Minggu, 01 September 2019

Jalan yang Tidak Ramai

Tak terasa sekarang sudah tanggal satu, Agustus kemarin yang terasa cepat atau saya yang terlalu sibuk menghibur diri? Hmm… Walau bagaimanapun, saya hanyalah manusia biasa. Saya butuh yang namanya istirahat dari segala keramaian dunia. Ketika mimpi besar saya tahun ini belum tercapai, rasanya tidur adalah aktivitas yang paling menyenangkan bagi saya. Di dalam tidur saya bisa mimpi menjadi apa saja yang saya inginkan. Mimpi dalam tidur itu bagaikan surga tersembunyi di dunia. Hanya satu cara untuk bisa masuk ke dalamnya yaitu dengan tidur yang khusyuk.

Lama-kelamaan, saya mulai sadar bahwa saya tidak bisa terus-menerus berlindung di balik keheningan. Rasa nyaman dari tidur dan pelarian justru membuat saya makin jauh dari harapan yang pernah saya tanam sendiri. Saya bukan sedang menyerah, hanya sedang mencari waktu yang tepat untuk kembali menyusun langkah. Dan mungkin, sekarang saatnya untuk perlahan-lahan menengok kembali jalan yang sempat saya tinggalkan. Karena di balik keinginan untuk diam, ada suara kecil dalam diri saya yang masih ingin berusaha, meskipun dengan cara yang berbeda.

Saya ingin jujur bahwa satu-satunya hal gak enak saat gap year yaitu… semangat belajar yang gak terlalu tinggi. Rasanya berjuang sendirian itu memang menyedihkan. Saya gak punya support system yang baik dalam proses pembelajaran. Maka dari itu, untuk gap year jilid dua ini, salah satu hal yang ingin saya lakukan yaitu mencari 'teman berjuang' sebanyak-banyaknya yang sejalan dengan saya. Menciptakan suasana yang mendukung proses belajar saya. Gak harus kenal banget sih, cukup mengetahui bahwa ada sejumlah orang yang bersemangat menggapai mimpinya di PTN incarannya masing-masing sudah cukup buat saya. Jadilah saya akhirnya aktif kembali bermain Twitter. Karena hanya di Twitter saya menemukan frekuensi tersebut. Walaupun saya seringnya hanya menjadi silent reader, tapi saya akui cukup membantu saya untuk tetap berproses.

Ada banyak akun studytweet yang saya temukan secara tidak sengaja. Beberapa di antaranya rutin membagikan jadwal belajar, update soal-soal latihan, atau sekadar curhat tentang rasa capek karena terus-menerus mencoba. Anehnya, saya tidak merasa terintimidasi. Justru sebaliknya—saya merasa sedikit hangat. Melihat mereka berjuang dengan gigih, sambil tetap jujur tentang rasa lelah dan cemasnya, membuat saya merasa tidak sendirian. Mereka tidak tahu keberadaan saya, tapi entah kenapa, keberadaan mereka seperti jadi bahan bakar kecil yang menyalakan kembali api yang hampir padam. Dari situ saya sadar, bahwa semangat tidak selalu datang dari dalam diri. Kadang, semangat datang dari melihat orang lain tetap berjalan, meski pelan. Dan itu cukup. Cukup untuk membuat saya bertahan satu hari lagi. Satu minggu lagi. Satu bulan lagi.


Saya rasa, sudah waktunya saya menuliskan isi hati ini secara utuh. Bukan hanya sebagai bentuk pelampiasan, tapi juga sebagai pengingat bahwa keputusan ini bukanlah sesuatu yang saya ambil dengan tergesa-gesa. Ini adalah keputusan besar yang akan sangat memengaruhi hidup saya ke depan. Dan saya ingin jujur dalam menyampaikannya dalam bahasa yang amat sangat sederhana, karena saya tahu betapa dalamnya pergulatan yang saya alami untuk sampai di titik ini.

Setelah pertimbangan yang panjang, saya akhirnya memutuskan untuk mengambil gap year untuk kedua kalinya. Bagi sebagian orang, keputusan ini mungkin terdengar aneh atau bahkan sia-sia. Tapi bagi saya, ini adalah bentuk tanggung jawab pada diri sendiri. Saya tidak ingin hanya sekadar "jalan terus" tanpa benar-benar tahu apa yang sedang saya tuju. Keputusan ini tidak mudah. Saya menghabiskan banyak waktu untuk merenung, mempertimbangkan ulang semua yang telah saya jalani, dan membayangkan segala kemungkinan ke depan. Namun setelah menimbang segalanya, saya merasa gap year kedua ini adalah langkah yang paling jujur dan paling masuk akal untuk saya ambil saat ini.

Fokus saya kali ini bukan lagi sekadar mengejar kampus impian. Lebih dari itu, saya ingin memanfaatkan waktu ini untuk mengenali diri saya lebih dalam, mengeksplorasi minat yang selama ini terabaikan, dan mengembangkan keterampilan yang bisa berguna di masa depan. Saya juga berharap bisa mencoba kegiatan baru seperti menjelajah tempat baru atau menekuni hobi baru, agar dunia saya tak sebatas meja belajar dan hasil try out.

Pengalaman dari gap year pertama memberi saya pelajaran berharga. Bahwa jeda bukan berarti diam dan diam bukan berarti kalah. Justru dari situ saya belajar menjadi lebih sabar, lebih kenal diri sendiri, dan lebih tahu arah. Maka saya percaya, gap year kedua ini bisa jadi ruang tumbuh yang bahkan lebih bermakna dari sebelumnya.

Saya sudah tahu konsekuensi penuhnya, mungkin saya akan terlambat lulus, terlambat masuk dunia kerja, atau bahkan kehilangan momentum. Tapi saya tidak takut. Karena saya yakin, hidup bukan soal cepat-cepat sampai, melainkan soal bagaimana kita bisa bertahan, bertumbuh, dan tetap waras dalam prosesnya.

Jadi inilah saya, dengan keputusan yang mungkin tidak populer, tapi saya merasa ini sangat berarti. Saya tidak meminta pengertian dari semua orang. Tapi saya harap, dengan menuliskannya secara jujur seperti ini, saya bisa lebih berdamai dengan diri sendiri. Dan mungkin, suatu hari nanti saya akan bersyukur karena pernah berani mengambil jalan yang tidak biasa.

Memang saya belum sampai ke mana-mana. Tapi bukan berarti saya diam. Saya sedang belajar menempuh jalan yang tidak ramai, menata ulang arah, dan mendengar suara hati yang selama ini tenggelam dalam hiruk-pikuk dunia. Saya tidak tahu kapan akan sampai, atau apakah saya akan benar-benar sampai tujuan. Tapi saya masih percaya, selama saya tetap jujur pada diri sendiri dan terus melangkah, sekecil apa pun, hidup akan membawa saya ke tempat yang memang seharusnya.
Read More

Sabtu, 24 Agustus 2019

Selanjutnya Apa?

Selamat malam sobat blogger di mana pun kalian berada. Apa kabar kalian semua? Saya harap kondisi kalian sehat selalu. Di bulan agustus ini biasanya adalah bulan dimana banyak kampus yang sedang melaksanakan ospek untuk para mahasiswa baru. Rasa tak nyaman mulai bergejolak dalam diri saya tatkala melihat banyaknya orang yang update status kegembiraannya diterima oleh PTN dan mulai foto-foto di ikon kampus masing-masing. Akhirnya saya memutuskan untuk vakum sementara dari media sosial yang penuh dengan euforia ospek kampus dengan segala keseruannya. Sungguh mengasyikkan sekali nampaknya. 
 
Sementara itu.. Saya.. Seperti yang kalian ketahui, tahun ini saya gagal lolos seleksi penerimaan mahasiswa baru lewat jalur mana pun untuk yang kedua kalinya. Kecewa sudah pasti ada, rasanya seperti jatuh ke lubang yang sama karena saya gagal untuk yang kedua kalinya. Sedih pun hampir tak bisa dibendung, mata saya sempat berkaca-kaca begitu mengetahui bahwa saya gagal lagi. Emosi pun mulai bergejolak kembali. Seketika itu juga otak saya langsung dipenuhi dengan tanda tanya.. 
 
"apa yang salah dengan diriku sehingga aku belum layak untuk dapat diterima oleh PTN?" 
 
"Mengapa aku masih gagal?" 
 
"Apa yang kurang ya?" 
 
"Apa yang harus aku lakukan selanjutnya?" 
 
 
Pertanyaan-pertanyaan itu muncul lagi untuk yang kedua kalinya. Saya mau gak mau harus banyak instrospeksi lagi terkait langkah yang sudah saya lakukan selama ini. Apakah cara saya yang kemarin sudah benar. Harus ada revisi terhadap sistem gap year yang telah saya lalui kemarin. Dari sini, pikiran saya lagi-lagi mulai berjalan dengan cepat. Saya pun membiarkan diri ini tenggelam dalam lautan pertanyaan hebat. Sekitar tiga minggu saya melakukan pergumulan hebat dengan diri sendiri, akhirnya saya sadar bahwa kegagalan adalah satu-satunya teguran dan respon terbaik yang diberikan Tuhan untuk saya. Ini semacam pecutan yang keras untuk diri saya sendiri agar saya terus belajar dan belajar lagi. 
 
Bisa jadi saya gagal karena terlalu pusing memikirkan luka batin yang belum sembuh serta eksistensi diri pasca kelulusan sekolah. Bisa jadi saya gagal karena saya terlalu nyaman dengan ilusi kelonggaran waktu yang ada selama gap year kemarin, hingga teperdaya dan akhirnya malas melakukan apa pun. Situasi-situasi seperti ini lah yang sempat membuat saya tidak banyak belajar dan berlatih lebih giat lagi. Inilah yang ingin saya perbaiki nanti. Saya berniat untuk menambah satu tahun lagi jeda sambil mempersiapkan diri sejak dini untuk pertempuran terakhir kalinya. 
 
Perlahan-lahan saya sudah mulai terbiasa dengan penolakan seperti ini. Karena yang namanya pengalaman gak selalu hal yang indah-indah. Pengalaman bisa berisi tentang hal-hal yang berhasil dicapai atau bisa juga hal-hal yang tidak pernah diharapkan. Seperti kegagalan saya ini. Menerima takdir yang tak sesuai dengan keinginan itu memang berat. Sangat berat! Tujuannya apa? Satu kata. Ikhlas. Ikhlas dengan jalan yang sudah Tuhan tetapkan untuk saya. Ikhlas menerima kenyataan bahwa saya belum berhasil kuliah tahun ini adalah suatu keberanian. 
 
Memang jalan yang saya pilih memang bukanlah jalan yang mudah. Bisa dibilang nekat dan tidak biasa. Di luar kebiasaan orang pada umumnya. Medannya sangat terjal. Peluangnya pun sangatlah kecil. Meskipun ada pilihan lain yang tampaknya lebih mudah, lebih nyaman, lebih enak; terlihat menyenangkan; banyak yang menginginkannya; serta menjadi angan yang sering diidam-idamkan banyak orang. Dengan tujuan akhir yang terlihat tak ada perbedaan satu sama lainnya. Namun saya tak yakin, apakah saya bisa menikmati setiap hal yang ada di dalamnya. Karena ini adalah kuliah, berbeda jauh dengan sekolah yang masih bisa dipaksakan. Saya tak ingin tersiksa lagi hanya gara-gara salah jurusan seperti yang pernah saya rasakan di masa putih abu-abu. 
 
Maka dari itu saya memutuskan untuk memilih jalan ini. Terlihat sangat beresiko, berbahaya, dan penuh tantangan besar. Namun saya harap terjaga nilai-nilai idealisme. Dalam segala proses dan lika-likunya, saya berusaha untuk menikmatinya. Saya selalu percaya bahwa semua pengalaman ini akan menguatkan pribadi saya dan membuat saya tangguh di masa mendatang. Saya akan menjadi lebih kuat dalam menghadapi situasi-situasi sulit yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Karena takdir-Nya tidak pernah salah, Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk saya, sedangkan saya tidak. 
 

Gagal itu hal yang biasa terjadi, bukan aib yang harus ditutupi. Akan menjadi luar biasa ketika kita bisa bangkit dari kegagalan itu. Memang nggak mudah untuk bangkit, saya pun harus jatuh bangun dalam menghadapi situasi-situasi sulit selama proses ini berlangsung. Tapi kita kan butuh kemajuan dalam hidup, kalau kita mau maju, berkembang dan sukses yaa tak ada pilihan selain harus belajar dari yang namanya kegagalan. Kegagalan bisa menjadi pemantik semangat karena sukses adalah sebuah pilihan. Kita bisa memilih kesuksesan macam apa yang kita inginkan. Tentunya dengan perjuangan yang terus berkelanjutan hingga kesuksesan itu bisa diraih. Yaaa terdengar sangat klise memang, tapi itu merupakan kebenaran. Saya jadi teringat kutipan almarhum Pak Sutopo yang sangat menginspirasi. 

 


Intinya, seberapa besar pun usaha ingat Tuhan tetap punya kuasa atas segala sesuatu. Jangan lupa bersyukur dan jangan larut dalam kesedihan karena sejatinya kuliah itu proses menimba ilmu, kualitas kita tergantung seberapa pandai kita mengendalikan diri di titik terendah dalam hidup. Tetap semangat!!!
 
 

Salam hangat, dari saya pejuang SBMPTN yang belum beruntung (lagi).. 
 
 






 
Sekian.
Read More

Sabtu, 17 Agustus 2019

Refleksi kemerdekaan dan makna SDM unggul

Dua minggu yang lalu listrik mati. Lama. Lebih dari sepuluh jam di tempat saya. Awalnya saya kira cuma sebentar, seperti biasanya. Tapi ternyata makin malam, justru makin sunyi. Tidak ada suara kipas angin, tidak ada lampu jalan menyala. Bahkan sinyal pun ikut lenyap. Rasanya seperti dipaksa diam di tengah dunia yang tiba-tiba kehilangan tenaga. Nah dari gelapnya peristiwa itu, justru ada hal yang menyala di kepala saya, kita ini sebenarnya sudah merdeka belum, sih?

Saya tahu, pertanyaan itu terdengar terlalu besar. Terlalu berat untuk dipikirkan saat sedang kehabisan daya baterai HP. Tapi mati listrik kemarin yang katanya hanya karena gangguan teknis di pembangkit utama membuat saya sadar satu hal, negara ini masih sangat rentan. Bahkan untuk hal yang paling mendasar sekalipun, listrik. Jika hal mendasar seperti energi saja belum bisa dijaga dengan baik, lalu bagaimana kita mau berbicara soal "SDM unggul" atau bahkan "Indonesia maju" yang menjadi tema utama perayaan tujuhbelasan tahun ini. 



Saya bukan ahli apa-apa. Saya cuma orang biasa yang suka mikir terlalu dalam di saat tidak ada yang minta. Tapi mungkin justru karena itu saya sering mempertanyakan banyak hal yang orang anggap biasa aja. Setiap tahun, kita pasang bendera. Kita nyanyikan lagu kebangsaan. Kita lomba makan kerupuk. Semua tradisi itu hangat, menyenangkan, dan jujur saja membawa kenangan masa kecil yang tak tergantikan. Tapi kalau dipikir-pikir, kadang kita terlalu sibuk merayakan kemerdekaan, sampai lupa menguji ulang maknanya. Karena buat saya, kemerdekaan itu bukan cuma soal masa lalu. Tapi tentang bagaimana kita menjalani hari ini. Tentang punya pilihan. Punya akses. Punya harapan.

SDM unggul, katanya. Saya sering mendengar jargon itu. Tapi sering juga bingung apa artinya dalam kehidupan sehari-hari. Apakah itu berarti harus punya gelar tinggi? Gaji besar? Kemampuan bicara lancar di depan umum? Atau SDM unggul itu orang-orang yang tetap bertahan walau hidup tidak mudah? Yang bangun pagi-pagi, kerja serabutan, tapi masih sempat bantu tetangganya? Yang belajar dari YouTube karena tak mampu bayar kursus, tapi tetap mau berkembang?Kalau itu definisinya, saya kenal beberapa SDM unggul di sekitar saya. Sayangnya, mereka tidak dianggap unggul oleh sistem hanya karena tidak "berlabel resmi". Maaf untuk mengatakannya, tapi ini memang benar adanya. 

Saya lagi-lagi mengambil contoh mati listrik kemarin yang ibarat kata seperti metafora kecil dari kenyataan yang lebih besar yaitu bangsa ini bisa punya visi yang hebat, tapi kalau fondasinya goyah, semua bisa lumpuh. Kita bisa bicara soal industri 4.0, digitalisasi, unicorn, energi terbarukan, dan sebagainya. Tapi kalau akses listrik saja tidak stabil, apa yang bisa dibanggakan? Kalau generasi mudanya masih harus meminjam kuota ke tetangga atau teman yang agak berada untuk bisa tetap belajar, ini bukan soal kesiapan teknologi—tapi ketimpangan yang nyata.

Saya tidak ingin terdengar sinis tapi saya juga tidak ingin membohongi diri sendiri. Saya pikir, Indonesia belum sepenuhnya merasakan keunggulan SDM-nya. Ya memang tidak harus terasa saat ini juga tapi setidaknya kita bisa jujur pada diri sendiri bahwa jalan kita masih panjang dan tidak semua orang mendapat jalur yang sama rata. Ada yang berangkat dari start yang nyaman, ada yang bahkan belum diberi sepatu. Buat saya pribadi, kemerdekaan itu bukan hanya soal seremoni. Tapi soal ruang. Ruang untuk gagal. Ruang untuk berkembang. Ruang untuk tumbuh. Ruang untuk belajar jadi diri sendiri.

Saya pernah merasa tidak "unggul" karena hidup saya tidak secepat orang lain. Tidak sekaya teman-teman saya. Tidak semulus jalur yang digembar-gemborkan para motivator. Tapi sekarang saya belajar menerima bahwa setiap orang punya waktunya masing-masing. Punya definisi suksesnya sendiri. Dan mungkin negara ini juga begitu. Sedang belajar dewasa, seperti kita. Masih banyak yang harus diperbaiki, tapi bukan berarti tidak bisa. Saya percaya Indonesia masih berpotensi untuk merasakan kualitas SDM yang berdaya saing tinggi. Tinggal kemauan untuk terus melaju, tidak peduli seberapa sulitnya rintangan ke depan. 

Tak ada negara di dunia yang yang benar-benar selesai dengan perjuangan memajukan kualitas bangsanya, bahkan negara maju sekalipun tetap masih melakukan pembangunan demi masa depan yang lebih baik. Kita semua sedang tumbuh, belajar, dan mencari bentuk yang ideal. Maka kalau hari ini kalian masih merasa kecil, merasa tertinggal, merasa belum jadi siapa-siapa itu wajar. Mungkin Indonesia pun sedang merasa hal yang sama. Kita bukan bangsa gagal. Kita hanya bangsa yang sedang bertumbuh. Kadang tertatih, kadang tergelincir, kadang terlalu sibuk meniru bangsa lain sampai lupa cara berjalan sendiri, tapi pada akhirnya kita akan selalu belajar dan itu sudah cukup untuk jadi alasan agar tak berhenti berproses. 


Terakhir, ini hanya sekadar trivia aja sih, entah kenapa, dari sekian banyak logo resmi yang pernah dirilis pemerintah, saya suka banget dengan logo 74 HUT RI tahun ini. Desainnya sederhana, bersih, dan punya kekuatan visual. Nggak terasa dipaksakan atau terlalu simbolik. Sangat enak dilihat. Daann yang paling bikin saya terkesima adalah angka 7 dan 4 menyatu dengan sempurna. Rapi, lugas, tapi tetap berkarakter. 

Ada rasa kekaguman yang muncul begitu saja. Mungkin karena logo ini tidak memaksa untuk tampil meriah. Logo terlihat tenang tapi juga kuat. Diam-diam menyampaikan pesan kemerdekaan dengan cara yang elegan. Dan yang bikin saya senyum sendiri, sekilas bentuknya seperti inisial nama saya ZA atau bahkan kayak tanggal lahir saya 24. Haha. Konyol juga dipikir-pikir. Tapi ya itulah yang membuatnya terasa lebih personal.

Saya rasa tim yang mendesain logo ini patut diapresiasi. Mereka berhasil meramu pesan yang kuat dalam bentuk yang sederhana. Tanpa perlu banyak elemen, tapi tetap membekas. Kadang hal sekecil itu saja cukup untuk membangkitkan perasaan bahwa saya masih terhubung dengan Indonesia, dengan cara yang paling sederhana. Lewat sepotong logo yang indah. 
Read More