelan.

Dan untuk sekarang, itu sudah cukup bagiku untuk terus melangkah. 

Walaupun pelan.

Yang penting tidak pernah menyerah. 
Read More

Minggu, 02 Agustus 2020

Penguatku



Lebih dari dua puluh tahun sudah mereka ada di sini. Menjagaku.

Kalau dipikir-pikir, waktu berjalan terlalu cepat. Tiba-tiba saja aku sudah berada di titik ini. Usia yang katanya sudah cukup dewasa, tapi rasanya masih sering bingung harus bagaimana menjalani hidup.

Namun di tengah kebingungan itu, ada dua sosok yang tidak pernah benar-benar pergi dari pikiranku.

Ibu dan bapak.

Aku masih ingat saat masa kecil itu. Saat aku belum mengerti apa-apa. Saat dunia terasa sederhana. Saat tugasku hanya bermain dan eksplorasi. Kalian menjelaskan segalanya dengan penuh kesabaran. 

Sekarang, semuanya terasa berbeda.

Malam hari, ketika ibu memintaku memijat kakinya yang mulai lelah, sering kali aku terdiam. Tanganku bergerak, tapi pikiranku ke mana-mana. Dan entah kenapa, tanpa alasan yang jelas, air mata itu kadang jatuh begitu saja.

Kaki itu sudah tidak sama lagi.

Kaki yang dulu kuat, yang dulu mungkin tidak pernah kupikirkan, sekarang mulai menua. Ada garis-garis waktu di sana. Ada lelah yang tidak pernah benar-benar diucapkan.

Aku hanya bisa membalas dengan pijatan sederhana. Itu pun terasa tidak sebanding dengan apa yang sudah beliau berikan.

Kalau kaki itu saja sudah begitu lelah, aku tidak tahu bagaimana dengan hatinya. Dua puluh tahun bersabar menghadapi diriku yang sering kali keras kepala, malas, dan tidak tahu diri.

Begitu pula Bapak.

Dulu, suaranya tegas. Bahkan cenderung dingin. Setiap kata yang keluar seperti aturan yang harus dipatuhi. Tidak banyak basa-basi. Tidak banyak kelembutan.

Tapi sekarang, ada yang berubah.

Suaranya tidak sekeras dulu. Bukan karena beliau berubah menjadi lemah. Mungkin justru karena sudah terlalu lama kuat.

Sepuluh, dua puluh tahun mendidik dengan cara yang sama. Mengulang hal yang sama. Menahan lelah yang sama.

Dan tanpa kusadari, waktu ikut mengubah cara beliau berbicara. Kini lebih tenang dan tidak berlebihan. 

Semangat yang beliau keluarkan setiap hari sangatlah berarti. Semangat yang membuatku tetap hidup sampai sekarang. Semangat yang bisa mengisi perutku. Semangat yang membuatku punya tempat untuk pulang.

Dan aku baru benar-benar menyadarinya ketika semuanya mulai terasa berat.


Aku bukan anak yang sempurna.

Masih sering malas. Masih suka menunda. Kadang masih melawan. Kadang masih mengecewakan.

Dulu, aku marah ketika keinginanku tidak terpenuhi. Sekarang aku malu mengingat itu semua.

Karena aku sudah melihat sendiri bagaimana sulitnya mereka mencari uang. Bagaimana kerasnya dunia yang mereka hadapi setiap hari. Ditambah dengan kondisi pandemi seperti saat ini yang sangat menguji daya juang. 

Mereka mungkin tidak bisa memberikan semua yang aku inginkan. Tapi mereka sudah memberikan semua yang mereka punya.


Yang paling sedih, banyak hal dari mereka yang berubah seiring waktu.

Tenaga berkurang. Suara berubah. Waktu tidak lagi sebanyak dulu.

Tapi ada satu hal yang tetap sama.

Semangat itu.

Semangat yang sederhana, tapi selalu terasa tulus. Bahkan di saat keadaan tidak benar-benar baik-baik saja.


Kadang, saat malam tiba dan aku sendirian, sosok mereka muncul begitu saja di kepala. 

Lalu pikiranku mulai berjalan ke mana-mana.

Apakah aku bisa membahagiakan mereka?

Masih adakah waktu untuk membuat mereka bangga?

Pertanyaan itu tidak pernah benar-benar hilang. Aku hanya belajar untuk menghadapinya.


Aku pernah merasa gagal.

Dan jujur saja, sampai sekarang perasaan itu kadang masih datang. Terutama ketika aku melihat betapa besar usaha mereka, sementara aku merasa belum bisa memberikan apa-apa.

Selama masa gap year ini, aku mencoba membantu semaksimal mungkin. Setidaknya untuk meringankan sedikit beban mereka.

Di situ aku mulai mengenal mereka lebih dekat.

Bukan hanya sebagai orang tua.

Tapi sebagai manusia.

Yang bisa lelah.
Yang bisa khawatir.
Yang punya harapan.


Sebagai seorang anak, aku tidak tahu apakah aku sudah bisa disebut berbakti.

Sepertinya belum.

Tapi aku sedang belajar.
Belajar untuk lebih peka.
Belajar untuk lebih peduli.
Belajar untuk tidak hanya menuntut, tapi juga memahami.


Ibu…
Bapak…
Maaf kalau sampai sekarang aku masih belum bisa membahagiakan kalian sepenuhnya.

Maaf kalau masih ada luka yang aku tinggalkan di hari-hari kalian.

Aku belum sampai di titik yang kalian harapkan.

Tapi aku tidak berhenti.
Aku sedang berusaha.
Pelan-pelan.


Selama kalian masih ada, aku masih punya alasan untuk terus berjalan.

Karena kalian adalah penguatku. 
Read More

Jumat, 31 Juli 2020

Selamat Hari Raya Iduladha 1441 H!

Assalamu'alaikum. Wr. Wb. 

Alhamdulillah hirobbil'alamin.. Puji dan syukur selalu dipanjatkan kepada Allah SWT. yang masih memberikan izin bertemu lagi dengan Hari Raya Qurban tahun ini. Hari Raya Iduladha tahun ini terasa sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Biasanya, pagi hari Idul Adha dipenuhi suara takbir yang menggema dari masjid, orang-orang berjalan menuju lapangan, dan aktivitas pemotongan hewan qurban yang berlangsung sejak pagi sampai siang. Namun, Iduladha 1441 H yang jatuh pada tanggal 31 Juli 2020 ini terasa sangat sunyi, hanya menyisakan gema takbir dari pengeras suara masjid yang terdengar pelan dari kejauhan.

Pandemi Covid-19 membuat banyak aktivitas harus dibatasi. Daerah tempat saya tinggal masih berada dalam kategori zona merah, sehingga keluarga saya sepakat untuk melaksanakan salat Idul Adha di rumah saja. Tidak ada persiapan khusus, hanya sajadah yang digelar di ruang tamu, dan khutbah yang kami dengarkan melalui siaran televisi. Suasananya sederhana sekali, bahkan rasanya tidak seperti hari raya. Tapi itulah keadaan yang harus kami jalani.

Biasanya setelah salat, jalanan mulai ramai dengan warga yang mengantar hewan qurban atau membantu proses penyembelihan di halaman masjid. Tapi tahun ini berbeda total. Tidak terdengar suara kambing atau sapi yang biasanya menjadi tanda khas Idul Adha. Tidak ada kerumunan orang yang bekerja sama memotong, membersihkan, atau membagikan daging. Pemerintah daerah meminta agar penyembelihan dilakukan di tempat pemotongan hewan resmi untuk menghindari kerumunan. Akibatnya, lingkungan sekitar rumah saya benar-benar sepi. Dari jendela, saya hanya melihat jalanan kosong dan beberapa orang lewat sebentar dengan masker menutupi wajah.



Bagi saya, ini adalah momen yang langka. Sejak kecil, saya selalu mengingat Idul Adha sebagai hari yang paling ramai setelah Idul Fitri. Kalau bukan takbir, yang terdengar adalah suara obrolan warga, aktivitas panitia qurban, atau anak-anak yang berlarian sambil penasaran melihat proses penyembelihan. Tahun ini semuanya hilang. Rumah terasa sunyi meski hari ini seharusnya penuh semangat berbagi. 

Bahkan aroma khas daging qurban yang biasanya tercium dari pagi sampai sore sama sekali tidak saya rasakan. Suasananya seperti hari biasa, hanya saja suasana hati sedikit lebih tertata karena kami memakai pakaian rapi. Setelah salat, kami hanya duduk bersama sambil menonton berita tentang perayaan Idul Adha di berbagai daerah. Sebagian daerah melaksanakan salat Id dalam skala terbatas, sebagian lagi memilih untuk tetap di rumah seperti kami. Semua orang sedang berusaha menyesuaikan diri dengan keadaan yang tidak ada seorang pun bayangkan sebelumnya. Pandemi ini membuat banyak kebiasaan terpaksa dihentikan, termasuk tradisi besar seperti qurban di lingkungan sendiri.

Meskipun Idul Adha tahun ini terasa sangat sepi, saya merasa ada hikmah yang Allah ingin tunjukkan. Qurban bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi tentang keikhlasan dalam menjalankan perintah-Nya, meski situasi sedang sulit. Kadang, pengorbanan datang dalam bentuk yang tidak terlihat seperti menahan diri untuk tidak berkumpul, tidak berkerumun, dan tidak melakukan tradisi yang sudah biasa karena ingin melindungi keluarga dan orang lain dari risiko penularan virus. Rasanya berat, tetapi itulah bentuk sederhana dari qurban di masa pandemi.

Sesederhana apa pun Idul Adha tahun ini, saya tetap bersyukur masih bisa merayakannya bersama keluarga. Kami saling mengucapkan selamat di ruang tamu, mengambil beberapa foto untuk kenang-kenangan, dan berbicara lewat video call dengan keluarga besar. Walaupun tanpa keramaian, momen ini tetap memiliki makna tersendiri karena mengingatkan saya bahwa tidak semua hari raya harus ramai untuk bisa dirayakan dengan penuh rasa syukur.

Semoga pandemi ini segera berakhir dan tahun depan kita bisa merayakan Idul Adha seperti biasanya. Semoga Allah menerima segala amal ibadah dan pengorbanan kita, serta melindungi kita dari segala penyakit dan kesulitan. Aamiin.

Selamat Hari Raya Iduladha 1441 H.
Read More