Kamis, 31 Mei 2018

Musuh Sejati Itu Bernama Aku

Alhamdulillah sangat terasa sekali di bulan puasa yang istimewa ini, Allah SWT mendidikku untuk selalu introspeksi diri bahwa aku sebagai hamba-Nya yang lemah dan tidak punya kekuatan apa pun di hadapan-Nya. Bagiku, momen bulan puasa seperti saat ini dapat menyatukan sementara dua sisi sifat alami manusia yaitu sisi terang dan sisi gelap. Kalau sisi terang kebanyakan orang sudah pada tahu ya apa saja yang termasuk di dalamnya. Tapi kalau kita membahas tentang sisi gelap seorang manusia pasti masih banyak yang belum bisa mengakuinya. Karena di dalamnya terdapat banyak hal-hal yang bisa dikatakan nikmat, walaupun bikin sengsara. Singkatnya, yang aku maksud sisi gelap itu ialah hawa nafsu. 
 
Sebenarnya aku sudah mengetahui bahwa kegelapan itulah yang selalu mendekatiku. Mereka bersembunyi di tempat yang sudah diincar sebelumnya. Mereka memanggil-manggil namaku. Sering sekali terlintas suara halus beserta pikiran-pikiran yang kurang bersahabat. Aku merasakan adanya musuh sejati. Musuh yang sudah mengintaiku sejak lama. Bahkan ketika aku masih naif. Dan ternyata.... Musuh itu adalah diriku sendiri. Semakin aku besar, musuh pun akan membesar juga. Itu semua telah terwujud dan terjadi. Aku tak bisa mengelak. Aku harus menghadapinya. 


Dalam Islam, manusia selalu diajarkan bahwa musuh sejatinya adalah setan dan hawa nafsu. Tapi setan hanya membisikkan. Nafsulah yang memutuskan apakah sisi gelap akan terjadi atau tidak. Dan aku sadar, aku terlalu sering memilih tunduk pada bisikan itu. Bukan karena tidak tahu, tapi karena aku terlalu lemah imannya. Berulang kali aku meminta petunjuk dalam doa, tapi saat petunjuk itu datang dalam bentuk ujian, aku seakan menolaknya. Aku mengeluh, menyalahkan takdir, bahkan mempertanyakan keadilan-Nya. Padahal hatiku tahu, semua ini adalah cermin dari kelalaian yang sudah lama kubiarkan tumbuh dalam diriku sendiri.

Pernah satu malam aku termenung lama, duduk dalam gelap tanpa lampu, hanya cahaya remang dari luar jendela yang menyusup ke dalam kamar. Tak ada suara. Hanya aku dan pikiranku sendiri. Lalu di situ aku merasa sepi yang mencekam bukan berasal dari luar, tapi dari dalam. Dari hatiku yang terlalu lama kosong, tak lagi diisi dengan dzikir, tak lagi rindu pada ayat suci, tak lagi menangis dalam sujud. Aku merasa takut. Takut kalau aku terus seperti ini, aku akan hilang perlahan-lahan. Hilang dari fitrahku sebagai manusia. Hilang dari cahaya yang pernah membimbingku di masa lalu. Dan satu hal yang paling kutakutkan aku terbiasa hidup jauh dari Allah, dan merasa itu hal biasa.


Aku dulu berpikir musuh itu adalah orang-orang yang menyakiti kita. Orang yang mengkhianati kepercayaan, meninggalkan saat dibutuhkan, atau membicarakan keburukan di belakang. Tapi makin ke sini, aku makin sadar ternyata musuh terbesarku selama ini adalah diriku sendiri. Aku yang suka menunda-nunda, padahal tahu waktu tak pernah kembali. Aku yang terlalu sering mencari pembenaran, tapi malas mencari kebenaran. Aku yang tahu salah, tapi tetap mengulanginya. Aku yang sadar sedang jauh dari Tuhan, tapi tak segera mendekat.

Musuh sejati itu bukan mereka di luar sana. Tapi bisikan kecil dalam hati yang berkata "nanti saja," "nggak apa-apa," "cuma sekali ini." Padahal dari kata-kata "cuma sekali" itu, lahirlah puluhan kesalahan lain. Sering kali aku bangun tengah malam, merasa gelisah tanpa sebab. Dada terasa sesak, kepala berat, dan hati seperti memanggil-manggil sesuatu yang tak terlihat. Lama-lama aku paham. itu panggilan dari nurani yang lelah dikhianati.

Musuh sejati itu bukan dia yang membenciku, bukan juga mereka yang menjauh. Musuh sejati adalah ketika aku membiarkan jiwaku mati pelan-pelan, tanpa usaha untuk kembali pada yang menciptakan. Aku sudah terlalu lama menyalahkan keadaan, orang tua, masa lalu, bahkan takdir. Padahal mungkin yang membuat hidupku berantakan bukanlah mereka, tapi aku yang tak mau berubah. Dan satu hal yang paling menyakitkan dari melawan diri sendiri adalah aku tak bisa lari. Di mana pun aku pergi, diriku akan tetap ikut. Kalau aku tak membereskan yang rusak di dalam, aku hanya akan membawa kerusakan itu ke mana pun aku melangkah. 

Sekarang aku ingin duduk sejenak. Menatap diriku sendiri, jujur tanpa topeng. Bukan untuk menyalahkan lagi, tapi untuk memaafkan. Karena mungkin jalan menuju kebaikan tak dimulai dari lari cepat, tapi dari keberanian untuk mengakui bahwa "Aku sendiri yang sering menjatuhkan diriku." Mulai dari sanalah, langkah kecil bisa digerakkan. Bukan untuk menang melawan dunia, tapi untuk damai dengan musuh yang selama ini tinggal paling dekat denganku, yaitu diriku sendiri. 
Read More

Kamis, 24 Mei 2018

Delapan Belas Tahun

Selamat malam sobat blogger..! Kalau dirasa-rasa, sepertinya baru kemarin saya merasakan hari kesejahteraan sebagai manusia yang berusia 17 tahun. Ehh.. sekarang sudah datang lagi usia baru. Seperti halnya pergantian tahun, selalu ada harapan untuk dapat menyelesaikan setiap tantangan yang sudah siap menghadang. Maka dari itu harus ada semacam evaluasi diri untuk dapat mengukur, sejauh manakah saya mampu mempergunakan usia kemarin hingga tiba saatnya hari jadi ini datang.

Yak, Hari ini saya berusia 18 tahun. Usia yang telah memasuki tahap remaja akhir, yang berarti saya harus siap dengan segala kenyataan hidup yang sebenarnya. Usia yang tak lagi tercipta sebuah karakter yang dibentuk oleh orang tua, melainkan harus menciptakan sebuah karakter baru dengan segala kesadaran diri sepenuhnya. Tentunya juga tidak meninggalkan nilai-nilai kebaikan yang telah diajarkan oleh orang tua saya sejak dini. Bisa dibilang ini merupakan masa transisi menuju pendewasaan yang sebenarnya. Dewasa pastinya identik dengan kemandirian, kematangan berpikir, mampu mengambil keputusan, dan lain sebagainya. Nah.. Maka dari itu di usia saya yang baru ini, saya ingin sedikit mengulas perjalanan selama setahun kebelakang yang cukup memberatkan jiwa dan raga saya.

18


Jika ditanya, apakah ultah ke 17 tahun lalu adalah ultah paling berkesan, saya akan menjawab tidak. Ultah saya yang ke 17 bukan seperti di sinetron atau film bioskop. Biasa saja, tidak meriah tidak pula sepi. Hanya syukuran kecil-kecilan, yaa segitu juga udah alhamdulillah. Untuk apa perayaan besar-besaran yang bertajuk 'Sweet seventeen'? Nyatanya saya masih seperti ini. Belum ada perubahan yang signifikan. Bahkan saya rasa, lebih buruk dari tahun sebelumnya. Sungguh saya sangat merugi. Mungkin hanya di awal doang saya bisa benar-benar menikmati usia 17. Beberapa bulan setelahnya... Wahh.. Gak tau lagi saya harus mendefinisikan dengan kata apa tentang hari-hari buruk yang telah menimpa saya. Terlalu banyak penderitaan yang saya rasakan dibanding kesenangan sebagaimana kebanyakan remaja di luar sana.

Selain itu saya pun sempat mengalami tekanan yang luar biasa, tapi anehnya saya tak pernah berani bersuara. Saya memilih diam dan mencoba tidak terpengaruh oleh situasi dan kondisi saat itu. Saya hanya terus berdoa dan berusaha mengatasi kesulitan ini sendiri. Kalau masih berat juga, sekali-kali saya post di blog tuk mengurangi beban di pundak ini. Saya yakin semua cobaan ini pasti selalu ada jalan keluar. Saya tetap memberanikan diri untuk terus berjalan menapaki hari-hari dengan penuh ketegaran. Saya terus berpikiran bahwa semua akan baik-baik saja. Dannn ya.. Alhamdulillah.. akhirnya saya bisa juga menyelesaikan apa yang telah saya mulai.


Karena teman dekat saya tak seberapa dan kebanyakan perempuan, jadi saya seringnya sendirian. Otomatis saya punya banyak waktu merenung setiap harinya. Merenung itu perlu, sebagai sarana introspeksi diri sendiri. Merenungi penderitaan saya, dosa-dosa saya, bahkan sampai masa depan. Untuk kondisi saat ini, saya selalu merenungkan apa yang telah saya lakukan selama 17 tahun kemarin. Saya sudah sadar, saya terlalu banyak menyia-nyiakan waktu. Selama ini, mungkin amal saya masih bisa dihitung dengan jari. Namun, dosa saya sudah tak bisa lagi dihitung. Tak ada yang bisa saya banggakan dari ketimpangan tersebut. Saya selalu gelisah kalau sedang menginjak tanggal ini. Dimana umur saya terus berkurang dan saya belum mampu membuat perubahan besar.

Setelah dipikirkan kembali, memang saya masih belum bisa memenuhi seluruh tahapan menjadi dewasa yang seutuhnya. Selama setahun ini saya hanya menghabiskan waktu dengan berputar-putar mengelilingi sesuatu yang tak pasti. Yaa walau begitu, di usia yang baru datang ini, Saya berharap semoga keteguhan iman selalu melekat di setiap langkah perjalanan hidup saya, agar saya tak salah arah lagi dalam menentukan masa depan. Karena mulai sekarang, saya sudah dituntut untuk bersungguh-sungguh belajar lebih serius tentang arti sebuah kehidupan.



24 Mei 2018


Sekian.


Read More

Minggu, 13 Mei 2018

Akhir untuk Awal yang baru

Yak hari ini adalah hari baru! Hari ini adalah awal dari masa depan! Langkah awal menemukan jati diri! Saya tidak menyangka bahwa hari ini akan datang juga. Saya telah sampai pada akhir dari sebuah perjalanan sekolah. Ketika hari terus berganti menjadi pasti, setiap kelulusan pasti selalu ada perpisahan, baru saja kemarin saya melaksanakan wisuda SMK. Akhirnya saya sudah menyelesaikan apa yang telah saya mulai walau itu berat. Bagi saya, akhir perjalanan sekolah ini adalah awal sebuah perjalanan yang lebih besar. Sedikit perasaan sedih karena status sebagai seorang pelajar kini telah hilang dari diri saya. Saya sudah melaksanakan wajib belajar selama 12 tahun lamanya. Serasa baru kemarin masuk SD, ehh sekarang udah lulus SMK aja. Memang waktu itu sangat cepat berlalu jika kita fokus pada masa depan.



Satu per satu teman disekitar saya mulai pergi. Mereka sudah mulai menapaki masa depan yang sudah terlihat. Pada dasarnya memang kita semua berpisah, namun perpisahan ini adalah awal dari kita menjalani kehidupan yang lebih luas. Merasakan dunia yang lebih nyata. Tak ada seorang pun yang bisa memutar waktu kembali dan memulai awal yang baru. Yang tersisa hanyalah ingatan segar di kepala. Kenangan buruk, kenangan indah, pengalaman baik, pengalaman buruk, semua dilalui dengan berbagai kejutan.

Setelah itu, apalagi yang tersisa? Akhirnya yang tersisa hanyalah Sang Pencipta, Yang awal dan Yang akhir. Dialah Allah SWT. Tuhan semesta alam. Allah lah yang menakdirkan setiap pertemuan kita ini. Dan Allah juga lah yang pada akhirnya menakdirkan perpisahan. Perpisahan dengan berbagai macam teman. Dari yang kita suka, yang kita kagumi, yang kita benci, bahkan perpisahan dengan orang-orang yang biasa aja kesannya dalam hidup kita, hanya sebatas figuran saja. Semoga Allah SWT mempertemukan kembali kita di lain kesempatan. Atau bisa jadi kemarin adalah perjumpaan terakhir sampai akhirnya kita tak akan pernah bertemu lagi. Yaa siapa yang tau? Tak ada yang benar-benar pasti di dunia ini kecuali ketetapan-Nya.

Sekali lagi, semua kisah pasti memiliki akhir. Namun dalam hidup, semua akhir adalah merupakan awal yang baru. Seperti halnya malam yang gelap selalu berakhir dengan fajar yang terang. Seperti kata pepatah lama, habis gelap terbitlah terang. Bersyukurlah kepada Sang Pencipta atas setiap peristiwa indah dalam hidup kita ini. Lagi pula, kebanyakan orang sukses terkadang bisa mengakhiri masa lalunya yang suram menjadi masa depan yang gemilang karena mereka selalu mempunyai kesempatan. Ingatlah bahwa hidup itu cuma sekali. Tapi momen bisa datang berkali-kali. Dan yang membuat hidup berwarna adalah kesempatan yang kita jalani. Pengalaman kejatuhan setiap orang tidak selalu sama namun yang membuat kita selalu bangkit adalah semangat pantang menyerah. Jangan lelah untuk berharap, karena harapan adalah motivasi bagi diri sendiri. Usaha dan perjuangan akan selalu membuahkan hasil. Marilah menuju kemenangan.


Source image

Dannnn ya... Saya tegaskan lagi bahwa Lulus SMK ini ternyata bukan akhir segalanya. Masih ada jenjang sekolah tinggi dibangku perkuliahan, atau mungkin persaingan di dunia kerja, bahkan persaingan keras kehidupan mulai semakin jelas di depan mata. Kita semua harus mempersiapkan itu. Seseorang pernah berkata..
"Esensinya 'akhir' adalah sebuah awal yang baru. Tidak ada yang perlu disesali dari 'sebuah akhir', kecuali kalau kau mengakhirinya dengan cara yang salah, di waktu yang salah."
-Devania Annesya

Mungkin saja, bukan hanya saya yang setuju dengan pemikiran seperti itu. Entahlah, yang pasti perpisahan itu pasti terjadi. Langkah kehidupan baru akan saya jalani dan juga teman-teman yang baru saja lulus. Saya berharap ini bukan akhir yang sebenarnya. Tapi inilah awal yang sebenarnya dalam kehidupan yang kita jalani. Hari ini dan seterusnya adalah dunia yang sebenarnya!


Read More