Rabu, 04 Maret 2020

TJVZ #3

Aku tak bisa diajak lagi ke dalam hatimu, goresan luka dan perasaan ini adalah bukti nyata bahwa kau sudah mulai melupakanku. Hari yang lalu biarlah berlalu dengan dia yang selalu ada di hatimu, yang bisa dibilang tampan dan manis di awal bulan ini. Aku tahu apapun yang kau pilih, pasti sudah dipertimbangkan dahulu. Aku terima semua keputusanmu. Setelah delapan tahun lamanya mengagumimu, kini aku putuskan untuk perlahan berhenti menomorsatukanmu. Aku sadar ini semua hanyalah bagian dari pendewasaan. Sudah jelas sekali bahwa kau memang sedari awal kurang peduli dengan diriku. Teruntuk kamu yang sering kuselipkan dalam karyaku, terima kasih sudah sudi menjadi inspirasiku selama ini. Kau akan selalu menjadi teman perempuan pertamaku. Sosok yang dapat memberikanku semangat. 

Aku ingin menegaskan bahwa aku pernah mengagumimu dalam diamku. Maafkan aku karena telah melakukan hal ini. Aku bingung harus melakukan apa ketika melihat salah satu keindahan duniawi. Sengaja aku tak pernah sampaikan kepadamu. Tapi jika kau sudah mengetahuinya pun, aku tak peduli. Mulai hari ini dan seterusnya aku berusaha untuk berhenti terpesona akan indahnya dirimu. Karena rasa ini perlahan-lahan tumbuh menjadi kegelisahan. Hal itu hanya akan menyiksa diriku sendiri. Semakin aku melihatmu bebas dengan yang lain, hanya akan menimbulkan kesedihan sepanjang waktu. Aku tak ingin hal itu terus terjadi. Pada akhirnya, aku harus menegur diriku sendiri untuk berhenti. 
 

Dengan semakin berkurangnya umurku, tolong izinkan aku tuk melupakanmu. Akan kukubur dalam-dalam semua cita-cita ini. Seluruh perasaan indah yang pernah singgah dalam ruang hidupku. Ketergantungan terhadap apa yang dinamakan keindahan duniawi ini mulai surut. Aku sadar, bahwa aku tidak benar-benar mengenali dirimu. Kau tak lagi istimewa di dalam hidupku. Tak ada yang bisa kusembunyikan lagi. Kau bukan lagi yang utama, karena memang tidak bisa diutamakan. Jika dipikir-pikir memang ini hanyalah pemborosan waktu yang cukup lama. Tapi dari itu semua, ada banyak hikmah yang sudah aku dapatkan. Belasan karya tercipta dari rasa kagum atas sebuah keindahan jiwa. Aku tak menyesal jika aku pernah menikmati itu semua.
 
Tepat di hari kelahiranmu yang ke dua puluh tahun ini, aku mempersembahkan tulisan khusus tentang dirimu—untuk yang terakhir kalinya. Aku sudah sangat yakin untuk mengakhiri keterikatan yang melekat kuat selama delapan tahun ini. Kalau ditanya gimana rasanya? Yaaa.. cukup memberatkan. Rasa sakit itu selalu ada, karena Tuhan izinkan ia ada. Tapi aku tak akan ambil pusing lagi dengan keputusan ini. Dan pada akhirnya aku harus bisa. Walaupun rasanya sulit. Inilah saatnya aku menentukan pilihan. Pilihan yang membuatku merasa bebas. Kau dapat fokus dengan jalanmu sendiri. Begitu juga aku, bisa fokus dengan jalanku sendiri. 
 
Kisah ini dapat dinyatakan sudah selesai. Aku berhenti menuliskan karya tentang dirimu. Tak ada lagi yang bisa kupersembahkan. Stok kata-kataku telah menipis untukmu. Ingin sekali berhenti mengikuti perkembanganmu. Menghapus segala impian dan khayalan yang bersemayam di pikiran. Aku memantapkan hati tuk berhenti memperjuangkanmu—yang mungkin ditakdirkan bukan untukku. Walaupun itu sangat rumit, karena memang sudah melekat dengan otakku. Tapi akan aku usahakan. 
 
Mengunjungi hatimu adalah cara terbaik mengenal cinta. Dan mengundurkan diri adalah satu-satunya cara yang paling tepat untuk menghindari luka yang lebih dalam. Kebahagiaan hati tak akan datang sendiri, ia merupakan hasil dari sebuah perjalanan panjang dalam memaknai apa yang disebut ketulusan. Aku pastikan kita semua akan baik-baik saja. Pada titik paling akhir ini, tinta penaku telah luruh. Saat kumenulis karya terakhir tentang dirimu, aku memutuskan untuk perlahan berhenti mengagumimu.








TJVZ - The Last 
04.03.20
Read More

Sabtu, 15 Februari 2020

Kita Telah Berubah

Manusia adalah entitas yang terus berkembang, mereka berubah seiring berubahnya zaman. Begitupun diriku. Dulu aku mengira bahwa kau adalah cermin terbaik dalam hidupku. Saat itu, aku masih sangat muda dan naif mengartikan sebuah pertemuan. Aku terbuai oleh keindahan duniawi. Dirimu yang memiliki paras ayu nan lugu. Sungguh membuatku semangat menjalani hari-hari baru. Aku selalu menjadikan kau sebagai motivasi untuk terus berkembang. Ingin rasanya aku menyamai kemampuanmu yang luar biasa itu. Namun sekarang aku sudah sadar, aku salah menempatkan dirimu di dalam hidupku. Kau layaknya manusia pada umumnya, mempunyai sisi gelap. Begitu aku tau sisi gelapmu, aku langsung mengerti bahwa tak ada yang sempurna di dunia ini. Setiap orang pasti punya sisi gelapnya sendiri. Aku pun sama memilikinya. Laki-laki dan perempuan sama-sama manusia, bukan malaikat. Kita semua pernah melakukan kesalahan. Kita telah memahami porsi kesalahan masing-masing. Dan kita masih punya waktu. Jadi pada akhirnya aku harus memutuskan untuk menutup hasrat jiwaku. 
 

Maaf kalau aku harus mengucapkan kata-kata 'pernah' di beberapa tulisanku. Karena memang dulu kita pernah dekat dan sekarang sudah tidak. Ada batasan yang jelas dari dirimu yang kini tak pernah bisa aku sentuh. Pikiranmu yang tak bisa lagi aku tebak akan kemana tujuannya. Ada banyak hal sederhana yang kini berubah menjadi rumit. Seolah-olah berbagai perubahan ini membuat kita saling menyalahkan diri sendiri. Padahal bukan salah kita, ini semua murni karena waktu yang menuntut kita berbeda haluan. Memilih jalan hidup masing-masing. Ini perlu dilakukan agar kita belajar bahwa dalam hidup memang perlu ada yang berubah. Dan biarkan waktu yang mengajari kita untuk menerimanya. 
 
Maka dari itu, aku undur diri atas segala rasa yang nantinya bisa memperburuk kondisi hati. Aku undur diri untuk menitipkan lagi segala rasa yang pernah singgah di hatimu dulu. Aku undur diri untuk segala masa depan yang dulu pernah kita bicarakan. Langkahku pelan-pelan menjauh, mungkin kenangan akan begitu riuh, tapi takkan membuat beberapa luka semakin melepuh. Maaf jika aku tak mampu lagi bertahan, dan maaf jika aku secepat ini melepaskan. Namun hal-hal pahit, harus kau cicipi lebih dulu agar kau tahu apa rasanya manis. Sesendok pelajaran sedang kita lahap bersama-sama, tentang kenyataan bahwa tak seharusnya lagi kita bersama. Lepaslah dengan rela. Karena suatu hari, kita akan sama-sama tersenyum mengingat hari ini.
 
Kau dan aku sama-sama sedang dalam proses mengobati luka lama, sama-sama trauma dalam mengelola perasaan, dan sama-sama ingin fokus ke masa depan. Kita semua telah berubah seiring berjalannya waktu. Dan perubahan itu adalah hal yang mutlak. Aku tak keberatan melihat dirimu yang sekarang dengan segala perbedaannya. Aku sudah meyakinkan diri, bahwa tidak mungkin ada kita. Kau terlalu indah tuk kumiliki. Aku tak sanggup jika aku benar-benar bersamamu selamanya. Aku berhenti meminta kepada Tuhan agar berjodoh denganmu. Aku ingin sekali berhenti mengagumi dirimu. Terima kasih pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupku yang singkat ini.


Read More

Jumat, 17 Januari 2020

Jumat yang Menyentuh Jiwa

Hari Jumat selalu punya cara tersendiri untuk menyapa hati saya. Sejak pagi, udara terasa sejuk karena hujan dari malam membuat langkah kaki saya bersemangat untuk jalan pagi sambil meregangkan badan setelah seminggu penuh bekerja membantu orang tua. Karena hanya di hari jumat saya mendapatkan kelonggaran waktu alias hari jumat adalah hari libur wajib setiap pekannya. Saya sempat berolahraga sebentar, lalu sarapan, kemudian menekuni hobi sederhana yaitu menulis dan membaca buku. Rutinitas kecil yang justru menjadi penyelamat di tengah padatnya hari-hari lain. Kalau sudah melakukan aktivitas tersebut kadang saya suka lupa waktu, tau-tau udah menjelang solat jumat. Akhirnya saya harus mempersiapkan diri untuk melaksanakannya. 

Jumat yang menyentuh jiwa


Seperti biasa siang hari waktu jumat, khotib selalu membawakan materi khutbah Jumat yang berbeda setiap minggunya. Selain ajakan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. ada banyak nasihat serta pengingat kebenaran bagi jemaah solat jumat. Nah untuk minggu ini saya merasa sedikit berbeda. Kali ini khotib membahas tentang bangkit dari keterpurukan. Entah kenapa ini pas banget pada suasana otak saya yang lagi-lagi terombang-ambing dengan perasaan yang hampir menyerah karena belum jadi apa-apa sedangkan saya sudah memasuki usia hampir 20 tahun. 

Isi ceramahnya kurang lebih mengingatkan para jemaah untuk tidak mudah putus asa dan harus selalu percaya pertolongan Allah itu ada dan datang di waktu yang tepat. Percaya bahwa takdir-Nya pasti yang terbaik. Percaya bahwa di balik kesulitan pasti ada kemudahan. Seakan Allah Yang Maha Mendengar sedang menjawab bisikan hati saya selama ini. Sebab beberapa hari terakhir, saya diliputi rasa lelah tak berkesudahan. Entah kenapa setiap awal tahun pikiran saya sering menengok ke belakang hanya untuk mengingat kegagalan. Saya membandingkan diri dengan orang lain lalu jatuh dalam jurang kekecewaan. Dalam doa pun, kadang ada desahan pasrah bercampur protes. Namun, khutbah jumat kemarin mengetuk hati saya dengan kalimat sederhana yaitu jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah. Seperti dalam firman-Nya:

“...dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah, melainkan orang-orang yang kafir.”
(QS. Yusuf: 87)


Surat ini salah satu yang dibawakan khatib jumat. Ayat ini turun ketika Nabi Ya’qub AS menasihati anak-anaknya agar tetap mencari kabar tentang Nabi Yusuf dan saudaranya. Tafsir sederhananya yaitu jangan pernah merasa Allah meninggalkan kita, meski keadaan tampak gelap dan penuh kegagalan. Putus asa itu sifat orang yang tak lagi percaya pada kasih sayang Allah. Bagi orang beriman, harapan itu harus terus ada. Ayat ini mendorong manusia untuk terus berjuang dalam menghadapi kesulitan hidup dan selalu berserah diri kepada Allah, karena hanya Dia lah adalah sumber segala karunia dan kebaikan. 

Ayat ini seperti pelukan yang menenangkan jiwa saya. Selama ini saya terlalu cepat menutup pintu, terlalu mudah merasa kalah, padahal rahmat Allah itu luas tak terbatas. Justru di titik terendah itulah saya seharusnya semakin yakin bahwa Allah masih punya rencana. Dalam hati saya selalu bertanya, "mengapa saya begitu takut pada cap manusia gagal?" Setelah lama berpikir terus menerus saya tersadar, mungkin karena saya selalu menganggapnya sebagai akhir, bukan proses.

Padahal kalau dipikir-pikir, hidup ini mirip seperti anak kecil belajar naik sepeda. Pasti ada fase jatuh berkali-kali, namun ia tak pernah menyerah. Justru setiap kali terjatuh, ia semakin mahir dan percaya diri. Hal inilah yang menguatkan langkahnya. Sifat anak kecil memang terkadang memiliki rasa tak kenal lelah sebelum berhasil. Nah Kalau anak kecil bisa melakukannya, mengapa saya yang sudah mulai menginjak dewasa tidak bisa semangat seperti itu? Kan saya juga pernah menjadi anak kecil? Cobalah bangkitkan kembali daya juang anak kecil itu yang sudah lama terpendam belasan tahun. 

Saya juga sering lupa, bahwa kegagalan bukan berarti Allah membenci saya. Bisa jadi justru sebaliknya, banyaknya kegagalan yang telah saya lalui adalah tanda bahwa Allah ingin melindungi saya dari sesuatu yang belum layak saya terima. Seperti seorang ayah yang menahan anaknya agar tidak memegang api, bukan karena benci, tapi karena sayang. Begitulah Allah dengan hamba-Nya. Ceramah itu seakan menyingkap tabir kecil dalam diri saya. Saya tersadar bahwa saya harus berhenti mengukur hidup dengan kacamata dunia semata. Keterpurukan bukan aib, melainkan ruang belajar. Kegagalan bukan penutup, tapi pintu menuju pengalaman baru. Karena saya yakin, Allah tidak akan mengubah keadaan saya kalau saya tidak berusaha mengubahnya sendiri, sebagaimana firman-Nya:

 “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini seperti cerminan kalau saya ingin bangkit, saya harus mulai bergerak. Tak ada gunanya hanya diam atau menunggu. Perubahan besar selalu lahir dari langkah-langkah kecil. Dan saya juga ingat satu janji Allah yang menenangkan hati:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya...”
(QS. Al-Baqarah: 286)

Saat mendengar ayat ini dibacakan, hati saya seperti disentuh lembut. Betapa sering saya berkata dalam hati, "Ya Allah, aku tidak sanggup." Padahal kenyataannya, saya masih sanggup, hanya saja terlalu cepat menyerah. Allah sudah lebih tahu batas kemampuan hamba-Nya daripada hamba itu sendiri. Semua beban dan ujian sudah diukur oleh Allah sesuai dengan kemampuan manusia. Kalau kita diuji seberat itu, berarti Allah tahu kita bisa menanggungnya. Kadang memang kita merasa tak kuat, tapi kenyataannya kita tetap bertahan hingga hari ini. Itu bukti bahwa Allah selalu menopang kita, meski dengan cara yang kadang tak kita sadari.

Wah, setelah selesai solat Jumat saya merasa seperti diisi ulang semangat dan daya juang untuk bisa bangkit lagi menghadapi kegagalan dan ujian hidup. Saya percaya Allah sedang mempersiapkan yang terbaik untuk saya. Di sisa hari sehabis solat jumat hingga matahari terbenam saya habiskan untuk berpikir dan berpikir. Merenungi benar-benar makna dari ceramah tadi. Entah mengapa, hati saya terasa lebih ringan. Ada rasa percaya yang mulai tumbuh bahwa pertolongan Allah itu selalu dekat, meski sering tidak saya sadari. Saya ingin berbenah mulai dari hal-hal kecil seperti memperbaiki shalat, memperbanyak istighfar, menulis dengan lebih jujur, dan berdoa tanpa lelah. 

Hari Jumat kali ini benar-benar meninggalkan kesan yang mendalam. Seolah Allah mengatur setiap detiknya untuk mengingatkan saya untuk tidak menyerah. Seakan khutbah tadi adalah jawaban dari setiap doa lirih yang pernah saya panjatkan. Saya menulis panjang di buku catatan saya malam itu, agar makna ini tidak cepat hilang. Sebagian tulisan saya buat postingan blog ini. Saya menuliskan kegagalan-kegagalan yang pernah saya alami, lalu mencoba melihatnya dari sudut pandang baru. Ternyata, ada hal-hal baik yang lahir dari kegagalan itu. Ada tempat baru yang saya kenal, ada pelajaran sabar yang saya dapat, ada kedekatan dengan Allah yang semakin tumbuh. Kalau bukan karena rentetan kegagalan yang sudah dilalui, mungkin saya tidak akan pernah belajar sedekat ini dengan Sang Pencipta.


Alhamdulillah... 
Read More