Selasa, 29 Oktober 2019

Pertemuan pertama dengan MRT Jakarta, rasanya...

Ada kalanya sebuah perjalanan sederhana bisa berubah menjadi cerita yang berkesan. Bukan tentang pergi jauh atau liburan mewah ke negeri orang, tapi tentang langkah kecil yang memberikan pengalaman baru di ibu kota. Kemarin, pada hari minggu tanggal 27 Oktober, saya bersama abang dan adik saya memutuskan untuk pergi ke Jakarta. Tujuan kami tidak muluk-muluk yaitu mencoba MRT Jakarta untuk pertama kalinya. Moda transportasi yang baru saja diresmikan Maret lalu itu sudah ramai dibicarakan orang, dan kami penasaran ingin merasakannya sendiri.

Perjalanan kami dimulai cukup pagi. Sekitar pukul setengah tujuh, kami berangkat dari rumah menuju stasiun Metland Telaga Murni. Sebenarnya ada pilihan untuk langsung menggunakan bus atau transportasi online menuju pusat kota, tapi saya ingin merasakan bagaimana rasanya berpindah dari satu moda transportasi ke moda lainnya. Jadi kami memutuskan untuk memulai dengan KRL Commuter Line. Selain lebih terjangkau, ada sensasi tersendiri menaiki kereta dari Bekasi, melihat perlahan-lahan pemandangan berganti dari rumah-rumah sederhana hingga gedung-gedung perkotaan.

Suasana pagi itu masih belum terlalu padat, sehingga ketika kereta datang, saya bisa duduk dengan nyaman. Di dalam kereta, saya memperhatikan sekeliling. Ada para pekerja dengan wajah yang masih sedikit mengantuk, ada keluarga yang tampak ingin berekreasi ke pusat kota, ada pula pemuda pemudi yang sibuk menatap layar ponsel mereka. Sementara itu, saya justru sibuk memperhatikan jendela. Dari balik kaca, pemandangan bergulir cepat mulai dari pepohonan, jalan raya, rumah-rumah, hingga perlahan berganti menjadi gedung-gedung tinggi yang mulai menampakkan dirinya. Saya teringat, betapa berbedanya Jakarta dengan kota asal saya tinggal. Jakarta tampak seperti dunia lain yang bergerak terlalu cepat, sementara saya hanya seorang penumpang yang mencoba menyesuaikan diri dengan arus utama. 

Sekitar satu jam kemudian, kami transit di stasiun Manggarai untuk lanjut naik KRL yang menuju ke stasiun Sudirman. Sekitar 15 menit kemudian kami akhirnya tiba di Stasiun Sudirman. Pukul 08.32, catatan waktu itu masih saya ingat jelas karena menjadi penanda momen penting. Kami keluar stasiun, dan sebelum melanjutkan perjalanan, sempat berfoto-foto di terowongan Kendal. Terowongan itu rupanya sudah ditata begitu rapi, dengan mural-mural menarik yang membuat suasana tidak sekadar jalan penghubung biasa. Ada perasaan bahwa Jakarta sedang berusaha tampil lebih ramah, lebih indah, walau tetap ramai dan riuh.


Dari terowongan Kendal, kami berjalan menuju pintu masuk MRT Dukuh Atas. Pintu masuknya besar dan modern, dengan desain arsitektur yang menurut saya cukup elegan. Saat melangkah menuruni tangga, saya merasa sedikit kagum. Ada sesuatu yang berbeda, seperti masuk ke dunia lain yang lebih rapi, teratur, dan futuristik. Begitu masuk ke dalam, hawa sejuk dari AC langsung menyambut. Kesan yang diberikan nyaman sekali, seakan-akan saya sedang berada di luar negeri. Rasanya seperti membuka lembaran baru, seolah-olah Jakarta yang biasa saya lihat hanya dari kejauhan kini menawarkan wajah yang berbeda.


Kami membeli tiket berupa kartu MRT, lalu turun lagi ke peron. Sambil menunggu kereta datang, kami berfoto-foto. Tentu, momen pertama ini tidak boleh terlewatkan. Saat kereta tiba, saya perhatikan gerbongnya bersih, modern, dan terawat. Tidak terlalu ramai pagi itu, sehingga kami bisa memilih tempat duduk. Begitu MRT mulai berjalan, saya benar-benar bisa merasakan perbedaan. Gerakannya halus, nyaris tanpa suara, berbeda dengan KRL yang lebih bising. Dari balik kaca, saya menyaksikan jalanan Jakarta yang padat oleh kendaraan, gedung-gedung modern yang menjulang, dan struktur lintasan MRT yang berdiri di tengah-tengah jalan raya. Rasanya luar biasa, kota ini benar-benar punya wajah baru.



Perjalanan pertama kami berakhir di Stasiun Lebak Bulus. Kami sengaja memilih stasiun ini karena ingin melihat langsung Depo MRT. Dari sana, terlihat deretan kereta yang tersusun rapi. Lagi-lagi, kami berfoto untuk mengabadikan momen. Ada kebanggaan tersendiri bisa berada di sana, meski hanya sebagai pengunjung biasa. Setelah puas, kami mulai merasakan lapar. Tujuan berikutnya sudah kami sepakati yaitu Blok M dengan kawasan yang terkenal dengan kulinernya.





Kami kembali naik MRT dan turun di Stasiun Blok M. Begitu sampai, suasana langsung berubah. Blok M terasa lebih hidup, dengan orang-orang berlalu lalang dan berbagai aroma makanan yang menggoda. Kami berjalan berkeliling, sempat bingung harus makan apa, hingga akhirnya kami memutuskan untuk makan di restoran D’Cost di dalam Blok M Square. Makanan nusantara sangat mengenyangkan. Rasanya lega ketika perut terisi dengan baik, setelah sejak pagi hanya ditemani semangat dan rasa penasaran.

Namun ternyata hari masih panjang. Matahari baru berada di tengah, dan kami bertiga belum ingin pulang. Setelah diskusi kecil, kami memutuskan menonton film di bioskop XXI Blok M Square. Saya dan adik menonton film drama “Bebas”, sementara abang memilih film horor “Perempuan Tanah Jahanam”. Keputusan yang sederhana, tapi menyenangkan. Rasanya seperti perjalanan kecil ini berubah menjadi liburan singkat, padahal hanya sehari.


Waktu berlalu cepat. Tahu-tahu sudah sore, dan kami sadar harus segera pulang agar tidak terlalu malam di perjalanan. Perjalanan kembali ke rumah dengan MRT dan KRL menjadi penutup dari hari yang penuh pengalaman pertama. Suasana sore hari terasa padat dengan penumpang, kami bahkan sampai tidak kebagian duduk. Akhirnya kami berdiri sampai stasiun pemberhentian terakhir. Selama perjalanan pulang saya menghayati apa yang telah dilalui seharian itu sambil merenung. Rasanya menyenangkan sekaligus menenangkan, bahwa saya bisa mencoba sesuatu yang baru bersama keluarga. Ada rasa syukur yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Perjalanan kemarin lebih dari sekadar menjajal transportasi baru, hari itu membuat saya melihat Jakarta dari sisi yang berbeda. Saya bisa merasakan denyut nadi keramaian Kota ini, dari hiruk-pikuk KRL, mural penuh warna di terowongan Kendal, hingga modernitas MRT yang menjadi simbol baru. Jakarta bukan hanya tentang kemacetan, panas, dan kebisingan. Ada juga upaya membangun, berbenah, dan memberikan harapan baru bagi warganya.

Bagi saya pribadi, pengalaman ini lebih dari sekadar jalan-jalan biasa. Ada makna unik di baliknya. Saya belajar bahwa mencoba sesuatu yang baru tidak harus selalu jauh atau mahal. Kadang, hal-hal mudah seperti naik MRT untuk pertama kalinya bisa menghadirkan rasa kagum, kebahagiaan, bahkan kebanggaan tersendiri. Saya juga merasa bahwa perjalanan itu mengingatkan saya untuk tidak meremehkan kota sendiri. Jakarta, dengan segala masalahnya, tetap punya sisi yang patut diapresiasi.

Tak teras matahari sudah mulai tenggelam, kami akhirnya sampai di rumah sore hari sekitar jam lima. Badan mungkin sedikit lelah, tapi hati terasa ringan. Semua langkah yang telah kami jalani sejak pagi, dari Bekasi hingga Lebak Bulus, dari Blok M hingga kembali lagi ke rumah, menjadi cerita yang lengkap. Saya merasa bahwa hari itu berhasil mempertemukan banyak hal yaitu kebersamaan, pengetahuan baru, dan juga pengalaman yang layak diingat. 

Secara keseluruhan, perjalanan pertama dengan MRT Jakarta adalah cerita kecil yang layak dikenang, sebuah potongan sejarah pribadi yang suatu hari nanti mungkin akan saya ceritakan lagi. Bahwa pada tanggal 27 Oktober itu, saya, abang, dan adik, bersama-sama menjejakkan langkah moda transportasi baru di Jakarta, ikut merasakan denyut modernitas, dan menyimpan kenangan yang tak akan habis oleh waktu. Saya bisa melihat Jakarta dari perspektif baru, bukan hanya sebagai kota yang padat dan melelahkan, tapi juga sebagai tempat yang sedang terus tumbuh dan berubah. 
Read More

Kamis, 10 Oktober 2019

Memahami Takdir dan Rasa Syukur

Setiap orang punya beban yang selalu dipikul. Mau berat atau ringan, semua bergantung pada bagaimana kita menjalaninya. Bersyukur adalah salah satu cara agar beban itu terasa lebih ringan, karena dengan bersyukur kita diingatkan bahwa nikmat Tuhan ternyata jauh lebih besar daripada beban yang kita pikul.

Pernah suatu ketika, melihat anaknya yang selalu terlihat murung seakan tak ada semangat menjalani hari, bapak saya memanggil saya untuk ngopi bareng. Tanpa disangka, beliau memberikan beberapa wejangan. Wah… ini dia momen yang saya tunggu-tunggu. Sebuah nasihat yang rasanya seperti air di tengah dahaga, penguat untuk menapaki masa depan yang masih menjadi misteri.

Beliau bertanya kenapa saya selalu tampak tak bersemangat. Seperti kehilangan arah. Lalu saya ceritakan beberapa hal yang selama ini memenuhi kepala saya. Sampai akhirnya pembicaraan kami sampai pada soal rasa syukur.

Kata beliau, “Orang beruntung itu adalah orang yang pandai bersyukur.”

Saya pun bertanya,
“Jadi orang yang selalu bersyukur itu pasti beruntung?”

Bapak tersenyum kecil, lalu menjawab,
“Tergantung kacamatanya. Atau perspektif lah istilahnya. Karena perspektif itu penting. Walau banyak orang yang melihat sesuatu itu tidak baik, kita harus mencari alasan untuk membuktikan kebenaran yang sesungguhnya. Yaitu kebenaran Tuhan.

Kalau dilihat dari kacamata agama, yaa… orang yang selalu bersyukur itu insyaAllah selalu beruntung. Dalam artian bahwa dia benar-benar dicukupkan rezekinya. Gimana caranya supaya bisa bersyukur? Jangan terlalu sering melihat ke atas, nanti jatuh. Lihatlah ke bawah, supaya kita sadar betapa beruntungnya kita.”

Saya terdiam mendengarnya. Penjelasan itu begitu sederhana tapi menampar. Saya lalu bertanya lagi,
“Jadi takdir itu harus dicari atau diterima?”

Bapak menjawab, “Takdir itu perlu dicari, tapi dalam pencariannya ada hal-hal yang harus diterima. Dan dibuktikan kebenarannya.”

Sejak saat itu saya semakin penasaran tentang takdir. Takdir adalah keputusan Tuhan yang tidak dapat ditolak oleh manusia. Tidak ada satu pun makhluk yang bisa mengubahnya. Namun, apakah itu berarti kita tidak boleh mengupayakan takdir baik dalam hidup kita?


Dalam perenungan itu, saya juga teringat akan konsep qodho dan qodar. Qodho adalah ketetapan Allah yang sudah pasti terjadi, sementara qodar adalah ukuran atau jalan yang kita lalui hingga ketetapan itu terwujud. Qodho ibarat tujuan akhir, sementara qodar adalah langkah-langkah yang harus ditempuh.

Bapak melanjutkan, “Manusia itu berjalan di atas qodar yang sudah ditentukan, tapi setiap langkahnya tetap diberi pilihan. Tugas kita bukan melawan takdir, tapi menjemputnya dengan ikhtiar.”

Dari situlah saya mengerti, menerima takdir bukan berarti menyerah tanpa usaha. Justru setiap ikhtiar yang kita lakukan adalah bagian dari qodar yang Allah atur, hingga akhirnya bermuara pada qodho-Nya. Bersyukur pun bukan sekadar reaksi setelah menerima hasil. Ia adalah cara kita merangkul qodar yang sedang berjalan—percaya bahwa setiap kesulitan dan kemudahan adalah bagian dari rancangan Tuhan yang sempurna.

Ketika memikirkan hal itu, saya pun menoleh pada diri saya sendiri. Sudah dua kali gagal masuk kuliah. Saya belum jadi apa-apa, bahkan terkadang merasa tertinggal jauh dibandingkan teman-teman lain yang sudah melangkah lebih dulu. Tapi, jika saya lihat dari kacamata yang bapak ajarkan, mungkin inilah bagian dari qodar saya. Bukan untuk membuat saya merasa kalah, tetapi untuk mengajarkan bahwa setiap perjalanan punya waktunya sendiri.

Saya mulai sadar, penerimaan terhadap takdir bukan berarti berhenti mencoba. Penerimaan justru membuat langkah kita lebih ringan, karena kita tidak lagi menolak kenyataan. Kita berusaha, kita jatuh, kita bangkit lagi—dan di setiap proses itu, kita sedang berjalan di atas qodar yang mengantarkan kita pada qodho yang terbaik.

Bersyukur dalam keadaan seperti ini tidak mudah, tapi justru di sinilah letak nilainya. Bersyukur bukan hanya untuk mereka yang sedang berada di puncak, tapi juga untuk mereka yang masih berjuang di lembah. Mungkin saya belum mencapai mimpi saya, belum mendapatkan apa yang saya inginkan, tapi saya masih diberi kesempatan untuk hidup, untuk mencoba lagi, untuk menata ulang mimpi yang sempat runtuh. Dan hal itu sendiri adalah sebuah nikmat.

Menurut saya, maksud dari perkataan bapak “Orang beruntung itu adalah orang yang pandai bersyukur” adalah bahwa keberuntungan bukanlah sekadar kebetulan. Ia juga lahir dari sikap seseorang dalam menjalani hidup. Orang yang pandai bersyukur mampu menghargai segala hal, baik ataupun buruk. Mereka bisa melihat keberuntungan yang sering tersembunyi di balik kesulitan. 


Dengan bersyukur, kita belajar memandang hidup dengan kacamata yang berbeda. Kita tidak lagi terlalu takut pada masa depan atau menyesali masa lalu, karena kita tahu semua yang terjadi adalah bagian dari qodar yang mengantarkan kita pada qodho. Pada akhirnya, saya pun tersadar, sekeras apa pun keinginan saya untuk memutar waktu, itu semua tidak akan berguna. Nyatanya itu hanya lamunan yang tak akan mengubah apa pun dalam hidup saya. Bahkan hanya akan menyeret saya pada penyesalan yang lebih dalam. 

Kita semua sedang berjalan di jalan yang berbeda-beda. Ada yang cepat, ada yang lambat. Ada yang sudah berada jauh di depan, ada yang masih mencari pijakan pertama. Tapi lambat bukan berarti kalah, dan tertunda bukan berarti gagal. Karena qodho dan qodar bukan tentang siapa yang lebih cepat sampai, tapi siapa yang tetap berjalan meski langkahnya tertatih. Tuhan tidak menilai kita dari hasil yang tampak di mata manusia, melainkan dari kejujuran hati kita dalam menapaki jalan yang sudah Ia ukur.

Mungkin hari ini saya belum diterima kuliah. Mungkin saya belum belum bisa jadi sesuatu yang bisa dibanggakan. Mungkin saya belum menjadi siapa-siapa. Tapi saya percaya, ini semua bagian dari perjalanan yang Allah pilihkan. Ada alasan di balik setiap keterlambatan, ada makna di balik setiap penantian. Dan jika saya terus bersyukur, mungkin kelak saya akan melihat bahwa semua ini bukanlah kemunduran, melainkan cara Tuhan mempersiapkan saya.

Jadi, untuk diri saya sendiri—dan siapa pun yang membaca tulisan ini—ingatlah bahwa takdir bukan untuk dilawan, melainkan untuk dijemput dengan ikhtiar. Syukurilah apa yang ada, terimalah apa yang belum kesampaian, dan percayalah pada Allah SWT yang menulis cerita ini sejak awal. Karena di balik setiap kesulitan, selalu ada takdir baik yang menunggu untuk diungkap pada waktunya.

"Hidup dan mati ada dalam genggaman Illahi. Takdir adalah kepastian, tapi hidup harus tetap berjalan. Proses kehidupan adalah hakikat, sementara hasil akhir hanyalah syariat. Gusti Allah akan menilai ketulusan perjuangan manusia, bukan hasil akhirnya. Kalaupun harus menjumpai kematian, itu artinya mati syahid di jalan Tuhan."
- Pangeran Diponegoro 

Read More