Senin, 06 Juli 2020

UTBK Terakhir

Selamat malam sobat blogger!
 
Hari ini saya ingin bercerita tentang ujian yang sudah saya tunggu-tunggu tahun ini, apalagi kalau bukan UTBK 2020. Ini adalah UTBK terakhir yang akan saya laksanakan selama menjadi warga negara Republik Indonesia. Sungguh sangat amat terasa berbeda dengan UTBK yang pernah saya lakukan. UTBK tahun 2020 adalah salah suatu pengalaman yang cukup berkesan bagi saya, banyak sekali kejutan yang saya dapatkan hahahaha. Kenapa bisa saya katakan seperti itu? Karena saya benar-benar tidak menyangka akan seribet ini persiapannya. Mulai dari pendaftaran sampai saat UTBK nya berlangsung itu semua sangat menyusahkan. Dalam artian bahwa saya lebih fokus ke hal-hal teknis daripada belajar itu sendiri. Oke dari pada kelamaan langsung aja disimak ya sob.
 
Jadi begini ceritanya.. Mulai dari awal daftar dulu kali yak. Registrasi akun LTMPT kan dibuka februari, saya baru mendaftarkan diri pada tanggal 17. Lalu selang seminggu kemudian virus korona mulai menyerang seluruh dunia. Awal bulan maret, virus ini mulai terdeteksi di Indonesia. Dengan adanya beberapa pasien yang dinyatakan positif di daerah Depok. Seluruh lapisan masyarakat pun panik menyikapi adanya virus ini karena penyebarannya yang sangat masif. Saat itulah keresahan saya sebagai pejuang SBMPTN mulai muncul. Saya mulai bertanya-tanya, apakah ada kemungkinan untuk ditunda ujian masuk perguruan tinggi tahun ini? Mengingat tinggal sebulan lagi pelaksanaan UTBK berlangsung. Dan benar saja, sebulan kemudian tepatnya pada tanggal 6 April, Lembaga penyelenggara SBMPTN yaitu LTMPT,  mengeluarkan surat edaran yang isinya :
  • Pengunduran waktu SBMPTN sampai bulan Juli 
  • Sistem SBMPTN menjadi sekali tes
  • Materi tes yang diujikan HANYA Tes Potensi Skolastik (TPS)
Apa aja yang bikin greget sekarang? Okelah pengunduran waktu ujian yang lama memberi saya kesempatan belajar lebih banyak lagi. Tapi sistem yang berubah dari yang awalnya sistem ujian dilakukan sekali menjadi dua kali lalu menjadi sekali lagi, hingga penghapusan materi Tes Potensial Akademik (TKA) ini tentu bikin saya agak syok. Terlalu beresiko. Sampai-sampai ada guyon yang kurang lebih seperti ini, "Apakah nanti anak IPS bisa masuk kedokteran?" Saking bingungnya para pejuang PTN dikasih info seperti ini. Banyak teman-teman seperjuangan di media sosial yang sambat. Bahkan hingga mencapai trending topic Indonesia di Twitter. Otomatis persaingannya makin tinggi dong karena banyak camaba yang bisa seenaknya lintas jurusan, apalagi saya dari SMK. Peluang untuk bisa lolos itu sangatlah kecil. Mau gak mau strategi belajar harus diubah, begitu pula strategi memilih universitas. Hmm.. Makin-makin lah saya bingung menyusun kembali rencana besar tahun ini jikalau memang takdir saya gak bisa kuliah. 
 

H-33 UTBK. Tibalah pendaftaran SBMPTN di awal juni. Lagi-lagi saya dibuat galau oleh LTMPT. Setelah keputusan kontroversinya yang menghapus materi TKA karena adanya pandemi virus korona, ternyata eh ternyata.. pas daftar SBMPTN nya gak bisa seenaknya lintas jurusan! Sial banget nasibku ini :( Jadi memang benar ada syarat dan ketentuan masing-masing universitas. Kita gak bisa 'lompat' jurusan secara ekstrem kayak tahun kemarin karena ada syarat SMTA nya. Itulah mengapa LTMPT berani menghapus materi TKA untuk UTBK tahun. Bisa dibilang Ini kayak semi-SBMPTN. Sebenarnya kita tetap boleh lintas jurusan JIKA memang diizinkan oleh program studi yang akan dipilih, itulah yang saya maksud syarat SMTA. Dan kabar buruknya lagi jurusan yang saya inginkan itu ternyata gak bisa menerima anak SMK!! Saya bingung dah karena gak bisa milih jurusan yang saya idam-idamkan sejak lama yaitu teknologi pangan. Pas dicari itu benar-benar gak tersedia jurusan tersebut. Di mana pun universitasnya gak ada yang mau menerima anak SMK. Rasa pesimis makin menjadi-jadi. Saya sampai sudah gak menyentuh materi UTBK lagi semenjak awal juni karena down banget mengetahui kenyataan pahit ini. Saya sempat merenung beberapa hari sebelum memutuskan apakah saya harus lanjut menyelesaikan ambisi masuk PTN atau udahan aja. Pasrah. Berhenti sampai di sini perjuangan saya. "Jika saya memang tidak ditakdirkan untuk berkuliah yaa mau gimana lagi. Mungkin saya memang harus terus bekerja agar membantu meringankan beban orang tua" Gitu pikir saya waktu itu. 
 
Setelah bergumul sekitar empat hari, melihat anaknya yang nampak tidak bersemangat menjalani hari-hari. Akhirnya bapak saya turun tangan, datang dan menghampiri saya merekomendasikan dua jurusan alternatif yang masih seirama dengan teknologi pangan dan masih satu rumpun dengan pertanian—karena ini memang keinginan saya yaitu di bidang pengelolaan hasil pertanian. Jurusan tersebut adalah agroekoteknologi atau agribisnis. Saya langsung cari tahu tuh berbagai info tentang kedua jurusan itu. Apa saja yang akan dipelajari di jurusan itu, prospek pekerjaannya, dan cerita pengalaman orang-orang yang pernah merasakan jurusan tersebut. Setelah saya cari tahu tentang kedua jurusan itu, ternyata menarik juga. Saya merasa tertantang dengan berbagai mata kuliah yang ditawarkan. "Kayaknya mirip nih" kata saya. Yaudah.. Lantas pilihan saya jatuh kepada agribisnis. Alasannya? Karena menurut apa yang saya baca, jurusan ini lebih menekankan pengelolaan bisnis di bidang pertanian. Kalau agroekoteknologi itu lebih ke pengelolaan tanamannya dari biji sampai berbuah. Nah.. Setelah tahu jurusannya, baru saya cari tahu universitasnya yang menerima lulusan SMK (karena ada syarat SMTA) . Pilihannya cuma ada tiga, yaitu:
 
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa - Agribisnis
Universitas Diponegoro - Agribisnis
Universitas Siliwangi - agribisnis 
 
Waaaw... Ini adalah pilihan yang cukup sulit. Ada dua universitas yang baru saya dengar alias underrated dan satu universitas ternama. Karena ini adalah SBMPTN terakhir saya, maka saya harus benar-benar realistis dalam memilih universitas. Saya berusaha menyakinkan diri ini agar tidak lagi mengikuti ego ingin masuk universitas top, yang penting judulnya PTN. Di mana pun tempatnya, kalau memang itu memiliki peluang besar untuk saya bisa lolos maka saya akan pilih. Jadi saya memutuskan untuk mendaftar di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa dengan pilihan 1 Agribisnis dan pilihan 2 Universitas Siliwangi dengan jurusan yang sama. 



Saya baru tahu ada nama universitas-universitas tersebut pada saat mendaftar. Saya lihat-lihat juga persaingannya gak terlalu ketat, jadi ini adalah peluang saya untuk dapat lolos. Karena saya tak ingin mengulang kesalahan saya karena terlalu mengikuti idealisme tanpa memikirkan medan perang dan persaingan yang sangat ketat di dua SBMPTN sebelumnya. 

H-7 UTBK. Karena masih ada PSBB, jadi pergerakan antar daerah masih dibatasi, sedangkan saya harus nyebrang kabupaten untuk bisa ujian. Maka dari itu harus membawa surat keterangan sehat dan surat keterangan dari puskesmas yang menyatakan saya bebas rapid test. Yaudah akhirnya saya ke puskesmas, nah awalnya puskesmas tidak mau mengeluarkan surat tersebut karena patuh sama pemerintah soal pembatasan. Saya cukup dipersulit awalnya hingga harus beberapa kali bolak-balik ke puskesmas untuk memastikan keaslian mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Saya sampe bikin meme untuk meredakan ketegangan karena adanya peraturan yang ketat. 


Okey tibalah pada hari UTBK. Saya mendapatkan jatah test di hari pertama pelaksanaan UTBK yaitu tanggal 5 juli sesi 2, pengalaman saya selama UTBK terakhir ini sangat unik, Karena UTBK di tahun 2020 ini dalam keadaan pandemi dan pihak LTMPT menyarankan untuk memilih lokasi ujian terdekat, jadi saya memilih ujian di UNSIKA. Para peserta harus menggunakan alat pelindung diri pribadi yang sudah diberi tahu sebelumnya yang termasuk ke dalam tata tertib UTBK. Ada masker medis, sarung tangan karet gitu, face shield, dan hand sanitizer. Sebelum masuk ruangan pemeriksaan suhu dan surat keterangan sehat dari dokter, ketika suhu saya di cek, lebih dari 37° dan suhu yang ditentukan dibawah 37°. Jadi saya duduk dulu sambil menunggu suhu saya turun dan melihat teman-teman sudah mulai masuk ruangan. 

Di dalam ruangan diberikan jarak yang lebih jauh antar peserta agar tidak ada penularan dan praktik menyontek tentunya. Ujiannya berlangsung sekitar dua jam aja. Karena hanya materi TPS aja yang diujika. Reaksi awal saya adalah.. Astaghfirullah... Ada soal yang bahasanya itu sangat aneh. Kata orang-orang mah bahasa panda legendaris yang sangat mengandalkan logika. Soal ini muncul dan sempat menyebabkan otak saya mengalami konslet seketika. Saya mencoba tenang, saya pun memilih untuk diam sejenak. Saya jawab sebisanya aja, mengikuti nalar saya saat itu. Dua jam gak terasa banget. Tiba-tiba UTBK udah selesai aja. Setelah itu saya hanya bisa pasrah. Sisanya tinggal berdoa aja yang banyak. Saya minta didoakan oleh keluarga, nenek, teman-teman, dan beberapa warganet yang saya temui dunia maya. 

Ini foto saya pas banget selesai UTBK di UNSIKA menggunakan alat pelindung diri pribadi 

Yak dapat disimpulkan bahwa UTBK terakhir saya ini sangat rollercoaster alias banyak naik turunnya. Kesulitan tahun ini sih lebih kepada aturan masa Covid-19 yang sangat ketat sehingga membuat esensi ujiannya bagi saya gak terlalu serius. Bisa dibilang terpecah lah fokusnya. Saya gak terlalu menikmati banget ujian terakhir ini. Tapi saya tetap berusaha sebaik mungkin. Saya sudah di tahap nothing to lose alias pasrah aja udah tidak akan terbebani lagi oleh kegagalan. Jika saya tidak lulus lagi yaudah gapapa gitu. Dengan adanya pergantian aturan, pergantian mekanisme, pengunduran, penyesuaian jadwal ujian, penyebaran info hoax yang ternyata fakta, wah banyak dah. Itu semua adalah hal-hal yang saya alami sebagai pejuang UTBK 2020. 

Jadi, yaa begitulah pengalaman saya mengerjakan UTBK untuk yang terakhir kalinya. Panjang juga ya kalau dilihat-lihat. Mohon maaf jika kurang jelas dan ada kesalahan ketik. Bagi yang sanggup membacanya hingga akhir tanpa skip, saya ucapkan terima kasih banyak. Kemarin benar-benar hari yang penuh ujian banget. Saya berharap perjuangan saya ini membuahkan hasil yang menggembirakan pada pengumuman UTBK tanggal 20 Agustus 2020. Saya berdoa, semoga saya bisa lolos SBMPTN jalur pertama dan dapat membahagiakan orang tua saya. Aamiin.. 
Read More

Rabu, 03 Juni 2020

Jalan yang Tak Kunjung Terbuka

Ada satu masa dalam hidup di mana saya benar-benar merasa dunia tidak berpihak pada saya. Bukan karena saya malas, bukan karena saya tidak berusaha. Tapi karena setiap langkah yang saya ambil selalu terasa seperti ada tembok tebal yang tak terlihat. Sukar sekali untuk ditembus. Sudah dua kali saya mencoba peruntungan di ujian masuk perguruan tinggi negeri. Dua kali pula saya menyiapkan diri, menulis mimpi, menahan air mata, lalu menelan kenyataan. Dua kali berharap, dua kali jatuh, tapi entah kenapa… saya masih di sini, berdiri di antara puing-puing mimpi yang belum terwujud. Setiap tahun saya mencoba memperbaiki diri. Mengulang bab yang sama, membuka lembar soal yang berbeda, berharap kali ini Tuhan sedikit lebih lembut. Tapi kenyataannya, dunia ini sering kali tak punya belas kasih terhadap mereka yang terlalu berharap. 

Saya anggap masa sulit itu terjadi lagi saat ini juga. Sistem ujian berubah setiap tahun, peluang makin sempit, dan di antara ratusan ribu nama, nama saya selalu saja tak tercantum. Memang saya hanyalah pejuang gap year. Bergerak dalam senyap, tapi tak pernah terlihat jerih payahnya. Mungkin sebutan itu dianggap hal yang biasa, tapi bagi saya sebutan itu mengandung begitu banyak cerita yang tak pernah sepenuhnya dimengerti orang lain. Ada kalanya saya berpikir, mungkin semesta benar-benar tidak ingin merestui jalan ini. Apalagi ketika pandemi datang. Waktu di mana semua rencana besar saya terasa tak berguna. Buyar begitu saja tanpa ada yang tersisa. Satu-satunya hal yang saya lakukan hanya pasrah dan berserah diri sama Yang Maha Kuasa. 

Aturan terbaru LTMPT yang baru rilis kemarin semakin memperberat langkah saya untuk bisa kuliah. Setelah menghilangkan materi TKA (Tes Kompetensi Akademik), kali ini peserta tidak bisa seenaknya memilih jurusan yang diincar. Ada syarat khusus untuk UTBK tahun ini yaitu sekolah asal. Memang bisa dibilang saya ini 'lompat jurusan' karena gak sesuai dengan rumpun awal saya yaitu ilmu sosial. Saat ingin daftar SBMPTN, saya mencari jurusan impian saya itu benar-benar tidak tersedia. Di mana pun universitasnya gak ada yang mau menerima saya sebagai anak SMK. Rasa pesimis makin menjadi-jadi. 

Saya sempat ingin menyerah. Sungguh, saya pernah sampai di titik di mana saya tak lagi ingin membuka buku, tak lagi ingin menatap jadwal ujian, hanya bengong dan meratapi nasib buruk saya yang tak bisa dihindari. Dan itu terjadi lagi saat ini juga. Tepat di H-33 menjelang UTBK terakhir saya. Saya merasa hal ini seperti sebuah siklus mematikan bagi seorang pejuang kampus negeri. Karena saya sempat berpikir "apa gunanya berjuang jika hasilnya selalu sama?" Saya sudah mencoba semuanya. Mulai dari ikut bimbingan online, menonton video pembelajaran, dan membuat catatan materi. Tapi nyatanya, gagal tidak pernah bosan mengetuk pintu hidup saya. Saya selalu bertanya-tanya, keajaiban apa yang akan saya dapatkan sampai-sampai harus merasakan gagal seberat ini?


Satu dua hari berselang saya berpikir mencari jalan keluar. Saya jadi teringat ada pepatah lama yang kini jadi penyemangat saya baru-baru ini karena salah satu idola saya, sang raja dangdut Rhoma Irama kebetulan banget merilis lagu motivasi di awal tahun ini yang berjudul "Banyak jalan menuju Roma". Dalam lirik lagunya ada kata-kata yang mengharuskan para pejuang hidup untuk "coba lagi dan coba lagi". Dan seketika saya sadar, saya tidak harus berfokus pada satu pintu saja. Saya percaya, ada banyak jalan menuju mimpi-mimpi saya. meski jalannya tidak lurus, bahkan berliku, penuh batu, atau mungkin harus saya buat sendiri dari tanah dan darah. 

Maka dari itu, untuk kesempatan yang terakhir kalinya ini saya mencoba untuk realistis total. Saya benar-benar tidak mengikuti keinginan buta tapi memilih apa yang tersedia. Saya akhirnya memutuskan untuk tetap ikut UTBK tapi dengan pilihan jurusan yang sangat berbeda dengan apa yang saya impikan. Saya berusaha meyakinkan diri berkali-kali, "udah gapapa, mungkin ini jalan terbaik buatku". Sambil berharap keajaiban akan datang. Jadi sekarang, tinggal satu ujian lagi. Peluang terakhir. Tapi kali ini saya sudah tidak berharap banyak. Saya hanya ingin menjalaninya tanpa beban, tanpa ekspektasi. Kalau lulus, saya bersyukur. Kalau tidak, ya sudah. Saya sudah sampai di tahap "nothing to lose". Karena saya tahu, mungkin Tuhan memang sedang menyiapkan jalan terbaik yang belum saya lihat sekarang. 

Sebagai catatan aja, saya menulis ini bukan untuk mengeluh, tapi hanya untuk menyalurkan keresahan dan mengingatkan diri sendiri bahwa jalan yang panjang ini bukanlah kutukan, melainkan proses pembentukan diri agar menjadi pribadi yang lebih baik. Saya yakin bahwa Tuhan tidak pernah benar-benar menutup semua pintu kesuksesan. Sang Pencipta hanya ingin saya mengetuk pintu yang lain jikalau jalan ini memang tidak pernah terbuka. 
Read More

Senin, 25 Mei 2020

Dua Puluh Tahun Hidup di Dunia

Assalamu'alaikum Wr. Wb. 
 
Selamat pagi sobat blogger! Kemarin adalah hari lahir saya yang ke 20 tahun. Saat saya melalui usia 20 tahun ini, rasanya saya disadarkan betapa cepatnya waktu itu berjalan. Perasaan baru kemarin saya merasakan usia 19 tahun. Ehh.. Sekarang sudah datang lagi usia baru. Bertambahnya angka usia saya bukan berarti bertambah panjang juga nyawa saya, justru semakin berkurang layaknya batang korek api yang dibakar pasti akan terus memendek. Waktu saya di dunia ini pun sudah menguap sebanyak dua puluh tahun. 
 
Berkurangnya umur saya tahun ini dilalui di tengah pandemi, sebuah kondisi yang menguji daya juang saya sebagai manusia, apakah masih bisa tetap waras di antara kegilaan kondisi dunia saat ini DAN masa depan yang tidak pernah pasti. Hari-hari saya dipenuhi dengan bayang-bayang kecemasan, akan seperti apa masa depan saya pribadi khususnya dan negara serta masyarakat bumi ini umumnya. Kapan wabah ini akan berakhir? Entahlah.. Abu-abu, semua menjadi serba abu-abu. Tidak pernah ada jawaban yang pasti. Selagi belum tersedianya vaksin, kita semua harus hidup beriringan dengan virus ini. Yang bisa dilakukan hanya berdoa agar wabah pandemi ini segera berakhir dan dapat kembali menjalankan masa depan yang telah direncanakan sebelumnya dengan penuh keyakinan. 
 
Alhamdulillah saat ini saya masih dapat bertahan. Selain orang tua, salah satu alasan yang membuat saya masih bertahan yaitu pada tahun depan banyak film superhero baru yang akan rilis—baik dari Marvel dengan fase empatnya maupun DC dengan Snyder Cut-nya. Oh yaa tentu saja, bagi yang belum tahu, saya ini penggemar berat film yang bertemakan superhero. Entah kenapa rasanya asik aja gitu melihat adaptasi komik superhero ke layar lebar. Ada kesenangan tersendiri jika menyaksikan secara nyata imajinasi yang selama ini dibayangkan. Ini merupakan salah satu alasan yang membuat saya tetap bersemangat untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Untuk tahun ini sih saya masih bisa bersabar untuk tidak nonton film di bioskop karena masih pandemi. Bisa sekalian rehat juga setelah tahun lalu secara berturut-turut saya disajikan film superhero yang memanjakan mata. Tapi semoga aja tahun depan sudah mulai surut dan aktivitas bisa kembali normal. Paling tidak dengan adanya vaksinasi yang rencananya baru akan tersedia februari tahun depan, harapan akan terus menyala. Jadi untuk sekarang mah fokus dulu aja sama yang ada di depan mata yaitu menyelesaikan misi utama UTBK. Dengan fokus melakukan rutinitas kehidupan nanti secara gak sadar tau-tau udah ganti tahun aja.. Sesederhana itu sih sekarang saya mah.. Hehe.. 

Okey kembali ke laptop. Memang tidak mudah juga sih untuk dapat bertahan hidup dalam kondisi seperti saat ini. Apalagi untuk seseorang yang baru saja menginjak usia dewasa awal. Seperti saya dan kalian semua yang tahun ini sedang memasuki usia 20 ini, di mana banyak pertanyaan-pertanyaan yang berdatangan di dalam pikiran setelah berakhirnya masa sekolah. Mulai dari pekerjaan sampai ke pernikahan, itu semua terangkum dalam usia 20an ini. Saya pun merasakannya sendiri saat berada di antara persimpangan jalan hidup, jika saya salah memilih bisa repot nanti urusannya di masa yang akan datang. Butuh ketenangan yang luar biasa dalam mengambil keputusan yang tepat. Agar tidak salah langkah lagi seperti lima tahun yang lalu saya rasakan.
 

Ada yang bilang saat manusia memasuki usia 20, itu berarti dia sedang membuka dekade terbaik dalam hidupnya. Usia ini merupakan masa untuk mencoba berbagai macam hal-hal baru untuk membentuk karakter diri dan memikirkan keinginan jangka panjang. Konon katanya, usia ini merupakan tolok ukur kedewasaan. Seseorang yang sudah menginjak usia 20 tahun bisa dianggap sudah cukup mampu dalam hal perencanaan, pengambilan keputusan, serta konsekuensi akibat tindakan. Oleh karena itu saya harus paham bagaimana bertindak yang baik dan keputusan apa saja yang harus saya ambil di awal dekade baru ini. 
 
Kenapa demikian? Karena menurut saya segala hal yang akan terjadi di usia 20an akan membentuk jati diri saya selamanya. Itu yang selalu saya yakini sampai sekarang. Maka dari itu, untuk dapat bertindak dan mengambil keputusan terbaik terkadang kita harus belajar dari masa lalu. Masih dalam suasana libur lebaran yang langka Ini, daripada tak ada kegiatan yang produktif lebih baik saya mengulas kembali perjalanan saya selama setahun terakhir. Ini juga merupakan bagian dari pembelajaran saya sebagai manusia biasa yang tak luput dari salah. Seperti yang biasa saya lakukan pada tahun-tahun sebelumnya saat menyambut hari lahir saya yang kali ini cukup menenangkan jiwa dan raga.

Selama setahun terakhir ini saya lebih banyak melakukan perenungan dan refleksi diri. Menyadari bahwa selama ini ada yang tidak beres dengan diri saya. Minimal seminggu sekali saya selalu merenungkan apakah keputusan-keputusan yang saya pilih dulu sudah tepat atau tidak. Refleksi diri juga saya lakukan tidak lain hanyalah sarana saya untuk lebih mengenal kepribadian dan pola pikir saya. Di awal dekade baru ini, saya ingin menekankan bahwa saya tak mencari sebuah pencapaian yang berjalan cepat. 

Bagi saya, sebuah pencapaian yang berjalan perlahan tidak salah selama makna dari setiap langkahnya dapat mendewasakan diri saya. Karena itu, saya akan memulai dari langkah yang sederhana. Saya akan mulai dari bagaimana saya dapat mengatur emosi. Saya bertekad untuk dapat mengontrol amarah saya, menghilangkan kebiasaan mengeluh, dan menumbuhkan kesabaran serta keikhlasan yang luar biasa dalam menghadapi setiap problematika hidup saya. Hal-hal rumit tentang pengaturan emosi seperti itu merupakan sebuah pencapaian yang harus diapresiasi. Karena hidup tidak hanya sekedar hidup namun juga bisa memaknai arti kehidupan. Kehidupan yang bercerita tentang kesalahan, dan masih banyak lagi saya tak bisa menyebutnya satu per satu. 

Memang kenyataannya selama 20 tahun saya hidup saya tidak pernah benar-benar diajarkan secara langsung bagaimana MENJADI MANUSIA yang baik dan benar seutuhnya. Memang kebanyakan dari dulu saya belajar hal ini dari ilmu agama. Tapi itu belum cukup membuat saya benar-benar menjadi manusia yang sebenarnya. Terkadang ada beberapa hal yang belum bisa saya praktikan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu saya tumbuh besar di keluarga yang cukup konservatif. Apa yang orang tua saya rasakan dulu saat masih kecil terkadang saya masih sering merasakannya. Jadi selama masa jeda ini saya banyak belajar dari segi keilmuan yang telah terbukti mampu meningkatkan kualitas hidup. Saya banyak baca-baca buku yang berkaitan dengan pengembangan diri. Itu semua murni untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik. 
 
Karena selama ini bukan hanya perasaan cinta kepada lawan jenis yang harus saya tahan agar tak menggebu-gebu di fase runyam seperti sekarang ini, ada perasaan sedih yang harus saya urai agar tak melilit saya ke dalam lubang hitam pekat bernama keputusasaan. Banyak hal yang masih tak saya mengerti tentang rasa, tentang emosi, dan tentang jiwa. Waktu 20 tahun bagi saya belum cukup untuk memetakan sifat-sifat dasar manusia. Terlalu banyak hal-hal kompleks dalam diri seorang manusia. Karena setiap manusia itu unik dan tidak pernah sama satu dengan yang lainnya. Inilah yang membuat saya masih terus mempelajari dasar-dasar sifat kemanusiaan yang ada pada manusia agar saya bisa menjadi manusia seutuhnya. 
 
Begitulah kira-kira pergumulan yang jelas mengenai usia 20 tahun versi saya. Segalanya memang menjadi lebih kompleks dan bercabang. Saya memang selalu khawatir dengan masa depan yang telah saya rancang sendiri. Apakah masih bisa berjalan sesuai dengan target atau malah sebaliknya berantakan dan tidak ada yang terwujud satu pun hingga akhirnya saya harus merelakan idealisme saya runtuh sendiri. Tidak ada yang pernah tau sampai saya yang merasakannya sendiri nanti. Jadi, pada saat masa gap year terakhir ini sembari saya mendalami materi ujian masuk perguruan tinggi dan membantu orang tua, saya juga harus belajar lebih tentang kehidupan—yang tentu saja juga membuat saya belajar lebih banyak tentang diri saya sendiri. 

Di usia saya yang sekarang ini, saya pada akhirnya sudah mengetahui kebenaran bahwa kesedihan dan kebahagiaan, suka dan duka, berhasil dan gagal, musibah dan anugerah, mimpi dan realita, serta awal dan akhir. Semua hal tersebut hanya datang dari Allah SWT, Sang Pencipta Alam Semesta. DIA memberikan itu semua semata-mata agar hidup ini seimbang. Saya tidak akan pernah bisa merasakan apa yang disebut dengan bahagia jika tidak pernah sedih. Saya tidak akan pernah bisa merasakan nikmatnya keberhasilan jika kita tidak pernah merasakan kegagalan yang konstan. 

Semua ini bermuara pada kesadaran bahwa saya merasa belum menjadi hamba yang baik dan bertakwa sepenuhnya. Belum juga menjadi hamba yang selalu patuh terhadap perintah-Nya. Tapi di usia yang baru ini, saya ingin lebih menghargai setiap waktu yang terus berjalan. Agar saya menjadi orang yang selalu bersyukur. Karena saya hidup baru sebentar, baru 20 tahun. Pelajaran hidup pun baru sedikit. Saya yakin akan banyak pelajaran kehidupan lainnya di masa depan nanti. Seiring berjalannya waktu, tantangan-tantangan yang harus saya lewati akan semakin rumit. Perjalanan yang sebenarnya baru saja akan benar-benar dimulai.
 
Setahun ini saya banyak belajar tentang hidup. Belajar bahwa semua yang ada di dunia ini hanya milik Tuhan semata. Semuanya bisa diambil kapan saja dan  digantikan dengan kehendak-Nya.  
Saya banyak-banyak berterima kasih sama Allah atas nikmatnya sampai usia saya dapat menyentuh angka 20. Saya selalu berharap nikmat-Nya tak pernah putus di tahun-tahun selanjutnya, di angka-angka berikutnya. 
 
Yak secara keseluruhan, usia 20 bagi saya adalah usia yang mengharuskan saya menjadi pribadi yang bertanggung jawab atas segala keputusan dan tindakan yang telah saya lakukan. Hal-hal yang saya lakukan bukan lagi untuk sekadar bersenang-senang semata, tapi saya juga harus tau apa tujuan dari setiap perbuatan yang saya jalani. Kepala dua bagi saya minimal harus mampu menjadi teladan bagi diri sendiri. Kemudian kalau sudah bisa baru untuk keluarga, dan maksimalnya untuk orang lain alias harus bisa bermanfaat untuk kepentingan banyak orang. Itulah visi besar saya ke depannya. 
 
Di ambang batas hari ini, saya sudah resmi berusia 20 tahun. Semoga hari ini menjadi sebuah optimisme baru. Saya pikir ini bukanlah sebuah perayaan, ini murni hanya sebagai pengingat bahwa umur saya telah berkurang sebanyak dua dekade. Bagi yang berhasil membaca tulisan panjang ini sampai selesai saya ucapkan terima kasih. Kalau bukan karena kalian para pembaca setia *uhuk*, mungkin saya tak bisa nulis sebanyak ini. Terima kasih banyak telah peduli dengan sejarah hidup saya. Akhir kata, Selamat merayakan kemenangan semuanya!
 
 
 
 
Berbahagialah....!! 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
With Love
 
TTD 
 
Zulfahmi Adam 
Read More