Aku tak bisa diajak lagi ke dalam hatimu, goresan luka dan perasaan ini adalah bukti nyata bahwa kau sudah mulai melupakanku. Hari yang lalu biarlah berlalu dengan dia yang selalu ada di hatimu, yang bisa dibilang tampan dan manis di awal bulan ini. Aku tahu apapun yang kau pilih, pasti sudah dipertimbangkan dahulu. Aku terima semua keputusanmu. Setelah delapan tahun lamanya mengagumimu, kini aku putuskan untuk perlahan berhenti menomorsatukanmu. Aku sadar ini semua hanyalah bagian dari pendewasaan. Sudah jelas sekali bahwa kau memang sedari awal kurang peduli dengan diriku. Teruntuk kamu yang sering kuselipkan dalam karyaku, terima kasih sudah sudi menjadi inspirasiku selama ini. Kau akan selalu menjadi teman perempuan pertamaku. Sosok yang dapat memberikanku semangat.
Aku ingin menegaskan bahwa aku pernah mengagumimu dalam diamku. Maafkan aku karena telah melakukan hal ini. Aku bingung harus melakukan apa ketika melihat salah satu keindahan duniawi. Sengaja aku tak pernah sampaikan kepadamu. Tapi jika kau sudah mengetahuinya pun, aku tak peduli. Mulai hari ini dan seterusnya aku berusaha untuk berhenti terpesona akan indahnya dirimu. Karena rasa ini perlahan-lahan tumbuh menjadi kegelisahan. Hal itu hanya akan menyiksa diriku sendiri. Semakin aku melihatmu bebas dengan yang lain, hanya akan menimbulkan kesedihan sepanjang waktu. Aku tak ingin hal itu terus terjadi. Pada akhirnya, aku harus menegur diriku sendiri untuk berhenti.
Dengan semakin berkurangnya umurku, tolong izinkan aku tuk melupakanmu. Akan kukubur dalam-dalam semua cita-cita ini. Seluruh perasaan indah yang pernah singgah dalam ruang hidupku. Ketergantungan terhadap apa yang dinamakan keindahan duniawi ini mulai surut. Aku sadar, bahwa aku tidak benar-benar mengenali dirimu. Kau tak lagi istimewa di dalam hidupku. Tak ada yang bisa kusembunyikan lagi. Kau bukan lagi yang utama, karena memang tidak bisa diutamakan. Jika dipikir-pikir memang ini hanyalah pemborosan waktu yang cukup lama. Tapi dari itu semua, ada banyak hikmah yang sudah aku dapatkan. Belasan karya tercipta dari rasa kagum atas sebuah keindahan jiwa. Aku tak menyesal jika aku pernah menikmati itu semua.
Tepat di hari kelahiranmu yang ke dua puluh tahun ini, aku mempersembahkan tulisan khusus tentang dirimu—untuk yang terakhir kalinya. Aku sudah sangat yakin untuk mengakhiri keterikatan yang melekat kuat selama delapan tahun ini. Kalau ditanya gimana rasanya? Yaaa.. cukup memberatkan. Rasa sakit itu selalu ada, karena Tuhan izinkan ia ada. Tapi aku tak akan ambil pusing lagi dengan keputusan ini. Dan pada akhirnya aku harus bisa. Walaupun rasanya sulit. Inilah saatnya aku menentukan pilihan. Pilihan yang membuatku merasa bebas. Kau dapat fokus dengan jalanmu sendiri. Begitu juga aku, bisa fokus dengan jalanku sendiri.
Kisah ini dapat dinyatakan sudah selesai. Aku berhenti menuliskan karya tentang dirimu. Tak ada lagi yang bisa kupersembahkan. Stok kata-kataku telah menipis untukmu. Ingin sekali berhenti mengikuti perkembanganmu. Menghapus segala impian dan khayalan yang bersemayam di pikiran. Aku memantapkan hati tuk berhenti memperjuangkanmu—yang mungkin ditakdirkan bukan untukku. Walaupun itu sangat rumit, karena memang sudah melekat dengan otakku. Tapi akan aku usahakan.
Mengunjungi hatimu adalah cara terbaik mengenal cinta. Dan mengundurkan diri adalah satu-satunya cara yang paling tepat untuk menghindari luka yang lebih dalam. Kebahagiaan hati tak akan datang sendiri, ia merupakan hasil dari sebuah perjalanan panjang dalam memaknai apa yang disebut ketulusan. Aku pastikan kita semua akan baik-baik saja. Pada titik paling akhir ini, tinta penaku telah luruh. Saat kumenulis karya terakhir tentang dirimu, aku memutuskan untuk perlahan berhenti mengagumimu.
TJVZ - The Last
04.03.20


