Rabu, 13 Maret 2019

Penyelamatku

Saat saya menangis, saya sadar bahwa hati ini belum sepenuhnya membatu. Masih ada secercah harapan yang diam-diam menolak padam. Saya masih bisa merasa. Saya belum berubah menjadi robot. Saya... masih manusia. Bangkit dari luka setelah mengalami masa kelam bukanlah perkara mudah. Walau kejadian itu sudah berlalu, sisa-sisa perihnya masih kerap datang—dalam bentuk kesedihan, kehilangan, atau rasa tak percaya pada siapa pun, termasuk diri sendiri. Melangkah di jalan ini sungguh melelahkan. Saya masih bertahan, tapi rasanya nyaris tak sanggup menahan sakitnya. Saya harus memilih apakah terus maju, atau menyerah pada belenggu derita yang selama ini mengikat erat tubuh ini.

Saya sudah mencoba sebisa mungkin mengabaikan semua rasa yang berkecamuk. Jujur saja, saya terbiasa menyimpan semuanya sendiri. Saya jarang bercerita, kecuali jika sudah benar-benar meledak. Karena menurut saya, mereka yang bisa mendengar belum tentu bisa mengerti. Maka banyak hal lebih baik saya simpan rapat-rapat dalam dada. Namun pada suatu hari, ledakan itu tak bisa lagi ditahan. Seperti bom waktu yang meledak dari dalam diri. Energi tubuh saya terkuras habis, hati saya terasa sangat lemas, jiwa saya pun sekan terurai. 

Di tengah kondisi kelelahan seperti itu, Sang Pencipta seperti menjawab doa saya yang paling diam-diam. Saya meminta agar ada jalan keluar dari kemelut masalah yang menimpa saya. Saya memohon agar ada seseorang yang mau benar-benar mendengar saya. Seseorang yang hadir, bukan sekadar bertanya lalu pergi. Nggak yang harus selalu ada, tapi saat genting seperti kemarin bisa menenangkan saya. Dan rupanya, jawabannya datang dalam wujud yang tak kusangka.


Suatu hari, sekitar seminggu setelah peristiwa ledakan yang membuat says terasa runtuh, harapan itu hadir. Jadi saya punya abang yang sudah lebih dahulu kuliah, kami hanya beda satu angkatan, tapi berhubung saya memilih gap year jadi ya hubungan kami cukup berjarak. Pada malam harinya, abang saya pulang seperti biasa dari kampus. Di awal semester seperti saat ini, ia memang sering membeli buku-buku pelajaran kuliah. Ia meletakkan tumpukan buku itu di meja, lalu tanpa banyak bicara, menyodorkan satu buku ke arah saya. Judulnya asing, isinya terlihat berat. Ternyata sebuah buku filosofi. 

"Tadi kebetulan liat buku ini, kayaknya cocok buat anak gap year. Lo baca deh." 

Kurang lebih seperti itu kata-katanya. Saya cuma bisa terdiam. Sejak kapan dia minat buku beginian? Kok bisa-bisanya dia membelikan saya buku yang bahkan judulnya aja bikin saya bingung. Filosofi Teras. Buku macam apa itu. Tapi yaaaa saya tetap mengucapkan terima kasih dan membacanya. Beberapa hari kemudian, saya sudah sampai pertengahan buku. Dan ternyata wow gila! Isinya bagus banget. Sangat menampar dan kayak menancap langsung ke dalam pikiran saya. Buku itu terasa sangat dekat dengan apa yang sedang saya alami. Buku itu membahas sedikit banyak tentang rasa khawatir yang berlebihan, hidup yang stagnan, perasaan kehilangan arah, cara bertahan saat semua terasa sia-sia, cara menghadapi rasa gagal, cara menghadapi hidup yang terasa berat, serta cara menyikapinya. 

Lalu, iseng-iseng saya ajak ngobrol abang saya. Awalnya cuma basa-basi soal pekerjaan rumah, tapi lama-lama nyambung ke mana-mana. Kami jarang banget ngobrol sedalam itu. Dia yang sekarang sibuk kuliah, berangkat pagi, pulang malam, kadang larut. Begitu sampai rumah pun langsung masuk kamar. Saya pun sibuk bantu orang tua. Kami memang hidup serumah, tapi nyaris tak pernah berbincang-bincang.

Pada akhir sesi abang saya bilang kalau saya butuh sesuatu, lebih baik ngomong aja. Jangan dipendam terus. Nada bicaranya tetap datar. Tidak seperti sedang menawarkan bantuan, lebih seperti formalitas. Tapi saya tahu itu bentuk kepeduliannya. Ia tidak terbiasa mengekspresikan perhatian secara langsung, sama seperti saya. Katanya, "kalau lo mau pergi ke mana, atau melakukan apa pun, tinggal bilang saja." Saya hanya menjawab singkat, "tidak ada rencana mau ke mana-mana, tidak tahu juga mau ngapain. Semua terasa kosong." 

Kami terdiam cukup lama. Suara kipas angin jadi latar obrolan yang hambar itu. Lalu saya akhirnya bicara, saya bilang kalau saya capek. Buntu. Gak tahu mau apa. Merasa gagal. Abang saya tidak langsung merespons. Ia malah pergi ke dapur, mengambil air minum, lalu kembali dan duduk. Beberapa saat kemudian, dia hanya berkata singkat, “Ya wajar lah, namanya juga hidup.”

Saya terdiam. Pahit. Lalu saya lanjut, bahwa kadang saya mikir lebih baik menghilang saja. Gak repot. Gak ngerepotin. Dia tetap tidak melihat ke arah saya. Tapi dengan suara lantang, ia bilang, "Jangan lah."

Saya hanya lelah. Pekerjaan makin berat aja tiap hari. Daripada jalan-jalan, mending tidur. Saya gak terlalu suka keluar. Kalau nonton, kan masih bisa download. Main juga bisa dari hp. Dia membalas dengan nada santai, tapi penuh makna, "Nah justru itu, berarti tandanya butuh hiburan yeng nyata. Bukan hanya dari hp. Udah, bilang aja. Mau nonton, ayo. Mau jalan-jalan, ayo. Makan-makan juga ayo. Gaskeun!" 

Tapi dia tak juga menyerah. "Udah gapapa. Kita kan bersaudara. Kayaknya kita memang butuh waktu buat menghibur diri, biar semangat lagi." 

Adik mana yang tak tersentuh mendengar abangnya berkata begitu. Saya jawab, "Oke dah nanti saja pas habis UTBK, kalau Avengers Endgame sudah tayang. Sekarang mau lanjut baca buku lagi." 

Setelah itu saya sadar, saya sudah gak sendiri, dan memang saya tidak pernah sendirian. Bagaimanapun dia adalah abang saya. Abang saya sudah besar. Pengalaman hidupnya lebih banyak dua tahun dari saya. Jadi rasanya seperti ini toh memiliki teman cerita setelah sekian lama hanya bisa cerita dengan diri sendiri. Mungkin saya baru pertama kali merasakan hal seperti ini, padahal kami hidup berdampingan kurang lebih dua puluh tahun. Tapi kenapa baru sekarang benar-benar terasa fungsi saudara kandung yang sebenarnya itu yaa begini, saling menguatkan di saat saya rapuh. 


Saya tak bisa memberi banyak kata untuknya, karena kami sama-sama lelah. Dia dengan kuliahnya, saya dengan pekerjaan saya. Tapi malam itu, kami saling memberikan nasehat di tengah hidup yang berat. Dia bukan hanya mendengar. Tapi juga hadir. Bahkan sebelum saya sempat meminta. 
Sejak saat itu, buku pemberiannya menjadi teman harian saya. Saya memang belum tamat membacanya, tapi setiap lembarannya seperti pengingat bahwa saya masih bisa bertahan. Tiba-tiba terbesit rasa syukur yang melimpah dan membuat saya ingin menangis lagi karena saya baru saja terbukti salah menganggap tidak ada yang peduli pada saya. Ternyata masih ada orang yang peduli, abang saya melakukan banyak hal sekadar untuk membantu saya melewati masa-masa sulit meskipun dia tidak pernah menyampaikannya secara langsung. Tapi saya tetap mengerti. Sang Pemilik Cinta memang bekerja dengan cara yang misterius. Bisa banget mendatangkan orang-orang baru atau mendekatkan kembali hubungan lama yang sempat dingin saat berada di titik terendah. Memberikan kejutan dari arah yang tak pernah diduga sebelumnya dan saya sangat mensyukurinya. 
Read More

Rabu, 20 Februari 2019

Beban Dunia

Aku menulis ini ketika mulutku tak mampu lagi berkata.



Tadi siang aku merasakan sesak dan terlilit dalam kesedihan yang amat sangat kuat. Aku yang dulu selalu mudah mengabaikan rasa sedih, kini emosiku gampang berubah-ubah seperti panas di musim hujan. Aku berharap semua kesedihan itu akan menghilang, tapi nyatanya tidak. Semua rasa itu justru terus hidup dalam diriku, pasang surut, membatasi rasaku. Hingga suatu saat, batasan itu jebol. Air mataku tumpah-ruah bersama rasa sakit!

Aku pun menangis...
Dan terus menangis..

Ini pertama kalinya aku meneteskan air mata dalam jumlah yang banyak di rumah. Setelah sekian lama tidak kurasakan —sejak yang terakhir kali mungkin di waktu SD. Disaksikan secara langsung oleh orang tua. Aku benar-benar tak bisa membendung perasaan teriris ini lebih lama lagi. Aku keluarkan semua emosi terpendamku bersama dengan derasnya air mata. Aku merasa sudah tak sanggup lagi menjalani hari-hari baru yang semakin hari semakin menantang. Aku masih terlalu takut. Aku tak tahu bagaimana ketakutan ini dapat berkembang semakin besar, hingga terkadang aku tak mampu lagi melihat ke depan. Ketidakmampuanku ini telah kusadari seperti saat dimana aku yang tak mampu memberikan hasil terbaik kepada orang-orang yang mengandalkanku. Semaksimal apa pun diriku berusaha, pasti selalu saja ada hal yang luput dari pengamatanku.

Aku yang tak mampu memanggil seseorang untuk kepentingan banyak orang. Aku yang sulit memposisikan diri di dalam masyarakat. Aku sering dipandang sebelah mata, karena memilih untuk diam daripada bergaul dengan banyak orang. Aku sering disalahartikan sebagai orang yang tidak sopan. Sungguh, ini sangat menyedihkan. Ketika sifatku menjadi masalah, ketika orang-orang memaksaku untuk berubah seperti tuntutan mereka. Mereka memaksaku menjadi orang lain dan harus membahagiakan mereka. Hal-hal tersebut selalu menyayat hatiku.

Ditambah lagi dengan adanya 'teman' yang mulai meragukan kemampuanku untuk mengikuti ulang ujian masuk perguruan tinggi tahun ini. Mereka berdalih dengan argumen yang sangat menyakitkan yaitu aku dikira menyia-nyiakan waktu dengan melakukan Gap Year. Sayang lho.. Nanti waktunya keburu abis.. Empat tahun kemudian yang lain udah jadi apa aja, lu masih sibuk kuliah.. katanya. Sangat merendahkan sekali. Padahal aku sedang berjuang mati-matian belajar sambil membantu orang tua. Dia dengan seenaknya berkata seperti itu. Aku nggak abis pikir, kenapa manusia mudah sekali menilai bahkan mengeluarkan kata-kata yang melukai hati orang lain, sedangkan mereka tidak pernah tau apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin niatnya baik yaitu memberikan kepedulian terhadap sesama teman, menurutnya itulah cara terbaik untuk mendorongku agar dapat berkembang. Namun kenyataannya, kita kan nggak akan tau seberapa dalam penderitaan, jatuh-bangun, dan perjuangan yang dialami orang lain, bukan? Lantas kenapa harus seperti itu caranya? Lebih baik tak ada yang peduli daripada hanya terus menjatuhkan.

Beban-beban seperti itulah yang membuat aku menjadi tak semangat dalam menjalani rutinitas kehidupan. Aku terus bertahan di dalam keadaan ini. Namun aku selalu merasakan lelah yang luar biasa. Aku pun bertanya-tanya mengapa segalanya terasa begitu berat?. Semua hal yang aku jalani begitu berat untuk dihadapi. Tantangan ini layaknya dunia yang sangat berat bagiku untuk dibawa, rasanya seperti melebihi batas kemampuanku untuk memikul. Aku bukanlah seorang presiden, tapi kenapa banyak sekali persoalan hidup dan tanggung jawab yang membebaniku.


Aku masih terluka, tapi bukan berarti ingin menghilang dari alam begitu aja. Aku hanya ingin penderitaan ini cepat berlalu dan merasakan nikmat hidup sepenuhnya. Sering rasanya, lebih baik berlari dari kenyataan pahit, daripada menjalani hari dengan kekosongan yang menjadi-jadi. Andaikan saja aku bisa melepaskan semua beban ini, mungkin aku akan bebas. Tak ada yang perlu kupertaruhkan. Rasanya begitu terpojok, kosong dan sepi. Kalau semangat hidupku menghilang, entah apa yang akan terjadi kemudian. Kupikir dulu aku menemukan sebuah kebenaran, tapi ternyata kebenaran yang keliru.

Setelah selesai menangis, aku rebahan dan tak melakukan apa pun. Pikiranku seperti kabut asap kebakaran hutan yang baru saja diturunkan hujan deras. Begitu sejuk dan tenang. Semua pikiran-pikiran panas yang selama ini bersarang langsung padam seketika. Sesak di tubuh perlahan-lahan mulai hilang. Ada semacam kedamaian dalam diriku, walau hanya sesaat. Aku kembali menyakinkan diriku bahwa aku benar-benar sudah dekat dengan suatu kebenaran. Aku akan mencoba setiap kemungkinan perubahan, apa pun bayarannya di hidupku. Karena aku sudah bosan, aku ingin hidup yang baru.




Aku tahu kau ingin menghilang di tengah keramaian dunia ini wahai diriku, tapi tetaplah bertahan.. Semoga kemenangan menantimu di depan. Aku yakin kita bisa bangkit dan bersinar.


Read More

Selasa, 05 Februari 2019

Lelah Menyelimuti Hati

Sama seperti tengah malam yang sangat sunyi sekali, pasti selalu berakhir dengan fajar yang terang dan membawa harapan. Membuat saya mudah melupakan kegelapan malam yang baru saja terlewat. Bangkit dari tempat tidur untuk memulai sesuatu yang baru hingga malam kembali jatuh di kasur yang sama. Menjalani rutinitas seperti itu, saya seperti berada dalam sebuah siklus yang selalu berulang. Terus berputar dan berputar. Seperti tak pernah berakhir.

Adakalanya rutinitas tersebut begitu mencekam, sehingga segala persediaan energi yang saya punya akan langsung habis. Tinggal rasa lelah yang tersisa. Tak ada aktivitas yang dapat dijalani. Tak ada produktifitas amal yang dapat dihasilkan. Dunia terasa sangat kejam. Sementara diri saya hanya bisa mengeluh betapa malangnya nasib yang harus dijalani.

Lelah, saya begitu lelah. Rasanya ingin berbaring sejenak untuk melepas penat, menikmati hari-hari yang kosong tanpa ada satu pun beban yang mengganggu. namun rasanya semua itu akan sangat sulit. Rebahan berpuluh-puluh abad pun rasanya tetap tak akan mampu menghilangkan rasa letih ini. Rasa yang begitu melilit hingga saya terus menghela nafas panjang. Saya sudah sering mencurahkan isi hati dan pikiran tentang masalah saya kepada Tuhan Yang Maha Mendengar. Namun, belum ada satu pun petunjuk dari-Nya.


lelah.jpeg


Saya jadi merasa tak punya harapan. Impian dan cita-cita saya yang dulu sempat dirawat dengan kasih sayang rasanya terlalu jauh tuk dicapai, dan melihat kenyataan yang ada terlalu merugikan untuk saya kerjakan. Terlebih lagi dengan banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang berseliweran di kepala setelah berakhirnya masa sekolah saya. Seperti halnya kisah di novel ataupun film yang baru saja selesai, pasti selalu saja ada pertanyaan-pertanyaan baru yang muncul; lalu bagaimana selanjutnya, terus bagaimana, dan seterusnya.

Saya tak bisa menghentikannya sampai saya bisa menjawab pertanyaan tersebut. Pikiran saya selalu berpindah-pindah di antara masa depan dan masa lalu. Terperangkap pada masa lalu yang belum sepenuhnya saya terima. Dan terjebak pada tujuan-tujuan masa depan yang telah direncanakan sebelumnya. Karena hal-hal seperti itulah yang membuat saya menjadi sangat lelah, terutama dalam menata hati. Ada beberapa bagian yang begitu susah dimengerti, hingga begitu rumit untuk saya pahami. Saya masih terus mencari cara untuk dapat memahaminya.

Saya yang sudah lelah dengan semua hal ini, kesakitan yang saya rasakan maupun tubuh saya yang semakin hari semakin terpuruk. Saya lampiaskan seluruhnya dengan menulis di sini dengan harapan agar beban di pundak sedikit berkurang. Saya terus berjuang tanpa henti meski lelah menyelimuti hati dan pikiran, raga saya seolah terkoyak tak berdaya menghadapi terpaan luka yang terus mendera.

Hal sederhana yang saya inginkan sekarang hanyalah didengarkan. Saya ingin bisa membuktikan bahwa apa yang selama ini saya pikirkan tak akan berubah menjadi nyata. Saya ingin menyingkirkan segala kesakitan yang telah sekian lama dirasakan. Saya ingin menghapus segala luka hingga semua rasa sakit ini mereda. Bukannya saya tak terima kenyataan ataupun tak merasa hidup, hanya saja kemampuan saya tak setebal kemauan yang lebih dulu hadir di dalam mimpi. Sekarang saya hanya bisa pasrah menjalani hari demi hari menanti datangnya akhir dari penderitaan ini dan kembali menjalani takdir terbaik dari Sang Pencipta.


Read More