Kamis, 10 Oktober 2019

Memahami Takdir dan Rasa Syukur

Setiap orang punya beban yang selalu dipikul. Mau berat atau ringan, semua bergantung pada bagaimana kita menjalaninya. Bersyukur adalah salah satu cara agar beban itu terasa lebih ringan, karena dengan bersyukur kita diingatkan bahwa nikmat Tuhan ternyata jauh lebih besar daripada beban yang kita pikul.

Pernah suatu ketika, melihat anaknya yang selalu terlihat murung seakan tak ada semangat menjalani hari, bapak saya memanggil saya untuk ngopi bareng. Tanpa disangka, beliau memberikan beberapa wejangan. Wah… ini dia momen yang saya tunggu-tunggu. Sebuah nasihat yang rasanya seperti air di tengah dahaga, penguat untuk menapaki masa depan yang masih menjadi misteri.

Beliau bertanya kenapa saya selalu tampak tak bersemangat. Seperti kehilangan arah. Lalu saya ceritakan beberapa hal yang selama ini memenuhi kepala saya. Sampai akhirnya pembicaraan kami sampai pada soal rasa syukur.

Kata beliau, “Orang beruntung itu adalah orang yang pandai bersyukur.”

Saya pun bertanya,
“Jadi orang yang selalu bersyukur itu pasti beruntung?”

Bapak tersenyum kecil, lalu menjawab,
“Tergantung kacamatanya. Atau perspektif lah istilahnya. Karena perspektif itu penting. Walau banyak orang yang melihat sesuatu itu tidak baik, kita harus mencari alasan untuk membuktikan kebenaran yang sesungguhnya. Yaitu kebenaran Tuhan.

Kalau dilihat dari kacamata agama, yaa… orang yang selalu bersyukur itu insyaAllah selalu beruntung. Dalam artian bahwa dia benar-benar dicukupkan rezekinya. Gimana caranya supaya bisa bersyukur? Jangan terlalu sering melihat ke atas, nanti jatuh. Lihatlah ke bawah, supaya kita sadar betapa beruntungnya kita.”

Saya terdiam mendengarnya. Penjelasan itu begitu sederhana tapi menampar. Saya lalu bertanya lagi,
“Jadi takdir itu harus dicari atau diterima?”

Bapak menjawab, “Takdir itu perlu dicari, tapi dalam pencariannya ada hal-hal yang harus diterima. Dan dibuktikan kebenarannya.”

Sejak saat itu saya semakin penasaran tentang takdir. Takdir adalah keputusan Tuhan yang tidak dapat ditolak oleh manusia. Tidak ada satu pun makhluk yang bisa mengubahnya. Namun, apakah itu berarti kita tidak boleh mengupayakan takdir baik dalam hidup kita?


Dalam perenungan itu, saya juga teringat akan konsep qodho dan qodar. Qodho adalah ketetapan Allah yang sudah pasti terjadi, sementara qodar adalah ukuran atau jalan yang kita lalui hingga ketetapan itu terwujud. Qodho ibarat tujuan akhir, sementara qodar adalah langkah-langkah yang harus ditempuh.

Bapak melanjutkan, “Manusia itu berjalan di atas qodar yang sudah ditentukan, tapi setiap langkahnya tetap diberi pilihan. Tugas kita bukan melawan takdir, tapi menjemputnya dengan ikhtiar.”

Dari situlah saya mengerti, menerima takdir bukan berarti menyerah tanpa usaha. Justru setiap ikhtiar yang kita lakukan adalah bagian dari qodar yang Allah atur, hingga akhirnya bermuara pada qodho-Nya. Bersyukur pun bukan sekadar reaksi setelah menerima hasil. Ia adalah cara kita merangkul qodar yang sedang berjalan—percaya bahwa setiap kesulitan dan kemudahan adalah bagian dari rancangan Tuhan yang sempurna.

Ketika memikirkan hal itu, saya pun menoleh pada diri saya sendiri. Sudah dua kali gagal masuk kuliah. Saya belum jadi apa-apa, bahkan terkadang merasa tertinggal jauh dibandingkan teman-teman lain yang sudah melangkah lebih dulu. Tapi, jika saya lihat dari kacamata yang bapak ajarkan, mungkin inilah bagian dari qodar saya. Bukan untuk membuat saya merasa kalah, tetapi untuk mengajarkan bahwa setiap perjalanan punya waktunya sendiri.

Saya mulai sadar, penerimaan terhadap takdir bukan berarti berhenti mencoba. Penerimaan justru membuat langkah kita lebih ringan, karena kita tidak lagi menolak kenyataan. Kita berusaha, kita jatuh, kita bangkit lagi—dan di setiap proses itu, kita sedang berjalan di atas qodar yang mengantarkan kita pada qodho yang terbaik.

Bersyukur dalam keadaan seperti ini tidak mudah, tapi justru di sinilah letak nilainya. Bersyukur bukan hanya untuk mereka yang sedang berada di puncak, tapi juga untuk mereka yang masih berjuang di lembah. Mungkin saya belum mencapai mimpi saya, belum mendapatkan apa yang saya inginkan, tapi saya masih diberi kesempatan untuk hidup, untuk mencoba lagi, untuk menata ulang mimpi yang sempat runtuh. Dan hal itu sendiri adalah sebuah nikmat.

Menurut saya, maksud dari perkataan bapak “Orang beruntung itu adalah orang yang pandai bersyukur” adalah bahwa keberuntungan bukanlah sekadar kebetulan. Ia juga lahir dari sikap seseorang dalam menjalani hidup. Orang yang pandai bersyukur mampu menghargai segala hal, baik ataupun buruk. Mereka bisa melihat keberuntungan yang sering tersembunyi di balik kesulitan. 


Dengan bersyukur, kita belajar memandang hidup dengan kacamata yang berbeda. Kita tidak lagi terlalu takut pada masa depan atau menyesali masa lalu, karena kita tahu semua yang terjadi adalah bagian dari qodar yang mengantarkan kita pada qodho. Pada akhirnya, saya pun tersadar, sekeras apa pun keinginan saya untuk memutar waktu, itu semua tidak akan berguna. Nyatanya itu hanya lamunan yang tak akan mengubah apa pun dalam hidup saya. Bahkan hanya akan menyeret saya pada penyesalan yang lebih dalam. 

Kita semua sedang berjalan di jalan yang berbeda-beda. Ada yang cepat, ada yang lambat. Ada yang sudah berada jauh di depan, ada yang masih mencari pijakan pertama. Tapi lambat bukan berarti kalah, dan tertunda bukan berarti gagal. Karena qodho dan qodar bukan tentang siapa yang lebih cepat sampai, tapi siapa yang tetap berjalan meski langkahnya tertatih. Tuhan tidak menilai kita dari hasil yang tampak di mata manusia, melainkan dari kejujuran hati kita dalam menapaki jalan yang sudah Ia ukur.

Mungkin hari ini saya belum diterima kuliah. Mungkin saya belum belum bisa jadi sesuatu yang bisa dibanggakan. Mungkin saya belum menjadi siapa-siapa. Tapi saya percaya, ini semua bagian dari perjalanan yang Allah pilihkan. Ada alasan di balik setiap keterlambatan, ada makna di balik setiap penantian. Dan jika saya terus bersyukur, mungkin kelak saya akan melihat bahwa semua ini bukanlah kemunduran, melainkan cara Tuhan mempersiapkan saya.

Jadi, untuk diri saya sendiri—dan siapa pun yang membaca tulisan ini—ingatlah bahwa takdir bukan untuk dilawan, melainkan untuk dijemput dengan ikhtiar. Syukurilah apa yang ada, terimalah apa yang belum kesampaian, dan percayalah pada Allah SWT yang menulis cerita ini sejak awal. Karena di balik setiap kesulitan, selalu ada takdir baik yang menunggu untuk diungkap pada waktunya.

"Hidup dan mati ada dalam genggaman Illahi. Takdir adalah kepastian, tapi hidup harus tetap berjalan. Proses kehidupan adalah hakikat, sementara hasil akhir hanyalah syariat. Gusti Allah akan menilai ketulusan perjuangan manusia, bukan hasil akhirnya. Kalaupun harus menjumpai kematian, itu artinya mati syahid di jalan Tuhan."
- Pangeran Diponegoro 

Read More

Minggu, 01 September 2019

Jalan yang Tidak Ramai

Tak terasa sekarang sudah tanggal satu, Agustus kemarin yang terasa cepat atau saya yang terlalu sibuk menghibur diri? Hmm… Walau bagaimanapun, saya hanyalah manusia biasa. Saya butuh yang namanya istirahat dari segala keramaian dunia. Ketika mimpi besar saya tahun ini belum tercapai, rasanya tidur adalah aktivitas yang paling menyenangkan bagi saya. Di dalam tidur saya bisa mimpi menjadi apa saja yang saya inginkan. Mimpi dalam tidur itu bagaikan surga tersembunyi di dunia. Hanya satu cara untuk bisa masuk ke dalamnya yaitu dengan tidur yang khusyuk.

Lama-kelamaan, saya mulai sadar bahwa saya tidak bisa terus-menerus berlindung di balik keheningan. Rasa nyaman dari tidur dan pelarian justru membuat saya makin jauh dari harapan yang pernah saya tanam sendiri. Saya bukan sedang menyerah, hanya sedang mencari waktu yang tepat untuk kembali menyusun langkah. Dan mungkin, sekarang saatnya untuk perlahan-lahan menengok kembali jalan yang sempat saya tinggalkan. Karena di balik keinginan untuk diam, ada suara kecil dalam diri saya yang masih ingin berusaha, meskipun dengan cara yang berbeda.

Saya ingin jujur bahwa satu-satunya hal gak enak saat gap year yaitu… semangat belajar yang gak terlalu tinggi. Rasanya berjuang sendirian itu memang menyedihkan. Saya gak punya support system yang baik dalam proses pembelajaran. Maka dari itu, untuk gap year jilid dua ini, salah satu hal yang ingin saya lakukan yaitu mencari 'teman berjuang' sebanyak-banyaknya yang sejalan dengan saya. Menciptakan suasana yang mendukung proses belajar saya. Gak harus kenal banget sih, cukup mengetahui bahwa ada sejumlah orang yang bersemangat menggapai mimpinya di PTN incarannya masing-masing sudah cukup buat saya. Jadilah saya akhirnya aktif kembali bermain Twitter. Karena hanya di Twitter saya menemukan frekuensi tersebut. Walaupun saya seringnya hanya menjadi silent reader, tapi saya akui cukup membantu saya untuk tetap berproses.

Ada banyak akun studytweet yang saya temukan secara tidak sengaja. Beberapa di antaranya rutin membagikan jadwal belajar, update soal-soal latihan, atau sekadar curhat tentang rasa capek karena terus-menerus mencoba. Anehnya, saya tidak merasa terintimidasi. Justru sebaliknya—saya merasa sedikit hangat. Melihat mereka berjuang dengan gigih, sambil tetap jujur tentang rasa lelah dan cemasnya, membuat saya merasa tidak sendirian. Mereka tidak tahu keberadaan saya, tapi entah kenapa, keberadaan mereka seperti jadi bahan bakar kecil yang menyalakan kembali api yang hampir padam. Dari situ saya sadar, bahwa semangat tidak selalu datang dari dalam diri. Kadang, semangat datang dari melihat orang lain tetap berjalan, meski pelan. Dan itu cukup. Cukup untuk membuat saya bertahan satu hari lagi. Satu minggu lagi. Satu bulan lagi.


Saya rasa, sudah waktunya saya menuliskan isi hati ini secara utuh. Bukan hanya sebagai bentuk pelampiasan, tapi juga sebagai pengingat bahwa keputusan ini bukanlah sesuatu yang saya ambil dengan tergesa-gesa. Ini adalah keputusan besar yang akan sangat memengaruhi hidup saya ke depan. Dan saya ingin jujur dalam menyampaikannya dalam bahasa yang amat sangat sederhana, karena saya tahu betapa dalamnya pergulatan yang saya alami untuk sampai di titik ini.

Setelah pertimbangan yang panjang, saya akhirnya memutuskan untuk mengambil gap year untuk kedua kalinya. Bagi sebagian orang, keputusan ini mungkin terdengar aneh atau bahkan sia-sia. Tapi bagi saya, ini adalah bentuk tanggung jawab pada diri sendiri. Saya tidak ingin hanya sekadar "jalan terus" tanpa benar-benar tahu apa yang sedang saya tuju. Keputusan ini tidak mudah. Saya menghabiskan banyak waktu untuk merenung, mempertimbangkan ulang semua yang telah saya jalani, dan membayangkan segala kemungkinan ke depan. Namun setelah menimbang segalanya, saya merasa gap year kedua ini adalah langkah yang paling jujur dan paling masuk akal untuk saya ambil saat ini.

Fokus saya kali ini bukan lagi sekadar mengejar kampus impian. Lebih dari itu, saya ingin memanfaatkan waktu ini untuk mengenali diri saya lebih dalam, mengeksplorasi minat yang selama ini terabaikan, dan mengembangkan keterampilan yang bisa berguna di masa depan. Saya juga berharap bisa mencoba kegiatan baru seperti menjelajah tempat baru atau menekuni hobi baru, agar dunia saya tak sebatas meja belajar dan hasil try out.

Pengalaman dari gap year pertama memberi saya pelajaran berharga. Bahwa jeda bukan berarti diam dan diam bukan berarti kalah. Justru dari situ saya belajar menjadi lebih sabar, lebih kenal diri sendiri, dan lebih tahu arah. Maka saya percaya, gap year kedua ini bisa jadi ruang tumbuh yang bahkan lebih bermakna dari sebelumnya.

Saya sudah tahu konsekuensi penuhnya, mungkin saya akan terlambat lulus, terlambat masuk dunia kerja, atau bahkan kehilangan momentum. Tapi saya tidak takut. Karena saya yakin, hidup bukan soal cepat-cepat sampai, melainkan soal bagaimana kita bisa bertahan, bertumbuh, dan tetap waras dalam prosesnya.

Jadi inilah saya, dengan keputusan yang mungkin tidak populer, tapi saya merasa ini sangat berarti. Saya tidak meminta pengertian dari semua orang. Tapi saya harap, dengan menuliskannya secara jujur seperti ini, saya bisa lebih berdamai dengan diri sendiri. Dan mungkin, suatu hari nanti saya akan bersyukur karena pernah berani mengambil jalan yang tidak biasa.

Memang saya belum sampai ke mana-mana. Tapi bukan berarti saya diam. Saya sedang belajar menempuh jalan yang tidak ramai, menata ulang arah, dan mendengar suara hati yang selama ini tenggelam dalam hiruk-pikuk dunia. Saya tidak tahu kapan akan sampai, atau apakah saya akan benar-benar sampai tujuan. Tapi saya masih percaya, selama saya tetap jujur pada diri sendiri dan terus melangkah, sekecil apa pun, hidup akan membawa saya ke tempat yang memang seharusnya.
Read More

Sabtu, 24 Agustus 2019

Selanjutnya Apa?

Selamat malam sobat blogger di mana pun kalian berada. Apa kabar kalian semua? Saya harap kondisi kalian sehat selalu. Di bulan agustus ini biasanya adalah bulan dimana banyak kampus yang sedang melaksanakan ospek untuk para mahasiswa baru. Rasa tak nyaman mulai bergejolak dalam diri saya tatkala melihat banyaknya orang yang update status kegembiraannya diterima oleh PTN dan mulai foto-foto di ikon kampus masing-masing. Akhirnya saya memutuskan untuk vakum sementara dari media sosial yang penuh dengan euforia ospek kampus dengan segala keseruannya. Sungguh mengasyikkan sekali nampaknya. 
 
Sementara itu.. Saya.. Seperti yang kalian ketahui, tahun ini saya gagal lolos seleksi penerimaan mahasiswa baru lewat jalur mana pun untuk yang kedua kalinya. Kecewa sudah pasti ada, rasanya seperti jatuh ke lubang yang sama karena saya gagal untuk yang kedua kalinya. Sedih pun hampir tak bisa dibendung, mata saya sempat berkaca-kaca begitu mengetahui bahwa saya gagal lagi. Emosi pun mulai bergejolak kembali. Seketika itu juga otak saya langsung dipenuhi dengan tanda tanya.. 
 
"apa yang salah dengan diriku sehingga aku belum layak untuk dapat diterima oleh PTN?" 
 
"Mengapa aku masih gagal?" 
 
"Apa yang kurang ya?" 
 
"Apa yang harus aku lakukan selanjutnya?" 
 
 
Pertanyaan-pertanyaan itu muncul lagi untuk yang kedua kalinya. Saya mau gak mau harus banyak instrospeksi lagi terkait langkah yang sudah saya lakukan selama ini. Apakah cara saya yang kemarin sudah benar. Harus ada revisi terhadap sistem gap year yang telah saya lalui kemarin. Dari sini, pikiran saya lagi-lagi mulai berjalan dengan cepat. Saya pun membiarkan diri ini tenggelam dalam lautan pertanyaan hebat. Sekitar tiga minggu saya melakukan pergumulan hebat dengan diri sendiri, akhirnya saya sadar bahwa kegagalan adalah satu-satunya teguran dan respon terbaik yang diberikan Tuhan untuk saya. Ini semacam pecutan yang keras untuk diri saya sendiri agar saya terus belajar dan belajar lagi. 
 
Bisa jadi saya gagal karena terlalu pusing memikirkan luka batin yang belum sembuh serta eksistensi diri pasca kelulusan sekolah. Bisa jadi saya gagal karena saya terlalu nyaman dengan ilusi kelonggaran waktu yang ada selama gap year kemarin, hingga teperdaya dan akhirnya malas melakukan apa pun. Situasi-situasi seperti ini lah yang sempat membuat saya tidak banyak belajar dan berlatih lebih giat lagi. Inilah yang ingin saya perbaiki nanti. Saya berniat untuk menambah satu tahun lagi jeda sambil mempersiapkan diri sejak dini untuk pertempuran terakhir kalinya. 
 
Perlahan-lahan saya sudah mulai terbiasa dengan penolakan seperti ini. Karena yang namanya pengalaman gak selalu hal yang indah-indah. Pengalaman bisa berisi tentang hal-hal yang berhasil dicapai atau bisa juga hal-hal yang tidak pernah diharapkan. Seperti kegagalan saya ini. Menerima takdir yang tak sesuai dengan keinginan itu memang berat. Sangat berat! Tujuannya apa? Satu kata. Ikhlas. Ikhlas dengan jalan yang sudah Tuhan tetapkan untuk saya. Ikhlas menerima kenyataan bahwa saya belum berhasil kuliah tahun ini adalah suatu keberanian. 
 
Memang jalan yang saya pilih memang bukanlah jalan yang mudah. Bisa dibilang nekat dan tidak biasa. Di luar kebiasaan orang pada umumnya. Medannya sangat terjal. Peluangnya pun sangatlah kecil. Meskipun ada pilihan lain yang tampaknya lebih mudah, lebih nyaman, lebih enak; terlihat menyenangkan; banyak yang menginginkannya; serta menjadi angan yang sering diidam-idamkan banyak orang. Dengan tujuan akhir yang terlihat tak ada perbedaan satu sama lainnya. Namun saya tak yakin, apakah saya bisa menikmati setiap hal yang ada di dalamnya. Karena ini adalah kuliah, berbeda jauh dengan sekolah yang masih bisa dipaksakan. Saya tak ingin tersiksa lagi hanya gara-gara salah jurusan seperti yang pernah saya rasakan di masa putih abu-abu. 
 
Maka dari itu saya memutuskan untuk memilih jalan ini. Terlihat sangat beresiko, berbahaya, dan penuh tantangan besar. Namun saya harap terjaga nilai-nilai idealisme. Dalam segala proses dan lika-likunya, saya berusaha untuk menikmatinya. Saya selalu percaya bahwa semua pengalaman ini akan menguatkan pribadi saya dan membuat saya tangguh di masa mendatang. Saya akan menjadi lebih kuat dalam menghadapi situasi-situasi sulit yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Karena takdir-Nya tidak pernah salah, Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk saya, sedangkan saya tidak. 
 

Gagal itu hal yang biasa terjadi, bukan aib yang harus ditutupi. Akan menjadi luar biasa ketika kita bisa bangkit dari kegagalan itu. Memang nggak mudah untuk bangkit, saya pun harus jatuh bangun dalam menghadapi situasi-situasi sulit selama proses ini berlangsung. Tapi kita kan butuh kemajuan dalam hidup, kalau kita mau maju, berkembang dan sukses yaa tak ada pilihan selain harus belajar dari yang namanya kegagalan. Kegagalan bisa menjadi pemantik semangat karena sukses adalah sebuah pilihan. Kita bisa memilih kesuksesan macam apa yang kita inginkan. Tentunya dengan perjuangan yang terus berkelanjutan hingga kesuksesan itu bisa diraih. Yaaa terdengar sangat klise memang, tapi itu merupakan kebenaran. Saya jadi teringat kutipan almarhum Pak Sutopo yang sangat menginspirasi. 

 


Intinya, seberapa besar pun usaha ingat Tuhan tetap punya kuasa atas segala sesuatu. Jangan lupa bersyukur dan jangan larut dalam kesedihan karena sejatinya kuliah itu proses menimba ilmu, kualitas kita tergantung seberapa pandai kita mengendalikan diri di titik terendah dalam hidup. Tetap semangat!!!
 
 

Salam hangat, dari saya pejuang SBMPTN yang belum beruntung (lagi).. 
 
 






 
Sekian.
Read More