Senin, 25 Mei 2020

Dua Puluh Tahun Hidup di Dunia

Assalamu'alaikum Wr. Wb. 
 
Selamat pagi sobat blogger! Kemarin adalah hari lahir saya yang ke 20 tahun. Saat saya melalui usia 20 tahun ini, rasanya saya disadarkan betapa cepatnya waktu itu berjalan. Perasaan baru kemarin saya merasakan usia 19 tahun. Ehh.. Sekarang sudah datang lagi usia baru. Bertambahnya angka usia saya bukan berarti bertambah panjang juga nyawa saya, justru semakin berkurang layaknya batang korek api yang dibakar pasti akan terus memendek. Waktu saya di dunia ini pun sudah menguap sebanyak dua puluh tahun. 
 
Berkurangnya umur saya tahun ini dilalui di tengah pandemi, sebuah kondisi yang menguji daya juang saya sebagai manusia, apakah masih bisa tetap waras di antara kegilaan kondisi dunia saat ini DAN masa depan yang tidak pernah pasti. Hari-hari saya dipenuhi dengan bayang-bayang kecemasan, akan seperti apa masa depan saya pribadi khususnya dan negara serta masyarakat bumi ini umumnya. Kapan wabah ini akan berakhir? Entahlah.. Abu-abu, semua menjadi serba abu-abu. Tidak pernah ada jawaban yang pasti. Selagi belum tersedianya vaksin, kita semua harus hidup beriringan dengan virus ini. Yang bisa dilakukan hanya berdoa agar wabah pandemi ini segera berakhir dan dapat kembali menjalankan masa depan yang telah direncanakan sebelumnya dengan penuh keyakinan. 
 
Alhamdulillah saat ini saya masih dapat bertahan. Selain orang tua, salah satu alasan yang membuat saya masih bertahan yaitu pada tahun depan banyak film superhero baru yang akan rilis—baik dari Marvel dengan fase empatnya maupun DC dengan Snyder Cut-nya. Oh yaa tentu saja, bagi yang belum tahu, saya ini penggemar berat film yang bertemakan superhero. Entah kenapa rasanya asik aja gitu melihat adaptasi komik superhero ke layar lebar. Ada kesenangan tersendiri jika menyaksikan secara nyata imajinasi yang selama ini dibayangkan. Ini merupakan salah satu alasan yang membuat saya tetap bersemangat untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Untuk tahun ini sih saya masih bisa bersabar untuk tidak nonton film di bioskop karena masih pandemi. Bisa sekalian rehat juga setelah tahun lalu secara berturut-turut saya disajikan film superhero yang memanjakan mata. Tapi semoga aja tahun depan sudah mulai surut dan aktivitas bisa kembali normal. Paling tidak dengan adanya vaksinasi yang rencananya baru akan tersedia februari tahun depan, harapan akan terus menyala. Jadi untuk sekarang mah fokus dulu aja sama yang ada di depan mata yaitu menyelesaikan misi utama UTBK. Dengan fokus melakukan rutinitas kehidupan nanti secara gak sadar tau-tau udah ganti tahun aja.. Sesederhana itu sih sekarang saya mah.. Hehe.. 

Okey kembali ke laptop. Memang tidak mudah juga sih untuk dapat bertahan hidup dalam kondisi seperti saat ini. Apalagi untuk seseorang yang baru saja menginjak usia dewasa awal. Seperti saya dan kalian semua yang tahun ini sedang memasuki usia 20 ini, di mana banyak pertanyaan-pertanyaan yang berdatangan di dalam pikiran setelah berakhirnya masa sekolah. Mulai dari pekerjaan sampai ke pernikahan, itu semua terangkum dalam usia 20an ini. Saya pun merasakannya sendiri saat berada di antara persimpangan jalan hidup, jika saya salah memilih bisa repot nanti urusannya di masa yang akan datang. Butuh ketenangan yang luar biasa dalam mengambil keputusan yang tepat. Agar tidak salah langkah lagi seperti lima tahun yang lalu saya rasakan.
 

Ada yang bilang saat manusia memasuki usia 20, itu berarti dia sedang membuka dekade terbaik dalam hidupnya. Usia ini merupakan masa untuk mencoba berbagai macam hal-hal baru untuk membentuk karakter diri dan memikirkan keinginan jangka panjang. Konon katanya, usia ini merupakan tolok ukur kedewasaan. Seseorang yang sudah menginjak usia 20 tahun bisa dianggap sudah cukup mampu dalam hal perencanaan, pengambilan keputusan, serta konsekuensi akibat tindakan. Oleh karena itu saya harus paham bagaimana bertindak yang baik dan keputusan apa saja yang harus saya ambil di awal dekade baru ini. 
 
Kenapa demikian? Karena menurut saya segala hal yang akan terjadi di usia 20an akan membentuk jati diri saya selamanya. Itu yang selalu saya yakini sampai sekarang. Maka dari itu, untuk dapat bertindak dan mengambil keputusan terbaik terkadang kita harus belajar dari masa lalu. Masih dalam suasana libur lebaran yang langka Ini, daripada tak ada kegiatan yang produktif lebih baik saya mengulas kembali perjalanan saya selama setahun terakhir. Ini juga merupakan bagian dari pembelajaran saya sebagai manusia biasa yang tak luput dari salah. Seperti yang biasa saya lakukan pada tahun-tahun sebelumnya saat menyambut hari lahir saya yang kali ini cukup menenangkan jiwa dan raga.

Selama setahun terakhir ini saya lebih banyak melakukan perenungan dan refleksi diri. Menyadari bahwa selama ini ada yang tidak beres dengan diri saya. Minimal seminggu sekali saya selalu merenungkan apakah keputusan-keputusan yang saya pilih dulu sudah tepat atau tidak. Refleksi diri juga saya lakukan tidak lain hanyalah sarana saya untuk lebih mengenal kepribadian dan pola pikir saya. Di awal dekade baru ini, saya ingin menekankan bahwa saya tak mencari sebuah pencapaian yang berjalan cepat. 

Bagi saya, sebuah pencapaian yang berjalan perlahan tidak salah selama makna dari setiap langkahnya dapat mendewasakan diri saya. Karena itu, saya akan memulai dari langkah yang sederhana. Saya akan mulai dari bagaimana saya dapat mengatur emosi. Saya bertekad untuk dapat mengontrol amarah saya, menghilangkan kebiasaan mengeluh, dan menumbuhkan kesabaran serta keikhlasan yang luar biasa dalam menghadapi setiap problematika hidup saya. Hal-hal rumit tentang pengaturan emosi seperti itu merupakan sebuah pencapaian yang harus diapresiasi. Karena hidup tidak hanya sekedar hidup namun juga bisa memaknai arti kehidupan. Kehidupan yang bercerita tentang kesalahan, dan masih banyak lagi saya tak bisa menyebutnya satu per satu. 

Memang kenyataannya selama 20 tahun saya hidup saya tidak pernah benar-benar diajarkan secara langsung bagaimana MENJADI MANUSIA yang baik dan benar seutuhnya. Memang kebanyakan dari dulu saya belajar hal ini dari ilmu agama. Tapi itu belum cukup membuat saya benar-benar menjadi manusia yang sebenarnya. Terkadang ada beberapa hal yang belum bisa saya praktikan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu saya tumbuh besar di keluarga yang cukup konservatif. Apa yang orang tua saya rasakan dulu saat masih kecil terkadang saya masih sering merasakannya. Jadi selama masa jeda ini saya banyak belajar dari segi keilmuan yang telah terbukti mampu meningkatkan kualitas hidup. Saya banyak baca-baca buku yang berkaitan dengan pengembangan diri. Itu semua murni untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik. 
 
Karena selama ini bukan hanya perasaan cinta kepada lawan jenis yang harus saya tahan agar tak menggebu-gebu di fase runyam seperti sekarang ini, ada perasaan sedih yang harus saya urai agar tak melilit saya ke dalam lubang hitam pekat bernama keputusasaan. Banyak hal yang masih tak saya mengerti tentang rasa, tentang emosi, dan tentang jiwa. Waktu 20 tahun bagi saya belum cukup untuk memetakan sifat-sifat dasar manusia. Terlalu banyak hal-hal kompleks dalam diri seorang manusia. Karena setiap manusia itu unik dan tidak pernah sama satu dengan yang lainnya. Inilah yang membuat saya masih terus mempelajari dasar-dasar sifat kemanusiaan yang ada pada manusia agar saya bisa menjadi manusia seutuhnya. 
 
Begitulah kira-kira pergumulan yang jelas mengenai usia 20 tahun versi saya. Segalanya memang menjadi lebih kompleks dan bercabang. Saya memang selalu khawatir dengan masa depan yang telah saya rancang sendiri. Apakah masih bisa berjalan sesuai dengan target atau malah sebaliknya berantakan dan tidak ada yang terwujud satu pun hingga akhirnya saya harus merelakan idealisme saya runtuh sendiri. Tidak ada yang pernah tau sampai saya yang merasakannya sendiri nanti. Jadi, pada saat masa gap year terakhir ini sembari saya mendalami materi ujian masuk perguruan tinggi dan membantu orang tua, saya juga harus belajar lebih tentang kehidupan—yang tentu saja juga membuat saya belajar lebih banyak tentang diri saya sendiri. 

Di usia saya yang sekarang ini, saya pada akhirnya sudah mengetahui kebenaran bahwa kesedihan dan kebahagiaan, suka dan duka, berhasil dan gagal, musibah dan anugerah, mimpi dan realita, serta awal dan akhir. Semua hal tersebut hanya datang dari Allah SWT, Sang Pencipta Alam Semesta. DIA memberikan itu semua semata-mata agar hidup ini seimbang. Saya tidak akan pernah bisa merasakan apa yang disebut dengan bahagia jika tidak pernah sedih. Saya tidak akan pernah bisa merasakan nikmatnya keberhasilan jika kita tidak pernah merasakan kegagalan yang konstan. 

Semua ini bermuara pada kesadaran bahwa saya merasa belum menjadi hamba yang baik dan bertakwa sepenuhnya. Belum juga menjadi hamba yang selalu patuh terhadap perintah-Nya. Tapi di usia yang baru ini, saya ingin lebih menghargai setiap waktu yang terus berjalan. Agar saya menjadi orang yang selalu bersyukur. Karena saya hidup baru sebentar, baru 20 tahun. Pelajaran hidup pun baru sedikit. Saya yakin akan banyak pelajaran kehidupan lainnya di masa depan nanti. Seiring berjalannya waktu, tantangan-tantangan yang harus saya lewati akan semakin rumit. Perjalanan yang sebenarnya baru saja akan benar-benar dimulai.
 
Setahun ini saya banyak belajar tentang hidup. Belajar bahwa semua yang ada di dunia ini hanya milik Tuhan semata. Semuanya bisa diambil kapan saja dan  digantikan dengan kehendak-Nya.  
Saya banyak-banyak berterima kasih sama Allah atas nikmatnya sampai usia saya dapat menyentuh angka 20. Saya selalu berharap nikmat-Nya tak pernah putus di tahun-tahun selanjutnya, di angka-angka berikutnya. 
 
Yak secara keseluruhan, usia 20 bagi saya adalah usia yang mengharuskan saya menjadi pribadi yang bertanggung jawab atas segala keputusan dan tindakan yang telah saya lakukan. Hal-hal yang saya lakukan bukan lagi untuk sekadar bersenang-senang semata, tapi saya juga harus tau apa tujuan dari setiap perbuatan yang saya jalani. Kepala dua bagi saya minimal harus mampu menjadi teladan bagi diri sendiri. Kemudian kalau sudah bisa baru untuk keluarga, dan maksimalnya untuk orang lain alias harus bisa bermanfaat untuk kepentingan banyak orang. Itulah visi besar saya ke depannya. 
 
Di ambang batas hari ini, saya sudah resmi berusia 20 tahun. Semoga hari ini menjadi sebuah optimisme baru. Saya pikir ini bukanlah sebuah perayaan, ini murni hanya sebagai pengingat bahwa umur saya telah berkurang sebanyak dua dekade. Bagi yang berhasil membaca tulisan panjang ini sampai selesai saya ucapkan terima kasih. Kalau bukan karena kalian para pembaca setia *uhuk*, mungkin saya tak bisa nulis sebanyak ini. Terima kasih banyak telah peduli dengan sejarah hidup saya. Akhir kata, Selamat merayakan kemenangan semuanya!
 
 
 
 
Berbahagialah....!! 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
With Love
 
TTD 
 
Zulfahmi Adam 
Read More

Minggu, 24 Mei 2020

Lebaran Langka

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillah hirobbil'alamin.. Puji dan syukur tak henti-hentinya saya panjatkan kepada Allah SWT. Tuhan Semesta Alam, Yang telah memberikan saya nikmat yang tak bisa saya hitung satu per satu, serta kesadaran untuk dapat merasakan momen langka yaitu ulang tahun di hari yang mulia ini. Solawat dan salam tak lupa semoga terlimpah curahkan pada Nabi besar kita Muhammad SAW. Beserta Keluarganya, Sahabatnya, pengikutnya dan semoga sampai pada kita semua hingga kita mendapatkan pertolongan di hari kiamat nanti. Aamiin.. 

Tanggal 24 Mei 2020 bukan hanya diperingati sebagai jatuhnya Hari Raya Idul Fitri tahun ini, tetapi juga sebagai hari berkurangnya umur dari seonggok daging bernama Zulfahmi Adam. Alhamdulillah di hari kemenangan yang berbahagia ini, saya masih diberikan kesempatan hidup oleh Sang Pencipta. Ini adalah momen yang sangat jarang sekali terjadi, bisa dibilang Ini momen langka—di mana hari kelahiran saya bertepatan dengan Lebaran. Ini bukan suatu kebetulan, tapi ini adalah berkah dari Yang Maha Kuasa. Bisa jadi mungkin kesempatan sekali seumur hidup saya. Sungguh sebuah anugerah yang luar biasa jika saya dapat mensyukuri setiap nikmat yang telah diberikan Tuhan. 


Datangnya Lebaran selalu menjadi saat-saat yang dinantikan oleh seluruh umat muslim di dunia ini, setelah berpuasa 30 hari di bulan Ramadan. Hari raya Idul Fitri merupakan kesempatan bagi umat Islam untuk menunjukkan rasa syukur kepada Allah SWT. dan kesempatan bermaaf-maafan dengan sesama, serta dengan harapan dosa-dosa masa lalunya diampuni. 
 
Momen yang biasanya dinanti saat Idul Fitri adalah berkumpulnya seluruh keluarga besar dan makan-makan dengan berbagai menu khas Lebaran bersama keluarga besar dan kunjungan ke rumah sanak saudara serta kerabat. Selain itu, momen berjalan ke masjid bersama keluarga dan tetangga untuk melaksanakan Salat Id pun menjadi momen yang cukup berkesan dan dinantikan para umat muslim. Namun, Lebaran tahun ini sangat berbeda bagi umat muslim di Indonesia khususnya dan dunia umumnya. Pasalnya, Pemerintah kita resmi melarang masyarakat melakukan salat Idul Fitri di masjid ataupun lapangan secara bersama-sama di ruang publik. Idul Fitri kali ini kita rayakan dengan penuh kesederhanaan. 
 
Dikarenakan daerah saya ini masih termasuk zona merah, keluarga saya menghabiskan waktu perayaan Lebaran hanya di rumah. Keluarga saya memutuskan untuk melaksanakan salat Idul Fitri di rumah sesuai dengan anjuran pemerintah. Kita tidak akan pernah tahu orang di sebelah kita itu terkena virus, kan sekarang ada orang yang tanpa gejala tapi sudah positif. Walaupun kita sudah pakai masker, tidak ada jaminan pasti bahwa tidak akan terkena. Apalagi yang dipakai masker kain, bukan masker bedah yang perlindungan bagus, dan juga maskernya terkadang masih banyak orang tidak benar memakainya. 
 
Setelah melaksanakan salat Idul Fitri, kami menghabiskan momen-momen Lebaran dengan bersilaturahmi secara virtual melalui video call dengan keluarga besar. Tidak lupa berfoto-foto dulu sebagai kenangan bahwa kami pernah menghadapi lebaran yang sangat langka. Kenapa saya bilang langka? Karena sangat jarang sekali terjadi. Pertama, bertepatan dengan hari kelahiran saya. Kedua, bertepatan dengan adanya pandemi virus korona. Nuansa lebaran tahun ini terasa sangat berbeda di mana kita semua harus tetap berada #dirumahaja untuk meminimalkan resiko penularan virus korona. 
 
Sedih, sunyi dan sederhana. Itulah tiga kata yang sangat tepat untuk menggambarkan betapa berbedanya lebaran tahun ini. Seluruh kebiasaan yang kita lakukan di hari raya ini tak bisa dilakukan lagi. Sekarang kegiatanya seperti biasa saja di rumah. Tidak ada perbedaan, seperti tidak merasakan Lebaran, benar-benar sederhana sekali. Kita semua merayakannya di tengah pandemi Covid-19 dengan segala aturan dan kebiasaan yang baru untuk menghambat penyebaran virus. Pandemi ini sungguh mengubah kehidupan sehari-hari, terutama interaksi sosial. 
 
Walaupun Ramadan dan lebaran tahun ini terkesan sunyi dan sangat berbeda, saya yakin tidak mengurangi debar di dada kita saat menyambutnya dan merasa sedih melepasnya. Sebab Ramadan dan lebaran pasti akan datang lagi, namun kita belum tentu bisa bertemu lagi. Meski begitu, kita harus tetap berdoa kepada Allah SWT. agar bisa bertemu lagi dengan Ramadan dan lebaran berikutnya dan mendapatkan ampunan dari Allah Yang Maha Kuasa.
Sesulit apa pun kondisi yang kita jalani saat ini, kita tetap harus bersyukur. Karena kita harus meyakini bahwa, selalu ada alasan dan hikmah yang Allah SWT. berikan di setiap cobaan. Semoga kita semua selalu diberikan kekuatan lebih dalam menghadapi segala ujian dan tantangan hidup yang menerjang. Aamiin.. 

 
 
Akhir kata saya mewakili diri saya sendiri mengucapkan.. 

Selamat Idulfitri 1441 H

Taqobbalallahu minna wa minkum wa shiyaamanaa wa shiyaamakum, Wataqobbal ya kariim Ja'alnallahu minal aidin walfaizin.

Mohon maaf lahir dan batin, jiwa dan raga, serta jasmani dan rohani saya.  


Maafkan semua kesalahan saya, kata-kata saya yang kurang pantas atau barangkali ada tulisan saya yang sempat menyinggung kalian semua. Itu semua murni hanya ingin melampiaskan kegelisahan di kepala agar beban hidup saya bisa lebih ringan. Semoga, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan, kita bisa menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Aamiin..
 
 
 
Selamat hari kemenangan sobat!
Read More