Sabtu, 17 Agustus 2019

Refleksi kemerdekaan dan makna SDM unggul

Dua minggu yang lalu listrik mati. Lama. Lebih dari sepuluh jam di tempat saya. Awalnya saya kira cuma sebentar, seperti biasanya. Tapi ternyata makin malam, justru makin sunyi. Tidak ada suara kipas angin, tidak ada lampu jalan menyala. Bahkan sinyal pun ikut lenyap. Rasanya seperti dipaksa diam di tengah dunia yang tiba-tiba kehilangan tenaga. Nah dari gelapnya peristiwa itu, justru ada hal yang menyala di kepala saya, kita ini sebenarnya sudah merdeka belum, sih?

Saya tahu, pertanyaan itu terdengar terlalu besar. Terlalu berat untuk dipikirkan saat sedang kehabisan daya baterai HP. Tapi mati listrik kemarin yang katanya hanya karena gangguan teknis di pembangkit utama membuat saya sadar satu hal, negara ini masih sangat rentan. Bahkan untuk hal yang paling mendasar sekalipun, listrik. Jika hal mendasar seperti energi saja belum bisa dijaga dengan baik, lalu bagaimana kita mau berbicara soal "SDM unggul" atau bahkan "Indonesia maju" yang menjadi tema utama perayaan tujuhbelasan tahun ini. 



Saya bukan ahli apa-apa. Saya cuma orang biasa yang suka mikir terlalu dalam di saat tidak ada yang minta. Tapi mungkin justru karena itu saya sering mempertanyakan banyak hal yang orang anggap biasa aja. Setiap tahun, kita pasang bendera. Kita nyanyikan lagu kebangsaan. Kita lomba makan kerupuk. Semua tradisi itu hangat, menyenangkan, dan jujur saja membawa kenangan masa kecil yang tak tergantikan. Tapi kalau dipikir-pikir, kadang kita terlalu sibuk merayakan kemerdekaan, sampai lupa menguji ulang maknanya. Karena buat saya, kemerdekaan itu bukan cuma soal masa lalu. Tapi tentang bagaimana kita menjalani hari ini. Tentang punya pilihan. Punya akses. Punya harapan.

SDM unggul, katanya. Saya sering mendengar jargon itu. Tapi sering juga bingung apa artinya dalam kehidupan sehari-hari. Apakah itu berarti harus punya gelar tinggi? Gaji besar? Kemampuan bicara lancar di depan umum? Atau SDM unggul itu orang-orang yang tetap bertahan walau hidup tidak mudah? Yang bangun pagi-pagi, kerja serabutan, tapi masih sempat bantu tetangganya? Yang belajar dari YouTube karena tak mampu bayar kursus, tapi tetap mau berkembang?Kalau itu definisinya, saya kenal beberapa SDM unggul di sekitar saya. Sayangnya, mereka tidak dianggap unggul oleh sistem hanya karena tidak "berlabel resmi". Maaf untuk mengatakannya, tapi ini memang benar adanya. 

Saya lagi-lagi mengambil contoh mati listrik kemarin yang ibarat kata seperti metafora kecil dari kenyataan yang lebih besar yaitu bangsa ini bisa punya visi yang hebat, tapi kalau fondasinya goyah, semua bisa lumpuh. Kita bisa bicara soal industri 4.0, digitalisasi, unicorn, energi terbarukan, dan sebagainya. Tapi kalau akses listrik saja tidak stabil, apa yang bisa dibanggakan? Kalau generasi mudanya masih harus meminjam kuota ke tetangga atau teman yang agak berada untuk bisa tetap belajar, ini bukan soal kesiapan teknologi—tapi ketimpangan yang nyata.

Saya tidak ingin terdengar sinis tapi saya juga tidak ingin membohongi diri sendiri. Saya pikir, Indonesia belum sepenuhnya merasakan keunggulan SDM-nya. Ya memang tidak harus terasa saat ini juga tapi setidaknya kita bisa jujur pada diri sendiri bahwa jalan kita masih panjang dan tidak semua orang mendapat jalur yang sama rata. Ada yang berangkat dari start yang nyaman, ada yang bahkan belum diberi sepatu. Buat saya pribadi, kemerdekaan itu bukan hanya soal seremoni. Tapi soal ruang. Ruang untuk gagal. Ruang untuk berkembang. Ruang untuk tumbuh. Ruang untuk belajar jadi diri sendiri.

Saya pernah merasa tidak "unggul" karena hidup saya tidak secepat orang lain. Tidak sekaya teman-teman saya. Tidak semulus jalur yang digembar-gemborkan para motivator. Tapi sekarang saya belajar menerima bahwa setiap orang punya waktunya masing-masing. Punya definisi suksesnya sendiri. Dan mungkin negara ini juga begitu. Sedang belajar dewasa, seperti kita. Masih banyak yang harus diperbaiki, tapi bukan berarti tidak bisa. Saya percaya Indonesia masih berpotensi untuk merasakan kualitas SDM yang berdaya saing tinggi. Tinggal kemauan untuk terus melaju, tidak peduli seberapa sulitnya rintangan ke depan. 

Tak ada negara di dunia yang yang benar-benar selesai dengan perjuangan memajukan kualitas bangsanya, bahkan negara maju sekalipun tetap masih melakukan pembangunan demi masa depan yang lebih baik. Kita semua sedang tumbuh, belajar, dan mencari bentuk yang ideal. Maka kalau hari ini kalian masih merasa kecil, merasa tertinggal, merasa belum jadi siapa-siapa itu wajar. Mungkin Indonesia pun sedang merasa hal yang sama. Kita bukan bangsa gagal. Kita hanya bangsa yang sedang bertumbuh. Kadang tertatih, kadang tergelincir, kadang terlalu sibuk meniru bangsa lain sampai lupa cara berjalan sendiri, tapi pada akhirnya kita akan selalu belajar dan itu sudah cukup untuk jadi alasan agar tak berhenti berproses. 


Terakhir, ini hanya sekadar trivia aja sih, entah kenapa, dari sekian banyak logo resmi yang pernah dirilis pemerintah, saya suka banget dengan logo 74 HUT RI tahun ini. Desainnya sederhana, bersih, dan punya kekuatan visual. Nggak terasa dipaksakan atau terlalu simbolik. Sangat enak dilihat. Daann yang paling bikin saya terkesima adalah angka 7 dan 4 menyatu dengan sempurna. Rapi, lugas, tapi tetap berkarakter. 

Ada rasa kekaguman yang muncul begitu saja. Mungkin karena logo ini tidak memaksa untuk tampil meriah. Logo terlihat tenang tapi juga kuat. Diam-diam menyampaikan pesan kemerdekaan dengan cara yang elegan. Dan yang bikin saya senyum sendiri, sekilas bentuknya seperti inisial nama saya ZA atau bahkan kayak tanggal lahir saya 24. Haha. Konyol juga dipikir-pikir. Tapi ya itulah yang membuatnya terasa lebih personal.

Saya rasa tim yang mendesain logo ini patut diapresiasi. Mereka berhasil meramu pesan yang kuat dalam bentuk yang sederhana. Tanpa perlu banyak elemen, tapi tetap membekas. Kadang hal sekecil itu saja cukup untuk membangkitkan perasaan bahwa saya masih terhubung dengan Indonesia, dengan cara yang paling sederhana. Lewat sepotong logo yang indah. 
Read More

Minggu, 11 Agustus 2019

Selamat Hari Raya Iduladha 1440 H!

Assalamu'alaikum.. Selamat pagi sobat. Syukur Alhamdulillah hirobbil'alamin kita masih diizinkan bertemu lagi dengan Hari Raya Qurban ini. Tidak ada lagi kata yang paling tepat untuk menggambarkan betapa bahagianya kita selain bersyukur. Karena sejatinya hidup ini adalah sebuah pencarian. Serahkan pencarian hidup kita hanya pada Yang Maha Kekal. Walaupun penuh pengorbanan, seperti pencarian dan pengorbanan Nabi Ibrahim AS yang Istiqomah. Ya memang cuma dari rangkaian kata ini yang bisa saya sampaikan. Air tak selalu jernih, begitu juga ucapan saya. Melalui tulisan ini saya mohon maaf yang sebesar-besarnya pada kalian semua, apabila masih banyak kesalahan. Semoga perjalanan hidup kita semakin mudah dengan rezeki yang cukup dan berkah.  




Semoga di hari raya ini, Allah SWT selalu memberikan kemudahan, berkah, rizki, dan kesehatan tentunya pada kita semua. Akhir kata saya pribadi mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha 1440 H. Minal aidin wallfaidin. mohon maaf lahir dan batin. Selamat berQurban sob!
Read More

Selasa, 06 Agustus 2019

Padam yang Membuka Mata

Selamat siang sobat blogger di mana pun kalian berada. Hari ini saya nulis sambil merenungi musibah pemadaman listrik hari minggu kemarin, terasa sangat menampar dan mengguncang kehidupan sehari-hari. Listrik yang biasanya gak pernah dianggap sebagai nikmat ketika ia menghilang baru dah terasa sekali dampaknya. Pemadaman yang terjadi kemarin itu mencakup Jabodetabek dan sebagian kota besar yang tersebar di daerah jawa yang dihuni oleh lebih dari 100 juta penduduk. 

Hal ini tampaknya telah mempengaruhi sebagian besar usaha untuk menggunakan genset di beberapa tempat seperti kantor, mal, dan apartemen. Namun itu tidak berlangsung lama, karena generator punya masa pakai yang terbilang sebentar hanya sekitar dua sampai tiga jam saja. Sedangkan pemadaman listrik ini kurang lebih hingga 10 jam lamanya. Bahkan sampai ada yang 16 jam di beberapa titik lokasi, saya salah satunya yang terdampak. Gimana ya, rasanya itu absurd. Dunia kayak dipaksa istirahat. Lampu mati, sinyal ilang, internet putus, dan semua jadi diam. Hening. Sepi. Tapi gak tenang.



Di tempat saya, listrik mati dari sekitar jam 12 siang sampai subuh sekitar jam 4 pagi. Sepanjang malam, seantero kota gelap gulita. HP udah mulai pada lowbat, sinyal juga gak ada, colokan jadi pada nganggur. Seperti biasa, media sosial sempat ramai sebentar sebelum akhirnya semua orang benar-benar kehilangan daya. Tagar #matilampu langsung meroket jadi trending topic nasional. Orang-orang jadi pada nyari sinyal keliling kota, ada yang ke atas gedung, masjid, sampe dataran tinggi. Beberapa warganet bahkan sempat bikin konten gelap-gelapan, ala-ala vlog survival dadakan. 

Kata berita, biang keladinya adalah gangguan transmisi di jalur SUTET Ungaran–Pemalang. Jalur utama trip, jalur cadangan lagi diservis. Alhasil, Pulau Jawa bagian barat dan tengah kolaps. Sistem kelistrikan PLN gak kuat nahan beban. Dan yang bikin tambah nyesek adalah kejadian ini terjadi di bulan kemerdekaan. Ketika banyak warga pada semangat bikin perlombaan dan festival menyambut tujuhbelasan di setiap akhir pekan, ehhh malah krik-krik tak berdaya. 

Mungkin ironis adalah kata yang tepat untuk menggambarkan peristiwa tersebut. Di usia yang menjelang 74 tahun kemerdekaan, Indonesia masih harus mengalami mati lampu massal dan terlama di era modern seperti saat ini dan parahnya, itu terjadi justru di bulan Agustus, bulan yang mestinya jadi simbol kemajuan dan semangat nasionalisme. Namun kenyataannya, sebagian dari penduduk Indonesia khususnya yang tinggal di Pulau Jawa malah merasakan kegelapan yang sangat mengganggu. Seolah-olah kemerdekaan belum sepenuhnya sampai ke urusan listrik yang sudah menjadi kebutuhan pokok. 



Pada titik ini, saya gak bisa gak mikir, kok bisa ya kejadian kayak gini sampai terjadi? Kok bisa satu sistem negara kita rapuh cuma karena satu jalur transmisi? Ini bukan cuma soal kenyamanan. Ini soal ketahanan energi. KRL MRT lumpuh, lampu lalu lintas mati, jaringan sinyal komunikasi tumbang. Bayangin kalau situasi genting terjadi bersamaan dengan blackout ini. Ngeri banget. Saya jadi ingat beberapa film yang menggambarkan gimana negara bisa lumpuh hanya dengan menyerang sektor energi. Di film, biasanya disabotase. Tapi kenyataannya kita nggak perlu disabotase dulu, karena kerentanannya udah kelihatan. Listrik padam 16 jam lebih dan semua jadi mandek. Kegiatan ekonomi terganggu, komunikasi mati, bahkan rumah sakit harus putar otak jaga mesin-mesin tetap nyala.

Saya sadar, ini mungkin cuma kekhawatiran saya. Tapi siapa yang bisa jamin besok-besok nggak ada pihak luar yang melihat celah ini? Kalau listrik bisa dipadamkan dalam hitungan menit, apa kita siap? Jujur, saya ragu. Jangan dikira cuma rugi uang. Iya, PLN rugi. Transportasi rugi. Logistik rugi. Komunikasi rugi. Usaha kecil apalagi. Tapi masyarakat juga merasakan kerugian yang tak kasat mata yaitu rasa aman. Kita jadi gelisah, nggak tahu mau ngapain. Anak-anak rewel, orang tua panik. Saya yang masih muda berusaha tetap tenang. Bahkan masjid yang biasanya selalu berkumandang azan setiap waktu solat sempat kesulitan karena speaker mati. Di rumah saya, kami sempat makan malam dengan lilin seadanya. Hangat sih, tapi juga getir. Selain itu ada beberapa teman cerita soal stok makanan yang basi, freezer mencair, pesanan online yang batal, dan kerjaan yang nggak bisa dikirim karena internet lumpuh. Makin runyam aja dah. 



Namun, ada hal aneh yang terasa indah dan langka. Di tengah segala kekacauan itu, ada satu hal yang bikin saya terdiam. Malam itu, selepas makan malam, setelah semua rumah gagal nyala, saya duduk di luar rumah. Hanya kegelapan yang mendominasi visual tapi begitu nengok ke atas, wahhh.. langitnya jernih juga. Berkurangnya polusi cahaya membuat bintang-bintang muncul. Udara juga terasa lebih tenang. Jadi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, saya merasa hidup melambat secara harfiah. Benar-benar satu jam itu lama banget tanpa adanya gawai di tangan. Hanya berusaha menikmati suasana yang tidak biasa. 

Di lain jam berikutnya, saya mencoba untuk lebih banyak ngobrol sama orang tua. Bukan basa-basi tapi obrolan yang hangat dan ngalir begitu saja. Kami bercerita banyak hal, yang biasanya tidak sempat dikeluarkan karena masing-masing sibuk dengan layarnya. Lagi-lagi ini momen yang langka terjadi. Akhirnya saya melihat sisi lain dari mati lampu yaitu sisi yang jujur dan cukup menyentuh bahwa listrik adalah nikmat yang selama ini tak terlihat. Kita menikmatinya tiap hari tanpa sadar, dan ketika nikmat itu seketika dicabut, kita kelabakan. Kita panik. Bahkan sebagian dari kita mencaci pemerintah, menyalahkan segalanya, seolah-olah tidak pernah belajar bersyukur.

Kegiatan selanjutnya untuk mengisi waktu yang terasa amat sangat lama ini adalah melakukan hal-hal yang selama ini tertunda karena terlalu sibuk main HP yaitu baca buku di luar rumah, olahraga ringan di halaman depan, bahkan nulis lagi di blog ini yang udah lama nggak saya sentuh. Saya mulai sadar gimana HP sering menyita waktu hidup saya. Karena baterai HP sangat terbatas, saya jadi hemat banget. HP cuma saya buka kalau betul-betul darurat. Rasanya kayak nyimpen oksigen terakhir di dalam kapal selam. Untungnya, keluarga kami sudah punya lampu emergency. Setidaknya itu membantu kami di tengah malam. Tapi tetap saja, tidur susah. Gak ada kipas, panas gerah, dan banyak nyamuk berdengung seakan bersorak merayakan mati lampu. Huff nasib. 



Yaaa terlepas dari keadaan tersebut, mati lampu sebenarnya dapat memberikan banyak hikmah bagi kehidupan, saya pribadi khususnya merasakan. Mati lampu lebih dari 16 jam itu memang mengganggu tapi peristiwa ini juga mengajarkan bahwa dalam gelap ada ruang untuk melihat, menata, dan memulai ulang kehidupan yang serba cepat. Terkadang saat dunia melambat kita justru sadar bahwa selama ini hidup kita terlalu terburu-buru. Peristiwa ini seakan membuka mata kita bahwa ada hal-hal yang perlu kita sadari:


  1. Infrastruktur kita masih rapuh. Ini bukan cuma soal sistem PLN, tapi soal tata kelola negara. Kita tidak bisa terus-menerus menyalahkan alam atau gangguan teknis. Perlu adanya reformasi dalam mitigasi pencegahan mati listrik massal yang mengancam ketahanan energi dalam negeri agar tidak terulang kembali peristiwa tersebut. 
  2. Ketergantungan kita pada teknologi sudah sangat tinggi. Di era digital seperti saat ini kita hidup di dunia yang serba cepat. Serba padat. Serba dikejar target. Sampai-sampai, terkadang kita merasa kesulitan untuk menemukan ketenangan meskipun hanya sejenak, untuk sekadar menikmati segala hal yang telah dianugerahkan Tuhan dan berada di sekitar kita. Sekali listrik mati, semua ikut tumbang: HP, internet, bank, transportasi. Kita terlalu bergantung tapi tidak punya alternatif.
  3. Kita kehilangan koneksi manusia. Makin ke sini makin sedikit dan sulit untuk tidak terhubung dan berinteraksi secara online di dunia maya. Baru terasa saat semua layar mati, bahwa ngobrol langsung itu ternyata lebih hangat, lebih bermakna, lebih terasa memorinya. Hubungan kita selama ini terlalu digital dan mati listrik ini memaksa kita kembali ke titik awal.
  4. Kita gampang panik. Saat rasa kenyamanan hilang, reaksi pertama kita pada umumnya adalah marah dan menyalahkan. Padahal yang dibutuhkan justru refleksi dan kesadaran diri. Apa perlu kita bereaksi seperti itu. Coba kita lihat sisi lain dan mencari hikmah apa yang bisa diberikan dari peristiwa ini. 
  5. Nikmat itu kadang baru terasa saat dicabut. Listrik, air, udara bersih, bahkan waktu. Pada saat nikmat itu memang jarang sekali yang mensyukurinya. Begitu hilang baru dah terasa kehilangan banget. Kita lupa bersyukur karena terbiasa nyaman. Jika kenikmatan ini berwujud manusia mungkin dia akan berkata "Kalian selama ini ini terlalu dimanjakan." 
  6. Kita belum siap menghadapi keadaan darurat. Tidak semua rumah punya senter atau lampu darurat. Tidak semua orang tahu harus bagaimana saat sistem digital mati. Kita terlalu percaya bahwa semuanya pasti akan baik-baik saja, padahal belum tentu. Ada masa kegentingan yang akan tiba secara mendadak tanpa pemberitahuan. Mau gak mau kita harus sedia payung sebelum hujan alias kita harus persiapan barang untuk kondisi darurat. 
  7. Banyak hal tertunda karena gadget. Waktu mati lampu, justru banyak hal yang tersentuh kembali seperti buku yang lama nggak dibaca, pikiran yang lama nggak diajak berpikir, dan obrolan ringan yang selama ini dibutuhkan makhluk sosial. Itu adalah aktivitas yang seharusnya diperbanyak selain menggulir layar tak kenal waktu. 
  8. Kesederhanaan itu menenangkan. Tanpa layar, tanpa bising notifikasi, dunia terasa lebih pelan. Benar-benar kayak disuruh istirahat dulu dari silaunya sorotan hiruk pikuk dunia. Secara gak langsung hal ini memang dibutuhkan setiap orang untuk bisa mengambil jeda untuk sekadar diam dan menyadari apa yang selama ini dilakukan sudah benar alias introspeksi diri. Momen yang tepat memang pada saat ujian hidup seperti ini melanda. 


Oke cukup sekian dulu tulisan saya yang ngalor ngidul gak karuan ini, sampai jumpa di tulisan berikutnya. Tulisan ini bukan nasihat, bukan juga ceramah. Saya cuma berbagi sudut pandang sebagai orang biasa yang sempat panik tapi kemudian banyak belajar. Semoga bisa jadi pengingat bareng-bareng, bukan semata-mata menyalahkan siapa-siapa. Saya harap kejadian ini nggak terulang.

Jangan lupa bahwa listrik bukan sesuatu yang bisa disepelekan. Listrik bukan hanya sumber penerangan tapi dia adalah fondasi kehidupan modern. Dan waktu dia pergi, semua ikut runtuh. Jangan lupa bahwa satu gangguan bisa jadi domino effect buat jutaan orang. Semoga dari kejadian ini, ada perubahan. Bukan cuma di level PLN atau pemerintah, tapi juga di diri kita sendiri. Lebih siap. Lebih sadar. Lebih saling terhubung. Lebih banyak bersyukur. Dan jangan lupa juga bahwa saat semua teknologi runtuh, yang tersisa hanyalah kita manusia. Karena kalau mati listrik kemarin bisa bikin kita sadar bahwa hidup bukan sekadar terang maka kegelapan itu setidaknya gak sia-sia, masih ada hikmah yang bisa didapatkan. Semoga setelah peristiwa ini berlalu lampu tetap menyala dan kesadaran kita akan hal-hal kecil dan sederhana tidak pernah padam.

Read More