Saya tidak tahu harus bagaimana membuat pembuka yang tepat untuk postingan kali ini, tapi yang jelas saya membuat tulisan kali ini sebagai bentuk refleksi diri akan banyak hal yang terjadi setelah saya lulus sekolah. Jujur aja, saya seringkali terlalu idealis dalam menentukan sesuatu. Termasuk soal masa depan. Dulu saya pernah berpikir, "kalau kuliah, harus di kampus negeri ternama, jurusan yang keren, dan nantinya kerja di tempat yang bergengsi." Saya ingin membuktikan kepada dunia bahwa anak SMK seperti saya bisa kuliah di kampus negeri. Tapi realita ternyata nggak sesimpel itu. Kadang, hidup memaksa saya untuk membuka mata lebih lebar, dan memaksa saya untuk bertanya lagi, "Inikah sebenarnya mimpi yang ingin saya raih? atau jangan-jangan ini mimpi yang ditanamkan orang lain?"
Masih teringat jelas di otak, saya dua kali ikut SBMPTN. Dua-duanya gagal. Rasanya seperti disadarkan dengan cara yang keras bahwa semangat aja nggak cukup, dan idealisme nggak menjamin keberhasilan. Saya sadar saya terlalu menutup mata dari realita, saya terlalu terpesona pada gengsi dan label, tanpa benar-benar mengenali kemampuan dan kesiapan diri. Kadang saya merasa lucu juga kalau mengingat-ngingat masa ambisius. Saya yang dulu idealisnya kelewat langit. Pokoknya harus kampus A, jurusan B, biar keren dan dipandang. Tapi di sisi lain, saya nggak benar-benar paham tentang dunia yang saya incar. Saya terlalu sibuk bermimpi, tapi lupa mempersiapkan diri. Ujungnya? Gagal dua kali. Mental drop dua kali. Lalu merasa hidup saya sia-sia.
Dan di momen-momen sunyi saat mencoba mengurai benang kusut itu, saya teringat satu hal penting. Saya nggak mau mengulangi kesalahan saya di SMK dulu, waktu saya bisa dibilang 'salah jurusan' karena nggak benar-benar tahu isi pelajaran dan tingkat kesulitannya waktu itu. Saya masuk SMK karena ikut arus, bukan karena tahu apa yang saya mau. Diiming-imingi gampang dapat kerja saya nurut aja. Hasilnya ya gitu, banyak kelimpungan, nggak cocok, dan bikin saya makin ragu sama kemampuan diri sendiri.
Sekarang, kalau harus memilih lagi, apalagi di tingkat universitas yang bebannya pasti lebih berat, saya nggak bisa asal pilih. Saya nggak mau main-main. Saya harus benar-benar yakin dan ngerti kenapa saya milih itu. Karena satu keputusan bisa berdampak ke banyak hal ke depan. Maka dari itu saya banyak belajar juga dari pengalaman orang lain. Saya kembali main Twitter, saya sering mantengin akun-akun studytweet yang sering bahas soal persiapan kuliah, tips belajar, dan juga perspektif hidup. Dari sana saya mulai paham bahwa idealisme itu bagus, tapi tanpa realisme, saya bisa kehabisan tenaga di tengah jalan. Banyak juga yang cerita bahwa mereka pun harus mengubah rencana hidup karena realita yang nggak bisa ditawar. Tapi bukan berarti mereka gagal. Justru dari sanalah mereka menemukan cara baru yang lebih cocok dengan diri mereka.
Dalam sebuah wawancara, mendiang psikolog Albert Ellis, Ph.D., pernah bilang bahwa idealisme cenderung datang dari keinginan untuk menggapai versi terbaik dari hidup, sementara realisme adalah seni berdamai dengan kondisi sekarang dan mencari cara agar tetap bisa bertumbuh. Dua-duanya penting. Tapi yang berbahaya adalah saat kita terjebak di salah satunya secara ekstrem. Saya rasa saya pernah ada di titik itu, terjebak di ekstrem idealisme. Waktu itu, saya memegang keyakinan kaku (rigid belief) yang dalam teori Ellis disebut sebagai "musturbation". Istilah ini adalah keyakinan seseorang bahwa mereka harus selalu memenuhi standar yang sangat tinggi atau perfeksionis supaya bisa merasa berhasil, diterima, atau nyaman. Masalahnya, cara berpikir seperti ini sering bikin orang tertekan. Misalnya yang telah terjadi di saya yaitu saya pernah berada di masa ambisius. Saya maunya kampus A dan harus tetap A, bukan B ataupun C. Tidak peduli apa kata orang lain. Tidak peduli masukan teman-teman. Tidak peduli nasihat orang tua. Pokoknya harus masuk kampus A titik.
Di dalam pikiran saya saat itu, seolah-olah hanya ada satu jalan menuju kesuksesan dan kebahagiaan. Seandainya gagal mencapainya, berarti saya adalah orang yang gagal. Pola pikir ini mencerminkan tiga tuntutan irasional yang sering digambarkan Ellis:
- "Saya HARUS berhasil!" → sehingga kegagalan terasa seperti akhir segalanya.
- "Orang lain HARUS mendukung saya!" → sehingga ketika orang tua atau teman memberi saran yang berbeda, saya menganggapnya sebagai penghalang.
- "Dunia ini HARUS-nya adil dan mudah!" → sehingga ketika prosesnya sulit, saya merasa dunia sedang tidak berpihak.
Padahal, menurut mendiang Albert Ellis, bukan keinginan untuk sukses yang salah, melainkan cara kita untuk menuntutnya. Keinginan adalah hal yang sehat, tapi ketika berubah menjadi keharusan mutlak, itulah sumber penderitaan. Saya tidak menyadari bahwa yang saya perlukan saat itu adalah realisme yang fleksibel. Ini berarti bukan menyerah pada impiannya, tapi menerima bahwa hidup tidak selalu linear. Pola pikir inilah yang perlu dipahami, kita semestinya mengganti kata "harus" menjadi "lebih baik" atau "ingin". Misalnya:
Dari "Saya HARUS masuk kampus A!" menjadi "Saya SANGAT INGIN masuk kampus A, dan akan berusaha semaksimal mungkin. Tapi jika tidak berhasil, bukan berarti dunia berakhir. Masih banyak jalan lain yang bisa saya coba."
Belakangan ini pada akhirnya saya sadar, idealisme tanpa realisme bisa berubah menjadi perangkap mental. Sebaliknya, realisme tanpa idealisme pun bisa kehilangan visi. Mendiang Albert Ellis menawarkan jalan tengah yaitu berjuang untuk yang terbaik, tetapi juga bersiap menghadapi yang terburuk dan menerima diri sepenuhnya, apa pun hasilnya. Pelajaran terbesar yang saya ambil dari teori dan artikel mengenai idealisme dan realisme dalam menggapai impian adalah kita boleh memimpikan hal-hal besar, tapi jangan sampai kita menjadi budak dari impian kita sendiri.
Sekarang saya belajar untuk pelan-pelan menyeimbangkannya. Kalau saya masih mau mengejar kampus impian, saya tahu itu butuh usaha ekstra. Bukan sekadar karena 'keinginan buta', tapi karena saya paham apa konsekuensinya. Dan kalau pun nanti saya harus melepas impian itu, saya juga ingin bisa berdamai tanpa merasa jadi pecundang. Jadi ya, mungkin idealisme saya dulu tak terarah dan terlalu mentah. Sangat ngotot dan percaya diri tanpa melihat medan. Tapi saya juga gak pernah menyesal pernah ngejar mimpi setinggi itu. Justru karena saya jatuh, saya jadi mengerti bahwa dunia ini bukan hanya tentang siapa yang cepat berhasil, tapi juga siapa yang bisa bertahan dan belajar dari setiap luka.
Sekarang, saya masih belum kuliah, masih di jalur yang belum pasti. Tapi saya nggak lagi malu bilang saya masih punya mimpi. Bedanya, sekarang saya belajar melangkah pelan, lebih sadar arah, dan nggak takut kalau nanti harus berhenti lagi atau istirahat sebentar. Gap year tahun kedua ini jadi ruang sunyi yang pelan-pelan menyembuhkan diri. Mungkin saya masih idealis, tapi kali ini saya nggak sendiri. Ada versi diri saya yang lebih dewasa, lebih sabar, dan lebih tahu cara menyeimbangkan angan dengan kenyataan. Dan kalau kalian juga lagi di titik bingung, entah karena gagal, atau takut melangkah, percayalah bukan cuma kalian. Kita semua sedang belajar jalan, dengan luka masing-masing, dengan caranya masing-masing. Pelan-pelan aja, yang penting masih hidup, masih belajar, dan masih mau berharap. Itu udah keren.
Semangat!











