Tumbuh besar bersama Naruto dan mengikuti perjalanannya mengejar mimpi, entah kenapa selalu terasa menyenangkan.
Mungkin terdengar berlebihan, tapi mengenal Naruto terasa seperti sebuah anugerah. Karena dari sana aku belajar banyak tentang arti hidup.
Ada satu hal yang baru aku sadari ketika menonton lagi Naruto di usia dua puluh ini.
Bukan tentang pertarungannya. Bukan tentang jurus-jurusnya yang terlihat keren.
Tapi tentang satu hal yang terasa sangat sederhana.
Yaitu cara bertahan.
Naruto Uzumaki bukan karakter yang hidupnya mudah. Bahkan bisa dibilang, sejak awal dia sudah kehilangan banyak hal.
Tidak punya orang tua.
Tidak punya tempat pulang yang benar-benar hangat.
Bahkan untuk diakui saja, dia harus berjuang mati-matian.
Kalau dipikir-pikir, dia punya banyak alasan untuk menyerah.
Tapi dia tidak melakukannya.
—
Nah di situlah letak ketangguhannya.
Naruto tidak selalu kuat.
Dia pernah kesepian.
Pernah sedih.
Pernah marah.
Pernah kehilangan arah.
Tapi setiap kali dia jatuh, dia selalu mencoba berdiri lagi.
Bukan karena dia punya kekuatan luar biasa sejak awal.
Tapi karena dia memilih untuk tetap berjalan.
—
Kadang aku merasa, hidupku juga seperti itu.
Jalanku tidak selalu berjalan sesuai rencana. Bahkan sering kali berantakan.
Aku pernah berada di titik di mana semuanya terasa tidak jelas. Gagal. Bingung. Tidak tahu harus melangkah ke mana.
Rasanya seperti tertinggal.
Seperti semua orang berjalan maju, sementara aku diam di tempat.
Dan jujur saja, di titik itu… menyerah terasa sangatlah menggoda.
—
Tapi setiap kali aku mengingat Naruto, ada satu hal yang terasa menahan pikiranku.
Kalau dia saja bisa bertahan dengan kondisi seperti itu, lalu kenapa aku tidak?
Padahal aku masih punya banyak hal yang dia tidak punya.
Aku masih punya keluarga.
Masih punya tempat pulang.
Masih punya orang-orang yang diam-diam peduli.
—
Naruto tidak mengajarkan cara menjadi hebat.
Dia mengajarkan cara untuk tidak berhenti.
Dan itu terasa lebih penting.
Karena dalam kenyataannya, tidak semua orang akan langsung berhasil. Tidak semua orang punya jalan yang mulus.
Tapi semua orang selalu punya pilihan.
Berhenti, atau tetap berjalan?
—
Aku tidak sedang bilang kalau mental aku sekuat Naruto.
Aku masih jauh dari itu.
Aku masih sering merasa lelah. Masih sering ragu. Masih sering ingin menyerah.
Tapi setidaknya, sekarang aku tahu satu hal sederhana.
Bertahan itu juga sebuah bentuk kekuatan.
—
Tidak harus selalu cepat.
Tidak harus selalu sempurna.
Yang penting, tidak berhenti.
—
Mungkin, pada akhirnya hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai.
Tapi siapa yang tetap berjalan, meskipun pelan.
Dan untuk sekarang, itu sudah cukup bagiku untuk terus melangkah.
Walaupun pelan.
Yang penting tidak pernah menyerah.


