Sabtu, 24 Agustus 2019

Selanjutnya Apa?

Selamat malam sobat blogger di mana pun kalian berada. Apa kabar kalian semua? Saya harap kondisi kalian sehat selalu. Di bulan agustus ini biasanya adalah bulan dimana banyak kampus yang sedang melaksanakan ospek untuk para mahasiswa baru. Rasa tak nyaman mulai bergejolak dalam diri saya tatkala melihat banyaknya orang yang update status kegembiraannya diterima oleh PTN dan mulai foto-foto di ikon kampus masing-masing. Akhirnya saya memutuskan untuk vakum sementara dari media sosial yang penuh dengan euforia ospek kampus dengan segala keseruannya. Sungguh mengasyikkan sekali nampaknya. 
 
Sementara itu.. Saya.. Seperti yang kalian ketahui, tahun ini saya gagal lolos seleksi penerimaan mahasiswa baru lewat jalur mana pun untuk yang kedua kalinya. Kecewa sudah pasti ada, rasanya seperti jatuh ke lubang yang sama karena saya gagal untuk yang kedua kalinya. Sedih pun hampir tak bisa dibendung, mata saya sempat berkaca-kaca begitu mengetahui bahwa saya gagal lagi. Emosi pun mulai bergejolak kembali. Seketika itu juga otak saya langsung dipenuhi dengan tanda tanya.. 
 
"apa yang salah dengan diriku sehingga aku belum layak untuk dapat diterima oleh PTN?" 
 
"Mengapa aku masih gagal?" 
 
"Apa yang kurang ya?" 
 
"Apa yang harus aku lakukan selanjutnya?" 
 
 
Pertanyaan-pertanyaan itu muncul lagi untuk yang kedua kalinya. Saya mau gak mau harus banyak instrospeksi lagi terkait langkah yang sudah saya lakukan selama ini. Apakah cara saya yang kemarin sudah benar. Harus ada revisi terhadap sistem gap year yang telah saya lalui kemarin. Dari sini, pikiran saya lagi-lagi mulai berjalan dengan cepat. Saya pun membiarkan diri ini tenggelam dalam lautan pertanyaan hebat. Sekitar tiga minggu saya melakukan pergumulan hebat dengan diri sendiri, akhirnya saya sadar bahwa kegagalan adalah satu-satunya teguran dan respon terbaik yang diberikan Tuhan untuk saya. Ini semacam pecutan yang keras untuk diri saya sendiri agar saya terus belajar dan belajar lagi. 
 
Bisa jadi saya gagal karena terlalu pusing memikirkan luka batin yang belum sembuh serta eksistensi diri pasca kelulusan sekolah. Bisa jadi saya gagal karena saya terlalu nyaman dengan ilusi kelonggaran waktu yang ada selama gap year kemarin, hingga teperdaya dan akhirnya malas melakukan apa pun. Situasi-situasi seperti ini lah yang sempat membuat saya tidak banyak belajar dan berlatih lebih giat lagi. Inilah yang ingin saya perbaiki nanti. Saya berniat untuk menambah satu tahun lagi jeda sambil mempersiapkan diri sejak dini untuk pertempuran terakhir kalinya. 
 
Perlahan-lahan saya sudah mulai terbiasa dengan penolakan seperti ini. Karena yang namanya pengalaman gak selalu hal yang indah-indah. Pengalaman bisa berisi tentang hal-hal yang berhasil dicapai atau bisa juga hal-hal yang tidak pernah diharapkan. Seperti kegagalan saya ini. Menerima takdir yang tak sesuai dengan keinginan itu memang berat. Sangat berat! Tujuannya apa? Satu kata. Ikhlas. Ikhlas dengan jalan yang sudah Tuhan tetapkan untuk saya. Ikhlas menerima kenyataan bahwa saya belum berhasil kuliah tahun ini adalah suatu keberanian. 
 
Memang jalan yang saya pilih memang bukanlah jalan yang mudah. Bisa dibilang nekat dan tidak biasa. Di luar kebiasaan orang pada umumnya. Medannya sangat terjal. Peluangnya pun sangatlah kecil. Meskipun ada pilihan lain yang tampaknya lebih mudah, lebih nyaman, lebih enak; terlihat menyenangkan; banyak yang menginginkannya; serta menjadi angan yang sering diidam-idamkan banyak orang. Dengan tujuan akhir yang terlihat tak ada perbedaan satu sama lainnya. Namun saya tak yakin, apakah saya bisa menikmati setiap hal yang ada di dalamnya. Karena ini adalah kuliah, berbeda jauh dengan sekolah yang masih bisa dipaksakan. Saya tak ingin tersiksa lagi hanya gara-gara salah jurusan seperti yang pernah saya rasakan di masa putih abu-abu. 
 
Maka dari itu saya memutuskan untuk memilih jalan ini. Terlihat sangat beresiko, berbahaya, dan penuh tantangan besar. Namun saya harap terjaga nilai-nilai idealisme. Dalam segala proses dan lika-likunya, saya berusaha untuk menikmatinya. Saya selalu percaya bahwa semua pengalaman ini akan menguatkan pribadi saya dan membuat saya tangguh di masa mendatang. Saya akan menjadi lebih kuat dalam menghadapi situasi-situasi sulit yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Karena takdir-Nya tidak pernah salah, Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk saya, sedangkan saya tidak. 
 

Gagal itu hal yang biasa terjadi, bukan aib yang harus ditutupi. Akan menjadi luar biasa ketika kita bisa bangkit dari kegagalan itu. Memang nggak mudah untuk bangkit, saya pun harus jatuh bangun dalam menghadapi situasi-situasi sulit selama proses ini berlangsung. Tapi kita kan butuh kemajuan dalam hidup, kalau kita mau maju, berkembang dan sukses yaa tak ada pilihan selain harus belajar dari yang namanya kegagalan. Kegagalan bisa menjadi pemantik semangat karena sukses adalah sebuah pilihan. Kita bisa memilih kesuksesan macam apa yang kita inginkan. Tentunya dengan perjuangan yang terus berkelanjutan hingga kesuksesan itu bisa diraih. Yaaa terdengar sangat klise memang, tapi itu merupakan kebenaran. Saya jadi teringat kutipan almarhum Pak Sutopo yang sangat menginspirasi. 

 


Intinya, seberapa besar pun usaha ingat Tuhan tetap punya kuasa atas segala sesuatu. Jangan lupa bersyukur dan jangan larut dalam kesedihan karena sejatinya kuliah itu proses menimba ilmu, kualitas kita tergantung seberapa pandai kita mengendalikan diri di titik terendah dalam hidup. Tetap semangat!!!
 
 

Salam hangat, dari saya pejuang SBMPTN yang belum beruntung (lagi).. 
 
 






 
Sekian.
Read More

Sabtu, 17 Agustus 2019

Refleksi kemerdekaan dan makna SDM unggul

Dua minggu yang lalu listrik mati. Lama. Lebih dari sepuluh jam di tempat saya. Awalnya saya kira cuma sebentar, seperti biasanya. Tapi ternyata makin malam, justru makin sunyi. Tidak ada suara kipas angin, tidak ada lampu jalan menyala. Bahkan sinyal pun ikut lenyap. Rasanya seperti dipaksa diam di tengah dunia yang tiba-tiba kehilangan tenaga. Nah dari gelapnya peristiwa itu, justru ada hal yang menyala di kepala saya, kita ini sebenarnya sudah merdeka belum, sih?

Saya tahu, pertanyaan itu terdengar terlalu besar. Terlalu berat untuk dipikirkan saat sedang kehabisan daya baterai HP. Tapi mati listrik kemarin yang katanya hanya karena gangguan teknis di pembangkit utama membuat saya sadar satu hal, negara ini masih sangat rentan. Bahkan untuk hal yang paling mendasar sekalipun, listrik. Jika hal mendasar seperti energi saja belum bisa dijaga dengan baik, lalu bagaimana kita mau berbicara soal "SDM unggul" atau bahkan "Indonesia maju" yang menjadi tema utama perayaan tujuhbelasan tahun ini. 



Saya bukan ahli apa-apa. Saya cuma orang biasa yang suka mikir terlalu dalam di saat tidak ada yang minta. Tapi mungkin justru karena itu saya sering mempertanyakan banyak hal yang orang anggap biasa aja. Setiap tahun, kita pasang bendera. Kita nyanyikan lagu kebangsaan. Kita lomba makan kerupuk. Semua tradisi itu hangat, menyenangkan, dan jujur saja membawa kenangan masa kecil yang tak tergantikan. Tapi kalau dipikir-pikir, kadang kita terlalu sibuk merayakan kemerdekaan, sampai lupa menguji ulang maknanya. Karena buat saya, kemerdekaan itu bukan cuma soal masa lalu. Tapi tentang bagaimana kita menjalani hari ini. Tentang punya pilihan. Punya akses. Punya harapan.

SDM unggul, katanya. Saya sering mendengar jargon itu. Tapi sering juga bingung apa artinya dalam kehidupan sehari-hari. Apakah itu berarti harus punya gelar tinggi? Gaji besar? Kemampuan bicara lancar di depan umum? Atau SDM unggul itu orang-orang yang tetap bertahan walau hidup tidak mudah? Yang bangun pagi-pagi, kerja serabutan, tapi masih sempat bantu tetangganya? Yang belajar dari YouTube karena tak mampu bayar kursus, tapi tetap mau berkembang?Kalau itu definisinya, saya kenal beberapa SDM unggul di sekitar saya. Sayangnya, mereka tidak dianggap unggul oleh sistem hanya karena tidak "berlabel resmi". Maaf untuk mengatakannya, tapi ini memang benar adanya. 

Saya lagi-lagi mengambil contoh mati listrik kemarin yang ibarat kata seperti metafora kecil dari kenyataan yang lebih besar yaitu bangsa ini bisa punya visi yang hebat, tapi kalau fondasinya goyah, semua bisa lumpuh. Kita bisa bicara soal industri 4.0, digitalisasi, unicorn, energi terbarukan, dan sebagainya. Tapi kalau akses listrik saja tidak stabil, apa yang bisa dibanggakan? Kalau generasi mudanya masih harus meminjam kuota ke tetangga atau teman yang agak berada untuk bisa tetap belajar, ini bukan soal kesiapan teknologi—tapi ketimpangan yang nyata.

Saya tidak ingin terdengar sinis tapi saya juga tidak ingin membohongi diri sendiri. Saya pikir, Indonesia belum sepenuhnya merasakan keunggulan SDM-nya. Ya memang tidak harus terasa saat ini juga tapi setidaknya kita bisa jujur pada diri sendiri bahwa jalan kita masih panjang dan tidak semua orang mendapat jalur yang sama rata. Ada yang berangkat dari start yang nyaman, ada yang bahkan belum diberi sepatu. Buat saya pribadi, kemerdekaan itu bukan hanya soal seremoni. Tapi soal ruang. Ruang untuk gagal. Ruang untuk berkembang. Ruang untuk tumbuh. Ruang untuk belajar jadi diri sendiri.

Saya pernah merasa tidak "unggul" karena hidup saya tidak secepat orang lain. Tidak sekaya teman-teman saya. Tidak semulus jalur yang digembar-gemborkan para motivator. Tapi sekarang saya belajar menerima bahwa setiap orang punya waktunya masing-masing. Punya definisi suksesnya sendiri. Dan mungkin negara ini juga begitu. Sedang belajar dewasa, seperti kita. Masih banyak yang harus diperbaiki, tapi bukan berarti tidak bisa. Saya percaya Indonesia masih berpotensi untuk merasakan kualitas SDM yang berdaya saing tinggi. Tinggal kemauan untuk terus melaju, tidak peduli seberapa sulitnya rintangan ke depan. 

Tak ada negara di dunia yang yang benar-benar selesai dengan perjuangan memajukan kualitas bangsanya, bahkan negara maju sekalipun tetap masih melakukan pembangunan demi masa depan yang lebih baik. Kita semua sedang tumbuh, belajar, dan mencari bentuk yang ideal. Maka kalau hari ini kalian masih merasa kecil, merasa tertinggal, merasa belum jadi siapa-siapa itu wajar. Mungkin Indonesia pun sedang merasa hal yang sama. Kita bukan bangsa gagal. Kita hanya bangsa yang sedang bertumbuh. Kadang tertatih, kadang tergelincir, kadang terlalu sibuk meniru bangsa lain sampai lupa cara berjalan sendiri, tapi pada akhirnya kita akan selalu belajar dan itu sudah cukup untuk jadi alasan agar tak berhenti berproses. 


Terakhir, ini hanya sekadar trivia aja sih, entah kenapa, dari sekian banyak logo resmi yang pernah dirilis pemerintah, saya suka banget dengan logo 74 HUT RI tahun ini. Desainnya sederhana, bersih, dan punya kekuatan visual. Nggak terasa dipaksakan atau terlalu simbolik. Sangat enak dilihat. Daann yang paling bikin saya terkesima adalah angka 7 dan 4 menyatu dengan sempurna. Rapi, lugas, tapi tetap berkarakter. 

Ada rasa kekaguman yang muncul begitu saja. Mungkin karena logo ini tidak memaksa untuk tampil meriah. Logo terlihat tenang tapi juga kuat. Diam-diam menyampaikan pesan kemerdekaan dengan cara yang elegan. Dan yang bikin saya senyum sendiri, sekilas bentuknya seperti inisial nama saya ZA atau bahkan kayak tanggal lahir saya 24. Haha. Konyol juga dipikir-pikir. Tapi ya itulah yang membuatnya terasa lebih personal.

Saya rasa tim yang mendesain logo ini patut diapresiasi. Mereka berhasil meramu pesan yang kuat dalam bentuk yang sederhana. Tanpa perlu banyak elemen, tapi tetap membekas. Kadang hal sekecil itu saja cukup untuk membangkitkan perasaan bahwa saya masih terhubung dengan Indonesia, dengan cara yang paling sederhana. Lewat sepotong logo yang indah. 
Read More

Minggu, 11 Agustus 2019

Selamat Hari Raya Iduladha 1440 H!

Assalamu'alaikum.. Selamat pagi sobat. Syukur Alhamdulillah hirobbil'alamin kita masih diizinkan bertemu lagi dengan Hari Raya Qurban ini. Tidak ada lagi kata yang paling tepat untuk menggambarkan betapa bahagianya kita selain bersyukur. Karena sejatinya hidup ini adalah sebuah pencarian. Serahkan pencarian hidup kita hanya pada Yang Maha Kekal. Walaupun penuh pengorbanan, seperti pencarian dan pengorbanan Nabi Ibrahim AS yang Istiqomah. Ya memang cuma dari rangkaian kata ini yang bisa saya sampaikan. Air tak selalu jernih, begitu juga ucapan saya. Melalui tulisan ini saya mohon maaf yang sebesar-besarnya pada kalian semua, apabila masih banyak kesalahan. Semoga perjalanan hidup kita semakin mudah dengan rezeki yang cukup dan berkah.  




Semoga di hari raya ini, Allah SWT selalu memberikan kemudahan, berkah, rizki, dan kesehatan tentunya pada kita semua. Akhir kata saya pribadi mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha 1440 H. Minal aidin wallfaidin. mohon maaf lahir dan batin. Selamat berQurban sob!
Read More