Selasa, 24 Desember 2019

Sixth Anniversary!

Hari ini tanggal 24 Desember 2019, menandakan enam tahun blog saya eksis di dunia maya sejak menerbitkan postingan yang pertama tentang pengenalan diri, yang kemudian hari saya jadikan sebagai hari "kelahiran" blog ini. Terlalu berlebihan? Bagi saya tidak, justru ini sebagai pengingat tahunan agar saya selalu produktif dalam membuat sebuah postingan. Saya kira blog saya tak bisa bertahan sampai sejauh ini, karena sekarang semakin banyaknya media sosial yang lebih asyik dan interaktif daripada ngeblog. 
 
Ambil contoh Instagram, misalnya. Isinya seolah tak pernah lepas dari orang-orang yang “memamerkan” keberhasilannya: soal harta, kecerdasan, jabatan, bisnis, hubungan, atau apapun itu. Lama-lama saya merasa terbebani oleh standar gaya hidup yang ditampilkan di sana. Ada gengsi yang tanpa sadar ditanamkan, ada ekspektasi yang tak tertulis tapi terasa menekan. Saking tidak kuatnya menghadapi itu, akhirnya saya memutuskan menonaktifkan akun pribadi Instagram. Sampai sekarang belum saya aktifkan kembali, dan mungkin jika kebiasaan ini sudah terasa nyaman, bisa saja suatu saat saya benar-benar menghapusnya secara permanen.
 
Untungnya masih ada tempat untuk bercerita yaitu blog. Sebuah ruang sederhana, minim hiruk-pikuk, tapi justru di situlah nilai kenyamanannya. Di sini relatif lebih sederhana yang isinya kebanyakan tulisan. Saya tetap berusaha untuk terus berusaha untuk terus konsisten mengisi blog sunyi ini selagi masa gap year kedua. Di sini, saya bisa bercerita tanpa harus takut dinilai berlebihan atau dibanding-bandingkan dengan orang lain. Blog ini semacam ruang jeda, tempat saya bisa bernapas lebih lega. Konsistensinya memang naik turun. Kadang bisa seminggu sekali menulis, kadang juga hanya sebulan sekali. Semuanya tergantung ada tidaknya ide yang muncul di kepala.
 


Pernah waktu itu pas lagi bulan-bulan pertama menyelami dunia blog, saya lagi buntu banget dalam mencari sesuatu yang dapat ditulis, saya coba buat komitmen tegas pada diri sendiri yaitu, setiap bulan minimal satu tulisan bisa dikeluarkan. Tidak banyak, tapi cukup untuk menyalakan api kecil agar tidak padam. Ternyata, komitmen itu cukup berhasil membawa saya sampai sejauh ini. Awalnya hanya artikel yang menarik untuk disebarkan. Lama-kelamaan saya buat sendiri tulisan dari ide-ide yang muncul, gagasan tentang suatu hal, atau konsep-konsep asal yang terlintas di kepala. Dari sana, saya jadi terbiasa menuliskannya dan merasa ada kepuasan tersendiri. Menulis di blog bukan hanya sekadar mengisi waktu, melainkan sudah menjadi kebiasaan yang menyenangkan. Selain itu, saya makin giat menulis blog karena sebagai tempat untuk “mendokumentasikan”  pengalaman apa saja yang pernah saya lakukan dan rasakan selama hidup. Karena makin kesini makin banyak peristiwa penting yang menerjang hidup saya.
 
Bagi saya.. menulis blog itu awalnya seperti menulis catatan harian, ditulis hanya untuk diri sendiri. Karena saya pikir nama aslinya juga WEBLOG, website log, blog. ya maka sekedar catatan harian aja. Dari menulis di blog ini, saya jadi punya kenangan bahwa saya pernah melakukan hal tersebut. Sampai akhirnya, saya berpikir akan sesuatu yang lebih penting dari sekadar mengabadikan sebuah momen, yaitu.. menulis di blog itu bagaikan saya melatih cara berpikir saya. Karena kata kebanyakan orang bilang, jika ingin melatih cara berpikir yang lebih terstruktur, mulailah dengan menulis sesuatu yang terstruktur. Menulis di blog memang saya gunakan sebagai proses latihan saya untuk berpikir lebih terstruktur. Karena saya kalo udah mikir kan jadi liar dan bisa melebar kemana-mana. Jadinya harus diikat dengan tulisan. Kurang lebih seperti itu manfaatnya untuk saya. 
 
Yak, mungkin itu saja yang bisa saya bagikan pada momen enam tahun blog ini. Terima kasih sudah membaca sampai habis, dan terima kasih juga sudah ikut menjadi bagian dari perjalanan kecil ini, entah sebagai pembaca setia atau sekadar singgah sebentar. Semoga saya bisa terus menjaga konsistensi ini, walau sederhana, tapi tetap berarti. 


Cukup Sekian. 


Selamat malam! 
Read More

Rabu, 06 November 2019

Idealisme vs Realita: Mengenal Diri Lewat Kegagalan

Saya tidak tahu harus bagaimana membuat pembuka yang tepat untuk postingan kali ini, tapi yang jelas saya membuat tulisan kali ini sebagai bentuk refleksi diri akan banyak hal yang terjadi setelah saya lulus sekolah. Jujur aja, saya seringkali terlalu idealis dalam menentukan sesuatu. Termasuk soal masa depan. Dulu saya pernah berpikir, "kalau kuliah, harus di kampus negeri ternama, jurusan yang keren, dan nantinya kerja di tempat yang bergengsi." Saya ingin membuktikan kepada dunia bahwa anak SMK seperti saya bisa kuliah di kampus negeri. Tapi realita ternyata nggak sesimpel itu. Kadang, hidup memaksa saya untuk membuka mata lebih lebar, dan memaksa saya untuk bertanya lagi, "Inikah sebenarnya mimpi yang ingin saya raih? atau jangan-jangan ini mimpi yang ditanamkan orang lain?" 


Masih teringat jelas di otak, saya dua kali ikut SBMPTN. Dua-duanya gagal. Rasanya seperti disadarkan dengan cara yang keras bahwa semangat aja nggak cukup, dan idealisme nggak menjamin keberhasilan. Saya sadar saya terlalu menutup mata dari realita, saya terlalu terpesona pada gengsi dan label, tanpa benar-benar mengenali kemampuan dan kesiapan diri. Kadang saya merasa lucu juga kalau mengingat-ngingat masa ambisius. Saya yang dulu idealisnya kelewat langit. Pokoknya harus kampus A, jurusan B, biar keren dan dipandang. Tapi di sisi lain, saya nggak benar-benar paham tentang dunia yang saya incar. Saya terlalu sibuk bermimpi, tapi lupa mempersiapkan diri. Ujungnya? Gagal dua kali. Mental drop dua kali. Lalu merasa hidup saya sia-sia.

Dan di momen-momen sunyi saat mencoba mengurai benang kusut itu, saya teringat satu hal penting. Saya nggak mau mengulangi kesalahan saya di SMK dulu, waktu saya bisa dibilang 'salah jurusan' karena nggak benar-benar tahu isi pelajaran dan tingkat kesulitannya waktu itu. Saya masuk SMK karena ikut arus, bukan karena tahu apa yang saya mau. Diiming-imingi gampang dapat kerja saya nurut aja. Hasilnya ya gitu, banyak kelimpungan, nggak cocok, dan bikin saya makin ragu sama kemampuan diri sendiri. 

Sekarang, kalau harus memilih lagi, apalagi di tingkat universitas yang bebannya pasti lebih berat, saya nggak bisa asal pilih. Saya nggak mau main-main. Saya harus benar-benar yakin dan ngerti kenapa saya milih itu. Karena satu keputusan bisa berdampak ke banyak hal ke depan. Maka dari itu saya banyak belajar juga dari pengalaman orang lain. Saya kembali main Twitter, saya sering mantengin akun-akun studytweet yang sering bahas soal persiapan kuliah, tips belajar, dan juga perspektif hidup. Dari sana saya mulai paham bahwa idealisme itu bagus, tapi tanpa realisme, saya bisa kehabisan tenaga di tengah jalan. Banyak juga yang cerita bahwa mereka pun harus mengubah rencana hidup karena realita yang nggak bisa ditawar. Tapi bukan berarti mereka gagal. Justru dari sanalah mereka menemukan cara baru yang lebih cocok dengan diri mereka.


Dalam sebuah wawancara, mendiang psikolog Albert Ellis, Ph.D., pernah bilang bahwa idealisme cenderung datang dari keinginan untuk menggapai versi terbaik dari hidup, sementara realisme adalah seni berdamai dengan kondisi sekarang dan mencari cara agar tetap bisa bertumbuh. Dua-duanya penting. Tapi yang berbahaya adalah saat kita terjebak di salah satunya secara ekstrem. Saya rasa saya pernah ada di titik itu, terjebak di ekstrem idealisme. Waktu itu, saya memegang keyakinan kaku (rigid belief) yang dalam teori Ellis disebut sebagai "musturbation". Istilah ini adalah keyakinan seseorang bahwa mereka harus selalu memenuhi standar yang sangat tinggi atau perfeksionis supaya bisa merasa berhasil, diterima, atau nyaman. Masalahnya, cara berpikir seperti ini sering bikin orang tertekan. Misalnya yang telah terjadi di saya yaitu saya pernah berada di masa ambisius. Saya maunya kampus A dan harus tetap A, bukan B ataupun C. Tidak peduli apa kata orang lain. Tidak peduli masukan teman-teman. Tidak peduli nasihat orang tua. Pokoknya harus masuk kampus A titik.

Di dalam pikiran saya saat itu, seolah-olah hanya ada satu jalan menuju kesuksesan dan kebahagiaan. Seandainya gagal mencapainya, berarti saya adalah orang yang gagal. Pola pikir ini mencerminkan tiga tuntutan irasional yang sering digambarkan Ellis:

  1. "Saya HARUS berhasil!" → sehingga kegagalan terasa seperti akhir segalanya.
  2. "Orang lain HARUS mendukung saya!" → sehingga ketika orang tua atau teman memberi saran yang berbeda, saya menganggapnya sebagai penghalang.
  3. "Dunia ini HARUS-nya adil dan mudah!" → sehingga ketika prosesnya sulit, saya merasa dunia sedang tidak berpihak.

Padahal, menurut mendiang Albert Ellis, bukan keinginan untuk sukses yang salah, melainkan cara kita untuk menuntutnya. Keinginan adalah hal yang sehat, tapi ketika berubah menjadi keharusan mutlak, itulah sumber penderitaan. Saya tidak menyadari bahwa yang saya perlukan saat itu adalah realisme yang fleksibel. Ini berarti bukan menyerah pada impiannya, tapi menerima bahwa hidup tidak selalu linear. Pola pikir inilah yang perlu dipahami, kita semestinya mengganti kata "harus" menjadi "lebih baik" atau "ingin". Misalnya:

Dari "Saya HARUS masuk kampus A!" menjadi "Saya SANGAT INGIN masuk kampus A, dan akan berusaha semaksimal mungkin. Tapi jika tidak berhasil, bukan berarti dunia berakhir. Masih banyak jalan lain yang bisa saya coba."

Belakangan ini pada akhirnya saya sadar, idealisme tanpa realisme bisa berubah menjadi perangkap mental. Sebaliknya, realisme tanpa idealisme pun bisa kehilangan visi. Mendiang Albert Ellis menawarkan jalan tengah yaitu berjuang untuk yang terbaik, tetapi juga bersiap menghadapi yang terburuk dan menerima diri sepenuhnya, apa pun hasilnya. Pelajaran terbesar yang saya ambil dari teori dan artikel mengenai idealisme dan realisme dalam menggapai impian adalah kita boleh memimpikan hal-hal besar, tapi jangan sampai kita menjadi budak dari impian kita sendiri.


Sekarang saya belajar untuk pelan-pelan menyeimbangkannya. Kalau saya masih mau mengejar kampus impian, saya tahu itu butuh usaha ekstra. Bukan sekadar karena 'keinginan buta', tapi karena saya paham apa konsekuensinya. Dan kalau pun nanti saya harus melepas impian itu, saya juga ingin bisa berdamai tanpa merasa jadi pecundang. Jadi ya, mungkin idealisme saya dulu tak terarah dan terlalu mentah. Sangat ngotot dan percaya diri tanpa melihat medan. Tapi saya juga gak pernah menyesal pernah ngejar mimpi setinggi itu. Justru karena saya jatuh, saya jadi mengerti bahwa dunia ini bukan hanya tentang siapa yang cepat berhasil, tapi juga siapa yang bisa bertahan dan belajar dari setiap luka. 

Sekarang, saya masih belum kuliah, masih di jalur yang belum pasti. Tapi saya nggak lagi malu bilang saya masih punya mimpi. Bedanya, sekarang saya belajar melangkah pelan, lebih sadar arah, dan nggak takut kalau nanti harus berhenti lagi atau istirahat sebentar. Gap year tahun kedua ini jadi ruang sunyi yang pelan-pelan menyembuhkan diri. Mungkin saya masih idealis, tapi kali ini saya nggak sendiri. Ada versi diri saya yang lebih dewasa, lebih sabar, dan lebih tahu cara menyeimbangkan angan dengan kenyataan. Dan kalau kalian juga lagi di titik bingung, entah karena gagal, atau takut melangkah, percayalah bukan cuma kalian. Kita semua sedang belajar jalan, dengan luka masing-masing, dengan caranya masing-masing. Pelan-pelan aja, yang penting masih hidup, masih belajar, dan masih mau berharap. Itu udah keren. 


Semangat!





Read More

Selasa, 29 Oktober 2019

Pertemuan pertama dengan MRT Jakarta, rasanya...

Ada kalanya sebuah perjalanan sederhana bisa berubah menjadi cerita yang berkesan. Bukan tentang pergi jauh atau liburan mewah ke negeri orang, tapi tentang langkah kecil yang memberikan pengalaman baru di ibu kota. Kemarin, pada hari minggu tanggal 27 Oktober, saya bersama abang dan adik saya memutuskan untuk pergi ke Jakarta. Tujuan kami tidak muluk-muluk yaitu mencoba MRT Jakarta untuk pertama kalinya. Moda transportasi yang baru saja diresmikan Maret lalu itu sudah ramai dibicarakan orang, dan kami penasaran ingin merasakannya sendiri.

Perjalanan kami dimulai cukup pagi. Sekitar pukul setengah tujuh, kami berangkat dari rumah menuju stasiun Metland Telaga Murni. Sebenarnya ada pilihan untuk langsung menggunakan bus atau transportasi online menuju pusat kota, tapi saya ingin merasakan bagaimana rasanya berpindah dari satu moda transportasi ke moda lainnya. Jadi kami memutuskan untuk memulai dengan KRL Commuter Line. Selain lebih terjangkau, ada sensasi tersendiri menaiki kereta dari Bekasi, melihat perlahan-lahan pemandangan berganti dari rumah-rumah sederhana hingga gedung-gedung perkotaan.

Suasana pagi itu masih belum terlalu padat, sehingga ketika kereta datang, saya bisa duduk dengan nyaman. Di dalam kereta, saya memperhatikan sekeliling. Ada para pekerja dengan wajah yang masih sedikit mengantuk, ada keluarga yang tampak ingin berekreasi ke pusat kota, ada pula pemuda pemudi yang sibuk menatap layar ponsel mereka. Sementara itu, saya justru sibuk memperhatikan jendela. Dari balik kaca, pemandangan bergulir cepat mulai dari pepohonan, jalan raya, rumah-rumah, hingga perlahan berganti menjadi gedung-gedung tinggi yang mulai menampakkan dirinya. Saya teringat, betapa berbedanya Jakarta dengan kota asal saya tinggal. Jakarta tampak seperti dunia lain yang bergerak terlalu cepat, sementara saya hanya seorang penumpang yang mencoba menyesuaikan diri dengan arus utama. 

Sekitar satu jam kemudian, kami transit di stasiun Manggarai untuk lanjut naik KRL yang menuju ke stasiun Sudirman. Sekitar 15 menit kemudian kami akhirnya tiba di Stasiun Sudirman. Pukul 08.32, catatan waktu itu masih saya ingat jelas karena menjadi penanda momen penting. Kami keluar stasiun, dan sebelum melanjutkan perjalanan, sempat berfoto-foto di terowongan Kendal. Terowongan itu rupanya sudah ditata begitu rapi, dengan mural-mural menarik yang membuat suasana tidak sekadar jalan penghubung biasa. Ada perasaan bahwa Jakarta sedang berusaha tampil lebih ramah, lebih indah, walau tetap ramai dan riuh.


Dari terowongan Kendal, kami berjalan menuju pintu masuk MRT Dukuh Atas. Pintu masuknya besar dan modern, dengan desain arsitektur yang menurut saya cukup elegan. Saat melangkah menuruni tangga, saya merasa sedikit kagum. Ada sesuatu yang berbeda, seperti masuk ke dunia lain yang lebih rapi, teratur, dan futuristik. Begitu masuk ke dalam, hawa sejuk dari AC langsung menyambut. Kesan yang diberikan nyaman sekali, seakan-akan saya sedang berada di luar negeri. Rasanya seperti membuka lembaran baru, seolah-olah Jakarta yang biasa saya lihat hanya dari kejauhan kini menawarkan wajah yang berbeda.


Kami membeli tiket berupa kartu MRT, lalu turun lagi ke peron. Sambil menunggu kereta datang, kami berfoto-foto. Tentu, momen pertama ini tidak boleh terlewatkan. Saat kereta tiba, saya perhatikan gerbongnya bersih, modern, dan terawat. Tidak terlalu ramai pagi itu, sehingga kami bisa memilih tempat duduk. Begitu MRT mulai berjalan, saya benar-benar bisa merasakan perbedaan. Gerakannya halus, nyaris tanpa suara, berbeda dengan KRL yang lebih bising. Dari balik kaca, saya menyaksikan jalanan Jakarta yang padat oleh kendaraan, gedung-gedung modern yang menjulang, dan struktur lintasan MRT yang berdiri di tengah-tengah jalan raya. Rasanya luar biasa, kota ini benar-benar punya wajah baru.



Perjalanan pertama kami berakhir di Stasiun Lebak Bulus. Kami sengaja memilih stasiun ini karena ingin melihat langsung Depo MRT. Dari sana, terlihat deretan kereta yang tersusun rapi. Lagi-lagi, kami berfoto untuk mengabadikan momen. Ada kebanggaan tersendiri bisa berada di sana, meski hanya sebagai pengunjung biasa. Setelah puas, kami mulai merasakan lapar. Tujuan berikutnya sudah kami sepakati yaitu Blok M dengan kawasan yang terkenal dengan kulinernya.





Kami kembali naik MRT dan turun di Stasiun Blok M. Begitu sampai, suasana langsung berubah. Blok M terasa lebih hidup, dengan orang-orang berlalu lalang dan berbagai aroma makanan yang menggoda. Kami berjalan berkeliling, sempat bingung harus makan apa, hingga akhirnya kami memutuskan untuk makan di restoran D’Cost di dalam Blok M Square. Makanan nusantara sangat mengenyangkan. Rasanya lega ketika perut terisi dengan baik, setelah sejak pagi hanya ditemani semangat dan rasa penasaran.

Namun ternyata hari masih panjang. Matahari baru berada di tengah, dan kami bertiga belum ingin pulang. Setelah diskusi kecil, kami memutuskan menonton film di bioskop XXI Blok M Square. Saya dan adik menonton film drama “Bebas”, sementara abang memilih film horor “Perempuan Tanah Jahanam”. Keputusan yang sederhana, tapi menyenangkan. Rasanya seperti perjalanan kecil ini berubah menjadi liburan singkat, padahal hanya sehari.


Waktu berlalu cepat. Tahu-tahu sudah sore, dan kami sadar harus segera pulang agar tidak terlalu malam di perjalanan. Perjalanan kembali ke rumah dengan MRT dan KRL menjadi penutup dari hari yang penuh pengalaman pertama. Suasana sore hari terasa padat dengan penumpang, kami bahkan sampai tidak kebagian duduk. Akhirnya kami berdiri sampai stasiun pemberhentian terakhir. Selama perjalanan pulang saya menghayati apa yang telah dilalui seharian itu sambil merenung. Rasanya menyenangkan sekaligus menenangkan, bahwa saya bisa mencoba sesuatu yang baru bersama keluarga. Ada rasa syukur yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Perjalanan kemarin lebih dari sekadar menjajal transportasi baru, hari itu membuat saya melihat Jakarta dari sisi yang berbeda. Saya bisa merasakan denyut nadi keramaian Kota ini, dari hiruk-pikuk KRL, mural penuh warna di terowongan Kendal, hingga modernitas MRT yang menjadi simbol baru. Jakarta bukan hanya tentang kemacetan, panas, dan kebisingan. Ada juga upaya membangun, berbenah, dan memberikan harapan baru bagi warganya.

Bagi saya pribadi, pengalaman ini lebih dari sekadar jalan-jalan biasa. Ada makna unik di baliknya. Saya belajar bahwa mencoba sesuatu yang baru tidak harus selalu jauh atau mahal. Kadang, hal-hal mudah seperti naik MRT untuk pertama kalinya bisa menghadirkan rasa kagum, kebahagiaan, bahkan kebanggaan tersendiri. Saya juga merasa bahwa perjalanan itu mengingatkan saya untuk tidak meremehkan kota sendiri. Jakarta, dengan segala masalahnya, tetap punya sisi yang patut diapresiasi.

Tak teras matahari sudah mulai tenggelam, kami akhirnya sampai di rumah sore hari sekitar jam lima. Badan mungkin sedikit lelah, tapi hati terasa ringan. Semua langkah yang telah kami jalani sejak pagi, dari Bekasi hingga Lebak Bulus, dari Blok M hingga kembali lagi ke rumah, menjadi cerita yang lengkap. Saya merasa bahwa hari itu berhasil mempertemukan banyak hal yaitu kebersamaan, pengetahuan baru, dan juga pengalaman yang layak diingat. 

Secara keseluruhan, perjalanan pertama dengan MRT Jakarta adalah cerita kecil yang layak dikenang, sebuah potongan sejarah pribadi yang suatu hari nanti mungkin akan saya ceritakan lagi. Bahwa pada tanggal 27 Oktober itu, saya, abang, dan adik, bersama-sama menjejakkan langkah moda transportasi baru di Jakarta, ikut merasakan denyut modernitas, dan menyimpan kenangan yang tak akan habis oleh waktu. Saya bisa melihat Jakarta dari perspektif baru, bukan hanya sebagai kota yang padat dan melelahkan, tapi juga sebagai tempat yang sedang terus tumbuh dan berubah. 
Read More