Minggu, 29 Maret 2020

Saat Dunia Dipaksa Istirahat

Pagi ini saya terbangun lebih cepat dari biasanya. Tidak ada suara bising kendaraan yang biasanya memecah kesunyian, hanya keheningan yang terdengar lebih jelas dari jendela kamar. Sesuatu yang jarang sekali saya nikmati, karena biasanya suara itu kalah oleh deru motor dan klakson di jalanan. Rasanya seolah alam sedang mengambil kembali haknya untuk bersuara. Saya duduk sebentar di teras, menarik napas dalam-dalam, dan udara pagi terasa lebih segar dari hari-hari sebelum pandemi.

Hari-hari saat masa Social Distancing seperti saat ini membuat waktu berjalan aneh. Tidak ada yang menyangka sebelumnya memang, di awal tahun 2020 ini dunia sedang berperang menghadapi Covid-19 atau biasa disebut virus korona. Kalender tetap berganti, tapi suasananya serupa. Bangun, sarapan, duduk di depan televisi atau layar ponsel untuk mencari kabar terbaru tentang korona. Menyaksikan berita demi berita datang silih berganti. Jumlah kasus yang terus naik, rumah sakit yang kewalahan, tenaga medis yang kelelahan. Di antara berita itu, ada juga secercah harapan seperti kebaikan-kebaikan murni yang mulai disebarkan, atau doa-doa yang dikirimkan masyarakat dari rumah masing-masing.


Di pabrik tempat orang tua saya menjalankan operasional dagangan terlihat harap-harap cemas. Biasanya pesanan itu setiap hari selalu ada dan ramai, tapi sejak ada pembatasan social distancing sejak tanggal 16, jumlah pembeli mulai menurun. Saya bisa merasakan kekhawatiran yang tidak pernah diucapkan dengan kata-kata, bagaimana kalau pandemi ini lama? Bagaimana kalau usaha kecil kami tak bisa bertahan? Pandemi ini membuat saya sadar betapa rapuhnya kehidupan sehari-hari yang dulu terasa stabil.

Menjelang siang, adik saya sibuk dengan kelas daring. Duduk di depan layar, mencoba mengikuti pelajaran lewat aplikasi video. Dari wajahnya saya bisa membaca kebingungan. Guru menjelaskan, tapi sering kali suara terputus-putus karena sinyal. Tugas menumpuk, tapi tanpa bimbingan tatap muka, semua terasa berat. Sekolah yang biasanya penuh tawa bersama teman, kini hanya ruang sunyi dengan layar yang menyala. Saya ikut miris, karena pendidikan yang seharusnya membentuk keceriaan, justru terasa asing di masa ini.

Di luar sana, banyak orang lain juga berjuang dengan caranya masing-masing. Pedagang kecil yang kehilangan pembeli, ojek online yang hanya bisa mengantar makanan, dan keluarga-keluarga yang terpisah. Saya membaca cerita warganet, ada yang salah satu anggota keluarganya terjebak di kota lain dan tidak bisa pulang karena pembatasan perjalanan. Bahkan ketika ada anggota keluarga sakit, mereka tidak bisa menjenguk karena aturan rumah sakit yang begitu ketat. Pandemi ini membuat kita sadar bahwa jarak bisa begitu menyakitkan.

Hingga sore hari menjelang, saya tak bisa lepas dari keramaian media sosial. Timeline dipenuhi eksperimen orang-orang di rumah. Ada yang mencoba resep dalgona coffee, ada yang sibuk olahraga indoor, ada yang live konser musik dari kamar. Hal-hal kecil ini terasa unik sekaligus mengharukan, karena ternyata manusia selalu mencari cara untuk bertahan di tengah keterbatasan. 

Malam datang dengan keheningan yang tidak biasa. Jalanan depan rumah saya begitu sepi, hanya sesekali motor melintas dengan suara knalpotnya yang terpantul ke dinding rumah. Saya menatap ke langit, bulan terasa lebih terang. Mungkin karena polusi udara berkurang, atau mungkin karena saya jarang menengadah setenang ini sebelumnya. Entah kenapa, di balik semua ketakutan dan kecemasan, selalu ada tersimpan rasa syukur. Tuhan memberi kita kesempatan untuk berhenti sejenak, untuk merenung, untuk kembali melihat apa yang sebenarnya penting dalam hidup ini.

Hari-hari di tengah pandemi memang berat. Tapi saya percaya, kita tidak pernah benar-benar sendirian. Ada doa yang saling terhubung dari rumah ke rumah, ada pengorbanan para tenaga medis di garda depan, ada kasih sayang keluarga yang menjaga kita tetap kuat. Semoga pandemi ini segera berakhir, dan ketika saat itu tiba, kita bisa keluar bukan sebagai manusia yang sama, melainkan manusia yang lebih peduli, lebih bijak, dan lebih tahu cara menghargai hidup. Aamiin.. 
Read More

Rabu, 04 Maret 2020

TJVZ #3

Aku tak bisa diajak lagi ke dalam hatimu, goresan luka dan perasaan ini adalah bukti nyata bahwa kau sudah mulai melupakanku. Hari yang lalu biarlah berlalu dengan dia yang selalu ada di hatimu, yang bisa dibilang tampan dan manis di awal bulan ini. Aku tahu apapun yang kau pilih, pasti sudah dipertimbangkan dahulu. Aku terima semua keputusanmu. Setelah delapan tahun lamanya mengagumimu, kini aku putuskan untuk perlahan berhenti menomorsatukanmu. Aku sadar ini semua hanyalah bagian dari pendewasaan. Sudah jelas sekali bahwa kau memang sedari awal kurang peduli dengan diriku. Teruntuk kamu yang sering kuselipkan dalam karyaku, terima kasih sudah sudi menjadi inspirasiku selama ini. Kau akan selalu menjadi teman perempuan pertamaku. Sosok yang dapat memberikanku semangat. 

Aku ingin menegaskan bahwa aku pernah mengagumimu dalam diamku. Maafkan aku karena telah melakukan hal ini. Aku bingung harus melakukan apa ketika melihat salah satu keindahan duniawi. Sengaja aku tak pernah sampaikan kepadamu. Tapi jika kau sudah mengetahuinya pun, aku tak peduli. Mulai hari ini dan seterusnya aku berusaha untuk berhenti terpesona akan indahnya dirimu. Karena rasa ini perlahan-lahan tumbuh menjadi kegelisahan. Hal itu hanya akan menyiksa diriku sendiri. Semakin aku melihatmu bebas dengan yang lain, hanya akan menimbulkan kesedihan sepanjang waktu. Aku tak ingin hal itu terus terjadi. Pada akhirnya, aku harus menegur diriku sendiri untuk berhenti. 
 

Dengan semakin berkurangnya umurku, tolong izinkan aku tuk melupakanmu. Akan kukubur dalam-dalam semua cita-cita ini. Seluruh perasaan indah yang pernah singgah dalam ruang hidupku. Ketergantungan terhadap apa yang dinamakan keindahan duniawi ini mulai surut. Aku sadar, bahwa aku tidak benar-benar mengenali dirimu. Kau tak lagi istimewa di dalam hidupku. Tak ada yang bisa kusembunyikan lagi. Kau bukan lagi yang utama, karena memang tidak bisa diutamakan. Jika dipikir-pikir memang ini hanyalah pemborosan waktu yang cukup lama. Tapi dari itu semua, ada banyak hikmah yang sudah aku dapatkan. Belasan karya tercipta dari rasa kagum atas sebuah keindahan jiwa. Aku tak menyesal jika aku pernah menikmati itu semua.
 
Tepat di hari kelahiranmu yang ke dua puluh tahun ini, aku mempersembahkan tulisan khusus tentang dirimu—untuk yang terakhir kalinya. Aku sudah sangat yakin untuk mengakhiri keterikatan yang melekat kuat selama delapan tahun ini. Kalau ditanya gimana rasanya? Yaaa.. cukup memberatkan. Rasa sakit itu selalu ada, karena Tuhan izinkan ia ada. Tapi aku tak akan ambil pusing lagi dengan keputusan ini. Dan pada akhirnya aku harus bisa. Walaupun rasanya sulit. Inilah saatnya aku menentukan pilihan. Pilihan yang membuatku merasa bebas. Kau dapat fokus dengan jalanmu sendiri. Begitu juga aku, bisa fokus dengan jalanku sendiri. 
 
Kisah ini dapat dinyatakan sudah selesai. Aku berhenti menuliskan karya tentang dirimu. Tak ada lagi yang bisa kupersembahkan. Stok kata-kataku telah menipis untukmu. Ingin sekali berhenti mengikuti perkembanganmu. Menghapus segala impian dan khayalan yang bersemayam di pikiran. Aku memantapkan hati tuk berhenti memperjuangkanmu—yang mungkin ditakdirkan bukan untukku. Walaupun itu sangat rumit, karena memang sudah melekat dengan otakku. Tapi akan aku usahakan. 
 
Mengunjungi hatimu adalah cara terbaik mengenal cinta. Dan mengundurkan diri adalah satu-satunya cara yang paling tepat untuk menghindari luka yang lebih dalam. Kebahagiaan hati tak akan datang sendiri, ia merupakan hasil dari sebuah perjalanan panjang dalam memaknai apa yang disebut ketulusan. Aku pastikan kita semua akan baik-baik saja. Pada titik paling akhir ini, tinta penaku telah luruh. Saat kumenulis karya terakhir tentang dirimu, aku memutuskan untuk perlahan berhenti mengagumimu.








TJVZ - The Last 
04.03.20
Read More

Sabtu, 15 Februari 2020

Kita Telah Berubah

Manusia adalah entitas yang terus berkembang, mereka berubah seiring berubahnya zaman. Begitupun diriku. Dulu aku mengira bahwa kau adalah cermin terbaik dalam hidupku. Saat itu, aku masih sangat muda dan naif mengartikan sebuah pertemuan. Aku terbuai oleh keindahan duniawi. Dirimu yang memiliki paras ayu nan lugu. Sungguh membuatku semangat menjalani hari-hari baru. Aku selalu menjadikan kau sebagai motivasi untuk terus berkembang. Ingin rasanya aku menyamai kemampuanmu yang luar biasa itu. Namun sekarang aku sudah sadar, aku salah menempatkan dirimu di dalam hidupku. Kau layaknya manusia pada umumnya, mempunyai sisi gelap. Begitu aku tau sisi gelapmu, aku langsung mengerti bahwa tak ada yang sempurna di dunia ini. Setiap orang pasti punya sisi gelapnya sendiri. Aku pun sama memilikinya. Laki-laki dan perempuan sama-sama manusia, bukan malaikat. Kita semua pernah melakukan kesalahan. Kita telah memahami porsi kesalahan masing-masing. Dan kita masih punya waktu. Jadi pada akhirnya aku harus memutuskan untuk menutup hasrat jiwaku. 
 

Maaf kalau aku harus mengucapkan kata-kata 'pernah' di beberapa tulisanku. Karena memang dulu kita pernah dekat dan sekarang sudah tidak. Ada batasan yang jelas dari dirimu yang kini tak pernah bisa aku sentuh. Pikiranmu yang tak bisa lagi aku tebak akan kemana tujuannya. Ada banyak hal sederhana yang kini berubah menjadi rumit. Seolah-olah berbagai perubahan ini membuat kita saling menyalahkan diri sendiri. Padahal bukan salah kita, ini semua murni karena waktu yang menuntut kita berbeda haluan. Memilih jalan hidup masing-masing. Ini perlu dilakukan agar kita belajar bahwa dalam hidup memang perlu ada yang berubah. Dan biarkan waktu yang mengajari kita untuk menerimanya. 
 
Maka dari itu, aku undur diri atas segala rasa yang nantinya bisa memperburuk kondisi hati. Aku undur diri untuk menitipkan lagi segala rasa yang pernah singgah di hatimu dulu. Aku undur diri untuk segala masa depan yang dulu pernah kita bicarakan. Langkahku pelan-pelan menjauh, mungkin kenangan akan begitu riuh, tapi takkan membuat beberapa luka semakin melepuh. Maaf jika aku tak mampu lagi bertahan, dan maaf jika aku secepat ini melepaskan. Namun hal-hal pahit, harus kau cicipi lebih dulu agar kau tahu apa rasanya manis. Sesendok pelajaran sedang kita lahap bersama-sama, tentang kenyataan bahwa tak seharusnya lagi kita bersama. Lepaslah dengan rela. Karena suatu hari, kita akan sama-sama tersenyum mengingat hari ini.
 
Kau dan aku sama-sama sedang dalam proses mengobati luka lama, sama-sama trauma dalam mengelola perasaan, dan sama-sama ingin fokus ke masa depan. Kita semua telah berubah seiring berjalannya waktu. Dan perubahan itu adalah hal yang mutlak. Aku tak keberatan melihat dirimu yang sekarang dengan segala perbedaannya. Aku sudah meyakinkan diri, bahwa tidak mungkin ada kita. Kau terlalu indah tuk kumiliki. Aku tak sanggup jika aku benar-benar bersamamu selamanya. Aku berhenti meminta kepada Tuhan agar berjodoh denganmu. Aku ingin sekali berhenti mengagumi dirimu. Terima kasih pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupku yang singkat ini.


Read More